Jumat, 19 Oktober 2012

Kemauan dan Kemampuan

http://4.bp.blogspot.com/-PXKIhYPqkps/T8o5tGmWPNI/AAAAAAAAAJw/YRLx8D-r9q0/s640/jadilah-diri-sendiri.jpg

Pada hari Senin, tanggal 15, bulan Oktober, tahun 2012, selepas perkuliahan Kelas Gabungan di Aula pada mata kuliah Hukum Administrasi Negara, saya terlibat suatu perbincangan, diskusi atau bahkan sebuah perdebatan hangat bersama tiga orang sahabat ( red:keluarga ) saya di Kampus ini. Perbincangan yang penuh dengan argumentasi mengenai segala masalah dibumbui dengan canda tawa khas anak muda tapi sungguh tanpa mengurangi substansi dan bukan juga sebuah perdebatan ego yang tak tentu arah, apa yang kami bicarakan selalu mampu untuk mendapatkan solusi atau setidak-tidaknya tidak pernah lantas merenggangkan hubungan persahabatan kami, selalu ada yang mengalah dan selalu ada diantara kami yang berjiwa besar dan mau untuk mengakui bahwa argumennya lemah sehingga menerima sepenuhnya argumen lain. Kita saling memberi masukan, melempar opini, menambahkan asumsi, menganalisis realita yang ada.

Pada perbincangan di hari itu, salah satu sahabat saya dengan sangat lugas dan gamblang mengutarakan sebuah kritikan sekaligus masukan yang sangat membangun bagi kebaikan saya pribadi. Dia menyatakan bahwa saya ini terlalu “sombong” karena merasa bahwa saya ini bisa untuk menilai kapasitas diri sendiri, mampu untuk menilai apakah saya baik atau tidak karena dia mempunyai pemikiran bahwa orang lain-lah yang akan lebih mampu untuk menilai diri kita secara lebih komprehensif, secara lebih adil. Bila diri kita menilai diri sendiri maka unsur subjektifitas, unsur ego akan lebih kita kedepankan. Dia mengutarakan hal itu berkaitan erat dengan respon saya terhadap permasalahan D4 dan S1 beberapa hari sebelumnya ( baca : AIR MATA INI BUKAN UNTUK KALIAN )

Saya sungguh tidak meragukan hal itu, apa yang sahabat saya katakan sangat benar maka saya pun sama sekali tidak melawan kritikannya. Tapi apabila boleh saya sedikit membela diri dan menjelaskan alasan dari segala tindakan saya, yang memang saya pun menyadari bahawa tindakan saya, kebiasaan saya untuk menilai diri sendiri sangat dekat dengan sebuah tindakan ego dan menunjukan kesombongan diri. Sebenarnya tidak, sama sekali tidak! hal yang benar-benar saya ingin jauhi di dunia ini adalah saya tidak ingin menjadi seorang yang sombong, apa-lah daya saya ini sehingga saya bisa untuk menjadi sombong? Saya kecil, sungguh kecil, bila pun ada alasan bagi saya untuk sombong maka sungguh saya tidak akan mengambil alasan itu dan lebih memilih untuk menjadi seorang yang “biasa”. Karena dengan kesombongan maka kita telah menciptakan sebuah “jarak” antara kita dan “mereka”.

Lalu kenapa saya merasa pantas untuk menilai diri sendiri?
Saya seperti itu karena saya selalu berusaha untuk menjadi orang yang bisa untuk mengukur diri dengan segala potensi dan kemampuan serta kelemahan yang saya miliki. Saya ingin dihargai, saya ingin dihormati, ingin juga untuk disegani tapi semua itu ingin saya dapatkan karena hasil dari potensi serta kemampuan dan kelemahan saya, bukan sesuatu hal yang ada karena dipaksakan. Bila saya tidak mampu, saya akan berkata, “ya, saya tidak mampu” dan begitu juga sebaliknya.

Secara teoritisnya, Sumardjo (1999) menyebutkan ciri-ciri warga masyarakat berdaya yaitu :
  1. Mampu memahami diri dan potensinya, mampu merencanakan ( mengantisipasi kondisi perubahan ke depan ) 
  2. Mampu mengarahkan dirinya sendiri 
  3. Memiliki kekuatan untuk berunding 
  4. Memiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan, dan 
  5. Bertanggungjawab atas tindakannya. 
Penekanan ada pada point pertama dan kedua, bahwa orang yang berdaya itu adalah orang-orang yang mampu mengetahui dirinya sendiri dan kemudian mengarahkannya sesuai dengan kemampuan, potensi dan kelemahanya. Karena semua orang di dunia ini tidak akan pernah menolak atau berkata “tidak” untuk segala sesuatu hal yang bersifat baik dan menciptakan kebahagaian dan tidak akan pernah ada orang yang mau untuk menerima atau berkata “iya” pada suatu hal yang buruk atau menimbulkan suatu kesusahan. Padahal tidak semua kebaikan harus kita terima dan tidak semua kesusahan harus kita tolak, ada satu hal yang kita lupakan bahwa kita harus menerima dan menolak sesuatu hal itu bukan atas dasar kita “mau” atau “tidak mau” tapi segala sesuatu hal itu harus kita dasarkan pada "kemampuan" yang kita mililki, apakah kita mampu untuk menerimanya atau menolaknya. Dan tidak semua orang mampu untuk seperti itu karena tidak semua orang mampu untuk jujur, adil, seimbang, dan bijaksana pada dirinya sendiri.

Sebuah kecenderungan yang salah, karena telah kita liat sendiri ketika semua orang ( kaum elit, borjuis ) ingin untuk mendapatkan sebuah jabatan politik ( Kepala Daerah, Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan ), tak ada orang yang tidak ingin untuk mendapatkannya, semua “mau” tapi apakah semua orang itu “mampu” ?
Orang-orang di sekitarnya, orang kepercayaannya pasti akan mengatakan bahwa “ya, dia mampu kok untuk jadi Bupati!” tapi atas dasar apa mereka mengatakan itu?
Orang lain pun tidak akan serta merta bisa menilai diri kita secara adil karena justru mereka hanya terbatas melihat kita secara fisik dari luar, satu-satunya orang yang mengetahui kita secara menyeluruh, secara detail mendalam hingga jauh ke lubuk hati adalah DIRI KITA SENDIRI.

Kita tau ketika sebenarnya kita, hati kita, logika kita mengatakan “tidak” tapi karena hasrat nafsu dunia kita sering kali mengabaikan bisikan suci itu. Sehingga jadinya kita sering kali berbohong pada diri kita sendiri.

Dan saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu.

Saya ingin jujur terhadap diri saya sendiri terlebih dahulu, berlaku adil pada saya secara pribadi terlebih dahulu. Tidak setiap saat ketika orang berkata "mampu" maka kita memang "mampu", tidak setiap saat orang berkata kita “tidak mampu” maka kita menjadi “tidak mampu” dan tidak setiap saat kita “mau” maka kita juga “mampu” serta tidak setiap saat kita “mampu” kita akan “mau”.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti akan selalu mencari titik keseimbangannya maka kenapa kita tidak terlebih dahulu hidup seimbang sebelum nantinya kita terkaget-kaget karena dunia menyeimbangkan kita secara tiba-tiba.

Apa yang harus kita lakukan adalah mengukur kapasitas serta kemampuan diri kita, jangan sesekali terbawa arus dan jangan juga termakan hawa nafsu dunia.
Bila kita dihadapkan pada suatu hal, pilihan hidup atau sebuah kesempatan, maka jangan terlalu mendengar apa yang orang lain katakan, tapi terlebih dahulu selami dan pahami segala potensi dan kelemahan diri secara adil juga seimbang, liat menggunakan logika berdasarkan fakta yang ada dan juga hati nurani di dalam dada, setelah itu maka kuatkan tekad dan jalani pilihan itu sebaik mungkin.

Be honest to yourself, my friends!

0 komentar:

Posting Komentar