Minggu, 22 Januari 2017

The Way of Life

AHAD, 24 RABIUL AKHIR 1438 H / 21 JANUARI 2017
04:15:00

Beberapa tulisan yang saya buat akhir-akhir ini bertemakan tentang pernikahan. Tema yang saya kupas dari berbagai sudut pandang. Dan kali ini pun saya akan menuliskan lagi tentang pernikahan. Tulisan ini akan mencoba membahas pernikahan dalam sudut pandang menentukan kriteria atau faktor-faktor yang harus dijadikan landasan dalam memilih pasangan.

Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam telah mewasiatkan bagi umatnya dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa mencari seorang pasangan harus mempertimbangkan 4 (empat) faktor, yakni harta, nasab, rupa, dan agama. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam menutup atau mengakhiri nasihatnya itu dengan mengatakan bahwa diantara 4 (empat) faktor tadi, kita harus mengutamakan faktor agama.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan menekankan hal itu dengan menyebutkan bahwa ketika faktor agama yang kita utamakan maka kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung.

Pada realitanya, Muslim sekarang ini tidak terlalu mengindahkan nasihat Nabinya shallallahu alaihi wa sallam, yang berarti secara tidak langsung menyelisihi Sunnah beliau shallallahu alaihi wa sallam. Diantara kita masih banyak yang meremehkan faktor agama dan berdalih bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menempatkan faktor agama setelah harta, nasab, dan rupa. Itu artinya, menurut anggapan mereka, agama berada di bawah harta, nasab, dan rupa. Na’udzubillah.

Bila dilihat secara logika maka pernyataan itu sangat masuk di akal dan rasa-rasanya tidak sedikitpun bertentangan dengan nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi pemahaman seperti itu adalah pemahaman secara parsial, tidak memahami Hadits secara utuh.

Seperti yang telah kita sebutkan, di akhir nasihatnya beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa faktor agama harus diutamakan agar kita akan masuk ke dalam orang yang beruntung. Maka kita harus paham, apa sih yang akan didapatkan oleh orang yang beruntung dalam perspektif Islam.

Subhanallah, di banyak ayat dalam Al-Qur'an, salah satunya adalah Q.S. Al-Mujadilah (58): 22, disebutkan bahwa balasan bagi orang yang beruntung adalah Surga! Dengan kata lain bila kita mentaati Rasul shallallahu alaihi wa sallam perihal mencari pasangan dengan mengutamakan faktor agama, maka kita pun sama dengan orang-orang selalu beramar ma'ruf nahi mungkar, orang-orang yang berjihad, dan orang yang bertaqwa karena semua orang-orang itu Allah ta'ala kategorikan juga sebagai orang yang beruntung.

Jadi, dengan manfaat dan keutamaan seperti yang tersebut di atas, sungguh disayangkan bila kemudian kita tidak mengutamakan faktor agama dalam mencari pasangan dan melepas begitu saja kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung.

Lantas apakah setelah kita mengutamakan faktor agama permasalahan mencari pasangan akan menjadi lebih mudah? Well, the answer is NO! Setidak-tidaknya itulah yang sedang saya alami saat ini.

Karena satu hal yang pasti, kita tidak sedang hidup di zaman dengan kualitas keimanan yang insya Allah sama dan seragam selayaknya zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau di zaman para sahabat, atau di zaman tabi'in, atau di zaman tabi'ut tabi'in.

Tapi demi Allah, kita sedang hidup di akhir zaman, kita hidup di zaman yang segala sesuatunya telah sangat jauh dari hukum Allah ta'ala dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Dewasa ini, terutama di negara Indonesia, kita hidup dengan agama Islam yang "beragam". Bagaimana Islam diterapkan atau diimplementasikan dengan banyak cara dan gaya.

Hal itu seringkali membuat kita terkecoh untuk membedakan mana muslim dan mana kafir. Tak ada identitas yang mampu kita bedakan. Syubhat dan syahwat bertebaran di sana-sini. Fragmentasi kini tak lagi terjadi antar beda agama, tapi fragmentasi justru ada dan sangat terlihat jelas diantara satu pemeluk agama.

Semua itu berpengaruh pada penentuan dalam mencari pasangan, terutama dalam hal faktor agama. Karena kini tak cukup hanya melihat bagaimana kualitas ibadah atau penampilan seseorang, akan tetapi lebih jauh dari itu harus dilihat apakah Islam telah menjadi landasan dalam kehidupannya ataukah masih terkontaminasi dengan paham-paham lainnya. Apakah Islam telah secara penuh dia jadikan pedoman kehidupan atau baru sekedar pedoman peribadatan.

Bila Islam belum menjadi pola pikir, belum kuat tertanam dalam hati, maka kemungkinan besar idelisme-idealisme lain akan datang merasuki sehingga sadar ataupun tidak, kita akan menjadi orang yang sekuler. Islam hanya untuk mengurusi peribadatan dan urusan dunia kita gunakan paham lainnya. Allahuakbar!

Salah satu cara untuk bisa mengetahui hal tersebut adalah dengan menanyakan apa visi dan misi calon pasangan dalam menjalani kehidupan terutama kehidupan dalam rumah tangga. Bagaimana dia memposisikan dirinya di dalam rumah. Atau kita pun bisa menanyakan padanya pertanyaan-pertanyaan kasuistik, ketika urusan dunia dan agama saling bertabrakan. Insya Allah dengan mempelajari setiap jawaban yang dia berikan maka kita akan bisa menilai sejauh mana Islam dia letakan dalam hidupnya.

Di awal saya telah saya sebutkan, untuk saya pribadi, hal-hal di atas adalah hal yang cukup sulit saya lalui. Itu adalah salah satu alasan kenapa kini saya masih begitu sulit menemukan pasangan. Dan itu pun alasan kenapa saya cukup selektif dalam menentukan pasangan. Karena tak bisa saya bayangkan bila saya harus menjalani sisa kehidupan dengan seseorang yang tak memiliki landasan berpikir yang sama.

Tidak, saya tidak mencari pasangan yang harus identik sama atau bahkan sempurna. Demi Allah, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Saya pun penuh dosa, jadi kenapa saya mengharapkan seseorang yang suci? Sekali lagi saya tekankan, tulisan ini hanya menggaris bawahi pentingnya sama-sama telah menjadikan Islam sebagai segalanya dalam hidup, baik dalam aqidah, ibadah, muamalah, apapun itu! 

Permasalahan mengenai pasangan masih banyak berbeda dalam menerapkan hukum untuk beberapa urusan itu adalah hal yang bisa untuk didiskusikan. Karena ketika telah sama-sama menyadari bahwa Islam mengatur segalanya, menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan maka insya Allah kita akan sami'na wa atho'na ketika ada dalil yang kuat mendatangi. Tak akan sulit menasihati.

Akhir kata, semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita semua terutama saya pribadi untuk mendapatkan pasangan hidup yang bisa semakin mendekatkan kita kepada-Nya, pasangan hidup yang sama-sama mau untuk belajar ilmu syar'i, zuhud terhadap dunia, mengutamakan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia, dan pasangan hidup yang satu metode (manhaj) dalam beragama. Aamiin.

#PMA

Jumat, 13 Januari 2017

Tulisan macam apa ini?!

KAMIS, 14 RABIUL AKHIR 1438 H / 12 JANUARI 2017
09:30:00

Karena menikah bukan sebuah balapan, tak harus cepat-cepatan.
Saling susul menyusul jadi yang terdepan.

Bukan juga perkara mudah, yang sekali ketemu langsung saja nikah.
Tanpa perkenalan, tak saling bertukar pikiran.

Menikah itu urusan besar karena menghalalkan sebuah aktivitas yang tadinya haram. Sebuah hubungan yang mulanya menghasilkan dosa dan tak berguna, sangat sia-sia, kemudian berubah menjadi pahala yang terus mengalir sepanjang waktu. Jadi sungguh keliru bila untuk sesuatu yang dapat merubah hukum Allah Ta'ala 180 derajat, dimaknai dengan sangat dangkal dan dilakukan tanpa persiapan. 

Menikah itu butuh ilmu karena prakteknya hingga nanti mati. Menikah itu tak bisa terlebih dahulu coba-coba dan bila merasa tak mampu lantas mundur! Menikah tak sebercanda itu. 

Banyak orang yang salah sangka terhadap Islam. Bahwa Islam melalui wahyu Allah Ta'ala dan sunnah Nabi-nya shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati setiap umatnya, terkhusus pemuda untuk menyegerakan pernikahan dan setiap pemudinya untuk mempermudah maharnya, bukan berarti Islam menyuruh umatnya menikah tanpa ilmu atau menikah tanpa ada rasa terlebih dahulu.

Saya pun dulu beranggapan seperti itu, tapi subhanallah, pemikiran tersebut sangat keliru. Islam melalui sunnah Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam juga sunnah para sahabat beliau, mengajarkan dan bahkan sangat menekankan untuk menikah dengan terlebih dahulu memiliki ilmu. Baik itu ilmu tentang siapa yang akan kita nikahi maupun ilmu berkenaan dengan hukum-hukum pernikahan itu sendiri.

Dan bila masih ada diantara kita yang berpikiran Islam itu agama yang penuh paksaan dalam urusan pernikahan, maka sepertinya orang tersebut belum banyak mendengarkan ceramah atau kajian Islam berkenaan dengan hubungan pria dan wanita yang akan menikah. 

Orang tersebut rasa-rasanya hanya menyimpulkan Islam dari fakta bahwa Islam melarang pacaran. Sehingga mereka langsung mem-vonis Islam adalah agama yang tak mengizinkan umatnya untuk saling berinteraksi. Allahuakbar, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang cepat mengambil kesimpulan tanpa terlebih dahulu memahami permasalahan secara utuh. 

Lalu apa maksud semua ini? Apa tujuan saya menulis beberapa untaian kalimat di atas? Entah-lah, saya hanya sedang berusaha merangkai setiap kata yang ada dalam otak. Lama tak merangkai kata rasa-rasanya menyumbat beberapa saluran darah dalam otak.

Jadi, ya ini-lah hasilnya. Apa ada manfaatnya? hmm 

Kamis, 08 Desember 2016

Ibnu Qayyim bicara Cinta

RABU, 8 RABI’UL AWWAL 1438 H / 7 DESEMBER 2016
09.20 WIB


“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur : 30-31)

“Tidak ada fitnah yang lebih berbahaya sepeninggalku bagi seorang laki-laki selain dari (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
 ***
 
Adakah yang tidak mengetahui nama sekaliber Ibnu Qayyim Al Jauziyah? Ada?

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, mempunyai nama lengkap Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan dari internet, dikatakan bahwa nama Ibnu Qayyim Al Jauziyah diberikan karena ayah beliau adalah penjaga (qayyim) di sebuah sekolah lokal yang bernama Al-Jauziyyah.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dilahirkan di Damaskus, Suriah pada tanggal 4 Februari 1292 dan meninggal pada 23 September 1350. Beliau adalah seorang cendekiawan Islam yang hidup pada abad ke-13. Selain dikenal sebagai ahli Tafsir, ahli hadits, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid, beliau pun tak diragukan lagi dalam bidang kedokteran dan psikologi.

Oleh karena itu, salah satu karya tulis beliau di luar bidang ilmu syariat yang cukup fenomenal adalah buku yang berjudul Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Taman Orang Jatuh Cinta Tamasya Orang yang Terbakar Rindu (Semua Hal Mengenai Cinta).

Di dalam Mukadimah buku Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin, Ibnu Qayyim menjelaskan secara panjang lebar bahwa di dalam setiap jiwa manusia terdapat nafsu dan akal. Idealnya nafsu dan akal harus saling melengkapi satu sama lainnya dengan aturan yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. 
 
Secara lebih speisifik, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa nafsu memang terlahir lebih “kuat” daripada akal. “Allah Swt. telah menjadikan nafsu dapat mengendalikan jiwa, memerintah kepada keburukan, hawa nafsu menerkam dan menjadi penyakit bagi jiwa yang tenang, dan tidak ada obatnya kecuali dengan menentangnya.”

Karena kecenderungan kuatnya hawa nafsu dan kecenderungan kekuatan tersebut mengarahkan setiap manusia pada keburukan, maka manusia harus dengan sekuat tenaga mampu melawan hawa nafsu yang ada dalam hatinya. Hal itu dikarenankan, “Surga dijadikan terhalangi oleh berbagai ketidaksenangan sebagai bentuk perlindungan dari nafsu-nafsu dunia yang hanya melahirkan kehinaan.” 
 
Maka Ibnu Qayyim berupaya untuk menyusun sebuah kitab yang beliau khususkan untuk memberikan nasihat guna menyeimbangkan antara nafsu dan akal yang berlandaskan pada ketentuan Allah Ta’ala. Aturan Allah Azza wa Jalla perlu untuk dijadikan prioritas karena di setiap perintah yang Dia gariskan pasti memiliki kebaikan dan kemaslahatan, begitu juga sebaliknya dalam setiap larangan-Nya adalah sebagai bentuk pemeliharaan dan penjagaan dari-Nya untuk manusia. Karena Dia adalah Sang Khaliq.

Bagi saya secara pribadi, mengetahui bahwa ada ulama besar yang secara khusus menuliskan sebuah kitab yang membahas seluk beluk tentang cinta adalah sesuatu yang sangat menggembirakan sekaligus melegakan. Itu berarti ada nasihat-nasihat tentang permasalahan cinta yang sesuai dengan tuntutan ajaran Islam. Karena urusan cinta adalah masalah atau bahkan “musibah” psikis yang sering saya hadapi.
***

Sebagian orang-orang salaf menafsirkan ayat, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.” (QS. Al-Baqarah : 286) Bahwa yang dimaksud beban yang tidak sanggup dipikul dalam ayat tersebut adalah al-‘Isyqu (cinta buta). Hal ini tidak mereka maksudkan sebagai kekhususan, tetapi yang mereka maksud adalah tamtsil. Karena pada kenyataannya, cinta itu tidak akan sanggup untuk dipikul. Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah beban yang terkait dengan takdir, bukan yang berhubungan dengan hukum syari’at.

Rasa-rasanya saya sering memikul beban yang dimaksudkan oleh tafsiran sebagain orang salaf di atas. Terutamanya kini, ketika keinginan untuk menikah itu sangat menggebu. Saya justru tertarik atau diberikan rasa dengan wanita yang secara teori memang akan sulit untuk bersama.

Dimulai dengan wanita yang telah memiliki pemahaman agama lebih dari saya sehingga dia tak bisa menerima beberapa kesalahan masa lalu yang terbawa hingga sekarang. Akibat dari pemahaman agama yang dangkal di masa lalu, maka beberapa keputusan kehidupan pun saya sandarkan pada bodohnya ilmu agama. Jadi ya, ada beberapa yang harus saya tanggung sampai dengan beberapa tahun kedepan. Dan jatuh cinta pada wanita yang telah sangat memahami agama tentu sulit untuk terbalaskan.

Yang terjadi selanjutnya pun tak masuk di akal. Saya tak lagi mencari wanita dengan pemahaman agama yang telah matang. Saya menjatuhkan perasaan pada wanita yang masih berusaha menjadikan agama sebagai prioritas. Dan tawaran pun kembali tak terbalas karena agama yang belum dia jadikan sebagai landasan maka urusan pernikahan belum mendapatkan skala prioritas dalam hidupnya.

Hari berganti hari, nasihat ulama tentang keutamaan pernikahan tak bisa saya pungkiri. Saya tak bisa berpura-pura tak punya birahi. Terlebih di zaman penuh fitnah, syubhat dan syahwat bertebaran di sana-sini. Terbayangi oleh beberapa masa lalu yang cukup keji. Maka pernikahan telah wajib bagi saya secara pribadi. 
 
Karena klaim “hijrah” belum sempurna tanpa pernikahan. “Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ (Tafsir al-Qurthubi, 9/327) https://konsultasisyariah.com/26085-makna-hadis-menikah-menyempurnakan-setengah-agama.html

Belajar dari 2 (dua) pengalaman, saya pun “berusaha” untuk menahan rasa tak terjatuh pada wanita yang sekiranya sulit untuk bersama. Tapi apa mau dikata, rasa selalu saja datang tak disangka. Rasa itu muncul pada seorang wanita yang memang bila dilihat dari agama tak banyak berbeda dengan saya. Dia sepertinya mulai meniti jalan “hijrah” tapi kami terpisah jarak. Tapi itu-lah rasa, terus melaju dan akhirnya tak juga terbalas. Dia sulit meninggalkan kampungnya karena kesehatan orang tua jadi penyebabnya.

Seakan belum puas dengan 3 (tiga) kali penolakan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, perasaan itu kembali menuntun saya menawarkan sebuah perkenalan untuk pernikahan (ta’aruf) kepada wanita. Tapi lagi, lagi, dan lagi tertolak. Kali ini dengan alasan dia telah ber-ta’aruf dengan lelaki lain.

Itu-lah alasannya kenapa saya merasakan bahwa tafsiran beberapa orang salaf terhadap salah satu firman Allah Ta’ala yang telah saya sebutkan di atas, sangat sesuai dengan kondisi saya saat ini. 
 
Kenapa saya dianugerahi sebuah perasaan yang tak bisa untuk terbalaskan? Dan justru situasi ini berada di saat saya benar-benar ingin mengenal wanita sesuai syariat Islam dan menyegerakan pernikahan. 
 
Ketika dulu, saya mendekati wanita dengan mengacuhkan segala aturan-Nya dan tanpa pemikiran untuk menikah dalam waktu dekat, semua rasa itu selalu bisa terbalaskan. Allahuakbar!

Tapi pertanyaan saya kemudian terjawab tuntas oleh Ibnu Qayyim. Beliau dengan sangat cerdas memberikan nasihat bahwa perkara rasa, apakah sekedar suka, cinta atau sayang, memang bukan sebuah pilihan. Perasaan muncul atas kehendak Allah Ta’ala karena Dia yang membolak-balikan hati manusia. Tapi semua perasaan itu bisa datang dengan cara yang tercela atau terpuji, bisa datang bertubi-tubi atau seimbang, sungguh kita yang bisa menentukan. Karena perasaan adalah sebuah hasil yang diawali oleh pandangan!

Analogi Ibnu Qayyim adalah seperti keadaan mabuk minuman keras. Ketika kita meminum minuman keras maka menjadi mabuk bukan sebuah pilihan. Kita tak bisa lantas memilih menjadi mabuk atau tidak, bila telah meminum minuman keras. 
 
Tapi kita bisa memilih untuk tidak meminum atau meminum minuman keras. Maka dalam perkaras rasa, bila pandangan tak bisa kita jaga dengan baik, kita umbar pandangan menuruti hawa nafsu, maka jelas rasa akan muncul dengan sangat cepat tanpa bisa dikendalikan. “Tidak dapat kita sangkal bahwa mengumbar pandangan dan terlena dengan pikiran sama kedudukannya dengan orang mabuk karena minum arak. Yaitu dicela karena sebab yang diperbuatnya. Apabila cinta tersebut ada karena sebab yang tidak dicela maka tentu cinta itu tidak akan dicela.”

"..., dapat kita katakan bahwa benih-benih cinta serta sebab pemicunya merupakan hal yang bersifat ikhtiyari (pilihan) yang keberadaannya di bawah kewajiban yang dibebankan. Pandangan, pikiran dan kehendak untuk mencintai adalah urusan yang bersifat ikhtiyari. Dan apabila ada sebab, maka hal yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tidak ikhtiyari lagi, seperti disebutkan dalam untaian sya’ir :
Ia larut dalam gelombang cinta yang membara
Dan ketika cintanya surut, ia tak lagi berdaya
Gelombang ombak ia tak sangka sebagai riak
Saat menggulung, ia tenggelam berteriak
Dia berharap dosanya tersisir
Namun dia tak sanggup lagi untuk berpikir"


Untaian argumen atau nasihat dari ulama sekaliber Ibnu Qayyim seperti menampar saya sangat keras. Saya tak bisa menyalahkan siapapun dari hadirnya rasa ke dalam hati selain diri saya sendiri. Saya yang mungkin belum bisa menjaga pandangan dengan sangat baik, maka saya pun harus merasakan akibatnya. Saya bingung dengan banyaknya rasa yang harus saya rasakan. Rasa yang harus dengan tragis tak terbalaskan. “Wahai Ali, jangan engkau perturutkan pandangan dengan pandangan selanjutnya. Bagimu hanya pandangan pertama (yang tidak disengaja), sedangkan tatapan kedua dan seterusnya adalah bukan hakmu.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

“Pandangan adalah anak panah iblis yang beracun. Barangsiapa yang dapat menahan pandangannya dari keelokan perempuan maka hatinya akan dianugerahi kenikmatan di alam hatinya, yang akan dia rasakan sehingga hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Hakim dan Thabrani)
***

Berkenaan dengan pertanyaan atau keanehan saya tentang penolakan yang datang secara simultan, padahal apa yang saya tawarkan adalah sebuah konsep syariat dan kepastian. 
 
Tapi dulu ketika yang saya berikan menyalahi aturan dan tidak ada kepastian, rasa itu terbalas dan jiwa itu saling bertautan. Maka itu pun erat berkaitan dengan dosa-dosa yang sepertinya masih saya rutinkan. 
 
Pembahasan yang telah saya uraikan pada tulisan Musibah, juga setali tiga uang dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim. “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3) Dengan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa apabila seseorang bertakwa, lalu meninggalkan cara yang tidak halal, maka Allah akan memberikan rezeki padanya dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Demikian halnya dengan seorang pezina, seandainya dia mau meninggalkan zina yang diharamkan syariat, niscaya Allah Ta’ala akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan halal."

Maka Allah Ta’ala belum memberikan saya sebuah hubungan yang halal, karena mungkin saya masih merutinkan beberapa perbuatan yang melanggar syariat-Nya. 
 
Ya, saya tak bisa begitu saja meminta kebaikan bila ternyata masih ada keburukan yang saya kerjakan. Saya harus terlebih dahulu memperbaiki diri sebaik-baiknya, dan meluruskan serta mengikhlaskan niat bahwa semua yang saya kerjakan memang benar untuk mengharapkan ridho dan rahmat-Nya, bukan untuk kepentingan dunia yang hina dan fana.

Well, mendengarkan atau membaca nasihat ulama yang berlandas pada Al-Qur’an dan Hadits memang selalu menenangkan jiwa. Agama Islam memang sebuah solusi bagi segala keruwetan hidup. 
 
Semoga kita semua selalu diberikan hidayah untuk terus mencari dan mengamalkan setiap ilmu. Dan semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan bagi saya dan kita semua yang belum menikah, untuk menemukan wanita sholehah dan menyegerakan pernikahan. Aamiin.
 
#PMA

Jumat, 02 Desember 2016

Musibah

KAMIS, 2 RABI'UL AWWAL 1438 H / 1 DESEMBER 2016
17.15 WIB

"Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
As-Syura, ayat 30 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat."

"Kalau anda melihat seseorang didzalimi/disakiti oleh manusia, lalu dia tidak mengembalikan kasus itu kepada dirinya sendiri, tidak mengevaluasi diri, tidak mengaudit diri dan tidak menyalahkan kesalahan/dosa-dosanya kemudian tidak ber-istigfar, maka ini-lah musibah yang sesungguhnya."
Ucapan Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah rahimahullah yang dinukil oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri pada kajian/ceramah Islam, dengan judul "Ketika Pesona Taman Surga Mulai Memudar"

***

Apa sih musibah?

Saya akan kemukakan dua pendapat untuk memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan musibah. Berdasarkan Tafsir Al Qurthubi, musibah adalah segala sesuatu yang menyusahkan/menyakiti seseorang yang menimpa dirinya.

Adapun menurut KBBI, musibah diartikan sebagai kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa dan malapetaka (bencana).

Dari dua definisi di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa musibah pada hakikatnya adalah segala bentuk peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan/harapan.

Respon yang kemudian biasa muncul adalah kecewa. Bila hanya sekedar kecewa, itu hal yang sangat manusiawi. Tapi bila kekecewaan itu diiringi oleh beberapa sikap negatif, semisal marah, menyalahkan orang lain, dan berbagai ekspresi yang semisalnya, maka musibah yang terjadi menjadi sebuah pintu gerbang bagi keburukan.

Lho? Memangnya musibah bisa mendatangkan kebaikan?

Ya, Insya Allah sebuah musibah justru bisa menjadi awal dari banyaknya kebaikan. Hal itu bisa didapatkan apabila kita konsisten dalam menjadikan Islam sebagai pedoman hidup serta menempatkan Islam sebagai prioritas dalam kehidupan.

Di dalam konsep Islam (koreksi dan maafkan saya bila ada kekeliruan/kesalahan), setiap musibah baik yang bersifat fisik ataupun psikis, harus dijadikan sebagai sarana untuk menginstropeksi atau evaluasi diri.

Karena konsep Islam menyatakan bahwa kita akan memetik buah dari setiap perilaku yang telah kita tanam. Tak peduli apakah perilaku itu kita lakukan secara sadar atau tidak, semuanya akan mendapatkan konsekuensi. Sehingga Islam "memaksa" umatnya untuk senantiasa peka, tanggap, dan mawas diri dengan apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.

Berkaitan dengan musibah, maka Islam tidak pernah merekomendasikan umatnya untuk menyalahkan orang lain atau marah, Islam justru menginginkan kita untuk berpikir dan memeriksa secara utuh menyeluruh apa yang telah kita lakukan. Konsep seperti itu mengajari untuk bersikap ksatria. Kita-lah yang menjalani kehidupan jadi kita yang harus mengambil tanggung jawab secara penuh terhadap semua yang terjadi di dalamnya.

Jadi kebaikan yang akan didapat ketika musibah datang adalah kita bisa menjadikan moment tersebut untuk mengevaluasi diri. Karena mungkin saja tanpa adanya musibah kita terlena begitu saja menjalani kehidupan. Kita lupa untuk menginstropeksi diri, mungkin ada dosa yang kita rutinkan atau beberapa sikap yang melukai orang lain. Atau bahkan bila tanpa datangnya musibah kita terlalu nyaman menjalani kehidupan dan meninggalkan beberapa perintah Allah Ta'ala.

Maka dengan adanya musibah kita pun bisa menyadari betapa lemahnya kita sebagai manusia dan Allah Ta'ala adalah sandaran yang selalu bisa kita andalkan. 
Wallahu'alam.

***

Saya katakan di awal, konsep hidup di atas tak akan bisa diterima bila Islam belum melekat di dalam hati. Karena dalam keadaan tertekan ketika musibah datang, maka sebuah konsep berpikir menyalahkan diri sendiri adalah sebuah konsep yang tak masuk di akal.

Bagaimana mungkin kita yang sedang disakiti oleh seseorang, dan kita harus menyalahkan diri sendiri? Bukankah telah jelas pelakunya?

Ya, bila mengedepankan rasa dan akal manusia, maka tak akan bisa diterima. Tapi bila indahnya Iman dan nikmatnya Islam telah menggenggam erat seluruh jiwa raga, wahyu Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an serta sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun tidak bisa kita mengerti secara akal atau bahkan bertentangan dengan realitas yang ada, Sami'na Wa Athona.  

Demi Allah, Al-Qur'an tidak akan pernah salah dan Hadits Shahih tidak mungkin bohong! 

Bila dilihat dalam sudut pandang yang lebih luas, maka sebenarnya Islam mengajarkan sebuah pola hidup positif. Islam mengajak manusia untuk hidup secara optimis. Islam tidak ingin manusia salah dalam bersikap terutama dalam kondisi yang tidak sesuai dengan harapan.

Bahwa berpikir dan mencari solusi adalah hal yang harus dikedepankan bukan sibuk mencari dan menyalahkan orang lain atau menumpahkan emosi. Karena mari kita renungkan bersama, apakah dengan melempar tanggung jawab, mengeluh, marah, dan berbagai ekspresi yang semisalnya, kemudian sebuah musibah itu akan selesai?

Kita tentu akan sepakat mengatakan bahwa musibah tak akan bisa menghilang atau reda bila hanya dihadapi dengan emosi. Dan itu-lah sikap yang diinginkan oleh Islam.

Hanya saja manusia ketika berada dalam posisi tertekan, berada dalam situasi yang tidak dia inginkan maka nafsu seketika menguasainya. Dan sungguh tak ada hukum bagi mereka yang emosi.

Sehingga sebelum emosi mengambil alih kewarasan, maka Islam masuk didalamnya, mengatur sedemikian rupa hingga kita menyadari bahwa emosi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. 

***

Sungguh menulis rangkaian kalimat ini lebih mudah saya lakukan daripada  mengimplemntasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hakikat ilmu dan berbagai nasihat dari guru adalah untuk menghilangkan kebodohan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bukan untuk dijadikan retorika di berbagai macam media sosial.

Berkenaan dengan itu, saya yang masih sangat bodoh dan masih sangat membutuhkan banyak nasihat memutuskan untuk me-reset beberapa media sosial yang saya miliki (Line, Twitter, dan Instagram).

Karena sekali lagi hakikat ilmu adalah implementasi, bukan publikasi. Semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua untuk mencari dan mendapatkan ilmu serta mengamalkan apa yang telah kita dapatkan. Aamiin.

#PMA    

Kamis, 17 November 2016

Ilmu yang tak bermanfaat.

RABU, 16 SAFAR 1438 H / 16 NOVEMBER 2016
13.05 WIB

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hasad yang dimaksud di sini adalah hasad yang dibolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan hasad yang tercela.”
Ibnu Baththol mengatakan pula, “Inilah yang dimaksud dengan judul bab yang dibawakan oleh Imam Bukhari yaitu “Bab Ghibthoh dalam Ilmu dan Hikmah”. Karena siapa saja yang berada dalam kondisi seperti ini (memiliki harta lalu dimanfaatkan dalam jalan kebaikan dan ilmu yang dimanfaatkan pula), maka seharusnya seseorang ghibthoh (berniat untuk mendapatkan nikmat seperti itu) dan berlomba-lomba dalam kebaikan tersebut.“ (Syarh Al Bukhori, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 1/153)

"Dan itu juga yang saya perlihatkan, saya tidak segan dan tidak malu untuk berkata, bahwa saya kagum dan salut terhadap seorang sahabat saya disini, seorang teman, seoran panutan di kampus IPDN Kalbar ini, A.O.W. ( suatu saat saya akan menulis sebuah tulisan khusus yang membahas kekaguman saya terhadap sosok manusia satu ini ), dia merupakan contoh nyata dari seseorang yang pintar, cerdas, seorang manusia yang generalis, mampu untuk berproses secara benar dan kemudian mendapatkan hasil yang sepadan. I SALUTE YOU!!" (Dengarkan curhatku

***

Well, sejujurnya saya tidak tau harus mulai darimana tulisan ini. Saya ingin menata hati dan pikiran yang beberapa hari ini berkecamuk. Saya berharap dengan menuliskannya, maka hal-hal yang ada dalam pikiran dan hati itu akan mereda atau setidak-tidaknya bisa berjalan sesuai dengan semestinya.

Permasalahan kehidupan yang terberat untuk saya adalah permasalahan psikologis. Masalah-masalah yang menyentuh mental. Tak ada kaitan dengan raga, tak juga membahayakan anggota badan. Tapi cukup membuat pikiran dan hati saling bertabrakan. Terus terpikir dan terus berpikir!

Saya yang sebenarnya telah mulai menapaki dan mendapatkan tujuan hidup yang hakiki. Tapi kembali mulai terusik oleh gambaran keindahan kehidupan dunia. Agama yang perlahan mulai jadi sandaran, tetiba saja tergoyahkan  oleh isi dunia yang menjanjikan kenyamanan.

Hey! Islam tak menyuruh umatnya bersikap acuh terhadap dunia. Walaupun beberapa orang yang bersemangat "hijrah" kemudian mempunyai konsep zuhud yang sedikit banyaknya keliru. Mereka mengartikan zuhud untuk meninggalkan kehidupan dunia sepenuhnya dan hanya berfokus pada kehidupan akhirat. Tak lagi mereka pedulikan lapar dan hausnya yang mereka rasa atau koyaknya baju yang mereka gunakan. Jadi banyak yang beranggapan bahwa menjadi zuhud itu berarti hidup miskin! Apa memang begitu?

Ustadz Khalid dalam tablig akbar dengan judul Umair bin Sa'ad, Gubernur yang Zuhud, menjelaskan bahwa zuhud secara sederhananya dapat dipahami sebagai sikap yang mengutamakan urusan akhirat daripada urusan dunia. Bukan meninggalkan urusan dunia sepenuhnya.

Melalui situs https://rumaysho.com/ , saya pun mendapati bahwa pengertian yang sangat bagus tentang zuhud adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.”

Jadi hakikatnya zuhud bukan tentang apa yang terlihat dari segi penampilan secara fisik. Zuhud itu berkenaan dengan amalan hati. Bahkan apabila kita lebih jauh menelisik sejarah, orang paling zuhud di kalangan sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan sejarah mengatakan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang kaya. Jadi, beberapa hal tersebut cukup meyakinkan saya bahwa bersikap zuhud bukan artinya menafikan dunia!

Hal itu kemudian memberikan gambaran bagi saya bahwa ketika agama telah kita yakini sepenuhnya sebagai pedoman kehidupan maka dunia tak lantas harus kita tinggalkan. Bahkan cara kita mendapatkan nikmat di akhirat kelak adalah dengan menjalani kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya, bukan justru meninggalkannya.

Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup hanya mengharuskan kita untuk mendahulukan urusan akhirat dibandingkan dengan urusan dunia. Bukan bersikap acuh terhadap dunia.

Dan ya, itu-lah permasalahan psikologis/mental yang kini sedang saya hadapi.

Jujur, semangat saya kini dalam mencari ilmu agama sedang berada dalam kondisi prima. Saya sangat bersemangat mengikuti semua nasihat yang ada. Tak banyak bertanya, Sami'na wa athona.

Tapi sesaat setelah saya berbincang dengan salah satu sahabat. Ketika dia datang untuk melaksanakan tugas ke Jakarta. Pertemuan yang sebenarnya tak disengaja. Obrolan yang begitu mengasyikan karena memang kami lama tak bersua. Saling melempar pertanyaan, sesekali menyelipkan banyolan. Dia, orang selalu saya kagumi, dan terlebih kini saya semakin mengaguminya.

Dia mampu menerapkan kehidupan yang menurut saya seimbang. Dia rencanakan segalanya, dengan mempertimbangkan secara matang. Dia pun menjalankan segala apa yang dia rencanakan dengan penuh tanggung jawab. Wow! Saya mendengarkan penuh khidmat, betapa ternyata saya ini masih jauh dari kata baik.

Ilmu yang telah saya dapatkan tidak saya implementasikan nyata di kehidupan. Saya hanya kemudian menjadikan ilmu itu retorika di berbagai media sosial yang saya miliki. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Dia, sahabat saya, hanya satu dari banyak orang lainnya di dunia ini yang telah mampu menerapkan ilmu ke dalam keseharian. Melakukan perubahan nyata untuk kehidupannya sendiri terlebih dahulu. Pilihan hidupnya sangat penuh perhitungan. Tapi dia lakukan dengan kemandirian. Tak ada pilihan hidup yang tanpa perhitungan. Pekara ijin belajar S2, membeli motor, merencanakan membeli rumah, menikah, semuanya dia tentukan dan semuanya dia miliki argumen. 

Saya terdiam dalam hati betapa saya tidak lakukan itu dalam kehidupan saya. Saya tak melulu punya rencana, bahkan banyak keputusan dalam menjalani kehidupan saya ambil tanpa perencanaan. Lalu akhirnya saya sesali karena menyalahi aturan. Padahal keputusan itu mengikat kehidupan saya 15 tahun kedepan, dan sangat berdampak pada berbagai keputusan lainnya. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Saya pun kini berada dalam ketidakjelasan. Saya tak hebat dalam hal apapun. Untuk urusan dunia, pekerjaan yang kini saya miliki, banyak hal yang tak bisa saya lakukan. Lalu untuk urusan akhirat yang katanya kini sedang saya dalami, saya pun tak benar-benar alim. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Di titik ini, saya benar-benar berada dalam kondisi untuk bisa menentukan sikap. Saya bukan lagi seorang remaja. Saya harus memaksa diri menjadi dewasa. Mengimplementasikan ilmu yang katanya telah saya miliki. Hal-hal yang telah terlanjur terjadi tentu tak layak disesali apalagi diratapi. Semoga Allah Ta'ala memberikan saya kekuatan. Aamiin.

#PMA