Selasa, 14 Juni 2016

Mahkota Pengantin

MINGGU, 12 JUNI 2016
13.27 WIB


Pernikahan merupakan penyempurna agama. Perihal pernikahan sangat istimewa karena mampu menghalalkan sebuah hubungan yang sebelumnya haram. Menjadikannya bernilai pahala padahal sebelum adanya pernikahan, hubungan itu akan menjuruskan pada perbuatan dosa.

Oleh karena itu sudah sepantasnya semua orang, pria dan wanita, baik yang telah menikah, belum menikah, atau sedang dalam tahapan persiapan pernikahan, perlu untuk membekali diri dengan pengetahuan mendalam berkenaan dengan pernikahan sesuai dengan tuntunan Qur’an dan Hadits Shahih.

Karena seperti yang telah disebutkan di awal tulisan, peristiwa pernikahan bukan suatu peristiwa kecil yang dilalui begitu saja tanpa ada ilmu yang mendasari. Peristiwa itu mampu merubah sebuah hukum Allah secara 180 derajat sehingga jelas bahwa pernikahan adalah perkara penting yang harus dipersiapkan sebaik mungkin.

Buku Mahkota Pengantin adalah salah satu buku yang mampu menghadirkan tuntunan berkenaan dengan pernikahan. Buku tersebut mampu meringkas secara lugas dan jelas segala hukum dan nasihat pernikahan. Buku yang sangat layak dijadikan buku panduan pernikahan.

Terdapat 7 (tujuh) bab utama yang ada di dalamnya, yakni Mengapa Kita Perlu Menikah, Bab tentang Pernikahan, Poligami, Etika Berumah Tangga, Seputar Seks dalam Pernikahan, Bab Istimna, dan Cara Mengobati Orang yang Terkena Sihir.

Ketujuh Bab tersebut disajikan secara sangat baik disertai rujukan dasar hukum, Qur’an dan Hadits Shahih. Kelebihan yang bisa saya dapati dari Buku Mahkota Pengantin adalah pembahasan Hadits yang digunakan oleh penulis hanya berdasar pada hadits shahih. Beliau tak ragu untuk menjelaskan hadits yang dia gunakan, berkenaan dengan sanad dan lainnya, sehingga kita sebagai pembaca tak lagi ragu untuk memahami dan menjalankan apa yang telah dibaca.

Akan tetapi kelebihan tersebut menjadi sebuah kelemahan di sisi lain. Hal itu bisa dilihat pada Bab kedua, Bab tentang Pernikahan. Bahasa yang cair dan apa adanya seperti yang dipromosikan tak terdapat pada bab ini. Itu terjadi karena Bab tentang Pernikahan menitikberatkan pada pembahasan makna/arti kata pernikahan, sehingga pembahasannya lebih banyak berkisar pada arti dari istilah kata/bahasa arab. Bagi pembaca yang awam, sangat sulit untuk bisa memahami bab ini.

Tapi kekurangan itu bukan kekurangan dalam arti negatif. Karena kekurangan tersebut muncul akibat dari kurangnya pemahaman pembaca dalam ilmu agama terutama bahasa arab.

Adapun di bab-bab lainnya, tak ada sedikit pun permasalahan. Bahasa yang cair, apa adanya, dialogis, dan kupasan yang lengkap membuatnya mudah untuk dipahami.

Ada satu hal yang sangat menarik dan perlu mendapatkan perhatian lebih pembaca. Pada halaman depan hardcover Buku Mahkota Pengantin terdapat sebuah kalimat, yaitu : “Buku ini menghindari penjelasan yang malu-malu sekaligus mendobrak wilayah yang sering dipahami tabu ketika membahas persoalan rumah tangga.” Yang dimaksudnya adalah perihal kehidupan seksual di dalam rumah tangga. Suatu hubungan yang tanpa pernikahan merupakan dosa besar tapi setelah adanya pernikahan menjadi sesuatu hal yang sangat dianjurkan bahkan menjadi kewajiban. 

Pada buku ini, pada bab Seputar Seks dalam Pernikahan berbicara tentang etika pergaulan seksual suami-istri, adab dan seninya tanpa bahasa yang vulgar dan yang terpenting sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Sungguh bab itu perlu untuk dicermati melalui pikiran jernih tanpa tendensi. Pembahasannya sangat mendalam dan detail sehingga mungkin beberapa diantara orang yang membacanya akan berpikir buku Mahkota Pengantin tidak lebih dari sebuah buku porno! Tidak! Buku ini jauh lebih mulia dari sekedar buku porno!

Atau mungkin sebagian yang lain akan mengatakan bahwa buku ini terlalu berlebihan, bahwasannya urusan hubungan badan suami-istri tak perlu dikupas mendalam. Pemikiran tersebut muncul karena masih ada yang berkeyakinan urusan hubungan badan tak perlu untuk diajarkan, akan dengan sendirinya paham. Orang-orang dengan pemikiran itu akan dengan mudah mencontohkan kehidupan binatang. Mereka akan mengatakan bahwa binatang pun bisa melakukan hubungan seksual tanpa pernah sekalipun diajari. Maka maaf, tapi ini pun pemikiran yang keliru.

Justru karena manusia bukan binatang dan sangat berbeda dari binatang. Manusia tidak hanya mengandalkan insting dan sudah seharusnya manusia berbeda dari sikap seekor binatang. Karena manusia mempunyai akal jadi manusia harus juga mengetahui segala macam ilmu agar tak tersesat/salah dalam menjalankannya. Atau hanya berbuat sekedarnya menyerupai binatang. Tak tahu hikmah, tak juga mendapatkan manfaat.

Lebih dari itu, Islam adalah agama yang sempurna. Manual Guide bagi manusia. Allah Sang Pencipta, mengatur seluk beluk kehdiupan manusia, termasuk tentunya kehdiupan seksual agar tidak menyimpang dari fitrah-Nya. Karena permasalahan ini bukan perkara remeh temeh. Hal ini perlu ilmu agar manusia tidak terjerumus kepada kesalahan.

Coba dilihat sebuah akibat dari pemikiran kolot bahwa urusan seksual adalah urursan terlarang atau tabu, maka kini banyak pemuda/pemudi yang mencari referensi di luar ketentuan Allah. Mereka mengisi kekosongan dan keingintahuan dari sumber-sumber yang salah, contohnya adalah film porno!

Padahal Islam melalui Qur’an dan Hadits Shahih telah menyediakan media yang tepat untuk memahami urusan tersebut.

Tak usahlah munafik, syahwat atau keinginan seksual merupakan keinginan normal dan wajar yang dimiliki oleh setiap manusia dewasa. Oleh karena itu manusia wajib mengetahui bagaimana cara mengatur dan menyalurkan perasaan tersebut dengan cara yang baik dan halal.

Alhamdulillah, Buku Mahkota Pengantin berani dan mampu hadir menyajikan pengetahuan seputar seks dalam rumah tangga secara jelas sehingga umat Islam tak lagi keliru dalam menjalankan hubungan tersebut serta memiliki referensi yang, insya Allah, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullah Saw.

Akhir kata, seperti yang juga telah disebutkan di awal tulisan, pria dan wanita, mereka yang telah menikah, belum menikah atau sedang dalam tahapan perencanaan pernikahan, wajib untuk mencari ilmu pernikahan melalui media yang halal dan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul Saw. Dan buku Mahkota Pengantin bisa untuk memberikan anda ilmu tentang itu.

#PMA

Rabu, 08 Juni 2016

Zona Nyaman

SELASA, 7 JUNI 2016
21.00 WIB

Seharusnya dengan status sebagai seorang pegawai pusat di salah satu instansi yang menjadi tolak ukur pemerintahan terutama pemerintahan daerah, saya bisa berpikir secara makro dan mengetahui segala macam informasi berkenaan dengan isu-isu terhangat perihal problematika pemerintahan Indonesia. Itu idealnya.

Kenyataannya saya tidak atau belum mampu memiliki pola pikir seperti itu. Saya justru sering mengetahui informasi dari beberapa teman yang berada dan bekerja di daerah.

Hal itu sebenarnya wajar terjadi karena saya tidak bekerja di bagian yang secara langsung menangani urusan pemerintahan. Saya bekerja di bagian kesekretariatan, lebih spesifik lagi menangani urusan kepegawaian. Saya bertugas untuk melayani beberapa urusan kepegawaian pegawai di instansi saya bekerja. Jadi saya lebih banyak berkutat dengan urusan internal instansi dengan titik berat kepada pelayanan kepegawaian.

Akan tetapi alasan bekerja di sekretariat tak lantas menjadi sebuah argumen kuat untuk membenarkan fakta saya tak bisa untuk mengetahui informasi terhangat tentang jalannya pemerintahan. Di luar rutinitas, seharusnya saya bisa mengakses informasi sebanyak mungkin karena kedekatan jarak.

Tapi apa mau dikata, hampir satu tahun saya berada di instansi pusat, saya justru belum memiliki akses memadai terhadap informasi terkini pemerintahan.

Indikatornya adalah saya tak lagi banyak menuliskan opini serta kritikan yang dulu biasa saya lakukan. Rasa-rasanya dulu saya banyak memiliki referensi serta ide tentang isu-isu hangat pemerintahan. Tapi kini saya kok seperti kehilangan?

Kurangnya informasi sebagai salah satu referensi utama membuat tumpulnya daya analisis saya terhadap suatu permasalahan yang sedang terjadi. Pada akhirnya semua rutinitas mengarahkan saya pada zona nyaman.

Padahal tak sulit untuk menjadi seorang pegawai yang baik. Karena bekerja di pemerintahan berarti bekerja di sebuah lembaga eksekutif. Lembaga eksekutif mempunyai fungsi menjalankan peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh lembaga legisatif (Trias Politica) di samping tugas dan fungsi lainnya.

Jadi kita hanya perlu untuk membaca, memahami, serta terus memperbaharui pengetahuan tentang aturan/dasar hukum berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi yang kita miliki.

Sehingga jawaban utama kenapa saya tak mampu berpikir makro adalah karena kurangnya kemampuan serta keinginan saya untuk membaca, memahami dan memperbaharui aturan. 

Saya hanya unggul dengan sebuah label pegawai pusat tapi isi/kualitas saya tak lebih baik dari teman-teman saya yang bekerja di daerah.

#PMA