Sabtu, 30 April 2011

Bodoh, sebodoh-bodohnya Manusia

Aku pikir diri ini yang paling hebat
mampu untuk melakukan segalanya
menafikan semua manusia yang ada
dan segalanya yang bernyawa

tertawa terbahak, seakan yang paling sempurna
menghina, mencaci habis mereka
seolah hanya mereka yang salah
dan diriku yang selalu benar
dengan segala inisiatif yang telah diperbuat
dengan segala kemampuan dan kecepatan yang ada
dengan segala pujian yang datang memeluk hangat

tapi ternyata hal kecil mampu menampar keras hati ini, meyadarkan hati dan menyiutkan nyali
sebuah jadwal, hasil dari buah inisiatif, yang ku pikir salah satu yang terbaik
tapi ternyata masih mengundang koreksi
serta banyaknya keluhan di sana sini

menyandar kemudian tersadar
menarik nafas dalam dan terhenyak
ya...diri ini tak sempurna dan semakin tidak sempurna karena berpikir telah sempurna.

Pujiaan bukan untuk menjadi tinggi
tapi hanya untuk memotivasi
dan tetap berpijak di bumi

Rabu, 27 April 2011

Penerimaan Calon Praja IPDN T.A. 2011/2012



KEMENTERIAN DALAM NEGERI
REPUBLIK INDONESIA
PENGUMUMAN
Nomor : 892.22/1168/SJ
TENTANG
SELEKSI PENERIMAAN CALON PRAJA IPDN
TAHUN AJARAN 2011/2012


Dengan hormat diberitahukan bahwa Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah pada tahun ajaran 2011/2012 membuka kesempatan bagi Putera/Puteri Warga Negara Republik Indonesia untuk mengikuti Pendidikan Tinggi Kepamong Prajaan (Diploma IV) pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)

Adapun ketentuan penerimaan Calon Praja (Capra) IPDN Tahun Ajaran 2011/2012 sebagai berikut :
I. Syarat dan Tata Cara Pendaftaran
A. Persyaratan Pelamar / Calon Peserta seleksi meliputi :
1. Warga Negara Indonesia;
2. Usia :
- Pelamar umum maksimal 21 (dua puluh satu) tahun;
- Pelamar dari PNS Tugas Belajar berumur Maksimal 24 tahun dan mempunyai masa kerja minimal 2 (dua) tahun.
3. Tinggi badan pelamar pria minimal 160 cm dan wanita minimal 155 cm;
4. Tahun Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) pendaftar, yaitu; tahun 2009 dan 2010, bagi pelamar umum;
5. Tidak bertato atau bekas tato dan bagi pelamar Pria tidak ditindik atau bekas ditindik telinganya atau anggota badan lainnya kecuali karena ketentuan agama/adat;
6. Nilai rata-rata Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) minimal 7,00;
7. Tidak menggunakan Kacamata/Lensa Kontak Minus sesuai dengan unsur pemeriksaan kesehatan (tes kesehatan) bagi peserta seleksi penerimaan Calon Praja IPDN;
8. Bagi Pendaftar yang masih duduk di kelas XII pada tahun 2011, dapat mendaftarkan diri dengan menyertakan surat keterangan yang ditandatangani dan disyahkan Kepala Sekolah, yang menyatakan bahwa yang bersangkutan masih duduk di Kelas XII atau menggunakan Surat Kepala Sekolah dan menyerahkan surat tanda kelulusan selesai ujian Nasional;
9. Surat keterangan catatan Kepolisian dari Kepolisian tingkat Kabupaten/Kota setempat;
10. Surat Keterangan Berbadan Sehat dari RSUD/Puskesmas setempat;
11. Surat Pernyataan sampai saat ini belum pernah menikah/kawin dan/atau hamil/melahirkan dan kesanggupan tidak menikah/kawin selama mengikuti Pendidikan Tinggi Kepamong Prajaan dikampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) diketahui Orang Tua/Wali dan disyahkan kepala Desa/Lurah setempat, yang dinyatakan secara tertulis diatas kertas bermaterai Rp. 6000 (Contoh Surat Pernyataan (pdf))
12. Surat Pernyataan bersedia mengikuti proses pendidikan di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Pusat atau Daerah dan bersedia mengembalikan seluruh biaya selama pendidikan yang telah dikeluarkan Pemerintah, dikarenakan mengundurkan diri, diberhentikan dengan hormat maupun tidak hormat dan/atau melanggar peraturan pendidikan yang dinyatakan secara tertulis diatas kertas bermaterai Rp. 6000 dan diketahui Orang Tua/Wali. (Contoh Surat Pernyataan (pdf))

B. Persyaratan Lainnya
1. Fotocopy Tahun Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang;

2. Pasphoto berwarna menghadap Kedepan dan tidak memakai kacamata, ukuran 3 x 4 cm, sebanyak 5 (lima) lembar;
3. Menyerahkan surat pernyataan yang telah ditentukan; dan
4. Syarat pendaftaran disusun rapi dan dimasukkan kedalam stofmap berwarna biru.

C. Tempat dan waktu pendaftaran
1. Tempat Pendaftaran :
Pendaftaran dilakukan oleh setiap calon peserta seleksi di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota masing- masing seluruh Indonesia.
2. Waktu Pendaftaran :
Pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 02 Mei sampai dengan tanggal 15 Mei 2011.

II. Lain-Lain :
1. Bagi Peserta seleksi Calon Praja IPDN pada tahun 2011 masih berada di kelas XII SMA/MA, dan dikemudian hari ternyata yang bersangkutan tidak lulus SMA/MA dan/atau nilai-nilai rata-rata STTB SMA/MA tidak memenuhi syarat nilai 7,00 maka dinyatakan gugur walaupun yang bersangkutan telah dinyatakan lulus seleksi sebagai Calon Praja IPDN.
2. Untuk Informasi lebih lanjut dapat menghubungi BKD Provinsi, Kabupaten dan Kota.
3. Apabila ada pihak/oknum yang menawarkan jasa dengan menjanjikan untuk dapat diterima menjadi Calon Praja IPDN dengan meminta imbalan tertentu, maka perbuatan tersebut adalah penipuan. Panitia tidak bertanggung jawab atas perbuatan pihak/oknum tersebut.


Jakarta, 21 April 2011
an. MENTERI DALAM NEGERI
SEKRETARIAT JENDERAL,

TTD

DIAH ANGGRAENI

Sumber :
http://202.182.165.90/

Referensi Bacaan :
IPDN 2010/2011
Situs IPDN
Kementerian Dalam Negeri

Senin, 25 April 2011

GERAKAN MEMANUSIAKAN MANUSIA

Memanusiakan manusia, sebuah kalimat sederhana yang cukup menarik perhatian saya. Adalah ketika hari Senin, tanggal 25, bulan April, tahun 2011, pada saat perkuliahan jam kedua di kelas besar (aula). Perkuliahan yang disampaikan oleh Pak Saherimiko, dosen mata kuliah Ilmu Politik. Ketika itu pembahasan yang sedang kami bahas adalah tentang sistem politik demokrasi. Sedikit kita melenceng sejenak, Pak Saherimiko bukan lah dosen favorit saya. Bagi saya dia kurang begitu baik dalam penyampaian setiap materinya, jadi lah suasana kelas yang kurang kondusif, banyak diantara kami yang tertidur (walaupun pada setiap perkuliahan tidur tetap menjadi pemandangan umum dan permasalahan yang tak kunjung ada solusinya). Tapi kelas besar, dosen yang kurang bisa menghidupkan suasana seakan menjadi pembenaran bagi diantara kami untuk tertidur dan bertindak acuh tak acuh dan sejujurnya saya pun tidak begitu "on" siang itu. ;)

Let's back to our main topic, singkat kata, dalam pembahasannya, ketika beliau menyampaikan tentang fungsi dan manfaat dari sistem demokrasi, memanusiakan manusia merupakan salah satunya. Secara sederhana, memanusiakan manusia berarti mengembalikan manusia ke fitrah dan hakikat awal mereka diciptakan. Dalam hal ini kaitannya dengan demokrasi adalah demokrasi yang berarti suatu sistem yang kedaulatannya berada di tangan rakyat sehingga diharapkan munculnya suatu negara yang oleh, dari, dan untuk rakyat. Bila itu yang benar-benar dapat diciptakan, berarti sistem demokrasi telah mampu membawa manusia ke bentuk asli mereka sebagai suatu makhluk sosial dan pemimpin bagi diantara mereka. Sistem ini pun akan membuat manusia untuk selalu bermusyawarah dalam kebersamaan menentukan segala sikap yang akan mereka lakukan.

Dalam skala yang lebih luas, sesungguhnya memanusiakan manusia harus kita lakukan dalam setiap segi kehidupan manusia dewasa ini. Malahan, bila perlu kita jadikan ini suatu gerakan moral bernama Gerakan Memanusiakan Manusia. Manusia lambat laun telah berubah atau kata halusnya mereka telah menyerupai seekor binatang dan bahkan lebih hina. Hawa nafsu telah diletakan di paling atas dasar pengambilan keputusan. Rasa sosial dan rasa kemanusiaan sudah bukan menjadi suatu pertimbangan. Hedonis totalitas adalah suatu gaya hidup yang nyata.

Dalam skala yang lebih kecil lagi, saya mencoba menerapkan GMM itu untuk menganalisis kehidupan saya sebagai seorang praja. Secara normal, secara "manusia"-nya kehidupan seorang praja adalah sebuah kehidupan yang penuh dengan aturan. Segala detail dalam hidup seorang praja tak ada satu pun yang tak diatur. Kita dipaksa untuk menjadi dewasa dan secepat mungkin meninggalkan segala tindakan dan pikiran seorang remaja yang bebas. Dari segi pembelajaran, di sini praja di paksa untuk belajar dari pagi hingga sore lalu belajar mandiri pada malam harinya. Otak dan fisik terkuras, bila mental tak kuat stres dan frustasi akan terasa dekat. Dan kenyataan yang ada sekarang, praja terlalu terbuai dengan kehidupan yang serba gratis dan serba ada. Mereka terlalu enak dan terlupa. Mereka, kita, kami menjadi sekelompok orang manja yang banyak menuntut, sedikit-sedikit mengeluh karena ingin hidup enak. Aneh, kenapa jadi praja kalau enggan berkeringat karena berpanas-panasan beraktifitas ataupun sekedar untuk apel dan kenapa jadi praja kalau enggan untuk belajar dan berlatih, menguras otak kita. Suatu ironi, selayaknya seorang tukang tambal ban yang enggan untuk menambal ban. Padahal kita sudah hidup enak dengan menghabiskan miliaran uang rakyat, uang orang tua kita. Padahal kita hanya tinggal menjalani hari, tanpa harus bersusah payah mengatur jadwal. Tapi, kita tetap berharap dan meminta lebih. Tak sadar, bahwa dalam diri kita ini lah wajah dan nasib pemerintahan di masa depan akan kita pegang.

Mau jadi apa bangsa ini? Ketika hal dasar, yaitu disiplin, kecerdasan intelektual dan keterampilan hanya timbul dan kita latih karena terpaksa, bukan dari hati dan kesadaran diri. Jadi, mari kita berintrospeksi, bermawas diri, hati dan nurani. Perbanyak ucapkan rasa syukur dan menghargai segala sesuatunya secara lebih. Mari kita Memprajakan Praja, Memanusiakan Manusia melalui Gerakan Memanusiakan Manusia. Dimulai dari sekarang, dimulai dari diri pribadi dan dari hal yang terkecil.

"Kita lahir sebagai seorang manusia dan mati pun selayaknya dan sepertinya harus sebagai seorang manusia pula."

Minggu, 24 April 2011

Bernostalgia

“Bernostalgia, mengenang segala yang telah lalu dan telah terjadi di masa lalu, tanpa kita sadari adalah suatu hal yang amat menyenangkan dan terkadang membuat kita terbuai dan terlupa tentang masa kini yang sedang kita jalani.”


Hari Sabtu, tanggal 22, bulan April, tahun 2011. Seperti biasanya, selepas makan malam, saya menyempatkan diri untuk shalat Isya berjamaah di mushola IPDN kampus Kubu Raya, Mushola kami menyebutnya karena memang ukurannya yang kecil, begitu juga jumlah Praja muslim yang ada di kampus regional ini. Sekitar pukul 19.30, saya keluar dari mushola dan segera menuju wisma ketika sebagian besar dari kami memilih untuk menonton sepak bola di Posko Pengasuhan, ya..karena disitulah satu-satunya tv yang ada di sini dengan kualitas yang cukup bagus dan yang paling penting adalah Praja dibolehkan untuk menonton tv di situ. Sebenarnya ada juga tv di kantin yang bisa Praja gunakan, akan tetapi entah karena faktor apa kualitas tayangan tv yang ada di kantin amat kurang memadai. Jadilah Posko Pengasuhan seketika menjadi tempat favorit bagi Praja. Alasan saya cukup sederhana kenapa saya enggan untuk ikut menonton bola, bukan karena saya tidak menyukai sepak bola, tidak sama sekali, karena sepak bola adalah hiburan utama bagi saya. Tapi, itu semua hanya karena saya tidak atau kurang begitu menyukai Liga Inggris, banyak alasan memang, tapi yang jelas semua alasan itu bersifat subjektif dan benar-benar murni masalah selera. Jadilah saya pergi kembali ke wisma bersama beberapa teman saya, seperti biasa kami berjalan membentuk barisan. Karena itulah aturan yang harus kami jalankan, setiap pergerakan harus selalu dalam bentuk barisan. Tapi, sepanjang perjalanan kami isi dengan canda tawa sehingga akhirnya tak jelas lah barisan yang kami buat.

Sejujurnya, saya tidak mempunyai rencana atau kegiatan pasti untuk saya lakukan. Waktu masih tersisa cukup banyak hingga pukul 21.00, waktu untuk kami melakukan apel malam. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka laptop. Memutar beberapa lagu, kemudian saya arahkan pointer pada laptop saya untuk membuka folder “Gambar”. Ya, entah kenapa, dengan sendirinya timbul keinginan untuk melihat kembali foto-foto saya ketika di SMA dulu. Beberapa foto saya buka, dan kenangan itu kembali ada. Pikiran saya melayang jauh kebelakang, mencoba mengingat apa yang pernah dulu terjadi. Sedikit melamun tapi masih tersadar.

Bukan kali pertama saya melihat foto-foto sewaktu SMA dan bahkan terlampau sering sepertinya saya menghabiskan waktu kosong dengan sekedar melihat-lihat kumpulan-kumpulan foto itu. Tapi semakin sering saya membukanya justru semakin banyak kenangan yang bisa saya ingat kembali, tak ada sedikit pun rasa bosan ataupun rasa jenuh. Entah kenapa memang, tapi ini semua memang berbanding lurus dengan kenyataan masyarakat kita pada umumnya, masyarakat Indonesia (termasuk saya tentunya) sangat senang dan terlalu senang bernostalgia dengan keindahan di masa lalu, kita terlalu sering membandingkan segala yang indah yang ada di masa lalu dengan situasi yang ada sekarang. Kita lebih senang hidup di masa lalu, ini semua tanpa kita sadari, lambat laun mengikis habis semangat kita dan memudahkan kita untuk berputus asa dan membenarkan kita untuk menyerah dari cobaan di masa kini. Ini adalah sesuatu yang salah, sesuatu yang justru menjadi sangat tidak produktif. Sepantasnya, segala yang terjadi di masa lalu harus kita jadikan sebagai suatu pembelajaran dan semangat untuk kita menjalani segala sesuatunya di masa sekarang dan sebagai acuan untuk menata apa yang akan kita lakukan di masa depan. Masa lalu boleh kita kenang tapi tak boleh kita ratapi, kita kenang untuk kita jadikan penyemangat dan pembelajaran kita, bukan justru membuat kita menjadi seorang pelamun.

Itulah yang coba saya lakukan, walaupun masa-masa di SMA entah kenapa memang terasa begitu sangat berkesan, tapi sekali lagi itu semua hanya masa lalu, hanya sebuah kenangan indah dalam hati, yang nantinya saya akan ceritakan sebagai suatu pengalaman hidup, sebagai suatu jalan hidup dan pembentuk cerita kehidupan seorang Adima Insan Akbar Noors.

LET’S KEEP IT IN OUR HEART BUT DON’T LIVE IT, CAUSE IT IS A PAST AND WE LIVE IN TODAY.





Adima Insan Akbar Noors
Alumni SMA Negeri 1 Sumedang (ang. 2010)

Kelas X-2, XI IPA 2, XII IPA 2 (SOUL_ID/DCID)

Sabtu, 23 April 2011

Takkan Terhenti Disini

“kan kuyakini jalan yang ku tentukan
tak kan sesali semua yang tlah hilang
serukan smangat hidupku
temukan arah mimpiku
saat terkikis ragu dan terluka”


Itulah potongan lirik lagu dari band indie asal Bandung, Alone At Last* (AAL). Lagu yang berjudul “Takkan Terhenti Disini” tersebut, secara umum bercerita tentang sebuah motivasi diri untuk tetap bergerak dan tidak menyesali apa yang telah terjadi dan tidak menjadikan itu semua sebagai sebuah alasan untuk kita berhenti dan menyerah.

Lagu itu seketika menjadi lagu wajib saya, menjadi sebuah penyemangat. Karena buat saya pribadi, sebuah lagu, sebuah musik, bisa berarti lebih dari sekedar hiburan atau teman di saat sepi. Lagu dengan lirik yang menyertainya mempunyai pesan dan makna yang dalam untuk setiap pendengarnya. Ya, saya memang bukan seorang ahli musik yang pandai membaca nada ataupun sekedar bermain alat musik. Saya hanya seorang yang murni penikmat sebuah lagu. Saya selalu memaknai lebih untuk sebuah lagu yang saya dengarkan dan mencoba mengerti setiap maksud dalam setiap katanya serta menerapkan segala pesan positif yang mungkin ada di dalamnya.

Satu bulan lebih satu minggu (18/03/2011 – 18/04/2011), itulah waktu yang telah saya lewati di IPDN Kampus Regional Kab. Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah kurun waktu yang belum terlalu lama, tapi tidak juga sebentar untuk sesorang yang baru pertama kali hidup jauh dari kampung halaman dan bahkan hidup berbeda pulau dari sanak keluarga. Sebenarnya, tak akan ada sebuah perbedaan yang signifikan bila kita melihat dari sudut pandang silus kehidupan yang akan saya jalani. Sebagai seorang Praja, yang hidup dalam kehidupan yang serba diatur dalam bimbingan kurikulum Pengasuhan dan hidup di dalam kehidupan asrama. Maka, dimanapun saya berada, kehidupan yang akan saya terima akan sama, yaitu sebuah Siklus Kehidupan Praja. Tak ada perbedaan, dan tak akan pernah ada.

Tapi, secara psikologis dan suasana, jelas perbedaan tempat akan terasa sebuah perbedaan yang signifikan. Secara psikologis, saya yang belum pernah hidup jauh dari keluarga, belum pernah merasakan hidup di luar pulau jawa, itu semua jelas merupakan beban sekaligus tantangan tersendiri bagi saya. Bila biasanya, ketika saya mendapatkan hak pesiar, maka sudah dipastikan saya akan langsung pulang ke rumah. Seketika saja hal itu menjadi sesuatu yang mustahil utnuk dilakukan disini. Lalu secara suasana, ketika di daerah Sumedang, Jatinagor khususnya saya sudah sangat terbiasa dengan cuaca dingin nan segar, maka di sini, di bawah garis kahtulistiwa, cuaca panas cukup mengejutkan tubuh saya.

Ya, seperti yang telah saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN, Kampus Kab. Kubu Raya (Kalbar) merupakan kampus baru dan bahkan belum dilakukan sedikit pun pembangunan. Tanah nya masih berbentuk hutan lebat. Jadi, dimana saya tinggal, belajar dan menjalani kehidupan sebagai seorang praja? Saya, dan 99 orang lainnya yang terdampar di Pulau Kalimantan ini, harus puas untuk menempati kampus sementara, yang terletak di Jl. Trans Kalimantan KM. 11,5, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Bangunan yang kami tempati merupakan bangunan eks-Panti Rehabilatasi Dinas Sosial. Yang sedikit direnovasi untuk disesuaikan dengan kegunaan sekarang sebagai sebuah kampus. Dan , hasilnya memang tidak begitu mengecewakan, cukup memadai walaupun penuh dengan segala keterbatasan.

Tapi, hidup telah memilih dan ini lah pilihan hidup yang harus saya jalani. Tak harus banyak mengeluh dan berkeluh, itu hanya akan membebani kita secara psikologi. Jalani saja dan lihat segala sesuatunya dari sudut pandang dan kacamata yang luas. Berusaha untuk seminimal mungkin melihat segala sesuatunya dari sisi yang negatif, karena sering saya mendapat sebuah nasihat klasik nan menarik, bahwa untuk urusan dunia sudah sebaiknya dan sepantasnya kita melihat ke bawah. Itu bertujuan agar kita bisa selalu bersyukur dengan segala yang kita terima, dapatkan dan jalani. Apalagi ini semua kita masukan dalam konteks dunia pendidikan, terlebih sebuah lembaga pendidikan kedinasan yang kata orang pencetak calon-calon aparatur pemerintahan. Kita harus selalu siap untuk ditempatkan dimana pun dan kapan pun, dan inilah moment yang paling pas untuk melatih itu semua. Karena sekali lagi, lembaga pendidikan adalah tempat untuk kita mendidik diri ini menjadi yang lebih baik lagi. Bila nanti tak ada perubahan positif yang kita dapatkan, untuk apa kita masuk lembaga pendidikan?? Saya anggap ini semua sebagai pendidikan dan pelatihan mental saya, hidup jauh dari keluarga menuju suasana yang serba baru. Hidup dengan segala keterbatasan yang ada. Ini semua pengalaman hidup, yang tak ada jaminan saya bisa mendapatkannya lagi.

Saya yakinkan diri untuk tidak berhenti di sini, untuk terus melangkah mantap menyongsong masa depan, menjalani apa pun itu yang terjadi pada diri ini sebagai seorang praja, karena saya yakin apa pun yang kita kerjakan, kita dapatkan di dunia pendidikan ini, maka semua itu kelak akan berguna bagi kita, insya Allah akan bermanfaat.

Minggu, 17 April 2011

Struktur Ketatanegaraan di Indonesia


Indonesia merupakan suatu negara yang menganut atau menggunakan sistem demokrasi, yang artinya rakyat lah yang memiliki kekuasaan tertinggi di negara ini atau kedaulatan berada di tangan rakyat. Sistem demokrasi di Indonsia dijalankan sepenuhnya berdasarkan UUD 1945 yang telah mengalami 4 kali perubahan atau amademen dan dengan menggunakan sistem pemerintahan presidensil, sebuah sistem dari ajaran Trias Politica (Montesque) dengan menafsirkan dalam sudut pandang pemisahan kekuasaan.

Ajaran trias Politica berarti ada tiga kekuasaan atau tiga badan dalam suatu negara itu, yaitu Legislatif (pembuat Undang-undang), Eksekutif (pelaksana undang-undang) dan Yudikatif (pengawas pelaksanaan undang-undang). Dan begitu juga Indonesia, konsekuensi logis karena Indonesia menggunakan sistem pemerintahan presidensil menurut ajaran trias Politica maka Indonesia pun mempunyai ketiga kekuasaan tersebut. Legislatif, yaitu : MPR (DPR dan DPD), Eksekutif (Presiden, Wakil Presiden dan Para Menteri) dan Yudikatif (MA dan MK).
Permasalahan yang ada sekarang adalah mengenai struktur ketatanegaraan yang ada di Indonesia sebagai imbas dari sistem yang kita anut dan juga sebagai imbas dari adanya amademen UUD 1945. Bila sebelum amandemen, maka struktur ketatanegaraan Indonesia berdasarkan UUD 1945 adalah MPR berada di atas Presiden. Presiden bertanggung jawab kepada MPR dan Presiden bertindak sebagai mandataris MPR. Karena berdasarkan UUD 1945 sebelum amandemen, kedaulatan berada di tangan MPR.

Setelah dilakukan 4 kali amandemen atau perubahan terhadap UUD 1945, maka struktur ketatanegaraan di Indonesia menjadi, Presiden dan MPR berada dalam satu garis yang sama, kedudukan mereka menjadi setingkat atau setara. Karena kedaulatan tidak lagi berada di tangan MPR dan Presiden bukan lagi sebagai mandataris MPR. Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen, Pasal 1 (2), kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilaksanskan menurut Undang-undang Dasar. Struktur seperti ini memang sangat cocok dan terlihat pas untuk negara kita yang secara bangga mengatakan sebagai sebuah negara demokrasi. Tapi di sisi lain dengan struktur yang ada seperti sekarang ini belum jelas bagaimana pertanggungjawaban Presiden. Bila dulu (sebelum amandemen), Presiden bertanggungjawab kepada MPR melalu sidang setiap tahunnya, setiap tanggal 17 Agustus, melalui pidato pertanggungjawaban. Tapi sekarang setelah dilakukannya amandemen, belum jelas bagaimana cara pertanggungjawaban seorang Presiden sebagai seorang penyelenggara pemerintahan dan sebagai seorang kepala negara. Bila kita menggunakan sebuah logika, maka bila dulu sesuai konstitusi kedaulatan berada di tangan MPR dan kemudian Presiden bertanggung jawab kepada MPR. Maka dengan kondisi sekarang ketika UUD 1945 menyebutkan bahwa kedaulatan sekarang berada di tangan rakyat, jadi secara mudahnya kita bisa mengatakan Presiden harus bertanggung jawab kepada rakyat. Tapi, bila logika ini kita lakukan sepenuhnya, akan terjadi suatu kerancuan, kepada rakyat mana presiden bertanggung jawab? Dengan cara apa? Forum apa?

Saya akan mencoba menyampaikan pendapat yang mungkin akan menjadi sedikit solusi tentang permasalahan ini. Saya secara jujur akan mengatakan bahwa pertanggungjawaban itu lebih mudah bila dilakukan Presiden kepada MPR. Tidak, saya tidak berkata bahwa kita harus merubah atau melakukan amandemen dan bahkan harus bergerak mundur atau lebih radikal lagi membangkitkan lagi sistem yang pernah ada di zaman orde baru. Tapi, ide saya ini justru sesuai dengan UUD 1945 yang telah diamandemen, yaitu kedaulatan yang berada di tangan rakyat. Seperti yang kita ketahui, rakyat itu adalah semua orang yang ada di negara Indonesia dan tidak akan mungkin sebuah negara dijalankan begitu saja oleh berjuta-juta orang, pada akhirnya rakyat menjalankan kedaulatan mereka itu dengan mewakilkan suara atau hak mereka pada beberapa orang yang mereka percayai dalam diri seorang wakil rakyat yang duduk manis sebagai anggota DPR atupun DPD. Ini merupakan suatu konsekuensi logis lainnya dari sistem demokrasi, yaitu dilakukannya pemilihan umum dan pemilihan umum pun merupakan suatu perwujudan dari kedaulatan yang rakyat miliki. Dengan begitu bisa saya katakan, bahwa MPR, yang merupakan kumpulan dari anggota DPR dan DPD adalah wakil-wakil rakyat, yang merupakan wakil dari pemilik kedaulatan di negara Indonesia. Hal lain yang menguatkan pendapat saya adalah dengan fakta bahwa MPR berdasarkan UUD 1945 Pasala 3 (2), bertugas untuk melantik Presiden dan Wakil Presiden serta berdasarkan Pasal 7A, yaitu MPR dapat memberhentikan Presiden. Jadi, sangat pas bila Presiden bertanggung jawab secara formal kepada MPR, dalam bentuk sebuah pertanggungjawaban secara tertulis maupun lisan.

Jadi, struktur ketatanegaraan Indonesia, sebaiknya MPR berada sedikit di atas Presiden dan garis yang ada bukanlah garis lurus yang berarti garis komando, tapi diganti dengan garis putus-putus yang merupakan garis koordinasi.

Rabu, 13 April 2011

Beda Arifinto dengan Nurdin

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuhu. Salam sejahtera untuk kita semua. Dengan ini saya, nama Arifinto, anggota DPR-RI No A-72/Fraksi PKS (2009-2014), selaku perintis dan juga pendiri Partai Keadilan, merasa terpanggil untuk tampil secara bertanggung jawab demi keberlangsungan, kesinambungan, dan nama baik serta kebesaran partai saya.
Atas pemberitaan terhadap diri saya dan dinamika media yang berkembang saat ini, saya meminta maaf kepada seluruh kader, simpatisan, konstituen PKS, serta kepada seluruh anggota DPR-RI yang terhormat.
Dengan seluruh kesadaran diri saya, tanpa paksaan dari siapapun, dan pihak manapun, demi kehormatan diri dan partai saya, setelah pernyataan ini, saya akan segera mengajukan kepada partai saya untuk mundur dari jabatan sebagai anggota DPR-RI.
Semoga keputusan yang saya ambil ini membawa kebaikan dan pembelajaran yang bermanfaat bagi diri, partai, konstituen saya, seluruh anggota DPR-RI. Semoga ini menjadi pewarisan positif dan konstruktif bagi bangsa dan negara ini di masa yang akan datang.
Untuk selanjutnya saya akan tetap bekerja untuk kepentingan partai saya, baik dalam posisi saya sebagai atau bukan sebagai anggota DPR-RI.”



Itulah sebuah surat permintaan maaf sekaligus pernyataan mundur dari seorang “pesakitan”, Arifinto, (mantan) anggota Komisi V DPR-RI dari Fraksi PKS. Saya sebut “pesakitan” di sini karena Arifinto secara memalukan tertangkap kamera oleh salah seorang wartawan salah satu media berita di Indonesia sedang mengakses tontonan porno melalui komputer tablet Samsung Galxy Tab miliknya, saat berlangsung sidang paripurna, hari Jumat, tanggal 7, bulan April, tahun 2011 yang lalu. Menjadi sangat memalukan karena yang melakukan ini bukanlah orang biasa, melainkan seorang wakil rakyat dari salah satu partai yang bernafaskan Islam, dan kemudian menjadi sangat ironis lagi karena beliau mengakses konten porno melalui jaringan internet, ketika kini Kementerian Komunikasi dan Informasi sedang semangat dan gencar untuk mengkampanyekan dan berusaha semaksimal mungkin menghentikan segala situs-situs dan akses kepada seluruh situs yang terdapat konten porno, yang diketuai tidak lain oleh koleganya sendiri dari partai yang sama yaitu, Tifatul Sembiring. Apapun alasan yang beliau utarakan tetap tidak akan pernah bisa menjadi suatu pembenaran atau bahkan untuk sekedar sedikit pembela harga dirinya. Karena dewasa ini, anggota DPR-RI sebagai wakil rakyat Indonesia untuk menyampaikan segala aspirasi mereka dan mengimplementasikannya dalam bentuk suatu peraturan perundang-undangan, telah cukup banyak berbuat perbuatan yang tercela. Sepertinya mereka tidak mengerti atau mungkin pura-pura dan tak mau untuk mengerti, setelah mereka mendeklarasikan diri untuk menjadi seorang wakil rakyat dalam bentuk pengabdian sebagai seorang anggota DPR-RI, mereka mau tak mau harus belajar untuk bersikap sempurna, berubah menjadi manusia setengah dewa. Karena mereka hidup dari uang rakyat, mereka dipilih dengan sejuta kepercayaan dari rakyat dan apa yang mereka kerjakan benar-benar berpengaruh nyata dalam kehidupan sehari-hari rakyat. Peraturan yang mereka buat menentukan secara jelas apakah rakyat dapat hidup sesuai dengan harapan dan dapat membawa atau memberikan suatu kemashlahatan atau justru semakin menindas rakyat dan menuntun mereka ke arah yang gelap dan tentu tujuan.

Apa yang dilakukan oleh Arifinto mungkin bisa kita bilang sebagai suatu puncak dari segala bentuk kelakuan nyeleneh wakil kita yang duduk nyaman di senayan sana. Tidur ketika rapat, bolos kerja, KKN, pelesir ke luar negeri dan bahkan yang terbaru adalah kengototan mereka untuk membangun sebuah gedung baru yang kita ketahui berbiaya sangat mahal. Entah apa yang mereka pikirkan, ketika justru pekerjaan mereka untuk sebagai sebuah badan legislatif banyak yang belum terpenuhi. Banyak RUU yang sampai saat ini belum jelas nasib dan perkembangannya. Program Legislasi Nasional tahun kemarin pun jauh dari harapan rakyat dan bahkan target yang telah mereka tentukan sendiri.

GENTLE
Kembali ke Arifinto, satu hal yang membanggakan dari diri beliau dengan menggunakan pendekatan dan pemikiran yang lebih positif, bahwa manusia memang mempunyai hari sialnya masing-masing, hari dimana mereka khilaf dan bertindak salah, kita bisa mengapresiasi respon yang beliau berikan terhadap kesalahan yang dia lakukan. Beliau memberikan suatu respon yang sangat bijaksana dan sangat indah. Berbeda jauh dengan rekan-rekannya yang lain. Beliau tidak lantas mencari-cari pembenaran, beliau dengan penuh kesadaran mengakui segala kesalahannya dan secara gentle mengundurkan diri sebagai anggota DPR-RI. Sebuah gerakan politik yang patut kita apresiasi, disaat yang lain ketika sudah secara jelas terbukti berbuat perbuatan tercela dan bahkan tindakan kriminal, mereka masih keukeuh tetap ingin duduk nyaman sebagai seorang anggota DPR-RI dan enggan untuk mengakui segala kesalahannya. Dan secara “mengejutkan” Arifinto dengan gagahnya mempelopori sebgai seorang yang pemberani, yang mau mempertanggungjawabkan segala apa yang telah beliau lakukan, dia dengan mantap mau menerima segala resiko dari kesalahan yang beliau lakukan.

NURDIN HALID
Bila kita liat dari sisi yang lebih luas, maka mungkin PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), yang merupakan induk organisasi persepakbolaan Indonesia bisa berbenah lebih cepat dan mungkin persepakbolaan kita bisa menjadi jauh lebih baik lagi, seandainya saja sedari dulu ketua umum PSSI, Nurdin Halid, bisa dan mau berjiwa besar untuk mengakui kekalahan, kesalahan dan mawas diri bahwa dirinya memang telah gagal dalam membangun persepakbolaan Indonesia, sehingga dia bisa dengan mudah untuk legowo dengan segala kerendahan hati yang dia milki, dan menyerahkan jabatan itu kepada mereka yang mempunyai visi dan misi yang lebih fresh. Tapi apa daya, dia baru mau turun ketika posisinya sebagai ketua umum sudah digoyang sedemikian rupa oleh kekutan supporter di seluruh penjuru Indonesia dari berbagai klub yang berbeda, setelah ada sedikit “intervensi” dari pemerintah, setelah ada perlawanan dari para penggagas Liga Premier Indonesia, setelah ada perlawanan dari anggotanya sendiri, setelah ada perlawanan dari kekuatan TNI dan setelah ada campur tangan langsung dari FIFA, sebagi induk langsung dari PSSI, yang membentuk Komite Normalisasi yang diketuai oleh Agum Gumelar.



Banyak ukuran yang bisa kita gunakan untuk menunjukan kegagalan dan keegoisan seorang Nurdin Halid. Ukuran paling nyata adalah dari segi prestasi Timnas Garuda kita, dan kompetisi kita yang masih jalan di tempat serta banyaknya durasi hukuman yang tiba-tiba dia kurangi dan bahkan dia hilangkan tanpa sebab-sebab yang jelas. Dan yang paling kontroversial adalah ketika dia memimpin PSSI di balik jeruji besi dan kemudian mengadopsi statuta FIFA tapi dengan merubah pasal kriminal, yang dia lakukan tak lain agar memuluskan dia agar tetap bisa menjadi seorang ketua PSSI. Tapi, kekutan perubahan memang sangat dan terlalu kuat untuk mereka (Nurdin Halid cs.) bendung.

DUA KISAH BERBEDA
Sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Cerita dimana seorang terhormat yang bisa menjadi seorang pesakitan dan pada akhirnya bisa menjadi seorang pelopor dan panutan dan seorang lain yang mempunyai kecintaan teramat besar tapi terlalu banyak menyimpan ego dan enggan untuk turun dan menyapa suatu perubahan yang akhirnya dikenang sebagai seorang pesakitan.

Inti yang mungkin bisa kita ambil dan kita pelajari adalah kita harus menyadari posisi, status dan peran yang sedang kita jalani. Itulah jalan yang kita pilih dan sedang kita jalani, jadi mau tidak mau suka tidak suka kita harus bertindak sesuai dengan status yang kita emban dan beradaptasi dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan status tersebut. Dan apabila kita secara sengaja atau tidak sengaja melakukan sebuah kesalahan, maka berhenti untuk mencari alasan dan segala pembelaan untuk membenarkan kesalahan yang telah kita lakukan itu. Akuilah secara jantan dan meminta maaf secara tulus, jangan menutup diri dari perubahan dan penyegaran. Beradaptasi lah dengan situasi yang ada, karena situasi tak akan pernah bisa dan tak akan pernah mau untuk berdaptasi dengan kita.

“HIDUP INI BUKAN TENTANG SEBERAPA KERAS KITA MEMUKUL DUNIA. TAPI TENTANG SEBERAPA KERAS KITA DIPUKUL DAN SEBERAPA KUAT KITA MAMPU BERTAHAN.”

“KITA TINGGAL MENUNGGU KAPAN HARI SIAL KITA DATANG, MAKA BERHATI-HATI LAH DALAM MELANGKAH.”