Senin, 07 Mei 2012

Sadarkan Aku!

Sehebat apapun dan seindah apapun kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan sebuah kritik pada akhirnya kata-kata itu akan tetap menusuk dalam hati dan sebesar dan selapang apapun hati kita tetap saja kita tidak akan bisa untuk memungkiri bahwa akan ada rasa sakit, walaupun sedikit, yang terasa dalam hati dan menyesakan ludah dalam mulut. Setidaknya itu-lah yang saya alami. 

 Saya tidak malu untuk mengakui bahwa saya memang memiliki ego yang cukup besar, terkadang otoriter dan tak mau mengalah sering untuk memaksakan kehendak dan menang sendiri, tapi itu hanya satu sisi buruk kehidupan saya, di sisi yang lainnya saya sangat terbuka dengan segala apapun bentuk kritikan, bahkan cacian, karena dengan itu semua saya mampu untuk terus menguatkan dan mengevaluasi diri. Karena bagi saya pribadi, saya memerlukan sebuah pujian untuk menjadi mampu memotivasi, saya membutuhkan sebuah masukan untuk terus memperbaiki diri, dan saya pun membutuhkan sebuah kritikan, hinaan bahkan makian untuk saya mampu menguatkan, membentuk serta mengasah mental. Pujian, masukan, kritikan, hinaan dan makian bagi saya merupakan bentuk dari sebuah apresiasi yang diberikan orang kepada saya. ( baca : Tidak lagi di bawah radar
Dan sejauh yang saya tahu, saya tidak pernah alergi terhadap segala apresiasi yang masuk kepada saya, apalagi dalam bentuk sebuah kritikan. Saya terima itu semua dengan raut muka penuh senyum, juga dengan sedikit argumen pembelaan untuk tetap mempertahankan ego saya pada tempatnya, saya selalu memikirkan semua kritikan yang masuk, saya pahami, resapi kemudian saya evaluasi serta renungkan, ambil yang baik kemudian saya buang segala yang buruk, tidak perlu menunggu waktu, apabila memang kritikan itu membangun, utuh dan baik maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memperbaki diri. Itu prinsip yang saya pikir dan saya rasa telah saya lakukan dan terapkan dalam kehidupan saya sehari-hari. 

Kritikan terbaru yang saya terima saat ini adalah kritikan langsung dari teman-teman saya sekaligus rekan-rekan saya dalam organisasi keprajaan di IPDN Kampus Kalimantan Barat atau biasa kami menyebutnya dengan istilah Kabupaten Wahana Wyata Praja IPDN Kampus Kalimantan Barat. ( baca : Wahana Wyata Praja, Selayang Pandang IPDN ). Di dalam organisasi keprajaan itu, saya mendapatkan amanah atau kepercayaan dari Bupati Praja terpilih, untuk menduduki posisi Sekretaris Daerah ( Sekda ), suatu posisi atau jabatan yang apabila di dunia nyatanya merupakan sebuah jabatan yang prestisius. Dalam menjalankan organisasi keprajaan ini, dasar hukum serta landasan tupoksi yang digunakan adalah seperti yang tertuang di dalam Peraturan Rektor No. 08 tahun 2010 dan untuk di IPDN Kampus Kalbar sendiri kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Daerah Kabupaten Wahana Wyata Praja IPDN Kampus Kalbar No. 01 tahun 2011. Kritikan yang muncul terhadap saya adalah berkenaan dengan sikap dan tindakan yang saya ambil yang ternyata telah menyalahi tupoksi yang saya emban, para pengkritik itu berkata bahwa saya terlalu banyak turun di lapangan, lebih jauhya lagi, saya terlalu banyak ikut campur dalam pembinaan satuan muda praja, karena di IPDN Kampus Kalimantan Barat, untuk menciptakan hubungan senioritas yang kolegial serta melatih senior agar bertindak dewasa serta melatih untuk mengemban suatu tugas maka mereka yang tergabung dalam Kab. WWP IPDN Kampus Kalbar juga diikutsertakan oleh bagian pengasuhan dalam membina satuan muda praja, sebagai perpanjangan tangan dari pihak pengasuhan. Hal itu juga terjadi karena keterbatasan tenaga pengasuh di Bagian Administrasi Keprajaan IPDN Kampus Kalimantan Barat ini. Pihak pengasuhan telah meminta secara lisan kepada Bupati Praja untuk menginstruksikan bawahannya serta segala mitra kerjanya untuk ikut membina kehidupan satuan muda praja sesuai dengan tupkosi dan jabatan yang diemban oleh masing-masing satuan madya praja. Dan ternyata setelah kurang lebih tiga minggu berjalan, saya, selaku Sekretaris Daerah, dinilai telah menyalahi dan melewati tupoksi yang saya miliki sebagai seorang Sekretaris Daerah. Para kritikus itu menilai bahwa bukan-lah tupoksi seorang sekda untuk setiap hari membariskan satuan muda praja di depan menza ( ruang makan praja ), kemudian memberikan pengarahan, dan kegiatan lainnya di lapangan berkenaan dengan pembinaan muda praja, para kritikus itu berkata bahwa memang Sekda berada di urutan atas hierarki organisasi daerah, hanya berada di bawah Bupati Praja, Wakil Bupati Praja Kepala Polisi Praja, Komandan Batalyon dan Ketua DPPD tapi itu tidak menjadi sebuah pembenaran bagi saya untuk kemudian bisa berbuat seenaknya melewati tupoksi yang telah digariskan. 

Apa memangnya tupoksi saya sebagai seorang Sekda? Sesuai dengan Peraturan Rektor No. 08 tahun 2010 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Wahana Wyata Praja IPDN paragraf 3 Sekretariat Kabupaten WWP Kampus Daerah pasal 52 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa Sekretariat Daerah Kabupaten WWP merupakan unsur staf organisasi Kabupaten WWP Kampus Daerah dan Sekretariat daerah Kabupaten WWP mempunyai tugas membantu Bupati WWP dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan administrasi, organisasi dan tata laksana serta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh perangkat organisasi Kabupaten WWP Kampus Daerah. Pun dalam Perda Kab. WWP IPDN Kampus Kalbar No. 01 tahun 2011 disebutkan dalam pasal 3 dan pasal 4 bahwa Sekretariat Daerah merupakan unsur staf organisasi Kab. WWP IPDN Kampus Kalbar dan Sekretariat daerah mempunyai tugas membantu Bupati Praja WWP dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan administrasi, organisasi dan tata laksana serta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh organisasi Kab. WWP IPDN Kampus Kalbar. 
Dilihat dari sudut pandang manapun kritikan itu memang sangat benar dan sangat tepat sasaran, sangat memukul telak saya di muka! Dan seperti yang juga diatur dalam Peraturan Rektor No. 08 tahun 2010 diebutkan bahwa yang berwenang untuk mengatur kedisiplinan dan mempunyai tanggung jawab dalam urusan ketentraman dan ketertiban masyarakat praja adalah menjadi tupoksi dari satuan Polisi Praja dibantu dengan satuan Komando Batalyon dan di bawah koordinasi dengan Bupati Praja, yang dalam hal ini Bupati Praja melimpahkan sebagian wewenangnya dalam urusan pembinaan disiplin kepada satuan Komando ( Camat serta Lurah ). 

Tidak ada sama sekali itu semua menjadi urusan atau tupoksi dari seorang Sekda, sehingga sekali lagi harus sangat dengan jujur saya akui, bahwa kritikan itu sangat dan sangat benar! Orang yang harusnya sering memberikan pengarahan di muka umum pada umumnya dan di depan satuan muda pada khusunya adalah Polpra, Kombat dan Komando serta mereka juga-lah yang seharusnya membariskan setiap pergerakan atau barisan dari satuan muda serta madya praja, bukan malahan seorang Sekda! 

Lantas apa yang memotivasi saya untuk melakukan itu semua, yang sebenarnya sama sekali bukan tupoksi saya sebagai seorang sekda? Disini saya harus benar-benar meluruskan agar tidak terjadi suatu kesalahpahaman apalagi pemikiran bahwa saya menyalahgunakan kekuasaan yang saya milki bahkan sampai ada yang berpikir bahwa saya mengambil alih semua tugas yang ada dan mengerjakan itu semua sendiri, saya melakuakn tindakan itu, yang secara jelas memang melanggar dan menerobos tupoksi yang ada, tidak untuk menjadi seorang yang popular, tidak untuk menjadi eksis di depan junior atau segala alasan negatif nan bodoh lainnya, tapi itu semua saya lakukan karena sifat saya yang memang tidak bisa untuk tidak ikut campur, tidak bisa untuk tinggal diam dan cukup memberikan perintah atau sekedar berkoordinasi, saya selalu ingin mencampuri segala urusan dan mengikuti setiap kegiatan serta melaksanakan sendiri segala perintah dan koordinasi yang saya berikan, untuk memberikan contoh nyata, untuk memastikan bahwa semuanya mampu untuk berjalan seperti apa yang telah direncanakan. Tidak ada maksud untuk meremehkan kemampuan orang lain, tapi saya hanya ingin benar-benar memastikan. Saya miris dan kurang sreg, ketika saya mendengar suatu doktrin yang dari hari-ke harinya sama dan hanya berfokus pada koreksi, tidak pada motivasi. Saya tergugah ketika mendengar kata-kata doktrin itu dibalut sama setiap harinya, dan saya pun terperangah ketika melihat koreksi yang ada tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saya hanya terlalu “cerewet”. Itu alasan saya, tolong dimengerti dan dapat dimaklumi. 

Dan karena saya telah dikritik, dan kritikan itu menang benar adanya, dan karena saya bukan-lah orang yang alergi dengan kritikan dan karena saya sadar akan tupoksi yang saya emban dan karena terlebih saya sering menekankan pada doktrin yang saya sampaikan bahwa kita semua harus mampu memposisikan diri sesuai dengan tempat, situasi, kondisi serta doktrin yang ada, maka saya pun akan segera untuk berbenah dan kembali pada habitat asal, bekerja sesuai dengan tupoksi yang ada. 

Tidak ada perlawanan, tidak ada pembelaan. 
Saya tidak tersinggung, tapi hanya sedang tidak dalam kondisi raga yang “sehat” dan pikiran yang kacau karena permasalahan sebuah motivasi dan mungkin “cinta”, maka kritikan yang benar pun terasa sangat menyayat.. 
Terima Kasih.

0 komentar:

Posting Komentar