Jumat, 23 Juli 2010

1931-2010. Dan di Saat Terakhir ...



Semua yang telah terjadi,
tak sepantasnya kita sesali.
Apalagi menentang, melawan takdir yang terjadi.
Karena sungguh, itulah yang terbaik dari Illahi.

Selama hampir setahun kau berjuang,
melawan kerasnya penyakit jantung yang kau dera.
Dan umur pun menjadi penyakit kedua untuk mu.
Tapi, tekad mu kuat untuk bertahan hidup.

Segala daya upaya kau lakukan,
dibantu oleh isteri, anak, cucu dan saudara.
Mereka semua ikut membantu,
walau hati tetap pesimis.
"Umur menjadi kendala", ucap mereka lirih.

Di usia senja, kematian memang semakin terlihat jelas.
Entah dengan datangnya sebuah penyakit,
atau bahkan menusuk tiba-tiba ke dalam diri.

Tapi, kita adalah manusia,
yang hanya wajib berusaha.
Bila memang mampu secara materi, kenapa tidak mencoba segala macam obat?
Karena dengan ikhlasnya kita yang membantu,
merupakan pahala yang kela karenaya kita akan dibantu.

Tapi terlepas itu semua.
Terlepas dari semua rasa pesimis yang ada.
Kau, kami tetap berjuang semangat.
Padahal tidak ada lagi cita-cita dunia yang kau kejar.
Semua telah kau dapatkan.
Bila materi bukan menjadi ukuran.

Hingga akhirnya, kau terbaring di Rumah Sakit.
Masih terus mencoba melawan sakit.
Dan aku menemani, bermaksud untuk menjadi cucu yang baik.
Tapi ternyata di saat terakhir, di malam sebelum kau tiada.
Aku tak bisa menjadi baik,
bukan karena aku tak bisa menemani.
Tapi karena sifat ku yang tak baik,
di balut ego kesenangan pribadi.

Huft...
Padahal kau beberapa kali menunjukan sayang mu padaku.
Tapi aku tak pernah bisa menunjukan itu pada mu.
Dan bahkan di saat terakhir sekalipun.

Ku memang bisa bersamamu, melihat dan memegang wajah mu,
tapi ego ku terlalu besar untuk menjadi seseorang yang baik...

Maafkan aku ya Allah..
Maafkan aku, Aki...
I really love you, I just can't say it or show it tou you. It all just because of my fuckin' ego!

Innalillahi wa inna Illaahi roji'un...



Taman Antre

*Artikel ini merupakan salah satu artikel yang telah diterbitkan di harian Republika hari Ahad tanggal, 6 Sya'ban 1431 H/Nomor 186/Tahun ke-18 yang bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2010. Artikel ini ditulis oleh Arya Hilman, di kolom Solilokui, halaman A7.

Mereka gampang tersihir oleh kemenangan undian yang tak mempersyaratkan kerja keras, padahal hadiah terbesar semestinya adalah jerih terpayah kita.

Namanya saja Taman Pintar. Banyak benar alat peraga yang bisa bikin pintar anak-anak kita. Mau tahu soal dinosaurus? Ada. Memecahkan teka-teki listrik? Juga ada. Belajar soal tsunami? Bisa. Meneropong jeroan mobil? Juga bisa.

Kebetulan lagi musim liburan sekolah, waktu saya datang di tempat itu. Apalagi lokasinya Yogyakarta, alias Jogja, kota tujuan wisata. Tak heranlah, ratusan anak menyemut. Mau parkir sulit. Bergerak pun susah.

Saya membayangkan orang-orang tua ingin anak-anak mereka pintar. Maka, mereka ajaklah buah hati mereka ke tempat itu, sebagaimana mereka membawa para bocah itu ke candi-candi, museum, dan keraton.

Salut buat mereka. Tapi, saya heran juga melihat sebagian besar anak-anak itu saling berebut di berbagai alat peraga. Tak pernahkah para orang tua mengajari mereka tentang cara antre? Tak adakah ajaran untuk bersikap respek terhadap anak-anak lain yang lebih lama menanti giliran? Situasi seperti ini mudah kita temukan di negeri ini dan bukan monopoli anak-anak. Tak ada yang meragukan keandalan pribadi-pribadi manusia Indonesia dalam pengetahuan. Anak-anak kita unggul dalam berbagai olimpiade sains, pekerja-pekerja kita laku di ladang-ladang minyak dan industri penerbangan. Tapi, mengapa antre saja susah, atau setidaknya harus dipaksa-paksa? Nah, ini memang bukan soal pengetahuan. Ini masalah mental.

Prof. Koentjaraningrat menyebut mental menerabas sebagai karakter bangsa kita, sebuah karakter yang tidak akan sinkron dengan kemodernan. Mental menerabas hanya mengharapkan keunggulan hasil dan tak mengacuhkan kualitas proses (Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, 1974). Ini jelas tidak sesuai dengan dunia modern yang penuh prosedur kompetisi untuk mendapatkan hasil.

Anak-anak "yang tak tahu harus antre'' (saya sebut demikian saja karena yang bertanggung jawab atas hal ini tentu para orang tuanya) mungkin segera bertambah pengetahuan. Namun, secara tak sadar mereka sesungguhnya telah pula belajar menerabas norma sosial. Intellectual building mereka dapatkan, tapi character building tidak sama sekali.

Tiga puluh enam tahun berlalu sejak Koentjaraningrat mengungkap analisisnya. Bayi-bayi yang lahir pada era itu adalah generasi penerabas baru yang kemudian juga punya anak. Nah, anak-anak yang tak mengerti norma antre di Taman Pintar adalah penerabas generasi ketiga sejak analisis Koentjaraningrat itu.

Di jalan-jalan raya negeri ini, kita dengan mudah akan menemukan orang-orang bermental penerabas. Mereka tak hirau akan lampu merah atau garis stop. Mereka tak bisa membedakan fungsi trotoar dan jalan raya. Mereka tak mau tahu bahwa jalur busway bukanlah untuk kendaraan pribadi. Bagi mereka, hasil akhir berupa kecepatan sampai di tujuan lebih penting dibandingkan prosedur dan cita-cita tentang ketertiban sosial. Jangan kaget kalau para advokat pun seenaknya meloncati pagar dan memaksa masuk ke gedung MA tanpa merasa itu adalah pelanggaran norma. Masyarakat jenis ini amat mudah larut dalam takhyul, seperti jadi sinyalemen Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan "Manusia Indonesia'' di TIM pada 1977. Masyarakat seperti ini mudah terpukau iming-iming hadiah. Mereka gampang tersihir oleh kemenangan undian yang tak mempersyaratkan kerja keras, padahal hadiah terbesar semestinya adalah jerih terpayah kita.

Secara tak sadar kita sedang mengembangkan mental jago kandang. Kita akan sulit bersaing di pasar global yang menghendaki ketertiban norma dan kepatuhan akan rambu-rambu. Kita takkan mampu bersaing pada arena modern yang menggunakan prosedur kompetisi sebagai jalan menuju hasil. Ketidakbiasaan mengikuti aturan membuat daya tahan kita rendah dalam maraton persaingan dunia.

Ini adalah cermin dari gambaran besar kegagalan kita memahami norma modernitas. Kita bukan saja gagal untuk menghargai prosedur kerja keras, melainkan juga tak mampu mengenali norma-norma tepat waktu, tanggung jawab, disiplin, dan sikap saling respek dengan orang lain. Kita hanya mengenali kemasan modernitas seperti gaya hidup, rokok, dan jam tangan mewah.
Kita permisif terhadap pergaulan bebas dan memandangnya sebagai kemajuan.

Orientasi terhadap hasil membuat kita tak terbiasa dengan kegagalan. Kita jadi antikritik karena memang tidak ada peluang kritik bagi sesuatu yang berjalan di luar prosedur. Rasa tanggung jawab melorot. Bahkan ketika gagal mendapatkan hasil, kita tebal muka karena tak ada yang dapat dipertanggungjawabkan dari sesuatu yang tidak berasal dari proses normal. Jangan heran, misalnya, takkan ada kata mundur bagi pengurus PSSI walaupun mereka terbukti gagal memimpin, karena mereka memang tidak bergerak pada rel modernitas.

Kita butuh tempat-tempat seperti Taman Pintar. Tapi, kita juga perlu Taman Antre, Taman (Tertib) Lalu Lintas, Taman Tepat Waktu, Taman Kerja Keras, Taman Tanggung Jawab, dan sejenisnya.
kalyara@yahoo.com

Kamis, 15 Juli 2010

GET REAL, PLEASE!

WHY CAN'T YOU LIVE WITHOUT THE ATTENTION?
Jarak bukanlah masalah di zaman Globalisasi seperti sekarang ini. Dengan semakin canggihnya alat komunikasi, jarak bukan lagi menjadi sebuah halangan bagi kita semua untuk bertegur sapa. Tidak hanya dengan keluarga, teman, kekasih, bahkan dengan orang-orang yang kita tidak kenal sekalipun, komunikasi dewasa ini amat mudah kita lakukan. Tapi, layaknya dua sisi mata pisau, komunkasi yang dalam hal ini diwakili oleh situs jejaring sosial, mempunyai dua sisi yang berlawanan. Tak bisa kita pungkiri, karena itulah konsekuensi logis sebuah penemuan atau lahitnya suatu alat/barang baru.

Dan sebagai manusia, kita sudah seharusnya menyikapi kedua akibat tersebut, positif dan negatif, secara utuh dan dengan bijak. Masih hangat dalam ingatan kita, banyak bermunculan kasus kriminal, penculikan/perkosaan/dan lain senagainya, yang terjadi akibat terjadinya sebuah interaksi antara dua insan yang tak saling mengenal di salah satu situs jejaring sosial paling populer sekarang ini, yaitu Facebook dan yang cukup menyita perhatian warga Indonesia adalah kasus dimana ada siswa yang secara terang-terangan menghina dan sedikit "mengancam" akan membunuh guru mereka sendiri.
Dengan munculnya banyak kasus, masyarakat yang dalam hal ini dimobilitasi oleh dramatisasi opini media, mulai resah dengan kehadiran situs jejaring sosial. Mulai banyak orang yang berani berkoar agar dibuat aturan khusus dalam menyikapi masalah dan efek negatif dari hadirnya situs jejaring sosial tersebut dan bahkan tak sedikit yang bersifat lebih ekstrem dengan meyuarakan agar semua situs jejaring sosial, Facebook/Twitter/MySpace/Friendster/dan lain sebagainya, ditutup atau dilarang di buka dan digunakan di Indonesia.

Suara-suara keras banyak bermunculan menyikapi fenomena tersebut, ada yang mendukung dan tentu saja ada yang menolak. Yang jelas peristiwa tersebut amat mengagetkan semua pengguna situs jejaring sosial tersebut, apalagi dengan fakta bahwa pengguna situs jejaring sosial di Indonesia, Facebook khususnya, mampu mendududki peringkat ketiga dunia. Mmm...entah sesuatu yang membanggakan atau sesuatu yang justru memalukan.
Tapi, satu hal yang pasti dan harus kita sadari adalah, kita bagaimanapun juga tidak bisa dan sangat lah tidak bijak bila menyalahkan sepenuhnya pada sebuah situs jejaring sosial tersebut atas apa yang telah terjadi. Karena, apakah kita akan menyalahkan sebuah pisau bila pisau itu digunakan seseorang untuk membunuh seseorang lainnya?

Kita harus bersyukur mampu hidup atau diberi kesempatan hidup di zaman seperti ini, dimana teknologi sangat membantu kita dalam menjalani beratnya hidup. Teknologi membuat semuanya terasa lebih mudah untuk kita jalani. Begitu juga dengan situs jejaring sosial yang ada sekarang ini, situs-situs tersebut membuat kita lebih mudah mendekatkan diri dengan teman-teman kita dan lebih jauhnya berkenalan dengan orang-orang yang tentu saja awalnya tidak kita ketahui. Di dalamnya kita bisa berbagi cerita, pengalaman, saling bertukar pikiran dan mungkin menjalin persahabatan bahkan percintaan. Semua hal yang kita anggap mustahil kini menjadi sebuah hal mudah untuk kita lakukan. Dan persoalan pun muncul, ketika kata "terlalu" mulai melekat pada semua pengguna situs jejaring sosial di seluruh dunia. Mereka menjadi seperti seorang yang ketagihan untuk selalu membuka akun pribadi mereka, mereka mulai menghabiskan waktu mereka hanya untuk bersosialisasi semu dengan semua teman-teman semu nya.
Bagaimanapun juga, sesuatu hal perlu dan harus ada batasnya. Kita sebagai manusia, harus mampu mengatur "benda" tersebut, bukan justru"benda" tersebut mengatur kehidupan kita, manusia yang jelas mempunyai akal dan pikiran.

CENTER OF ATTENTION
Mulai terjadi pergeseran moral dan pembentukan karakter baru pada setiap pengguna situs jejaring sosial yang tidak mampu mengendalikan hasrat mereka. Dari awalnya mereka hanya saling berbagi sesuatu yang bersifat umum, kini mereka mulai haus dan menginginkan banyak nya perhatian dari orang, yang justru kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tak mereka ketahui. Mereka saling berkompetisi untuk mempunyai banyak "teman", yang walaupun mereka tak kenal dan tak seditpun rasa untuk ingin saling mengenal. Tak berhenti di situ, guna mendapatkan banyak nya perhatian di dunia maya tersebut, mereka mulai berbagi atau menceritakan sesuatu hal sebetulnya sangat pribadi dan sensitif. Dan tak sedikit dari mereka justru mengambil jalan sebaliknya untuk mendapatkan perhatian itu, mereka menuliskan hal-hal yang berbau porno, menghina, kata-kata kotor penuh amarah, meghasut untuk melakukan hal-hal yang negatif dan bahkan mengumumkan setiap perilaku atau aktifitas negatif mereka yang sebetulnya amat tak layak untuk menjadi konsumsi publik, terlebih lagi kepada mereka yang tak mereka kenal.Dari sini mulai terlihat jelas, bahwa di zaman sekarang, privasi bukanlah menjadi sebuah hal yang patut kita hargai atau banggakan. Semua orang dengan bangga memperlihatkan atau memberitahukan hal-hal privasi mereka, hal-hal buruk yang mereka lakukan dan dosa yang telah mereka lakukan kepada khalayak luas, hanya untuk mendapatkan sebuah perhatian.

SEDIKIT SOLUSI
Tak ada salahnya untuk saing berbagi karena itulah hakikatnya hidup. Kita harus mampu berbagi pengalaman dengan orang lain, agar pengetahuan kita bertambah dan kita pun mampu mempelajari sesuatu hal dari pengalaman orang lain. Saling bertukar pikiran, saling memberi masukan, memberikan motivasi, menghibur dan semua kegiatan positif lainnya. Dan kita pun tak bisa memungkiri bahwasannya kita memang selalu membutuhkan sebuah perhatian. Tapi yang perlu kita ingat di sini adalah kita harus mampu menyikapi sesuatu nya secara utuh dan secara bijak, kita harus mampu berpikir panjang sebelum kita berbagi sesuatu. Apakah hal ini layak untuk diketahui orang lain? apakah hal ini tak akan menyakiti oarang lain? apakah memang hal ini tak akan menganggu hak orang lain??
Intinya, situs jejaring sosial yang ada, harus mampu membentuk kita menjadi seseorang yang bersikap dewasa. Jangan biarkan kita gadaikan privasi kita hanya untuk sebuah ketenaran di sebuah dunia tak nyata bersama semua teman-teman tak nyata kita.

GET REAL, DUDE!
PEACE and CHEERS!

Rabu, 14 Juli 2010

INFOTAINMENT

*Artikel ini merupakan salah satu artikel di koran Republika hari Rabu, 2 Syaban 1431 H, yang bertepatan dengan tanggal 14 Juni 2010 Nomor 182/Tahun ke-18. Artikel ini terdapat di halaman 4 kolom Opini, karya Iswandi Syahputra, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Artikel ini berisi tentang "salah arah nya" Infotainment kita.

INFOTAINMENT
Masih ingat dengan komedian Parto saat melepaskan tembakan untuk membubarkan pekerja infotainment yang mengerumuninya untuk memburu suatu informasi yang sebenarnya tidak penting bagi publik?
Atau, fatwa haram NU terhadap infotainment karena dinilai hanya menebarkan ghibah (gosip) daripada fakta dan berita? Dua hal tersebut cukup diajukan untuk mengetengahkan dirkursus ada masalah pada industri infotainment.

Kasus video porno selebritas dan keputusan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang digelar pekan lalu di Bandung, untuk meninjau ulang program infotainment sebagai produk faktual mencuatkan kembali manfaat infotainment bagi publik. Sikap KPI yang mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan justru dicibir sinis oleh pebisnis infotainment. Dengan sedikit agak membabi buta KPI dituding tidak memiliki kewenangan memantau dan menegur konten siaran televisi yang melanggar standar program siaran.
Tudingan ngawur tersebut menunjukkan ada pihak-pihak tertentu yang bekerja secara sporadis mempertahankan sesuatu yang tidak memberi manfaat bagi kepentingan, bahkan dapat mematikan rasionalitas publik.

Mematikan demokrasi
Konsep infotainment awalnya berasal dari John Hopkins University (JHU), Baltimore, Amerika Serikat. Ide dasar infotainment berawal dari asumsi informasi kendati dibutuhkan oleh publik, tetapi tidak dapat diterima begitu saja, apa lagi untuk kepentingan mengubah sikap negatif menjadi sikap positif manusia. Dari sini ke mudian muncul istilah infotainment, yaitu kemasan acara yang bersifat informatif, tetapi dikemas atau disisipi dengan berbagai entertainment untuk menarik perhatian khalayak sehingga informasi sebagai pesan utamanya dapat diterima.
Dalam tradisi ini, infotainment benar-benar menghidupkan demokrasi bukan mematikan, karena informasi yang di sajikan dengan cara menghibur benar-benar merupakan informasi yang dibutuhkan oleh publik.

Konsep infotainment tersebut kemudian diadaptasi oleh industri televisi di Indonesia. Namun, para pekerja industri infotainment bukan mengumpulkan, menghimpun, mengolah, dan menyajikan informasi dengan cara menghibur seperti konsep awal infotainment, tetapi mengumpulkan, meng himpun, mengolah, dan menyajikan informasi tentang hiburan yang disajikan penuh dramatisasi dan terkadang sarat dengan rekayasa. Formula aneh infotainment ini berpotensi dapat mematikan demokrasi bahkan mematikan nalar publik secara luas.

Liputan khas infotainment yang selalu didasarkan pada upaya mencari sensasi dan histeria daripada fakta dan berita mungkin saja dalam jangka pendek baik untuk menarik minat publik. Namun, untuk masa jangka panjang, infotainment berpotensi mematikan demokrasi. Demikian juga, dengan penelitian pasar media melalui rating yang menyampaikan bahwa infotainment laku dijual karena ramai penonton, dapat menjadi benar dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, infotainment dapat menurunkan ke tertarikan publik pada seluruh jenis berita yang penting bagi mereka.

Berbagai riset komunikasi memang menunjukkan bahwa infotainment mampu mengurangi ketertarikan masyarakat tentang urusan-urusan publik mereka. Padahal, dalam suatu sistem demokrasi, kesadaran warga negara terhadap hak-haknya hanya dapat dibangun melalui suplai informasi yang sehat dan pengetahuan yang cukup, untuk melakukan pilihan yang benar-benar rasional berdasarkan kebutuhan mereka sebagai warga negara.

Dalam perspektif ini, jelas sangat keliru jika ada pandangan yang berpendapat bahwa peninjauan program infotainment di televisi merupakan ancaman bagi kebebasan pers sebagai pilar demokrasi serta indikasi mulai bangkitnya kembali sistem otoriter. Pendapat tersebut khas industri infotainment yang selalu membesar-besarkan masalah, dengan teknik mencuri perhatian melalui dramatisasi opini untuk mencari perhatian publik.

Pendapat tersebut jelas keliru dan dapat menyesatkan publik. Sebaliknya, publik harus dicerahkan dengan pandangan baru, jika iklim infotainment seperti saat ini dipertahankan, secara substansial justru infotainment dapat mematikan demokrasi. Karena infotainment tidak menyuplai informasi yang dibutuhkan oleh publik serta belum mampu memberi kontribusi bagi pencerdasan publik. Di sini, industri infotainment harus dapat membedakan antara kebebasan pers dan pers yang bebas.

Kebebasan pers yang kita anut adalah kebebasan pers yang bertanggung jawab dan taat pada fakta bukan rekayasa.
Kebebasan pers tanpa batas pertanggungjawaban dan ketaatan pada fakta cenderung
menjadi pers yang bebas. Pers bebas tanpa batas tidak jauh berbeda dengan praktik rezim tiran yang bekerja secara otoriter karena pers memliki kekuatan subtil membentuk opini. Kendati pendapat tersebut keliru, keinginan untuk menyampaikan pendapat yang keliru tersebut tetap harus dibela dan dipertahankan, sebagai sebuah indikasi siapa saja dapat berpendapat dan berbeda pendapat dalam sistem demokrasi.

Lantas, jika selama ini infotainment tidak menyajikan in formasi yang dibutuhkan publik dan memberi kontribusi bagi perkembangan demokrasi mengapa tetap diminati? Pendapat Carpini dan Williams (2001) relevan untuk menjelaskan maraknya industri infotainment tersebut. Beberapa alasan pokok maraknya infotainment, antara lain karena pergeseran dalam struktur industri penyiaran, dari state regulation kepada market regulation, akibatnya memuncul kan kompetisi dan berbagai tekanan dalam pencapaian ekonomi berbagai sektor dalam bisnis media.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah faktor minimnya pemahaman kode etik jurnalistik para pekerja infotainment serta cara pandang yang keliru tentang produk jurnalistik. Apakah infotainment produk jurnalistik? Jurnalisme tentu berbeda dengan hiburan.

Jurnalisme mengabdikan reportasenya pada seluruh pekerjaan mencari, menghimpun, mengolah, dan menyajikan in formasi yang dibutuhkan publik. Tidak jarang untuk memperoleh informasi tersebut, seorang jurnalis harus menyamar bahkan mempertaruhkan jiwa nya dalam sebuah reportase di wilayah konflik. Apa kah reportase perselingkuhan selebritas merupakan informasi yang di butuhkan oleh publik?

Jumat, 09 Juli 2010

Isra Mi'raj

*Artikel ini merupakan salah satu artikel yang terdapat dan telah diterbitkan di Koran Republika, hari Jum'at, 26 Rajab 1431 H yang bertepatan dengan tanggal 9 Juli 2010. Di bagian Tabloid Republika, Dialog Jumat, kolom Ensiklopedia atau bisa kita baca secara on-line di, REPUBLIKA.

Secara bahasa, Isra berarti berjalan pada malam hari atau membawa berjalan pada malam hari. Dalam kajian sejarah Islam, Isra berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW. pada malam hari dalam waktu singkat dari Masjid Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Sedangkan Mi'raj secara bahasa berarti tangga alat untuk naik ke atas. Dalam istilah Islam, Mi'raj berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW. naik dari alam bawah (bumi) ke alam atas (langit), sampai ke langit ketujuh dan Sidratulmuntaha.

Dalam istilah lain, Mi'raj berarti kenaikan Nabi Muhammad SAW. dari Masjid Al-Aqsa di Yerusalem ke alam atas melalui beberapa tingkatan terus menuju Baitul Makmur, Sidratulmuntaha, Arasy (tahta Tuhna) dan kursi (singgasana Tuhan) hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT.

Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW. mendapat perintah mendirikan shalat lima waktu sehari semalam. Karena peristiwa Isra bersamaan dengan Mi'raj, maka kedua kata itu senantiasa digabungkan pemakaiannya menjadi Isra Mi'raj.

Peristiwa yang sangat penting dan bersejarah itu terjadi pada 27 Rajab, setahun sebelum Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah. Peristiwa mahadahsyat itu diterangkan Allah SWT dalam surah Al-Isra (Bani Israil) ayat 1.
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi maha mengetahui." (QS Al-Isra:1).

Peristiwa Isra Mi'raj juga disebutkan dalam surah An-Najm ayat 1-18.
"Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

" Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha."

"Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
heri/ disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta.

Kamis, 01 Juli 2010

HOPE FOR THE BEST & PREPARE FOR THE WORST!

Inilah kita sekarang, Loer! Kita telah sampai di bulan Juli, bagi mereka dan termasuk di antara kita, bulan ini adalah bulan penentuan apakah kita berhasil melewati hadangan dan masuk ke PTN favorit kita. Karena di bulan inilah, SNMPTN yang merupakan jalur terakhir untuk masuk ke PTN akan diumumkan hasilnya. Untuk itu kita yang telah selesai melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang manusia, yaitu berusaha semaksimal mungkin, pada akhirnya hanya mampu berdo’a dan berharap segala sesuatunya sesuai dengan harapan sembari mempersiapkan untuk segala kemungkinan yang terburuknya.

Kadang kita terlupa untuk mempersiapkan diri kita untuk menghadapi sebuah kenyataan yang tak sesuai dengan harapan ataupun cita-cita awal kita, akibatnya tidak sedikit yang frustasi dan depresi tiada henti. Sungguh perbuatan yang hanya membuang-buang energi.
Oleh karena itu, mulai dari sekarang mari kita sama-sama kuatkan diri kita masing-masing, ikhlaskan hati kita sejernih mungkin agar nantinya kita siap dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Persiapkan semuanya sebaik mungkin dan perhatikan setiap detail nya, sekecil apapun itu.

Dan satu hal yang perlu dan harus kita pahami adalah apapun yang terjadi nantinya, apapun hasilnya nanti, itu merupakan yang terbaik menurut Allah SWT., yang kadang memang selalu tak sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Tapi itulah kenyataan dan itulah yang terbaik, karena Sang Pencipta akan selalu lebih tau apa dan mana yang terbaik untuk makhluk ciptaanya.
Jadi apapun itu, sikapilah dengan dewasa dan bijak, Loer!! Sekali lagi, masa depan kita hanya ditentukan oleh semangat dan niat kita sendiri. Tak ada kaitannya dengan dimana kita bersekolah dan dengan siapa kita bersekolah.

KEEP STRUGGLING FOR OUR FUTURE, KEEP SPIRIT IN OUR HEART AND BELIEVE IN ALLAH! ‘CAUSE BELIEVERS NEVER DIE!!

PEACE and CHEERS, Loer!
FIGHT!!