Kamis, 17 November 2016

Ilmu yang tak bermanfaat.

RABU, 16 SAFAR 1438 H / 16 NOVEMBER 2016
13.05 WIB

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hasad yang dimaksud di sini adalah hasad yang dibolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan hasad yang tercela.”
Ibnu Baththol mengatakan pula, “Inilah yang dimaksud dengan judul bab yang dibawakan oleh Imam Bukhari yaitu “Bab Ghibthoh dalam Ilmu dan Hikmah”. Karena siapa saja yang berada dalam kondisi seperti ini (memiliki harta lalu dimanfaatkan dalam jalan kebaikan dan ilmu yang dimanfaatkan pula), maka seharusnya seseorang ghibthoh (berniat untuk mendapatkan nikmat seperti itu) dan berlomba-lomba dalam kebaikan tersebut.“ (Syarh Al Bukhori, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 1/153)

"Dan itu juga yang saya perlihatkan, saya tidak segan dan tidak malu untuk berkata, bahwa saya kagum dan salut terhadap seorang sahabat saya disini, seorang teman, seoran panutan di kampus IPDN Kalbar ini, A.O.W. ( suatu saat saya akan menulis sebuah tulisan khusus yang membahas kekaguman saya terhadap sosok manusia satu ini ), dia merupakan contoh nyata dari seseorang yang pintar, cerdas, seorang manusia yang generalis, mampu untuk berproses secara benar dan kemudian mendapatkan hasil yang sepadan. I SALUTE YOU!!" (Dengarkan curhatku

***

Well, sejujurnya saya tidak tau harus mulai darimana tulisan ini. Saya ingin menata hati dan pikiran yang beberapa hari ini berkecamuk. Saya berharap dengan menuliskannya, maka hal-hal yang ada dalam pikiran dan hati itu akan mereda atau setidak-tidaknya bisa berjalan sesuai dengan semestinya.

Permasalahan kehidupan yang terberat untuk saya adalah permasalahan psikologis. Masalah-masalah yang menyentuh mental. Tak ada kaitan dengan raga, tak juga membahayakan anggota badan. Tapi cukup membuat pikiran dan hati saling bertabrakan. Terus terpikir dan terus berpikir!

Saya yang sebenarnya telah mulai menapaki dan mendapatkan tujuan hidup yang hakiki. Tapi kembali mulai terusik oleh gambaran keindahan kehidupan dunia. Agama yang perlahan mulai jadi sandaran, tetiba saja tergoyahkan  oleh isi dunia yang menjanjikan kenyamanan.

Hey! Islam tak menyuruh umatnya bersikap acuh terhadap dunia. Walaupun beberapa orang yang bersemangat "hijrah" kemudian mempunyai konsep zuhud yang sedikit banyaknya keliru. Mereka mengartikan zuhud untuk meninggalkan kehidupan dunia sepenuhnya dan hanya berfokus pada kehidupan akhirat. Tak lagi mereka pedulikan lapar dan hausnya yang mereka rasa atau koyaknya baju yang mereka gunakan. Jadi banyak yang beranggapan bahwa menjadi zuhud itu berarti hidup miskin! Apa memang begitu?

Ustadz Khalid dalam tablig akbar dengan judul Umair bin Sa'ad, Gubernur yang Zuhud, menjelaskan bahwa zuhud secara sederhananya dapat dipahami sebagai sikap yang mengutamakan urusan akhirat daripada urusan dunia. Bukan meninggalkan urusan dunia sepenuhnya.

Melalui situs https://rumaysho.com/ , saya pun mendapati bahwa pengertian yang sangat bagus tentang zuhud adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.”

Jadi hakikatnya zuhud bukan tentang apa yang terlihat dari segi penampilan secara fisik. Zuhud itu berkenaan dengan amalan hati. Bahkan apabila kita lebih jauh menelisik sejarah, orang paling zuhud di kalangan sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan sejarah mengatakan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang kaya. Jadi, beberapa hal tersebut cukup meyakinkan saya bahwa bersikap zuhud bukan artinya menafikan dunia!

Hal itu kemudian memberikan gambaran bagi saya bahwa ketika agama telah kita yakini sepenuhnya sebagai pedoman kehidupan maka dunia tak lantas harus kita tinggalkan. Bahkan cara kita mendapatkan nikmat di akhirat kelak adalah dengan menjalani kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya, bukan justru meninggalkannya.

Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup hanya mengharuskan kita untuk mendahulukan urusan akhirat dibandingkan dengan urusan dunia. Bukan bersikap acuh terhadap dunia.

Dan ya, itu-lah permasalahan psikologis/mental yang kini sedang saya hadapi.

Jujur, semangat saya kini dalam mencari ilmu agama sedang berada dalam kondisi prima. Saya sangat bersemangat mengikuti semua nasihat yang ada. Tak banyak bertanya, Sami'na wa athona.

Tapi sesaat setelah saya berbincang dengan salah satu sahabat. Ketika dia datang untuk melaksanakan tugas ke Jakarta. Pertemuan yang sebenarnya tak disengaja. Obrolan yang begitu mengasyikan karena memang kami lama tak bersua. Saling melempar pertanyaan, sesekali menyelipkan banyolan. Dia, orang selalu saya kagumi, dan terlebih kini saya semakin mengaguminya.

Dia mampu menerapkan kehidupan yang menurut saya seimbang. Dia rencanakan segalanya, dengan mempertimbangkan secara matang. Dia pun menjalankan segala apa yang dia rencanakan dengan penuh tanggung jawab. Wow! Saya mendengarkan penuh khidmat, betapa ternyata saya ini masih jauh dari kata baik.

Ilmu yang telah saya dapatkan tidak saya implementasikan nyata di kehidupan. Saya hanya kemudian menjadikan ilmu itu retorika di berbagai media sosial yang saya miliki. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Dia, sahabat saya, hanya satu dari banyak orang lainnya di dunia ini yang telah mampu menerapkan ilmu ke dalam keseharian. Melakukan perubahan nyata untuk kehidupannya sendiri terlebih dahulu. Pilihan hidupnya sangat penuh perhitungan. Tapi dia lakukan dengan kemandirian. Tak ada pilihan hidup yang tanpa perhitungan. Pekara ijin belajar S2, membeli motor, merencanakan membeli rumah, menikah, semuanya dia tentukan dan semuanya dia miliki argumen. 

Saya terdiam dalam hati betapa saya tidak lakukan itu dalam kehidupan saya. Saya tak melulu punya rencana, bahkan banyak keputusan dalam menjalani kehidupan saya ambil tanpa perencanaan. Lalu akhirnya saya sesali karena menyalahi aturan. Padahal keputusan itu mengikat kehidupan saya 15 tahun kedepan, dan sangat berdampak pada berbagai keputusan lainnya. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Saya pun kini berada dalam ketidakjelasan. Saya tak hebat dalam hal apapun. Untuk urusan dunia, pekerjaan yang kini saya miliki, banyak hal yang tak bisa saya lakukan. Lalu untuk urusan akhirat yang katanya kini sedang saya dalami, saya pun tak benar-benar alim. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Di titik ini, saya benar-benar berada dalam kondisi untuk bisa menentukan sikap. Saya bukan lagi seorang remaja. Saya harus memaksa diri menjadi dewasa. Mengimplementasikan ilmu yang katanya telah saya miliki. Hal-hal yang telah terlanjur terjadi tentu tak layak disesali apalagi diratapi. Semoga Allah Ta'ala memberikan saya kekuatan. Aamiin.

#PMA

Sabtu, 05 November 2016

Harta Haram



Sabtu, 28 Muharram 1438 H / 29 Oktober 2016
18.54 WIB

Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer merupakan sebuah buku yang mengupas secara tuntas berkenaan dengan permasalahan muamalat yang dewasa ini banyak terjadi. Permasalahan tersebut memang perlu untuk dikaji secara khusus dan mendalam karena tak bisa dipungkiri bahwasanya kini telah banyak terdapat kerancuan hukum yang menyertai beberapa muamalat akibat dari segala perkembangan serta asimilasi yang ada. Baik perubahan nama, substansi, teknis pelaksanaan, atau pun perubahan lain yang sejenis yang disebabkan oleh perkembangan zaman terutama teknologi.

Terlebih lagi, hukum asal muamalat secara Islam adalah halal sampai adanya hukum yang mengharamkan. Oleh karena itu inovasi di dalam muamalat sangat dimungkinkan untuk dilakukan karena pada hakikatnya tindakan muamalat dihalalkan. Akan tetapi, perhatian yang dewasa ini sering dilupakan adalah hukum-hukum yang secara jelas menyatakan haram suatu muamalat tidak lagi dikaji atau digunakan pedoman dengan berbagai alasan duniawi.

Harta Haram Muamalat Kontemporer ditulis oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA. Dijelaskan di dalam Bab Prakata Penulis, Dr. Erwandi menyelesaikan penulisan buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, 2 (dua) minggu setelah beliau merampungkan sidang disertasi. Dr. Erwandi merupakan alumnus program doktoral di bidang Ushul Fikih pada Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi. Oleh karenanya, tak salah apabila kemudian Dr. Erwandi disebut sebagai salah satu pakar Fikih Muamalat Kontemporer yang ada di Indonesia.

Buku setebal 655 halaman itu dibagi ke dalam 7 (tujuh) bab. Dilihat secara sekilas dari daftar isi, buku Harta Haram Muamalat Kontemporer disusun secara sistematis dan menyesuaikan dengan kaidah penulisan karya tulis ilmiah pada umumnya.

Di bab awal, Bab 1 Pendahuluan, Dr. Erwandi memberikan gambaran mengenai definisi-definisi penting seputar tema yang diangkat dalam bukunya. Istilah-istilah yang beliau jelaskan diantaranya apa itu harta haram, dan apa yang dimaksud dengan muamalat kontemporer. Selanjutnya, beliau beranjak ke pembahasan pentingnya umat Islam mengetahui perkara Harta Haram Muamalat Kontemporer. Pembahasan yang runtut seperti itu membuat setiap pembaca akan semakin tertarik untuk membaca dan memahami keseluruhan isi buku. Karena di awal pembaca dibuat paham bahwa tema yang ada di dalam buku merupakan tema penting. 

Pembaca disuguhkan beberapa keutamaan apabila mengetahui mana harta haram dan pembaca pun mendapatkan informasi tentang bahaya serta ancaman apabila mereka bersikap tak peduli tentang darimana harta mereka berasal atau tentang bagaimana mereka mendapatkan harta tersebut.

Pada Bab 2, 3, dan 4, Dr. Erwandi menjelaskan dengan detail permasalahan 3 (tiga) jenis utama yang termasuk harta haram, yakni Harta Haram Hasil Kezaliman, Gharar, dan Riba. Penulis tidak hanya memberikan informasi tentang mana saja atau apa saja jenis-jenis yang termasuk ke dalam harta haram akan tetapi penulis menjelaskan serta mengajak para pembaca khususnya dan selurut Muslim pada umumnya untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Hal itu Dr. Erwandi jelaskan pada Bab 5 dan 6, yakni tentang Bertaubat dari Harta Haram dan Bermuamalah dengan Pemegang Harta Haram. Adapun Bab 7, Bab Penutup, membahas tentang kesimpulan dari setiap bahasan yang telah beliau panjang lebar jabarkan. Sehingga bila para pembaca di suatu kesempatan membutuhkan jawaban cepat tentang satu atau dua masalah, apakah halal atau haram, maka pembaca hanya tinggal membuka Bab 7. Karena di bab tersebut penulis menyebutkan setiap perkara apakah halal atau haram menurut pandangan beliau.

Bagi saya, sebagai seorang yang awam dalam ilmu syar’i, buku ini mampu memberikan pengetahuan serta tuntunan dalam melakukan muamalat di dalam kehidupan sehari-hari. Karena pembahasan di dalam buku tersebut merupakan pembahasan mengenai jenis-jenis muamalat yang dewasa ini sering dilakukan. Dr. Erwandi tidak banyak berbasa basi atau menggunakan istilah asing dalam pembahasannya. Beliau langsung kepada inti permasalahan dan menggunakan istilah yang memang lazim digunakan pada saat ini. 

Hal itu mampu meminimalisir kesalahpaham antara apa yang dimaksud oleh penulis dan apa yang ditangkap oleh pembaca. Tidak ada multitafsir.

Kelebihan lain yang bisa ditemukan di dalam buku tersebut adalah Dr. Erwandi tidak mengajak kita taklid pada satu paham atau pendapat. Beliau menyajikan sebanyak mungkin pendapat para ulama besar dari berbagai macam madzhab, serta fatwa-fatwa perorangan ataupun fatwa-fatwa dari lembaga islam, baik nasional maupun internasional. 

Setiap pendapat itu beliau bandingkan,  beliau tanggapi, kemudian disebutkan apa yang menjadi kelebihan serta kekurangannya. Dan pada akhirnya beliau menjelaskan apa pendapat yang beliau miliki. Metode itu beliau sebut sebagai sebuah meotode perbandingan. 

Pembaca pun tak usah risau apakah pendapat Dr. Erwandi kuat atau tidak, karena perbandingan, tanggapan, dan penyampaian pendapat yang ditulis dalam buku, semua didasarkan pada dalil Qur’an dan Hadits Shahih, yang juga disebutkan di dalamnya lengkap dengan sumber rujukan. Sehingga semuanya jelas berdasarkan dalil. Bukan berdasarkan nafsu atau logika manusia yang sangat terbatas.

Metode perbandingan yang digunakan dalam buku tersebut sangat membantu para pembaca, terutama pembaca yang awam seperti saya, karena hal itu secara tidak langsung juga mengajarkan bahwa setiap permasalahan harus dilihat melalui kacamata yang luas dan bijaksana. 

Mengkritisi sebuah pendapat harus dilakukan dengan berdasar pada sumber rujukan kebenaran yang hakiki, yakni wahyu Allah azza wa jalla, Al-Qur’an, dan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Tak bisa dipungkiri beberapa pembahasan di dalam buku Harta Haram Muamalat Kontemporer menyinggung beberapa urusan muamalat yang dewasa ini dianggap benar oleh mayoritas penduduk Indonesia. Hal-hal seperti mendapatkan penghasilan dari musik, melukis, menjadi aktor atau aktris, olahragawan, membeli rumah atau barang-barang lainnya secara kredit, menjadi pegawai bank konvensional, dan masih banyak lainnya. Sungguh beberapa hal itu telah dianggap biasa dan dibenarkan di negara Indonesia, akan tetapi ternyata Islam, sebagai agama yang sempurna, mempunyai pandangan lain tentang semua itu.

Ya, buku ini akan sulit untuk diterima oleh mayoritas Muslim mainstream yang ada di Indonesia. Apalagi Muslim yang jelas-jelas mendapatkan penghasilan dari beberapa aktivitas yang ternyata diharamkan Islam. Berbagai argumen penolakan akan banyak keluar. Stigma negatif pun akan bersemayam di otak beberapa Muslim tersebut. Bahkan mungkin mereka akan beranggapan bahwa Islam itu agama yang kaku, dan tidak mempunyai ruang bagi penganutnya untuk bersenang-senang, karena semua yang indah ukuran manusia diharamkan. 

Atau mungkin pemikiran lebih ekstrim lainnya adalah Dr. Erwandi akan mendapat cap sebagai pembawa aliran baru dalam Islam. Allahu akbar, semoga Allah ta’ala menjaga beliau.

Seperti yang telah saya sebutkan di awal, buku ini sangat ilmiah. Semua pendapat yang ada di dalamnya berdasarkan rujukan yang jelas disebutkan sumbernya. Tapi, dengan kondisi sekarang ini, isi buku Dr. Erwandi memang akan banyak mendapat penolakan. Karena dunia dewasa ini terlanjur banyak melegalkan apa yang sebenarnya diharamkan oleh Allah Jalla Jallalahu dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam. 

Maka buku ini menurut pendapat saya, memang tidak cocok bagi mereka yang belum merasakan nikmatnya dalam beragama. Belum sepenuhnya nyaman dalam menjalankan segala perintah-Nya. Atau dalam kata lain, Islam belum menjiwai hatinya secara penuh.

Contoh nyatanya adalah, di zaman Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam, cukup hanya dengan satu ayat, yakni Al Maidah ayat 90. Bagi yang telah membaca sirah tentu paham bahwa hanya dengan satu ayat saja, umat Muslim langsung membuang minuman keras yang mereka miliki. Itu juga hikmah dakwah 13 tahun Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam di Mekkah hanya berkisar tentang tauhid. Karena apabila amalan hati itu telah menancap tajam di jiwa setiap umat Islam, maka perintah apapun yang dikeluarkan oleh Allah ta’ala dan rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam akan dengan mudah diikuti walaupun secinta apapun mereka terhadap suatu perbuatan tersebut.

Maka membaca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer bagi mereka yang belum meresap nikmatnya Iman dan Islam dalam hati berpotensi membuat mereka benci terhadap Islam. Tapi bagi mereka yang telah sangat jatuh cinta pada Islam, maka insya allah, Sami’na wa athona.
Wallahu’alam.

#PMA