Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang kebaikan dan keburukan.

Sabtu, 19 Jumadil Tsani 1438 H / 18 Maret 2017
11.27 WIB

Di dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.

Akibat kurangnya ilmu agama serta salah dalam memandang dunia. Karena indikator dan -isme yang disandarkan bukan pada Kalamullah (Al-Qur'an) serta Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam (padahal dia mengaku dan meng-klaim sebagai seorang Muslim), maka semakin besar kemungkinan bagi kita untuk memiliki anggapan bahwa ujian hidup adalah segala sesuatu yang kita anggap buruk. Adapun sebuah kebahagian adalah segala hal yang kita nilai baik.

Tapi hidup tidak seperti itu. Konsep kehidupan dalam Islam tak mengajari kita rumus tersebut di atas.

Kebaikan dan keburukan adalah bagian dari kehidupan dan keduanya adalah ujian. Apapun yang telah, sedang, dan akan kita hadapi dalam kehidupan ini, baik atau buruk, akan menentukan tempat serta derajatnya di kehidupan abadi nantinya.

Sehingga permasalahannya tidak berhenti pada baik atau buruk yang kita dapatkan, tapi respon apa yang kemudian kita berikan pada kebaikan atau keburukan itu.

Kebaikan tanpa ada rasa syukur maka itu keburukan. Dan keburukan diiringi dengan kesabaran maka itu-lah kebaikan.

Rasa syukur dan rasa sabar itu lalu kita tunjukan dengan serangkaian sikap taat pada ketentuan Allah ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam, yang kita sebut dengan istilah ibadah.

Pada akhirnya, apapun yang terjadi dalam hidup ini harus mampu membuat kita terus beribadah kepada-Nya. Tak peduli apakah itu kebaikan atau keburukan, bila dengannya kita semakin taat pada Allah ta'ala, maka itu kebaikan. Dan tak peduli apakah itu kebaikan atau keburukan, bila dengannya kita semakin jauh dari Allah ta'ala, lalai dengan ibadah, berani menganggap remeh Sunnah Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam, maka demi Allah itu adalah keburukan!

Minggu, 05 Maret 2017

Drama dalam hati

AHAD, 6 JUMADIL AKHIR 1438 H / 5 MARET 2017
17.31 WIB

Saya yang terlambat untuk sepenuhnya menyerah pada Allah ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Kini harus merasakan akibatnya.

Banyak permasalahan yang harus saya rasakan. Salah satunya urusan cinta.

Saya yang dulu dengan mudah menjalani cinta dengan wanita tanpa aturan agama. Dengan mudah mengumbar banyak janji dan harapan. Kemudian harus rusak, tak bisa terealisasikan.

Saya mungkin hebat dalam menyembunyikan, bisa dengan mudah tak memperlihatkan. Tapi apa yang ada di dalam hati sungguh tak semudah yang ditampilkan.

Saya harus bisa menerima walaupun sejatinya perbuatan dosa, harus dengan kuat kita sesali. Tapi, sebagai mukmin, pada akhirnya kita menyadari bahwa ini adalah kehedak-Nya. Skenario terindah dari-Nya.

Maka selamat berbahagia.

Ada banyak cinta yang saya tinggalkan, maka akan ada banyak drama di depan. Insyaallah saya harus siap. Menerima dan mendoakan untuk segala kebaikan.

Berawal dari sebuah percakapan ketika bersalaman, "akhirnya gak jad ya?"