Sabtu, 26 Mei 2012

Informatif Provakatif

Kepala saya benar-benar penuh dengan berbagai macam kata informatif tapi sungguh provokatif. Kata-kata yang rasanya asing dalam telinga juga logika, hanya mampu saya pahami secara sangat umum, mengena pada kulit luar tidak menyentuh utuh hingga ke kulit dalam. Sangat dangkal. 

Kata-kata itu mampu untuk datang dan memenuhi setiap ruang yang ada dalam otak sedikit atau bahkan memang banyaknya karena dipengaruhi oleh satu bacaan yang akhir-akhir ini rutin untuk saya baca dan pahami, yaitu dari sebuah tabloid Islam bernama Media Umat, yang diterbitkan oleh Pusat Kajian Islam dan Peradaban. Tabloid ini bagi saya pribadi baru saya kenal dan baca sejak edisinya yang ke-81, tabloid ini terbit dua kali setiap bulannya atau satu kali setiap dua minggu. Sejak pertama saya membaca tabloid ini tidak dapat saya pungkiri bahwa tabloid ini memang sungguh sangat informatif, mampu untuk benar-benar membuka pikiran serta wawasan saya lebih jauh serta luas lagi mengenai Islam dan segala permasalahan serta perkembangannya kini, dewasa ini, di zaman globalisasi ini. Bahkan tabloid ini benar-benar menyadarkan saya, membangunkan saya dari segala mimpi indah yang saya pikir ada dan saya pikir sedang saya jalani bersama agama yang saya yakini akan tetapi ternyata sungguh dari segala kenyamanan ini, agama saya beserta seluruh umat, saudara seiman saya sedang menghadapi suatu permasalahan yang sangat pelik, sangat hebat, yang apabila kita tidak melawannya semenjak sekarang atau setidaknya kita tidak menyiapkan diri sebaik mungkin dari sekarang maka kelak di masa yang akan datang ketika masalah ini telah menjadi besar, terang dan nyata ada, maka saya dan seluruh umat Islam yang ada di dunia akan menjadi panik dan terguncang keberadaannya. 

Masalah yang sedang dihadapi agama Islam merupakan sebuah masalah besar dan kesalahan saya adalah saya membiarkan diri ini untuk terus berpendapat bahwa ini bukan-lah sebuah masalah yang besar, bukan sebuah isu utama yang harus dipermasalahkan, itu-lah kesalahan saya sehingga akhirnya permasalahan ini luput dari pengamatan saya dan hampir mayoritas umat Islam pada umumnya yang ada di Indonesia karena umat Islam yang ada di Indonesia masih sedikit yang mau dan mampu untuk berpikir “berat” dan jauh ke dalam terhadap sesuatu hal yang sifatnya idealis/moralist penuh dengan telaahan akademis lengkap dengan bahasa ilmiah teoritis. 
Mayoritas Islam di negeri ini masih belum memliki waktu yang luang untuk itu semua, mayoritas Muslim di negeri ini masih terfokus pada permasalahan bagaimna caranya untuk menyambung hidup dari hari ke harinya serta terus membuat dapur rumah tangga mereka selalu penuh dengan asap. Ya, permasalahan dapur masih merupakan isu utama bagi sebagian besar umat Islam yang ada di Indonesia sehingga urusan agama bagi mereka tidak mereka pikirkan hingga ke sebuah masalah yang sangat dalam, cukup bagi mereka hanya urusan-urusan ritual keagamaan dan akhlak sehari-hari, tidak kurang dan mungkin bilapun lebih baru sedikit saja kita sentuh kelebihan itu. 

Sedangkan di belahan dunia yang lain, di Negara kafir maupun yahudi yang ada di bagian lain bumi ini dengan kondisi sosial masyarakatnya yang sudah mapan, sangat sejahtera, mereka tidak lagi di sibukan dengan segala permasalahan standar atau masalah dapur semata tapi mereka telah berpikir jauh ke depan, berpikir panjang dan dalam tentang ideologi serta tatanan dunia di masa depan, tidak hanya berpikir untuk skala kecil, yaitu Negara, tapi pikiran itu telah melebar jauh menjadi sebuah pemikiran untuk mampu menguasai seluruh Negara yang ada di dunia karena mereka berpendapat bahwa apa yang mereka yakini itu adalah sebuah ideologi yang paling benar serta sebuah tatanan hidup yang paling sempurna sehingga dalam pemikiran mereka, ideologi serta tatanan itu tidak cukup hanya ada dalam lingkup Negara mereka tapi juga harus mampu untuk tersebar dan terimplementasikan luas di seluruh Negara yang ada di dunia, menyebarkan pengaruh untuk kemudian mendapatkan legitimasi kekuasaan dan apabila kekuasaan itu telah mampu untuk mereka genggam maka segala apapun itu akan mudah untuk mereka lakukan dan dapatkan. 

Tabloid Media Umat edisi ke-82 ini membahas kembali bagaimana bahanya racun Sipilis ( sekularisme-pluralisme-liberalisme ) dan bagaimana kini perkembangannya sudah sangat mencekam seluruh individu yang ada, pelan tapi sangat pasti racun itu mulai menyeruak masuk ke negari ini, sebuah negeri dengan hampir 80% penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Sebuah racun yang sangat gencar untuk disuntikan ke dalam tubuh setiap Muslim yang ada di dunia dan di Indonesia pada khususnya. Racun itu tidak disuntikan begitu saja dengan secara terang dan apa adanya tapi mereka disebarkan perlahan melalui berbagai macam cara dan wajah hingga terasa seperi bukan sebuah virus Sipilis, dibalut dengan nama kemanusiaan, HAM, cinta kasih dan sejuta kata-kata indah duniawi lainnya. Hal itu dibuat sedemikian rupa agar setiap orang, Muslim khususnya, menjadi tertipu dan sedikit demi sedikit mampu untuk terpengaruh dan kemudian membenarkan paham itu. Ya, orang-orang itu mengemas segala sesuatunya, mengemas racun Sipilis itu dengan kemasan yang sangat indah yang mampu untuk menipu dan meracuni setiap orangnya. 
Siapa orang-orang itu? 
Orang-orang itu adalah kaum Yahudi. Mereka gencar dan terus menyerang Islam dengan racun sipilis dengan berbagai macam organisasi yang mereka bentuk. Dari banyaknya organisasi itu, yang paling tekenal atau setidaknya yang paling saya kenal adalah organisasi yahudi yang bernama Freemansonry. Sekali lagi harus saya tekankan di sini, permasalahan mengenai ini semua, mengenai yahudi, zionisme bahkan Freemansonry, telah saya ketahui sejak lama, semenjak saya duduk manis di bangku SMP akan tetapi hal itu tidak pernah dan tidak mau saya tanggapi sebagai sebuah permasalahan yang serius atau besar karena saya pikir masalah-masalah itu merupakan masalah yang “berat”, penuh dengan teori konspirasi, bukan merupakan konsumsi umat yang “umum” seperti saya dan ternyata di saat ini, detik ini, menit ini, jam ini, hari ini di bulan ini dan juga tahun ini saya tersadar bahwa pemikiran seperti itu merupakan sebuah pemikiran yang keliru, mari kita baca dan renungkan kembali apa yang telah saya tulis pada tulisan saya yang terdahulu yang berjudul Perlukakah Membela Tuhan

Isu ini, isu tentang zionisme, isu tentang freemansonry dan semua tindakan yang dilakukan oleh kaum yahudi merupakan sebuah isu penting yang suka tidak suka harus kita pikirkan bersama dan lawan secara bersama-sama pula. Karena misi besar yang diemban oleh kaum yahudi beserta seluruh kelompok yang berada di bawahnya adalah untuk memerangi Islam, menyebarkan virus Sipilis untuk nantinya akan mereka bentuk sebuah tatanan dunia baru ( The New World Order ) yang di dalamnya tidak akan lagi dikenal atau mengenal apa itu yang kita sebut dengan agama, mereka menyiapkan dengan sangat sempurna kedatangan dari seekor entah seorang entah sebuah, makhluk perusak bernama Dajjal, di akhir zaman nanti. 

Tidak berlebihan bagi saya apabila memang saya sebut bahwa tabloid itu, tabloid Media Umat merupakan sebuah media cetak yang sangat informatif. Kabar lainnya yang juga tidak kalah informatif-nya tapi memang agak membuat diri ini kecewa, yaitu sebuah kabar, sebuah berita dalam sebuah artikel, yang menyebutkan bahwa ada kemungkinan besar salah satu tokoh nasional yang kini namanya sedang melambung tinggi berkat etos kerjanya yang tinggi, kemampuan memimpinnya yang juga sangat baik, sikapnya yang berani juga sangat sederhana ditambah dengan kemampuannya dalam menulis serta berkomunikasi yang juga sangat baik, seorang tokoh yang juga saya kagumi, yaitu Pak Dahlan Iskan, disinyalir juga merupakan bagian dari gerakan Freemansonry yang ada di Indoneisa melalui salah satu cabang organisasinya yaitu Lions Club. Setidaknya ada dua organisasi kemasyarakatan yang ada di Indonesia yang diduga kuat sebagai bagian dari organisasi besar yahudi, Freemansonry, yaitu : Lions Club dan Rotary Club. Dua organisasi kemasyarakatan itu mempunyai misi untuk menjalankan misi-misi kemanusiaan dan menyebarkan cinta kasih serta toleransi di Indonesia. 

mm..bagi saya pribadi kabar itu seperti sebuah petir yang tiba-tiba menyambar di siang hari yang cerah juga terang, sungguh tak di sangka, sama sekali tak ada tanda. Tapi data-data yang juga diungkapkan dalam artikel itu pun tidak bisa saya pandang sebelah mata, mereka menyajikan data yang cukup akurat dan saya pikir bisa untuk dipertanggungjawabkan, bukan merupakan berita bohong dalam sebuah nama kita sebut gossip. Ini merupakan bola panas yang sungguh akan menarik untuk dilihat bagaimana Pak Dahlan Iskan nantinya memberikan tanggapan serta klarifikasi mengenai permasalahan ini. Tapi sekali lagi, saya pribadi, sungguh sangat kecewa tapi tidak juga menjadi seorang yang kemudian membenci. Saya selalu berusaha untuk menjadi seorang yang adil dan objektif, apabila memang kebenaran itu harus datang dari seorang anak yang sangat kecil sekalipun bahkan dari tempat yang paling kotor, tapi apabila itu benar dan merupakan sesuatu hal yang baik, saya tidak akan segan untuk mengambilnya dan menerapkannya. 
Saya tidak ingin kekecewaan apalagi rasa benci dalam diri terhadap orang lain membutakan mata saya pada segala kebaikan dalam diri orang lain tersebut. 

Tapi seperti juga yang telah saya kemukakan di atas, tabloid ini pun tidak hanya berisikan sesuatu hal yang informatif tapi juga penuh dengan kata-kata yang ( sangat ) provokatif. Ya, kata-kata yang disajikan dalam tabloid itu, menurut saya pribadi, benar-benar sangat menusuk tajam dengan kata yang sangat lugas tanpa tedeng aling-aling tanpa ada usaha untuk mencoba menggunakan kata lain yang mungkin bisa terdengar lebih halus dan lebih nyaman untuk di cerna. Dari segi dakwah, hal itu memang menunjukan ke-saklek-an penerbit tentang yang hak itu benar dan yang bathil itu salah, karena memang kebenaran itu bersifat hakiki, tidak bersifat nisbi. 

Jadi tidak ada pilihan lain bagi para pendakwah untuk selalu bersikap tegas, terkadang keras untuk terus memperjuangkan segala apa yang benar menurut agama. Tapi di sisi lain, saya melihat hal itu juga tidak selalu berdampak baik, bacaan itu, tulisan yang terdapat di dalam tabloid itu di baca bebas oleh segala kalangan, tidak bisa untuk kita cegah bahkan untuk sekedar kita saring, semua orang dengan berbagai macam jenis pemahaman dan latarbelakang pendidikan membaca itu semua. Dan tidak semua dari pembaca itu pun mampu untuk bersikap dewasa dan berpikir secara bijak. Bagaimana bila ada orang yang membaca itu kemudian dalam dirinya muncul suatu rasa benci dan keinginan besar untuk melawan akan tetapi sungguh dia tidak mempunyai modal pemahaman yang utuh, hanya dangkal, hanya berdasarkan emosi belaka. Sedangkan apa yang kita lawan ini adalah sekumpulan orang yang pintar, orang-orang yang melakukan perang melalui intelektualnya, mereka menyerang kita, agama Islam, tidak sekedar menyerang dengan tangan kosong tapi sungguh mereka telah terlebih dahulu mendalami apa yang ada dalam ajaran agama kita bahkan tidak sedikit fakta menujukan bahwa justru orang-orang itu-lah, orang-orang kafir dan yahudi lebih memahami agama Islam, ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits daripada umat Islam itu sendiri. Dan apabila hal itu yang terjadi, bukankah kita hanya menyerang seperti sekumpulan orang-orang yang bodoh? Apakah tidak justru kita yang nantinya akan dicuci otaknya oleh mereka? 

Saya pribadi merupakan tipe orang yang selalu berusaha untuk tidak bertindak apabila sesuatu hal itu tidak saya pahami secara utuh dan dalam ( baca : Talk More Do More, Speak Up!, Berawal Dari Permasalahan Nifsu Syaban
Karena bagi saya sebelum kita memulai untuk berusaha memecahkan sebuah kasus, kita harus terlebih dulu paham segala istilah, segala pengertian umum, segala ketentuan umum yang terdapat dalam kasus tersebut. 

Jadi, mari kita sama-sama kita selami dan dalami segala informasi yang informatif itu sehingga ketika kita terprovokasi kita akan mampu untuk bertindak secara benar dan tidak justru diserang balik karena pemahaman kita yang dangkal terhadapnya. 
Peace and Cheers! 

“Aneh bagi saya, ketika mereka selalu berteriak tentang sebuah toleransi lantas kenapa mereka harus mencaci dan memerangi agama kami?”

1 komentar:

  1. Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
    tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus