Sabtu, 01 Oktober 2016

1437, 1438

SABTU, 1 OKTOBER 2016
21.00 WIB

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."

Alhamdulillah, Allah azza wa jalla masih berkenan memberikan saya umur hingga saat ini. Saya masih bisa dipertemukan dengan bulan Muharram di tahun 1438 Hijriah. Semoga di tahun yang baru ini saya masih bisa diberikan kekuatan serta kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dari segi pemahaman dan pengamalan agama Islam. Aamiin.

Pada kesempatan yang insya allah baik ini, saya akan berbagi sebuah cerita tentang apa yang telah alami di tahun 1437 Hijriah serta beberapa harapan yang saya ingin wujudkan di tahun 1438 Hijriah. Semoga Allah azza wa jalla meluruskan niat saya dan semoga semua dari anda yang membaca tulisan ini bisa mendapatkan kesan yang baik.

Karena berbagi cerita pribadi dalam sebuah tulisan telah lama saya lakukan tentu dengan harapan mampu untuk bisa menginspirasi atau setidak-tidaknya memberikan referensi tambahan dalam sudut pandang menjalani kehidupan.

Saya sungguh belum memiliki kapasitas ilmu untuk menuliskan sebuah karya ilmiah yang bisa dijadikan rujukan dunia pendidikan apalagi sebagai panduan hukum agama. Justru karena saya menyadari keterbatasan yang saya miliki, saya mencoba menyiasatinya dengan berbagi cerita atau pengalaman sehingga saya berharap bisa tetap mendapatkan "jatah" pahala ilmu yang bermanfaat dan juga pahala saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Sekali lagi, semoga Allah azza wa jalla bisa meluruskan niat saya.

1437 Hijriah akan selalu saya kenang sebagai salah satu tahun yang memiliki arti penting bagi kehidupan saya. Entah dari mana asalnya, saya tetiba saja mulai banyak mempertanyakan apa yang telah saya lakukan selama kurang lebih 24 tahun hidup di dunia ini.

Apakah saya telah menjadi seorang Muslim sejati? Okay, saya memang bukan seseorang yang "jauh" dari agama, bila boleh saya katakan dilihat dari ritual ibadah sehari-hari saya rasa-rasanya telah mampu untuk melaksanakannya dengan cukup baik.

Orang tua saya, terutama Bapak, memiliki pemahaman agama yang menyandarkan pada dalil Qur'an dan Hadits shahih. Beliau tidak sekedar mengikuti mayoritas Muslim tapi beliau tidak ragu untuk menjadi minoritas karena beliau tidak ingin beribadah tanpa ada dalil yang kuat serta jelas.

Hal itu beliau ajarkan kepada saya. Sehingga dapat dikatakan bahwa secara ritual ibadah, saya tidak pernah berada sangat jauh dari agama.

Tapi di tahun 1437 Hijriah ini saya menyadari bahwa ternyata Islam tidak berhenti pada urusan ritual ibadah. Islam jauh lebih mulia dan indah daripada itu. Pemikiran itu muncul begitu saja. 

Bagi saya itu menjadi bukti bahwa memang secara fitrah, manusia akan selalu mencari kebenaran. Fitrahnya manusia pasti bisa merasakan mana kebenaran dan mana yang bathil. Bila belum menemukan kebenaran hakiki maka setiap hati manusia akan selalu gelisah. Akan tetapi untuk sebagian manusia, fitrah itu telah tertutupi oleh nafsu.

Beruntung bagi saya, atas izin-Nya, fitrah dalam hati ini masih bisa mengalahkan nafsu. Sehingga perasaan itu bisa muncul dan menjadi tonggak untuk terus mencari ilmu dan memperbaiki diri.

Faktor internal tersebut kemudian bisa tereksekusi dengan sangat baik dengan faktor eksternal yang memadai. Saya katakan memadai karena dewasa ini para cendekiawan Muslim yang kompeten dan tanpa tendensi telah memaksimalkan media sosial sebagai wahana dakwah mereka. Sehingga orang-orang awam seperti saya yang sering menyalahkan keterbatasan waktu sebagai alasan utama terbatasnya ilmu, bisa mengakses kajian-kajian Islam secara gampang, dimanapun kita berada.

Media utama yang sangat berjasa dalam proses "hijrah" saya adalah YouTube. Dimulai dengan dakwah Ustadz Nouman Ali Khan, Dr. Zakir Naik, lalu Ustadz Khalid Basalamah, dan akhirnya berlanjut dengan ustadz-ustadz lainnya, yang alhamdulillah bisa membuka mata serta hati saya dalam memahami Islam.

Cerita ini bisa saja berakhir berbeda bila para ustadz-ustadz tersebut tidak memanfaatkan media sosial sebagai sarana mereka berdakwah. Mungkin saya masih bertahan dengan pemahaman bahwa Islam hanya cukup dengan ritual ibadah wajib.

Melalui kajian-kajian Islam yang mereka sampaikan serta artikel-artikel yang juga saya baca, saya dapatkan kesimpulan bahwa keindahan serta nikmatnya Islam tak akan bisa didapat bila kita tidak masuk kedalamnya secara total. (baca : Gue Muslim)

Islam tidak terhenti pada ritual ibadah, bahkan kewajiban yang dibebankan pada seorang Muslim tidak terbatas pada Rukun Islam dan Rukun Iman. Banyak hal yang seharusnya Muslim lakukan dan tidak lakukan. Islam lebih dari sekedar agama penghias biodata, Islam adalah ideologi hidup, Islam adalah dasarnya roda kehidupan.

Saya tidak mengatakan bahwa saya yang dulu tidak memiliki pemahaman seperti itu. Saya yang dulu pun, alhamdulillah, telah yakin tentang hal itu. Tapi sekarang, keyakinan itu, telah saya pahami harus bisa terwujudkan dalam implementasi kehidupan sehari-hari. 

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imran : 31).

Syaikh As-Sadi dalam tafsir ayat ini menjelaskan, “Tidaklah cukup bagi seseorang hanya mengklaim semata bahwa ia mencintai Allah. Ia harus jujur dalam klaimnya tersebut. Dan Di antara tanda kejujuran klaimnya adalah ia mengikuti Rasulullah Shollallahu alaihi wassalam dalam segala keadaan, dalam perkataan dan perbuatan, dalam perkara pokok agama maupun cabangnya, zhohir dan batinnya, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah maka hal ini menunjukkan kejujuran klaim cintanya kepada Allah”.

Mungkin karena kurangnya pemahaman itu, saya yang dulu masih bisa menggabungkan "ketaatan" pada Islam dengan "kemaksiatan". Saya masih bisa dengan bangganya mencari pembenaran. Itu-lah kenapa saya sekarang ini mencoba untuk melakukan hijrah.

Ya, saya akui, akibat saya yang dulu, harus juga saya tanggung sekarang ini. Ada beberapa yang bisa dengan cepat saya lepas tapi ada beberapa hal lain yang terpaksa saya harus teruskan. Allah azza wa jalla Maha Tau. 

Ya, saya juga harus akui, proses hijrah itu baru mengena kepada hal-hal lahiriah. (baca : Berjenggot dan Celana cingkrang) Tapi insya allah, perihal lainnya juga terus saya lakukan perbaikan.

Hijrah ini pun menimbulkan sebuah stigma bahwa saya adalah penganut salah satu aliran. Stigma yang sebenarnya cukup membingungkan. Karena sejauh ilmu yang saya miliki, Allah azza wa jalla dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyembutkan penyebutan lain selain istilah Muslim. (baca : Muslim tanpa tendensi)

Saya hanya mencoba kembali kepada ajaran Islam yang lurus, sesuai perintah Allah azza wa jalla dan dicontohkan Rasulullah Saw., sahabat-sahabatnya, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. 

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Beberapa orang memang masih dengan pemikiran sempit. Sehingga mereka menganggap apa yang saya lakukan adalah sesuatu hal yang aneh walaupun sebenarnya dakwah yang mengajak kembali kepada kemurnian Islam bukan hal yang asing dewasa ini. 

Bila kasus ini terjadi misalnya 10 tahun yang lalu, wajar bila ada yang belum tau. Tapi di zaman ini dengan segala informasi yang mudah diakses, saya masih terheran-heran dengan orang-orang dengan pemikiran sempit.

Walaupun memang salah satu efek negatif dari mudahnya mendapatkan kajian islam bagi saya adalah membuat malas untuk mengikuti kajian secara langsung dan rutin. Padahal rutinitas dan jadwal yang jelas serta bertatap muka secara langsung dengan guru jelas lebih utama dari hanya sekedar mendengarkan secara acak melalui YouTube.

Pada akhirnya, panjang lebar saya bercerita tentang pengalaman hijrah ini, saya ingin katakan bahwa jangan pernah menunda sebuah keinginan positif yang telah terbesit dalam hati. Karena kita tidak pernah tau apakah semenit kemudian perasaan itu masih akan ada.

Jangan pernah melawan fitrah yang telah ada tertanam dalam hati. Karena urusan hati hanya kita sendiri dan Allah azza wa jalla yang tau. Jangan sekali-kali menunupi kecenderungan hati pada kebenaran hakiki oleh nafsu dunia. 

Langkah selanjutnya adalah jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki, terutama ilmu agama. Jangan juga taklid hanya pada satu guru. Manfaatkan semua media untuk terus menambah khazanah keilmuaan agama kita. Selalu membiasakan berilmu terlebih dahulu baru mengamalkan agama. Allahu'allam.

Semoga, Allah azza wa jalla selalu mengarahkan hati kita semua pada kebaikan dan istiqomah dalam menjalaninya. Aamiin.

#PMA