Jumat, 02 Desember 2016

Musibah

KAMIS, 2 RABI'UL AWWAL 1438 H / 1 DESEMBER 2016
17.15 WIB

"Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
As-Syura, ayat 30 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat."

"Kalau anda melihat seseorang didzalimi/disakiti oleh manusia, lalu dia tidak mengembalikan kasus itu kepada dirinya sendiri, tidak mengevaluasi diri, tidak mengaudit diri dan tidak menyalahkan kesalahan/dosa-dosanya kemudian tidak ber-istigfar, maka ini-lah musibah yang sesungguhnya."
Ucapan Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah rahimahullah yang dinukil oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri pada kajian/ceramah Islam, dengan judul "Ketika Pesona Taman Surga Mulai Memudar"

***

Apa sih musibah?

Saya akan kemukakan dua pendapat untuk memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan musibah. Berdasarkan Tafsir Al Qurthubi, musibah adalah segala sesuatu yang menyusahkan/menyakiti seseorang yang menimpa dirinya.

Adapun menurut KBBI, musibah diartikan sebagai kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa dan malapetaka (bencana).

Dari dua definisi di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa musibah pada hakikatnya adalah segala bentuk peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan/harapan.

Respon yang kemudian biasa muncul adalah kecewa. Bila hanya sekedar kecewa, itu hal yang sangat manusiawi. Tapi bila kekecewaan itu diiringi oleh beberapa sikap negatif, semisal marah, menyalahkan orang lain, dan berbagai ekspresi yang semisalnya, maka musibah yang terjadi menjadi sebuah pintu gerbang bagi keburukan.

Lho? Memangnya musibah bisa mendatangkan kebaikan?

Ya, Insya Allah sebuah musibah justru bisa menjadi awal dari banyaknya kebaikan. Hal itu bisa didapatkan apabila kita konsisten dalam menjadikan Islam sebagai pedoman hidup serta menempatkan Islam sebagai prioritas dalam kehidupan.

Di dalam konsep Islam (koreksi dan maafkan saya bila ada kekeliruan/kesalahan), setiap musibah baik yang bersifat fisik ataupun psikis, harus dijadikan sebagai sarana untuk menginstropeksi atau evaluasi diri.

Karena konsep Islam menyatakan bahwa kita akan memetik buah dari setiap perilaku yang telah kita tanam. Tak peduli apakah perilaku itu kita lakukan secara sadar atau tidak, semuanya akan mendapatkan konsekuensi. Sehingga Islam "memaksa" umatnya untuk senantiasa peka, tanggap, dan mawas diri dengan apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.

Berkaitan dengan musibah, maka Islam tidak pernah merekomendasikan umatnya untuk menyalahkan orang lain atau marah, Islam justru menginginkan kita untuk berpikir dan memeriksa secara utuh menyeluruh apa yang telah kita lakukan. Konsep seperti itu mengajari untuk bersikap ksatria. Kita-lah yang menjalani kehidupan jadi kita yang harus mengambil tanggung jawab secara penuh terhadap semua yang terjadi di dalamnya.

Jadi kebaikan yang akan didapat ketika musibah datang adalah kita bisa menjadikan moment tersebut untuk mengevaluasi diri. Karena mungkin saja tanpa adanya musibah kita terlena begitu saja menjalani kehidupan. Kita lupa untuk menginstropeksi diri, mungkin ada dosa yang kita rutinkan atau beberapa sikap yang melukai orang lain. Atau bahkan bila tanpa datangnya musibah kita terlalu nyaman menjalani kehidupan dan meninggalkan beberapa perintah Allah Ta'ala.

Maka dengan adanya musibah kita pun bisa menyadari betapa lemahnya kita sebagai manusia dan Allah Ta'ala adalah sandaran yang selalu bisa kita andalkan. 
Wallahu'alam.

***

Saya katakan di awal, konsep hidup di atas tak akan bisa diterima bila Islam belum melekat di dalam hati. Karena dalam keadaan tertekan ketika musibah datang, maka sebuah konsep berpikir menyalahkan diri sendiri adalah sebuah konsep yang tak masuk di akal.

Bagaimana mungkin kita yang sedang disakiti oleh seseorang, dan kita harus menyalahkan diri sendiri? Bukankah telah jelas pelakunya?

Ya, bila mengedepankan rasa dan akal manusia, maka tak akan bisa diterima. Tapi bila indahnya Iman dan nikmatnya Islam telah menggenggam erat seluruh jiwa raga, wahyu Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an serta sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun tidak bisa kita mengerti secara akal atau bahkan bertentangan dengan realitas yang ada, Sami'na Wa Athona.  

Demi Allah, Al-Qur'an tidak akan pernah salah dan Hadits Shahih tidak mungkin bohong! 

Bila dilihat dalam sudut pandang yang lebih luas, maka sebenarnya Islam mengajarkan sebuah pola hidup positif. Islam mengajak manusia untuk hidup secara optimis. Islam tidak ingin manusia salah dalam bersikap terutama dalam kondisi yang tidak sesuai dengan harapan.

Bahwa berpikir dan mencari solusi adalah hal yang harus dikedepankan bukan sibuk mencari dan menyalahkan orang lain atau menumpahkan emosi. Karena mari kita renungkan bersama, apakah dengan melempar tanggung jawab, mengeluh, marah, dan berbagai ekspresi yang semisalnya, kemudian sebuah musibah itu akan selesai?

Kita tentu akan sepakat mengatakan bahwa musibah tak akan bisa menghilang atau reda bila hanya dihadapi dengan emosi. Dan itu-lah sikap yang diinginkan oleh Islam.

Hanya saja manusia ketika berada dalam posisi tertekan, berada dalam situasi yang tidak dia inginkan maka nafsu seketika menguasainya. Dan sungguh tak ada hukum bagi mereka yang emosi.

Sehingga sebelum emosi mengambil alih kewarasan, maka Islam masuk didalamnya, mengatur sedemikian rupa hingga kita menyadari bahwa emosi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. 

***

Sungguh menulis rangkaian kalimat ini lebih mudah saya lakukan daripada  mengimplemntasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hakikat ilmu dan berbagai nasihat dari guru adalah untuk menghilangkan kebodohan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bukan untuk dijadikan retorika di berbagai macam media sosial.

Berkenaan dengan itu, saya yang masih sangat bodoh dan masih sangat membutuhkan banyak nasihat memutuskan untuk me-reset beberapa media sosial yang saya miliki (Line, Twitter, dan Instagram).

Karena sekali lagi hakikat ilmu adalah implementasi, bukan publikasi. Semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua untuk mencari dan mendapatkan ilmu serta mengamalkan apa yang telah kita dapatkan. Aamiin.

#PMA    

Kamis, 17 November 2016

Ilmu yang tak bermanfaat.

RABU, 16 SAFAR 1438 H / 16 NOVEMBER 2016
13.05 WIB

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hasad yang dimaksud di sini adalah hasad yang dibolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan hasad yang tercela.”
Ibnu Baththol mengatakan pula, “Inilah yang dimaksud dengan judul bab yang dibawakan oleh Imam Bukhari yaitu “Bab Ghibthoh dalam Ilmu dan Hikmah”. Karena siapa saja yang berada dalam kondisi seperti ini (memiliki harta lalu dimanfaatkan dalam jalan kebaikan dan ilmu yang dimanfaatkan pula), maka seharusnya seseorang ghibthoh (berniat untuk mendapatkan nikmat seperti itu) dan berlomba-lomba dalam kebaikan tersebut.“ (Syarh Al Bukhori, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 1/153)

"Dan itu juga yang saya perlihatkan, saya tidak segan dan tidak malu untuk berkata, bahwa saya kagum dan salut terhadap seorang sahabat saya disini, seorang teman, seoran panutan di kampus IPDN Kalbar ini, A.O.W. ( suatu saat saya akan menulis sebuah tulisan khusus yang membahas kekaguman saya terhadap sosok manusia satu ini ), dia merupakan contoh nyata dari seseorang yang pintar, cerdas, seorang manusia yang generalis, mampu untuk berproses secara benar dan kemudian mendapatkan hasil yang sepadan. I SALUTE YOU!!" (Dengarkan curhatku

***

Well, sejujurnya saya tidak tau harus mulai darimana tulisan ini. Saya ingin menata hati dan pikiran yang beberapa hari ini berkecamuk. Saya berharap dengan menuliskannya, maka hal-hal yang ada dalam pikiran dan hati itu akan mereda atau setidak-tidaknya bisa berjalan sesuai dengan semestinya.

Permasalahan kehidupan yang terberat untuk saya adalah permasalahan psikologis. Masalah-masalah yang menyentuh mental. Tak ada kaitan dengan raga, tak juga membahayakan anggota badan. Tapi cukup membuat pikiran dan hati saling bertabrakan. Terus terpikir dan terus berpikir!

Saya yang sebenarnya telah mulai menapaki dan mendapatkan tujuan hidup yang hakiki. Tapi kembali mulai terusik oleh gambaran keindahan kehidupan dunia. Agama yang perlahan mulai jadi sandaran, tetiba saja tergoyahkan  oleh isi dunia yang menjanjikan kenyamanan.

Hey! Islam tak menyuruh umatnya bersikap acuh terhadap dunia. Walaupun beberapa orang yang bersemangat "hijrah" kemudian mempunyai konsep zuhud yang sedikit banyaknya keliru. Mereka mengartikan zuhud untuk meninggalkan kehidupan dunia sepenuhnya dan hanya berfokus pada kehidupan akhirat. Tak lagi mereka pedulikan lapar dan hausnya yang mereka rasa atau koyaknya baju yang mereka gunakan. Jadi banyak yang beranggapan bahwa menjadi zuhud itu berarti hidup miskin! Apa memang begitu?

Ustadz Khalid dalam tablig akbar dengan judul Umair bin Sa'ad, Gubernur yang Zuhud, menjelaskan bahwa zuhud secara sederhananya dapat dipahami sebagai sikap yang mengutamakan urusan akhirat daripada urusan dunia. Bukan meninggalkan urusan dunia sepenuhnya.

Melalui situs https://rumaysho.com/ , saya pun mendapati bahwa pengertian yang sangat bagus tentang zuhud adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.”

Jadi hakikatnya zuhud bukan tentang apa yang terlihat dari segi penampilan secara fisik. Zuhud itu berkenaan dengan amalan hati. Bahkan apabila kita lebih jauh menelisik sejarah, orang paling zuhud di kalangan sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan sejarah mengatakan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang kaya. Jadi, beberapa hal tersebut cukup meyakinkan saya bahwa bersikap zuhud bukan artinya menafikan dunia!

Hal itu kemudian memberikan gambaran bagi saya bahwa ketika agama telah kita yakini sepenuhnya sebagai pedoman kehidupan maka dunia tak lantas harus kita tinggalkan. Bahkan cara kita mendapatkan nikmat di akhirat kelak adalah dengan menjalani kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya, bukan justru meninggalkannya.

Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup hanya mengharuskan kita untuk mendahulukan urusan akhirat dibandingkan dengan urusan dunia. Bukan bersikap acuh terhadap dunia.

Dan ya, itu-lah permasalahan psikologis/mental yang kini sedang saya hadapi.

Jujur, semangat saya kini dalam mencari ilmu agama sedang berada dalam kondisi prima. Saya sangat bersemangat mengikuti semua nasihat yang ada. Tak banyak bertanya, Sami'na wa athona.

Tapi sesaat setelah saya berbincang dengan salah satu sahabat. Ketika dia datang untuk melaksanakan tugas ke Jakarta. Pertemuan yang sebenarnya tak disengaja. Obrolan yang begitu mengasyikan karena memang kami lama tak bersua. Saling melempar pertanyaan, sesekali menyelipkan banyolan. Dia, orang selalu saya kagumi, dan terlebih kini saya semakin mengaguminya.

Dia mampu menerapkan kehidupan yang menurut saya seimbang. Dia rencanakan segalanya, dengan mempertimbangkan secara matang. Dia pun menjalankan segala apa yang dia rencanakan dengan penuh tanggung jawab. Wow! Saya mendengarkan penuh khidmat, betapa ternyata saya ini masih jauh dari kata baik.

Ilmu yang telah saya dapatkan tidak saya implementasikan nyata di kehidupan. Saya hanya kemudian menjadikan ilmu itu retorika di berbagai media sosial yang saya miliki. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Dia, sahabat saya, hanya satu dari banyak orang lainnya di dunia ini yang telah mampu menerapkan ilmu ke dalam keseharian. Melakukan perubahan nyata untuk kehidupannya sendiri terlebih dahulu. Pilihan hidupnya sangat penuh perhitungan. Tapi dia lakukan dengan kemandirian. Tak ada pilihan hidup yang tanpa perhitungan. Pekara ijin belajar S2, membeli motor, merencanakan membeli rumah, menikah, semuanya dia tentukan dan semuanya dia miliki argumen. 

Saya terdiam dalam hati betapa saya tidak lakukan itu dalam kehidupan saya. Saya tak melulu punya rencana, bahkan banyak keputusan dalam menjalani kehidupan saya ambil tanpa perencanaan. Lalu akhirnya saya sesali karena menyalahi aturan. Padahal keputusan itu mengikat kehidupan saya 15 tahun kedepan, dan sangat berdampak pada berbagai keputusan lainnya. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Saya pun kini berada dalam ketidakjelasan. Saya tak hebat dalam hal apapun. Untuk urusan dunia, pekerjaan yang kini saya miliki, banyak hal yang tak bisa saya lakukan. Lalu untuk urusan akhirat yang katanya kini sedang saya dalami, saya pun tak benar-benar alim. Jadi apa gunanya ilmu yang katanya telah saya miliki?

Di titik ini, saya benar-benar berada dalam kondisi untuk bisa menentukan sikap. Saya bukan lagi seorang remaja. Saya harus memaksa diri menjadi dewasa. Mengimplementasikan ilmu yang katanya telah saya miliki. Hal-hal yang telah terlanjur terjadi tentu tak layak disesali apalagi diratapi. Semoga Allah Ta'ala memberikan saya kekuatan. Aamiin.

#PMA

Sabtu, 05 November 2016

Harta Haram



Sabtu, 28 Muharram 1438 H / 29 Oktober 2016
18.54 WIB

Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer merupakan sebuah buku yang mengupas secara tuntas berkenaan dengan permasalahan muamalat yang dewasa ini banyak terjadi. Permasalahan tersebut memang perlu untuk dikaji secara khusus dan mendalam karena tak bisa dipungkiri bahwasanya kini telah banyak terdapat kerancuan hukum yang menyertai beberapa muamalat akibat dari segala perkembangan serta asimilasi yang ada. Baik perubahan nama, substansi, teknis pelaksanaan, atau pun perubahan lain yang sejenis yang disebabkan oleh perkembangan zaman terutama teknologi.

Terlebih lagi, hukum asal muamalat secara Islam adalah halal sampai adanya hukum yang mengharamkan. Oleh karena itu inovasi di dalam muamalat sangat dimungkinkan untuk dilakukan karena pada hakikatnya tindakan muamalat dihalalkan. Akan tetapi, perhatian yang dewasa ini sering dilupakan adalah hukum-hukum yang secara jelas menyatakan haram suatu muamalat tidak lagi dikaji atau digunakan pedoman dengan berbagai alasan duniawi.

Harta Haram Muamalat Kontemporer ditulis oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA. Dijelaskan di dalam Bab Prakata Penulis, Dr. Erwandi menyelesaikan penulisan buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, 2 (dua) minggu setelah beliau merampungkan sidang disertasi. Dr. Erwandi merupakan alumnus program doktoral di bidang Ushul Fikih pada Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi. Oleh karenanya, tak salah apabila kemudian Dr. Erwandi disebut sebagai salah satu pakar Fikih Muamalat Kontemporer yang ada di Indonesia.

Buku setebal 655 halaman itu dibagi ke dalam 7 (tujuh) bab. Dilihat secara sekilas dari daftar isi, buku Harta Haram Muamalat Kontemporer disusun secara sistematis dan menyesuaikan dengan kaidah penulisan karya tulis ilmiah pada umumnya.

Di bab awal, Bab 1 Pendahuluan, Dr. Erwandi memberikan gambaran mengenai definisi-definisi penting seputar tema yang diangkat dalam bukunya. Istilah-istilah yang beliau jelaskan diantaranya apa itu harta haram, dan apa yang dimaksud dengan muamalat kontemporer. Selanjutnya, beliau beranjak ke pembahasan pentingnya umat Islam mengetahui perkara Harta Haram Muamalat Kontemporer. Pembahasan yang runtut seperti itu membuat setiap pembaca akan semakin tertarik untuk membaca dan memahami keseluruhan isi buku. Karena di awal pembaca dibuat paham bahwa tema yang ada di dalam buku merupakan tema penting. 

Pembaca disuguhkan beberapa keutamaan apabila mengetahui mana harta haram dan pembaca pun mendapatkan informasi tentang bahaya serta ancaman apabila mereka bersikap tak peduli tentang darimana harta mereka berasal atau tentang bagaimana mereka mendapatkan harta tersebut.

Pada Bab 2, 3, dan 4, Dr. Erwandi menjelaskan dengan detail permasalahan 3 (tiga) jenis utama yang termasuk harta haram, yakni Harta Haram Hasil Kezaliman, Gharar, dan Riba. Penulis tidak hanya memberikan informasi tentang mana saja atau apa saja jenis-jenis yang termasuk ke dalam harta haram akan tetapi penulis menjelaskan serta mengajak para pembaca khususnya dan selurut Muslim pada umumnya untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Hal itu Dr. Erwandi jelaskan pada Bab 5 dan 6, yakni tentang Bertaubat dari Harta Haram dan Bermuamalah dengan Pemegang Harta Haram. Adapun Bab 7, Bab Penutup, membahas tentang kesimpulan dari setiap bahasan yang telah beliau panjang lebar jabarkan. Sehingga bila para pembaca di suatu kesempatan membutuhkan jawaban cepat tentang satu atau dua masalah, apakah halal atau haram, maka pembaca hanya tinggal membuka Bab 7. Karena di bab tersebut penulis menyebutkan setiap perkara apakah halal atau haram menurut pandangan beliau.

Bagi saya, sebagai seorang yang awam dalam ilmu syar’i, buku ini mampu memberikan pengetahuan serta tuntunan dalam melakukan muamalat di dalam kehidupan sehari-hari. Karena pembahasan di dalam buku tersebut merupakan pembahasan mengenai jenis-jenis muamalat yang dewasa ini sering dilakukan. Dr. Erwandi tidak banyak berbasa basi atau menggunakan istilah asing dalam pembahasannya. Beliau langsung kepada inti permasalahan dan menggunakan istilah yang memang lazim digunakan pada saat ini. 

Hal itu mampu meminimalisir kesalahpaham antara apa yang dimaksud oleh penulis dan apa yang ditangkap oleh pembaca. Tidak ada multitafsir.

Kelebihan lain yang bisa ditemukan di dalam buku tersebut adalah Dr. Erwandi tidak mengajak kita taklid pada satu paham atau pendapat. Beliau menyajikan sebanyak mungkin pendapat para ulama besar dari berbagai macam madzhab, serta fatwa-fatwa perorangan ataupun fatwa-fatwa dari lembaga islam, baik nasional maupun internasional. 

Setiap pendapat itu beliau bandingkan,  beliau tanggapi, kemudian disebutkan apa yang menjadi kelebihan serta kekurangannya. Dan pada akhirnya beliau menjelaskan apa pendapat yang beliau miliki. Metode itu beliau sebut sebagai sebuah meotode perbandingan. 

Pembaca pun tak usah risau apakah pendapat Dr. Erwandi kuat atau tidak, karena perbandingan, tanggapan, dan penyampaian pendapat yang ditulis dalam buku, semua didasarkan pada dalil Qur’an dan Hadits Shahih, yang juga disebutkan di dalamnya lengkap dengan sumber rujukan. Sehingga semuanya jelas berdasarkan dalil. Bukan berdasarkan nafsu atau logika manusia yang sangat terbatas.

Metode perbandingan yang digunakan dalam buku tersebut sangat membantu para pembaca, terutama pembaca yang awam seperti saya, karena hal itu secara tidak langsung juga mengajarkan bahwa setiap permasalahan harus dilihat melalui kacamata yang luas dan bijaksana. 

Mengkritisi sebuah pendapat harus dilakukan dengan berdasar pada sumber rujukan kebenaran yang hakiki, yakni wahyu Allah azza wa jalla, Al-Qur’an, dan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Tak bisa dipungkiri beberapa pembahasan di dalam buku Harta Haram Muamalat Kontemporer menyinggung beberapa urusan muamalat yang dewasa ini dianggap benar oleh mayoritas penduduk Indonesia. Hal-hal seperti mendapatkan penghasilan dari musik, melukis, menjadi aktor atau aktris, olahragawan, membeli rumah atau barang-barang lainnya secara kredit, menjadi pegawai bank konvensional, dan masih banyak lainnya. Sungguh beberapa hal itu telah dianggap biasa dan dibenarkan di negara Indonesia, akan tetapi ternyata Islam, sebagai agama yang sempurna, mempunyai pandangan lain tentang semua itu.

Ya, buku ini akan sulit untuk diterima oleh mayoritas Muslim mainstream yang ada di Indonesia. Apalagi Muslim yang jelas-jelas mendapatkan penghasilan dari beberapa aktivitas yang ternyata diharamkan Islam. Berbagai argumen penolakan akan banyak keluar. Stigma negatif pun akan bersemayam di otak beberapa Muslim tersebut. Bahkan mungkin mereka akan beranggapan bahwa Islam itu agama yang kaku, dan tidak mempunyai ruang bagi penganutnya untuk bersenang-senang, karena semua yang indah ukuran manusia diharamkan. 

Atau mungkin pemikiran lebih ekstrim lainnya adalah Dr. Erwandi akan mendapat cap sebagai pembawa aliran baru dalam Islam. Allahu akbar, semoga Allah ta’ala menjaga beliau.

Seperti yang telah saya sebutkan di awal, buku ini sangat ilmiah. Semua pendapat yang ada di dalamnya berdasarkan rujukan yang jelas disebutkan sumbernya. Tapi, dengan kondisi sekarang ini, isi buku Dr. Erwandi memang akan banyak mendapat penolakan. Karena dunia dewasa ini terlanjur banyak melegalkan apa yang sebenarnya diharamkan oleh Allah Jalla Jallalahu dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam. 

Maka buku ini menurut pendapat saya, memang tidak cocok bagi mereka yang belum merasakan nikmatnya dalam beragama. Belum sepenuhnya nyaman dalam menjalankan segala perintah-Nya. Atau dalam kata lain, Islam belum menjiwai hatinya secara penuh.

Contoh nyatanya adalah, di zaman Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam, cukup hanya dengan satu ayat, yakni Al Maidah ayat 90. Bagi yang telah membaca sirah tentu paham bahwa hanya dengan satu ayat saja, umat Muslim langsung membuang minuman keras yang mereka miliki. Itu juga hikmah dakwah 13 tahun Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam di Mekkah hanya berkisar tentang tauhid. Karena apabila amalan hati itu telah menancap tajam di jiwa setiap umat Islam, maka perintah apapun yang dikeluarkan oleh Allah ta’ala dan rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam akan dengan mudah diikuti walaupun secinta apapun mereka terhadap suatu perbuatan tersebut.

Maka membaca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer bagi mereka yang belum meresap nikmatnya Iman dan Islam dalam hati berpotensi membuat mereka benci terhadap Islam. Tapi bagi mereka yang telah sangat jatuh cinta pada Islam, maka insya allah, Sami’na wa athona.
Wallahu’alam.

#PMA

Sabtu, 01 Oktober 2016

1437, 1438

SABTU, 1 OKTOBER 2016
21.00 WIB

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."

Alhamdulillah, Allah azza wa jalla masih berkenan memberikan saya umur hingga saat ini. Saya masih bisa dipertemukan dengan bulan Muharram di tahun 1438 Hijriah. Semoga di tahun yang baru ini saya masih bisa diberikan kekuatan serta kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dari segi pemahaman dan pengamalan agama Islam. Aamiin.

Pada kesempatan yang insya allah baik ini, saya akan berbagi sebuah cerita tentang apa yang telah alami di tahun 1437 Hijriah serta beberapa harapan yang saya ingin wujudkan di tahun 1438 Hijriah. Semoga Allah azza wa jalla meluruskan niat saya dan semoga semua dari anda yang membaca tulisan ini bisa mendapatkan kesan yang baik.

Karena berbagi cerita pribadi dalam sebuah tulisan telah lama saya lakukan tentu dengan harapan mampu untuk bisa menginspirasi atau setidak-tidaknya memberikan referensi tambahan dalam sudut pandang menjalani kehidupan.

Saya sungguh belum memiliki kapasitas ilmu untuk menuliskan sebuah karya ilmiah yang bisa dijadikan rujukan dunia pendidikan apalagi sebagai panduan hukum agama. Justru karena saya menyadari keterbatasan yang saya miliki, saya mencoba menyiasatinya dengan berbagi cerita atau pengalaman sehingga saya berharap bisa tetap mendapatkan "jatah" pahala ilmu yang bermanfaat dan juga pahala saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Sekali lagi, semoga Allah azza wa jalla bisa meluruskan niat saya.

1437 Hijriah akan selalu saya kenang sebagai salah satu tahun yang memiliki arti penting bagi kehidupan saya. Entah dari mana asalnya, saya tetiba saja mulai banyak mempertanyakan apa yang telah saya lakukan selama kurang lebih 24 tahun hidup di dunia ini.

Apakah saya telah menjadi seorang Muslim sejati? Okay, saya memang bukan seseorang yang "jauh" dari agama, bila boleh saya katakan dilihat dari ritual ibadah sehari-hari saya rasa-rasanya telah mampu untuk melaksanakannya dengan cukup baik.

Orang tua saya, terutama Bapak, memiliki pemahaman agama yang menyandarkan pada dalil Qur'an dan Hadits shahih. Beliau tidak sekedar mengikuti mayoritas Muslim tapi beliau tidak ragu untuk menjadi minoritas karena beliau tidak ingin beribadah tanpa ada dalil yang kuat serta jelas.

Hal itu beliau ajarkan kepada saya. Sehingga dapat dikatakan bahwa secara ritual ibadah, saya tidak pernah berada sangat jauh dari agama.

Tapi di tahun 1437 Hijriah ini saya menyadari bahwa ternyata Islam tidak berhenti pada urusan ritual ibadah. Islam jauh lebih mulia dan indah daripada itu. Pemikiran itu muncul begitu saja. 

Bagi saya itu menjadi bukti bahwa memang secara fitrah, manusia akan selalu mencari kebenaran. Fitrahnya manusia pasti bisa merasakan mana kebenaran dan mana yang bathil. Bila belum menemukan kebenaran hakiki maka setiap hati manusia akan selalu gelisah. Akan tetapi untuk sebagian manusia, fitrah itu telah tertutupi oleh nafsu.

Beruntung bagi saya, atas izin-Nya, fitrah dalam hati ini masih bisa mengalahkan nafsu. Sehingga perasaan itu bisa muncul dan menjadi tonggak untuk terus mencari ilmu dan memperbaiki diri.

Faktor internal tersebut kemudian bisa tereksekusi dengan sangat baik dengan faktor eksternal yang memadai. Saya katakan memadai karena dewasa ini para cendekiawan Muslim yang kompeten dan tanpa tendensi telah memaksimalkan media sosial sebagai wahana dakwah mereka. Sehingga orang-orang awam seperti saya yang sering menyalahkan keterbatasan waktu sebagai alasan utama terbatasnya ilmu, bisa mengakses kajian-kajian Islam secara gampang, dimanapun kita berada.

Media utama yang sangat berjasa dalam proses "hijrah" saya adalah YouTube. Dimulai dengan dakwah Ustadz Nouman Ali Khan, Dr. Zakir Naik, lalu Ustadz Khalid Basalamah, dan akhirnya berlanjut dengan ustadz-ustadz lainnya, yang alhamdulillah bisa membuka mata serta hati saya dalam memahami Islam.

Cerita ini bisa saja berakhir berbeda bila para ustadz-ustadz tersebut tidak memanfaatkan media sosial sebagai sarana mereka berdakwah. Mungkin saya masih bertahan dengan pemahaman bahwa Islam hanya cukup dengan ritual ibadah wajib.

Melalui kajian-kajian Islam yang mereka sampaikan serta artikel-artikel yang juga saya baca, saya dapatkan kesimpulan bahwa keindahan serta nikmatnya Islam tak akan bisa didapat bila kita tidak masuk kedalamnya secara total. (baca : Gue Muslim)

Islam tidak terhenti pada ritual ibadah, bahkan kewajiban yang dibebankan pada seorang Muslim tidak terbatas pada Rukun Islam dan Rukun Iman. Banyak hal yang seharusnya Muslim lakukan dan tidak lakukan. Islam lebih dari sekedar agama penghias biodata, Islam adalah ideologi hidup, Islam adalah dasarnya roda kehidupan.

Saya tidak mengatakan bahwa saya yang dulu tidak memiliki pemahaman seperti itu. Saya yang dulu pun, alhamdulillah, telah yakin tentang hal itu. Tapi sekarang, keyakinan itu, telah saya pahami harus bisa terwujudkan dalam implementasi kehidupan sehari-hari. 

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imran : 31).

Syaikh As-Sadi dalam tafsir ayat ini menjelaskan, “Tidaklah cukup bagi seseorang hanya mengklaim semata bahwa ia mencintai Allah. Ia harus jujur dalam klaimnya tersebut. Dan Di antara tanda kejujuran klaimnya adalah ia mengikuti Rasulullah Shollallahu alaihi wassalam dalam segala keadaan, dalam perkataan dan perbuatan, dalam perkara pokok agama maupun cabangnya, zhohir dan batinnya, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah maka hal ini menunjukkan kejujuran klaim cintanya kepada Allah”.

Mungkin karena kurangnya pemahaman itu, saya yang dulu masih bisa menggabungkan "ketaatan" pada Islam dengan "kemaksiatan". Saya masih bisa dengan bangganya mencari pembenaran. Itu-lah kenapa saya sekarang ini mencoba untuk melakukan hijrah.

Ya, saya akui, akibat saya yang dulu, harus juga saya tanggung sekarang ini. Ada beberapa yang bisa dengan cepat saya lepas tapi ada beberapa hal lain yang terpaksa saya harus teruskan. Allah azza wa jalla Maha Tau. 

Ya, saya juga harus akui, proses hijrah itu baru mengena kepada hal-hal lahiriah. (baca : Berjenggot dan Celana cingkrang) Tapi insya allah, perihal lainnya juga terus saya lakukan perbaikan.

Hijrah ini pun menimbulkan sebuah stigma bahwa saya adalah penganut salah satu aliran. Stigma yang sebenarnya cukup membingungkan. Karena sejauh ilmu yang saya miliki, Allah azza wa jalla dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyembutkan penyebutan lain selain istilah Muslim. (baca : Muslim tanpa tendensi)

Saya hanya mencoba kembali kepada ajaran Islam yang lurus, sesuai perintah Allah azza wa jalla dan dicontohkan Rasulullah Saw., sahabat-sahabatnya, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. 

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Beberapa orang memang masih dengan pemikiran sempit. Sehingga mereka menganggap apa yang saya lakukan adalah sesuatu hal yang aneh walaupun sebenarnya dakwah yang mengajak kembali kepada kemurnian Islam bukan hal yang asing dewasa ini. 

Bila kasus ini terjadi misalnya 10 tahun yang lalu, wajar bila ada yang belum tau. Tapi di zaman ini dengan segala informasi yang mudah diakses, saya masih terheran-heran dengan orang-orang dengan pemikiran sempit.

Walaupun memang salah satu efek negatif dari mudahnya mendapatkan kajian islam bagi saya adalah membuat malas untuk mengikuti kajian secara langsung dan rutin. Padahal rutinitas dan jadwal yang jelas serta bertatap muka secara langsung dengan guru jelas lebih utama dari hanya sekedar mendengarkan secara acak melalui YouTube.

Pada akhirnya, panjang lebar saya bercerita tentang pengalaman hijrah ini, saya ingin katakan bahwa jangan pernah menunda sebuah keinginan positif yang telah terbesit dalam hati. Karena kita tidak pernah tau apakah semenit kemudian perasaan itu masih akan ada.

Jangan pernah melawan fitrah yang telah ada tertanam dalam hati. Karena urusan hati hanya kita sendiri dan Allah azza wa jalla yang tau. Jangan sekali-kali menunupi kecenderungan hati pada kebenaran hakiki oleh nafsu dunia. 

Langkah selanjutnya adalah jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki, terutama ilmu agama. Jangan juga taklid hanya pada satu guru. Manfaatkan semua media untuk terus menambah khazanah keilmuaan agama kita. Selalu membiasakan berilmu terlebih dahulu baru mengamalkan agama. Allahu'allam.

Semoga, Allah azza wa jalla selalu mengarahkan hati kita semua pada kebaikan dan istiqomah dalam menjalaninya. Aamiin.

#PMA

Minggu, 18 September 2016

Memaknai peristiwa (2)

AHAD, 18 SEPTEMBER 2016
11.14 WIB

Menyadari serta mengakui kekurangan/kelemahan yang dimiliki adalah langkah awal untuk bisa memperbaiki dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Maka salah satu dari banyaknya hikmah yang mungkin ada dari penolakan ini adalah saya harus mampu untuk bisa mengenyampingkan perasaan jumawa atau berpikir serta membayangkan sesuatu hal yang belum terjadi secara berlebihan.

Entah cuma saya atau memang manusia pada umumnya juga seperti ini, tapi untuk saya sendiri, ketika saya mempunyai suatu cita-cita dan sedang dalam proses untuk mewujudkannya saya selalu membayangkan dan bahkan dalam beberapa kasus bersikap seolah-olah cita-cita itu telah mampu saya dapatkan. 

Padahal fakta yang ada, sungguh saya masih dalam proses yang panjang untuk meraihnya. Mungkin di satu sisi hal itu bukan sebuah permasalahan. Tapi kini, melalui sudut pandang lain, saya melihat bahwa hal itu bukan sebuah kebiasaan yang patut untuk dipertahankan.

Bertindak seolah-olah cita-cita telah saya raih padahal jelas masih dalam proses, saya pikir adalah satu tindakan sombong. Karena jelas mendahului apa yang nantinya akan ditakdirkan oleh Allah Swt. Bukankah kita sebagai manusia hanya diwajibkan untuk berusaha dan berdoa? Jadi kenapa di awal harus merasa sombong bahwa saya pasti akan mendapatkannya padahal belum tentu itu skenario-Nya?

Hikmah lainnya yakni saya harus bisa menerima argumen orang lain secara utuh dan menyadari bahwa selalu ada proses panjang dari setiap pengambilan keputusan. 

Sesaat setelah penolakan itu saya terima, otak saya mulai berontak. Hingga kemudian saya pun memberikan argumen kekecawaan atas keputusan yang telah diungkapkan. Dan beruntung, ego itu bisa hilang lebih cepat sehingga kalimat selanjutnya saya pun tersadar bahwa tidak mungkin keputusan seperti itu diambil tanpa sebuah perhitungan. Pasti ada proses dibelakangnya, yang saya mungkin tidak mengetahui tapi jelas harus mampu saya sikapi secara bijaksana.

Dua hikmah di atas hanya contoh karena saya yakin semakin kita mempelajari suatu peristiwa, terutama sebuah peristiwa yang tak sesuai harapan maka akan semakin banyak pelajaran yang bisa kita petik dan akan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam bersikap. Bila hal ideal itu bisa kita wujudkan, maka kita akan selalu bisa melewati masalah dengan baik.

Terlepas dari kedua hal itu, jujur saya semakin mengagumi sosoknya tapi juga semakin menyadari bahwa saya rasa-rasanya sulit untuk mendapatkan wanita dengan figur atau latar belakang agama yang kuat. 

Karena walaupun kini saya meng-klaim telah melakukan “hijrah”, tapi sungguh itu baru sebatas permukaan. Jauh menyentuh ke kehidupan yang lebih dalam, nilai-nilai ajaran Islam itu belum mampu saya kenakan secara utuh. Sedangkan dia telah lebih dulu terhindar dari perkara-perkara yang abu-abu, apalagi haram.

Saya yang berharap mendapatkan wanita yang jauh lebih mengerti agama dari saya, untuk bisa membantu saya keluar dari kehidupan yang masih penuh dengan ketidakjelasan serta perkara yang jelas haram tapi terbungkus oleh kemasan dunia seolah-olah boleh, ternyata memang belum bisa. 

Wanita-wanita yang telah taat dalam beragama memang tidak layak mendapatkan sesosok pria yang baru meng-klaim “hijrah”, mereka tentunya ingin mendapatkan pria yang juga telah mapan dalam beragama. Sama-sama telah terhindar dari segala macam urusan dunia yang tak jelas hukumnya.

Maka dengan perisitiwa ini saya pun bisa menyadari itu semua. Peristiwa ini membuka dengan sangat jelas mata saya dalam melihat dunia. Bila kita belum bisa menjadi seperti atau setidak-tidaknya meneladani Ali bin Abi Thalib secara utuh maka tak mungkin atau tak layak bagi kita mengaharapkan seorang wanita dengan akhlak Fatimah az-Zahra. Sadar diri-lah, itu intinya.
Allahu’allam


#PMA