Minggu, 17 Juni 2012

Isra Mi'raj dan Tegaknya Khilafah

http://4.bp.blogspot.com/-km1KqToOX0M/T8bxIcasf_I/AAAAAAAAEGI/VwrtnOoHRbc/s1600/Isra-Miraj-Nabi-Besar-Muhammad-SAW.jpg

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi agamamu."
(QS. AL-MAIDAH, 5:3) 

“Orang-orang yang tidak berhukum menurut apa yang ditentukan Al-Qur’an, mereka adalah orang-orang kafir” 
(Q.S. Al-Maidah, 5:44) 

”Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegangan pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunahku (Hadits).” 
(H.R. Baihaqi) 

Baca juga : 

Pada hari ini, Sabtu, tanggal 16, bulan Juni, tahun 2012, dan di hari ini, di tanggal masehi tahun ini diperingati sebuah hari besar bagi umat Islam, sebuah moment besar pada zamannya dan bahkan masih yang terbesar yang pernah ada dan terjadi di dunia ini, menggetarkan jiwa serta menggoyahkan Iman setiap Muslim yang ada, kejadian yang benar-benar mampu untuk menyeleksi siapa saja orang-orang yang mempunyai keimanan yang kuat serta kokoh dan siapa saja yang hanya beriman untuk sesuatu hal yang bisa memuaskan otak serta nalar mereka semata, peristiwa itu adalah Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.  

Saya tidak akan memberikan komentar atau ikut terjun ke dalam pembahasan apakah memperingati Isra dan Mi’raj Rasulullah Saw. itu boleh atau tidak, apakah itu sesuai dengan hadits atau justru bid’ah? Oh, tidak sama sekali, walau jujur ingin sekali saya terlibat dalam pembahasan seperti itu tapi apa daya kemampuan serta pemahaman diri ini masih jauh dari cukup untuk bisa membahas itu semua dan saya sama sekali tidak ingin sedikitpun berbicara untuk sesuatu hal yang tidak saya pahami secara utuh! Tidak dalam sebuah tulisan atau pidato secara khusus. 

IPDN Kampus Kalimantan Barat melalui Kerohanian Islam ( Rohis ), sebuah Unit Kegiatan Praja/Ekskul, di bawah naungan Kantor Agama dan Kerohanian Kabupaten WWP IPDN Kalbar, tempat atau wadah bagi para praja muslim untuk berorganisasi sekaligus ikut serta berdakwah menyiarkan agama Allah dalam lingkup kampus khususnya dan umumnya kepada masyarakat secara luas, tidak mau untuk kehilangan momentum ini sehingga Rohis dalam hal ini Panitia Penyelenggara Peringatan Isra Mi’raj, menyelenggarakan acara peringatan peristiwa tersebut. 

Acara peringatan tersebut dibuka secara resmi pada hari Jumat, tanggal 15, bulan Juni, tahun 2012 dengan diadakannya beberapa perlombaan untuk adik-adik kami satuan Muda Praja, seperti lomba adzan, tilawatil Qur’an dan Pidato. Kemudian pada hari ini rangkaian kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sebuah Talkshow dengan tema “Islam sebagai Jalan Hakiki untuk Bangkit”. Puncak dari kegiatan ini adalah akan dilaksanakan pada malam hari, bada’ Isya, sekitar pukul 19.30 WIB, yang akan diselenggarakan sebuah acara seremonial peringatan Isra dan Mi’raj Rasulullah Saw. dengan acara utamanya adalah tausyiah dari salah satu Ustadz yang berasal dari Kota Pontianak, tausyiah itu sendiri nantinya akan membahas secara gamblang tema utama yang disusun oleh Panitia untuk menyelenggarakan peringatan Isra dan Mi’raj pada tahun ini, yaitu “Dengan Momentum Isra Mi’raj Kita Jadikan Sholat sebagai Sebuah Kebutuhan Bukan Sebuah Beban.” 

*** 

Itu semua merupakan sebuah prolog, sebuah prolog yang panjang untuk sebuah ide tulisan yang akan saya kemukakan pada tulisan ini bahkan mungkin prolog itu akan lebih panjang daripada penjabaran ide utama nantinya. Entahlah tapi sungguh bukan sebuah masalah, iya kan? :) 
Karena saya bukan termasuk ke dalam Panitia Penyelenggara Peringatan tersebut, saya pun bukan merupakan aktivis Rohis, dan saya pun bukan merupakan anggota dari Kantor Agama dan Kerohanian. Jadi sebenarnya saya tidak memilki kepentingan apapun dalam acara tersebut sehingga saya harus sampai hati meluangkan waktu menuliskan atau membuat sebuah berita tentang jalannya acara tersebut. Dua hal yang membuat saya terikat dengan acara tersebut adalah karena saya muslim dan karena saya adalah Sekretaris Daerah Kabupaten WWP IPDN Kalbar . Dua hal yang mendorong saya, atau bahasa lainnya bisa juga kita ganti dengan memaksa saya untuk terlibat dalam acara tersebut, tidak penuh secara fisik jasmaniah tapi lebih kepada terlibat secara moril dan psikis batiniah. 

Hal yang akan saya kemukakan di sini, dengan sebuah prolog yang panjang seperti itu adalah berkenaan dengan acara Talkshow yang telah dilaksanakan pada pagi hari tadi. Panitia telah jauh-jauh hari memberitahu saya bahwa awalnya acara yang akan diselenggarakan pada Sabtu pagi itu bukan-lah sebuah acara talkshow seperti tadi tapi sebuah acara bedah buku mengenai Sistem Pemerintahan Islam tapi belakangan beberapa hari sebelum hari-H panitia mengkonfirmasi kepada saya atau lebih tepatnya saya yang bertanya terlebih dahulu kepada mereka dan ternyata terjadi beberapa perubahan acara karena ada satu dan lain hal yang tidak bisa untuk Panitia abaikan dan salah satu perubahan itu adalah acara bedah buku yang sedianya akan diselenggarakan pada Sabtu pagi diganti dengan sebuah acara diskusi dalam sebuah format Talkshow dengan menghadirkan tiga narasumber yang dipandu oleh satu pembawa acara. 

Acara Talkshow itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, dengan narasumber yang berasal dari mantan pejuang/veteran dalam perang Seroja, Ustadz dari salah satu ormas Islam yang ada di Indonesia yaitu HTI ( Hizbut Tahrir Indonesia ) serta Koordinator/Ketua Rohis IPDN Kalimantan Barat sebagai perwakilan atau representasi dari pihak mahasiswa atau peserta didik. Pada acara tersebut dihadiri pula oleh Pejabat IPDN Kampus Kalimantan Barat yang dalam hal ini diwakili oleh Pembantu Direktur III, Bapak Frans Dieon serta Kepala Bagian Administrasi Keprajaan, Bapak Maris Gunawan Rukmana. 

Secara keseluruhan acara tersebut berlangsung menarik walau sedikit agak menjemukan ( pendapat saya pribadi ). Tapi bukan itu yang akan saya bahas disini akan tetapi apa yang ingin saya bahas, komentari atau mungkin kritisi adalah berkenaan dengan tema yang dibahas dalam acara Talkshow tersebut. Saya datang ke dalam acara tersebut dengan sebuah bayangan bahwa apa yang akan di bahas nantinya adalah berkenaan dengan diskusi tentang keimanan seorang Muslim kaitannya dengan peristiwa Isra dan Mi’raj atau hal-hal lain berkenaan dengan Isra dan Mi’raj, semisal seperti Sholat, dsb. Akan tetapi ternyata tema itu menjadi berkembang sangat dan bahkan terlalu luas menurut saya serta sepertinya menjadi agak melenceng dari peringatan yang sedang diperingati pada hari itu, ya, saya dan seluruh orang yang hadir dalam acara tersebut disuguhi sebuah tema yang “berat” dan menjadi agak “sensitif” untuk ukuran kami yang menyandang status sebagai seorang praja dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan karena apa yang kemudian dibahas dalam talkshow tersebut adalah berkenaan dengan kebangkitan sebuah bangsa serta Islam sebagai jalan untuk mampu bangkit dalam pengertian secara hakiki. 

Sebuah tema yang “berat”, yang sangat mengkritik habis pemerintahan, sangat memojokan pemerintahan Indonesia dan menyalahkan sistem yang kini digunakan serta mengajak untuk menggunakan sistem Pemerintahan Islam untuk diterapkan di Negara ini. Intinya adalah menyalahkan sistem yang ada dengan mengungkapkan sejuta kebrobrokan yang terjadi dan menjelaskan sebuah sistem yang mampu untuk membenahi itu semua atau dalam bahasa lainnya adalah mengajak kita dalam hal ini kami, Praja IPDN, kader-kader birokrat dengan sumpah dan janji setia pada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945, peserta didik yang nantinya akan terjun dalam sebuah sistem birokrasi, sistem yang sangat mengutamakan loyalitas, untuk “memberontak” ( maaf apabila saya salah dalam menggunakan istilah/kata ) sistem yang ada sekarang dan merubahnya dengan sistem pemerintahan Islam! Wow…  

Tidak ada yang salah dengan itu semua, saya muslim tapi saya akui saya belum menjadi muslim sepenuhnya tapi saya selalu berusaha untuk menjadi muslim yang kafah! Saya juga yakin dan sangat percaya bahwa tidak ada yang lebih mengetahui dan memahami manusia selain dari dzat yang menciptakannya, yaitu Allah Swt. Sehingga apa yang kita gunakan di dunia ini, aturan yang harus kita taati adalah segala aturan yang telah dibuat dan disusun oleh Allah Swt. serta Rasulullah Saw. Semua sistem yang ada di dunia, yang berasal dan hanya berlandaskan pada akal pikiran manusia semata pada hakikatnya merupakan sebuah sistem yang gagal, sistem kafir, tidak akan mampu membawa manusia pada sebuah “kebangkitan” hakiki, kalaupun kelak dan ada bangsa atau Negara yang mampu untuk sukses oleh sebuah sistem yang murni merupakan pemikiran otak manusia maka kesuksesan itu sungguh hanya bersifat fana dan tidak akan pernah mampu untuk bernilai ibadah. Saya yakin dan percaya itu! 

Jauh sebelum acara talkshow itu dimulai, jauh sebelum saya mengenal HTI, saya pun telah mempunyai pemikiran seperti itu, pemikiran bahwa hanya hukum serta sistem dari Allah yang harus kita laksanakan serta taati. Ya, saya beruntung dibesarkan dalam sebuah keluarga besar yang mempunyai pemikirang Islam yang terbuka serta “benar” juga “lurus”. 

Akan tetapi yang menjadi persoalannya sekarang adalah Negara Indonesia, Negara kita ini bukan-lah Negara Islam, bukan Negara yang berlandaskan pada hukum Islam walaupun 80% penduduknya merupakan muslim. Apa yang menjadi agenda utama HTI merupakan sesuatu hal yang sangat mulia, sungguh mulia karena akan menjadi sebuah dosa bagi umat Islam yang tidak berusaha untuk menegakan hukum Allah di dunia ini, bukankah manusia hanya diwajibkan untuk berusaha dan berdoa dalam kebaikan? Menegakan Khilafah dan kemudian dipimpin oleh seorang Khalifah merupakan sesuatu hal yang wajib untuk diusahakan dan nantinya dijalani oleh setiap muslim dan yang menjadi permasalahannya sekarang adalah dengan cara seperti apa kita harus berjuang menegakan itu semua? 

Saya sangat mengapresiasi apa yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh HTI dalam usahanya menegakan Khilafah, dari beberapa bacaan yang saya baca mengenai cara-cara yang yang ditempuh oleh HTI sungguh telah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah tapi pertanyaan besar bagi saya pribadi dan juga sangat mengganjal di hati adalah kenapa HTI harus “meloncat” dan memaksakan pemahaman tentang pembentukan suatu Khilafah beserta segala syariat Islamnya kepada masyarakat tanpa terlebih dahulu membenahi segala urusan agama, urusan umat yang lebih kecil tapi sungguh sangat berdampak besar. Saya mengatakan bahwa HTI seperti orang yang berusaha untuk berlari tanpa terlebih dahulu belajar untuk berjalan dengan baik dan benar, saya tidak mengatakan apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan itu salah tapi apa yang ingin saya sampaikan adalah apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan itu kurang tepat sasaran. 
Karena bukankah segala yang besar itu berawal dari segala hal yang kecil? Pohon mungkin kuat menghadang hujan badai tapi akan rubuh dengan gigitan rayap kecil secara terus menerus. 

Bila kita pikir secara logika sangat sederhana kenapa dengan jumlah muslim yang mencapai 80% jumlah penduduk Indonesia, Negara Indonesia tidak mampu untuk menerapkan syariat Islam? Jawaban yang paling mudah untuk ini semua adalah karena 80% umat Islam di Indonesia belum memliki sebuah pemikiran yang sama tentang apa itu Islam, mereka, kita masih terkotak-kotak, terpecah menjadi banyak kelompok dan perpecahan ke dalam beberapa kelompok itu menumbuh suburkan ego setiap kelompok yang ada, sehingga bukan kepentingan umat yang dipikirkan tapi menjadi hanya sempit untuk kepentingan kelompok mereka semata. Ayo-lah, liat kesekitar kita, kita ini masih terlalu sering beradu mulut karena ada satu orang yang menerapkan kunut dan ada yang tidak, kita masih terlalu sering untuk hampir beradu jotos karena di satu kampung ada yang mengadakan tahililan dan di kampung yang lainnya tidak. Kita ini masih sering berkata dengan sinisnya bahwa dia itu NU, si anu itu Muhamdiyah, dan bla bla bla lainnya. Bagaimana mungkin kita bisa untuk menegakan khilafah lantas memilih seorang khalifah apabila untuk urusan yang semacam itu kita pun masih belum bisa untuk mempunyai satu pemikiran. Apabila perbedaan itu sama-sama berlandaskan pada dasar hukum yang jelas serta shahih maka wajar-lah itu semua tapi apabila perbedaan itu sudah masuk dalam ranah shahih dan dhaif, masih kah kita harus mentolerir itu semua? 

Jadi apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah alangkah sangat baiknya apabila sebelum umat diberikan sebuah pemahaman tentang apa itu khilafah dan khalifah, para pemuka agama, alim ulama, ustadz, kiai, atau apapun namanya itu, yang merasa dirinya cendekiawan muslim serta memimpin sebuah kelompok Islam terlebih dahulu bersatu, berkumpul dalam satu tempat, berembuk, berdiskusi, menyatukan pandangan, visi serta misi tentang Islam, sehingga nantinya hanya akan ada satu kelompok Islam, satu suara, satu dakwah yang berjalan secara seiring, seirama, terencana, sistematis, berjenjang, bertingkat dan berkelanjutan sehingga umat mampu untuk juga menjadi satu, tidak lagi dibingungkan dengan perbedaan materi dakwah yang disampaikan, karena tergantung dari kelompok mana yang memberikan dakwah tersebut. Apabila hal itu sudah mampu untuk tercapai, umat telah mempunyai satu pemahaman yang sama juga benar maka dengan sendirinya umat, 80% penduduk Indonesia yang muslim ini, akan menuntut dan memperjuangkan tegaknya Negara Islam dengan syariat Islam didalamnya. 

Ya, hal itu adalah suatu kepastian! Walau perlu waktu serta kesabaran untuk itu semua. Karena bukankah apabila kita tidak bisa untuk melakukan semuanya maka jangan-lah bagi kita untuk meninggalkan semuanya?
Dan apabila setelah membaca ini anda menilai saya sebagai seorang muslim yang moderat maka sungguh saya tidak terlalu memperdulikannya karena memang saya tidak terlalu paham juga apa yang dimaksud dengan Islam Moderat. Yang saya tahu dan saya yakin adalah saya ini seorang Muslim TITIK!

Kamis, 07 Juni 2012

Situasi

Di ruangan itu kami berkumpul bersama, mencoba untuk menyamakan persepsi, menyeragamkan gerak serta langkah kaki.

Apa yang coba kami samakan, apa yang coba kami seragamkan adalah mengenai sebuah masalah, untuk menuntut sebuah kehidupan yang lebih jelas. Kemudian kami himpun dalam sebuah nama aspirasi untuk disampaikan dalam sebuah audiensi, bersama mereka, para pemimpin yang sangat kami hormati.

Dan ya, karena pada dasarnya kami ini sama, di didik secara sama, hidup pun secara sangat bersama-sama, terkukung dan terjebak dalam lingkungan yang juga sama sehingga masalah yang kami rasa pun sama, prinsipnya sama, berbeda hanya pada teknisnya saja dan cara masing-masing orang membahasakannya.

Masalah itu telah mampu kami samakan, lalu kami pun telah mampu untuk merumuskan tuntutan berdasarkan masalah yang telah kami rasakan. Sungguh pertemuan itu berjalan dengan sangat mengalir, berjalan dengan tidak membuang waktu, diawali dengan saling berbagi keluh kesah, lalu segala keluhan itu kami rumuskan menjadi beberapa masalah dan kami analisis untuk kami temukan tuntutan sebagai sebuah solusi dari segala masalah yang kami rasakan.

Masalah telah ada, tuntutan pun telah kami temukan, sepertinya pertemuan itu akan berakhir dengan sangat indah dan sesuai dengan apa yang diharapkan sampai akhirnya ada yang mencoba memberikan suatu gambaran lain, menyuntikan sudut pandang lain, yang sebenarnya sangat baik karena membuat semua yang hadir menjadi lebih berpikir secara utuh.

Orang-orang itu mencoba memberi sebuah bayangan lain tentang efek yang akan ditimbulkan nantinya bahwa akibat yang akan ditimbulkan tidak akan selalu berhasil baik, tapi juga pasti akan selalu ada kemungkinan untuk terjadi akibat yang buruk bahkan sangat buruk dan pertanyaan besarnya, apakah kita siap menerima akibat buruk itu? Tak perlu-lah kita tanyakan tentang kesiapan kita menerima akibat baik yang nantinya akan ditimbulkan karena memang itu-lah yang kita harapkan dari pertemuan ini, dari penyampaian aspirasi nanti kepada pimpinan.

Tapi ya, terima kasih kepada mereka yang telah memberikan sebuah pemikiran lain, memberikan sebuah sudut pandang lain sehingga kita pun akhirnya bisa untuk berpikir kembali, merenungkan lagi segala konsekuensi yang ada nanti.

Terlepas dari itu, secara kasat mata, saya melihat ada ketakutan, ada keberanian, ada emosi, ada kelembutan, ada yang kontra, ada pula yang pro dan saya memilih diam, tak peduli seberapapun argumentasi yang ada berkali-kali menyerang prinsip ini dan walaupun hasrat ingin teriak memuntahkan kata mempropaganda, melakukan hasutan untuk menggalang kekuatan tapi saya tidak mau, saya tak mau memaksa. Biar-lah mereka merenungi sendiri dan mempunyai inisiatif pribadi untuk melakukan gerak secara natural, alami.
Saya tidak mau melibatkan mereka kedalam emosi saya pribadi, bila memang mereka tidak merasakan emosi itu secara sendiri. Saya tidak mau mengajak mereka bersama-sama mempunyai masalah apabila mereka memang sebenarnya tidak mempunyai masalah dan saya pun tidak mau memaksa mereka menerima segala konsekuensi yang ada apabila memang mereka tidak atau belum siap menerima konsekuensi itu. Saya tidak ingin mereka menjadi idealis apabila keinginan serta hasrat mereka untuk menjadi pragmatis masih kuat, saya tidak menyalahkan mereka untuk selalu bersikap dan bermain aman karena saya pun sering untuk bersikap seperti itu.

Jadi, untuk permasalahan ini, karena situasi dan kondisi yang ada di sini, saya tidak bisa untuk menghasut dan mengajak mereka bersama-sama merasakan apa yang saya rasa, situasi dan kondisinya sangat tidak sesuai. Biar saja saya sendiri atau bersama mereka yang memang mempunyai rasa yang sama tapi atas pemikiran sendiri, tidak terhasut dan tidak juga diajak, untuk melawan denga cara-cara yang saya pikir elegan.
SEKIAN.  

Rabu, 06 Juni 2012

NO WAMEN NO CRY

http://www.balipost.co.id/admin/foto_berita/1GUGATAN.png

PUTUSAN MK NOMOR 79/PUU-IX/2011
Pemohon : Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (GN-PK)
Pokok Perkara : Pengujian UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara [Pasal 10]


Baca : Reshuffle KIB jilid Dua

Jabatan wakil menteri (wamen) akhirnya status quo
SUMBER

JAKARTA– Jabatan wakil menteri (wamen) akhirnya status quo. Walau masih dipertahankan hingga Presiden secara resmi memberhentikan, wamen tidak boleh melakukan tindakan apa pun atas nama jabatan tersebut.

Posisi jabatan wamen yang demikian merupakan implikasi dari putusan uji materi Pasal 10 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Kemarin,Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian tuntutan uji materi yang diajukan Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GN PK) Pusat Adi Warman dan sekretarisnya TB Imamudin.

“Kalau dia (wamen) bersumber dari aturan yang sudah dinyatakan inkonstitusional itu, sampai ada perbaikan,jabatannya kosong.Ya status quo,” ujar Juru Bicara MK Akil Mochar kepada wartawan seusai sidang kemarin. Menurut Akil, sumber kekacauan jabatan ini adalah penjelasan norma Pasal 10 UU No 39/2008 yang menyatakan wamen adalah jabatan karier dan bukan anggota kabinet. Norma ini telah melampaui berbagai aturan yang ada seperti tidak berdasarkan usulan pengisian jabatan,status struktural atau fungsional,dan akhir masa jabatan sehingga kemudian muncul ketidakpastian hukum.

Namun interpretasi berbeda terhadap putusan ini muncul dari Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana. Menurutnya, putusan MK justru menegaskan bahwa Pasal 10 UU Kementerian Negara tidak bertentangan dengan UUD 1945. “Dengan demikian, putusan MK memperkuat konstitusionalitas wamen dan hak presiden untuk mengangkat wamen dari unsur apa pun tanpa terikat persyaratan harus PNS atau golongan karier tertentu,” ujarnya.

Putusan itu, lanjut guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut,membuat mandat wamen semakin jelas, yaitu membantu menteri dan presiden di kementerian masing-masing.Dalam putusannya, majelis hakim konstitusi mengabulkan sebagian permohonan uji materi Pasal 10 UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Penjelasan pasal tersebut dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.“Mengabulkan permohonan pemohon untuk sebagian. Penjelasan Pasal 10 UU 39 Tahun 2008 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,” ujar Ketua MK Mahfud MD saat membacakan amar putusan.

Majelis berpendapat, jabatan wamen merupakan hak dan kewenangan presiden sehingga dari sudut substansi tidak ada persoalan konstitusionalitas. Namun di sisi lain,MK berpandangan bahwa jabatan wamen seperti dalam penjelasan Pasal 10,yaitu bukan sebagai pejabat karier dan bukan merupakan anggotakabinet,memunculkan setidaknya enam masalah legalitas. Di antaranya eksesivitas atau tidak sejalan dengan tujuan awal penyusunan undangundang, yaitu latar belakang dan filosofinya. Pembentukan wamen juga tidak disertai dengan job analysis (analisis jabatan) dan job specification (spesifikasi jabatan).

Kemudian, sebagai jabatan karier,wamen tidak mempunyai kejelasan apakah jabatan struktural atau fungsional. Jika memang jabatan karier, wamen juga tidak diangkat seperti selayaknya pejabat karier, yaitu melalui penilaian tim penilai akhir yang diketuai wakil presiden. MK juga menilai adanya politisasi dalam pengangkatan wamen.Ada dua kali perubahan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi Kementerian Negara menjelang pengangkatan wamen bulan Oktober 2011.Ini adalah upaya menjustifikasi orang yang tidak memenuhi syarat agar bisa diangkat.

“Penjelasan (Pasal 10) tersebut justru menimbulkan ketidakpastian hukum yang adil, membelenggu kewenangan eksklusif presiden dalam mengangkat dan memberhentikan menteri/wakil menteri berdasarkan UIUD 1945 sehingga penjelasan pasal tersebut harus dinyatakan inkonstitusional,” ujar hakim konstitusi Ahmad Sodiki saat membacakan pertimbangan majelis. Karena itu keberadaan wamen yang diangkat berdasarkan Pasal 10 UU No 39/2008 dan penjelasannya harus disesuaikan dengan kewenangan eksklusif presiden dan keputusan ini.

MK mewajibkan semua keppres pengangkatan wamen perlu diperbaharui agar menjadi produk yang sesuai dengan kewenangan eksklusif presiden dan mengandung kepastian hukum. Guru besar hukum tata negara Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra mengatakan, jika Presiden akan mengangkat mereka kembali,maka harus dikeluarkan keppres baru yang sesuai dengan isi putusanMK.”Keppresituharus menegaskan bahwa wakil menteri adalah anggota kabinet dan bukan pejabat karier,”ujarnya.

Sementara itu, anggota Majelis Nasional Partai (MNP) Partai NasDem Jeffrie Geovani menilai dikabulkannya sebagian gugatan jabatan wamen oleh MK menunjukkan bahwa manajemen pemerintahan tidak berjalan secara baik. ”Untuk kesekian kalinya, pemerintahan SBY dipermalukan, ini menunjukkan manajemen pemerintahan yang tidak berkualitas,” kata Jeffrie saat dihubungi SINDOtadi malam. Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengatakan, Presiden SBY akan segera menerbitkan keppres sebagai pengganti Pasal 10 tersebut. Selama dalam proses penerbitan keppres itu, para wamen harus tetap bekerja seperti biasa.

“Demisioner tidak ada,mereka tetap bekerja seperti biasa. Nanti ada keppresnya nanti ya, nanti disiapkan sesuai keputusan MK tadi,”tandasnya. Alumnus Universitas Indonesia itu menilai, keputusan MK tersebut merupakan hasil akhir yang baik. Pihak Sekretariat Kabinet pun selama ini telah menyiapkan berbagai antisipasi terhadap keputusan MK tersebut.

● mnlatief/ nurul adriyana/ andi setiawan/rarasati syarief 

Posisi Wakil Menteri yang kini, di dalam masa kepemimpinan Presiden SBY kembali dipopulerkan dan bahkan menjadi sangat populer melebihi Menteri itu sendiri karena banyak kalangan, entah itu ahli atau orang yang di luar lingkungan akademisi, menilai hal itu merupakan sebuah pemborosan, pemborosan dalam hal anggaran dan juga pemborosan dalam hal kerja juga birokrasi. Tapi saya pribadi tidak melihat hal itu dalam sudut pandang seperti itu, saya bukan orang yang bisa dengan mudah memperbandingkan sebuah dana untuk satu hal dengan satu hal lainnya, dalam artian saya tidak terlalu setuju apabila ada orang yang mengkritisi bahwa ketika ada anggaran sebesar satu miiliar misalnya untuk belanja pegawai kemudian orang itu menyebutkan bahwa itu merupakan sebuah pemborosan, tidak adil, tidak manusiawi, karena masih banyak orang miskin yang apabila uang satu miliar itu diberikan kepada orang miskin akan menjadi jauh lebih bermanfaat.

Betul orang miskin itu memang banyak dan betul juga apabila uang sebesar itu diberikan kepada orang miskin akan menjadi lebih bermanfaat. Tapi yang harus kita pahami adalah segala sesuatu itu ada porsinya, ada bagiannya, kehidupan itu tidak bisa kita nilai dari satu sisi, tapi banyak aspek dan banyak unsur serta komponen yang semuanya harus berjalan seiring dan bersamaan karena semua unsur itu saling mempengaruhi satu sama lainnya. Jadi, jangan kita berpikiran radikal dan sempit seperti itu karena bagaimana mungkin kemiskinan bisa untuk dihilangkan tanpa berjalannya suatu pemerintahan? dan pemerintahan itu tidak akan mungkin bisa berjalan tanpa adanya orang yang bekerja di dalamnya. Saya akan lebih setuju ketika mereka yang mengkritisi itu lebih mengedepankan sebuah solusi dalam sebentuk tindakan penghematan, sehingga mereka membuat data secara lebih rinci dan mengemukakan serta menjelaskan pos-pos mana yang bisa untuk lebih dihemat sehingga anggaran untuk satu bagian bisa sangat minimal dan kemudian kelebihan anggaran itu bisa dibagi rata kembali untuk bagian yang lainnya, itu jauh lebih elegan, itu merupakan kritikan yang jauh lebih konstruktif.

Kembali kepada permasalahan Wakil Menteri dalam sebuah Kementerian, saya pun tidak ingin melihatnya dalam sudut pandang anggaran karena saya tidak ingin nantinya terjebak dalam sebuah perdebatan ekonomi yang saya pribadi tidak terlalu menguasainya. Wakil Menteri itu ada karena memang dalam UU. No. 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara, hal itu dimungkinkan untuk dilakukan. Dari sudut pandang yang lain pun, secara sistem pemeritahan Presidensil juga yang tertuang dalam konstitusi kita yaitu UUD 1945, pembentukan sebuah kementerian atau penunjukan Menteri sebagai pembantu Presiden merupakan sebuah hak Preogratif seorang Presiden sehingga tidak satu orang atau lembaga pun yang bisa mengintervensi hak yang dimilki oleh seorang Kepala Negara juga Kepala Pemerintahan yang ada di Indonesia bahkan di seluruh negara yang menggunakan sistem pemerimtahan Presidensil. Adapun dibentuknya UU tentang Kementerian Negara itu bukan diperuntukan untuk membatasi hak Presiden itu tapi lebih merupakan sebuah pengaturan agar dalam melaksanakan wewenangnya dalam memilih dan membentuk Kementerian, Presiden tidak melakukannya secara sewenang-wenang yang nantinya akan menimbulkan ketidakstabilan politik di Indonesia.

Lalu ketika ada orang yang kemudian mempertanyakan bahwa dalam UUD 1945 tidak disebutkan bahwa Presiden berhak untuk memilih Wakil Menteri, hal itu sungguh tidak berdasar karena logika yang lain yang bisa saya kemukakan adalah dalam UUD 1945 pun tidak pernah menyebutkan adanya Wakil Kepala Daerah, tapi dalam UU No. 32 tahun 2004 hal itu kemudian diatur lebih lanjut sehingga begitu halnya dengan Wakil Menteri. Memang tidak disebutkan dalam UUD 1945 tapi kemudian pengaturannya disebutkan atau diatur lebih lanjut dalam UU No. 39 tahun 2008. Saya pribadi lebih senang menomentari permasalahan Wakil Menteri (Wamen) itu dari sudut pandang syarat pengisian posisi tersebut, berdasarkan penjelasan yang terdapat dalam UU No. 39 tahun 2008, bahwa posisi Wamen tersebut diisi oleh pejabat karir atau dalam bahasa lain biasa kita kenal dengan PNS. Pada awalnya posisi Wamen yang diisi oleh PNS tersebut harus merupakan PNS yang sudah memilki esselon Ia sesuai dengan  Perpres No 47 tahun 2009, akan tetapi kemudian ketentuan itu dihapus dalam Perpres No. 76 tahun 2011 tentang Perubahan atas Perpres No. 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, sehingga untuk posisi Wamen hanya tinggal disyaratkan diambil dari posisi PNS dan tidak lagi harus mereka yang telah memikiki esselon Ia tapi kemudian menjadi agak aneh ketika PNS yang diangkat menjadi Wamen tersebut walaupun belum mencapai esselon Ia tetap mendapatkan fasilitas setingkat dengan para pejabat esselon Ia. Semenjak saat itu-lah saya mulai merasakan suatu keanehan dalam sistem birokrasi kita, saya melihat hal itu justru membuka sangat lebar celah bagi para pemimpin negara ini untuk mempolitisasi birokrasi yang dalam hal ini para PNS karena apabila syarat itu hanya tinggal menyisakan PNS semata tanpa ada embel-embel lainnya maka unsur kedekatan dengan para pimpinan akan semakin kuat terasa dibandingkan dengan unsur kinerja.
Dan kemudian saya pun semakin bertambah aneh karena ternyata bab penjelasan dalam suatu UU atau peraturan lainnya tidak boleh menciptakan suatu aturan baru atau dalam bahasa hukumnya, suatu norma baru, suatu bab penjelasan hanya boleh bersifat menjelaskan, tidak lebih dan tidak juga kurang, sedangkan apa yang ada dalam bab penjelasan dalam UU No. 39 tahun 2008 itu sungguh telah menciptakan sebuah norma baru, yang mengharuskan Wamen diisi oleh Pejabat Karir.

Atas dua pemikiran itu saya pun menjadi ikut mempertanyakan kehadiran serta penujukan Wamen oleh Presiden SBY, apalagi setelah saya membaca amar putusan MK yang baru-baru ini dikeluarkan dan mengabulkan sebagian tuntutan dari pemohon yaitu menghapuskan pasal penjelasan tentang penagkatan Wamen tersebut. Saya semakin mantap berpendapat bahwa penunjukan Wamen dari Pejabat Karir merupakan sesuatu hal yang inkonstitusional sehingga saya dalam hal ini sangat setuju dengan apa yang telah diputuskan oleh MK.

Pemerintah tentu saja juga harus menghormati keputusan ini sehingga Presiden SBY harus cepat merevisi atau bahkan mengganti Keppres yang telah beliau keluarkan berkenaan dengan pembentukan Kementerian Negara karena Keppres yang lalu masih berlandaskan pada UU. No. 39 tahun 2008 yang masih terdapat pasal penjelasan itu sedangkan sekarang setelah dikeluarkannya amar putusan oleh MK maka UU. No. 39 tahun 2008 yang berlaku adalah UU. No. 39 tahun 2008 tanpa menggunakan pasal penejalasan pada pasal 10 sehingga posisi Wamen bebas untuk diisi oleh siapapun dan juga merupakan bagian dari anggota kabinet, menjadi sebuah posisi politis juga. Adapun Wamen yang ada sekarang, semuanya yang merupakan Pejabat Karir tentu tidak bisa serta merta begitu saja tetap dipertahankan karena tentu ada implikasi terhadap posisi mereka sebagai seorang PNS, pun SK pengangkatan mereka masih berlandaskan pada perturan yang telah tidak lagi berlaku sekarang sehinga mereka jelas inkonstitusional.

Selasa, 05 Juni 2012

Bendera Putih itu Mulai Terlihat

Di saat saya mulai memainkan jemari di atas keyboard laptop hitam ini, waktu menunjukan tepat pukul 00.11 WIB, setidaknya itu adalah waktu yang tertera jelas di atas layar hape nokia yang saya miliki. Sehingga menurut peraturan kalender masehi, maka di saat saya menulis ini, saya berada di waktu peralihan, di tengah malam atau bahkan di pagi hari di hari Selasa, tanggal 5, bulan Juni, tahun 2012.

Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat bagi saya untuk tidur sangat larut, tidak tepat karena sebenarnya saya di hari ini harus menjalani Ujian Akhir Pelatihan, yang seharusnya saya tidur cukup untuk nantinya mampu memliki energi yang juga cukup untuk berpikir tenang menjawab segala pertanyaan yang ada bukan justru nanti saya sibuk menahan kantuk dan tidak memiliki sedikit pun waktu memikirkan jawaban yang tepat dari segala soal yang diujikan.
Tapi apa daya, walau lelah mata ini ingin terpejam tapi otak seperti meonolak. Otak masih saja terus memikirkan segala masalah yang ada dan datang menerpa kehidupan, sebuah masalah yang sebenarnya tidak datang tapi justru saya cari dan undang sendiri untuk menghampiri kehidupan ini dan tanpa saya sangka justru saya tak mampu untuk mengatasinya serta lebih dari apa yang saya bayangkan, masalah ini justru membuat saya terhanyut pada sebuah arus yang tak tentu kemana akan mengarah.

Tak tau harus kepada siapa mengadu, maka saya putuskan untuk berkeluh kesah dalam sebuah status. Ya, status dalam sebuah situs jejaring sosial terbesar di dunia yaitu Facebook. Kenapa? karena saya sendiri, tak ada yang mampu untuk mengerti secara utuh apa yang saya pikirkan dan lagian siapa kuga yang mau untuk dibangunkan di tengah malam seperti ini? bilapun ada yang mau, belum tentu pula dia mampu untuk bepikir sama seperti apa yang saya rasa, besar kemungkinan orang itu hanya sekedar meg-iya-kan, cukup mendenagar, tidak memahami tidak juga untuk menyayangi. ah, betapa malangnya nasib ini!
Sehingga saya putuskan untuk mencurahkan segala apa yang saya pikirkan dalam kata-kata yang terangkai menjadi sebuah status, karena toh sama-sama tak akan mendapatkan feedback yang berarti, sama-sama akan diacuhkan orang, jad tidak juga menjadi keuntungan ataupun kerugian bagi saya, justru hal itu lebih baik daripada saya sekedar melamun, atau bahkan melakukan aktifitas yang bersifat destruktif, bukankah dengan menuliskannya dalam kata-kata justru akan semakin meningkatkan kemampuan saya dalam menulis?

jadi saya awali keluh kesah saya itu dengan sebuah status seperti ini :
"dan sekarang jiwaku menjerit-jerit mencari seorang untuk tempat mengadu, lelaki atau wanita tak masalah bagiku. asal mereka mau mengerti dan mendengar tidak sekedar mengangguk setuju, mencoba menghibur hati yang sendu. tapi sudah menjadi sifat alamiku, sifat natural seorang lelaki di saat pilu untuk menoleh kepada seorang wanita guna mencari ketenangan itu. Karena bukankah wanita itu berhati lembut juga penuh kasih sayang penuh kehangatan sangat syahdu?"


kemudian setelah itu mulai-lah saya mengeluarkan segala masalah itu :
"ah, saya tidak pernah ingin menjadi seperti ini, tidak, tidak seperti ini ... tidak pernah ingin saya dikenal sebagai seorang yang "memberontak", seseorang yang tidak mempunyai loyalitas, tidak, saya tidak seperti itu, dan tidak ingin seperti itu. saya hanya memperjuangkan apa yang memang sepantasnya saya untuk perjuangkan, tapi kenapa selalu nampak salah? dan bahkan selalu salah? kenapa?"


"selalu mengatasnamakan "mereka", tapi sebenarnya saya hanya berjuang untuk sendiri, keyakinan sendiri, prinsip sendiri, ke-idealisme-an sendiri, emosi sendiri bahkan kepentingan sendiri yang justru celakanya memberikan efek negatif utk "mereka" yang tidak tau apa-apa, tidak sedikit pun mempunyai kepentingan tapi harus rela namanya saya catut utk membenarkan apa yang menjadi prinsip saya itu. ayo lah adima, kau ini berjuang utk apa?utk siapa? hidupmu disini sudah lebih dari cukup, tak cukupkah bagimu utk diam dan tak banyak berkomentar, sok-sok menjadi seorang yang kritis tapi berakibat bodoh? coba kau lihat, kini apa yang kau dapat? nama mu tercemar, kau jadi seorang pesakitan, kau di labeli seorang tak punya loyalitas, sok menunjukan intelektualitas, kau hancur hanya utk memperjuangkan apa yang kau anggap benar!"


"cukup lah dima, cukup kau jadi peserta didik yang baik, yang tak banyak cakap, tak banyak juga mengerutkan dahi mencoba mengkritisi segala yang ada, cukup dan cukup lah seperti itu. hentikan segera ocehan mu, hentikan secepat mungkin. cukup jalani seperti apa yang dituliskan aturan dan diperintahkan oleh atasan. cukup, mudah kan? kau akan hidup tenang dan beban dalam pikiran mu akan menghilang. kau pun akan dicintai dan dikenal sebagai seorang yang "penurut", iya kan dima?"


ada apa? yang jelas ada sebuah permasalahan, cukup besar untuk ukuran seorang saya, berpengaruh jelas pada kehidupan sekarang juga nanti di masa depan, kalina yang mungkin masih belum mengerti, bisa untuk mencoba mengerti dengan membaca tulisan saya sebelum ini, yaitu Berteriak Lantang!.
Kalian yang tidak berada di lingkungan yang sama dengan saya mungkin tidak akan bisa untuk menangkap sepenuhnya apa yang menjadi pokok masalahnya, itu wajar. Tapi bagi mereka yang ada dalam lingkaran yang sama dengan saya mungkin sedikit banyaknya bisa untuk memahami. Tapi, sudah-lah, intinya saya mencoba untuk berpikir secara sangat tenang, saya ini bukan pejuang yang hidup di zaman penjajahan, bukan juga orator handal yang bisa mengguncangkan jiwa para pendengarnya, saya hanya seorang Adima Insan Akbar Noors, yang terlahir, tidak, tidak, tapi saya dikutuk untuk selalu bermulut besar tak bisa untuk diam. Dan ini-lah yang harus saya dapatkan.

Saya sebenarnya tidak bermaksud untuk melawan atasan, saya hanya mempertanyakan sebuah alasan. Meminta sebongkah keterangan, tidak untuk berbuat hal yang tidak sopan, apalagi sok menantang pimpinan. Tidak lebih dan tidak kurang saya hanya meminta penjelasan. Tapi kenapa harus selalu ditanggapi lain?ditanggapi dengan sudut pandang yang beraneka ragam sehingga jadi salah-lah yang saya lakukan.

Bila dipikir secara baik dan apabila boleh mengutip kata-kata Pak Karno, saya memang seseorang yang lemah lembut tapi juga rewel;terkadang keras bagai baja tapi di lain waktu juga bisa menjadi puitis penuh perasaan. Saya perpaduan antara pikiran dan emosi. Dan seperti yang sahabat saya katakan, saya terkadang tidak bisa membedakan mana itu buah pikiran dan suasana hati. Orang lain juga mengatakan saya ini meledak-ledak, terlalu reaktif. Dan semua itu benar dan ini-lah faktanya.

Minggu, 03 Juni 2012

Berteriak Lantang!


Hal tersulit dari membuat atau mengerjakan sesuatu hal di dunia ini adalah memulai itu semua, mengambil langkah awal untuk memulai mengerjakan sesuatu hal itu. Ya, itu merupakan bagian atau tahapan yang sangat menentukan dan terkadang juga menjemukan. Kenapa menentukan? karena apabila kita mampu untuk memulai hal itu dengan suatu permulaan yang baik dengan sikap nyata yang juga sangat baik maka apa yang kemudian akan terjadi akan sangat mengalir dengan mudahnya, mengikuti secara sangat alamiah, natural tak perlu kita rekayasa. Lalu kenapa menjemukan? karena walaupun hal itu adalah hal rutin, hal yang menjadi kebiasaan untuk kita lakukan, tapi kita selalu saja tertahan di awal, terhadang oleh sejuta perdebatan dan seribu pemikiran tanpa bisa untuk kita konversi menjadi sebuah aksi, kita tak tahu bagaimana untuk memulai itu semua sehingga kita pun tak bisa untuk mengimplementasikan apa yang telah kita pahami dalam otak dan resapi dalam hati.

Contoh nyata dan sering saya alami dalam kehidupan ini, berkaitan dengan masalah yang telah saya sebutkan di awal tulisan adalah ketika saya akan membuat sebuah tulisan, entah itu tulisan ilmiah sebagai sebuah tugas ataupun tulisan bebas tak terarah tempat saya berkeluh kesah menumpahkan segala resah dan juga amarah untuk kemudian saya bagikan kepada seluruh orang di dunia dalam sebuah dunia maya tapi berisi hal yang nyata kita beri nama blog. Ide itu sebenarnya telah ada dalam otak, hasrat itu juga telah memenuhi sesak dalam hati di dada, tapi sering kali semua itu tak mampu saya susun secara baik atau tuliskan secara rapi dalam sebuah tulisan karena harus terhadang dengan paragraf awal, kata pembuka yang ada di depan, untuk kemudian saya mampu menyusun kalimat-kalimat selanjutnya. Semua itu sungguh sangat ditentukan dengan apa yang ada di muka, yang berada di depan, sehebat apapun ide yang saya punya, tak akan pernah mampu untuk saya kemukakan apabila saya tak mampu untuk menyusun paragraf awal dengan baik. Terkadang ide awal yang ada dalam otak harus rela saya rubah atau harus rela saya kikis sedikit karena berkenaan dengan paragaraf awal yang saya buat. Logikanya bagaimana caranya bagi kita untuk bisa masuk ke dalam sebuah rumah indah nan megah apabila kita tidak bisa untuk membuka terlebih dahulu pintu rumah tersebut?


Dan masalah ini pun yang sekarang saya alami, ide itu telah ada, unek-unek itu telah sangat menganggu! perlu untuk segera saya muntahkan!
sembari saya memikirkan dan menysusun secara sistematis tentang apa yang akan saya tuliskan, berkenaan dengan permasalahan yang sedang saya hadapi, maka anda akan jauh lebih baik apabila membaca terlebih dahulu tulisan saya yang dulu, yaitu : Merubah Paradigma dan juga salah satu tulisan yang ada di blog salah satu sahabat saya, Ridho Winar Lagan ( @ridholagan ), materialist, moralist, normalist!

                                ***

Setelah saya merasa cukup untuk berkaca, melihat diri secara sangat utuh, melalui sudut pandang yang memang masih tetap satu, yaitu saya pribadi, saya rasa-rasa dan saya pikir-pikir saya ini adalah seseorang yang termasuk ke dalam kelompok orang yang moralist. Tidak, saya tidak bermaksud untuk menjadi egois atau bahkan menjadi seseorang yang berlebihan rasa percaya dirinya, tapi setidaknya dan sejauh yang saya yakini saya adalah orang yang moralist, hingga detik ini, hingga saat saya menuliskan kata-kata ini.
Saya selalu merasa tidak nyaman berada di lingkungan yang tidak rapi, tidak bersih dan segala sesuatunya tidak tersusun secara baik, saya termasuk orang yang percaya bahwa segala sesuatu itu perlu untuk kita atur dan memang cenderung untuk selalu berada dalam sebuah pengaturan. Saya tidak pernah mempertanyakan sebuah aturan, sedikit sekali saya mengeluh terhadap sebuah perintah yang ada, apabila memang harus berbuat A maka ya, saya akan melakukan A. Tak ada resistensi apabila memang dalam aturan menghendaki demikian. Saya hanya akan bertanya, mengerutkan dahi dan berteriak lantang apabila ada realita tidak berjalan sebagaimana yang telah ditetapkan aturan, sebuah praktek tidak seindah atau sesuai dengan teori yang diajarkan, ketika seorang pemimpin memberikan arahan A tapi kemudian semenit yang akan datang berubah menjadi B, ketika hal-hal yang kotor, keji juga berbau busuk didiamkan dengan penuh acuh dan dianggap sebagai sebuah kewajaran dalam dinamika kehidupan maka di saat itu-lah saya akan berontak, mencoba bergerak walaupun hanya sedikit dan lemah, tapi sungguh saya selalu dan tidak akan pernah nyaman dengan segala kedaan negatif seperti itu, dengan segala kedaaan yang penuh dengan kebathilan, penuh dengan efek mudharat yang jelas atau bahkan samar terjadi. Dan hal itu sungguh tidak pernah saya rekayasa untuk saya rasakan, tapi itu semua ada dengan sendirinya, secara reflek keluar dengan sendirinya, keluar sebagai sebuah respon diri ini terhadap lingkungan yang saya hidupi. Dan selama saya masih merasakan hal itu saya pikir saya adalah seseorang yang moralist. Saya tidak menganggap moralist itu adalah sebuah pemikiran yang paling sempurna, saya hanya menyebutkan bahwa moralist adalah salah satu prinsip hidup yang saya yakini.

Kehidupan saya sebagai seorang praja, sebagai seorang peserta didik dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan kepamongprajaan, sekolah yang memang saya idamkan karena dengan saya bersekolah di sini saya akan mampu untuk mewujudkan mimpi saya menjadi seorang birokrat, seorang Pegawai Negeri Sipil, sebuah pekerjaan dan jalan hidup yang saya cita-citakan, terpengaruh jelas oleh orang tua, terutama Bapak, terlecut oleh segala "ketidakdilan" yang telah beliau dapatkan sebagai sebuah balasan dari sebuah pengabdian beliau debagai seorang PNS, dan di sisi lain diri ini pun sangat juga terpecut oleh suksesnya seorang Paman dalam dunia yang sama. Bapak dan Paman, dua orang yang menjadi "tersangka" utama kenapa saya akhirnya memutuskan dan memantapkan tekad untuk menjadi seorang PNS, bila boleh saya mengemukakan sebuah pernyataan idealis maka saya katakan saya sangat sadar bahwa pekerjaan ini tidak akan mampu untuk memberikan saya kekayaan secata materi tapi saya memang hanya ingin mencari sebuah nama baik, dipuja dan dipuji banyak orang hingga nantinya mampu untuk dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin, ya, saya haus dan gila akan sebuah nama baik ( red : kehormatan )!
dan di dunia ini, di lingkungan pendidikan ini, ada tiga hal yang semakin mengukuhkan diri ini untuk terus mengembangkan sebagai seorang yang moralist atau mungkin lebih tepatnya adalah menemukan diri ini sebagai seseorang yang moralist, yaitu agama, aturan dunia dan sesosok pengasuh bernama Pak Samsu. Ketiga hal itu datang di saat tepat sehingga saya mampu untu menemukan jati diri secara tepat pula. Agama benar-benar saya yakini, aturan menjaga saya dan pengasuh mampu untuk membimbing serta menuntun saya, lalu kenapa saya menyebutkan satu nama itu? karena hanya beliau, hanya Pak Samsu, sosok pengasuh yang benar-benar mampu membuat saya mengerti hakikat saya sebagi seorang praja dan nantinya sebagai seorang PNS, segala filosofi kenapa saya harus diikat oleh berbagai macam aturan yang secara nalar otak kiri sangat tidak masuk akal. Beliau mampu untuk mendemonstrasikan secar sangat baik antar penanaman nilai ( doktrin ), pengawasan dan kemudiaan pemberian sanksi juga prestasi. Tidak ada diskriminsi, semua dijalankan benar dan tepat sesuai dengan kadar dan porsi yang telah ditetapkan, hingga saya pun mampu untuk paham secara utuh segala sesuatunya.
( oh iya, dalam tuisan saya Merubah Paradigma, ada satu hal yang belum saya tuliskan yang sebenarnya memegang peranan penting setelah kita mampu untuk menanamkan nilai-nilai dasar kepada seseorang yaitu tahapan pengawasan dan pemberian reward serta punishment secara adil dan proporsional )

                                 ***

Dan saat ini, saya sedang menjalani sebuah hukuman. Saya, seorang yang moralist, juga diberi sebuah kepercayaan untuk menempati sebuah jabatan dalam organisasi keprajaan, sebuah posisi strategis, yang mau tidak mau menutut saya untuk selalu bersikap sempurna tanpa cela, terlebih dengan kondisi sekarang dengan adanya adik-adik kami, junior kami yang berada satu tingkat di bawah kami. Saya, seseorang yang selalu dengan sombongnya berkata dan memasukan nilai-nilai kehidupan yang baik serta sempurna, justru sekarang menjadi seorang pesakitan.
Hal terberat dalam menjalani masa hukuman ini adalah beban psikologis yang harus saya pegang, dengan adanya social control secara langsung maupun tidak, dari satuan muda praja, adik-adik saya, junior saya, maka hukuman ini sungguh sangat terasa berat, terasa sangat begitu lama. Mungkin sebenarnya hanya sedikit saja orang, rekan-rekan saya, adik-adik saya yang mempermasalahkan atau bahkan sekedar memikirkan masalah ini atau mungkin mereka memikirkannya tapi kemudian menganggap biasa masalah ini, tapi bagi saya bukan itu substansi masalahnya, yang saya permasalahkan adalah mengenai apakah pantas seseorang yang mempunyai suatu jabatan, seseorang yang moralist harus kemudian melabrak sebuah aturan dan secara nyata tertangkap melakukan tindakan pelanggaran tersebut dan kemudian harus mendapatkan sebuah hukuman? apakah layak? apakah pantas? Ah, saya sangat tertekan, sungguh sangat berat beban ini.
Saya menolak untuk disebut sebagai seorag yang pengecut atau cengeng dalam konteks permasalahan ini walaupun saya secara jujur tidak juga terlalu peduli dengan itu semua. Karena dalam hal ini apa yang terjadi, apa yang saya alami adalah saya telah terbukti secara sah dan meyakinkan berbuat sesuatu hal yang melanggar aturan sehingga saya mendapatkan sebuah hukuman. Dan saya bukan-lah orang yang acuh, cuek, tapi saya selalu berusaha untuk berpikir, merenungi dan mengambil segala pelajaran juga hikmah dibalik setiap kejadian yang telah saya alami, termasuk kesalahan ini. Dan itu-lah kenapa saya memikirkan ini semua, dan menjadi sangat tidak etis apabila kemudian saya yang telah sangat jelas berbuat salah masih mampu untuk "tertawa" mampu untuk tidak mempunyai beban. Hukuman itu ada agar mereka yang menyalahi aturan menjadi jera dan malu, dan begitu pun saya, sebagai seorang yang salah, saya ingin diri ini juga menjadi jera dan malu untuk kedepannya saya tidak akan mampu untuk mengulangi kesalahan ini. Berbeda halnya dengan para pejuang yang mendapatkan hukuman karena membela apa yang benar dan menajadi hak-nya, sehingga memang menjadi sebuah kewajiban bagi mereka untuk terus semakin bersemangat ketika mendapatkan sebuah hukuman. Apabila ketika saya dalam berproses menjalankan sesuau hal kegiatan yang postif dan kemudian mendapatkan sebuah teguran lalu saya menangis dan memutuskan untuk berhenti maka ya, saya adalah seorang pengecut tapi apabila saya secara jelas berbuat salah, menyalahi aturan kemudian saya memutuskan untuk berhenti karena malu maka sungguh saya pikir itu bukan sebuah hal yang pantas untuk diberi label pengecut!


                               ***


Berpindahnya saya dari kampus pusat ke kampus daerah membuat saya memang harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan, entah itu yang sifatnya teknis bahkan prinsip sekalipun. Tidak jadi masalah, tak jadi soal bagi seorang saya, yang memang hidup secara sangat tenang mengikuti aturan dan megikuti segala perintah yang ada. Akan tetapi ada satu hal yang sangat saya rasa sebagai sebuah bentuk kehilangan yang sangat besar dalam hidup saya sebagai seorang praja, yaitu sosok pengasuh yang benar-benar membimbing dan menuntun saya dalam sebuah koridor aturan yang jelas dan pasti juga tegas. Di sini, di kampus ini, orang-orang yang berwenang hanya mampu untuk berucap, mampu untuk berkata-kata membentuk sebuah konsepsi atau teori tanpa sedikit pun mereka mampu implementasikan ( baca : IDEALISME ). Mereka berbuat sewenang-wenang, berkata sebuah aturan tapi sungguh yang mereka lakukan itu melanggar aturan yang ada atau bahkan aturan yang mereka katakan sangat mengada-ngada, mereka pikir kita ini, saya ini adalah orang bodoh, atau mereka pikir mereka masih hidup di zaman dulu, tak berpikir bahwa zaman juga berubah seperti halnya manusia yang bertambah tua. Ego mereka masih sangat kental terasa, bertindak tidak sesuai dengan hierarki yang ada, tapi hanya berdasarkan senioritas dan hukum rimba, organisasi praja tak memiliki posisi tawar yang berarti, program kerja yang telah tersusun rapi menguap dengan percuma, strukur organisasi sungguh hanya formalitas di atas kertas dan hanya untuk sekedar pemenuh admistrasi. Terus menekan dengan ancaman, terus memasukan nilai dengan ancaman, bukan dengan motivasi, terus memaksakan banyak nilai tapi tak pernah ada pengawasan yang berjalan secara konsisten dan lama, alasan pun sangat klasik mereka keluarkan yaitu permasalahan tenaga dan jumlah pendidik yang ada, hanya menekankan pada hasil tidak pada proses padahal sungguh sikap itu hanya bisa dilihat juga dinilai dalam prosesnya bukan dari hasilnya, terus mengatakan dan bertamengkan kedewasaan padahal itu bukan hakikat utamanya, ini bukan masalah dewasa atau tidak, tapi ini adalah sebuah sistem pengasuhan, diberikan atau tidaknya sebuah kedewasaan akan tetapi pengawasan itu harus tetap ada sehingga mereka yang baik dan berprestasi mampu untuk mendapatkan reward dan mereka yang buruk dan juga pelaku deviasi mendapatkan punishment. Akan tetapi dalam pemberian reward serta punishment pun masih sangat tidak tegas, tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan, masih sangat jelas aroma subjektifitasnya, berat kecilya sebuah hukuman masih bisa berubah dengan sendirinya atau sesuai dengan emosi dan mood yang ada. Penuh dengan ketidakjelasan, penuh dengan permainan emosi, semenit marah dengan begitu sangat berapi-api tapi semenit kemudian menjadi pelawak dengan banyolan konyolnya! bagaimana mungkin kita bisa untuk paham dengan segala koreksi yang ada?bagaimana mungkin kita bisa untuk menjadi jera? ketika suasana serius ataupun santai tak mampu untuk tersaji dengan jelas, absurd! Mereka lupa atau pura-pura lupa denga apa yang namanya PENGAWASAN DAN KONSISTENSI!! Beri-lah yang berprestasi itu motivasi dan pelaku deviasi itu sanksi, secara tegas juga pasti, tak ada diskriminasi, tidak ada subjektifitas, cukup objektifitas! Tegakan aturan itu secara utuh adapun kebijaksanaan di luar kebijkan yang ada sepatutnnya dibuat dengan tetap berdasar pada ketentuan tertulis yang lebih tinggi dan kemudian dituliskan sehingga bisa untuk tetap dipertanggungjawabkan.
Sistem-sistem tak jelas seperti itu sungguh tekah memuakan, saya, kami pun membencinya tapi kebanyakn dari kam juga masih belum mampu untuk bersikap konsisten, masih bersikap munafik, masih memikirkan untuk keppentingan pragmatis diri sendiri, sikap kebersamaan hanya berlaku untuuk sesautu hal yang merekan anggap nyaman, tidak untuk sesuatu hal yang akan "merugikan" walaupun untuk membela sessuatu hal yang benar atau kawan sekalipun. Karena ketika kami membenci, kammi memang mencaci tapi ketika mereka berbuat "baik", kami pun seperti melupakan segala kejelakan itu sehingga sistem seperti ini terus berputar. Saya merasa telah cukup dengan kedaan seperti ini, kondisi yang sangat tidak ideal, tidak sesuai dengan aturan yang ada, hidup di bawah tekanan yang tidak jelas, sungguh tidak nyaman, tak ada kepastian, sehingga saya memutuskan mengambil sikap, berhenti bersikap pragmatis, mencoba untuk melawan dalam porsi saya sebagai seorang praja, sebagai seorang peserta didik, sebagai seorang bawahan. Mereka memang berwenang penuh dalam penentuan nilai yang akan saya terima, tapi sungguh nilai bukan sesuatu hal yang saya cari walau memang berperan sangat penting dalam dunia pendidikan ini, tapi sekali lagi saya sungguh tidak mencari sebuah nilai ( baca : Proses yang Benar atau Hasil yang Baik?, Realistis bukan Pesimistis ) sehingga saya lebih memilih untuk menegakan apa yang menjadi prinsip saya, saya akan mencoba "keluar" dari sistem mereka, melawan mereka! 
saya tahu resikonya, dan insya Allah saya telah siap! insya Allah ... insya Allah Siap!
mmm....