Sabtu, 26 Mei 2012

Informatif Provakatif

Kepala saya benar-benar penuh dengan berbagai macam kata informatif tapi sungguh provokatif. Kata-kata yang rasanya asing dalam telinga juga logika, hanya mampu saya pahami secara sangat umum, mengena pada kulit luar tidak menyentuh utuh hingga ke kulit dalam. Sangat dangkal. 

Kata-kata itu mampu untuk datang dan memenuhi setiap ruang yang ada dalam otak sedikit atau bahkan memang banyaknya karena dipengaruhi oleh satu bacaan yang akhir-akhir ini rutin untuk saya baca dan pahami, yaitu dari sebuah tabloid Islam bernama Media Umat, yang diterbitkan oleh Pusat Kajian Islam dan Peradaban. Tabloid ini bagi saya pribadi baru saya kenal dan baca sejak edisinya yang ke-81, tabloid ini terbit dua kali setiap bulannya atau satu kali setiap dua minggu. Sejak pertama saya membaca tabloid ini tidak dapat saya pungkiri bahwa tabloid ini memang sungguh sangat informatif, mampu untuk benar-benar membuka pikiran serta wawasan saya lebih jauh serta luas lagi mengenai Islam dan segala permasalahan serta perkembangannya kini, dewasa ini, di zaman globalisasi ini. Bahkan tabloid ini benar-benar menyadarkan saya, membangunkan saya dari segala mimpi indah yang saya pikir ada dan saya pikir sedang saya jalani bersama agama yang saya yakini akan tetapi ternyata sungguh dari segala kenyamanan ini, agama saya beserta seluruh umat, saudara seiman saya sedang menghadapi suatu permasalahan yang sangat pelik, sangat hebat, yang apabila kita tidak melawannya semenjak sekarang atau setidaknya kita tidak menyiapkan diri sebaik mungkin dari sekarang maka kelak di masa yang akan datang ketika masalah ini telah menjadi besar, terang dan nyata ada, maka saya dan seluruh umat Islam yang ada di dunia akan menjadi panik dan terguncang keberadaannya. 

Masalah yang sedang dihadapi agama Islam merupakan sebuah masalah besar dan kesalahan saya adalah saya membiarkan diri ini untuk terus berpendapat bahwa ini bukan-lah sebuah masalah yang besar, bukan sebuah isu utama yang harus dipermasalahkan, itu-lah kesalahan saya sehingga akhirnya permasalahan ini luput dari pengamatan saya dan hampir mayoritas umat Islam pada umumnya yang ada di Indonesia karena umat Islam yang ada di Indonesia masih sedikit yang mau dan mampu untuk berpikir “berat” dan jauh ke dalam terhadap sesuatu hal yang sifatnya idealis/moralist penuh dengan telaahan akademis lengkap dengan bahasa ilmiah teoritis. 
Mayoritas Islam di negeri ini masih belum memliki waktu yang luang untuk itu semua, mayoritas Muslim di negeri ini masih terfokus pada permasalahan bagaimna caranya untuk menyambung hidup dari hari ke harinya serta terus membuat dapur rumah tangga mereka selalu penuh dengan asap. Ya, permasalahan dapur masih merupakan isu utama bagi sebagian besar umat Islam yang ada di Indonesia sehingga urusan agama bagi mereka tidak mereka pikirkan hingga ke sebuah masalah yang sangat dalam, cukup bagi mereka hanya urusan-urusan ritual keagamaan dan akhlak sehari-hari, tidak kurang dan mungkin bilapun lebih baru sedikit saja kita sentuh kelebihan itu. 

Sedangkan di belahan dunia yang lain, di Negara kafir maupun yahudi yang ada di bagian lain bumi ini dengan kondisi sosial masyarakatnya yang sudah mapan, sangat sejahtera, mereka tidak lagi di sibukan dengan segala permasalahan standar atau masalah dapur semata tapi mereka telah berpikir jauh ke depan, berpikir panjang dan dalam tentang ideologi serta tatanan dunia di masa depan, tidak hanya berpikir untuk skala kecil, yaitu Negara, tapi pikiran itu telah melebar jauh menjadi sebuah pemikiran untuk mampu menguasai seluruh Negara yang ada di dunia karena mereka berpendapat bahwa apa yang mereka yakini itu adalah sebuah ideologi yang paling benar serta sebuah tatanan hidup yang paling sempurna sehingga dalam pemikiran mereka, ideologi serta tatanan itu tidak cukup hanya ada dalam lingkup Negara mereka tapi juga harus mampu untuk tersebar dan terimplementasikan luas di seluruh Negara yang ada di dunia, menyebarkan pengaruh untuk kemudian mendapatkan legitimasi kekuasaan dan apabila kekuasaan itu telah mampu untuk mereka genggam maka segala apapun itu akan mudah untuk mereka lakukan dan dapatkan. 

Tabloid Media Umat edisi ke-82 ini membahas kembali bagaimana bahanya racun Sipilis ( sekularisme-pluralisme-liberalisme ) dan bagaimana kini perkembangannya sudah sangat mencekam seluruh individu yang ada, pelan tapi sangat pasti racun itu mulai menyeruak masuk ke negari ini, sebuah negeri dengan hampir 80% penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Sebuah racun yang sangat gencar untuk disuntikan ke dalam tubuh setiap Muslim yang ada di dunia dan di Indonesia pada khususnya. Racun itu tidak disuntikan begitu saja dengan secara terang dan apa adanya tapi mereka disebarkan perlahan melalui berbagai macam cara dan wajah hingga terasa seperi bukan sebuah virus Sipilis, dibalut dengan nama kemanusiaan, HAM, cinta kasih dan sejuta kata-kata indah duniawi lainnya. Hal itu dibuat sedemikian rupa agar setiap orang, Muslim khususnya, menjadi tertipu dan sedikit demi sedikit mampu untuk terpengaruh dan kemudian membenarkan paham itu. Ya, orang-orang itu mengemas segala sesuatunya, mengemas racun Sipilis itu dengan kemasan yang sangat indah yang mampu untuk menipu dan meracuni setiap orangnya. 
Siapa orang-orang itu? 
Orang-orang itu adalah kaum Yahudi. Mereka gencar dan terus menyerang Islam dengan racun sipilis dengan berbagai macam organisasi yang mereka bentuk. Dari banyaknya organisasi itu, yang paling tekenal atau setidaknya yang paling saya kenal adalah organisasi yahudi yang bernama Freemansonry. Sekali lagi harus saya tekankan di sini, permasalahan mengenai ini semua, mengenai yahudi, zionisme bahkan Freemansonry, telah saya ketahui sejak lama, semenjak saya duduk manis di bangku SMP akan tetapi hal itu tidak pernah dan tidak mau saya tanggapi sebagai sebuah permasalahan yang serius atau besar karena saya pikir masalah-masalah itu merupakan masalah yang “berat”, penuh dengan teori konspirasi, bukan merupakan konsumsi umat yang “umum” seperti saya dan ternyata di saat ini, detik ini, menit ini, jam ini, hari ini di bulan ini dan juga tahun ini saya tersadar bahwa pemikiran seperti itu merupakan sebuah pemikiran yang keliru, mari kita baca dan renungkan kembali apa yang telah saya tulis pada tulisan saya yang terdahulu yang berjudul Perlukakah Membela Tuhan

Isu ini, isu tentang zionisme, isu tentang freemansonry dan semua tindakan yang dilakukan oleh kaum yahudi merupakan sebuah isu penting yang suka tidak suka harus kita pikirkan bersama dan lawan secara bersama-sama pula. Karena misi besar yang diemban oleh kaum yahudi beserta seluruh kelompok yang berada di bawahnya adalah untuk memerangi Islam, menyebarkan virus Sipilis untuk nantinya akan mereka bentuk sebuah tatanan dunia baru ( The New World Order ) yang di dalamnya tidak akan lagi dikenal atau mengenal apa itu yang kita sebut dengan agama, mereka menyiapkan dengan sangat sempurna kedatangan dari seekor entah seorang entah sebuah, makhluk perusak bernama Dajjal, di akhir zaman nanti. 

Tidak berlebihan bagi saya apabila memang saya sebut bahwa tabloid itu, tabloid Media Umat merupakan sebuah media cetak yang sangat informatif. Kabar lainnya yang juga tidak kalah informatif-nya tapi memang agak membuat diri ini kecewa, yaitu sebuah kabar, sebuah berita dalam sebuah artikel, yang menyebutkan bahwa ada kemungkinan besar salah satu tokoh nasional yang kini namanya sedang melambung tinggi berkat etos kerjanya yang tinggi, kemampuan memimpinnya yang juga sangat baik, sikapnya yang berani juga sangat sederhana ditambah dengan kemampuannya dalam menulis serta berkomunikasi yang juga sangat baik, seorang tokoh yang juga saya kagumi, yaitu Pak Dahlan Iskan, disinyalir juga merupakan bagian dari gerakan Freemansonry yang ada di Indoneisa melalui salah satu cabang organisasinya yaitu Lions Club. Setidaknya ada dua organisasi kemasyarakatan yang ada di Indonesia yang diduga kuat sebagai bagian dari organisasi besar yahudi, Freemansonry, yaitu : Lions Club dan Rotary Club. Dua organisasi kemasyarakatan itu mempunyai misi untuk menjalankan misi-misi kemanusiaan dan menyebarkan cinta kasih serta toleransi di Indonesia. 

mm..bagi saya pribadi kabar itu seperti sebuah petir yang tiba-tiba menyambar di siang hari yang cerah juga terang, sungguh tak di sangka, sama sekali tak ada tanda. Tapi data-data yang juga diungkapkan dalam artikel itu pun tidak bisa saya pandang sebelah mata, mereka menyajikan data yang cukup akurat dan saya pikir bisa untuk dipertanggungjawabkan, bukan merupakan berita bohong dalam sebuah nama kita sebut gossip. Ini merupakan bola panas yang sungguh akan menarik untuk dilihat bagaimana Pak Dahlan Iskan nantinya memberikan tanggapan serta klarifikasi mengenai permasalahan ini. Tapi sekali lagi, saya pribadi, sungguh sangat kecewa tapi tidak juga menjadi seorang yang kemudian membenci. Saya selalu berusaha untuk menjadi seorang yang adil dan objektif, apabila memang kebenaran itu harus datang dari seorang anak yang sangat kecil sekalipun bahkan dari tempat yang paling kotor, tapi apabila itu benar dan merupakan sesuatu hal yang baik, saya tidak akan segan untuk mengambilnya dan menerapkannya. 
Saya tidak ingin kekecewaan apalagi rasa benci dalam diri terhadap orang lain membutakan mata saya pada segala kebaikan dalam diri orang lain tersebut. 

Tapi seperti juga yang telah saya kemukakan di atas, tabloid ini pun tidak hanya berisikan sesuatu hal yang informatif tapi juga penuh dengan kata-kata yang ( sangat ) provokatif. Ya, kata-kata yang disajikan dalam tabloid itu, menurut saya pribadi, benar-benar sangat menusuk tajam dengan kata yang sangat lugas tanpa tedeng aling-aling tanpa ada usaha untuk mencoba menggunakan kata lain yang mungkin bisa terdengar lebih halus dan lebih nyaman untuk di cerna. Dari segi dakwah, hal itu memang menunjukan ke-saklek-an penerbit tentang yang hak itu benar dan yang bathil itu salah, karena memang kebenaran itu bersifat hakiki, tidak bersifat nisbi. 

Jadi tidak ada pilihan lain bagi para pendakwah untuk selalu bersikap tegas, terkadang keras untuk terus memperjuangkan segala apa yang benar menurut agama. Tapi di sisi lain, saya melihat hal itu juga tidak selalu berdampak baik, bacaan itu, tulisan yang terdapat di dalam tabloid itu di baca bebas oleh segala kalangan, tidak bisa untuk kita cegah bahkan untuk sekedar kita saring, semua orang dengan berbagai macam jenis pemahaman dan latarbelakang pendidikan membaca itu semua. Dan tidak semua dari pembaca itu pun mampu untuk bersikap dewasa dan berpikir secara bijak. Bagaimana bila ada orang yang membaca itu kemudian dalam dirinya muncul suatu rasa benci dan keinginan besar untuk melawan akan tetapi sungguh dia tidak mempunyai modal pemahaman yang utuh, hanya dangkal, hanya berdasarkan emosi belaka. Sedangkan apa yang kita lawan ini adalah sekumpulan orang yang pintar, orang-orang yang melakukan perang melalui intelektualnya, mereka menyerang kita, agama Islam, tidak sekedar menyerang dengan tangan kosong tapi sungguh mereka telah terlebih dahulu mendalami apa yang ada dalam ajaran agama kita bahkan tidak sedikit fakta menujukan bahwa justru orang-orang itu-lah, orang-orang kafir dan yahudi lebih memahami agama Islam, ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits daripada umat Islam itu sendiri. Dan apabila hal itu yang terjadi, bukankah kita hanya menyerang seperti sekumpulan orang-orang yang bodoh? Apakah tidak justru kita yang nantinya akan dicuci otaknya oleh mereka? 

Saya pribadi merupakan tipe orang yang selalu berusaha untuk tidak bertindak apabila sesuatu hal itu tidak saya pahami secara utuh dan dalam ( baca : Talk More Do More, Speak Up!, Berawal Dari Permasalahan Nifsu Syaban
Karena bagi saya sebelum kita memulai untuk berusaha memecahkan sebuah kasus, kita harus terlebih dulu paham segala istilah, segala pengertian umum, segala ketentuan umum yang terdapat dalam kasus tersebut. 

Jadi, mari kita sama-sama kita selami dan dalami segala informasi yang informatif itu sehingga ketika kita terprovokasi kita akan mampu untuk bertindak secara benar dan tidak justru diserang balik karena pemahaman kita yang dangkal terhadapnya. 
Peace and Cheers! 

“Aneh bagi saya, ketika mereka selalu berteriak tentang sebuah toleransi lantas kenapa mereka harus mencaci dan memerangi agama kami?”

Selasa, 22 Mei 2012

Kesbangpol : Demokrasi Pancasila

Sistem politik yang digunakan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sistem politik demokrasi. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang mempunyai arti rakyat dan kratos yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Sehingga demokrasi bisa kita artikan sebagai kekuasaan yang berada di tangan rakyat.  

Dewasa ini sistem politik demokrasi dianggap dan bahkan dipercaya sebagai sebuah sistem politk yang paling sempurna dibandingkan dengan sistem politik lainnya sehingga bagi negara-negara yang telah mampu untuk menerapkan sistem politik demokrasi di negaranya dianggap sebagai bagian dari negara-negara yang telah maju sedangkan negara-negara yang tidak atau belum menerapkan demokrasi sebagai sistem politik di negaranya maka negara tersebut dianggap sebagai negara yang belum maju. 
Karena dengan diterapkannya demokrasi maka di negara tersebut sudah dipastikan akan mampu untuk menjamin pelaksanaan HAM, yang sekarang ini, merupakan prasyarat utama apabila ingin masuk dan diterima dalam pergaulan dunia. 

Perkembangan sistem politik demokrasi di Indonesia, dimulai dari sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia hingga sekarang zaman reformasi, telah mengalami banyak dinamika dan perkembangan sekaligus perubahan di sana-sini, yang merupakan sebuah pembelajaran dan pendewasaan bagi bangsa Indonesia sehingga mampu untuk mendapatkan bentuk paling ideal dan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang ada di Indonesia. 
Perkembangan demokrasi itu menjadi sangat menarik untuk dibahas dan dikaji lebih lanjut apalagi apabila kita tinjau dari sudut pandang kesatuan bangsa dan pembangunan politik yang ada di Indonesia. Karena suatu bangsa tidak akan pernah bisa bersatu atau tidak akan pernah terwujud suatu kesatuan bangsa apabila pembangunan politik di Negara tersebut tidak berjalan dengan baik dan apabila tidak ada suatu rasa kesatuan bangsa maka segala program pembangunan Negara akan berjalan percuma dan tidak akan pernah bisa berhasil serta berdaya guna. 

Pembangunan sistem politk yang mampu untuk mempertahankan dan meningkatkan persatuan serta kesatuan bangsa adalah pembangunan sistem politik yang demokratis karena dengan pembangunan sistem politik yang demokratis mampu untuk mengarahkan dan mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjamin serta mempererat persatuan kesatuan bangsa Indonesia, yang akhirnya makin memberikan ruang yang semakin luas untuk perwujudan keadilan sosial dan kesejahteraan yang makin merata bagi warga Negara Indonesia. Akan tetapi pada kenyatannya, seperti yang telah terjadi di masa lampau, dalam sebuah fase kepemimpinan Presiden di Indonesia, tujuan sistem politik demokrasi yang mulia tersebut masih saja banyak terjadi beberapa penyimpangan kaitannya dengan usaha setiap pemimpin tersebut dalam mempertahankan kekuasaan yang dia miliki. 

Demokrasi yang sejatinya merupakan sebuah sistem politik yang menitikberatkan pada keterbukaan, dan partisipasi masyarakat karena pada hakikatnya kedaulatan itu berada di tangan rakyat, tapi dengan segala argumen dan pembenaran yang pemimpin itu lakukan, maka yang terjadi justru demokrasi hanya dijadikan sebuah kedok dengan bermahkotakan ideologi yang dianut oleh Indonesia. Itu-lah kenapa kemudian pembahasan mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia kaitannya dengan kesatuan bangsa dan pembangunan politik menjadi sebuah pembahasan yang menarik. Sistem demokrasi yang pernah Indonesia terapkan dan menjadi sebuah sistem politk yang paling lama Indonesia gunakan seiring dengan masa kepemimpinan Presidennya yang juga sangat lama adalah sistem politik Demokrasi Pancasila yang digunakan pada zaman Orde Baru di bawah kepemimpinan Bapak Soeharto. 
Sehingga dalam tulisan ini, saya akan mencoba memfokuskan untuk menganalisis sistem Politik Demokrasi Pancasila kaitannya dengan kesatuan bangsa dan pembangunan politik pada masa tersebut dan juga pengaruhnya terhadap zaman reformasi dewasa ini. 

Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang mengutamakan musyawarah mufakat tanpa oposisi dalam doktrin repelita yang berada dibawah pimpinan komando Bapak Pembangunan. Arah rencana pembangunan daripada suara terbanyak dalam setiap usaha pemecahan masalah atau pengambilan keputusan, terutama dalam lembaga-lembaga negara. Prinsip dalam demokrasi Pancasila sedikit berbeda dengan prinsip demokrasi secara universal. Adapun ciri-ciri demokrasi Pancasila adalah : 
• pemerintah dijalankan berdasarkan konstitusi 
• adanya pemilu secara berkesinambungan 
• adanya peran-peran kelompok kepentingan 
• adanya penghargaan atas HAM serta perlindungan hak minoritas. 
• Demokrasi Pancasila merupakan kompetisi berbagai ide dan cara untuk menyelesaikan masalah. 
• Ide-ide yang paling baik akan diterima, bukan berdasarkan suara terbanyak. 

Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi konstitusional dengan mekanisme kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan negara dan penyelengaraan pemerintahan berdasarkan konstitusi yaitu Undang-undang Dasar 1945. Sebagai demokrasi pancasila terikat dengan UUD 1945 dan pelaksanaannya harus sesuai dengan UUD 1945. 

Dalam sistem pemerintahan demokrasi pancasila terdapat tujuh sendi pokok yang menjadi landasan, yaitu : 
1. Indonesia ialah negara yang berdasarkan hukum. 
Seluruh tindakan apapun harus dilandasi oleh hukum. Persamaan kedudukan dalam hukum bagi semua warga negara harus tercermin di dalamnya. 

2. Indonesia menganut sistem konstitsional Pemerintah berdasarkan sistem konstitusional (hukum dasar) dan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang mutlak tidak terbatas). 
Sistem konstitusional ini lebih menegaskan bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugasnya dikendalikan atau dibatasi oleh ketentuan konstitusi. 

3. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi 
Seperti telah disebutkan dalam pasal 1 ayat 2 UUD 1945 pada halaman terdahulu, bahwa (kekuasaan negara tertinggi) ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Dengan demikian, MPR adalah lembaga negara tertinggi sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. 
Sebagai pemegang kekuasaan negara yang tertinggi MPR mempunyai tugas pokok, yaitu : 
a. Menetapkan UUD; 
b. Menetapkan GBHN; dan 
c. Memilih dan mengangkat presiden dan wakil presiden 

Wewenang MPR, yaitu : 
a. Membuat putusan-putusan yang tidak dapat dibatalkan oleh lembaga negara lain, seperti penetapan GBHN yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Presiden; 
b. Meminta pertanggungjawaban presiden/mandataris mengenai pelaksanaan GBHN; 
c. Melaksanakan pemilihan dan selanjutnya mengangkat Presiden dan Wakil Presiden; 
d. Mencabut mandat dan memberhentikan presiden dalam masa jabatannya apabila presiden/mandataris sungguh-sungguh melanggar haluan negara dan UUD; 
e. Mengubah undang-undang. 

4. Presiden adalah penyelenggaraan pemerintah yang tertinggi di bawah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Di bawah MPR, presiden ialah penyelenggara pemerintah negara tertinggi. 
Presiden selain diangkat oleh majelis juga harus tunduk dan bertanggung jawab kepada majelis. Presiden adalah Mandataris MPR yang wajib menjalankan putusan-putusan MPR. 

5. Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi DPR mengawasi pelaksanaan mandat (kekuasaan pemerintah) yang dipegang oleh presiden dan DPR harus saling bekerja sama dalam pembentukan undang-undang termasuk APBN. 
Untuk mengesahkan undang-undang, presiden harus mendapat persetujuan dari DPR. Hak DPR di bidang legislatif ialah hak inisiatif, hak amandemen, dan hak budget. 
Hak DPR di bidang pengawasan meliputi : 
a. Hak tanya/bertanya kepada pemerintah; 
b. Hak interpelasi, yaitu meminta penjelasan atau keterangan kepada pemerintah; 
c. Hak Mosi (percaya/tidak percaya) kepada pemerintah; 
d. Hak Angket, yaitu hak untuk menyelidiki sesuatu hal; 
e. Hak Petisi, yaitu hak mengajukan usul/saran kepada pemerintah. 

6. Menteri Negara adalah pembantu presiden, Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR Presiden memiliki wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan menteri negara. 
Menteri ini tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi kepada presiden. Berdasarkan hal tersebut, berarti sistem kabinet kita adalah kabinet kepresidenan/presidensil. Kedudukan Menteri Negara bertanggung jawab kepada presiden, tetapi mereka bukan pegawai tinggi biasa, menteri ini menjalankan kekuasaan pemerintah dalam prakteknya berada di bawah koordinasi presiden. 

7. Kekuasaan Kepala Negara tidak tak terbatas Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR, tetapi ia bukan diktator, artinya kekuasaan tidak tak terbatas. 
Ia harus memperhatikan sungguh-sungguh suara DPR. Kedudukan DPR kuat karena tidak dapat dibubarkan oleh presiden dan semua anggota DPR merangkap menjadi anggota MPR. DPR sejajar dengan presiden. 

Seperti apa yang telah penulis sampaikan di atas, pada masa atau zaman Orde Baru demokrasi beserta ideologi Pancasila yang Indonesia gunakan telah di salah artikan dan digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Pada prakteknya tidak ada keterbukaan yang terjadi di dalam Negara Indonesia sebagaimana seharusnya apabila suatu Negara menganut suatu sistem politik demokrasi. Demokrasi hanya sebagai kedok karena pada implementasi di zaman Orde Baru kepemimpinan yang dilakukan oleh Pak Soeharto sangat otoriter, segala hal berkaitan dengan ranah politik sangat dibatasi oleh pemerintah dan semua itu menjadi terasa benar karena dibungkus oleh doktrin serta pemahaman ideologi Pancasila, akan tetapi pemahaman itu diberikan hanya berdasarkan tafsiran pemerintah semata, masyarakat tidak diberikan ruang untuk menafsirkan selain apa yang diberikan oleh pemerintah dan untuk memastikan bahwa hanya ada satu pemahaman maka pemerintah pun melakukan suatu program yang diberi nama P4 ( Pedoman Pengamalan dan Penghayatan Pancasila ). 

Hal lain yang juga sangat membatasi ruang gerak dalam perpolitikan bangsa Indonesia pada waktu itu adalah dibatasinya jumlah partai politik di Indonesia menjadi hanya tiga dengan alasan bahwa demokrasi yang digunakan Indonesia menekankan pada musyawarah mufakat sehingga tidak membutuhkan banyak partai politik yang hanya akan memecah suara dan ujung-ujungnya dalam pengambilan keputusan akan menggunakan sistem voting, sebuah sistem yang sangat dihindari pada masa itu. 

Pun dengan arus informasi yang beredar di kalangan masyarakat, semuanya diatur oleh pemerintah dan semua berita tidak ada yang sedikit pun bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh pemerintah, tidak ada opini lain yang benar kecuali apa yang pemerintah keluarkan dan untuk memastikan hal ini berjalan dengan baik maka Pak Soeharto pada zamannya membentuk Departemen Penerangan, yang bertugas untuk menyaring berbagai macam berita yang ada di masyarakat, taring dari Departemen ini semakin terasa kuat dan mencekam ketika semakin banyak media masa yang diberangus dan dicabut izinnya karena terlalu berani mengkritik pemerintah. 
Hal itu dilakukan dengan alasan untuk menjamin stabilitas nasional karena hanya dengan stabilitas nasional maka suatu pembangunan akan mampu terwujud serta terlaksana dengan baik. Stabilitas nasional merupakan kata kunci utama dari segala kebijakan yang diterapkan pada zaman Orde Baru dan memang stabilitas nasional itu mampu untuk terwujud serta selanjutnya pembangunan di Indonesia pun mampu terlaksana dengan baik dengan puncaknya adalah ketika Indonesia mampu untuk berswasembada beras pada tahun 1984. 

Akan tetapi stabilitas nasional itu harus dibayar mahal dengan mandeknya pembangunan politik yang ada di dalam masyarakat Indonesia yang akhirnya berakibat fatal pada kesatuan bangsa Indonesia. Memang pada masa itu tidak terlihat fragmentasi diantara masyarakat Indonesia tapi ekses negatif itu terlihat nyata ketika rezim Orde Baru tumbang, gerakan-gerakan separatis itu kemudian muncul ke permukaan akibat dari sebuah pembangunan politik yang sama sekali tidak berjalan. Masyarakat daerah pada umumnya dan masyarakat daerah di luar Pulau Jawa pada khususnya merupakan pihak-pihak yang paling merasakan ketidakadilan tersebut. Dengan sistem pengambilan keputusan top-down, masyarakat daerah seperti hanya menjadi sekumpulan boneka dan alat pembangunan semata. Tidak banyak diantara mereka yang mampu untuk merasakan efek positif dari pembangunan yang dilaksanakan pada zaman itu. Sehingga hal itu menjadi sebuah api dalam sekam dan itu terbukti ketika sedikit saja perekonomian Indonesia terganggu maka masyarakat pun seperti mempunyai alasan untuk memberontak dan melakukan perlawanan hingga akhirnya Pak Soeharto harus lengser secara paksa pada tahun 1998, dan pada saat itu pula merupakan awal dari sebuah rezim yang baru yaitu Reformasi. 

Jadi, sejarah telah membuktikan bahwa mengekang kehidupan politik serta pembangunan politik dalam masyarakat untuk menciptakan suatu kestabilan politik tidak akan pernah bisa untuk jangka waktu yang panjang hal itu hanya akan bertahan sementara karena dengan dikekangnya kehidupan politik seseorang maka hal itu hanya akan membuat rasa emosi itu tertahan dan pada saatnya nanti akan keluar juga ke permukaan dalam bentuk yang keras bahkan anarkis. Sehingga dalam membangun suatu kestabilan nasional untuk menjamin terselenggaranya pembangunan harus dilaksanakan secara bertahap berjenjang dan bertingkat dengan membangun sistem politik yang baik dalam diri masyarakat itu sendiri sehingga kestabilan itu mampu untuk terwujud secara sempurna dan utuh.

Sabtu, 19 Mei 2012

Deskripsi Absurd ( Tak Jelas! )

Damn! 
Boleh ku berkata kasar 
di depan ombak yang berderu keras, 
berlomba menuju daratan, saling melompat membentuk sebuah gelombang lepas? 

Ku cemas, 
sedikit terasa was-was, 

mungkin juga gelisah. 
Ku lamunkan segala masalah, 
cinta yang ku lepas,
dan juga terlepas,
atau yang harus kandas, 
ada juga yang tak terbalas, 
idealisme dan kenyataan tidak pas, 
harga dari usaha dan hasil yang juga tidak membuatku puas, 
teman yang berkhianat merusak kehidupan ku yang bebas... 

Akh..
aku mengeluh juga dan lagi, 
memang benar ku lupa semua kata-kata motivasi, 
yang padahal ku hujamkan dalam hati orang yang tersakiti. 

Tapi ternyata ku juga telah dipecundangi, 
dan ku tak bisa untuk melakukan kata-kata yang telah ku teriaki. 

Tak apa, iya kan ombak? 
Hidup memang seperti ini, mari kita nikmati. 
Asal tetap percaya pada Illahi. 

Mengeluh sedikit ku pikir tak akan sampai membuatku mati 
Jadikan saja bumbu penyedap sehingga hidup lebih terasa, Hahaha…

Jumat, 18 Mei 2012

Tak Sekuat Hatimu

Aku tak sebaik yang dikira, 
tak sesempurna terlihat, 
tak sebijak yang terkata. 
Tapi aku pun tak bejat, 
tak juga jahat, 
apalagi seorang yang selalu bermaksiat, 
melawan melabrak segala norma. 

Aku hanya manusia biasa, 
terlalu sangat biasa, 
terkadang baik terkadang tergoda, 
penuh balutan tawa canda, 
memendam emosi di dada. 

Ku hanya terus mencoba, 
coba ‘tuk seimbangkan raga, 
antara potensi baik dan buruk dalam jiwa, 
berusaha terus menekan yang salah, 
dan menegakan segalanya agar terarah, 
menuju hidup yang cerah. 

Adapun ketika ku tergoda, 
melakukan hal yang kelam
maka ku tak pernah mengumbarnya, 
menunjukan langsung di muka, 
secara umum dan terang depan semua, 
karena aku malu dibuatnya. 

Jadi biar ku lakukan dalam gelap, 
dalam sepinya dunia bersama mereka yang tak ku kenal, 
atau sendiri sungguh hanya dengan Tuhan, 
bila hal itu bukan tentang dosa besar, 
tidak bertentangan dengan prinsip hidup yang ku pegang, 
maka ku cenderung melepasnya, 
karena ku ingin semua bahagia, 
nafsu ku terlaksana. 

Tapi cukup aku dan Tuhan yang tau, 
serta mereka yang tak ku kenal dalam hidup, 
apalagi ketika ku sedang ingin menyendiri, 
merenungi serta meratapi keras dan indahnya hidup ini, 
ketika masalah datang menghampiri, 
memeluk mesra mendekam hati,
maka itu-lah pembenaran yang kusandari, 
tapi tidak juga hakiki, 
setidaknya ku punya alasan untuk argumentasi, 

Sekali lagi, 
ku lepaskan nafsu diri, 
dan melakukan hal yang tak pasti juga meracuni, 
merusak image baik pribadi, 
bila hal itu bukan hal yang benar haram, mubah tak jarang makruh, 
Tapi sering juga memang jelas dosa, 

Tak apa-lah, 
Ini tidak selamanya, 
sampai saat ini ku masih ku masih mampu mengendalikan, Menahan, 
berpikir rasional mempertimbangkan, 
memikirkan efek ke depan, 
Dan ku siap menanggung resiko yang nanti 'kan menekan, 
dan menebusnya dengan perbuatan baik yang konsisten ku tunjukan juga implementasikan, 
Ikhlas sungguh, 
Tanpa niat untuk dinilai atau diperhatikan, 
hanya mencari pahala membayar segala kebodohan, 
berharap tak datang karma
berharap Tuhan masih berbelas kasihan, 

jadi sungguh aku tak sempurna, 
tapi sungguh ku terus berbuat baik ku usahakan. 
Tapi sampai saat ini memang setan itu masih hidup segar dalam hati tak terbantahkan

Selasa, 15 Mei 2012

Friend or Foe ?

Tak ku sangka,
ku harus menuliskan lagi ini kata-kata,
Kata-kata petuah, penuh makna,
tentang bagaimana seharusnya,
sebuah hubungan persahabatan itu berjalan di dunia.

Bercerita tentang hakikat serta pengikat,
sepasang sahabat.
Mari sama-sama kita renungi…lagi dan lagi…


Barangkali di antara ungkapan yang paling baik mengenai "adab persaudaraan" itu adalah apa yang dikatakan oleh pengarang kitab QUUTUL QULUUB berikut ini :
 "Sahabatmu itu haruslah orang yang apabila engkau melayaninya ia akan melindungimu; dan apabila engkau tidak mampu mencari makan, ia akan memberi kepadamu; dan apabila engkau membentangkan kedua belah tanganmu dengan kebaikan, ia akan membantumu; dan apabila ia melihat kebaikan daripadamu ia akan menghargainya; dan apabila ia melihat keburukan daripadamu, ia akan menutupinya; dan apabila engkau meminta kepadanya, ia akan memberimu; dan apabila engkau diam, ia akan mulai berbicara denganmu; dan apabila engkau ditimpa musibah, maka ia akan menghiburmu; dan apabila engkau berkata-kata, ia akan membenarkan perkataanmu; dan apabila kamu berdua berselisih, ia akan mendahulukanmu."

 Sesungguhnya teman sejatimu itu ialah orang yang menutupi kebutuhanmu, merahasiakan kesalahan-kesalahanmu, dan menerima alasan-alasanmu. Dan hak seorang sahabat atasmu adalah supaya engkau memaafkannya dalam tiga perkara : dari kemarahannya, kekeliruannya dan kelancangannya!
 -Dr. Muhammad al-Ghazaly-

 Kenapa ku kembali bernostalgia?
dengan segala kata di masa yang telah tertinggal?
Karena di masa kini,
masa yang sedang aku jalani,
aku kembali terhadang sebuah duri,
duri pemberi luka dalam hati,
merusak keakraban antara aku dan dia sebagai sepasang sahabat, yang ku pikir sejati.

Coba kalian bayangkan,
Dia, yang telah cukup lama bersama,
hidup dekat dalam ruangan yang sama,
telah ku bagi setiap cerita, tak jarang rahasia,
dan telah ku jaga setiap apa yang dia kata,
Bahkan ku hargai dengan sangat,
segala apa yang menjadi daerah privasinya,
Tak pernah mengusik atau sedikit 'tuk ikut mencampuri,
sampai saatnya dia sendiri yang menghampiri,

Tapi ternyata semua tak berbalas seperti yang ku pikiri,
Dia khianati,
dia lukai,
dia buka segala apa yang ku sebut privasi,

Dan terima kasih,
Setidaknya semua ini membuat aku sangat tersadar,
membuka mata secara sangat lebar,
bahwa tidak semua dapat aku percaya untuk menyimpan kata,
Masih ada yang bermulut terbuka,
berbicara dengan tidak melihat kondisi yang ada,
Padahal itu sungguh rahasia,
tapi kenapa dia harus juga bersuara?

Aku kehilangan kata,
sesak terasa di dada,
tersedat mulut ku rasa.

Aku terhenyak terdiam seribu bahasa,
hanya mampu untuk getir ku tertawa,
Tanda sejuta rasa kecewa,
teramat sangat kecewa,

Aku tidak menyangka,
sungguh..sungguh tidak disangka,
Kenapa harus dia, Bukankah kita berteman?
Walau memang sempat kita tertekan,
sebuah masalah datang menimpa,
dan kita pun tertekan oleh itu amarah,
Kita berdebat, tapi aku telah meminta maaf,
bersujud memohon ampunan, mengakui segala khilaf,

Tapi ternyata dia tetap menikam,
menghujam secara tajam,
kenapa kawan? Kenapa??

Kawan, kau sungguh telah merusak,
merusak segala yang indah,
kau ganti dengan perih luka,
kau rusak semangat ku,
kau rusak kehidupan ku,
kau rusak privasi ku
dan kau rusak segala rasa persahabatan, bila memang kita ini adalah sahabat …

Minggu, 13 Mei 2012

RUU KG

"Kebenaran akan terasa layaknya sebuah kebohongan bagi para pendosa."

 "Suatu kekeliruan bila mempunyai anggapan harus memiliki kekuasaan untuk menegakan kebenaran. Tapi juga suatu kesalahan bila menegakan kebenaran tanpa adanya suatu kekuasaan."

 “Aturan itu dibuat bukan untuk dipertanyakan tapi untuk kita laksanakan. Boleh kita perdebatkan, hanya dan hanya jika aturan tersebut bertentangan dengan norma dan nilai-nilai agama yang dianut oleh orang kebanyakan.”

 “Bila kita tidak bisa untuk mengerjakan semuanya, jangan kemudian kita meninggalkan semuanya.”


Dalam otak saya ada sebuah permasalahan yang benar-benar mengganggu dan secara nyata mengusik hati dalam dada. Sebuah permasalahan yang sebenarnya saya pun tidak terlalu memperhatikan, entah karena memang masalah ini luput dari hangatnya pembicaraan media atau entah karena saya pribadi yang sudah sangat tertinggal oleh arus informasi atau bahkan terlalu memfokuskan diri kepada informasi yang kurang penting sehingga permasalahan ini baru bisa saya ketahui ketika saya membaca sebuah majalah bernama Al-Wa’Ie No. 141 Tahun XII, 1-31 Mei 2012/1433 H, sebuah majalah terbitan dari sebuah kelompok Islam yang ada di Indonesia yaitu Hizbut Tahrir .

 Tema utama dalam majalah itu, dalam edisi yang saya baca itu sebenarnya berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional yang akan jatuh pada tanggal 20 Mei. Majalah itu mencoba untuk mengupas makna serta hakikat dari kebangkitan nasional tentunya melalui sudut pandang Islam akan tetapi saya pribadi menjadi jauh lebih tertarik terhadap permasalahan lain yang juga diberitakan dalam majalah itu, permasalahan yang benar-benar mengganggu dan mengusik ketenangan hati, yaitu permasalahan mengenai Rancangan Undang-undang ( RUU ) tentang Kesetaraan Gender ( KG ) yang sedang digodok dan dirumuskan oleh Pemerintah dan DPR, bahkan RUU tersebut telah melalui tahapan hearing ( dengar pendapat ) yang dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2012, antara Komisi VIII DPR dan beberapa ormas Islam, seperti Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia ( MHTI ), Aisyiah, Muslimat Nahdhatul Ulama, MUI dan BMOIWI.
Semangat utama yang melatabelakangi lahirnya atau munculnya RUU KG ini adalah karena masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan masih mengalami diskriminasi dalam keluarga, masyarakat dan Negara. Dan dengan adanya RUU KG maka akan adanya kemitraan seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam segala bidang tanpa terkecuali, dengan adanya RUU KG ini perihal membedakan hak dan kebebasan seseorang karena jenis kelamin adalah ketidakadilan, tidak boleh lagi membedakan perempuan karena pandangan tertentu, termasuk pandangan agama.

Sebelum saya semakin dalam, tenggelam, mencoba untuk mengemukakan segala pendapat saya berkenaan dengan permasalahan ini, maka akan jauh lebih baik apabila anda semua terlebih dahulu membaca tulisan saya yang terdahulu mengenai pandangan saya, konsep saya tentang wanita dan lelaki sehingga kemudian tidak akan terjadi salah persepsi, salah pemahaman.
Saya sama sekali tidak memilki tendensi terhadap wanita, memilki sentimen khusus terhadap wanita apalagi sampai dengan pemikiran bahwa saya takut wanita akan menjadi jauh lebih hebat melebihi kaum pria, tidak..tidak sama sekali.
Jadi ini-lah tulisan-tulisan saya itu :
2. Aurat

Setidaknya ada dua pandangan yang akan saya kemukakan untuk menanggapi permasalahan RUU KG ini, dua pandangan yang sebenarnya saling melengkapi dan tidak bisa berdiri sendiri. Pertama pandangan saya sebagai seorang muslim dan kedua pandangan saya sebagai seorang muslim yang hidup berbangsa dan bernegara di sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Here we go and this is my first point of view, my point of view as a moslem :

“Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. ( Sebab ) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, bagi para wanita ( pun ) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
( QS. An-Nisa (4):32 )

 “Kaum lelaki itu adalah pemimpin atas kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki-laki ) atas sebagian yang lain ( wanita ) dan karena mereka ( laki-laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, wanita yang salih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara ( mereka ). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlahh mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”
( QS. An Nisa (4);34 )

Satu hal yang benar-benar saya pahami secara utuh, terlepas dari fakta bahwa saya terlahir sebagai seorang lelaki, adalah bahwa secara fitrah, lelaki memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam rumah tangga ( qawwam ) dan wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga ( ummu wa rabbah al-bayt ). Allah Swt., Sang Pencipta, tidak pernah membedakan kedudukkan antara perempuan dan laki-laki, pada hakikatnya kedudukan perempuan dan laki-laki adalah setara secara syariah dan pelaksanaan hak serta kewajiban berlaku seimbang di antara keduanya akan tetapi secara fitrah penciptaan, Allah telah membedakan keduanya dalam rangka mengemban misi kehidupan, tidak untuk menciptakan suatu diskriminasi antara keduanya tapi justru dengan segala perbedaan dan pembeda itu akan terjadi suatu harmonisasi dalam menjalankan perannya masing-masing.

 Karena segala apa yang terjadi dan segala apa yang ada di dunia ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi merupakan sebuah kesatuan sistem. Mereka saling mempengaruhi, saling melengkapi sehingga segala apa yang ada dan harus terjadi di dunia ini bisa berjalan seimbang, bisa berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang saling tumpang tindih peran maupun tupoksi.

Bila argumentasi ini bila mampu untuk meyakinkan anda semua maka saya akan mencoba untuk mengemukakan argumentasi kedua saya berdasarkan kedudukan saya sebagai seorang muslim yang hidup di Negara Kesatuan Republlik Indonesia.

 “Hanya orang gila yang mau menyamaratakan perempuan dengan laki-laki. Laki-laki bukan perempuan. Oleh karena itu, pasti beda laki-laki dengan perempuan. Menyamakan sesuatu yang tidak sama tidak dapat dipertanggungjawabkan secara logika.”
Anwar Abbas ( Pimpinan Pusat Muhammadiyah )

Mari kita sama-sama gunakan logika berpikir kita dengan sangat rasional, bebas, terlepas dari segala pemikiran dan perasaan subjektif. Mari renungkan, secara bentuk fisik tampilan secara nyata dari luar, apakah laki-laki dan perempuan itu sama? Kemudian kita beralih kepada hal-hal psikis serta ciri-ciri biologis, apakah laki-laki dan perempuan itu sama?
Coba kita renunggkan dengan seksama dua pertanyaan itu dan teliti bersama jawaban dari kedua pertanyaan itu karena bukankah ketika kita akan menyamakan sesuatu hal maka sesuatu hal itu harus mempunyai persamaan dan persamaan antara sesuatu hal itu harus-lah suatu persamaan yang pinsip sehingga kita bisa menyamakan sesuatu hal itu secara utuh dan kuat. Akan tetapi secara prinsip, dari segi apapun, perempuan dan laki-laki itu sangat-lah berbeda sehingga menjadi sangat wajar antara laki-laki dan perempuan itu kemudian memilki tugas, tanggung jawab serta peran yang berbeda.

Karena kita hidup sebagai manusia, tidak hanya hidup sebagai manusia semata, tapi sebagai makhluk Tuhan, sebagai manusia yang utuh , kita semua mengemban suatu misi khusus dan untuk menjalankan misi itu kita, manusia, laki-laki dan perempuan mempunyai tugas, peran, serta tanggung jawab masing-masing, untuk saling melengkapi dan saling mengisi.

Sebagai contoh adalah sistem pencernaan kita, mereka mempunyai misi untuk mencerna segala makanan yang masuk ke dalam tubuh kita dan mengolahnya menjadi suatu energi, sistem pencernaan terdiri dari beberapa organ dan setiap organ memilki ciri serta bentuknya masing-masing, yang dengan bentuk dan cirinya yang khas itu mereka mempunyai peran, tanggung jawab serta tugas yang berbeda satu sama lainnya akan tetapi perbedaan itu bukan untuk menjadi suatu bentuk diskriminasi tapi merupakan hukum alam agar proses pencernaan itu bisa berjalan dengan sempurna, bayangkan bagaimana jadinya apabila setiap organ dalam pencernaan kemudian mengamuk dan meminta untuk mempunyai tugas, peran serta tanggung jawab yang sama satu sama lainnya? Bukankah sistem pencernaan itu akan menjadi hancur, tidak berfungsi? Dan kita manusia akan mati dibuatnya?

Itu-lah mindset yang harus kita pikirkan sama-sama dan kita coba renungkan. Pahami dalam otak, resapi dalam hati dan lakukan dalam sikap sehari-hari. Tidak ada sama sekali niat untuk menahan segala potensi dalam diri wanita akan tetapi wanita tetap harus mawas diri dan mampu untuk mengendalikan diri, bahwa semua memiliki porsinya masing-masing dan bukan-kah kita semua selalu berteriak meminta suatu keadilan? Dan bukan-kah keadilan itu berarti menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya masing-masing?

Apakah tanah pernah mengeluh karena selalu kita injak setiap harinya?
Apakah matahari pernah bosan menyinari dunia?
Semua ada hukumnya dan semua berfungsi sebagaimana mestinya.

 “Hikmah pembeda hukum yang berkaitan dengan perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian perempuan, sesuatu yang tidak disadari dan dipahami kaum feminis, ( kaum yang giat meneriakan kesetaraan gender ).”
Pratma Julia Sunjandari ( Lajnah Siyaiyah MHTI )

Jumat, 11 Mei 2012

Antara Cinta dan Keyakinan ...

Bagaimana rasa itu bisa untuk menghilang bila kita secara nyata tapi perlahan dalam diam saling mencuri pandang.
Mata kita silih berganti melihat terkadang saling menatap juga meratap seolah kita sedang bicara melalui perantara hampanya dunia diantara kita..
walau sejuta kata lain beredar luas, keras mencoba mengusik keheningan romantika.
Tapi kita tetap teguh bertahan, diam…tetap saling mencuri pandang, diselipi juga senyuman.

Sering kita malu, saling memalingkan muka ketika dengan tidak kita sengaja waktu dengan sangat cerdiknya mempertemukan kedua mata kita dalam satu arah pandang yang lurus tegak tajam saling memandang.
Atau ketika orang di sekitar kita menangkap jelas aktifitas raga mata kita, di tempat itu, dalam tiga waktu itu, kita selalu begitu atau setidaknya aku yang selalu melakukan itu.

Akh, kenapa?
Bukankah kita ( aku ) telah sepakat, tidak untuk meneruskan ini semua karena hanya akan menumbuhkan rasa, yang apabila terus besar hanya akan terus memaksa, mendorong kita ( aku ) untuk ( memaksa ) bersama, padahal sungguh kita tidak akan bisa karena kita sangat berbeda, sulit untuk menjadi sama, dalam sebuah ikatan cinta, dalam sebuah hubungan dua manusia, yang sejati juga selamanya karena ini beda tentang prinsip kita, prinsip yang kita percaya, untuk berjalan di atas dunia, sebagai seorang makhluk Tuhan yang setia.

Tapi sungguh apa daya yang bisa ku perbuat, karena bukankah cinta itu juga merupakan anugerah-Nya?
Lalu kenapa Dia juga harus memberikan itu anugerah tapi juga sekaligus suatu masalah?
Karena bukankah cinta itu harus indah bersama tapi kenapa justru membuat sulit dan merusak ketenangan batin juga raga?

Aku tau semua apa yang terjadi tidak terjadi begitu saja tanpa ada makna yang menyertai.
Semua pasti ada hikmah serta makna, semua pasti ada maksud serta tujuannya.
Memberi masalah sebagai anugerah, memberi anugerah tapi dalam sebentuk masalah.

Dia hanya ingin terus memastikan setiap manusia ciptaan-Nya, agar terus kuat menjalani hidup di dunia, tidak menjadi sesosok yang lemah, sehingga Dia tidak akan pernah bosan terus memberi kita ( aku ) ujian serta tekanan.
Sekarang tinggal bagaimana aku menghadapi ini semua, memberikan respon serta tanggapan terhadap apa yang Dia berikan, entah anugerah atau musibah,

apakah berpikiran baik atu buruk, apakah melihat dengan baik atau buruk dan apakah aku tetap beriman atau justru menjadi kabur, lari dari-Nya?

karena bagi ku cinta dan wanita bukan-lah sumber utama dari munculnya suatu kebahagiaan tapi hidup tanpa cinta juga wanita merupakan awal dari sebuah penderitaan dan kesepian..