Selasa, 27 Juni 2017

Menuju Pernikahan (2)

Selasa, 3 Syawal 1438 H // 27 Juni 2017
08.56 WIB

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmushalihaat, pernikahan yang dulu baru sebatas wacana, kini telah berada di depan mata dan akan segara menjadi nyata! Allahuakbar! 
Demi Allah, ini bukan perkara kecil. Tapi sebisa mungkin saya tak menunjukan wajah takut atau segala bentuk raut muka perasaan negatif. Saya memilih banyak diam. Fokus untuk meluruskan niat dan belajar serta memahami beberapa sunnah nabi shallallallahu alaihi wa sallam selepas pernikahan.

Banyak orang, terutama mayoritas keluarga saya, bertanya tentang bagaimana proses yang saya lakukan. 2 (dua) hal yang menjadi inti pertanyaan mereka adalah sudah berapa lama saya mengenal dia dan kenapa harus terburu-buru dalam menentukan tanggal pernikahan. 
Kedua hal itu saling berkaitan satu sama lainnya karena mereka heran dengan keputusan yang saya ambil. Mereka beranggapan bahwa saya terlampau cepat (tergesa-gesa) dalam mengambil keputusan. Mereka berada di atas kekhawatiran bahwa saya tidak atau belum berpikir matang dalam memilih pasangan hidup.

Kekhawatiran mayoritas saudara saya sungguh dapat saya pahami. Karena saya memang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Saya bukan lulusan pesantren. Saya pun tidak aktif di organisasi Islam manapun. Begitu juga dengan keadaan mayoritas saudara saya, keadaan agama kami tidak jauh berbeda. Jadi, ketika kini saya mulai berusaha untuk hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam, menerapkannya di seluruh segi kehidupan. Termasuk dalam hal ini menjadikan tolak ukur dalam memutuskan urusan pernikahan dengan nasihat-nasihat para ulama, hal itu jelas menjadi sangat asing di telinga mereka. Karena mayoritas saudara saya belum berusaha menerapkan sunnah di luar ritual ibadah.

Maka sangat wajar mereka terkejut ketika saya jelaskan bahwa saya belum pernah “jalan-jalan” atau menghabiskan waktu berdua dengan dia. 
Sangat wajar mereka terkejut ketika saya katakan bahwa saya mengenal dia kurang lebih hanya 3 (tiga) bulan dan hanya pernah bertemu langsung dengan dia 2 (dua) kali. 
Sangat wajar mereka terkejut ketika saya memutuskan menikah tidak lama berselang setalah hari raya idul fitri. 
Dan sangat wajar mereka terkejut ketika mengetahui bahwa konsep resepsi yang akan mereka hadiri akan dipisah antara tamu lelaki dan wanita.

Alhamdulillah, saya telah terbiasa dengan reaksi-reaksi seperti itu karena ini bukan pertama kali mayoritas saudara saya menunjukan keanehan atau keterkejutan terhadap keputusan yang saya ambil sebagai konsekuensi saya untuk senantiasa berusaha hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam
Saya hanya berusaha meyakinkan mereka bahwa apa yang saya yakini dan berusaha saya lakukan saat ini bukan sesuatu hal yang “sesat” tapi merupakan sesuatu hal yang memiliki landasan ilmu yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Semua sumber rujukan beragama yang saya jadikan hujjah bisa untuk mereka baca dan kritisi secara gamblang, tidak ada yang ditutupi dan sangat terbuka ruang untuk saling berdiskusi, saling memberikan masukan.

Insyaallah ta’ala saya telah yakin memilih dia sebagai pasangan hidup. Ya, saya belum mengetahui detail kehidupannya. Saya belum mengetahui bagaimana watak/karakternya secara rinci. Tapi itu bukan yang utama. 
Ketika saya telah memilih untuk berusaha hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam maka hal-hal itu bukan menjadi prioritas bagi saya. Apa yang menjadi prioritas bagi saya adalah tentang visi dan misi kehidupannya. Alhamdulillah, saya dan dia memiliki visi dan misi yang sama dalam memandang kehidupan, terutama kehidupan berumah tangga kedepannya. 
Kami berdua siap taat dan patuh pada firman Allah azza wa jalla dan sabda nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Maka itu yang utama.

Akan tetapi saya pun tak bisa memungkiri ada perasaan takut dan kekhawatiran yang masih tersisa dalam hati. Proses ta’aruf antara dia dan saya tak berjalan mulus begitu saja. 
Ada perbedaan yang sangat mencolok. Dan itu berkenaan dengan prinsip. Sehingga sempat berdiskusi alot. Pada akhirnya dia mau untuk mengalah, melepaskan apa yang telah dia perjuangkan selama lebih kurang 5 (lima) tahun. Fakta bahwa dia telah lama berjuang di dalamnya, membuat saya takut dan khawatir bahwa dia tidak sepenuhnya benar-benar melepaskan semua itu. Saya takut dan khawatir ini akan menjadi polemik ketika nanti telah berumah tangga. 
Tapi saya pun harus adil, saya harus ber-khusnudzan terhadap apa yang telah dia putuskan. Jadi, bissmillah, biidznillah.

Akhirnya, semoga Allah ta’ala memudahkan segala niat baik hamba-hamba-Nya dan semoga Allah ta’ala memberikan keberkahan pada pernikahan yang insyaalllah akan segera saya laksanakan. Aamiin.

Peace and Cheers!

Sabtu, 03 Juni 2017

Menuju pernikahan.

Sabtu, 8 Ramadhan 1438 H / 3 Juni 2017
13.30 WIB

Disadari atau tidak, kita telah menjadi manusia dengan paham sekuler. Sekulerisme dalam artian memisahkan antara urusan agama dan urusan dunia. Karena faktanya kita bisa konsisten untuk menjalankan setiap perintah agama, yakni perintah ritual ibadah. Tapi gagal mentransformasinya ke dalam kehidupan nyata. Seolah-olah, Islam hanya agama ritual.

Jadi di luar shalat, zakat, puasa, dan haji, maka itu bukan ibadah. Dan Islam tidak mengaturnya. Konsekuensi dari pemikiran sempit semacam itu adalah di luar ritual ibadah, yakni dalam kehidupan sehari-hari, semisal bergaul dengan sesama, bekerja, berdiskusi, bermasyarakat, berpakaian, dan sebagainya, kita gunakan "gaya" di luar Islam. Kita terapkan "-isme" selain Islam. Kita punya "standar" dan "idola" yang jauh dari Islam. Naudzubillah.

***

Ada seseorang yang berkata kepada Salman radhiyallahu ‘anhu: “Apakah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air?” Ia menjawab : “Ya, Beliau melarang kami buang air besar atau buang air kecil menghadap kiblat, beristinja’ dengan tangan kanan, beristinja’ dengan batu yang kurang dari tiga buah dan beristinja’ dengan kotoran binatang [Termasuk semua yang najis] atau tulang.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Read more https://yufidia.com/3575-tata-cara-buang-air-dalam-islam.html

Hadits tersebut di atas menurut banyak ulama adalah salah satu bukti bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Untuk perkara kecil seperti buang air, Islam telah mengaturnya, maka sangat tidak mungkin bila untuk hal yang lebih besar dari itu, Islam tidak memberikan aturan atau kaidah untuk kita menjalaninya.

Maka orang yang masih bersikeras untuk mengatakan bahwa ibadah dalam Islam hanya terbatas pada ritual, dia telah salah. Dan Muslim yang masih mencari "gaya hidup" atau "-isme" di luar Islam, maka dia telah tersesat. Wallahu'allam.

***

Dua hal di atas hanya mukadimah, saya tak akan berbicara lebih jauh tentang orang-orang yang mengaku Islam, atau setidak-tidaknya ber-KTP Islam tapi enggan untuk mempelajari Islam.

Saya hanya ingin berbicara tentang hal yang jauh lebih sederhana dari mukadimah di atas. Ini perihal usaha saya untuk terus istiqomah di atas sunnah.

Salah satu usaha yang saat ini sedang saya usahakan adalah berusaha untuk menyegerakan pernikahan. Kenapa? Karena tanpa pernikahan agama seseorang (lelaki khususnya) belum-lah sempurna. Terlebih untuk seseorang seperti saya, yang memang dari awal terlanjur akrab dengan dosa. Telah banyak tersentuh oleh hal-hal yang telah jelas dilarang oleh agama. Maka urusan syahwat menjadi titik rawan yang harus saya benahi.

Manusia harus terlebih dahulu mengenali apa yang menjadi kekurangan dalam dirinya untuk bisa kemudian melakukan perubahan positif. Kita harus terlebih dahulu mengakui "penyakit" yang ada dalam diri, untuk kemudian melakukan langkah-langkah penyembuhannya.

Dan yang menjadi "penyakit" yang harus saya sembuhkan adalah perihal syahwat. Bukan pada harta ataupun tahta, tapi pada wanita!

Di dalam Islam, satu-satunya cara yang diridhoi Allah ta'ala dalam menyalurkan kebutuhan biologis manusia, yang dalam hal ini syahwat kepada lawan jenis, adalah melalui hubungan badan dalam ikatan pernikahan yang sah. Tidak ada cara lain!

Sehingga menjadi sangat jelas, tanpa adanya pernikahan maka saya belum beragama secara sempurna. Karena salah satu kebutuhan tubuh belum bisa saya penuhi. Saya, dalam bahasa lainnya, masih berlaku dzalim pada diri sendiri. Karena Islam telah mengatur semuanya, termasuk tentunya pengaturan dalam pemenuhan kebutuhan.

Alhamdulillah, kebutuhan lain telah saya usahakan untuk saya penuhi sesuai dengan tuntunan sunnah. Tapi untuk kebutuhan biologis, maka tuntutan syariat hanya ada satu, yakni pernikahan.

Maka saya tak punya lagi alasan untuk menunda-nunda sebuah pernikahan.

Qodarullah, saya hidup di akhir zaman, dan hidayah sunnah tak saya dapatkan sedari kecil. Sehingga pernikahan yang sebenarnya adalah sebuah ibadah dalam sudut pandang Islam, telah memiliki makna lain di mata masyarakat, yang sebenarnya mayoritas Islam. Ironi.

Pernikahan dipandang sebagai sesuatu hal yang "mewah", penjewantahan dari sebuah kemapanan. Di sisi lain, ada juga yang melihatnya sebagai sebuah pengekangan kebebasan, sehingga hanya boleh dilakukan ketika semua ekspresi diri sebagai makhluk tanpa ikatan telah habis dicurahkan.

Daripada melangsungkan pernikahan, mereka lebih memilih untuk saling mengenal dalam balutan pacaran (saya pernah termasuk di dalamnya bahkan menulis pembelaan tentangnya dan kini saya bertaubat darinya).

Subhanallah, dengan alasan belum adanya kesiapan, terutama dari segi materi. Lalu alasan belum mapannya karir. Mereka menepikan kebutuhan biologis. Alhamdulillah bagi mereka yang mampu mengontrol kebutuhan itu sehingga bisa untuk tersibukan dengan hal positif.

Melawan lingkungan adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mencari pasangan yang satu visi memandang kehidupan juga kesulitan lain yang harus terpecahkan.

Tapi, Allah ta'ala adalah sebaik-baik perencana. Dia memang maha membolak-balikan hati manusia. Dan alhamdulillah, kini pernikahan itu telah ada di depan mata.

Di sini ujian lain mulai saya rasakan. Di saat-saat seperti ini, keimanan saya pada syariat Islam, pada semua janji Allah ta'ala mendapatkan goncangan. Bagaimana tidak, saya akan menjalani sebuah pernikahan dengan wanita yang belum pernah saya habiskan waktu berdua dengannya. Semua komunikasi kami lakukan secara tegas tanpa ada basa-basi di dalamnya. Allahuakbar, bagi saya yang meng-klaim baru berhijrah, maka ini adalah hal yang sangat baru! Saya akan menikah dengan wanita "asing"!! Bissmillah..

Ujian lainnya adalah berkenaan dengan nafkah yang harus saya berikan. Seperti yang telah saya katakan di awal tulisan. Muslim harus bisa mentranformasikan nilai-nilai Islam kepada kehidupan sehari-hari. Ujian penerapan syariat Islam bukan pada ritual ibadahnya tapi pada penerapannya dalam kehidupan bermuamalah.

Saya yang sedang berusaha sepenuhnya menjalani kehidupan sesuai sunnah, maka dalam hal mendapatkan pemasukan (gaji), koridor syariat pun harus saya penuhi.

Berkenaan dengan hal itu, instansi tempat saya bekerja menerapkan peraturan baru tentang mekanisme pemberian tunjangan kinerja. Aturan mulai diterapkan di awal tahun 2017. Secara garis besar tunjangan kinerja tidak lagi diberikan berdasarkan jumlah kehadiran. Tapi kini tunjangan kinerja diberikan sesuai dengan absensi kehadiran dan input pekerjaan yang dilakukan. 50% tunjangan ditentukan oleh kehadiran dan 50% lainnya ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang dilakukan.

Di awal-awal diberlakukannya aturan itu, saya pun dengan santai melakukan beberapa "kebohongan" hanya untuk mendapatkan tunjangan secara penuh. Banyak pembenaran yang saya kemukakan dalam hati.

Tapi saya pun bertanya, lalu apa makna hijrah yang saya klaim sedang saya lakukan saat ini? Bila untuk mendapatkan gaji saja saya masih berbohong? Allahuakbar. Sebuah keputusan yang sangat sulit. Karena "kebohongan" itu telah sangat lumrah. Karena hal itu berkaitan dengan berkurangnya penghasilan. Terlebih lagi saya pun masih mempunyai tanggungan hutang riba yang harus saya bereskan!

Alhamdulillah, ketika saya putuskan untuk berusaha mengurangi "kebohongan", walaupun dengan konsekuensi tunjangan setiap bulan harus saya terima dengan jumlah yang berkurang, Allah ta'ala cukupkan kehidupan saya.

Maka dengan keterbatasan penghasilan, tak ada tabungan, dan beban hutang riba setiap bulannya, saya dengan berani menambah daftar pengeluaran yakni menafkahi seorang istri!

Hitungan matematis, hal di atas tak mungkin bisa saya lakukan. Tapi, ini-lah ujian keimanan. Beriman pada setiap janji Allah ta'ala. Hidup sesuai dengan sunnah kekasih-Nya, walaupun dunia sangat jelas tertinggalkan.

Bissmillah, semoga Allah ta'ala terus menjaga niat dalam hati kami. Sehingga pernikahan yang akan kami laksanakan murni kami niatkan untuk beribadah kepada-Nya. Meyakini bahwa sepenuhnya Dia yang akan memberi rezeki. Aamiin.

Kamis, 25 Mei 2017

Salafus sholeh dan Ru'yah.

KAMIS, 28 SYABAN 1438 H / 25 MEI 2017
13.45 WIB

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."

Alhamdulillah, dengan segala rahmat-Nya, Allah ta'ala izinkan saya untuk bisa terus mengembangkan diri. Dan salah bentuk pengembangan diri yang saat ini saya alami adalah saya bisa sampai pada pemahaman tentang bagaimana sebenarnya konsep seorang Muslim yang ideal. Demi Allah, saya masih perlu banyak belajar, baik dari tataran teori maupun implementasi. Adapun kalimat tersebut saya maksudkan hanya dalam konteks bahwa di tengah-tengah banyaknya pemahaman Islam di Indonesia saat ini, dengan berbagai macam pendekatan yang mereka gunakan. Saya bisa untuk memahami Islam dengan cara, yang insyaallah ta'ala, paling baik dan paling aman.

Kata kunci yang saya tekankan di sini adalah "main aman". Karena konsekuensi sebagai orang yang mengaku Islam adalah kita harus percaya adanya kehidupan setelah kematian. Lebih jauh lagi kita harus meyakini adanya Surga dan Neraka. Bahwa apapun yang telah kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti dan kita pun akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah kita lakukan. Oleh karenanya, memahami agama dengan benar adalah harga mati karena itu akan menentukan akan dimana nantinya kita berada, apakah surga atau neraka. 

Maka cara yang paling mudah untuk bisa selamat dalam beragama adalah dengan mengikuti cara beragama orang-orang yang memang pasti akan masuk Surga. Nah, dalam Islam, Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an sebagai kitab bagi seluruh umat manusia tidak dengan begitu saja. Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an melalui, Nabi dan Rasul pilihan-Nya, yakni Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga beliau shallallahu alaihi wa sallam, sebagai orang pilihan Allah ta'ala, Nabi sekaligus Rasul-Nya, adalah orang yang paling paham dengan apa yang diinginkan Allah ta'ala
Maka setelah Muslim sepakat bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul-Nya, selanjutnya kita harus juga bersepakat bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam berbeda dengan manusia lain. Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak berbicara dan bersikap berdasarkan nafsu tapi semua ucapan dan tindakan beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah ta'ala serta beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak meninggal kecuali dalam keadaan bahwa seluruh urusan beragama dalam Islam telah beliau shallallahu alaihi wa sallam ajarkan secara sempurna. Keyakinan selanjutnya dan ini keyakinan utama adalah beliau shallallahu alaihi wa sallam pasti masuk surga.

Jadi bila ingin selamat atau "main aman" dalam beragama maka kita hanya tinggal meng-copy paste cara beragama Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Cara kita meng-copy paste pun menjadi lebih mudah karena Rasul shallallahu alaihi wa sallam tidak hidup sendiri dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam, beliau shallallahu alaihi wa sallam dibantu dan dikelilingi oleh banyak sahabat. Bahkan banyak sahabat Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang juga Allah ta'ala jamin untuk masuk surga. 
Secara logika pun, para sahabat adalah orang-orang yang hidup satu zaman dengan Rasul shallallahu alaihi wa sallam, jadi besar kemungkinan mereka sangat memahami dengan apa yang dimaksud oleh Allah ta'ala dalam setiap firman-Nya yang kemudian dijabarkan oleh hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, saya meyakini, dengan izin Allah ta'ala, bahwa Islam itu mudah. Cukup pahami Al-Qur'an dan Hadits sesuai dengan pemahaman sahabat, tabi'in (orang-orang yang hidup di zaman sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam), tabi'ut tabi'in (orang-orang yang hidup di zaman tabi'in) serta para ulama yang konsisten untuk berada pada pemikiran 3 (tiga) generasi terbaik tersebut. Apa yang mereka lakukan, kita lakukan dan apa yang mereka tinggalkan, kita pun meninggalkannya. Tentu tidak semua orang pada 3 (tiga) generasi tersebut kita ikuti, kita hanya mengikuti mereka yang sholeh. Maka cara beragama yang paling aman dan selamat menurut saya adalah beragama sesuai dengan pemahaman salafus sholeh. 
Kecuali pada perkara-perkara yang memang kontemporer, maka ruang diskusi ilmiah di kalangan para ulama sangat mungkin terjadi. Tapi untuk urusan yang telah ada sejak zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam maka rasa-rasanya, menurut saya yang awam, tak layak untuk kita kemudian ber-ijtihad suatu hukum/metode yang baru. Bila untuk sarana atau fasilitas dalam melakukan ibadahnya mungkin masih bisa berinovasi. 
Wallahu'alam.

***

As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509).

Mengikuti Al Jama’ah dalam hal penentuan Ramadhan dan hari raya adalah mengikuti keputusan pemerintah muslim yang sah yang berkumpul bersama para ulamanya yang diputuskan melalui metode-metode yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.


Melalui tulisan ini saya pun berlepas diri dan bertaubat atas tulisan-tulisan saya terdahulu dalam perihal agama yang dengan sangat jelas lebih mementingkan akal di atas dalil Qur'an dan Hadits sesuai pemahaman salafus sholeh. Tapi saya pun sengaja tidak menghapus tulisan-tulisan tersebut karena saya ingin menjadikan itu sebagai bukti nyata dari berubahnya pola pikir serta bagian dari pembelajaran.

Salah satu contoh nyatanya adalah dalam urusan penetapan awal Ramadhan, dan Syawal yang seringkali menjadi polemik diantara kaum Muslim yang ada di Indonesia. Dalam beberapa tulisan saya, saya memang pada waktu itu memilih untuk mengikuti metode hisab yang dikeluarkan oleh salah satu ormas yang ada di Indonesia. Tapi kini, insyaallah ta'ala, saya lebih meyakini keputusan yang nantinya dibuat oleh Pemerintah.

Agama Islam tidak mengajarkan untuk fanatik pada suatu kelompok. Tak ada fanatisme kelompok dan ekslusivitas dalam Islam. Islam itu agama dalil dan sangat ilmiah. Siapa yang memiliki hujjah yang lebih kuat, maka kita wajib mengikuti pendapatnya. Jadi, diskusi ilmiah dalam Islam sangat terbuka lebar. Maka dalam hal penetapan awal ramadhan dan syawal, dalil yang kini saya pahami, bahwa mentaati pemerintah harus diutamakan dari keputusan sebuah ormas. Setidak-tidaknya ada 2 (dua) argumen yang saya yakini yakni aqidah utama ahlus sunnah adalah harus taat pada pemerintah serta sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam menentukan awal ramadhan dan awal syawal adalah dengan metode ru'yah, bukan hisab.

Pertama perihal taat pada pemerintah.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menaatiku maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan termasuk dalam bentuk ketaatan kepada Allah ialah dengan menaatiku?” Maka para sahabat menjawab, “Benar, kami mempersaksikannya.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk ketaatan kepadaku adalah kalian taat kepada para penguasa kalian.” dalam lafal yang lain berbunyi, “para pemimpin kalian.” Kemudian al-Hafizh berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan dalam awal-awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan -tatanan masyarakat-.” (Fath al-Bari [13/131] cet. Dar al-Hadits)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni rahimahullah berkata, “As-habul hadits berpandangan untuk tetap mengikuti setiap pemimpin muslim dalam mendirikan sholat Jum’at, sholat dua hari raya, ataupun sholat-sholat yang lainnya. Entah dia adalah seorang pemimpin yang baik ataupun yang bejat. Mereka juga memandang kewajiban untuk berjihad melawan orang-orang kafir bersama pemimpin tersebut. Meskipun mereka itu zalim dan suka bermaksiat. Mereka juga memandang semestinya rakyat mendoakan perbaikan keadaan, taufik/hidayah, serta kebaikan untuk mereka (penguasa) dan mendoakan juga agar mereka bisa menyebarluaskan keadilan di tengah-tengah rakyat. Mereka juga memandang tidak bolehnya memberontak dengan pedang kepada mereka…” (‘Aqidah Salaf As-habul Hadits, hal. 100 tahqiq Abul Yamin al-Manshuri cet. Dar al-Minhaj berupa file pdf)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (I’lam al-Muwaqqi’in [3/4], dinukil dari ta’liq Syaikh Ruslan dalam kitab al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25 berupa file pdf) 

Syubhat yang sering terdengar berkenaan dengan pemerintah adalah adanya beberapa orang yang "berteriak" bahwa yang harus ditaati itu adalah pemerintah yang menerapkan Al-Qur'an bukan pemerintah yang tidak menerapkan Al-Qur'an, maka jawaban untuk syubhat tersebut adalah dengan hadits yang diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah rahimahullah, dia berkata, “Berkata kepadaku ‘Umar radhiallahu ‘anhu, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!” http://asysyariah.com/kewajiban-taat-kepada-pemerintah/

Pelajaran dalam hadits di atas menurut para ulama adalah Rasul shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa kelak akan ada zaman ketika pemimpin ditunjuk maupun dipilih tidak berdasarkan cara yang sesuai syariat, karena makna "hamba dari Habasyah" adalah seorang budak hitam dan tidak mungkin seorang budak hitam menjadi pemimpin di zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam tapi kemudian Rasul shallallahu alaihi wa sallam menggunakan kalimat di atas untuk menunjukan bahwa sekalipun ada pemimpin yang terpilih tanpa mekanisme sesuai cara Islami maka kita selaku Muslim wajib tetap taat!

Lalu syubhat lainnya yang juga sering terdengar adalah perihal apakah negara Indonesia ini negara kafir atau negara Islam? 
Sesungguhnya kaum muslimin berbeda pendapat mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir, menjadi lima pendapat :

Pertama : bahwa negeri islam tidak akan menjadi nergeri kafir secara mutlak, ini adalah pendapat ibnu hajar Al Haitami dan beliau menisbatkannya kepada Asy Syafi’iyyah. Kedua : Negeri islam menjadi negeri kafir dengan diperbuatnya dosa-dosa besar, ini adalah pendapat kaum khowarij dan mu’tazilah. Ketiga : negeri islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sebatas dikuasai orang kafir, namun sampai syi’ar-syi’ar islam terputus sama sekali. Ini adalah pendapat Ad Dasuki Al maliki. Keempat : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir dengan dikuasai oleh orang kafir secara sempurna. Ini adalah pendapat Abu hanifah. Kelima : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir apabila dikuasai oleh orang-orang kafir dimana mereka menampakkan hukum-hukumnya, dan ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad bin Al hasan.

Pendapat terakhir ini yang rajih dan paling kuat, berdasarkan beberapa dalil diantaranya hadits ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan, beliau bersabda :

“…dakwahilah mereka kepada islam, jika mereka menjawab maka terimalah mereka dan tahanlah dari mereka kemudian serulah agar hijrah ke negeri muhajirin…” (HR Muslim no 1731).

Disini Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai negeri muhajirin karena mereka yang menguasai negeri tersebut, maka negeri islam adalah yang dikuasai oleh kaum muslim dimana mereka mampu menampakkan syi’ar-syi’ar islam yang besar seperti melaksanakan sholat jum’at, ‘ied, puasa ramadhan, haji, dikumandangkannya adzan secara bebas dan lain-lain. Dan negeri kafir adalah sebaliknya.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah memberikan batasan syari’at mengenai ini, beliau berkata, ”Suatu negeri disebut negeri kafir atau negeri iman atau negeri fasiq bukanlah sifat yang tetap namun ia bersifat relatif sesuai dengan keadaan penduduknya.”

Beliau juga berkata, ”Negeri itu berubah-ubah hukumnya sesuai dengan keadaan penduduknya, terkadang suatu negeri menjadi negeri kafir bila penduduknya kafir, kemudian menjadi negeri islam bila penduduknya masuk islam sebagaimana keadaan Makkah yang tadinya negeri kafir.”

Dalam hadits Anas ia berkata,” Adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerang apabila tiba waktu adzan, bila terdengar suara adzan maka beliau menahan dan jika tidak beliau menyerang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini adalah dalil yang tegas bahwa adanya sebagian hukum-hukum islam yang tampak, dapat dijadikan tanda sebagai negeri islam karena ia menunjukkan siapa yang menguasai negeri tersebut.

Bila ada yang berkata, ”lalu bagaimana di zaman sekarang ini di Amerika, dan negara-negara kuffar lainnya yang dikumandangkan padanya adzan, apakah menjadi negara islam?” jawabnya tentu tidak karena penduduk disana mayoritas orang-orang kafir dan merekalah yang menguasainya dan dikumandangkannya adzan disana tidak secara bebas tidak seperti di negeri-negeri islam.” https://salafiyunpad.wordpress.com/2010/07/01/negara-tidak-berhukum-dengan-hukum-islam-negara-kafir/

Kedua : penentuan awal ramadhan dan syawal dengan metode ru'yah.

Perlu diketahui bersama bahwasanya mengenal hilal adalah bukan dengan cara hisab. Namun yang lebih tepat dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengenal hilal adalah dengan ru’yah (yaitu melihat bulan langsung dengan mata telanjang). Karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi contoh dalam kita beragama telah bersabda,

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis)[5] dan tidak pula mengenal hisab[6]. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).”

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah menerangkan,

“Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan itu tidak teranggap. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan ru’yah untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan ru’yah walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini. Jika kita melihat konteks yang dibicarakan dalam hadits, akan nampak jelas bahwa hukum sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab. Bahkan hal ini semakin terang dengan penjelasan dalam hadits,

“Jika mendung (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal), maka sempurnakanlah bilangan  bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Tanyakanlah pada ahli hisab”. Hikmah kenapa mesti menggenapkan 30 hari adalah supaya tidak ada peselisihihan di tengah-tengah mereka.

Sebagian kelompok memang ada yang sering merujuk pada ahli astronom dalam berpatokan pada ilmu hisab yaitu kaum Rofidhoh. Sebagian ahli fiqh pun ada yang satu pendapat dengan mereka. Namun Al Baaji mengatakan, “Cukup kesepakatan (ijma’) ulama salaf (yang berpedoman dengan ru’yah, bukan hisab, -pen) sebagai sanggahan untuk meruntuhkan pendapat mereka.” Ibnu Bazizah pun mengatakan, “Madzhab (yang berpegang pada hisab, pen) adalah madzhab batil. Sunguh syariat Islam telah melarang seseorang untuk terjun dalam ilmu nujum. Karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) bahkan bukan sangkaan kuat. Seandainya suatu perkara dikaitkan dengan ilmu hisab, sungguh akan mempersempit karena tidak ada yang menguasai ilmu ini  kecuali sedikit”. Sumber : https://muslim.or.id/328-menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html

***

Saya sangat menyadari, sekarang kita hidup di akhir zaman ketika kebenaran menjadi rebutan. Standar yang digunakan pun sangat beragam. Maka apa yang saya sampaikan di atas tentu akan menimbulkan banyak pertentangan. Ulama dengan ilmu sangat mumpuni pun banyak orang yang merendahkan, apalagi kata-kata yang keluar dari seorang Adima yang tak punya bekal apapun. Apalagi entah kenapa, berbicara masalah agama, semua orang mendadak menjadi cerdas tak terbatas. Maka seringnya tak mau menerima pendapat yang bertentangan dengannya.

Tulisan ini saya niatkan untuk berbagi kebaikan. Jadi semoga bermanfaat.
Wallahu'alam.





Senin, 01 Mei 2017

Orang Tua, kunci surga.

SENIN, 4 SYABAN 1438 H / 1 MEI 2017
12.55 WIB

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga”. (Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, “Aamiin, aamiin, aamiin”.
Para sahabat bertanya, “Kenapa engkau berkata ‘Aamiin, aamiin, aamiin, Ya Rasulullah?' ”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ‘Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah aamiin!’ maka kukatakan, ‘Aamiin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah aamiin!’, maka aku berkata : ‘Aamiin’.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi. ‘Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah aamiin!’ maka kukatakan, ‘Aamiin”. ( Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma’uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka’ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah] )

Alhamdulillah, dewasa ini syiar agama sangat mudah kita dapatkan. Ilmu agama tidak lagi dianggap sebelah mata, bahkan lebih dari itu, ilmu agama sekarang ini telah menjadi sebuah gaya hidup. Menunjukan identitas Muslim tak lagi menjadi tabu. Memang, ada plus-minus dalam pesatnya perkembangan ilmu agama di Indonesia saat ini. Tapi mari ber-khusnudzan, insyaallah ta'ala ini adalah tanda bangkitnya Muslim yang ada di Indonesia. Aamiin!

Saya pribadi merasakan langsung nikmatnya segala kemudahan dalam mengakses ilmu agama dan atas izin Allah ta'ala, hidayah itu bisa menghampiri saya. Salah satu nikmat itu adalah berkenaan dengan kewajiban untuk berbakti pada orang tua. Satu hal yang sebenarnya bukan hal baru, terutama bagi adat ketimuran khas Indonesia yang sangat menjunjung tinggi sopan santun, terkhusus pada orang tua. Akan tetapi, bila tanpa ilmu agama, mustahil bagi saya untuk bisa mengetahui serta menyadari bahwa ternyata kedudukan berbakti bagi orang tua dalam perspektif agama Islam memiliki tingkatan yang sangat tinggi.

Tak tanggung-tanggung, Islam menempatkan kewajiban seorang anak untuk berbakti pada orang tua pada urutan kedua setelah perintah untuk mentauhidkan Allah ta'ala. Itu artinya berbuat dosa atau durhaka pada orang tua sama besarnya dengan berbuat syirik kepada Allah ta'ala. Dengan fakta seperti itu, rasa-rasanya hanya orang bodoh yang kemudian tidak mengindahkan orang tuanya atau bersikap acuh bahkan menyakitinya, baik secara langsung maupun tidak.

Mari kita bermain analogi, sebuah analogi yang saya dapatkan dari Ustadz Nuzul Dzikri hafizahullahuta'ala.
Katakanlah ada seorang pria yang di mata masyarakat luas termasuk orang yang lemah dan dianggap remeh. Qodarullah, pada suatu waktu dia berjalan beriringan dengan seorang Panglima TNI. Maka apakah orang-orang yang biasa mengganggunya, karena kelemahan dan anggapan remeh masyarakat, pada saat dia berjalan bersama Panglima TNI, akan tetap berani untuk mengganggunya? Jawaban rasional untuk kasus tersebut sangatlah jelas, tak akan ada yang berani mengganggu orang tersebut, setidak-tidaknya selama dia berjalan bersama Panglima TNI.

Maka ketika perintah mentaati dan berbakti pada orang tua, disejajarkan dengan perintah mentauhidkan Allah Jalla wa Alaa, maka hanya mereka yang sangat sangat bodoh, yang berani untuk melanggar perintah itu.

Tak heran bila Rasul shallallahu alaihi wa sallam sangat tegas menyatakan bahwa termasuk orang yang celaka bila diantara kita tak bisa masuk surga, padahal kedua orang tua atau salah satu diantaranya masih hidup bersama kita saat ini.

Subhanallah, kunci surga yang teramat dekat ada di depan kita, tapi betapa kita masih sering melupakan itu! Kita selalu berusaha mendapatkan surga dengan banyak jalan, tapi satu jalan yang sangat jelas tak kita manfaatkan.

Maka saya tak mau menjadi celaka, saya pun tak mau mendapat laknat. Alhamdulillah, kedua orang tua saya masih Allah ta'ala berikan kesempatan untuk hidup di dunia ini. Oleh karena itu, saya pun selalu menyempatkan diri menemui mereka di setiap libur akhir pekan. Tak lagu hanya 1 (satu) atau 2 (dua) kali di setiap bulannya.

Saya akui, tak banyak yang bisa saya lakukan. Tapi setidak-tidaknya untuk hadir secara langsung, mengobrol dan menghabiskan waktu di akhir pekan bersama mereka, saya harap bisa membuat mereka (orang tua saya) tau dan mengerti bahwa anaknya ini selalu berusaha untuk berbakti pada mereka.

Saya harus memanfaatkan ini semua, karena banyak diantara kita yang harus terpisah jauh dari kedua orang tuanya hingga tak mampu untuk pulang setiap pekan atau mereka yang saat ini telah menikah sehingga harus terbagi perhatiannya kepada istri dan anaknya. Maka saya yang tak berjarak jauh dengan orang tua dan masih belum menikah harus mampu memaksimalkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Dan pada akhirnya semoga saya dan kita semua tidak termasuk orang yang celaka seperti apa yang rasul shallallahu alaihi wa sallam katakan dalam haditsnya.

Wallahu'allam.
#PMA

Rabu, 19 April 2017

Sekilas tentang PP 11/2017

Rabu, 22 Rajab 1438 H / 19 April 2017
19.00 WIB

Pasal 134 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) menyebutkan bahwa Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini (UU ASN) harus ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Berdasarkan ketentuan diatas, peraturan pemerintah sebagai bentuk dari peraturan pelaksana berkenaan dengan UU ASN harus ada selambat-lambatnya tanggal 15 bulan Januari tahun 2016. Karena UU ASN disahkan serta diundangkan pada tanggal 15 Januari 2014. Akan tetapi kenyataan yang ada adalah peraturan pelaksana itu baru muncul ke permukaan di tahun 2017, tepatnya pada tanggal 7 bulan April tahun 2017. Kurang lebih 1 (satu) tahun 3 (tiga) bulan lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan.

Ya, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP 11/2017) telah resmi disahkan pada tanggal 30 Maret 2017 dan kemudian diundangkan pada tanggal 7 April 2017. Dengan demikian, seperti juga disebutkan dalam Pasal 362, PP 11/2017 mencabut 15 PP yang selama ini mengatur tentang teknis administrasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di Indonesia. 

Menurut pendapat saya, PP 11/2017 merupakan PP yang sangat ambisius dan “gemuk” karena PP 11/2017 langsung mengatur semua permasalahan, yang dulunya diatur dalam 15 PP. Semangat yang diusung mungkin baik, yakni ingin menunjukan bahwa pemerintah Indonesia dewasa ini serius untuk memotong jalur birokrasi, tapi rasa-rasanya memotong jalur birokrasi bukan dengan cara memborong semua permasalahan ke dalam satu PP, yang akhirnya justru menjadi tidak terlalu “mengena” dan ujung-ujungnya malah tak jauh beda dengan sebuah UU. Sangat bersifat umum, serta banyak hal pokok yang tak termuat di dalamnya.

Sebelum lebih jauh saya menyampaikan kritikan/masukan perihal PP 11/2017, saya ingin terlebih dahulu mengomentari tentang lambatnya pemerintah dalam merumuskan peraturan pelaksanan UU ASN. Banyak sudut pandang yang bisa digunakan untuk mengomentari permasalahan itu. Tapi saya sangat tertarik untuk melihatnya dari segi politik. 

Keterlambatan pemerintah dalam membuat aturan pelaksanan UU ASN disebabkan oleh “komoditas” PNS bukan “barang yang laku” atau dengan bahasa lain, permasalahan tentang PNS tidak dipandang sebagai sesuatu yang strategis. Hal itu bisa dilihat dengan “adem ayem”-nya DPR, media, serta masyarakat secara umum. Tak ada pemberitaan besar-besaran tentang permasalahan aturan pelaksana UU ASN. 

Pemerintah masih memandang “remeh” PNS. Padahal PNS adalah kunci dari berjalan atau tidaknya program yang telah direncanakan oleh para pimpinan di negeri ini. Dan tanpa aturan yang mumpuni, wajar bila proses pelaksanaan program pemimpin yang ada di Indonesia seringkali terkendala. Sepintar apapun seorang asrsitektur dan sebagus apapun gambar bangunan yang dibuatnya, tak akan bisa terealisasikan bila para pekerjanya (kuli bangunan) tidak bekerja dengan baik!

Kembali pada tujuan awal penulisan tulisan singkat ini, UU ASN dihadirkan sebagai sebuah UU pengganti UU Nomor 43 tahun 1999 dengan misi yang sangat besar yakni merubah paradigma pengelolaan kepegawaian birokrasi Indonesia seiring dengan perkembangan zaman. 

Titik beratnya ada pada keinginan masyarakat luas terhadap birokrasi yang setidak-tidaknya “mirip” dengan apa yang ditunjukan oleh instansi swasta. Maka dengan semangat perubahan itu, UU ASN dirumuskan. (http://noorzandhislife.blogspot.co.id/2013/12/ruu-asn-dan-eksistensi-ipdn.htmlAkan tetapi karena lamanya perumusan peraturan pelaksana dari UU ASN, maka semangat perubahan paradigma itu seperti berjalan di tempat. Karena walaupun telah menggunakan UU baru, segala macam bentuk pengaturan teknisnya masih menggunakan PP lama. Sehingga perubahan yang digadang-gadangkan itu belum bisa dilaksanakan. Bisa jadi karena beratnya beban perubahan yang diusung, membuat proses perumusan PP UU ASN berlangsung alot. Tapi kini, setelah dikeluarkannya PP 11/2017, berdasarkan hasil pengamatan singkat yang saya lakukan, perubahan besar itu belum juga bisa saya liat.

Di awal tulisan saya telah singgung bahwa PP 11/2017 terlalu ambisius dan gemuk. Membaca PP 11/2017 seperti membaca sebuah UU. Banyak hal yang masih perlu untuk dijelaskan/diatur lebih rinci oleh peraturan menteri. Hal itu sangat wajar terjadi karena urusan penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan Jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua, dan perlindungan PNS diatur di dalam satu PP, yakni PP 11/2017.

Saya ambil contoh tentang Kenaikan pangkat PNS (karena salah satu tugas yang saya miliki adalah berkenaan dengan Kenaikan Pangkat) di dalam PP 11/2017 tidak menyebutkan bagaimana mekanisme kenaikan pangkat PNS sesuai dengan paradigma UU ASN. Bahkan tidak dijelaskan apakah PNS masih menggunakan pangkat/golongan seperti yang saat ini berlaku atau tidak. Permasalahan pangkat/golongan seperti “sengaja” ditinggalkan. Karena memang kunci utama pengembangan karir PNS ada di pangkat/golongan. Pemberian gaji pokok PNS, sebagai sumber utama kesejahteraan PNS, ditentukan berdasarkan pangkat/golongan. Oleh karena urusan pangkat/golongan bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang sensitif, maka dalam Pasal 352 disebutkan bahwa Pangkat dan golongan ruang PNS yang sudah ada pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, tetap berlaku sampai dengan diberlakukannya ketentuan mengenai gaji dan tunjangan berdasarkan Peraturan Pemerintah mengenai gaji dan tunjangan sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

Perumusan tentang bagaimana bentuk pangkat/golongan bagi PNS harus bisa mengakomodir asas kompetensi serta kompetisi yang sehat dan adil. Tidak bisa terlalu hierarki selayaknya militer tapi tak bisa juga terlalu bebas seperti swasta. Melihat pada ketentuan tentang pengisian jabatan administrator dan jabatan pengawas pada Pasal 54, maka sepertinya memang akan ada “perubahan besar” pada sistem pangkat/golongan PNS. Karena tidak ada persyaratan yang menyebutkan golongan/pangkat terendah untuk menduduki jabatan administrator dan pengawas. Tapi itu baru sebuah spekulasi, karena pada akhirnya kita harus menunggu PP-nya terlebih dahulu. 

Karena walaupun di dalam PP 11/2017 tidak diatur tentang Kenaikan Pangkat PNS, dan telah dicabutnya PP 99/2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan PP 12/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil, akan tetapi pada Pasal 363 disebutkan bahwa Peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan Jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua, dan perlindungan, dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

Itu berarti Perka BKN Nomor 12 tahun 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 Tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana Telah Diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 tetap berlaku sehingga pelaksanaan Kenaikan Pangkat PNS masih bisa dilakukan dengan berpedoman pada Perka BKN Nomor 12 tahun 2002. 

Well, bagi saya yang awam, maka hal itu membuat saya mengerutkan dahi, UU dan PP telah baru, yakni UU tahun 2014 dan PP tahun 2017. Tapi realitanya masih tetap menjadikan pedoman sebuah aturan yang dikeluarkan pada tahun 2002, dan berdasar pada dua aturan yang telah dinyatakan dicabut dan tidak berlaku. Aneh, ‘kan?

Maka seharunya ketika akan merubah sebuah UU, pemerintah harus terlebih dahulu menyusun PP-nya sehingga konsep besarnya telah mampu terlihat dan bisa langsung dieksekusi. Bukan justru terombang-ambing. Jadi jangan membuat sebuah UU tanpa persiapan aturan pelaksananya, terlebih lagi sebuah UU yang merevisi UU lama.

Wallaahu'alam.
#PMA

Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang kebaikan dan keburukan.

Sabtu, 19 Jumadil Tsani 1438 H / 18 Maret 2017
11.27 WIB

Di dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.

Akibat kurangnya ilmu agama serta salah dalam memandang dunia. Karena indikator dan -isme yang disandarkan bukan pada Kalamullah (Al-Qur'an) serta Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam (padahal dia mengaku dan meng-klaim sebagai seorang Muslim), maka semakin besar kemungkinan bagi kita untuk memiliki anggapan bahwa ujian hidup adalah segala sesuatu yang kita anggap buruk. Adapun sebuah kebahagian adalah segala hal yang kita nilai baik.

Tapi hidup tidak seperti itu. Konsep kehidupan dalam Islam tak mengajari kita rumus tersebut di atas.

Kebaikan dan keburukan adalah bagian dari kehidupan dan keduanya adalah ujian. Apapun yang telah, sedang, dan akan kita hadapi dalam kehidupan ini, baik atau buruk, akan menentukan tempat serta derajatnya di kehidupan abadi nantinya.

Sehingga permasalahannya tidak berhenti pada baik atau buruk yang kita dapatkan, tapi respon apa yang kemudian kita berikan pada kebaikan atau keburukan itu.

Kebaikan tanpa ada rasa syukur maka itu keburukan. Dan keburukan diiringi dengan kesabaran maka itu-lah kebaikan.

Rasa syukur dan rasa sabar itu lalu kita tunjukan dengan serangkaian sikap taat pada ketentuan Allah ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam, yang kita sebut dengan istilah ibadah.

Pada akhirnya, apapun yang terjadi dalam hidup ini harus mampu membuat kita terus beribadah kepada-Nya. Tak peduli apakah itu kebaikan atau keburukan, bila dengannya kita semakin taat pada Allah ta'ala, maka itu kebaikan. Dan tak peduli apakah itu kebaikan atau keburukan, bila dengannya kita semakin jauh dari Allah ta'ala, lalai dengan ibadah, berani menganggap remeh Sunnah Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam, maka demi Allah itu adalah keburukan!

Minggu, 05 Maret 2017

Drama dalam hati

AHAD, 6 JUMADIL AKHIR 1438 H / 5 MARET 2017
17.31 WIB

Saya yang terlambat untuk sepenuhnya menyerah pada Allah ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Kini harus merasakan akibatnya.

Banyak permasalahan yang harus saya rasakan. Salah satunya urusan cinta.

Saya yang dulu dengan mudah menjalani cinta dengan wanita tanpa aturan agama. Dengan mudah mengumbar banyak janji dan harapan. Kemudian harus rusak, tak bisa terealisasikan.

Saya mungkin hebat dalam menyembunyikan, bisa dengan mudah tak memperlihatkan. Tapi apa yang ada di dalam hati sungguh tak semudah yang ditampilkan.

Saya harus bisa menerima walaupun sejatinya perbuatan dosa, harus dengan kuat kita sesali. Tapi, sebagai mukmin, pada akhirnya kita menyadari bahwa ini adalah kehedak-Nya. Skenario terindah dari-Nya.

Maka selamat berbahagia.

Ada banyak cinta yang saya tinggalkan, maka akan ada banyak drama di depan. Insyaallah saya harus siap. Menerima dan mendoakan untuk segala kebaikan.

Berawal dari sebuah percakapan ketika bersalaman, "akhirnya gak jad ya?"

Minggu, 22 Januari 2017

The Way of Life

AHAD, 24 RABIUL AKHIR 1438 H / 21 JANUARI 2017
04:15:00

Beberapa tulisan yang saya buat akhir-akhir ini bertemakan tentang pernikahan. Tema yang saya kupas dari berbagai sudut pandang. Dan kali ini pun saya akan menuliskan lagi tentang pernikahan. Tulisan ini akan mencoba membahas pernikahan dalam sudut pandang menentukan kriteria atau faktor-faktor yang harus dijadikan landasan dalam memilih pasangan.

Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam telah mewasiatkan bagi umatnya dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa mencari seorang pasangan harus mempertimbangkan 4 (empat) faktor, yakni harta, nasab, rupa, dan agama. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam menutup atau mengakhiri nasihatnya itu dengan mengatakan bahwa diantara 4 (empat) faktor tadi, kita harus mengutamakan faktor agama.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan menekankan hal itu dengan menyebutkan bahwa ketika faktor agama yang kita utamakan maka kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung.

Pada realitanya, Muslim sekarang ini tidak terlalu mengindahkan nasihat Nabinya shallallahu alaihi wa sallam, yang berarti secara tidak langsung menyelisihi Sunnah beliau shallallahu alaihi wa sallam. Diantara kita masih banyak yang meremehkan faktor agama dan berdalih bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menempatkan faktor agama setelah harta, nasab, dan rupa. Itu artinya, menurut anggapan mereka, agama berada di bawah harta, nasab, dan rupa. Na’udzubillah.

Bila dilihat secara logika maka pernyataan itu sangat masuk di akal dan rasa-rasanya tidak sedikitpun bertentangan dengan nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi pemahaman seperti itu adalah pemahaman secara parsial, tidak memahami Hadits secara utuh.

Seperti yang telah kita sebutkan, di akhir nasihatnya beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa faktor agama harus diutamakan agar kita akan masuk ke dalam orang yang beruntung. Maka kita harus paham, apa sih yang akan didapatkan oleh orang yang beruntung dalam perspektif Islam.

Subhanallah, di banyak ayat dalam Al-Qur'an, salah satunya adalah Q.S. Al-Mujadilah (58): 22, disebutkan bahwa balasan bagi orang yang beruntung adalah Surga! Dengan kata lain bila kita mentaati Rasul shallallahu alaihi wa sallam perihal mencari pasangan dengan mengutamakan faktor agama, maka kita pun sama dengan orang-orang selalu beramar ma'ruf nahi mungkar, orang-orang yang berjihad, dan orang yang bertaqwa karena semua orang-orang itu Allah ta'ala kategorikan juga sebagai orang yang beruntung.

Jadi, dengan manfaat dan keutamaan seperti yang tersebut di atas, sungguh disayangkan bila kemudian kita tidak mengutamakan faktor agama dalam mencari pasangan dan melepas begitu saja kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung.

Lantas apakah setelah kita mengutamakan faktor agama permasalahan mencari pasangan akan menjadi lebih mudah? Well, the answer is NO! Setidak-tidaknya itulah yang sedang saya alami saat ini.

Karena satu hal yang pasti, kita tidak sedang hidup di zaman dengan kualitas keimanan yang insya Allah sama dan seragam selayaknya zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau di zaman para sahabat, atau di zaman tabi'in, atau di zaman tabi'ut tabi'in.

Tapi demi Allah, kita sedang hidup di akhir zaman, kita hidup di zaman yang segala sesuatunya telah sangat jauh dari hukum Allah ta'ala dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Dewasa ini, terutama di negara Indonesia, kita hidup dengan agama Islam yang "beragam". Bagaimana Islam diterapkan atau diimplementasikan dengan banyak cara dan gaya.

Hal itu seringkali membuat kita terkecoh untuk membedakan mana muslim dan mana kafir. Tak ada identitas yang mampu kita bedakan. Syubhat dan syahwat bertebaran di sana-sini. Fragmentasi kini tak lagi terjadi antar beda agama, tapi fragmentasi justru ada dan sangat terlihat jelas diantara satu pemeluk agama.

Semua itu berpengaruh pada penentuan dalam mencari pasangan, terutama dalam hal faktor agama. Karena kini tak cukup hanya melihat bagaimana kualitas ibadah atau penampilan seseorang, akan tetapi lebih jauh dari itu harus dilihat apakah Islam telah menjadi landasan dalam kehidupannya ataukah masih terkontaminasi dengan paham-paham lainnya. Apakah Islam telah secara penuh dia jadikan pedoman kehidupan atau baru sekedar pedoman peribadatan.

Bila Islam belum menjadi pola pikir, belum kuat tertanam dalam hati, maka kemungkinan besar idelisme-idealisme lain akan datang merasuki sehingga sadar ataupun tidak, kita akan menjadi orang yang sekuler. Islam hanya untuk mengurusi peribadatan dan urusan dunia kita gunakan paham lainnya. Allahuakbar!

Salah satu cara untuk bisa mengetahui hal tersebut adalah dengan menanyakan apa visi dan misi calon pasangan dalam menjalani kehidupan terutama kehidupan dalam rumah tangga. Bagaimana dia memposisikan dirinya di dalam rumah. Atau kita pun bisa menanyakan padanya pertanyaan-pertanyaan kasuistik, ketika urusan dunia dan agama saling bertabrakan. Insya Allah dengan mempelajari setiap jawaban yang dia berikan maka kita akan bisa menilai sejauh mana Islam dia letakan dalam hidupnya.

Di awal saya telah saya sebutkan, untuk saya pribadi, hal-hal di atas adalah hal yang cukup sulit saya lalui. Itu adalah salah satu alasan kenapa kini saya masih begitu sulit menemukan pasangan. Dan itu pun alasan kenapa saya cukup selektif dalam menentukan pasangan. Karena tak bisa saya bayangkan bila saya harus menjalani sisa kehidupan dengan seseorang yang tak memiliki landasan berpikir yang sama.

Tidak, saya tidak mencari pasangan yang harus identik sama atau bahkan sempurna. Demi Allah, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Saya pun penuh dosa, jadi kenapa saya mengharapkan seseorang yang suci? Sekali lagi saya tekankan, tulisan ini hanya menggaris bawahi pentingnya sama-sama telah menjadikan Islam sebagai segalanya dalam hidup, baik dalam aqidah, ibadah, muamalah, apapun itu! 

Permasalahan mengenai pasangan masih banyak berbeda dalam menerapkan hukum untuk beberapa urusan itu adalah hal yang bisa untuk didiskusikan. Karena ketika telah sama-sama menyadari bahwa Islam mengatur segalanya, menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan maka insya Allah kita akan sami'na wa atho'na ketika ada dalil yang kuat mendatangi. Tak akan sulit menasihati.

Akhir kata, semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita semua terutama saya pribadi untuk mendapatkan pasangan hidup yang bisa semakin mendekatkan kita kepada-Nya, pasangan hidup yang sama-sama mau untuk belajar ilmu syar'i, zuhud terhadap dunia, mengutamakan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia, dan pasangan hidup yang satu metode (manhaj) dalam beragama. Aamiin.

#PMA

Jumat, 13 Januari 2017

Tulisan macam apa ini?!

KAMIS, 14 RABIUL AKHIR 1438 H / 12 JANUARI 2017
09:30:00

Karena menikah bukan sebuah balapan, tak harus cepat-cepatan.
Saling susul menyusul jadi yang terdepan.

Bukan juga perkara mudah, yang sekali ketemu langsung saja nikah.
Tanpa perkenalan, tak saling bertukar pikiran.

Menikah itu urusan besar karena menghalalkan sebuah aktivitas yang tadinya haram. Sebuah hubungan yang mulanya menghasilkan dosa dan tak berguna, sangat sia-sia, kemudian berubah menjadi pahala yang terus mengalir sepanjang waktu. Jadi sungguh keliru bila untuk sesuatu yang dapat merubah hukum Allah Ta'ala 180 derajat, dimaknai dengan sangat dangkal dan dilakukan tanpa persiapan. 

Menikah itu butuh ilmu karena prakteknya hingga nanti mati. Menikah itu tak bisa terlebih dahulu coba-coba dan bila merasa tak mampu lantas mundur! Menikah tak sebercanda itu. 

Banyak orang yang salah sangka terhadap Islam. Bahwa Islam melalui wahyu Allah Ta'ala dan sunnah Nabi-nya shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati setiap umatnya, terkhusus pemuda untuk menyegerakan pernikahan dan setiap pemudinya untuk mempermudah maharnya, bukan berarti Islam menyuruh umatnya menikah tanpa ilmu atau menikah tanpa ada rasa terlebih dahulu.

Saya pun dulu beranggapan seperti itu, tapi subhanallah, pemikiran tersebut sangat keliru. Islam melalui sunnah Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam juga sunnah para sahabat beliau, mengajarkan dan bahkan sangat menekankan untuk menikah dengan terlebih dahulu memiliki ilmu. Baik itu ilmu tentang siapa yang akan kita nikahi maupun ilmu berkenaan dengan hukum-hukum pernikahan itu sendiri.

Dan bila masih ada diantara kita yang berpikiran Islam itu agama yang penuh paksaan dalam urusan pernikahan, maka sepertinya orang tersebut belum banyak mendengarkan ceramah atau kajian Islam berkenaan dengan hubungan pria dan wanita yang akan menikah. 

Orang tersebut rasa-rasanya hanya menyimpulkan Islam dari fakta bahwa Islam melarang pacaran. Sehingga mereka langsung mem-vonis Islam adalah agama yang tak mengizinkan umatnya untuk saling berinteraksi. Allahuakbar, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang cepat mengambil kesimpulan tanpa terlebih dahulu memahami permasalahan secara utuh. 

Lalu apa maksud semua ini? Apa tujuan saya menulis beberapa untaian kalimat di atas? Entah-lah, saya hanya sedang berusaha merangkai setiap kata yang ada dalam otak. Lama tak merangkai kata rasa-rasanya menyumbat beberapa saluran darah dalam otak.

Jadi, ya ini-lah hasilnya. Apa ada manfaatnya? hmm 

Kamis, 08 Desember 2016

Ibnu Qayyim bicara Cinta

RABU, 8 RABI’UL AWWAL 1438 H / 7 DESEMBER 2016
09.20 WIB


“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur : 30-31)

“Tidak ada fitnah yang lebih berbahaya sepeninggalku bagi seorang laki-laki selain dari (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
 ***
 
Adakah yang tidak mengetahui nama sekaliber Ibnu Qayyim Al Jauziyah? Ada?

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, mempunyai nama lengkap Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan dari internet, dikatakan bahwa nama Ibnu Qayyim Al Jauziyah diberikan karena ayah beliau adalah penjaga (qayyim) di sebuah sekolah lokal yang bernama Al-Jauziyyah.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dilahirkan di Damaskus, Suriah pada tanggal 4 Februari 1292 dan meninggal pada 23 September 1350. Beliau adalah seorang cendekiawan Islam yang hidup pada abad ke-13. Selain dikenal sebagai ahli Tafsir, ahli hadits, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid, beliau pun tak diragukan lagi dalam bidang kedokteran dan psikologi.

Oleh karena itu, salah satu karya tulis beliau di luar bidang ilmu syariat yang cukup fenomenal adalah buku yang berjudul Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Taman Orang Jatuh Cinta Tamasya Orang yang Terbakar Rindu (Semua Hal Mengenai Cinta).

Di dalam Mukadimah buku Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin, Ibnu Qayyim menjelaskan secara panjang lebar bahwa di dalam setiap jiwa manusia terdapat nafsu dan akal. Idealnya nafsu dan akal harus saling melengkapi satu sama lainnya dengan aturan yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. 
 
Secara lebih speisifik, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa nafsu memang terlahir lebih “kuat” daripada akal. “Allah Swt. telah menjadikan nafsu dapat mengendalikan jiwa, memerintah kepada keburukan, hawa nafsu menerkam dan menjadi penyakit bagi jiwa yang tenang, dan tidak ada obatnya kecuali dengan menentangnya.”

Karena kecenderungan kuatnya hawa nafsu dan kecenderungan kekuatan tersebut mengarahkan setiap manusia pada keburukan, maka manusia harus dengan sekuat tenaga mampu melawan hawa nafsu yang ada dalam hatinya. Hal itu dikarenankan, “Surga dijadikan terhalangi oleh berbagai ketidaksenangan sebagai bentuk perlindungan dari nafsu-nafsu dunia yang hanya melahirkan kehinaan.” 
 
Maka Ibnu Qayyim berupaya untuk menyusun sebuah kitab yang beliau khususkan untuk memberikan nasihat guna menyeimbangkan antara nafsu dan akal yang berlandaskan pada ketentuan Allah Ta’ala. Aturan Allah Azza wa Jalla perlu untuk dijadikan prioritas karena di setiap perintah yang Dia gariskan pasti memiliki kebaikan dan kemaslahatan, begitu juga sebaliknya dalam setiap larangan-Nya adalah sebagai bentuk pemeliharaan dan penjagaan dari-Nya untuk manusia. Karena Dia adalah Sang Khaliq.

Bagi saya secara pribadi, mengetahui bahwa ada ulama besar yang secara khusus menuliskan sebuah kitab yang membahas seluk beluk tentang cinta adalah sesuatu yang sangat menggembirakan sekaligus melegakan. Itu berarti ada nasihat-nasihat tentang permasalahan cinta yang sesuai dengan tuntutan ajaran Islam. Karena urusan cinta adalah masalah atau bahkan “musibah” psikis yang sering saya hadapi.
***

Sebagian orang-orang salaf menafsirkan ayat, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.” (QS. Al-Baqarah : 286) Bahwa yang dimaksud beban yang tidak sanggup dipikul dalam ayat tersebut adalah al-‘Isyqu (cinta buta). Hal ini tidak mereka maksudkan sebagai kekhususan, tetapi yang mereka maksud adalah tamtsil. Karena pada kenyataannya, cinta itu tidak akan sanggup untuk dipikul. Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah beban yang terkait dengan takdir, bukan yang berhubungan dengan hukum syari’at.

Rasa-rasanya saya sering memikul beban yang dimaksudkan oleh tafsiran sebagain orang salaf di atas. Terutamanya kini, ketika keinginan untuk menikah itu sangat menggebu. Saya justru tertarik atau diberikan rasa dengan wanita yang secara teori memang akan sulit untuk bersama.

Dimulai dengan wanita yang telah memiliki pemahaman agama lebih dari saya sehingga dia tak bisa menerima beberapa kesalahan masa lalu yang terbawa hingga sekarang. Akibat dari pemahaman agama yang dangkal di masa lalu, maka beberapa keputusan kehidupan pun saya sandarkan pada bodohnya ilmu agama. Jadi ya, ada beberapa yang harus saya tanggung sampai dengan beberapa tahun kedepan. Dan jatuh cinta pada wanita yang telah sangat memahami agama tentu sulit untuk terbalaskan.

Yang terjadi selanjutnya pun tak masuk di akal. Saya tak lagi mencari wanita dengan pemahaman agama yang telah matang. Saya menjatuhkan perasaan pada wanita yang masih berusaha menjadikan agama sebagai prioritas. Dan tawaran pun kembali tak terbalas karena agama yang belum dia jadikan sebagai landasan maka urusan pernikahan belum mendapatkan skala prioritas dalam hidupnya.

Hari berganti hari, nasihat ulama tentang keutamaan pernikahan tak bisa saya pungkiri. Saya tak bisa berpura-pura tak punya birahi. Terlebih di zaman penuh fitnah, syubhat dan syahwat bertebaran di sana-sini. Terbayangi oleh beberapa masa lalu yang cukup keji. Maka pernikahan telah wajib bagi saya secara pribadi. 
 
Karena klaim “hijrah” belum sempurna tanpa pernikahan. “Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ (Tafsir al-Qurthubi, 9/327) https://konsultasisyariah.com/26085-makna-hadis-menikah-menyempurnakan-setengah-agama.html

Belajar dari 2 (dua) pengalaman, saya pun “berusaha” untuk menahan rasa tak terjatuh pada wanita yang sekiranya sulit untuk bersama. Tapi apa mau dikata, rasa selalu saja datang tak disangka. Rasa itu muncul pada seorang wanita yang memang bila dilihat dari agama tak banyak berbeda dengan saya. Dia sepertinya mulai meniti jalan “hijrah” tapi kami terpisah jarak. Tapi itu-lah rasa, terus melaju dan akhirnya tak juga terbalas. Dia sulit meninggalkan kampungnya karena kesehatan orang tua jadi penyebabnya.

Seakan belum puas dengan 3 (tiga) kali penolakan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, perasaan itu kembali menuntun saya menawarkan sebuah perkenalan untuk pernikahan (ta’aruf) kepada wanita. Tapi lagi, lagi, dan lagi tertolak. Kali ini dengan alasan dia telah ber-ta’aruf dengan lelaki lain.

Itu-lah alasannya kenapa saya merasakan bahwa tafsiran beberapa orang salaf terhadap salah satu firman Allah Ta’ala yang telah saya sebutkan di atas, sangat sesuai dengan kondisi saya saat ini. 
 
Kenapa saya dianugerahi sebuah perasaan yang tak bisa untuk terbalaskan? Dan justru situasi ini berada di saat saya benar-benar ingin mengenal wanita sesuai syariat Islam dan menyegerakan pernikahan. 
 
Ketika dulu, saya mendekati wanita dengan mengacuhkan segala aturan-Nya dan tanpa pemikiran untuk menikah dalam waktu dekat, semua rasa itu selalu bisa terbalaskan. Allahuakbar!

Tapi pertanyaan saya kemudian terjawab tuntas oleh Ibnu Qayyim. Beliau dengan sangat cerdas memberikan nasihat bahwa perkara rasa, apakah sekedar suka, cinta atau sayang, memang bukan sebuah pilihan. Perasaan muncul atas kehendak Allah Ta’ala karena Dia yang membolak-balikan hati manusia. Tapi semua perasaan itu bisa datang dengan cara yang tercela atau terpuji, bisa datang bertubi-tubi atau seimbang, sungguh kita yang bisa menentukan. Karena perasaan adalah sebuah hasil yang diawali oleh pandangan!

Analogi Ibnu Qayyim adalah seperti keadaan mabuk minuman keras. Ketika kita meminum minuman keras maka menjadi mabuk bukan sebuah pilihan. Kita tak bisa lantas memilih menjadi mabuk atau tidak, bila telah meminum minuman keras. 
 
Tapi kita bisa memilih untuk tidak meminum atau meminum minuman keras. Maka dalam perkaras rasa, bila pandangan tak bisa kita jaga dengan baik, kita umbar pandangan menuruti hawa nafsu, maka jelas rasa akan muncul dengan sangat cepat tanpa bisa dikendalikan. “Tidak dapat kita sangkal bahwa mengumbar pandangan dan terlena dengan pikiran sama kedudukannya dengan orang mabuk karena minum arak. Yaitu dicela karena sebab yang diperbuatnya. Apabila cinta tersebut ada karena sebab yang tidak dicela maka tentu cinta itu tidak akan dicela.”

"..., dapat kita katakan bahwa benih-benih cinta serta sebab pemicunya merupakan hal yang bersifat ikhtiyari (pilihan) yang keberadaannya di bawah kewajiban yang dibebankan. Pandangan, pikiran dan kehendak untuk mencintai adalah urusan yang bersifat ikhtiyari. Dan apabila ada sebab, maka hal yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tidak ikhtiyari lagi, seperti disebutkan dalam untaian sya’ir :
Ia larut dalam gelombang cinta yang membara
Dan ketika cintanya surut, ia tak lagi berdaya
Gelombang ombak ia tak sangka sebagai riak
Saat menggulung, ia tenggelam berteriak
Dia berharap dosanya tersisir
Namun dia tak sanggup lagi untuk berpikir"


Untaian argumen atau nasihat dari ulama sekaliber Ibnu Qayyim seperti menampar saya sangat keras. Saya tak bisa menyalahkan siapapun dari hadirnya rasa ke dalam hati selain diri saya sendiri. Saya yang mungkin belum bisa menjaga pandangan dengan sangat baik, maka saya pun harus merasakan akibatnya. Saya bingung dengan banyaknya rasa yang harus saya rasakan. Rasa yang harus dengan tragis tak terbalaskan. “Wahai Ali, jangan engkau perturutkan pandangan dengan pandangan selanjutnya. Bagimu hanya pandangan pertama (yang tidak disengaja), sedangkan tatapan kedua dan seterusnya adalah bukan hakmu.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

“Pandangan adalah anak panah iblis yang beracun. Barangsiapa yang dapat menahan pandangannya dari keelokan perempuan maka hatinya akan dianugerahi kenikmatan di alam hatinya, yang akan dia rasakan sehingga hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Hakim dan Thabrani)
***

Berkenaan dengan pertanyaan atau keanehan saya tentang penolakan yang datang secara simultan, padahal apa yang saya tawarkan adalah sebuah konsep syariat dan kepastian. 
 
Tapi dulu ketika yang saya berikan menyalahi aturan dan tidak ada kepastian, rasa itu terbalas dan jiwa itu saling bertautan. Maka itu pun erat berkaitan dengan dosa-dosa yang sepertinya masih saya rutinkan. 
 
Pembahasan yang telah saya uraikan pada tulisan Musibah, juga setali tiga uang dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim. “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3) Dengan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa apabila seseorang bertakwa, lalu meninggalkan cara yang tidak halal, maka Allah akan memberikan rezeki padanya dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Demikian halnya dengan seorang pezina, seandainya dia mau meninggalkan zina yang diharamkan syariat, niscaya Allah Ta’ala akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan halal."

Maka Allah Ta’ala belum memberikan saya sebuah hubungan yang halal, karena mungkin saya masih merutinkan beberapa perbuatan yang melanggar syariat-Nya. 
 
Ya, saya tak bisa begitu saja meminta kebaikan bila ternyata masih ada keburukan yang saya kerjakan. Saya harus terlebih dahulu memperbaiki diri sebaik-baiknya, dan meluruskan serta mengikhlaskan niat bahwa semua yang saya kerjakan memang benar untuk mengharapkan ridho dan rahmat-Nya, bukan untuk kepentingan dunia yang hina dan fana.

Well, mendengarkan atau membaca nasihat ulama yang berlandas pada Al-Qur’an dan Hadits memang selalu menenangkan jiwa. Agama Islam memang sebuah solusi bagi segala keruwetan hidup. 
 
Semoga kita semua selalu diberikan hidayah untuk terus mencari dan mengamalkan setiap ilmu. Dan semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan bagi saya dan kita semua yang belum menikah, untuk menemukan wanita sholehah dan menyegerakan pernikahan. Aamiin.
 
#PMA