Kamis, 24 Mei 2018

Tata Usaha.

KAMIS, 8 RAMADHAN 1439 H // 24 MEI 2018
07.00 WIB

Insyaallahu ta'ala, pada tanggal 1 bulan Juni tahun 2018 nanti, saya akan genap 4 (empat) tahun menyandang status sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau dewasa ini berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), profesi kami para PNS yang bekerja di Instansi Pemerintah (pusat maupun daerah) dinamakan dengan Pegawai ASN. 

Belum banyak asam-garam yang saya alami selama kurun waktu tersebut, baik secara keilmuaan saya sebagai seorang Pegawai ASN maupun kedalaman pengalaman dalam berorganisasi dan bersosialisasi dalam sebuah struktur pemerintahan. Apa yang saya lakukan masih dalam koridor menjalan normatif aturan serta perintah/arahan pimpinan. Belum ada gebrakan atau inovasi sensional yang saya berikan pada negara ini.

Menjalankan rutinitas tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) sehari-hari sebagai seorang staf/pelaksana adalah kegiatan wajib yang kini saya jalani kurang lebih dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir ini. Alhamdulillah, dengan izin dan ridho Allah ta'ala saya masih bisa menjalani segala rutinitas tersebut dengan penuh semangat dan tidak tertahan dengan banyak keluhan kebosanan.

Pada tanggal 9 Juni 2014, berdasarkan Keputusan Mendagri Nomor 813.3-2214 Tahun 2014 saya diangkat menjadi Calon PNS (CPNS) TMT. 1 Juni 2014, setahun kemudian pada tanggal 19 Mei 2015 Keputusan Mendagri Nomor 821.13-1496 Tahun 2015, mengangkat saya sebagai seorang PNS. Setahun pertama atau masa CPNS saya lalui dengan bekerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 824.3/3686/SJ Tanggal 23 Juli 2014 hal Penempatan Sementara Pamong Praja Muda Lulusan IPDN Angkatan XXI Tahun 2014.

Mulanya saya mendapatkan tugas untuk bekerja di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jabar untuk membantu proses seleksi penerimaan Calon Praja IPDN Angkatan 25 asal pendaftaran Provinsi Jabar. Selanjutnya setelah berakhirnya proses penerimaan Calon Praja IPDN, saya mendapatkan penugasan di Biro Administrasi Pemerintahan (Admbang) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar, tapi qodarullah hanya beberapa hari saya ditempatkan di salah satu Bagian di Biro Admbang, saya pun melanjutkan tugas di TU Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Setda Provinsi Jabar. Dan di TU Asisten Ekbang itu-lah saya menghabiskan sisa waktu sebagai seorang CPNS.

Setelah diangkat menjadi seorang PNS, melalui Keputusan Mendagri Nomor 821.13-5318 Tahun 2015 tanggal 23 September 2015, saya ditempatkan di Biro Kepegawaian Setjen Kemendagri TMT. 1 Juli 2015. Beberapa bulan saya lalui tanpa kejelasan jabatan dan tentunya tunjangan. Hal itu cukup membuat saya frustasi. Sehingga beberapa tulisan letupan emosi sempat bermunculan, salah satunya adalah yang berjudul TRANSISI. 

Sungguh Allah ta'ala adalah sebaik-baik perencana, masa transisi yang saya jalani adalah sebuah waktu yang penuh kegaduhan emosi. Menimbulkan sebuah hikmah yang sangat saya syukuri sampai saat ini, dengan izin Allah ta'ala, masa-masa penuh kegalauan saat itu, mengantarkan saya pada hidayah Sunnah. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushshalihaat..

Kejelasan tupoksi akhirnya saya dapatkan pada tanggal 29 Oktober 2015 melalui Keputusan Mendagri Nomor 821.29-5842 Tahun 2015, berdasarkan keputusan tersebut saya mendapatkan jabatan Pemroses Mutasi Kepegawaian pada Subbag Pengangkatan Pegawai Bagian Mutasi Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal (Setjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). 2 (dua) tahun kemudian, melalui Keputusan Mendagri Nomor 821.2973 Tahun 2017 tanggal 28 April 2017, alhamdulillah saya mendapatkan kenaikan peringkat jabatan pelaksana, yang mulanya peringkat (grade) 6 menjadi grade 7, dengan jabatan Analis Data pada subbag serta bagian yang sama.

Deskripsi singkat di atas sudah bisa mewakili dan membenarkan argumen saya di awal tulisan, yaitu saya belum banyak memiliki pengalaman serta keilmuan sebagai seorang Pegawai ASN. Akan tetapi satu hal yang menarik dan ingin saya komentari adalah berkenaan dengan adanya ketidaksesuaian antara teori mengenai jenis-jenis jabatan pelaksana dengan realita di lapangan dalam menjalan rutinitas sehari-hari.

Jabatan yang menurut pandangan saya masih dianggap sebelah mata oleh organisasi pemerintahan yang ada di Indonesia adalah jabatan yang berkaitan dengan tata usaha serta perencanaan. Tata usaha (TU) yang saya maksud adalah TU secara luas mencakup urusan keuangan serta administrasi persuratan. Adapun lingkup pekerjaan adalah di masing-masing Bagian/Bidang/Subdit atau apapun namanya yang diisi oleh Pejabat eselon III atau Jabatan Administrator.

Kenapa saya bisa mengatakan demikian?

Hal itu didasari dengan fakta bahwa tidak ada jabatan pelaksana yang mengatur secara spesifik bahwa seseorang itu hanya bertugas untuk mengurus alur persuratan di sebuah Bagian serta proses keuangan di Bagian tersebut. Tugas-tugas mereka (persuratan serta keuangan) ditempelkan pada jabatan pelaksana lain yang ada di Bagian, walaupun secara analisis jabatan ataupun uraian jabatan, tugas persuratan serta keuangan tidak selaras dengan nama jabatan itu.

Padahal secara praktek nyata di lapangan, urusan persuratan serta keuangan adalah sebuah tugas yang tidak bisa dikerjakan secara "sampingan". Secara sekilas memang rasa-rasanya dua jabatan itu adalah jabatan-jabatan yang sederhana, tapi silahkan anda coba rasakan atau cukup lihat sendiri. Terkhusus untuk keuangan, sebuah pekerjaan yang menuntut kecermatan dan kerapihan berkas. Jadi bagaimana mungkin bila tupoksi tersebut dikerjakan tanpa keseriusan? tanpa sebuah profesionalitas?

Di sisi yang lain, menempelnya jabatan persuratan serta keuangan di jabatan lain, juga menyita dan menganggu seorang pelaksana untuk bisa maksimal dalam memberikan pelayanan dan kinerja sesuai dengan visi misi organisasi. Karena sangat dimungkinkan ketika dia sedang melakukan tugasnya dia juga harus disibukan dengan mengurus alur masuk dan keluar surat, atau bahkan sibuk dengan pencairan dan pertanggungjawaban keuangan.

Di Pemerintah Provinsi Jabar, tugas TU diwadahi dengan nama Koordinator TU (Kortu) yang ada di setiap pejabat Eselon II. Struktur tersebut tidak termasuk ke dalam jabatan struktural jadi secara tupoksi mampu berjalan dengan baik tapi dari segi keuangan tidak didukung secara memadai. 

Adapun di Kemendagri, tupoksi TU dimasukan ke dalam sebuah jabatan struktural eselon IV, yaitu Kepala Sub Bagian TU, yang diselipkan di salah satu Bagian yang ada di masing-masing eselon II. Jadi dari segi dukungan keuangan dan tertib administrasi keuangan dalam lingkungan eselon II bisa dijalankan secara maksimal akan tetapi dari segi administrasi persuratan dan jadwal serta pendampingan pimpinan saya rasa masih kurang maksimal. Karena Subbag TU kemudian banyak mencurahkan fokusnya pada masalah keuangan. 

Pun Subbag TU itu hanya mengurusi lingkup Eselon II, urusan keuangan dan persuratan di masing-masing eselon III harus dijalankan oleh pelaksana yang sebenarnya tidak mempunyai tupoksi tersebut, sehingga muara akhirnya tidak bisa berjalan maksimal.

Bila boleh beropini, ada baiknya bila urusan TU ditingkatkan menjadi pejabat eselon III, sehingga nantinya bisa memiliki 3 (tiga) subbag, yang masing-masing subbag bisa diisi dengan satu urusan perencanaan, urusan keuangan, dan urusan persuaratan (di dalamnya juga memuat tentang pengurusan jadwal serta pendampinga pimpinan). Masing-masing subbag tidak lagi hanya terfokus pada rekapan perencanaan, keuangan, dan persuratan eselon II, tapi mereka pun harus bisa mengurusi perencanaan, keuangan, dan persuratan di masing-masing eselon III.

Grand design-nya adalah adanya dikotomi yang jelas antara pelaksana teknis kegiatan dengan pelaksana urusan perencanaan, keuangan, dan persuratan. Sehingga pelaksana di masing-masing eselon III benar-benar fokus pada urusan yang telah menjadi tupoksinya (kinerja-nya) tanpa harus disibukan dengan pencairan dan pertanggungjawaban keuangan. Biarkan urusan dapur (keuangan, perencanaan, dan persuratan) dikerjakan juga oleh ahlinya. Sehingga nantinya yang harus diawasi oleh pimpinan adalah koordinasi yang baik antara pelaksana teknis kegiatan dengan pelaksana yang mengurusi keuangan. Karena tidak akan ada kegiatan tanpa uang. Dan tak ada uang bila tidak kegiatan.

Well, that's it, I have to end it now before it gets more comlicated and sounds weird!
at least, itu-lah pemikiran yang ada dalam otak saya saat ini.

Wallahu'alam.

Selasa, 17 April 2018

Sisi lain.

Selasa, 1 Syaban 1439 H // 17 April 2018
08.30 WIB
 
Kehidupan dunia memang hanya akan berputar pada 2 (dua) keadaan. Antara kita bersyukur atau bersabar. 
 
Berputar antara kebahagiaan yang membuat kita bersyukur karenanya atau sebaliknya, sebuah kesedihan akan datangnya musibah yang memaksa kita bersabar menjalaninya.
 
Dunia ini bukan surga sehingga tak mungkin segala sesuatunya terus indah penuh gelak tawa bahagia. Tapi dunia ini pun bukan neraka, yang setiap harinya kesedihan melanda dihiasi tangis beriring sakit.
 
Maka tak heran bila ada pepatah yang mengatakan bahwa setelah jalan menanjak pasti ada turunan. Hal itu tidak bertentangan dengan syariat karena Allah, rabbul alamin telah berfirman, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh : 5-6)
 
Berkenaan dengan ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan. Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.” 
 
Toh, titik beratnya bukan pada kebahagian atau kesedihan tapi sikap apa yang kita tunjukan ketika kebahagian dan kesedihan itu datang menghampiri. 
 
Qodarullah wa maa-syaa-a fa'ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya), saat ini Paman (Uwa) saya sedang terjerat kasus hukum. Sebuah pukulan telak bagi keluarga besar saya terutama keluarga besar dari jalur Ibu.

Beliau tidak hanya menjadi tulang punggung bagi keluarganya tapi menjadi tulang punggung keluarga besarnya yaitu adik-adiknya. Karena beliau lebih mapan secara ekonomi dan jabatan diantara keluarga lainnya.

Dan sejauh yang saya ingat, beliau menerima tanggung jawab itu dengan jiwa besar. Beliau tidak lantas menelantarkan keluarga besarnya. Beliau merangkul semuanya. Di balik sikapnya yang cenderung dingin ketika berkumpul, tapi saya selalu yakin beliau menyimpan hati yang sangat baik. Selayang pandang, beliau seperti acuh tapi sungguh beliau sangat memberikan perhatian kepada keluarga besarnya.

Saya tidak bisa memungkiri, setelah rahmat dan taufik dari Allah ta'ala, maka selanjutnya Paman saya begitu berpengaruh pada banyak hal yang telah saya dapatkan saat ini. Maka ketika kini beliau harus menjalani sebuah proses hukum, terlepas dengan apa status hukum beliau saat ini, secara manusiawi saya bersedih dan harus sekuat tenaga menahan tangis dalam dada.
 
Saya pribadi telah lama khawatir kasus hukum ini akan menimpa beliau. Pada tulisan saya yang berjudul Transisi, sedikitnya saya telah menyinggung permasalahan itu. Sikap beliau yang mungkin terlalu baik disamping godaan kekuasaan yang terus menghampiri membuat beliau pada akhirnya terjebak pada situasi seperti sekarang ini.

Tapi apa mau dikata? Ini takdir Allah ta'ala dan ini pasti yang terbaik. Saya berdo'a, semoga situasi ini bisa kami lewati dengan penuh kesabaran dan menjadi titik balik kehidupan beliau dan kami untuk hanya bersandar serta berharap pada Allah ta'ala.
Aamiin!

Rabu, 27 Desember 2017

Tips Hijrah

Jum'at, 4 Rabi'ul Akhir 1439 H // 22 Desember 2017
10.46 WIB

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Alhamdulillah, dengan segala kebaikan dari-Nya, kita semua akan segera melewati tahun 2017 masehi dan insyaallah ta'ala bergerak maju menuju tahun 2018 masehi. Banyak hal yang harus saya syukuri. Dan dari banyaknya nikmat itu, nikmat hidayah akan Islam dan Sunnah adalah nikmat yang sangat layak saya tempatkan di urutan pertama daftar hal-hal kenikmatan Allah ta'ala.

Kenapa nikmat Islam dan Sunnah?

Karena masih banyak manusia di dunia ini yang belum merasakan nikmatnya berada di atas agama yang Haq. Bahkan banyak orang yang telah menjadikan Islam sebagai agama dalam hidupnya tapi belum tergugah untuk berpedoman pada Sunnah dalam mengarahkan kehidupannya.

Jadi, Islam dan Sunnah adalah dua nikmat yang harus kita minta pada-Nya dan bila telah datang menghampiri. Terus pegang erat, dan gigit dengan gigi geraham sekencang mungkin!
Minta pada Allah ta'ala agar nikmat itu tak pergi meninggalkan kita.

Pada tulisan ini, saya akan coba berbagi pengalaman, bisa juga disebut sebagai tips dalam mencapai atau menggapai hidayah Allah ta'ala. Walaupun point utamanya adalah hidayah taufik murni kuasa Allah rabbul alamin, tidak ada yang bisa memberikan jalan bagi yang Dia kehendaki sesat dan tidak ada yang bisa menyesatkan seseorang yang Allah ta'ala berikan hidayah.

Kita, saya dan anda, hanya bisa menjadi wasilah atau pembuka jalan bagi orang lain dalam mendapatkan hidayah itu. Bisa jadi, satu jalan yang efektif bagi saya untuk menyadarkan tidak berdampak apapun bagi anda. Atau justru sebaliknya, hal-hal yang remeh bagi kehidupan spiritual anda, seketika menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam membalikan hati saya untuk kembali kepada jalan-Nya.

Media sosial, dalam hal ini youtube, memiliki peran penting dalam kehidupan saya. Karena melalui youtube saya bisa mendengarkan banyak kajian Islam yang menjelaskan apa hakikat Islam dan apa urgensi hidup dengan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pengetahuan-pengetahuan itu yang kemudian mengantarkan saya pada hidayah-Nya. Alhamdulillah.

Karena dewasa ini, dengan izin Allah ta'ala tentunya, sangat mudah untuk menemukan berbagai macam kajian Islam di youtube. Banyaknya akun dakwah yang dengan cerdasnya memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi untuk menyebarluaskan pesan Islam.

Di satu sisi, kemudahan itu adalah berkah, karena kita bisa dengan mudah mendapatkan jawaban terkait pertanyaan yang ada dalam benak. Tapi di sisi yang lain, banyaknya media dakwah dengan berbagai penceramahnya, membuat orang awam "terjejali" berbagai macam pemahaman Islam yang beragam. Kebenaran menjadi samar. 

Karena walaupun sama-sama membawakan ayat Al-Qur'an serta Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tapi ayat dan hadits itu dikemukakan dengan berbagai macam pemahaman. Maka itu yang bahaya!

Tentu kita semua sepakat bahwa segala sesuatu, bila ingin bertahan lama, harus dibangun dengan pondasi atau dasar yang kuat. Kita pun tentu maklum, bahwa tidak semua hal bisa kita katakan sebagai sebuah "pondasi".

Kita misalkan dengan sebuah rumah, saya pikir tidak ada diantara kita yang akan mengatakan bahwa pintu rumah adalah pondasi untuk terbangunnya rumah. Dan kita pun akan setuju bila rumah tidak dibangun dengan pondasi yang kuat, maka sebuah rumah tidak akan bisa untuk bertahan lama.

Analogi itu kita bawa pada urusan agama. Dengan mudahnya akses informasi, khususnya agama, banyak orang yang mulai tergugah untuk mulai mendalami ilmu agama. Mulai sedikit demi sedikit ingin kembali pada dekapan Allah ta'ala. Tapi mereka "membangun"-nya tidak dengan "pondasi" yang benar sehingga hasilnya hanya "hangat-hangat tai ayam" atau berubah hanya dalam "kemasan".
Naudzubillah. 

Saya bukan ustadz. Saya adalah anak kemarin sore yang sedang berusaha mendalami ilmu agama. Jadi tulisan ini, seperti yang telah saya katakan di awal, hanya sebuah usaha saya untuk berbagi pengalaman. Karena dengan cara ini, alhamdulillah, saya bisa (sampai dengan saat ini dan mudah-mudahan hingga nanti saya mati) terus berusaha berjalan di atas Islam dan hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam

Langkah awal yang saya sarankan ketika kita berada dalam tahapan awam sama sekali dengan Islam. Masih berjalan seperti kebanyakan orang. Maka kita harus memahami dulu apa konsep Islam dan konsekuensinya menjadi muslim. Pemahaman dasar berkenaan dengan status kita sebagai seorang Muslim, insyaallah ta'ala bisa didapatkan dalam beberapa kajian sebagai berikut :
2. 1+1=3
3. From Hero to Zero 

Insyaallah ta'ala gambaran umum berkenaan dengan konsep sebagai seorang Muslim akan kita dapatkan dari 3 (tiga) kajian tersebut diatas. Saya pribadi mempunyai pendapat bahwa kita harus terlebih dahulu mendudukan apa itu "Islam" dan "Muslim" karena dewasa ini kita terlanjur terpapar dengan banyak "-isme"  dari luar. Entah melalui pendidikan, film, musik, dan hal-hal lain, dampak dari mudahnya akses informasi, mudah kita dapatkan dan masuk dalam alam bawah sadar. Sehingga tanpa kita sadari, tingkah laku kita sebagai seorang Muslim pun terkontaminasi dengan "-isme" tersebut.

Selanjutnya apabila kita telah me-reset pemahaman kita tentang apa itu Islam dan Muslim, maka langkah selanjutnya adalah kita harus meluruskan niat. 

Untuk apa kita berubah? Apa yang akan kita dapatkan dari usaha kita mendekatkan dari kepada-Nya? 

Karena hijrah atau perubahan yang akan kita lakukan pasti akan berdampak luas pada kehidupan yang telah kita jalani selama ini. Banyak hal yang harus kita korbankan dan tentu kita tak ingin banyaknya pengorbanan itu berlalu begitu saja. Atau kita menyerah di tengah jalan. Maka kajian dengan judul Hijrah, angan dan realita, bisa, dengan izin Allah ta'ala, untuk meluruskan niat atau bahkan menguatkan niat kita untuk berhijrah.

Konsep yang benar tentang Islam, paham dengan konsekuensi sebagai Muslim, dan niat yang lurus untuk kembali pada-Nya, maka insyaallah ta'ala kita telah siap untuk masuk ke tahapan selanjutnya, yakni tahapan untuk memahami agama Allah subhanahu wa ta'ala dengan pemahaman yang paling benar dan sesuai dengan yang diinginkan oleh-Nya. 
1. Bukan manhaj alternatif (1)
2. Bukan manhaj alternatif (2)

Ini yang telah saya singgung di awal, bahwa dampak buruk dari maraknya kajian adalah beragamnya pemahaman tentang ayat dan hadits. Dan ini adalah kesalahan yang sangat fatal karena bila kita berubah dengan sebuah pemahaman yang keliru maka akan sulit kita untuk kembali pada jalan yang seharusnya. Kita terlanjur "cinta" karena merasa "pemahaman" itu yang telah membuat kita dekat kepada Allah ta'ala.

Alhamdulillah, konsep dasar telah kita perbaiki, niat telah kita luruskan dan beragama dengan cara telah Allah ta'ala rekomendasikan, maka kita, insyaallah ta'ala berada di jalan yang tepat untuk terus meniti jalan menuju-Nya. 

Setalah ini, maka kita harus mau dan memaksakan diri untuk terus memperdalam ilmu, terutama ilmu pokok/prinsip dalam beragama, yakni tentang akidah/tauhid, dan adab/akhlak. Disamping 2 (dua) kajian tersebut kita pun harus juga membenahi fiqih-fiqih ibadah sehari-hari dan fiqih muamalah yang sedang kita jalani, misalnya fiqih thaharah, sholat dan fiqih tentang pekerjaan yang kita tekuni saat ini.

Tapi inti dari segalanya adalah perbaikan akidah, perbaikan keimanan. Karena itu inti agama. Tanpa inti yang benar maka perintah apapun yang datang, terlebih dengan latar belakang kita yang terlalu lama jauh dari agama, akan cenderung menolak setiap perintah yang tidak sesuai dengan syahwat atau kepentingan duniawi. Padahal moto hidup yang harus kita kedepankan adalah "sami'na wa atho'na, kami dengar dan kami taat."

Moto itu tidak akan keluar tanpa usaha, tanpa perbaikan. Moto itu keluar dengan penuh perjuangan dengan banyak perbaikan.

Jangan kita sibukan diri dengan urusan-urusan yang banyak terdapat perbedaan ilmiah di kalangan ulama karena itu bukan porsi kita. Hal itu justru akan memperuncing perbedaan diantara kita sesama muslim. Karena bila perbedaan itu bukan di ranah akidah maka insyaallah ta'ala kita masih tetap saudara satu muslim.

Wallahu'alam.

Jumat, 01 Desember 2017

Ibu Rumah Tangga

Jum'at, 13 Rabi'ul Awal 1439 H // 1 Desember 2017 13.20 WIB

PEMBUKA
Dewasa ini, di zaman ketika Allah Ta'ala membuka lebar pintu ilmu. Justru keadaan mayoritas manusia berada sangat jauh dari pemahaman agama Islam yang benar. Bandingkan dengan keadaan di zaman para sahabat, tabi'in, tabiut tabi'in, dan zaman-zaman ulama besar ahlus sunnah setelahnya yang sebenarnya akses untuk mendapatkan ilmu sangat sulit. Tapi mereka mampu mengamalkan agama dengan sangat baik, melahirkan banyak kitab yang alhamdulillah sampai dengan saat ini sangat bermanfaat bagi kita.

Salah satu masalah yang kini ramai diperbincangkan adalah berkenaan tuduhan "kolotnya" ajaran yg menyatakan bahwa tugas utama wanita adalah mengurus rumah tangga. Dengan berbagai paham yang ada sekarang ini, maka orang-orang mengecam (atau setidak-tidaknya mencibir) tindakan suami yang melarang istrinya untuk bekerja. Terlebih ketika suami itu berargumen dengan dalih agama, maka kecaman itu semakin lantang dan kuat menerkam. Karena faktanya tidak sedikit, yg dianggap sebagai "ustadz" atau mengaku sebagai "ustadz", memberikan fatwa yang justru mendorong wanita untuk bekerja di luar rumah, selayaknya seorang lelaki. Ya, secara umum, Islam tidak mutlak mengharamkan seorang istri untuk bekerja. Tapi pembolehan itu perlu pembahasan yang sangat detail dan bersifat kasuistis.

Baik, anggaplah permasalahan ini sebagai  sebuah diskusi ilmiah. Sebuah perbedaan pendapat selayaknya masalah agama kontemporer lainnya. Maka seharusnya kubu yg kontra dan pro saling menghargai dan saling beradu argumen dengan cara yang elegan. Oleh karena itu, izinkan saya sebagai salah satu orang yang pro bahwa tugas utama wanita (istri) adalah menjadi ibu rumah tangga, untuk menyampaikan argumen yang saya miliki dan sampai dengan saat ini saya yakini. Mari kita saling menghargai.

LATAR BELAKANG MASALAH
Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Dianggap sesuatu yang rendah karena tujuan akhir dari mengurus rumah tangga adalah taat kepada suami dan mendidik anak. Outputnya adalah ridho suami dan anak yang sholeh/sholehah. Maka jelas output yang dihasilkan sangat tidak "populer" dan sangat tidak "duniawi". Dibandingkan dengan uang yang jelas didapat setiap bulannya. 

Saya akui, tidak semua wanita, menjadikan alasan di atas sebagai argumennya. Argumen lain biasanya berkisar pada keinginan untuk mengekspresikan diri (aktualisasi) atau merasa mempunyai hak yang sama dengan lelaki. 

Intinya adalah semua alasan di atas didasari oleh sebuah pola pikir. Nah, terkadang karena cepatnya laju informasi. Maka kita seringkali menomor duakan syariat. Kita terlebih dahulu terpapar oleh -isme di luar Islam. Sehingga kemudian sulit menerima ketika ternyata syariat berkata lain.

DALIL ISTRI HARUS MENJADI IBU RUMAH TANGGA
“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa janganlah wanita keluar rumah kecuali ada hajat seperti ingin menunaikan shalat di masjid selama memenuhi syarat-syaratnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 182).

Menetap dan tinggalnya wanita di rumah merupakan perkara yang disyariatkan oleh Allah Ta’ālā. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullāh menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah menetaplah kalian di rumah kalian sebab hal itu lebih selamat dan lebih memelihara diri kalian. Tinggalnya wanita di rumah berarti dia melaksanakan urusan rumah tangganya, memenuhi hak-hak suami, mendidik anak-anaknya, dan menambah amal kebaikan. Sedangkan wanita yang sering keluar rumah, akan membuatnya lalai dari kewajiban.

Disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

FATWA ULAMA
Pada asalnya, kewajiban mencari nafkah bagi keluarga merupakan tanggung jawab kaum lelaki. Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullāh berkata, “Islam menetapkan masing-masing dari suami dan istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya masing-masing  sehingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui, dan mengasuh mereka, serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya seperti mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya, berarti ia telah menyia-nyiakan rumah serta para penghuninya. Hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan dalam keluarga baik secara hakiki maupun maknawi.”

PENUTUP
Well, sebenarnya masih banyak dalil syar'i yang penulis dapatkan ketika mencoba mencari argumen bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia dalam pandangan syariat. Dan saya pun sangat yakin semua dalil itu juga telah diketahui oleh mayoritas kaum kontra terlebih mereka yang memang beragama Islam. Tapi seperti apa yang telah saya sampaikan di awal, zaman sekarang banyak syubhat yang terbungkus indah. Sehingga hakikatnya sesat tapi terasa benar. Terlebih hidayah taufik adalah mutlak milik Allah ta'ala. Jadi, tak mengapa bilih permasalahan ini terus menyajikan kubu pro dan kontra dalam praktiknya.

Sekali lagi, saya hanya ingin, kita saling menghargai satu sama lainnya. Kami, kubu pro, insyaallah bertindak tidak berdasarkan syahwat atau rasa kecenderungan ingin menjajah kaum wanita. Kami hanya mencoba tunduk pada perinrah syariat sesuai dengan pemahaman salafus sholih.

Wallahu'allam.
Wallahul musta'aan.

SUMBER TULISAN




Rabu, 27 September 2017

Hadir kembali!

AHAD, 11 MUHARAM 1439 H // 1 OKTOBER 2017
05.42 WIB

Masyaallah, terakhir saya berkhalwat dengan blog ini adalah pada hari Selasa tanggal 3 bulan Syawal tahun 1438 H yang bertepatan dengan 27 Juni 2017. Itu artinya 2 (dua) bulan (Dzulqadah dan Dzulhijah) telah saya lewati tanpa sempat menuliskan apapun di blog ini atau bahkan hitungan secara masehi saya telah 3 (tiga) bulan (Juli, Agustus, September) tidak menyempatkan waktu untuk mendudukan hati dan pikiran kedalam tulisan, sekedar melempar ide atau semangat atau mungkin nasihat. Yang sejatinya semua itu saya niatkan untuk perbaikan diri saya pribadi. Karena dengan menulis, ide-ide itu tersusun sistematis dan mampu untuk terkendali dengan baik.

Tapi disisi yang lain, saya bersyukur karena tidak menulis. Kenapa? Itu artinya saya meringankan beban saya di akhirat nanti. Karena, kita sebagai muslim, salah satu bentuk keimanan adalah meyakini adanya hisab di akhirat. Dan sungguh peristiwa hisab bukanlah sebuah perkara yang mudah. Tak akan ada yang terlewatkan sedikitpun dari apa yang telah kita lakukan di dunia ini. Semua tercatat, dan demi Allah! Semua akan Allah ta'ala mintai pertanggungjawaban.

Anda masih meragukan hal itu? Subhanallah! Mari kita renungkan logika sederhana. Apakah anda meminta untuk dilahirkan di dunia ini? Tentu tidak! Qodarullah, kita semua terlahir dan akhirnya hidup. Arab badui berkata bahwa tidak mungkin ada tai unta bila tidak ada unta. Maka tidak mungkin ada makhluk seindah manusia tanpa ada Sang Pencipta, Allah Rabbul alamin.

Jadi wajar dong kemudian kita katakan bahwa hidup ini adalah "pinjaman" dari Allah ta'ala. Maka Allah ta'ala yang telah memberikan "pinjaman", sangat berhak untuk meminta pertanggungjawaban pada kita atas apa yang telah kita lakukan dengan "barang" pinjaman ini. Apakah telah sesuai dengan kehendak Allah ta'ala atau justru jauh dari segala syariat-Nya.

Allah ta'ala, adalah dzat yang Mahaadil. Tidak dan tak akan pernah mungkin berbuat dzalim! Jangan pernah berpikir bahwa hal yang kita lakukan itu terlalu kecil sehingga tak mungkin tercatat. Naudzubillah, itu berarti kita meragukan ke-mahaadil-an Allah ta'ala!

Maka tulisan adalah bentuk lain dari perkara lisan. Jadi akan tercatat dan saya harus siap menjawab segala pertanyaan nanti di akhirat.

Akan tetapi disisi yang lainnya, kita pun harus bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena sungguh surga tidak didapatkan dengan malas berdiam diri tak ada usaha. Surga itu mahal! Ada harga yang harus kita bayar untuk bisa meraih tiket masuk ke surga.

Fitrah yang ada pada mayoritas manusia adalah mendapatkan tiket dengan cara yang cepat. Terbukti di beberapa atau bahkan semua tempat hiburan, disediakan fasilitas antrian cepat, walaupun konsumen dikenakan biaya yang lebih mahal. Fasilitas itu tetap menjadi primadona. Karena memang manusia itu ingin selalu cepat dan instan!

Maka dalam urusan meraih surga pun demikian. Manusia ingin mendapatkannya dengan cara yang cepat. Alhamdulillah, syariat juga memungkinkan kita untuk melakukan hal itu. Sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, setiap dari kita yang mampu untuk menunjukan kebaikan maka kita pun akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang melakukannya.
Di kasus yang lain, kita pun akan terus mendapatkan kucuran pahala atas dasar ilmu kebaikan terlebih ilmu agama yang telah kita ajarkan.
Bahkan setelah kita mati pahala itu akan terus mengalir! Allahuakbar!

Dua hal itu akan kita dapatkan dengan cara menulis. Terlebih di zaman sekarang ini. Ketika untuk sebagian orang berselayar di dunia maya telah menjadi kegiatan wajib sehari-hari. Maka insyaallah ta'ala apabila kita mampu untuk share tulisan-tulisan yang berisikan nasihat taqwa atau mungkin sekedar nasihat kebaikan hidup di dunia yang bersifat mubah, semua itu akan menjadi pahala bagi kita di akhirat nanti.

Maka dengan dua sudut yang bertolak belakang itu, saya sungguh harus sangat bijak dalam berinteraksi dengan blog ini. Pemikiran ini memang sebuah mindset baru yang saya dapatkan, alhamdulillah atas hidayah yang telah Allah ta'ala berika. Semoga Allah ta'ala memberikan saya kekuatan untuk istiqomah di atas sunnah. Aamiin.

Tulisan-tulisan yang telah lalu banyak yang tidak memenuhi kaidah kebaikan sesuai syariat. Tapi saya sengaja tidak menghapusnya dengan harapan orang-orang yang telah dan pernah datang di blog ini bisa mengambil pelajaran bahwa perubahan dalam hidup menuju kebaikan bukan hal yang tercela. Ketika harus "menjilat ludah sendiri" untuk menuju perubahan yang lebih baik maka jangan sungkan untuk dilakukan. Juga sebagai bukti bahwa "hijrah" bukan perkara instan, ada proses dan progres. Terlebih di zaman fitnah dewasa ini.

Lalu apa yang terjadi di bulan-bulan yang saya lewati tanpa menulis itu? Well, alhamdulillah di tanggal 5 Syawal 1438 H (29 Juni 2017) saya bisa melaksanakan salah satu syariat Islam yakni menikah. Di awal bulan Juli (kurang lebih 2 pekan) saya melaksanakan Diklat. Sepulangnya dari diklat, qodarullah pekerjaan di kantor sedang dalam frekuensi tinggi. Semua itu menjadi "alasan" bagi saya untuk sejenak menepi dari blog.

Akan tetapi satu yang menarik adalah ternyata perubahan status dari lajang menjadi menikah terlebih dengan kondisi harus terpisah jarak bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Masyaallah! Dengan frekuensi kerja yang cukup tinggi ditambah harus terpisah dari istri, merupakan ujian psikis yang harus saya hadapi. Jadi memang di 3 (tiga) bulan itu saya masih mencoba "beradaptasi".

Insyaallah ta'ala bila memang Allah izinkan, di kesempatan yang lain saya akan bercerita banyak tentang pernikahan yang telah saya lalui. Karena saya ingin berbagi dengan harapan menjadi inspirasi atauh ya sekedar penambah masukan bagi mereka yang berdalih bahwa mustahil untuk melaksankan proses pernikahan yang sederhana dan semaksimal mungkin berusaha untuk mendekati sunnah.

Maaf bila tulisan ini hanya sekedarnya, ini hanya mukadimah. Tulisan latihan karena 3 (tiga) bulan tidak menulis.

Wallahu'allam.
Semoga tulisan ini memberikan manfaat.

Selasa, 27 Juni 2017

Menuju Pernikahan (2)

Selasa, 3 Syawal 1438 H // 27 Juni 2017
08.56 WIB

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmushalihaat, pernikahan yang dulu baru sebatas wacana, kini telah berada di depan mata dan akan segara menjadi nyata! Allahuakbar! 
Demi Allah, ini bukan perkara kecil. Tapi sebisa mungkin saya tak menunjukan wajah takut atau segala bentuk raut muka perasaan negatif. Saya memilih banyak diam. Fokus untuk meluruskan niat dan belajar serta memahami beberapa sunnah nabi shallallallahu alaihi wa sallam selepas pernikahan.

Banyak orang, terutama mayoritas keluarga saya, bertanya tentang bagaimana proses yang saya lakukan. 2 (dua) hal yang menjadi inti pertanyaan mereka adalah sudah berapa lama saya mengenal dia dan kenapa harus terburu-buru dalam menentukan tanggal pernikahan. 
Kedua hal itu saling berkaitan satu sama lainnya karena mereka heran dengan keputusan yang saya ambil. Mereka beranggapan bahwa saya terlampau cepat (tergesa-gesa) dalam mengambil keputusan. Mereka berada di atas kekhawatiran bahwa saya tidak atau belum berpikir matang dalam memilih pasangan hidup.

Kekhawatiran mayoritas saudara saya sungguh dapat saya pahami. Karena saya memang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Saya bukan lulusan pesantren. Saya pun tidak aktif di organisasi Islam manapun. Begitu juga dengan keadaan mayoritas saudara saya, keadaan agama kami tidak jauh berbeda. Jadi, ketika kini saya mulai berusaha untuk hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam, menerapkannya di seluruh segi kehidupan. Termasuk dalam hal ini menjadikan tolak ukur dalam memutuskan urusan pernikahan dengan nasihat-nasihat para ulama, hal itu jelas menjadi sangat asing di telinga mereka. Karena mayoritas saudara saya belum berusaha menerapkan sunnah di luar ritual ibadah.

Maka sangat wajar mereka terkejut ketika saya jelaskan bahwa saya belum pernah “jalan-jalan” atau menghabiskan waktu berdua dengan dia. 
Sangat wajar mereka terkejut ketika saya katakan bahwa saya mengenal dia kurang lebih hanya 3 (tiga) bulan dan hanya pernah bertemu langsung dengan dia 2 (dua) kali. 
Sangat wajar mereka terkejut ketika saya memutuskan menikah tidak lama berselang setalah hari raya idul fitri. 
Dan sangat wajar mereka terkejut ketika mengetahui bahwa konsep resepsi yang akan mereka hadiri akan dipisah antara tamu lelaki dan wanita.

Alhamdulillah, saya telah terbiasa dengan reaksi-reaksi seperti itu karena ini bukan pertama kali mayoritas saudara saya menunjukan keanehan atau keterkejutan terhadap keputusan yang saya ambil sebagai konsekuensi saya untuk senantiasa berusaha hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam
Saya hanya berusaha meyakinkan mereka bahwa apa yang saya yakini dan berusaha saya lakukan saat ini bukan sesuatu hal yang “sesat” tapi merupakan sesuatu hal yang memiliki landasan ilmu yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Semua sumber rujukan beragama yang saya jadikan hujjah bisa untuk mereka baca dan kritisi secara gamblang, tidak ada yang ditutupi dan sangat terbuka ruang untuk saling berdiskusi, saling memberikan masukan.

Insyaallah ta’ala saya telah yakin memilih dia sebagai pasangan hidup. Ya, saya belum mengetahui detail kehidupannya. Saya belum mengetahui bagaimana watak/karakternya secara rinci. Tapi itu bukan yang utama. 
Ketika saya telah memilih untuk berusaha hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam maka hal-hal itu bukan menjadi prioritas bagi saya. Apa yang menjadi prioritas bagi saya adalah tentang visi dan misi kehidupannya. Alhamdulillah, saya dan dia memiliki visi dan misi yang sama dalam memandang kehidupan, terutama kehidupan berumah tangga kedepannya. 
Kami berdua siap taat dan patuh pada firman Allah azza wa jalla dan sabda nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Maka itu yang utama.

Akan tetapi saya pun tak bisa memungkiri ada perasaan takut dan kekhawatiran yang masih tersisa dalam hati. Proses ta’aruf antara dia dan saya tak berjalan mulus begitu saja. 
Ada perbedaan yang sangat mencolok. Dan itu berkenaan dengan prinsip. Sehingga sempat berdiskusi alot. Pada akhirnya dia mau untuk mengalah, melepaskan apa yang telah dia perjuangkan selama lebih kurang 5 (lima) tahun. Fakta bahwa dia telah lama berjuang di dalamnya, membuat saya takut dan khawatir bahwa dia tidak sepenuhnya benar-benar melepaskan semua itu. Saya takut dan khawatir ini akan menjadi polemik ketika nanti telah berumah tangga. 
Tapi saya pun harus adil, saya harus ber-khusnudzan terhadap apa yang telah dia putuskan. Jadi, bissmillah, biidznillah.

Akhirnya, semoga Allah ta’ala memudahkan segala niat baik hamba-hamba-Nya dan semoga Allah ta’ala memberikan keberkahan pada pernikahan yang insyaalllah akan segera saya laksanakan. Aamiin.

Peace and Cheers!

Sabtu, 03 Juni 2017

Menuju pernikahan.

Sabtu, 8 Ramadhan 1438 H / 3 Juni 2017
13.30 WIB

Disadari atau tidak, kita telah menjadi manusia dengan paham sekuler. Sekulerisme dalam artian memisahkan antara urusan agama dan urusan dunia. Karena faktanya kita bisa konsisten untuk menjalankan setiap perintah agama, yakni perintah ritual ibadah. Tapi gagal mentransformasinya ke dalam kehidupan nyata. Seolah-olah, Islam hanya agama ritual.

Jadi di luar shalat, zakat, puasa, dan haji, maka itu bukan ibadah. Dan Islam tidak mengaturnya. Konsekuensi dari pemikiran sempit semacam itu adalah di luar ritual ibadah, yakni dalam kehidupan sehari-hari, semisal bergaul dengan sesama, bekerja, berdiskusi, bermasyarakat, berpakaian, dan sebagainya, kita gunakan "gaya" di luar Islam. Kita terapkan "-isme" selain Islam. Kita punya "standar" dan "idola" yang jauh dari Islam. Naudzubillah.

***

Ada seseorang yang berkata kepada Salman radhiyallahu ‘anhu: “Apakah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air?” Ia menjawab : “Ya, Beliau melarang kami buang air besar atau buang air kecil menghadap kiblat, beristinja’ dengan tangan kanan, beristinja’ dengan batu yang kurang dari tiga buah dan beristinja’ dengan kotoran binatang [Termasuk semua yang najis] atau tulang.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Read more https://yufidia.com/3575-tata-cara-buang-air-dalam-islam.html

Hadits tersebut di atas menurut banyak ulama adalah salah satu bukti bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Untuk perkara kecil seperti buang air, Islam telah mengaturnya, maka sangat tidak mungkin bila untuk hal yang lebih besar dari itu, Islam tidak memberikan aturan atau kaidah untuk kita menjalaninya.

Maka orang yang masih bersikeras untuk mengatakan bahwa ibadah dalam Islam hanya terbatas pada ritual, dia telah salah. Dan Muslim yang masih mencari "gaya hidup" atau "-isme" di luar Islam, maka dia telah tersesat. Wallahu'allam.

***

Dua hal di atas hanya mukadimah, saya tak akan berbicara lebih jauh tentang orang-orang yang mengaku Islam, atau setidak-tidaknya ber-KTP Islam tapi enggan untuk mempelajari Islam.

Saya hanya ingin berbicara tentang hal yang jauh lebih sederhana dari mukadimah di atas. Ini perihal usaha saya untuk terus istiqomah di atas sunnah.

Salah satu usaha yang saat ini sedang saya usahakan adalah berusaha untuk menyegerakan pernikahan. Kenapa? Karena tanpa pernikahan agama seseorang (lelaki khususnya) belum-lah sempurna. Terlebih untuk seseorang seperti saya, yang memang dari awal terlanjur akrab dengan dosa. Telah banyak tersentuh oleh hal-hal yang telah jelas dilarang oleh agama. Maka urusan syahwat menjadi titik rawan yang harus saya benahi.

Manusia harus terlebih dahulu mengenali apa yang menjadi kekurangan dalam dirinya untuk bisa kemudian melakukan perubahan positif. Kita harus terlebih dahulu mengakui "penyakit" yang ada dalam diri, untuk kemudian melakukan langkah-langkah penyembuhannya.

Dan yang menjadi "penyakit" yang harus saya sembuhkan adalah perihal syahwat. Bukan pada harta ataupun tahta, tapi pada wanita!

Di dalam Islam, satu-satunya cara yang diridhoi Allah ta'ala dalam menyalurkan kebutuhan biologis manusia, yang dalam hal ini syahwat kepada lawan jenis, adalah melalui hubungan badan dalam ikatan pernikahan yang sah. Tidak ada cara lain!

Sehingga menjadi sangat jelas, tanpa adanya pernikahan maka saya belum beragama secara sempurna. Karena salah satu kebutuhan tubuh belum bisa saya penuhi. Saya, dalam bahasa lainnya, masih berlaku dzalim pada diri sendiri. Karena Islam telah mengatur semuanya, termasuk tentunya pengaturan dalam pemenuhan kebutuhan.

Alhamdulillah, kebutuhan lain telah saya usahakan untuk saya penuhi sesuai dengan tuntunan sunnah. Tapi untuk kebutuhan biologis, maka tuntutan syariat hanya ada satu, yakni pernikahan.

Maka saya tak punya lagi alasan untuk menunda-nunda sebuah pernikahan.

Qodarullah, saya hidup di akhir zaman, dan hidayah sunnah tak saya dapatkan sedari kecil. Sehingga pernikahan yang sebenarnya adalah sebuah ibadah dalam sudut pandang Islam, telah memiliki makna lain di mata masyarakat, yang sebenarnya mayoritas Islam. Ironi.

Pernikahan dipandang sebagai sesuatu hal yang "mewah", penjewantahan dari sebuah kemapanan. Di sisi lain, ada juga yang melihatnya sebagai sebuah pengekangan kebebasan, sehingga hanya boleh dilakukan ketika semua ekspresi diri sebagai makhluk tanpa ikatan telah habis dicurahkan.

Daripada melangsungkan pernikahan, mereka lebih memilih untuk saling mengenal dalam balutan pacaran (saya pernah termasuk di dalamnya bahkan menulis pembelaan tentangnya dan kini saya bertaubat darinya).

Subhanallah, dengan alasan belum adanya kesiapan, terutama dari segi materi. Lalu alasan belum mapannya karir. Mereka menepikan kebutuhan biologis. Alhamdulillah bagi mereka yang mampu mengontrol kebutuhan itu sehingga bisa untuk tersibukan dengan hal positif.

Melawan lingkungan adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mencari pasangan yang satu visi memandang kehidupan juga kesulitan lain yang harus terpecahkan.

Tapi, Allah ta'ala adalah sebaik-baik perencana. Dia memang maha membolak-balikan hati manusia. Dan alhamdulillah, kini pernikahan itu telah ada di depan mata.

Di sini ujian lain mulai saya rasakan. Di saat-saat seperti ini, keimanan saya pada syariat Islam, pada semua janji Allah ta'ala mendapatkan goncangan. Bagaimana tidak, saya akan menjalani sebuah pernikahan dengan wanita yang belum pernah saya habiskan waktu berdua dengannya. Semua komunikasi kami lakukan secara tegas tanpa ada basa-basi di dalamnya. Allahuakbar, bagi saya yang meng-klaim baru berhijrah, maka ini adalah hal yang sangat baru! Saya akan menikah dengan wanita "asing"!! Bissmillah..

Ujian lainnya adalah berkenaan dengan nafkah yang harus saya berikan. Seperti yang telah saya katakan di awal tulisan. Muslim harus bisa mentranformasikan nilai-nilai Islam kepada kehidupan sehari-hari. Ujian penerapan syariat Islam bukan pada ritual ibadahnya tapi pada penerapannya dalam kehidupan bermuamalah.

Saya yang sedang berusaha sepenuhnya menjalani kehidupan sesuai sunnah, maka dalam hal mendapatkan pemasukan (gaji), koridor syariat pun harus saya penuhi.

Berkenaan dengan hal itu, instansi tempat saya bekerja menerapkan peraturan baru tentang mekanisme pemberian tunjangan kinerja. Aturan mulai diterapkan di awal tahun 2017. Secara garis besar tunjangan kinerja tidak lagi diberikan berdasarkan jumlah kehadiran. Tapi kini tunjangan kinerja diberikan sesuai dengan absensi kehadiran dan input pekerjaan yang dilakukan. 50% tunjangan ditentukan oleh kehadiran dan 50% lainnya ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang dilakukan.

Di awal-awal diberlakukannya aturan itu, saya pun dengan santai melakukan beberapa "kebohongan" hanya untuk mendapatkan tunjangan secara penuh. Banyak pembenaran yang saya kemukakan dalam hati.

Tapi saya pun bertanya, lalu apa makna hijrah yang saya klaim sedang saya lakukan saat ini? Bila untuk mendapatkan gaji saja saya masih berbohong? Allahuakbar. Sebuah keputusan yang sangat sulit. Karena "kebohongan" itu telah sangat lumrah. Karena hal itu berkaitan dengan berkurangnya penghasilan. Terlebih lagi saya pun masih mempunyai tanggungan hutang riba yang harus saya bereskan!

Alhamdulillah, ketika saya putuskan untuk berusaha mengurangi "kebohongan", walaupun dengan konsekuensi tunjangan setiap bulan harus saya terima dengan jumlah yang berkurang, Allah ta'ala cukupkan kehidupan saya.

Maka dengan keterbatasan penghasilan, tak ada tabungan, dan beban hutang riba setiap bulannya, saya dengan berani menambah daftar pengeluaran yakni menafkahi seorang istri!

Hitungan matematis, hal di atas tak mungkin bisa saya lakukan. Tapi, ini-lah ujian keimanan. Beriman pada setiap janji Allah ta'ala. Hidup sesuai dengan sunnah kekasih-Nya, walaupun dunia sangat jelas tertinggalkan.

Bissmillah, semoga Allah ta'ala terus menjaga niat dalam hati kami. Sehingga pernikahan yang akan kami laksanakan murni kami niatkan untuk beribadah kepada-Nya. Meyakini bahwa sepenuhnya Dia yang akan memberi rezeki. Aamiin.

Kamis, 25 Mei 2017

Salafus sholeh dan Ru'yah.

KAMIS, 28 SYABAN 1438 H / 25 MEI 2017
13.45 WIB

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."

Alhamdulillah, dengan segala rahmat-Nya, Allah ta'ala izinkan saya untuk bisa terus mengembangkan diri. Dan salah bentuk pengembangan diri yang saat ini saya alami adalah saya bisa sampai pada pemahaman tentang bagaimana sebenarnya konsep seorang Muslim yang ideal. Demi Allah, saya masih perlu banyak belajar, baik dari tataran teori maupun implementasi. Adapun kalimat tersebut saya maksudkan hanya dalam konteks bahwa di tengah-tengah banyaknya pemahaman Islam di Indonesia saat ini, dengan berbagai macam pendekatan yang mereka gunakan. Saya bisa untuk memahami Islam dengan cara, yang insyaallah ta'ala, paling baik dan paling aman.

Kata kunci yang saya tekankan di sini adalah "main aman". Karena konsekuensi sebagai orang yang mengaku Islam adalah kita harus percaya adanya kehidupan setelah kematian. Lebih jauh lagi kita harus meyakini adanya Surga dan Neraka. Bahwa apapun yang telah kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti dan kita pun akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah kita lakukan. Oleh karenanya, memahami agama dengan benar adalah harga mati karena itu akan menentukan akan dimana nantinya kita berada, apakah surga atau neraka. 

Maka cara yang paling mudah untuk bisa selamat dalam beragama adalah dengan mengikuti cara beragama orang-orang yang memang pasti akan masuk Surga. Nah, dalam Islam, Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an sebagai kitab bagi seluruh umat manusia tidak dengan begitu saja. Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an melalui, Nabi dan Rasul pilihan-Nya, yakni Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga beliau shallallahu alaihi wa sallam, sebagai orang pilihan Allah ta'ala, Nabi sekaligus Rasul-Nya, adalah orang yang paling paham dengan apa yang diinginkan Allah ta'ala
Maka setelah Muslim sepakat bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul-Nya, selanjutnya kita harus juga bersepakat bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam berbeda dengan manusia lain. Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak berbicara dan bersikap berdasarkan nafsu tapi semua ucapan dan tindakan beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah ta'ala serta beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak meninggal kecuali dalam keadaan bahwa seluruh urusan beragama dalam Islam telah beliau shallallahu alaihi wa sallam ajarkan secara sempurna. Keyakinan selanjutnya dan ini keyakinan utama adalah beliau shallallahu alaihi wa sallam pasti masuk surga.

Jadi bila ingin selamat atau "main aman" dalam beragama maka kita hanya tinggal meng-copy paste cara beragama Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Cara kita meng-copy paste pun menjadi lebih mudah karena Rasul shallallahu alaihi wa sallam tidak hidup sendiri dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam, beliau shallallahu alaihi wa sallam dibantu dan dikelilingi oleh banyak sahabat. Bahkan banyak sahabat Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang juga Allah ta'ala jamin untuk masuk surga. 
Secara logika pun, para sahabat adalah orang-orang yang hidup satu zaman dengan Rasul shallallahu alaihi wa sallam, jadi besar kemungkinan mereka sangat memahami dengan apa yang dimaksud oleh Allah ta'ala dalam setiap firman-Nya yang kemudian dijabarkan oleh hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, saya meyakini, dengan izin Allah ta'ala, bahwa Islam itu mudah. Cukup pahami Al-Qur'an dan Hadits sesuai dengan pemahaman sahabat, tabi'in (orang-orang yang hidup di zaman sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam), tabi'ut tabi'in (orang-orang yang hidup di zaman tabi'in) serta para ulama yang konsisten untuk berada pada pemikiran 3 (tiga) generasi terbaik tersebut. Apa yang mereka lakukan, kita lakukan dan apa yang mereka tinggalkan, kita pun meninggalkannya. Tentu tidak semua orang pada 3 (tiga) generasi tersebut kita ikuti, kita hanya mengikuti mereka yang sholeh. Maka cara beragama yang paling aman dan selamat menurut saya adalah beragama sesuai dengan pemahaman salafus sholeh. 
Kecuali pada perkara-perkara yang memang kontemporer, maka ruang diskusi ilmiah di kalangan para ulama sangat mungkin terjadi. Tapi untuk urusan yang telah ada sejak zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam maka rasa-rasanya, menurut saya yang awam, tak layak untuk kita kemudian ber-ijtihad suatu hukum/metode yang baru. Bila untuk sarana atau fasilitas dalam melakukan ibadahnya mungkin masih bisa berinovasi. 
Wallahu'alam.

***

As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509).

Mengikuti Al Jama’ah dalam hal penentuan Ramadhan dan hari raya adalah mengikuti keputusan pemerintah muslim yang sah yang berkumpul bersama para ulamanya yang diputuskan melalui metode-metode yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.


Melalui tulisan ini saya pun berlepas diri dan bertaubat atas tulisan-tulisan saya terdahulu dalam perihal agama yang dengan sangat jelas lebih mementingkan akal di atas dalil Qur'an dan Hadits sesuai pemahaman salafus sholeh. Tapi saya pun sengaja tidak menghapus tulisan-tulisan tersebut karena saya ingin menjadikan itu sebagai bukti nyata dari berubahnya pola pikir serta bagian dari pembelajaran.

Salah satu contoh nyatanya adalah dalam urusan penetapan awal Ramadhan, dan Syawal yang seringkali menjadi polemik diantara kaum Muslim yang ada di Indonesia. Dalam beberapa tulisan saya, saya memang pada waktu itu memilih untuk mengikuti metode hisab yang dikeluarkan oleh salah satu ormas yang ada di Indonesia. Tapi kini, insyaallah ta'ala, saya lebih meyakini keputusan yang nantinya dibuat oleh Pemerintah.

Agama Islam tidak mengajarkan untuk fanatik pada suatu kelompok. Tak ada fanatisme kelompok dan ekslusivitas dalam Islam. Islam itu agama dalil dan sangat ilmiah. Siapa yang memiliki hujjah yang lebih kuat, maka kita wajib mengikuti pendapatnya. Jadi, diskusi ilmiah dalam Islam sangat terbuka lebar. Maka dalam hal penetapan awal ramadhan dan syawal, dalil yang kini saya pahami, bahwa mentaati pemerintah harus diutamakan dari keputusan sebuah ormas. Setidak-tidaknya ada 2 (dua) argumen yang saya yakini yakni aqidah utama ahlus sunnah adalah harus taat pada pemerintah serta sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam menentukan awal ramadhan dan awal syawal adalah dengan metode ru'yah, bukan hisab.

Pertama perihal taat pada pemerintah.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menaatiku maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan termasuk dalam bentuk ketaatan kepada Allah ialah dengan menaatiku?” Maka para sahabat menjawab, “Benar, kami mempersaksikannya.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk ketaatan kepadaku adalah kalian taat kepada para penguasa kalian.” dalam lafal yang lain berbunyi, “para pemimpin kalian.” Kemudian al-Hafizh berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan dalam awal-awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan -tatanan masyarakat-.” (Fath al-Bari [13/131] cet. Dar al-Hadits)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni rahimahullah berkata, “As-habul hadits berpandangan untuk tetap mengikuti setiap pemimpin muslim dalam mendirikan sholat Jum’at, sholat dua hari raya, ataupun sholat-sholat yang lainnya. Entah dia adalah seorang pemimpin yang baik ataupun yang bejat. Mereka juga memandang kewajiban untuk berjihad melawan orang-orang kafir bersama pemimpin tersebut. Meskipun mereka itu zalim dan suka bermaksiat. Mereka juga memandang semestinya rakyat mendoakan perbaikan keadaan, taufik/hidayah, serta kebaikan untuk mereka (penguasa) dan mendoakan juga agar mereka bisa menyebarluaskan keadilan di tengah-tengah rakyat. Mereka juga memandang tidak bolehnya memberontak dengan pedang kepada mereka…” (‘Aqidah Salaf As-habul Hadits, hal. 100 tahqiq Abul Yamin al-Manshuri cet. Dar al-Minhaj berupa file pdf)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (I’lam al-Muwaqqi’in [3/4], dinukil dari ta’liq Syaikh Ruslan dalam kitab al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25 berupa file pdf) 

Syubhat yang sering terdengar berkenaan dengan pemerintah adalah adanya beberapa orang yang "berteriak" bahwa yang harus ditaati itu adalah pemerintah yang menerapkan Al-Qur'an bukan pemerintah yang tidak menerapkan Al-Qur'an, maka jawaban untuk syubhat tersebut adalah dengan hadits yang diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah rahimahullah, dia berkata, “Berkata kepadaku ‘Umar radhiallahu ‘anhu, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!” http://asysyariah.com/kewajiban-taat-kepada-pemerintah/

Pelajaran dalam hadits di atas menurut para ulama adalah Rasul shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa kelak akan ada zaman ketika pemimpin ditunjuk maupun dipilih tidak berdasarkan cara yang sesuai syariat, karena makna "hamba dari Habasyah" adalah seorang budak hitam dan tidak mungkin seorang budak hitam menjadi pemimpin di zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam tapi kemudian Rasul shallallahu alaihi wa sallam menggunakan kalimat di atas untuk menunjukan bahwa sekalipun ada pemimpin yang terpilih tanpa mekanisme sesuai cara Islami maka kita selaku Muslim wajib tetap taat!

Lalu syubhat lainnya yang juga sering terdengar adalah perihal apakah negara Indonesia ini negara kafir atau negara Islam? 
Sesungguhnya kaum muslimin berbeda pendapat mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir, menjadi lima pendapat :

Pertama : bahwa negeri islam tidak akan menjadi nergeri kafir secara mutlak, ini adalah pendapat ibnu hajar Al Haitami dan beliau menisbatkannya kepada Asy Syafi’iyyah. Kedua : Negeri islam menjadi negeri kafir dengan diperbuatnya dosa-dosa besar, ini adalah pendapat kaum khowarij dan mu’tazilah. Ketiga : negeri islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sebatas dikuasai orang kafir, namun sampai syi’ar-syi’ar islam terputus sama sekali. Ini adalah pendapat Ad Dasuki Al maliki. Keempat : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir dengan dikuasai oleh orang kafir secara sempurna. Ini adalah pendapat Abu hanifah. Kelima : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir apabila dikuasai oleh orang-orang kafir dimana mereka menampakkan hukum-hukumnya, dan ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad bin Al hasan.

Pendapat terakhir ini yang rajih dan paling kuat, berdasarkan beberapa dalil diantaranya hadits ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan, beliau bersabda :

“…dakwahilah mereka kepada islam, jika mereka menjawab maka terimalah mereka dan tahanlah dari mereka kemudian serulah agar hijrah ke negeri muhajirin…” (HR Muslim no 1731).

Disini Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai negeri muhajirin karena mereka yang menguasai negeri tersebut, maka negeri islam adalah yang dikuasai oleh kaum muslim dimana mereka mampu menampakkan syi’ar-syi’ar islam yang besar seperti melaksanakan sholat jum’at, ‘ied, puasa ramadhan, haji, dikumandangkannya adzan secara bebas dan lain-lain. Dan negeri kafir adalah sebaliknya.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah memberikan batasan syari’at mengenai ini, beliau berkata, ”Suatu negeri disebut negeri kafir atau negeri iman atau negeri fasiq bukanlah sifat yang tetap namun ia bersifat relatif sesuai dengan keadaan penduduknya.”

Beliau juga berkata, ”Negeri itu berubah-ubah hukumnya sesuai dengan keadaan penduduknya, terkadang suatu negeri menjadi negeri kafir bila penduduknya kafir, kemudian menjadi negeri islam bila penduduknya masuk islam sebagaimana keadaan Makkah yang tadinya negeri kafir.”

Dalam hadits Anas ia berkata,” Adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerang apabila tiba waktu adzan, bila terdengar suara adzan maka beliau menahan dan jika tidak beliau menyerang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini adalah dalil yang tegas bahwa adanya sebagian hukum-hukum islam yang tampak, dapat dijadikan tanda sebagai negeri islam karena ia menunjukkan siapa yang menguasai negeri tersebut.

Bila ada yang berkata, ”lalu bagaimana di zaman sekarang ini di Amerika, dan negara-negara kuffar lainnya yang dikumandangkan padanya adzan, apakah menjadi negara islam?” jawabnya tentu tidak karena penduduk disana mayoritas orang-orang kafir dan merekalah yang menguasainya dan dikumandangkannya adzan disana tidak secara bebas tidak seperti di negeri-negeri islam.” https://salafiyunpad.wordpress.com/2010/07/01/negara-tidak-berhukum-dengan-hukum-islam-negara-kafir/

Kedua : penentuan awal ramadhan dan syawal dengan metode ru'yah.

Perlu diketahui bersama bahwasanya mengenal hilal adalah bukan dengan cara hisab. Namun yang lebih tepat dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengenal hilal adalah dengan ru’yah (yaitu melihat bulan langsung dengan mata telanjang). Karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi contoh dalam kita beragama telah bersabda,

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis)[5] dan tidak pula mengenal hisab[6]. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).”

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah menerangkan,

“Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan itu tidak teranggap. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan ru’yah untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan ru’yah walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini. Jika kita melihat konteks yang dibicarakan dalam hadits, akan nampak jelas bahwa hukum sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab. Bahkan hal ini semakin terang dengan penjelasan dalam hadits,

“Jika mendung (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal), maka sempurnakanlah bilangan  bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Tanyakanlah pada ahli hisab”. Hikmah kenapa mesti menggenapkan 30 hari adalah supaya tidak ada peselisihihan di tengah-tengah mereka.

Sebagian kelompok memang ada yang sering merujuk pada ahli astronom dalam berpatokan pada ilmu hisab yaitu kaum Rofidhoh. Sebagian ahli fiqh pun ada yang satu pendapat dengan mereka. Namun Al Baaji mengatakan, “Cukup kesepakatan (ijma’) ulama salaf (yang berpedoman dengan ru’yah, bukan hisab, -pen) sebagai sanggahan untuk meruntuhkan pendapat mereka.” Ibnu Bazizah pun mengatakan, “Madzhab (yang berpegang pada hisab, pen) adalah madzhab batil. Sunguh syariat Islam telah melarang seseorang untuk terjun dalam ilmu nujum. Karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) bahkan bukan sangkaan kuat. Seandainya suatu perkara dikaitkan dengan ilmu hisab, sungguh akan mempersempit karena tidak ada yang menguasai ilmu ini  kecuali sedikit”. Sumber : https://muslim.or.id/328-menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html

***

Saya sangat menyadari, sekarang kita hidup di akhir zaman ketika kebenaran menjadi rebutan. Standar yang digunakan pun sangat beragam. Maka apa yang saya sampaikan di atas tentu akan menimbulkan banyak pertentangan. Ulama dengan ilmu sangat mumpuni pun banyak orang yang merendahkan, apalagi kata-kata yang keluar dari seorang Adima yang tak punya bekal apapun. Apalagi entah kenapa, berbicara masalah agama, semua orang mendadak menjadi cerdas tak terbatas. Maka seringnya tak mau menerima pendapat yang bertentangan dengannya.

Tulisan ini saya niatkan untuk berbagi kebaikan. Jadi semoga bermanfaat.
Wallahu'alam.