Senin, 22 Oktober 2012

Civitas Academica IPDN, Jadilah Tauladan!

*catatan : karena bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
sungguh motivasi di pagi hari yang menggugah sehingga ya rasa cinta itu memang ada tapi enggan untuk saya ungkapkan terkungkung manis oleh sistem yang jauh dari ideal sehingga tak mampu cinta itu untuk menebarkan tindakan serta ucapan indah tapi saya tetap optimis terhadap masa depan, saya pun masih tetap yakin bahwa pada akhirnya kebaikan itu akan selalu mampu untuk mengalahkan kejahatan.

Kalian mungkin tidak mengerti tapi ini rasa yang sungguh nyata jadi nikmati saja dan berpura-pura mengerti dengan segala apa yang ada.
Ini berita, sebuah berita tentang lembaga, yang ya, saya cinta padanya. Momen berharga yang Insya Allah saya pun akan melaluinya, akhir sekaligus awal dari segalanya ketika kesedihan seketika berganti kebahagian dan kemudian berganti lagi menjadi sebuah kesedihan, terus berulang hingga kita melangkah pulang.

Foto Wapres Boediono menyerahkan penghargaan kepada Pamong Praja Terbaik.(foto:Indra)


SUMBER : http://wapresri.go.id/
Kamis, 6 September 2012
Civitas Academica IPDN, Jadilah Tauladan

Pengukuhan Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX 2012

Jatinangor-Para dosen dan pembimbing Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) harus senantiasa meningkatkan kualitas dan kemampuan masing-masing agar para Pamong Praja Muda dapat disiapkan menjadi aparatur birokrasi yang tangguh, profesional dan berintegritas.

Sikap keteladanan para pembimbing dan tenaga pengajar merupakan kunci utama pembentukan karakter dan kepribadian para lulusan sekolah ini. “Beberapa waktu lalu telah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap IPDN. Saya minta rekomendasi-rekomendasinya ditindaklanjuti sehingga dapat membawa perubahan menyeluruh pada sistem akademik, pola pengasuhan, tata kelembagaan dan sumber daya manusia, serta penyiapan sarana dan prasarana pendidikan,” kata Wakil Presiden Boediono saat mengukuhkan Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX 2012 di kampus Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis 6 September 2012.

Angkatan XIX mencakup 985 orang yang terdiri dari 825 praja peserta program D4 dan 160 praja peserta program S1 yang telah diwisuda oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Hadir dalam pengukuhan tersebut adalah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Gubernur Jawa Barat Akhmad Heryawan dan jajaran pemimpin Institut Pemerintahan Dalam Negeri dan para pemimpin daerah Kabupaten Sumedang dan Jawa Barat.

Wapres menyerahkan dua penghargaan utama, yakni Kartika Pradnya Utama kepada Ni Made Evi, praja peserta program S1 asal Kabupaten Tabanan Provinsi Bali dan Kartika Asta Brata kepada Iva Aryani, program D4 dari Kota Semarang, Jawa Tengah, disusul pengucapan Ikrar Pamong yang diikuti oleh seluruh Pamong Praja muda angkatan XIX.

Wapres Boediono meminta para pimpinan IPDN, tenaga akademik dan sekretariat untuk terus memantau penyelenggaraan pendidikan di kampus Jatinangor dan kampus-kampus lain yang tersebar di berbagai provinsi. Upayakan standar kualitas pendidikan yang diterapkan berlaku sama di semua kampus IPDN. Selain peningkatan kualitas pengajar, penambahan buku-buku di perpustakaan, perbaikan suasana hubungan sosial di lingkungan kampus, tidak kurang pentingnya, serta perbaikan gizi dalam menu makanan para praja wajib terus diupayakan.

“Kita tidak ingin lagi mendengar kampus IPDN menjadi bahan gunjingan karena berbagai kasus kekerasan yang pernah terjadi. Jadikanlah lembaga pendidikan ini sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia dan tumpuan harapan kita semua bagi lahirnya kader pemerintahan yang unggul di masa depan,” kata Wapres.

Wapres juga berpesan agar para Pamong Praja Muda tahu bagaimana caranya menunaikan tugas melayani masyarakat dengan bersikap profesional, netral dan teguh dalam menjaga integritas. Ini penting mengingat akhir-akhir ini tata kelola pemerintahan mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama karena banyaknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat di lingkungan birokrasi pemerintahan di pusat dan di daerah.

“Sebagai seorang profesional kalian harus tahu bagaimana mengerjakan tugas-tugas kalian sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme. Tidak ada orang yang tahu segalanya, dan tidak boleh seseorang merasa sudah tahu segalanya, lalu bersikap tertutup dan tidak mau belajar lagi. Pesan saya yang pertama kepada kalian adalah terus ikuti perkembangan bidang ilmu kalian, terus kembangkan kemampuan pribadi kalian dengan sikap dan semangat tiada hari tanpa belajar sesuatu yang baru,” kata Wapres.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan, Kementerian Dalam Negeri telah melakukan perbaikan menyeluruh sebagai amanat Keputusan Presiden dan dalam upaya mengembalikan kepercayaan publik bahwa IPDN telah berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan menyangkut aspek psiko analisis, aspek perilaku dan aspek humanistik.

Selain itu, menurut Mendagri, IPDN juga menerapkan regionalisasi kampus dimana terdapat tujuh kampus di seluruh wilayah nusantara demi lebih mengenal karakteristik masing-masing wilayah dan memasukkan lebih banyak lagi muatan lokal ke dalam kurikulum IPDN. Dengan konsep ini diharapkan masing-masing Praja bisa lebih mengenal sudut-sudut kekhasan nusantara mengingat Praja di masing-masing kampus regional tersebut akan terdiri dari Praja dari seluruh wilayah.

****

Sambutan Wakil Presiden

Sambutan Wakil Presiden Pada Acara Pengukuhan Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XIX

Jatinangor, 6 September 2012

Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pada kesempatan yang berbahagia dan membanggakan, saya secara khusus ingin mengucapkan selamat kepada para Pamong Praja Muda yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ucapan selamat juga saya sampaikan kepada para orang tua dan keluarga atas keberhasilan putra-putrinya dalam menyelesaikan pendidikan di IPDN. Dengan pengukuhan Saudara sebagai Pamong Praja Muda, Saudara akan memasuki babak baru dalam kehidupan Saudara, yaitu melakukan pengabdian yang sesungguhnya kepada bangsa dan negara. Saudara akan ditempatkan di jajaran pemerintahan baik di Pusat maupun di Daerah.

Berbekal ilmu pengetahuan yang Anda miliki, kalian nanti akan menjadi pelaksana pemerintahan di daerah dan di bidang masing-masing. Kegiatan pemerintahan mempunyai satu tujuan utama, yaitu melayani masyarakat, dengan efisien, dengan cara yang berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.

Saudara-saudara sekalian, Dalam mengemban tugas itu, Saudara senantiasa dituntut untuk bersikap profesional, netral dan teguh dalam menjaga integritas. Sebagai seorang profesional kalian harus tahu bagaimana mengerjakan tugas-tugas kalian sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme. Memang, tidak ada orang yang tahu segalanya, dan tidak boleh seseorang merasa sudah tahu segalanya, lalu bersikap tertutup dan tidak mau belajar lagi.
Oleh karena itu, pesan saya yang pertama kepada kalian adalah terus ikuti perkembangan bidang ilmu kalian, terus kembangkan kemampuan pribadi kalian dengan sikap dan semangat tiada hari tanpa belajar sesuatu yang baru.

Pesan saya yang satu lagi adalah : Jagalah integritas kalian dengan sungguh-sungguh. Karena itulah yang sebenarnya milik kalian yang paling berharga dalam karier kalian dan dalam hidup ini. Itulah yang akhirnya menentukan martabat kalian sebagai manusia,sebagai pejabat, sebagai pemimpin, di mata rakyat dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Kalian telah memilih sendiri bidang pemerintahan sebagai bidang pengabdian kalian.
Pemerintahan adalah bidang pengabdian yang sangat mulia. Di sini Anda bisa berbuat sesuatu yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Di sini Anda dengan kewenangan publik yang dilimpahkan kepada Anda, dapat berbuat banyak untuk memerangi kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan yang masih dialami oleh rakyat kita. Disinilah tempat kalian dapat memperoleh kemuliaan, kehormatan, kebanggaan, rasa terima kasih dan kecintaan dari rakyat.

Di suatu kesempatan lain saya pernah mengatakan bahwa apabila tujuan utama hidup seseorang adalah memupuk harta dan mengeruk keuntungan, pemerintahan bukanlah tempatnya. Karena, kalau itu tujuan utama hidupnya, maka risikonya tinggi akan terjadi penyalahgunaan kewenangan publik untuk kepentingan privat atau kepentingan pribadi. Apabila ini terjadi, akibatnya fatal : kepribadian orang itu akan rusak, dan negara juga akan rusak.

Jadi, integritas pribadi adalah kunci bagi segalanya. Dalam perjalanan karier Anda, Anda akan menghadapi berbagai ujian yang menyangkut integritas Anda. Jangan pernah lupakan pesan saya yang satu ini : Jagalah integritas Anda baik-baik. Kalian adalah Abdi Negara, bukan abdi dari kelompok tertentu atau kepentingan abdi tertentu. Pengabdian Anda adalah untuk kepentingan negara dan kepentingan umum. Kepentingan negara dan kepentingan umum harus menjadi tujuan utama dan pertimbangan tertinggi dalam melaksanakan tugas-tugas Anda sebagai pejabat pemerintahan.

Pesan saya yang lain adalah : Berjiwalah pemimpin. Jangan biasakan mengeluh, kecewa, apalagi frustasi jika dihadapkan pada situasi sulit dalam pelaksanaan tugas, Sebab hanya mereka yang pernah melalui masa-masa sulit dan kritis di dalam perjalanan karier dan kehidupannya yang berpotensi menjadi kader yang tangguh dan menjadi pemimpin sejati. Sebagai pamong, Saudara dituntut untuk mampu melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Apabila tuntutan masyarakat terpenuhi, itu merupakan keberhasilan Saudara dalam mengabdi kepada masyarakat. Tetapi tidak jarang bahwa harapan masyarakat belum dapat dipenuhi. Masyarakat merasa belum puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pamong. Ini adalah tantangan yang menjadi tugas Saudara semua, sebagai unsur aparatur negara, untuk mencari dan memberikan jawabannya.

Dengan kompetensi yang Anda miliki dan dengan sikap dan semangat yang saya sebut tadi, kita semua yakin ,dan kalian sendiri harus juga yakin, bahwa kalian dapat menjawab tantangan-tantangan itu dengan baik. Jadilah penggerak dan pelopor pembangunan di daerah pengabdian Anda.

Saudara-saudara, Akhir-akhir ini tata kelola pemerintahan mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama karena banyaknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat di lingkungan birokrasi pemerintahan di pusat dan di daerah. Anda semua adalah tumpuan harapan kita untuk mendorong reformasi dan perbaikan aparat birokrasi di pusat dan di daerah. Kalian adalah prajurit-prajurit pembaharu di pemerintahan kita.Jangan lupa tugas yang satu ini. Aparat pemerintahan harus bersih dari politik praktis. Apabila politik praktis masuk ke dalam jajaran birokrasi maka orientasi dan loyalitas aparat birokrasi akan menjadi kacau. Hal itu akan menumbuhkan loyalitas sempit yang merongrong profesionalisme dan idealisme aparat pemerintahan, meningkatkan risiko terjadinya penyalahgunaan kewenangan dan bahkan korupsi. Politik aparat birokrasi hanya satu, yaitu politik kepentingan umum dan politik kepentingan negara. Hukumnya wajib bagi setiap abdi negara untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika.

Hal yang sama akan terjadi kalau kepentingan bisnis masuk ke dalam birokrasi. Politisasi dan komersialisasi aparat birokrasi dan jabatan birokrasi harus kita tolak dan kita tangkal. Kalian adalah garda terdepan pertahanan kita terhadap bahaya itu.

Sekarang saya ingin menyampaikan pesan-pesan saya kepada IPDN dan para pengelolanya. Dalam konteks pembangunan sistem pemerintahan, IPDN mempunyai peran yang strategis. IPDN sebagai lembaga pendidikan harus mampu merancang kurikulum dalam sistem pendidikan yang dinamis dan akseleratif guna menjawab tantangan permasalahan bangsa yang juga sangat dinamis. Kuncinya disini adalah pada para dosen dan pembimbing yang harus senantiasa meningkatkan kualitas dan kemampuan masing-masing agar para Pamong Praja Muda dapat disiapkan menjadi aparatur birokrasi yang tangguh, profesional dan berintegritas.
Sikap keteladanan para pembimbing dan tenaga pengajar merupakan kunci utama pembentukan karakter dan kepribadian para lulusan institut ini. Beberapa waktu lalu telah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap IPDN. Saya minta rekomendasi-rekomendasinya ditindaklanjuti sehingga dapat membawa perubahan menyeluruh pada sistem akademik, pola pengasuhan, tata kelembagaan dan SDM, serta penyiapan sarana dan prasarana pendidikan.

Kepada pimpinan IPDN, tenaga akademik dan sekretariat, saya harapkan untuk terus memantau penyelenggaraan pendidikan di kampus ini dan kampus-kampus lain yang tersebar di berbagai provinsi. Upayakan standar kualitas pendidikan yang diterapkan berlaku sama di semua kampus IPDN. Selain peningkatan kualitas pengajar, penambahan buku-buku di perpustakaan, perbaikan suasana hubungan sosial di lingkungan kampus, tidak kurang pentingnya perbaikan gizi dalam menu makanan para praja wajib terus ditingkatkan. Kita tidak ingin lagi mendengar kampus IPDN menjadi bahan gunjingan karena berbagai kasus kekerasan yang pernah terjadi. Jadikanlah lembaga pendidikan ini sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia dan tumpuan harapan kita semua bagi lahirnya kader pemerintahan yang unggul di masa depan.

Demikianlah pesan-pesan saya untuk IPDN. Kepada para Purna Praja yang hari ini dikukuhkan menjadi Pamong Praja Muda dengan menyandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan untuk Program Strata I dan Sarjana Sains Terapan Pemerintahan untuk Program Diploma IV sekali lagi saya sampaikan selamat. Doa dan harapan kita semua bersama Anda sekalian. Keberhasilan pendidikan pamong praja merupakan keberhasilan seluruh civitas akademika IPDN.
Untuk itu, saya sampaikan penghargaan yang tinggi atas kerja keras Saudara-saudara sekalian dalam mendidik, membina dan mencetak lulusan Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX tahun 2012.
Ke depan sistem pendidikan, kurikulum dan kualitas tenaga pengajar IPDN harus terus ditingkatkan dan disempurnakan sesuai tuntutan zaman.

Akhirnya, dengan ini secara resmi Saudara-Saudara saya kukuhkan sebagai Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX Tahun 2012.
Selamat bertugas.
Jangan kecewakan harapan rakyat.
Semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat dan ridhaNya kepada Anda semua dalam melaksanakan tugas-tugas Anda bagi bangsa yang kita cintai ini.
Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Wakil Presiden Republik Indonesia
Boediono

Jumat, 19 Oktober 2012

Kemauan dan Kemampuan

http://4.bp.blogspot.com/-PXKIhYPqkps/T8o5tGmWPNI/AAAAAAAAAJw/YRLx8D-r9q0/s640/jadilah-diri-sendiri.jpg

Pada hari Senin, tanggal 15, bulan Oktober, tahun 2012, selepas perkuliahan Kelas Gabungan di Aula pada mata kuliah Hukum Administrasi Negara, saya terlibat suatu perbincangan, diskusi atau bahkan sebuah perdebatan hangat bersama tiga orang sahabat ( red:keluarga ) saya di Kampus ini. Perbincangan yang penuh dengan argumentasi mengenai segala masalah dibumbui dengan canda tawa khas anak muda tapi sungguh tanpa mengurangi substansi dan bukan juga sebuah perdebatan ego yang tak tentu arah, apa yang kami bicarakan selalu mampu untuk mendapatkan solusi atau setidak-tidaknya tidak pernah lantas merenggangkan hubungan persahabatan kami, selalu ada yang mengalah dan selalu ada diantara kami yang berjiwa besar dan mau untuk mengakui bahwa argumennya lemah sehingga menerima sepenuhnya argumen lain. Kita saling memberi masukan, melempar opini, menambahkan asumsi, menganalisis realita yang ada.

Pada perbincangan di hari itu, salah satu sahabat saya dengan sangat lugas dan gamblang mengutarakan sebuah kritikan sekaligus masukan yang sangat membangun bagi kebaikan saya pribadi. Dia menyatakan bahwa saya ini terlalu “sombong” karena merasa bahwa saya ini bisa untuk menilai kapasitas diri sendiri, mampu untuk menilai apakah saya baik atau tidak karena dia mempunyai pemikiran bahwa orang lain-lah yang akan lebih mampu untuk menilai diri kita secara lebih komprehensif, secara lebih adil. Bila diri kita menilai diri sendiri maka unsur subjektifitas, unsur ego akan lebih kita kedepankan. Dia mengutarakan hal itu berkaitan erat dengan respon saya terhadap permasalahan D4 dan S1 beberapa hari sebelumnya ( baca : AIR MATA INI BUKAN UNTUK KALIAN )

Saya sungguh tidak meragukan hal itu, apa yang sahabat saya katakan sangat benar maka saya pun sama sekali tidak melawan kritikannya. Tapi apabila boleh saya sedikit membela diri dan menjelaskan alasan dari segala tindakan saya, yang memang saya pun menyadari bahawa tindakan saya, kebiasaan saya untuk menilai diri sendiri sangat dekat dengan sebuah tindakan ego dan menunjukan kesombongan diri. Sebenarnya tidak, sama sekali tidak! hal yang benar-benar saya ingin jauhi di dunia ini adalah saya tidak ingin menjadi seorang yang sombong, apa-lah daya saya ini sehingga saya bisa untuk menjadi sombong? Saya kecil, sungguh kecil, bila pun ada alasan bagi saya untuk sombong maka sungguh saya tidak akan mengambil alasan itu dan lebih memilih untuk menjadi seorang yang “biasa”. Karena dengan kesombongan maka kita telah menciptakan sebuah “jarak” antara kita dan “mereka”.

Lalu kenapa saya merasa pantas untuk menilai diri sendiri?
Saya seperti itu karena saya selalu berusaha untuk menjadi orang yang bisa untuk mengukur diri dengan segala potensi dan kemampuan serta kelemahan yang saya miliki. Saya ingin dihargai, saya ingin dihormati, ingin juga untuk disegani tapi semua itu ingin saya dapatkan karena hasil dari potensi serta kemampuan dan kelemahan saya, bukan sesuatu hal yang ada karena dipaksakan. Bila saya tidak mampu, saya akan berkata, “ya, saya tidak mampu” dan begitu juga sebaliknya.

Secara teoritisnya, Sumardjo (1999) menyebutkan ciri-ciri warga masyarakat berdaya yaitu :
  1. Mampu memahami diri dan potensinya, mampu merencanakan ( mengantisipasi kondisi perubahan ke depan ) 
  2. Mampu mengarahkan dirinya sendiri 
  3. Memiliki kekuatan untuk berunding 
  4. Memiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan, dan 
  5. Bertanggungjawab atas tindakannya. 
Penekanan ada pada point pertama dan kedua, bahwa orang yang berdaya itu adalah orang-orang yang mampu mengetahui dirinya sendiri dan kemudian mengarahkannya sesuai dengan kemampuan, potensi dan kelemahanya. Karena semua orang di dunia ini tidak akan pernah menolak atau berkata “tidak” untuk segala sesuatu hal yang bersifat baik dan menciptakan kebahagaian dan tidak akan pernah ada orang yang mau untuk menerima atau berkata “iya” pada suatu hal yang buruk atau menimbulkan suatu kesusahan. Padahal tidak semua kebaikan harus kita terima dan tidak semua kesusahan harus kita tolak, ada satu hal yang kita lupakan bahwa kita harus menerima dan menolak sesuatu hal itu bukan atas dasar kita “mau” atau “tidak mau” tapi segala sesuatu hal itu harus kita dasarkan pada "kemampuan" yang kita mililki, apakah kita mampu untuk menerimanya atau menolaknya. Dan tidak semua orang mampu untuk seperti itu karena tidak semua orang mampu untuk jujur, adil, seimbang, dan bijaksana pada dirinya sendiri.

Sebuah kecenderungan yang salah, karena telah kita liat sendiri ketika semua orang ( kaum elit, borjuis ) ingin untuk mendapatkan sebuah jabatan politik ( Kepala Daerah, Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan ), tak ada orang yang tidak ingin untuk mendapatkannya, semua “mau” tapi apakah semua orang itu “mampu” ?
Orang-orang di sekitarnya, orang kepercayaannya pasti akan mengatakan bahwa “ya, dia mampu kok untuk jadi Bupati!” tapi atas dasar apa mereka mengatakan itu?
Orang lain pun tidak akan serta merta bisa menilai diri kita secara adil karena justru mereka hanya terbatas melihat kita secara fisik dari luar, satu-satunya orang yang mengetahui kita secara menyeluruh, secara detail mendalam hingga jauh ke lubuk hati adalah DIRI KITA SENDIRI.

Kita tau ketika sebenarnya kita, hati kita, logika kita mengatakan “tidak” tapi karena hasrat nafsu dunia kita sering kali mengabaikan bisikan suci itu. Sehingga jadinya kita sering kali berbohong pada diri kita sendiri.

Dan saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu.

Saya ingin jujur terhadap diri saya sendiri terlebih dahulu, berlaku adil pada saya secara pribadi terlebih dahulu. Tidak setiap saat ketika orang berkata "mampu" maka kita memang "mampu", tidak setiap saat orang berkata kita “tidak mampu” maka kita menjadi “tidak mampu” dan tidak setiap saat kita “mau” maka kita juga “mampu” serta tidak setiap saat kita “mampu” kita akan “mau”.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan selalu mencari titik keseimbangannya maka kenapa kita tidak terlebih dahulu hidup seimbang sebelum nantinya kita terkaget-kaget karena dunia menyeimbangkan kita secara tiba-tiba.

Apa yang harus kita lakukan adalah mengukur kapasitas serta kemampuan diri kita, jangan sesekali terbawa arus dan jangan juga termakan hawa nafsu dunia.
Bila kita dihadapkan pada suatu hal, pilihan hidup atau sebuah kesempatan, maka jangan terlalu mendengar apa yang orang lain katakan, tapi terlebih dahulu selami dan pahami segala potensi dan kelemahan diri secara adil juga seimbang, liat menggunakan logika berdasarkan fakta yang ada dan juga hati nurani di dalam dada, setelah itu maka kuatkan tekad dan jalani pilihan itu sebaik mungkin.

Be honest to yourself, my friends!

Selasa, 16 Oktober 2012

Jadi Pengusaha, Ditipu Itu Penting

*catatan : Terlepas dari adanya isu yang menyebutkan bahwa Pak Dahlan Iskan merupakan salah satu antek dari Yahudi ( baca : INFORMATIF PROVOKATIF ) , saya tetap merupakan salah satu dari banyak orang yang mengagumi beliau sebagai seorang manusia yang telah sukses dan berpikiran serta bertindak sangat positif sekaligus inspiratif. 

Terlebih beliau mempunyai kemampuan, mempunyai bakat untuk menyusun kata membentuk kalimat, yang sebenarnya sederhana tapi sungguh segala pesan serta maknanya mampu untuk tersampaikan dengan baik dalam setiap tulisannya. 

Dan beruntung-lah bagi saya, saya bisa menemukan salah satu blog, bukan blog resmi Pak Dahlan Iskan memang, tapi setidaknya blog ini, dahlaniskan.wordpress.com, secara rutin dan berkelanjutan selalu menampilkan tulisan-tulisan yang ditulis oleh Pak Dahlan, baik dalam kapasitas beliau sebagai seorang Menteri BUMN ataupun sebagai seorang jurnalis ( CEO Jawa Post ). 

Berikut ini merupakan salah satu tulisan Pak Dahlan, tulisan terbaru beliau dan sungguh sangat menggugah bagi saya pribadi sehingga tak kuasa saya untuk menahan hasrat mem-posting-kan ulang dalam blog ini. 

Akhir kata, selamat membaca dan selamat menikmati.
Silahkan anda semua hayati, cermati, pahami dalam otak, resapi dalam hati dan implementasikan dalam sikap sehari-hari.
PEACE AND CHEERS! 

Jadi Pengusaha, Ditipu Itu Penting 
Minggu, 14 Oktober 2012 

Tiga minggu yang lalu, saya ke Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Saya menginap di sana dan melihat penduduk yang memelihara kambing. Modal pemeliharannya berasal dari PT Jasa Raharja, salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Belum setahun, ada peternak yang awalnya punya dua ekor kambing berkembang menjadi 13 ekor. Ada juga peternak awalnya punya tiga ekor kambing berkembang menjadi 16 ekor. 

Yang saya lihat, rumahnya bagus-bagus, bajunya bagus-bagus dan istrinya cantik-cantik. Saya bangga karena beberapa orang yang mendapatkan modal dari BUMN di Desa Sumowono itu menarik perhatian tetangga-tetangganya yang hidupnya lebih miskin. 

Selepas salat Subuh, saya berdialog dengan jemaah. Saya bertanya karena dari beberapa penduduk desa tergolong miskin. Termasuk Pak Imam yang pekerjaannya mencari rumput dan pengembala kambing tapi bukan miliknya. 

Saya tanya “Mengapa tidak ikut minta modal ke BUMN? Mengapa tetangga-tetangganya mau mendapatkan modal?” 
Pak Imam yang hanya tamatan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan tidak bisa lanjut ke pendidikan lebih tinggi memberikan jawaban sangat menarik. “Kami takut waktu Jasa Raharja ke desa ini menawarkan modal beternak kambing. Takut karena tidak bisa mengembalikan,” jawab Pak Imam. 

Dari jawaban Pak Imam ini, saya menarik kesimpulan bahwa orang yang tidak pernah berusaha dan orang miskin takut punya utang. Saya kira ini sikap yang sangat baik karena punya utang itu tidak baik. Tidak punya utang tapi tidak bisa makan dan punya utang tapi bisa makan, baik mana? Tentu punya utang tapi bisa makan lebih baik karena masih bisa berusaha mengembalikan. 

Karena ternaknya terus bertambah dan hasilnya begitu banyak, akhirnya ada 40 orang di Desa Sumowono yang sangat miskin timbul keberaniannya untuk mendapatkan modal. Nah, ini yang saya puji sebab ada yang memulai dulu. Seandainya tidak ada yang berani mau menerima modal dari BUMN dan sungguh-sungguh beternak dan berhasil, mungkin orang miskin di sekitarnya tidak mau menerima bantuan. Dan itu saya perintahkan agar permintaan warga segera diproses. 

Dari sinilah muncul ide. Ternyata menjadi pengusaha itu tidak hanya butuh modal, tidak hanya fasilitas, tetapi juga harus menghilangkan rasa takut. Jadi penyebab kemiskinan antara lain karena rasa takut. Takut untuk maju. Makanya perlu dilatih bermental berani dan bertanggung jawab. Memang sikap ini langka tapi harus dibisakan. 

Saya merinding ketika melihat peserta pelatihan ESQ Pimpinan Ary Ginandjar yang jumlahnya 5 ribu pengusaha kecil binaan BUMN di JIE EXPO, Kamis (11/10) lalu. Kenapa merinding? Karena pengusaha kecil yang jumlahnya banyak tidak akan kalah dengan pengusaha besar. Indonesia terhindar dari keruntuhan ekonomi 10 tahun yang lalu bukan oleh konglomerat, tapi justru para pengusaha kecil. Meskipun kecil tapi kalau disatukan akan menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa bagi Indonesia. 

Saya melakukan survei kecil-kecilan. Saya ingin tahu persoalan mereka dan bertanya kepada peserta pelatihan. Apakah lebaran tahun depan tidak bisa membeli baju baru untuk diri dan anaknya? Apakah besok pagi masih memikirkan bisa makan atau tidak? Dua pertanyaan itu ternyata dijawab tidak ada dan tak ada yang mengacungkan tangan. Ini berarti, mereka yang mengikuti pelatihan sudah tidak mengalami persoalan persediaan makanan. Orang-orang yang seperti itu dikategorikan tidak lagi miskin. 

Pertanyaan ini sengaja saya ajukan karena waktu saya masih anak-anak dan remaja mengalami masalah yang cukup serius. Ayah saya yang hanya seorang buruh tani tidak bisa menjamin ada makanan yang bisa dicicipi untuk esok harinya, sore harinya karena hidup miskin. Memang kalau ditanya, masih menderita gak? Pasti jawabnya menderita. Sudah sejahtera atau belum? Jawabnya pasti seragam, belum. Karena kebiasaan orang seperti itu. 

Setelah saya tahu peserta pelatihan tidak lagi memikirkan urusan makan, berarti tiap hari yang dipikirkan adalah bagaimana maju lagi, bagaimana maju lagi, dan bagaimana maju lagi. Tidak lagi memikirkan, besok pagi bisa makan atau tidak. Perasaan seperti ini, “Saya Tidak Lagi Miskin” harus ditanamkan dalam hati. Perasaan “Saya Ini Miskin Sekali, Saya Ini Menderita, Saya Ini Kok Tidak Sejahtera” harus dibuang karena ini adalah penyakit dan perasaan yang tidak bersyukur kepada Tuhan. Beda dengan orang miskin yang tiap hari otaknya penuh kegelisahan urusan besok pagi masih bisa makan atau tidak. Akibatnya, pikiran kalut, berpikirnya jangka pendek dan konsentrasi untuk maju itu hilang. 

Menjadi pengusaha besar jangan sepelekan hal yang kecil. Ingin tahu penyakitnya pengusaha kecil itu seperti apa? Pengusaha kecil itu penyakitnya ingin menjadi pengusaha besar dengan cepat. Tolong diingat, barang siapa yang ingin menjadi pengusaha besar lebih cepat maka Anda sedang mengidap penyakit. Apa tidak boleh ingin lebih cepat menjadi pengusaha besar? Boleh. Tapi harus bisa mengukur diri. 
Pengusaha yang baik adalah yang merangkak. Merangkaknya bisa pelan-pelan, agak cepat, cepat dan lebih cepat lagi. Tidak boleh merangkak langsung melompat ke lantai 19, nanti jatuh. Biasanya, kalau sudah berhasil usaha yang satu, ingin usaha yang lain lagi. Sebaiknya pengusaha kecil itu harus sungguh-sungguh menekuni apa yang sedang dikerjakan dulu. Menekuni apa yang sedang dikerjakan, bukan sambil mengerjakan usaha itu sambil mikir mau usaha apalagi. 

Bagi yang beragama Islam dan pernah belajar tauhid tentu paham bahwa kalau tidak bertauhid berarti musyrik. Inti dari tauhid adalah mengesakan Tuhan. Tidak menduakan, mentigakan dan seterusnya. 

Jadi tauhid pengusaha itu adalah fokus. Tidak gampang tergoda oleh usaha lain yang kelihatannya menarik tapi bisa mencelakakan. Pengusaha yang tidak fokus berarti tidak bertauhid terhadap usahanya. Barang siapa yang tidak bertauhid berarti masuk nerakanya pengusaha. Nerakanya pengusaha adalah bangkrut. 

Ada pertanyaan, Pak Dahlan sebelum di pemerintahan kan punya 100 perusahaan? Memang betul. Waktu itu saya punya 100 perusahaan lebih sebelum menjabat Dirut PLN. Tapi sekarang sudah saya lepas. Sudah saya serahkan kepada anak saya mengurusunya. Berarti Pak Dahlan tidak fokus? Ini beda dengan yang saya sampaikan. 
Saya mengurus 100 perusahaan lebih setelah berkembang. Tetapi 10 tahun pertama, saya hanya mengurus satu saja. Jadi jangan lihat saya 10 tahun yang lalu, tapi lihat saya 30 tahun yang lalu. 30 tahun yang lalu ketika menjadi pengusaha kecil dan memulai usaha, saya hanya fokus pada satu perusahaan. Baru setelah perusahaan kuat sekali, baru berkembang. Ibaratnya, 10 tahun pertama, atau paling tidak 5 tahun pertama, hanya mengamalkan syariat pengusaha. Setelah menjadi pengusaha 10 tahun, anggap saja sudah ma’rifat. Tapi jangan cepat-cepat ingin ke tingkat ma’rifat karena bisa menjadi gila. Jalani dulu syariatnya, tekun, fokus, dan sungguh-sungguh. 

Menjadi pengusaha bukan berarti kita tidak bisa gagal. Sebab, menjadi pengusaha itu memang sulit. Saya menjadi pengusaha pernah merasakannya. Pernah jatuh dan pernah ditipu. Saya bisa menduga, dari 5 ribu orang pengusaha peserta pelatihan ESQ pasti pernah ditipu. Yang belum punya pengalaman ditipu sampai hari ini, saya doakan mudah-mudahan cepat ditipu orang. Kenapa? Karena ditipu itu penting. Seorang pengusaha yang belum ditipu belum bisa menjadi pengusaha yang sejati. Menjadi korban penipuan tentu sakit hati luar biasa karena sudah matia-matian bekerja, anak dan istri terlantar, sampai ada yang mendramatisir berusaha sampai kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. 

Tetapi, pengusaha sejati yang ditipu, tidak akan menyerah. Bagi yang menyerah karena ditipu berarti dia bukan pengusaha bermental kuat. Sakit hati boleh tapi kalau berkepanjangan itu akan merugikan dirinya sendiri. Kalau ditipu sekali, kita bangkit, ditipu dua kali, bangkit lagi. Kebangkitan itu membentuk pengusaha jadi tangguh. Tetapi jangan ditipu sampai tiga kali dan jangan balas menipu. 

Di Indonesia, masih ada 36 juta rakyat yang terkategori miskin dan miskin sekali. Berpikirnya, besok masih bisa makan atau tidak. Ini adalah ladang ibadah dan amalan bagi orang-orang yang sudah usahanya berjalan meskipun kecil untuk menggerek rakyat yang masih miskin untuk dimotivasi menjadi pengusaha. Kalau saya yang mengajak 36 juta orang yang miskin dan masih miskin sekali itu untuk bangkit mungkin susah. Tapi kalau pengusaha kecil yang mengajak mungkin akan berhasil. Karena mereka bisa membuktikan bisa berusaha dan tetangganya melihat secara nyata keberhasilan yang diraih. Tetangga yang miskin dan masih miskin sekali ini perlu dimotivasi, diajari, dituntun untuk menjadi pengusaha kecil dan keluar dari kemiskinan. 

Akhirnya, saya berharap cepat berhenti sebagai mitra BUMN dan menunjukan sebagai pengusaha yang mandiri. Jangan punya perasaaan ingin terus dibina BUMN, punyalah perasaan maksimum tiga tahun, dua tahun atau bahkan satu tahun menjadi mitra. Karena yang antri masih panjang, masih ada 36 juta orang. Tapi, lebih banyak lagi jumlah orang yang tidak lagi berpikir besok pagi masih bisa makan seperti peserta pelatihan ESQ. Jumlahnya mencapai 136 juta orang dan berpikirnya bagaimana maju, bagaimana maju dan bagaimana maju. Inilah modal bagi Negara kita yang akan membuat Indonesia menjadi maju dan modern 15 tahun ke depan. Karena ada 136 juta orang yang berpikir ingin maju, ingin maju dan ingin maju maka Indonesia terpaksa maju. Saya mohon maaf menggunakan kata ‘terpaksa’ karena Negara bisa maju berkat rakyatnya berpikir maju. 

Bukan orang-orang elit, bukan orang-orang yang tiap hari ngomong politik. Insya Allah, 15 tahun ke depan kita akan menjadi saksi bagi kemajuan Indonesia. (*) 

Dahlan Iskan 
Menteri BUMN

Rabu, 10 Oktober 2012

Thank You part. 2

Terima kasih banyak kepada : Bung Karno, Bung Hatta, Pak Harto, Pak Chairul Tanjung, Pak Dahlan Iskan, Bambang Pamungkas, Valentino Rossi, Pak Ishadi S.K., Kahlil Gibran, Dr. Muhamad Al-Ghazali, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Khrisna Pabicara, Denny JA, Walter Isaacson, DR. Tariq Suwaidan dan Pak Miftah Thoha untuk buku-buku yang sungguh sangat menginspirasi saya, buku-buku perjalanan hidup penuh petuah, buku-buku pembuka cakrawala berpikir saya, menambah luas pengetahuan saya, berisi penuh dengan motivasi, keteladanan dan segala semangat positif lainnya. Spirit itu, rasa itu, semangat itu, yang terangkai indah dalam kata sebentuk kalimat sangat mampu untuk saya rasakan, mampu untuk mengalir deras merasuk ke dalam jiwa. 
Terima kasih untuk itu semua! 
Dan ya, saya harap saya juga mampu untuk menjadi seperti kalian semua, sesukses kalian semua atau setidaknya saya mampu untuk juga mempunyai segala semangat positif selayaknya kalian semua! 

Mari membaca, mari menulis!

Selasa, 09 Oktober 2012

Tersebab UN

*catatan : Sungguh sebuah keputusan yang berat ketika akhirnya satuan saya, satuan Nindya Praja memutuskan untuk tidak lagi berlangganan koran. Ya, karena kami hidup dalam dunia asrama maka pergerakan kami sungguh sangat terbatas tapi sebagai peserta didik apalagi sebagai seseorang yang nantinya akan berkecimpung dalam dunia pemerintahan maka haram hukumnya bagi kami untuk tidak mengikuti segala perkembanagan berita yang terjadi di dunia luar, sebuah informasi yang tak akan pernah mampu kami dapatkan lewat pembelajaran tatap muka bersama dosen maupun pelatih.

Terlepas dari itu semua, informasi atau pengetahuan umum merupakan sesuatu hal yang wajib selalu kita ikuti karena hal itu akan membuat kita peka terhadap segala apa yang terjadi di sekitar, melatih kita untuk juga mampu menganalisis segala permasalahan sehingga lambat laun kita pun bisa untuk terus berkembang menjadi seseorang yang dewasa.

Koran pun akan mampu untuk melatih kemampuan membaca kita sekaligus menambah kosakata sehingga kita semakin kaya akan pembendaharaan kata. Lalu kenapa kemudian kami memutusakan untuk tdak lagi berlangganan koran, walau memang hanya sebuah koran lokal? 
Satu alasan yang mengemuka, yaitu permasalaan uang! 
Tidak lebih, tidak juga kurang, semua tentang uang! 

Pembenaran yang kemudian mereka ( orang-orang yang menyerukan agar tidak lagi berlangganan koran ) ajukan adalah informasi melalui dunia maya kini telah menjamur bahkan bisa update dalam hitungan detik sekalipun, jadi apa perlunya membeli koran?atau alasan lain yang tak kalah bombastis-nya adalah mereka yang "berpura-pura" menjadi sekelompok pecinta lingkungan yang berkata bahwa dengan tidak lagi berlangganan koran maka kita telah berpartispasi aktif menyelematkan hutan kita! 

Bagi saya, memang benar berita on-line telah begitu banyak sehingga koran seperinya tidak lagi relevan dengan zaman kekinian tapi saya rasa sampai zaman apapun, koran akan tetap saya butuhkan. Tak akan ada yang mampu untuk mengalahkan gaya bahasa, gaya jurnalistik yang disuguhkan oleh koran. Saya selalu merasa bila dalam satu hari saya belum mampu untuk membaca koran maka pada hari itu saya pikir saya belum mendapatkan informasi apapun walau berkali-kali saya telah melihat situs berita on-line. 

Semua masalah memang akan selalu ada solusinya, akhirnya saya memutuskan untuk berlangganan Koran Harian Kompas tapi dalam bentuk atau versi digital. 
Lalu apa beda dengan situs berita on-line? 
jelas berbeda karena Koran digital yang ditawarkan oleh Kompas adalah koran yang sama persis seperti yang mereka cetak! sungguh tidak sedikit pun mereka kurangi, sehingga ini hanya berbeda dalam bentuk tampilan, digital dan cetak! 

Dan pada hari ini, Selasa, tanggal 9, bulan Oktober, tahun 2012, saya menemukan sebuah artikel yang menurut saya sangat menarik, sesuai dengan semangat yang saya rasakan sehingga saya wajib untuk kembali mem-posting-nya.


Tersebab oleh UN 

Siapakah sesungguhnya pemegang kendali pembelajaran dalam sistem pendidikan di negeri ini? Guru di sekolah, kurikulum pendidikan, ataukah para penentu kebijakan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? 

Buku-buku teks yang memuat berbagai teori didaktik-metodik, yang tentu didukung pengalaman empirik di berbagai belahan dunia, selalu menempatkan guru sebagai simpul awal sekaligus akhir dari keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum dan infrastruktur pendidikan memang penting, tetapi ia hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Adapun penentu kebijakan lebih dimaksudkan sebagai fasilitator untuk mendinamisasikan arah yang ingin dituju. 

Masalahnya, di negeri ini fungsi dan peran hakiki guru sebagai pendidik sudah bergeser jauh. Di tengah rezim pendidikan yang lebih mendewa hasil daripada proses, ditandai penyelenggaraan ujian nasional (UN) sebagai penentu kelulusan, proses pembelajaran tak lagi tertuju pada upaya pemahaman dan penguasaan materi ajar yang aplikatif untuk menatap kehidupan di luar kelas. Apa yang disebut proses belajar-mengajar kini lebih terfokus pada upaya bagaimana bisa keluar sebagai pemenang, menaklukkan seperangkat model soal pilihan berganda yang akan menjadi penentu kelanjutan masa depan persekolahan peserta didik ke level berikutnya. 

Fungsi guru sudah direduksi sedemikain rupa dan lebih diposisikan sekadar sebagai pengajar. Model dan strategi belajar pun penuh siasat, bagaikan sekompi pasukan tempur yang terjun ke medan perang untuk menaklukkan musuh bersama bernama UN. Latihan-latihan menyiasati model-model soal sudah jamak dilakukan. Proses pengerdilan pun terjadi. Bahkan, di banyak tempat, sejumlah guru menipu diri sendiri dengan ikut berbuat curang hanya agar anak didiknya lolos dari jerat UN. Hak dan tanggung jawab mereka sebagai pendidik sudah tergerus kepentingan jangka pendek. 

Proses pembelajaran tak lagi diorientasikan untuk mengembangkan potensi-potensi kemanusiaan anak. Ketika imajinasi disumbat, pendidikan pun kehilangan maknanya sebagai bagian dari proses pembudayaan. 

Dalam diskusi panel Kompas bersama Lingkar Muda Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, 5 September 2012, kegundahan itu kian meruyak. Sekolah diakui bukan lagi tempat yang menggairahkan untuk berkreasi. Seorang guru peserta diskusi sampai pada tahap ”putus asa” untuk terus berwacana, mengkritik, dan mengingatkan para pengambil kebijakan bahwa ada yang tidak beres dengan pengelolaan pendidikan saat ini. Terlebih menyangkut kebijakan UN, yang secara masif sudah mengubah orientasi pembelajaran di sekolah. 

”Anehnya, ketika sekolah dikelompokkan jadi tiga kategori, ujian akhirnya hanya satu, yakni UN. Apakah ini masuk akal untuk orang sehat?” kata peserta lainnya. 
Tiga kategori dimaksud adalah sekolah reguler, sekolah standar nasional (SSN), serta sekolah bertaraf internasional/rintisan sekolah bertaraf internasional (SBI/RSBI). UN yang membelenggu Sudah begitu banyak kata pengingat diucapkan, masukan disampaikan, bahkan gugatan melalui pengadilan pun sudah dilayangkan. Namun, semua itu tak didengar. Putusan pengadilan yang memenangkan gugatan citizen lawsuit oleh 58 warga negara terhadap keberadaan UN, yang antara lain memerintahkan para tergugat—Presiden, Wakil Presiden, Menteri Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), serta Ketua Badan Standardisasi Nasional Pendidikan—agar terlebih dahulu ”…meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, sebelum mengeluarkan kebijakan pelaksanaan ujian nasional lebih lanjut… dan meninjau kembali sistem pendidikan nasional”, juga tak digubris. 

”Kalau sistem pendidikan kita masih terus seperti ini, apakah mungkin kita bisa membangun pendidikan yang memerdekakan? Menurut saya kita tak perlu terlalu banyak lagi berwacana. Kita desak saja Menteri Pendidikan supaya kembali ke jalan yang benar,” kata seorang guru peserta diskusi. 

Guru yang seharusnya jadi pemegang kendali pembelajaran di sekolah kini tak lebih hanya alat dari rezim pendidikan yang mendewakan hasil ketimbang pendidikan sebagai proses. Ketika keberhasilan anak diukur dari capaian angka-angka; ketika proses pembelajaran sekadar instrumen untuk memperoleh nilai tinggi; dan ketika kelulusan itu sendiri jadi penentu masa depan peserta didik, maka kecederungan umum mengorientasikan kegiatan belajar-mengajar pada pencapaian UN tak terelakkan. 

Proses pembelajaran yang seharusnya memberi tekanan pada aspek kreativitas, pemecahan masalah, berdiskusi, presentasi dan riset—atau apa pun istilahnya—terbatas, akhirnya terpinggirkan. Alih-alih melahirkan kerja keras untuk menguasai materi ajar dalam rangka membangun pemahaman dan pengaplikasian ilmu untuk kehidupan, yang terjadi justru mereka bekerja keras terkait bagaimana menyelesaikan latihan-latihan soal. 

Kini UN sudah jadi belenggu dalam sistem pendidikan di negeri ini, terutama dalam upaya pengembangan potensi anak. Persentase kelulusan tinggi dengan nilai-nilai yang bagus, yang oleh pemegang kebijakan serta-merta diklaim sebagai bukti mutu pendidikan kita meningkat berkat UN, adalah kesimpulan yang naif. Fakta empirik justru menampakkan gejala sebaliknya. 

Lihatlah pencapaian siswa Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh the Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes yang tak sekadar mengukur kemampuan anak memahami mata pelajaran di sekolah, tetapi juga bagaimana mereka mengaplikasikan pengetahuan itu untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata, menempatkan anak-anak Indonesia di posisi ke-54-59 dari 65 negara pada 2006 . Pada 2009, tes kemampuan di bidang membaca, sains, dan matematika itu tetap tak beranjak. 

”Kalau tidak di posisi ke-6, ya, paling tinggi ke-9 dari bawah di antara 65 negara,” kata salah seorang panelis. 
Mengutip hasil kajian Profesor Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika dari Institut Teknologi Bandung, ternyata penyebab rendahnya kemampuan anak-anak Indonesia menyelesaikan soal- soal yang diberikan dalam PISA terkait erat dengan pelaksanaan model pembelajaran kita di sekolah yang sangat dipengaruhi target-target pencapaian UN. 

Tersebab oleh UN, proses pembelajaran pun difokuskan pada kemampuan berpikir rutin, suatu kemampuan berpikir tingkat rendah. Ini ditandai kecenderungan kuat pada peningkatan intensitas belajar-mengajar lewat pembiasaan penyelesaian latihan-latihan soal UN, di mana soal yang satu dengan yang lain memiliki banyak kemiripan. 
Hasilnya? 
Anak-anak Indonesia tidak diajar bagaimana menyelesaikan masalah dengan kreativitas mereka. Jika pembelajaran semacam ini terus berlanjut, anak-anak Indonesia tak akan siap menghadapi tantangan abad ke-21 yang butuh dasar-dasar kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk memecahkan berbagai persoalan dunia nyata.

Thank You

Noorz’s Thanks To :  

  • Allah Swt.;sungguh apa yang saya lakukan di hari kemarin, bukan merupakan upaya saya untuk melawan takdir Illahi atau sedikit saja meragukan segala kekuasaan-Nya, dalam kondisi apapun atau seperti apapun, saya akan selalu berusaha percaya pada-Nya. Saya juga akan senantiasa berusaha untuk selalu yakin bahwa segala apa yang sedang terjadi, apa yang telah terjadi bahkan segala apa yang akan terjadi merupakan segala yang terbaik menurut Allah Swt., karena Allah hanya akan memberikan apa yang menjadi kebutuhan untuk kita, segala rencana yang telah ditetapkan oleh-Nya pasti indah. Kita, saya, hanya belum bisa memahami itu secara penuh sehingga emosi itu akhirnya keluar dalam sebentuk rasa iri dan kecewa. Maaf!
  • orang tua ( Mamah dan Bapak ) yang telah tanpa lelah terus memberikan semangat, berusaha untuk menghibur dan menyenangkan hati di kala anakmu ini terjatuh dan hilang motivasi;maaf saya bersikap dan memberikan respon yang buruk terhadap permasalahan ini, maaf saya tidak bisa berucap banyak saat ditelepon dan maaf saya pun tidak mampu merangkai kata untuk sekedar membalas sms darimu, maaf!
  • semua teman, sahabat dan keluarga yang secara langsung maupun tidak langsung terus memberikan dukungan kepada saya, terkhusus kepada HZ;saya tau sikap yang saya tunjukan sungguh sangat kekanak-kanakan tapi saya juga tak bisa untuk memungkiri, saya hanya berusaha jujur dalam bersikap. Tapi di saat seperti itu, saya sungguh bisa melihat mana teman, mana sahabat dan mana keluarga yang benar-benar teman, benar-benar sahabat, benar-benar keluarga bagi saya. Saya tidak bermaksud untuk selalu ingin diperhatikan tapi bukankah sebagai teman, sahabat dan keluarga kita harus saling memperhatikan? Bukan justru menjauh dan berpura-pura tidak mengetahui bahwa sesungguhnya ada masalah!
  • Lalu pacar?kekasih? tidak kah saya lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada wanita dambaan hati? Akh, dia pun setali tiga uang dengan teman-teman saya yang lain, yang lebih suka untuk memilih diam, tidak datang mendekat untuk menemani kegundahan hati. 
Tapi apapun itu, siapapun itu, saya sungguh ucapkan terima kasih banyak! 
Thanks for your motivation and thanks for taking my spirit back!

"Masa depan hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang yakin akan indahnya rencana mereka!"

Senin, 08 Oktober 2012

AIR MATA INI BUKAN UNTUK KALIAN

http://www.360-edu.com/images/post/large/suicide-prevention.jpg

19 dari 100, selamat karena kalian telah menjadi yang terbaik dan terpilih. 
Saya tersisih, saya sedih bahkan saya menangis. 
Tapi sungguh, saya tidak bersedih apalagi menangis untuk kalian wahai 19 orang yang terbaik dan terpilih.  

Kita memang teman, sahabat bahkan jujur harus saya akui, kalian telah terpatri dalam hati sanubari, sebagai keluarga baru bagi saya karena kalian telah mampu menerima saya dengan segala kekurangan dan mungkin kelebihan yang saya miliki, kalian mengingatkan saya ketika saya salah dan menyemangati ketika saya benar. 
Terima kasih tapi saya tidak ingin munafik juga menjadi bodoh untuk menangisi kalian, kalian yang belum tentu juga bersedih atau bahkan menangis meninggalkan saya disini. 
Saya pamrih? ya! 

Tidak ada bahagia dan sedih yang terasa dalam hati pada waktu yang bersamaan, tidak akan mungkin menangis juga tersenyum dalam satu waktu yang sama. Hal itu jelas sangat tidak rasional, setidaknya untuk ukuran rasio otak saya. Saya sangat yakin, seyakin saya percaya bahwa Tuhan itu ada, bahwa kalian itu bahagia! 
Karena siapa di dunia ini yang tak ingin dirinya menjadi yang terbaik? 
Siapa di dunia ini yang tak ingin dirinya terpilih? 
Siapa yang tak ingin dirinya dipuji, dipuja, disanjung dan dielu-elukan namanya sebagai seorang pemenang, orang-orang yang hebat? 
Ayo-lah jangan kalian munafik! Karena ini tentang harag diri! 

Dan itu-lah kenapa saya bersedih hingga akhirnya menangis.. 

Saya bersedih hingga menangis untuk diri saya sendiri, diri sendiri yang tak mampu untuk menjadi yang terbaik dan terpilih walau secara isi, secara substansi, saya rasa saya mampu dan pantas untuk menjadi yang terbaik dan terpilih. Dan ya, pemikiran-pemikiran liar seperti itu yang berterbangan tak menentu dalam otak semakin membuat sakit, sungguh sakit dalam hati! 

Persetan dengan gelar! 
Tak masalah bagi saya menjadi sarjana atau diploma bahkan kenyataannya saya lebih ingin menjadi praktisi daripada sekedar ahli teori maka tidak terpilihnya saya seharusnya tak harus membuat saya sakit hati. Tapi sayang karena mekanisme penentuan itu ditentukan langsung berdasarkan orang-orang yang katanya terbaik dan terpilih maka saya sungguh sakit ketika mendapati diri ini tidak terpilih dan tidak termasuk orang-orang terbaik. 
Bahkan saya kalah oleh orang-orang yang saya pikir kualitasnya berada jelas di bawah saya. 
Maaf, tapi setidaknya itu yang saya rasakan dan bila ada diantara kalian yang tidak terima dengan pernyataan ini maka mari sama-sama kita buktikan kualitas diri kita masing-masing secara langsung, tidak hanya secara teoritis tertulis di atas kertas, tapi nyata terimplementasi dalam argumen kalimat secara langsung. 

“selayaknya permainan sepak bola, sebuah kekalahan akan terasa sangat menyakitkan ketika sebenarnya sepanjang 90 menit permainan, sebuah tim yang terkalahkan itu mampu untuk menguasainya!” 

Tapi apa mau dikata? 
Toh ini kebijakan pimpinan dan segala yang telah terjadi berarti itu adalah yang terbaik menurut Allah kan? 
Saya iri, saya marah dan segala rasa negatif lainnya tak akan pernah mampu untuk merubah apapun, tak akan menjadi apapun kecuali dosa serta memperkeruh suasana semata. 

Saya hanya mencoba apa adanya, mencoba tidak munafik. Saya katakan saja sebagai seorang pria yang kecewa, terluka hatinya, seseorang yang belum bisa menerima kekalahan sepenuhnya. Saya tidak sedang melawan pimpinan atau bahkan menentang Takdir Illahi, saya hanya mencurahkan isi hati dalam kapasitas saya sebagai seorang manusia yang berperasaan dan memiliki emosi . 

Jadi, saya menangis bukan untuk kalian wahai sahabat karena kalian pun tidak menangis untuk saya disini. Saya menangis untuk diri saya sendiri yang saat ini sedang perih terluka hatinya. 
Saya iri karena kalian mendapatkan label terbaik dan terpilih padahal, maaf, tidak semua diantara kalian pantas mendapatkannya. 

Tapi apapun itu, saya harus secara adil serta berbesar hati mengatakan “Selamat, kawan”. 
Selamat telah menjadi yang terbaik dan terpilih. 

Maafkan saya, tapi mengerti-lah tulisan ini murni luapan emosi, ditulis getir oleh seorang yang kecewa oleh dunia. Tolong kalian mengerti sebagaimana saya mencoba mengerti dan menerima terpilihnya kalian. 

ur damn friend,


noorzmilanello

Jumat, 05 Oktober 2012

The 2nd Law : Perubahan dan Kedewasaan


*catatan : Saya merupakan fans dari band Muse dan Linkin Park dan bahkan pada kenyataanya Muse tak berbeda jauh dengan Linkin Park. Selain karena kedua band ini sama-sama ber-genre rock tapi terlepas dari itu, kedua band ini mampu untuk terus bertahan, berdapatasi, menunjukan dedikasi, integrasi dan yang paling penting, mereka juga "berani" untuk melakukan sebuah evolusi. 

Kedua band ini menunjukan bahwa mereka bermain musik tidak hanya untuk mencari makan atau mereka jadikan sebagai sebuah mata pencaharian sehingga akhirnya mereka harus menggadaikan idealisme yang mereka punya atau bermain musik ala kadarnya tanpa memperhatikan kualitas serta stagnan dengan apa yang telah mereka dapatkan. 

Muse dan Linkin Park adalah contoh nyata dan bukti yang alam semesta ini miliki bahwa perubahan dan kedewasaan merupakan sebuah pilihan dan tanpa kedua hal itu maka hidup yang kita jalani tak akan pernah mampu untuk menjadi lebih baik lagi, tanpa perubahan dan kedewasaan kita tak akan pernah mampu untuk berkembang. Dan bila kita tidak berkembang menjadi lebih baik, kita tidak mampu untuk meng-eksplorasi segala hal yang sebenarnya masih belum mampu untuk kita gali dan sebenarnya apa yang kita miliki sekarang baru-lah menyentuh sedikit saja di permukaan, masih pantas kah kita di sebut sebagai sekelompok orang yang hidup? 

Tapi memang, perubahan dan kedewasaan menimbulkan sebuah konsekuensi yang keras bahkan juga pedih, bahkan tak jarang suatu proses menuju kedewasaan dan perubahan itu tak selalu menemui jalan yang lurus, sial bagi kita, kita harus melewati jalan terjal sehingga belum selesai kita untuk berubah dan dewasa menjadi orang atau sesuatu yang lebih baik lagi, kita harus terjatuh, di caci, timbul konflik dan sejuta masalah lainnya. Tanpa mental serta semangat yang kuat, kita akan menyerah dan memilih mundur atau bahkan justru tertahan tak berdaya. 

Hakikatnya, hidup ini adalah sebuah pilihan, karena semua yang ada di dunia telah Allah atur berpasang-pasanga dan kita diberikan sebuah keterbatasan sehingga sedikit saja diantara kita yang akan mampu untuk memiliki semuanya. Baik atau buruk, bahagia atau sedih. Maka ketika kita akan memilih menjadi orang yang lebih baik dan terus berkembang maka perubahan dan kedewasaan adalah pilihan yang harus kita pilih dan kuatkan-lah mental kita untuk menjalani pilihan itu, sekali ragu maka semua akan tak berbekas, tak berguna! 

Korelasi dengan apa yang telah Muse dan Linkin Park lakukan adalah mereka tetap yakin untuk berubah dan menjadi dewasa walau banyak yang mencibir, Muse dan Linkin Park yakin apabila mereka memberikan suatu kualitas maka mereka pun akan mendapatkan sebuah apresiasi. 
Setelah Linkin Park kembali menggebrak dengan "Living Things"-nya, kini giliran Muse yang datang dengan "The 2nd Law". Musik yang sangat berat, tanpa kita memahami arti perubahan dan kedewasaan kita tidak akan pernah mampu untuk bisa menyukai musik yang mereka tawarkan, percaya-lah! 


Jakarta - Jika Anda punya band dan sudah lebih dari sepuluh tahun berjalan, mendapatkan segalanya, ke mana lagi Anda akan melangkah? 
Jawabnya: evolusi. 
Dari trio kecil penggemar Nirvana asal Teignmouth hingga punya lebih dari selegiun fans di seluruh dunia, Matthew Bellamy (vokal, gitar, piano, penulis lagu), Chris Wolstenholme (bass, vokal), dan Dominic Howard (drum) akhirnya mendapatkan klaim sebagai salah satu band rock terbesar di dunia. Tapi, Muse yang sekarang bukanlah Muse yang dulu menyanyikan 'Muscle Museum' dan 'Plug in Baby'. Bellamy yang sekarang bukan lagi penyair punk-gothic yang terbiasa menulis lirik-lirik abstrak nan puitis. Bellamy yang sekarang adalah penyuka teori konspirasi dengan kesadaran kondisi dunia tingkat tinggi. Lirik-liriknya dipenuhi paranoia massa dan protes pada pemerintah dunia. 

Terdengar berat memang. Jika album 'The Resistance' kencang dengan tema seperti itu, maka 'The 2nd Law' adalah lanjutannya dalam kadar yang lebih ringan. Album keenam Muse ini dibuka dengan lagu 'Supremacy' yang megah, namun masih diwarnai riff gitar khas Muse. Temanya pun tak jauh-jauh tentang menghancurkan supremasi kemapanan dunia yang ada sekarang. Setelah diselingi 'Madness' yang bercerita tentang cinta dan penuh beat pop, tema itu kembali muncul pada trek ketiga 'Panic Station'. Sepintas, lagu tersebut akan mengingatkan Anda pada 'Another One Bites The Dust' milik Queen. Berlanjut dengan 'Survival' yang mungkin sudah tak asing lagi. Lagu berbumbu orkestra ini terpilih menjadi lagu untuk Olimpiade yang baru lalu. Lirik seperti "I'll keep up the pace And I will reveal my strength to the whole human race..." membuat 'Survival' tak hanya punya kesan berkelas, tapi juga unjuk ketangguhan dengan sedikit aroma perlawanan. Sementara, beberapa trek seperti 'Animals' dan 'Big Freeze' menyangkut-pautkan lirik dengan kerakusan ekonomi global, 'Animals' menggunakan sampling suara orang berdagang saham di akhir lagu, dan ketakutan akan zaman es kembali mendatangi dunia. Yang tak kalah absurd, Bellamy juga menceritakan bagaimana sebaiknya manusia meninggalkan bumi dan mencari kehidupan di luar tata surya pada 'Explorers', yang sepintas mirip sebuah lagu cinta. 

Dua lagu buatan Wolstenholme bercerita mengenai perjuangannya melawan kecanduan alkohol, 'Save Me' dan 'Liquid State'. Kemudian, dua lagu penutup dengan dua komposisi orkestra khas Bellamy, plus dubstep, masing-masing 'The 2nd Law: Unsustainable' dan 'The 2nd Law: Isolated System'. 

Secara keseluruhan, 'The 2nd Law' adalah album di mana Muse ber-evolusi dengan menyentuh sound yang belum pernah mereka jelajahi. Bellamy seperti membuat mesin waktu, kembali ke masa lalu, dan berjabat dengan sound khas Queen, Bee Gees, Michael Jackson, hingga U2. Lalu, kembali ke masa sekarang untuk mengeksplorasi sound dubstep dan dance. Evolusi musik itu sendiri menimbulkan pro dan kontra. Banyak yang masih menginginkan Muse kembali memainkan sound lama yang lebih keras. 'The 2nd Law' sendiri adalah album yang sulit untuk dibilang jelek. 
Namun, Anda yang tak akrab dengan Muse mungkin harus mendengarkannya dua (atau berulang) kali untuk bisa menyukainya. 
(roz/mmu)