Kamis, 27 Juni 2013

Setengah Hati Melawan Rokok

Kamis, 27 Juni 2013
11.14 WIB

rokok

*catatan : jadi argumen pembenaran apa lagi yang bisa dikemukakan?
entah-lah, rasanya tak ada hal positif nyata yang bisa didapat dari aktifitas merokok, semuanya hanya kembali pada perasaan psikis abstrak terdorong oleh hawa nafsu semata.

Saya pun berada di dalam sebuah ironi, persimpangan jalan. 
Ketika dulu telah mantap mampu menahan segala godaan walaupun hidup di tengah-tengah para perokok. Juga sedikit banyak ikut melawan para perokok. 

Kini saya justru berada di dalam lingkaran para perokok. Tapi tidak, saya masih mengedepankan akal sehat serta rasa takut. Mungkin juga pengecut. 

Saya tidak merokok sepanjang waktu, karena aturan serta situasi tidak mengizinkan itu walaupun secara kultural dan kesempatan terdapat celah untuk melakukannya.

Saya masih bisa menahan diri. Lalu bila begitu kenapa tetap merokok? di sini-lah letak pembunuhan akal sehat saya dan ketidakmampuan saya mengolah hawa nafsu. Ketika saya terlepas dari aturan itu, maka saya peluk hangat kepulan asap rokok itu. Ahh, kenapa? (baca : Hari Tanpa Tembakau, Kelam, Pengakuan)

Dengan segala fakta yang ada, terlebih bahwa ternyata asap rokok itu merusak DNA, saya mulai kembali merenungkan ini semua. Ketika yang rusak itu hanya saya maka saya masih bisa menerima tapi ketika juga harus merusak keturunan saya nantinya, rasa-rasanya saya tak bisa untuk menerima itu. 

Lalu ada fakta lain yang menyebutkan bahwa generasi muda Indonesia hanya banyak menghabiskan waktu untuk merokok daripada berbuat sesuatu hal yang produktif untuk negeri, saya pun semakin tertunduk lesu.

Saya ingin memerangi, tapi saya pun terlibat di dalamnya, bisa apa bila begitu? 
saya pun ingin benar-benar tak lagi menjadi seorang perokok, tapi keinginan untuk terus menghisap asap itu masih kuat terasa, 

Beruntung, saya masih bisa mengendalikannya di dalam kampus ini.

Saya pun muak, sungguh muak ketika melihat para perokok itu mereka yang tidak bekerja, mereka yang sebenarnya untuk mencari makan pun susah. Mereka yang sebenarnya nafas untuk hidup sudah terengah-engah. 
Saya muak dengan keadaan itu. Tapi, sekali lagi, ini hanya kemuakan dari seorang munafik!
Bisa apa?

Saya harus terbebas dari belenggu isapan rokok, baru kemudian saya bisa murni memerangi ini semua. Tidak dengan paksaan ancaman, tapi dari kesadaran.

Karena seharusnya, bila boleh saya memberi saran, harga rokok itu dibuat setinggi langit! Tak ada lagi ketentuan menjual rokok secara batangan dan para pembeli rokok itu harus menunjukan kartun identitas, bukti bahwa mereka telah berusia minimal 18 tahun.

yaa, itu ide dari seorang munafik kok...
whatever it is, keep #PMA :)


Peluncuran Peta Jalan Pengendalian Produk Tembakau


Peluncuran Peta Jalan Pengendalian Produk Tembakau
2013-06-24 19:00:48

http://pppl.depkes.go.id/berita?id=1049

Pada 24 Juni 2013, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE menyampaikan sambutan pada Peluncuran Peta Jalan Pengendalian Produk Tembakau yang dilakukan oleh Indonesia Tobacco Control Network (ITCN), di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta.

Ada 7 hal yang di sampaikan Prof. Tjandra pada kesempatan tersebut, yang antara lain Pertama, dimana Kementerian Kesehatan sangat mengapresiasi dan memberi penghargaan kepada semua LSM, pemerhati dan aktivis penanggulangan merokok, yang selama ini telah banyak berbuat dalam penanggulangan masalah merokok, termasuk peluncuran dokumen peta jalan kali ini. 

Kedua, Menurut Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2011, 67,4% pria dewasa Indonesia dan 4,5% wanita dewasanya adalah perokok. Sehingga total keseluruhan ada sekitar 61,4 juta perokok di Indonesia. 

Ketiga, Program penanggulangan masalah merokok telah dilakukan secara menyeluruh, antara lain dalam bentuk advokasi, penyuluhan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, pengobatan, dan lain-lain.
 
Keempat, saat ini, sudah ada beberapa aturan per undang-undangan, antara lain UU 36/2009, PP 109/2012, PermenKes 28/2013, tentang pencantuman informasi dan gambar di bungkus rokok, Permenkes 40/2013, tentang panduan peta jalan pengendalian masalah tembakau bagi kesehatan, dan beberapa peraturan daerah atau aturan lain di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota. Selain itu, saat ini sudah ada bentuk pengaturan (dalam berbagai bentuknya) di 87 Kabupaten/Kota di 26 Propinsi serta surat edaran dan lain-lain.

Kelima, untuk proses aksesi Framework Convention on Tobacco Control – FCTC, maka Kemenkes sudah melakukan antara lain menyelesaikan naskah akademik untuk aksesi FCTC, melakukan berbagai rapat persiapan FCTC, membuat surat ke beberapa menteri terkait, dalam bentuk penjelasan konsep dan proses usulan, ungkap Prof. Tjandra.

Keenam, saat ini sedang di proses juga dalam penyusunan undang-undang penyiaran. Dimana untuk hal ini, Menteri Kesehatan sudah membuat surat kepada MenterKomunikasi & Informasi untuk pengaturan pelarangan iklan rokok. 

Dan terakhir yang Ketujuh, Prof. Tjandra menyampaikan bahwasannya semoga kegiatan bersama ini dalam penanggulangan masalah merokok yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia dapat berjalan dengan sukses dalam lindungan Allah SWT/Tuhan YME.




Agar RI Tak Kalah dari Negara Lain


Agar RI Tak Kalah dari Negara Lain, Selamatkan Generasi Muda dari Rokok
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 24/06/2013 15:16 WIB

http://health.detik.com/read/2013/06/24/151615/2282521/763/agar-ri-tak-kalah-dari-negara-lain-selamatkan-generasi-muda-dari-rokok?880004755

Jakarta, Generasi muda adalah masa depan bangsa. Tak berlebihan jika kejayaan bangsa Indonesia di masa mendatang berada di tangan generasi muda. Tapi apa jadinya jika generasi muda malah sakit-sakitan gara-gara rokok? Bisa-bisa Indonesia terpuruk dan kalah dari persaingan global.

"Kejayaan dan ketegaran bangsa Indonesia di tahun 2020-2040 ditentukan oleh generasi muda saat ini, maka dari itu selamatkan generasi muda dari rokok," tutur Penasihat Presiden di Bidang Ekonomi, Prof Dr Emil Salim.

Hal itu disampaikan Prof Emil dalam peluncuran buku 'Peta Jalan Pengendalian Produk Tembakau di Indonesia' di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (24/6/2013). Buku tersebut merupakan panduan industri tembakau dalam menjalankan usahanya. Tujuan diterbitkannya buku itu salah satunya adalah agar Indonesia bebas rokok pada 2025.

Bagaimana cara melindungi generasi muda dari rokok? "Perangi rokok bukan dengan perang senjata atau peluru, tapi dengan perang moral dan hati nurani," kata Prof Emil.

Dia menjelaskan saat ini Indonesia berada di posisi middle income trap. "Jika tidak kita selamatkan generasi muda, maka selamanya kita akan terperangkap dalam kungkungan Korea yang maju dengan inovasinya serta India dan China yang maju dalam sumber daya manusianya," jelas Prof Emil.

Tidak berlebihan menyebut rokok sangat mengancam generasi muda. Sebab data tahun 2013 menunjukkan konsumsi rokok di Indonesia mencapai 302 miliar batang per tahun. Dapat dikatakan, di setiap mulut bangsa Indonesia, termasuk balita dijejali 1.250 batang rokok.

Sementara itu Ketua Indonesian Tobacco Control Network (ITCN), Dr Kartono Muhammad menyatakan perang candu ke-4 tengah terjadi. Menurut dia, Indonesia menyambut industri rokok dengan adanya investasi di bidang ekonomi.

"Tanpa sadar proses peracunan rakyat akibat rokok ikut disertakan," ujar Dr Kartono.

Ia menambahkan, rokok bisa melemahkan generasi muda Indonesia. Dengan begitu, meski jumlahnya besar, Indonesia bisa menjadi bangsa kelas kambing.

Kementerian Kesehatan sangat mengapresiasi diluncurkannya buku tersebut. "Apalagi dengan data global tahun 2011 bahwa 67,4 persen perokok adalah pria, dan wanita 4,5 persen. Ini berarti 61,4 juta orang dewasa di Indonesia adalah perokok," papar Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, saat memberi sambutan.

Selain itu, pihak pemerintah juga sudah mendukung program pengendalian tembakau ini dengan mengeluarkan beberapa Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) seperti Permenkes No 40 tahun 2013 yang menjadi dasar hukum pembuatan Peta Jalan Tembakau.




Rusaknya DNA Akibat Tembakau


Rusaknya DNA Akibat Tembakau, Risiko Terbesar pada Petani dan Keluarga
dr. Teguh Haryo Sasongko - detikHealth
Senin, 24/06/2013 10:44 WIB

http://health.detik.com/read/2013/06/24/104437/2282001/763/rusaknya-dna-akibat-tembakau-risiko-terbesar-pada-petani-dan-keluarga?l771108bcj

Jakarta, Peraturan perundangan yang berusaha mengendalikan produksi tembakau tidak kunjung menemukan titik terang. Pro dan kontra terus menerus bercelaru di tengah hiruk pikuk kepentingan ekonomi dan politik.

Sementara itu Indonesia 'mengukir prestasi' menjadi satu di antara sedikit sekali negara yang belum meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco Control. Dari 194 negara anggota WHO, hanya tinggal 26 negara yang belum meratifikasi dan di antaranya adalah Indonesia.

Di antara yang yang paling menarik perhatian adalah bahwa penentangan terhadap pengendalian tembakau justru datang dari para petani tembakau yang merasa terancam sumber penghidupannya. Tulisan ini berusaha menerangkan, bahwa para petani tembakau dan para buruh yang bekerja di pabrik rokok adalah pihak yang secara ekonomi dan kesehatan justru paling dirugikan jika produksi tembakau tidak dikendalikan secara efektif.

Bagaimana Tembakau Merusak Kesehatan?

Tembakau mengandung zat-zat berbahaya yang merusak kesehatan. Namun bagaimana kerusakan itu terjadi, tidak begitu banyak dipahami orang dan cenderung disepelekan. Salah satu mekanisme mendasar yang paling berbahaya dari tembakau adalah kemampuannya mengubah susunan DNA. Apa yang terjadi jika susunan DNA mengalami perubahan ?

DNA adalah blueprint dari keseluruhan kerja sistem biologi tubuh makhluk hidup, termasuk manusia. Di dalam susunan DNA terkandung instruksi-instruksi yang spesifik mengenai apa yang harus dihasilkan oleh tiap-tiap sel sehingga ia dapat bekerja dengan sehat. Susunan DNA dapat diibaratkan software program komputer yang memberi instruksi-instruksi tertentu agar software dapat bekerja sesuai yang diharapkan pengguna komputer.

Jika ada virus komputer yang mengubah instruksi ini, maka kerja software itu juga berubah. Jika instruksinya berubah, maka apa yang dihasilkan oleh kerja software itu juga berubah. Yang tadinya software itu diinstruksikan untuk (misalnya) menterjemahkan kalimat dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, maka bisa jadi yang keluar hanya susunan huruf tanpa makna, bukannya bahasa Inggris seperti yang diharapkan.

Virus komputer tadi analoginya sama dengan zat-zat tertentu yang memiliki kemampuan mengubah susunan DNA, termasuk zat-zat yang terkandung dalam tembakau. Jika susunan DNA berubah dari susunan yang normal, maka instruksi yang dihasilkan juga berbeda dan lazimnya yang dihasilkan adalah instruksi yang merusak tubuh.

Dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah 'Chemical Research in Toxicology', para peneliti Amerika Serikat menunjukkan bahwa Phenanthrene yang dihisap dari rokok mencapai kadar maksimumnya dalam darah hanya dalam hitungan menit, secepat jika ia disuntikkan langsung ke dalam darah.

Phenanthrene adalah salah satu racun dalam kategori Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) dan diketahui memiliki kemampuan mengubah susunan DNA. Maka dapat dibayangkan, semakin banyak rokok yang dihisap maka semakin luas pula susunan DNA yang mengalami perubahan. Sementara di antara susunan DNA itu ada sebagiannya yang bertanggung jawab untuk memberi instruksi pada tubuh untuk melakukan kontrol pada pembiakan sel. Jika susunan DNA dengan intruksi ini mengalami kerusakan, maka kontrol terhadap pembiakan sel menjadi tidak ada. Akibatnya terjadi kanker.

Secara alami tubuh memiliki mekanisme untuk memperbaiki kerusakan ini. Namun demikian, mekanisme ini terbatas kemampuannya dan umumnya hanya dapat memperbaiki perubahan DNA yang terjadi secara alamiah. Jika perubahan susunan DNA itu terjadi begitu cepat dan melibatkan begitu banyaknya DNA seperti pada paparan PAH ini, mekanisme ini tidak mampu lagi melakukan perbaikan yang bermakna.

Risiko yang Dihadapi Petani Tembakau dan Buruh Pabrik Rokok

Ada sebagian yang masih berpandangan bahwa racun-racun dalam rokok hanya dapat memasuki tubuh melalui hisapan rokok atau asap rokok. Dari sini ada istilah perokok aktif dan perokok.

Tidak banyak yang sadar bahwa racun-racun dalam rokok, termasuk PAH, juga dapat memasuki tubuh melalui paparan kulit. Ini yang disebut dengan istilah 'Third-Hand Smoke'. Para peneliti dari Universitas Philadelphia menunjukkan bahwa kadar PAH total, termasuk Phenanthrene, di tangan seorang perokok setelah satu batang rokok habis dihisap meningkat lima kali lebih tinggi dari bukan perokok.

Bayangkan jika ia menghabiskan satu bungkus rokok setiap hari. Bayangkan juga, dalam sehari berapa kali ia bersentuhan dengan orang lain, termasuk anak, keluarga dan teman-temannya yang bukan perokok. Anda benar-benar perlu berfikir ribuan kali untuk sekadar bersalaman dengan seorang perokok.

Dalam kaitan ini, mafhum dipahami bahwa para petani tembakau dan pekerja pabrik rokok adalah mereka yang sangat sering bersentuhan langsung dengan tembakau dan bahan pembuatan rokok. Dengan demikian mereka hampir setiap hari mengalami paparan langsung terhadap bahan-bahan ini. Paparan ini tidak hanya melalui asap pembakarannya, namun juga dapat diserap tubuh melalui kulit. Artinya melalui sentuhan langsung bahan-bahan pembuat rokok itu.

Begitu diserap, PAH segera memasuki sistem limfatik (yang berperan dalam imunitas tubuh) dan beredar dalam darah (memasuki semua organ tubuh yang dimasuki darah). Karena sifatnya yang larut dalam lemak, PAH juga dapat terakumulasi dalam ASI dan jaringan lemak.

Sejalan dengan ini, data-data penelitian menunjukkan bahwa peningkatan insidensi kanker kulit, kandung kemih, paru-paru dan saluran pencernaan terjadi di kalangan para pekerja yang terpapar. Sebuah penelitian di Vietnam yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah "BMC Public Health" pada tahun 2009 membandingkan keluhan sakit (self-reported illness) antara para petani tembakau dan bukan petani tembakau. Dari 16 masalah kesehatan yang ditanyakan, 9 di antaranya ternyata dilaporkan lebih sering terjadi di kalangan para petani tembakau, dibandingkan dengan bukan petani tembakau.

Keuntungan Ekonomi?

Penelitian yang sama juga melihat seberapa besar keuntungan ekonomi yang diperoleh keluarga para petani tembakau.

Pendapatan per kapita antara para petani tembakau dan petani bukan tembakau ternyata hanya berbeda sangat tipis, antara 2,7 – 8,1 dolar amerika (27000 – 81000 rupiah) lebih tinggi para petani tembakau setiap bulannya. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah perbedaan yang sangat tipis ini sepadan dengan masalah-masalah kesehatan yang menimpa mereka? Dapatkah perbedaan pendapatan yang tipis ini menutupi biaya kesehatan mereka yang jelas lebih tinggi, dan dalam waktu yang sama, masih dapat memberi keuntungan finansial yang signifikan?

Penelitian-penelitian lain dari Kenya, India dan Cina menunjukkan bahwa ternyata bertani tembakau lebih merugi dibandingkan bertani dengan tanaman-tanaman yang lain. Senada dengan ini, WHO baru-baru ini melaporkan bahwa bertani tembakau dapat merusak standar kehidupan dan juga merusak masa depan.

*) dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD adalah ahli genetika molekuler, peneliti dan pengajar di Human Genome Center, School of Medical Sciences, University Sains Malaysia.








Jumat, 21 Juni 2013

Kepercayaan setelah BBM Naik

Jumat, 21 Juni 2013
10.00 WIB

http://padangekspres.co.id/up/berita/04122012113615BBM.jpg
RUU APBN-P 2013 telah disahkan oleh DPR-RI pada hari Senin, tanggal 17, bulan Juni, tahun 2013, setelah melewati proses politik yang alot dan cukup panjang dan harus (lagi, lagi, dan lagi) diputuskan melalui mekanisme voting .

Proses politik itu kemudian menjadi bertambah riuh karena juga dibumbui oleh sebuah drama "resistensi" yang dilakukan Fraksi PKS (Partai Keadilan Sosial), yang sebanrnya tergabung ke dalam partai koalisi pemerintahan.

Bila penentangan itu dilakukan oleh partai oposisi maka tak akan menjadi sesuatu hal yang menarik atau pantas untuk dijadikan headline berita. Tapi ketika penentangan itu dilakukan oleh partai koalisi apalagi bukan untuk yang pertama kali, maka jelas hal itu akan menarik perhatian publik berserta segenak awak media.

Banyak orang yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh PKS adalah sebuah langkah radika (baca:panik) dari sebuah partai yang kurang dari setahun lagi bersiap untuk menghadapi pertandingan politik.

PKS yang sedang terpuruk oleh kasus impor daging yang menjerat banyak kadernya bahkan Presiden PKS itu sendiri, yang mengakibatkan meluluhlantahkan  nama baik partai yang terkenal bernafaskan islam dan santun.

PKS yang dikenal militan dan berprospek  baik, seketika saja harus kehilangan segala "masa depan" yang baik itu.

Oleh karena itu momen seperti ini dimanfaatkan oleh PKS untuk melakukan pencitraan kepada publik dengan harapan mampu mengembalikan nama baik dan mendapatkan lagi kepercayaan dari masyarakat luas, dengan melakukan penolakan kenaikan harga BBM mengatasnamakan membela rakyat Indonesia.

well, it is politic!

Tak ada teman sejati, hanya kepentingan yang abadi.

Mari sejenak kita lupakan permasalahan itu, mari kita berpanjang lebar mempermasalahkanya di lain waktu, dengan tulisan yang berbeda.

Walaupun pengesahan telah dilakukan sejak beberapa hari yang lalu akan tetapi karena menunggu proses administrasi, maka RUU APBN-P 2013 yang kini telah menjadi UU APBN-P 2013, belum serta merta bisa dilaksanakan.

Sesuai dengan rencana dan informasi terakhir yang saya dapatkan, pada malam hari ini, Jumat, tanggal 21, bulan Juni, tahun 2013, akan diumumkan mengenai kenaikan harga BBM. Direncanakan pula, pengumuman tersebut akan dilakukan oleh Menteri ESDM, Jero Wacik. Let's wait and see.

Saya bukan pakar eknomi, tak terlalu mengerti apalagi menguasai sedala perhitungan ekonomi makro dan mikro. Maka saya tidak dalam kapasitas untuk membahas apakah memang kenaikan BBM itu pantas atau tidak.

Saya hanya mampu untuk memberikan pandangan secara umum berdasarkan keterangan informasi dari orang-orang yang berkompeten untuk memberikan komentar mengenai permasalahan ini.

Situasinya adalah saya merupakan peserta didik di dalam perguruan tinggi kepamongprajaan, yang nantinya setiap lulusan dari sekolah ini diproyeksikan untuk menjadi seorang Pamong Praja Muda (PNS)

Sederhanaya, PNS itu adalah aparatur negara atau alat kelengkapan negara, melaksanakan segala peraturan perundang-undangan dan kebijakan serta kebijaksanaan  yang telah digariskan oleh negara. Loyalitas adalah modal utama. Birokrasi tanpa loyalitas tak akan mampu untuk berjalan dengan baik.

Maka sebisa mungkin apapun (aturan, kebijakan, kebijaksanaan) itu, saya hanya dan harus bisa melaksanakannya dengan baik. Tapi dewasa ini , loyalitas di dalam birokrasi pemerintahan memang tidak harus dilaksanakan secara membabi buta. Loyalitas dengan tetap menjalankan pemikiran analitis, kritis dan kreatif terhadap suatu aturan, kebijakan, dan kebijaksanaan adalah sesuatu hal yang wajar, normal, bahkan wajib untuk dilakukan. Karena hal itu menjadi sebuah bahan masukan serta evaluasi agar segala aturan, kebijakan, dan kebijaksanaan itu bisa efektif. Pemerintahan ada untuk melayani rakyat!

Tapi karena status sebagai PNS, terikat oleh banyak aturan, maka segala bentuk pemikiran analitis, kritis dan kreatif itu harus disampaikan sesuai dengan struktur, kultur, dan prosedur yang ada dengan tetap mengedepankan etika dan estetika.
That's it, not so simple, but it is not hard to do!

Maka kaitannya dengan kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM, saya dengan segala keterbatasan ilmu, mengatakan bahwa, percaya dan yakin-lah bahwa ini merupakan jalan terbaik yang harus dilakukan pemerintah.

Saya pikir pemerintah kita tidak sebobrok dan sekejam seperti apa yang diberitakan media atau dibahasakan oleh segala macam Organisasi Masyarakat yang ada. Pemerintah masih dan akan selalu bekerja dengan sudut pandang kebutuhan rakyat Indonesia karena bukankah pemerintah hidup dengan uang rakyat? bukankah bekerja sebagai pemerintah itu sebuah pengabdian?

Segala lagi, saya mempunyai keyakinan bahwa kenaikan BBM ini dilakukan dengan sebuah perhitungan matematis yang matang. Ya, unsur politik itu pasti ada terlibat di dalamnya. Tapi, itu merupakan keniscayaan. Bisa apa kita? Pada akhirnya politik itu memang terlibat dalam segala bentuk pengambilan keputusan.

Lalu bagiamana dengan argumen yang bertolak belakang dengan argumen yang dikemukakan pemerintah? saya melihat bahwa itu hanya merupakan perbedaan atau rekayasa perhitungan semata.  Toh, secara kasat pun, sebenarnya, banyak kalangan, HIPMI, IKADIN, dan segala ahli yang bersinggungan langsung dengan masalah ekonomi, mengatakan bahwa menaikan harga BBM itu memang sudah saatnya dilakukan oleh pemerintah.

Itu artinya, jauh dari segala kepentingan politik yang ada, sebanrnya semua ahli bersepakat bahwa menaikan BBM itu memang sudah harus dilaksanakan.

Adapun hal saya pribadi pun merasa perlu untuk mengkritisinya adalah berkenaan dengan timing yang diambil pemerintah untuk menaikan BBM, yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, yaitu dekat dengan pelaksanaan pesta demokrasi.

Lalu kebijakan BLT (Bantuan Langsung Tunai) rasa baru, yaitu Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM baca:balsem), yang saya pikir bukan merupakan solusi cerdas. Walaupun pemerintah meyakinkan bahwa BLSM hanya merupakan tindakan sementara. Tapi hal itu saya pikir terlalu bermuatan politis dan tidak bersifat edukatif.

Jauh lebih baik apabila bantuan itu dikemas dalam bentuk yang sama seperti pemberian bantuan melalui PNPM-Mandiri. Bantuan yang jauh lebih memberdayakan masyarakat miskin.

Tapi apapun itu saya harap seiring dengan bertambahnya waktu dan perkembangan zaman, saya harap rakyat Indonesia semakin cerdas dalam melihat segala berita, dan kebijakan pemerintah yang ada. Terlebih dengan kondisi media massa kita yang bukan dalam fungsi memberikan informasi tapi kini media massa telah bertransformasi menjadi media penggiring opini. Sangat provokatif!

Akhirnya, mari tetap menjaga dan memelihara harapan di dalam hati, benak, dan tindakan kita. Sembari juga tetap menjaga segala kepercayaan kepada pemerintah. Walaupun tetap kita juga harus berpikir analitis, kritis, dan kreatif. Karena tanpa harapan dan kepercayaan, bisa apa kita? bisa apa Indonesia?

#PMA all day guys! :)
Kenapa BBM belum naik?

Arinto Tri Wibowo, Arie Dwi Budiawati, Iwan Kurniawan, Nina Rahayu, R. Jihad Akbar,  Zahrul Darmawan (Depok) | Selasa, 18 Juni 2013, 20:35 WIB

VIVAnews - Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada Senin 17 Juni 2013 akhirnya menyetujui RUU APBN-P 2013 untuk disahkan menjadi UU APBN-P. Persetujuan DPR atas APBN-P tersebut menjadi landasan bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Dalam APBN-P itu, pemerintah mengajukan usulan kenaikan harga premium menjadi Rp6.500 dan solar Rp5.500 per liter. Kenaikan harga kedua BBM bersubsidi itu rata-rata sekitar 33 persen.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Selasa 18 Juni 2013, mengatakan, kenaikan harga BBM diyakini dapat memperkuat ketahanan fiskal pemerintah, yang belakangan ini mulai kedodoran. Presiden menegaskan bahwa kenaikan itu akan diikuti dengan pemberian kompensasi kepada masyarakat yang kesulitan karena kebijakan itu.

"Untuk mengatasi kenaikan harga minyak mentah dunia, harga BBM terpaksa kami naikkan, agar fiskal dan APBN selamat," ujar SBY.

SBY menambahkan, salah satu alasan kenaikan harga BBM adalah terus meningkatnya harga minyak dunia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, harga rata-rata minyak brent tahun ini mencapai US$103 per barel.

Padahal, asumsi harga minyak dalam APBN 2013 dipatok US$100 per barel, sebelum akhirnya diubah dalam APBN-P yang baru disahkan menjadi US$108 per barel.

Menteri Keuangan, Chatib Basri, menambahkan, kenaikan harga BBM merupakan upaya pemerintah untuk menekan defisit. Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan pertama 2013 sekitar US$5,3 miliar atau 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Pemerintah harus menaikkan harga BBM, karena dengan begitu ada ruang untuk fiskal, sehingga alokasi anggaran akan lebih baik," ujar Chatib di Kementerian Keuangan, Jakarta.

Sementara itu, anggaran subsidi yang mencapai Rp300 triliun, cenderung dinikmati kelas menengah atas. Masyarakat miskin dan menengah ke bawah, pun tidak banyak program untuk kesejahteraannya.

Ketidakadilan alokasi anggaran itu, menurut dia, menjadi landasan filosofi bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Selain dari sisi anggaran, ia menjelaskan, kenaikan harga BBM mampu mengurangi konsumsi energi yang selama ini sudah melebihi kuota. Saat ini, kuota subsidi BBM telah mencapai 48 juta kiloliter dari sebelumnya 46 juta kiloliter.

Namun, hingga kini, pemerintah belum menetapkan kepastian kenaikan harga BBM itu. Presiden SBY hanya mengatakan, pengumuman kenaikan harga BBM itu akan dilakukan segera. 

"Kami butuh waktu. Karena perlu mengubah RUU APBN-P menjadi UU, ini proses administrasi," tambah Chatib.

Untuk menjadikan RUU APBN-P 2013 menjadi UU APBN-P, Chatib menjelaskan, diperlukan proses administrasi di parlemen, pemerintah, maupun Kementerian Hukum dan HAM.

"Setelah proses itu selesai, kementerian yang punya DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) bisa mengajukan anggaran ke Kemenkeu, lalu uang cair, dan harga BBM bisa dinaikkan," jelasnya.

Untuk itu, Chatib pun memastikan, proses administrasi tersebut akan secepatnya dirampungkan, sehingga realisasi kenaikan harga BBM segera dilakukan.

Menurut Wakil Presiden Boediono, saat ini, pemerintah tinggal menyelesaikan proses administrasi penerapan kebijakan kenaikan harga BBM di lapangan. Proses tersebut terkait dengan pencairan anggaran yang akan dikeluarkan guna kompensasi dampak dari kebijakan kenaikan harga BBM kepada masyarakat miskin.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, pun menjelaskan, pemerintah membutuhkan persiapan untuk penanganan penyaluran kompensasi saat harga BBM naik. Upaya itu dilakukan agar bantuan dana tunai dalam bentuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) tepat sasaran.

Waktu yang diperlukan untuk mengurus administrasi atau proses identifikasi terhadap pihak-pihak yang akan menerima BLSM itu diperkirakan sekitar 3-4 hari.

Menurut dia, pengumuman kenaikan harga BBM oleh pemerintah akan dilakukan segera. "Sabar saja, paling lama seminggu ke depan," kata Wacik.

Dalam pemberian kompensasi berupa BLSM itu, sekitar 15 juta warga miskin masing-masing akan menerima Rp150 ribu selama empat bulan. BLSM itu akan dikucurkan pada Juli 2013 untuk dua bulan langsung.

"Juli dan September kami gelontorkan per dua bulan," tambah Chatib.

Chatib menjelaskan, kenaikan harga BBM bersubsidi itu juga diharapkan dapat menekan defisit neraca perdagangan Indonesia. Per April 2013, defisit neraca perdagangan mencapai US$1,8 miliar dibandingkan surplus US$2 miliar pada periode sama 2012.

Ditemui di kantor Wakil Presiden, Chatib mengatakan, berkurangnya konsumsi BBM yang terjadi di masyarakat dapat mengurangi impor minyak dan gas bumi yang telah membebani anggaran pemerintah.

Dampak positif dari kebijakan BBM ini, Chatib melanjutkan, juga bakal mendorong fundamental perekonomian Indonesia. Terutama di saat krisis ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

"Kalau lihat data empiris 2005, harga BBM naik dua kali. Tahun 2008, habis harga BBM dinaikkan, neraca perdagangan membaik, rupiah menguat," kata Chatib.

Inflasi 8 persen
Meski pemerintah optimistis kenaikan BBM berdampak positif, Ekonom DBS Group Research, Eugene Leow, Selasa 18 Juni 2013, menganalisis, jika pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 33 persen, inflasi rata-rata melonjak menjadi 8 persen pada semester II-2013. (Baca juga: BI: BBM Naik, Inflasi Tembus 7,8 Persen)

"Sementara itu, pertumbuhan PDB Indonesia pada 2013 diperkirakan menurun sekitar 0,3 persen," kata Eugene dalam risetnya.

Ia menjelaskan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menurun dalam beberapa kuartal terakhir. Penyebab utama penurunan PDB akibat turunnya investasi.

Laju pertumbuhan investasi telah melambat dari sangat cepat dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini dapat dilihat dari penurunan impor barang modal sebesar 19 persen dalam empat bulan pertama 2013 dibandingkan kuartal empat 2012.

Tekanan terhadap anggaran pun terus meningkat, karena pendapatan dan pengeluaran bergerak ke arah berbeda. Laju pertumbuhan pendapatan melambat, dengan rata-rata 5,7 persen (yoy) pada empat bulan pertama tahun ini.

DBS memperkirakan penurunan ini disebabkan oleh harga komoditas yang tertekan. Sementara itu, pengeluaran meningkat rata-rata 20,4 persen (yoy) pada periode yang sama.

Subsidi BBM, yang secara umum tidak berubah sejak 2005, adalah penyebab utama, karena peningkatan kepemilikan kendaraan seiring dengan pertumbuhan kelas menengah.

"Akibatnya, defisit fiskal yang berjalan selama 12 bulan melebar secara perlahan sejak pertengahan 2011," katanya.

Ekonom Asia Pacific Economic and Market Analysis Citi Research, Helmi Arman, pun memprediksi kenaikan harga BBM bersubsidi akan membuat inflasi Indonesia menembus 8,2 persen. Tarif angkutan umum akan menjadi komponen tertinggi inflasi inti dengan kenaikan tarif 15-20 persen.

Bahkan, berdasarkan pantauan VIVAnews, harga bahan-bahan kebutuhan pokok pada Selasa 18 Juni 2013, sudah mulai naik tajam. Kenaikan harga pangan ini sudah dikeluhkan banyak pedagang maupun ibu rumah tangga di sejumlah pasar tradisional di berbagai kota. Salah satunya di Kota Depok, Jawa Barat.

Di beberapa pasar kota Depok, bahan-bahan pangan yang mulai meroket antara lain beras dari Rp6.500 menjadi Rp8.000 per liter, cabai rawit merah dari Rp20 ribu kini mencapai Rp40 ribu per kg. Selain itu, harga daging sapi meroket dari Rp80 ribu menjadi Rp100 ribu per kg, serta daging ayam dari Rp33 ribu menjadi Rp39-40 ribu per ekor.

Antisipasi pemerintah
Untuk meredam gejolak harga pangan akibat kenaikan BBM itu, menurut Wakil Presiden Boediono, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

Salah satunya dengan memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar. Langkah tersebut juga dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga yang berlipat, karena sebentar lagi akan masuk bulan Ramadan. Pemerintah berharap kenaikan harga bahan pokok berada dalam taraf wajar.

"Jangan ada kenaikan lebih dari biasanya. Kami upayakan untuk dikendalikan sebaik mungkin," kata Boediono.

Sementara itu, Chatib menjelaskan, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai paket kompensasi untuk meredam lonjakan inflasi. Seperti pemberian beras untuk warga miskin (raskin) serta pembangunan infrastruktur desa.

Bank Indonesia pun sudah menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen. Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs, dalam keterangan tertulis Bank Indonesia mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan untuk secara pre-emptive merespons meningkatnya ekspektasi inflasi serta memelihara kestabilan makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Penguatan kebijakan makroprudensial juga dipersiapkan untuk mencegah meningkatnya risiko yang berlebihan di sektor-sektor tertentu. Koordinasi bersama pemerintah juga terus diperkuat dengan fokus pada upaya meminimalkan potensi tekanan inflasi serta memelihara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ekonom Citi Research, Helmi Arman, juga menilai langkah Bank Indonesia yang melakukan pengetatan kebijakan moneter dapat mengurangi risiko penilaian negatif dari lembaga pemeringkat. Situasi itu juga akan mengarah pada pengurangan tekanan pada defisit transaksi berjalan.

Sementara itu, menjelang kenaikan harga BBM itu, PT Pertamina menjamin pasokan premium dan solar akan aman. Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, menyatakan, stok BBM bersubsidi tidak akan kekurangan hingga 18 hari ke depan. Depo-depo juga selalu beroperasi seharian penuh.

"Depo sudah beroperasi 24 jam setiap hari. Stok sudah kami perbanyak 10 persen dari sebelumnya," kata Karen.

Tidak hanya penambahan stok yang dilakukan oleh Pertamina, BUMN energi ini juga menjamin distribusi lebih lancar dengan memperbanyak tangki pengangkut BBM. (sj)

© VIVA.co.id




Menunggu Proses Administrasi

Selasa, 18 Juni 2013 - 19:15 WIB
Menkeu: Kenaikan Harga BBM Tinggal Menunggu Proses Administratif
Oleh : DESK INFORMASI

http://www.setkab.go.id/berita-9112-menkeu-kenaikan-harga-bbm-tinggal-menunggu-proses-administratif.html

Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri mengemukakan, dengan keputusan Rapat Paripurna DPR-RI yang menyetujui agar RUU Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 disahkan menjadi Undang-Undang, Senin (17/6) malam, maka kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kini tinggal menunggu penyelesaian secara administratif dari Undang-Undang APBNP 2013 itu.

"Tapi itu (Kenaikan BBM) butuh waktu. Hasil persetujuan kemarin harus diundang-undangkan. Namanya juga RUU APBNP, itu rancangan, ada proses administrasi baik di parlemen, pemerintah, Kemenhumham," jelas Menkeu Chatib Basri dalam konperennsi pers di Aula Djuanda I, Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (18/6).

Chatib menegaskan tidak ada upaya mendelay kenaikan harga BBM bersubsidi, tapi memang harus melalui proses administrasi. “Seberapa lama, ini secepat mungkin. Ini proses yang mengikuti UU. Saya sudah memberikan paraf saya dalam UU APBNP, jadi tidak ada upaya men-delay," tegas Chatib.

Ia menyebutkan, setelah proses administrasi selesai, kemudian kementerian yang punya DIPA baru untuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) akan dicairkan oleh Kementerian Keuangan dan BBM bisa dinaikkan. Tapi kapan BBM dinaikkan, menurut Menkeu, nanti Presiden yang akan mengumumkan.

Mengenai pemberitaan yang menyebutkan kenaikan harga BBM akan diumumkan pada Senin (17/6), Menkeu Chatib Basri meluruskan hal itu. Menurutnya, pihaknya tidak pernah menyebutkan soal tanggal 17 Juni itu, yang disampaikan adalah tanggal tersebut adalah rapat paripurna, dan setelah UU APBNP 2013 diketok akan memerlukan proses administrasi lagi untuk kemudian menaikkan BBM.

"Sering miss leading, tanggal 17 akan naik. Itu bukan, tapi itu tanggal untuk paripurna. Setelah diketok, akan butuh proses administrasi," ungkap Chatib.

Sehatkan APBN             

Menteri Keuangan Chatib Basri yang didampingi Wakil Menkeu Any Ratnawati dan Wakil Menkeu Mahendra Siregar sebelumnya menyampaikan keyakinannya, kenaikan harga BBM bersubsidi aan dapat memperluas ruang fiskal dan membuat kondisi APBN kembali sehat. Selain itu, kenaikan tersebut  juga dapat membuat alokasi belanja subsidi BBM menjadi lebih tepat sasaran untuk masyarakat yang membutuhkan.

"Kenaikan juga mencegah subsidi salah sasaran dan untuk didistribusikan kepada yang berhak, sehingga efeknya Gini ratio dapat menjadi lebih baik," papar Chatib Basri.

Menteri Keuangan berharap, kenaikan harga BBM dapat menekan konsumsi premium dan solar bersubsidi, serta mendorong penggunaan energi alternatif.

"Kenaikan dapat membuat konsumsi menjadi berkurang, dan menahan kelebihan kuota, selain itu pemanfaatan energi alternatif dapat dimungkinkan," katanya.

Ia juga memastikan kenaikan harga BBM dapat menekan defisit neraca perdagangan, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor migas.

"Kenaikan harga BBM dapat menekan impor migas dan membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali stabil," katanya.

(Humas Kementerian Keuangan/ES)


Rabu, 19 Juni 2013

Lomba Karya Tulis Ilmiah

Rabu, 19 Juni 2013
14.45 WIB

hadiah

"akhirnya prestasi itu berbuah prestise"

Saya selalu mencoba memaknai bahwa ini adalah salah satu kelebihan saya tapi di sisi lain, juga dengan sudut pandang lain, saya tak bisa memungkiri bahwa ini merupakan kekurangan saya : Saya tak bisa menahan diri untuk mengatakan secara apa adanya apa yang saya rasakan dan pikirkan. 

Jadi, saya tak akan berbohong bahwa tujuan utama saya mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Kalimantan Barat adalah untuk menunjukan bahwa saya ini memang mempunyai potensi yang tidak bisa untuk disepelekan. Saya ingin mendapatkan pengakuan. Saya ingin mengaktualisasikan diri! (baca : NEVER GIVE UP)

terdengar ambisius, ya?
tidak, tapi nyatanya saya tidak seperti itu. Saya selalu menjaga untuk tetap memiliki ambisi tapi saya tak ingin menjadi seseorang yang ambisius. Saya ingin tetap nyaman menjadi seseorang yang berpikiran positif, bermimpi dalam sebungkus rasa optimisme dibalut dengan pemikiran realistis.

Selain dari tujuan utama yang sangat terdengar idealis, saya pun tak bisa mengenyampingkan tujuan lain yang lebih bersifat pragmatis, yaitu betapa menggiurkan hadiah yang ditawarkan!

Berbekal semangat yang terbakar oleh dua tujuan tadi, saya pun mengikuti lomba KTI tersebut. Sebuah KTI yang berjudul PERAN PEREMPUAN DI DALAM INFRASTRUKTUR POLITIK INDONESIA (insya Allah di tulisan lain saya akan mengupas habis mengenai Karya Tulis ini), saya ikut sertakan dalam lomba tersebut.

Di dalam proses pembuatan KTI setebal 15 halaman itu, saya dibantu dengan bimbingan dari seorang dosen IPDN, yaitu Pak Dr. Frans Dione.

Karena satu dan lain hal, saya sempat terduduk lesu dan tak bersemangat mengetahui hasil dari kelanjutan lomba tersebut. (baca : NEVER GIVE UP)

Bagaimana tidak? KTI saya masih sangat jauh dari kata ilmiah, masih sangat kental tulisan seorang "blogger". Akan tetapi ternyata Allah berkehendak lain dan saya pun mampu masuk ke 6 besar, untuk kemudian bertanding dalam babak final.

Babak final diselenggarakan dengan mekanisme, setiap peserta mempresentasikan hasil KTI-nya di hadapan 5 (lima) orang dewan juri selama maksimal 5 (lima) menit lalu kemudian dilakukan sesi tanya-jawab selama 10 menit.

Saya yang sedari awal telah menyadari bahwa KTI saya jauh di bawah yang lain (saya menempati urutan keenam!), diuntungkan dengan kenyataan bahwa penilaian tidak bersifat akumulasi, tapi dari satu tahapan ke tahapan lainnya memiliki penilaiannya tersendiri dengan kriterianya yang juga berbeda.

Untuk diketahui bersama bahwa lomba tersebut terdiri dari 3 (tiga) tahapan, yaitu tahap pertama dilakukan seleksi administrasi oleh Panitia dari Badan Kesbangpol Provinsi Kalbar. Dari total 30-an peserta tingkat PTN/swasta se-Kalimantan Barat, dipilih sebanyak 14 KTI untuk masuk ke tahapan kedua.

Tahapan kedua dilakukan oleh dewan juri, yang terdiri dari unsur akademisi, KPU, dan Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat, yang menghasilkan 6 KTI untuk masuk sebagai finalis dan bertarung pada babak final.

Dan tahap ketiga atau tahap terakhir atau tahap final dilakukan dengan cara mempresentasikan KTI tersebut dan penilain yang diberikan pada tahap ketiga ini adalah berkenaan dengan cara penguasaan materi, penggunaan alat bantu, sistematika penyampaian, penampilan, dan kemampuan mempertahankan argumentasi.

Dengan kenyataan seperti itu maka saya pun seperti menemukan kembali harapan untuk setidak-tidaknya bisa bersaing masuk ke dalam 3 (tiga) besar.

Kurang lebih seminggu bagi saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya berkeyakinan bahwa manusia itu hanya mempunyai kewajiban untuk berusaha dan berdoa secara maksimal sedangkan masalah hasil itu sepenuhnya saya serahkan pada Allah semata.

Saya tidak akan menyesali apabila dalam prosesnya saya telah berusaha dan berdoa secara maksimal. Bilapun tak berhasil, maka itu adalah yang terbaik.

Setidaknya 3 kali saya melakukan simulasi atau latihan langsung di hadapan sahabat saya untuk mempresentasikan KTI. Betapa memang sahabat serta dosen, dalam hal ini, Pak. Dr. Mering mampu memberikan masukan yang sangat bermanfaat bagi saya.

Itu semua terbukti ketika pada hari dilaksanakannya lomba itu, saya mampu untuk tampil lepas. Segala kekurangan yang telah mendapatkan masukan dan perbaikan, mampu saya benahi. Saya pun puas dengan apa yang saya tampilkan walaupun di dalam sesi pertanyaan ada beberapa pertanyaan yang tak bisa saya jawab secara tepat.

Pada akhirnya Allah itu memang tidak pernah tidur, segala kerja keras dan doa memang selalu membuahkan hasil yang maksimal.

Saya, seseorang dengan KTI jauh di bawah finalis yang lain, seseorang yang belum mempunyai pengalaman apapun dalam lomba seperti ini, akhirnya mampu untuk keluar sebagai pemenang.

Ya, saya juara!
Saya pemenang lomba karya tulis ilmiah tahun 2013!



Damn, i'm just so fuckin lucky, it just to be good to be true!

Saya tak tau harus berkata apa, dengan semua ucapan selamat yang datang mengalir, dengan semua senyum dan jabat tangan yang datang silih berganti, membuat saya semakin tak bisa berkata-kata.

Ini besar, sangat besar bagi saya!

Saya hanya berharap ini merupakan awal dari segala yang lebih baik di depan saya, saya hanya berharap saya akan tetap mampu untuk menjadi manusia yang melaksanakan dengan optimal usaha dan doa di setiap langkahnya. Juga saya hanya berharap menjadi manusia yang tidak akan pernah lupa untuk selalu bersyukur dan membalas budi, kepada Tuhan, orang tua, saudara, sahabat, teman, bahkan bagi mereka yang membenci saya. 

Well, let me enjoy this damn victory, thank you very much for all the support.

#PMA all day, guys! ;)
 
"maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan..." 

Sabtu, 08 Juni 2013

Bahaya Sekulerisme Ilmu

Sabtu, 8 Juni 2013
"Saya menjadi sangat ingin membahas hal ini (baca : Pancasilais atau Sekularis?) karena saya meihat sekulerisme telah sedikit demi sedikit masuk kedalam pemikiran dari banyak rakyat Indonesia."

*catatan : ini sebenarnya artikel lama, tapi baru sekarang saya menemukan moment yang tepat juga relevan untuk saya kemudian mem-posting-kan di blog ini.

Bukan, masalah ini sepertinya bukan masalah aktual, hangat, atau sedang menjadi headline berbagai media. Tapi saya percaya dan yakin bahwa masalah ini selayaknya kerikil kecil. Sering dianggap remeh, tak mendapat perhatian berarti. Kemudian tiba-tiba saja kita terjatuh karenanya.

Hal ini bagai api dalam sekam, musuh dalam selimut. Terlihat juga terasa, tapi pura-pura atau dianggap tak ada. Ini bahkan merupakan konspirasi besar dunia. Suatu kelompok besar tapi jauh dari pemberitaan. Ada tapi tertelan dunia. Eksistensinya tertutup rapat tapi hasil kerjanya sungguh berpengaruh.

Dan kita, bangsa yang memiliki banyak potensi. Mulai juga dijejali oleh paham itu. Paham apa? untuk pembahasan dalam artikel ini hanya terbatas pada permasalahan sekulerisme!

Tidak, jangan dulu kemudian anda melabeli saya pemberontak atau ekstremis. Saya masih tetap Pancasilais dan oleh karenanya saya menolak sekularisme. Lebih jauh lagi, saya yang seorang muslim jelas sangat tidak menyukai paham sekularisme!

Kenapa makhluk itu terus berkembang biak? maka salah satu penyebabnya akan coba dijelaskan melalui artikel di bawah ini. Tidak secara utuh, tapi cukup untuk memberikan gambaran secara umum. Lebih lengkapnya kita semua memang harus menggalinya lebih dalam.

Tapi, sekali lagi saya mengajak, mari kita kembali pahami segala hakikat yang ada di dunia ini.

enjoy and #PMA all day, guys! :)

Bahaya Sekulerisasi Ilmu
10 Maret 2013 08:01
Oleh M Husnaini

“Besok besar saya ingin menjadi ahli ilmu agama”. Itulah jawaban seorang murid ketika ditanya tentang cita-citanya kelak. Jawaban demikian boleh jadi lumrah belaka. Tetapi jika dicermati, segera terasa pandangan terhadap ilmu yang perlu dikaji kembali.

Munculnya istilah ilmu agama menandaskan seolah ada ilmu non-agama. Anggapan selanjutnya biasanya bahwa belajar ilmu agama itu berpahala, sementara belajar ilmu non-agama tidak akan berpahala. Ada cara pandang dikotomik antara ilmu agama dan ilmu umum.

Semestinya tidak ada istilah ilmu agama. Agama bukan ilmu, melainkan ilmu adalah bagian dari agama. Agama yang melahirkan ilmu. Dan setiap ilmu harus ditegakkan di atas pondasi agama. Surah Al-Mujadilah ayat 11 tegas menyatakan bahwa ilmu harus diawali dengan iman. “…Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.”

Tetapi sebagian orang menganggap bahwa ilmu agama sebatas pelajaran fiqih, tauhid, akidah, tasawuf, tarikh, akhlak, bahasa Arab, dan lainnya. Ilmu geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, dan serupanya dipandang sebagai bukan ilmu agama, atau bahkan tidak ada kaitannya dengan agama.

Itulah awal dari sekulerisasi ilmu. Islam memandang ilmu secara utuh dan menyatu. Umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang berilmu tanpa dibedakan jenis ilmunya. Yang penting ilmu tersebut harus tegak di atas keimanan.

Cermati konsep manusia ideal (ulul albab) menurut Alquran. Manusia ideal adalah orang-orang yang selalu berzikir kepada Allah, memikirkan penciptaan langit dan bumi. “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Ya Tuhan kami, tidak Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imron: 191).

Jadi, di antara ciri manusia ideal adalah selalu berzikir, memikirkan penciptaan langit dan bumi. Tetapi mungkinkah manusia akan mampu memikirkan penciptaan langit dan bumi tanpa berbekal perangkat keilmuan seperti biologi, fisika, matematika, kimia, dan lainnya? Menafsirkan ayat-ayat kauniyah pun meniscayakan mufasir untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut.

Itulah kenapa wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca (Al-Alaq: 1-5). Membaca tentu meliputi apa saja, termasuk geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, dan seterusnya.

Sekulerisasi ilmu melahirkan anggapan bahwa yang disebut ulama hanya terbatas mereka yang menguasai ilmu syariah (fiqih). Sementara profesor geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, cukup disebut sebagai ilmuwan, bukan ulama. Padahal Al-Quran tidak pernah membatasi siapa penyandang gelar ulama. “Sungguh yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanya ulama. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Fathir: 28).

Ulama dalam ayat ini adalah mereka yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan kata lain, pakar di bidang apa saja, sepanjang kepakaran itu membuatnya semakin takut kepada Allah, merekalah ulama. Ulama bukan hanya para pakar fiqih, tauhid, akidah, tasawuf, tarikh, akhlak, bahasa Arab, melainkan siapa saja yang mendayagunakan pikiran dan nuraninya untuk menguak kebesaran Allah dengan landasan keimanan dan ketakwaan.

Sekulerisasi ilmu juga melahirkan kesalahan yang sangat fatal. Misalnya, yang dituntut mampu membaca dan memahami Alquran hanya mereka yang belajar di pesantren atau kampus Islam. Mereka yang belajar di luar kedua lembaga pendidikan itu, tidak ada urusan dengan bisa atau tidak membaca dan memahami Alquran. Bahkan sama sekali awam soal agama dan ibadah juga tidak menjadi soal. Karena agama dan ibadah itu bukan bidang kajian mereka.

Jelaslah, ilmu hendak dilepaskan sama sekali dari agama. Mempelajari ilmu hanya untuk ilmu itu sendiri. Padahal tidak ada satu urusan di dunia ini yang boleh dilepaskan dari agama. Jika agama tidak menjadi pondasi tegaknya segala sendi kehidupan, akibatnya ketinggian ilmu seolah terus berpacu dengan maraknya berbagai kasus seperti kita lihat di negeri ini: KKN, tawuran, narkoba, kekerasan, perselingkuhan, plagiarisme, dan kebejatan moral lain.

Sekulerisasi ilmu jelas merupakan muasal kosongnya ilmu dari muatan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Akan berbeda jika pemegang ilmu selalu tegak di atas pondasi agama. Mustahil ia akan menyalahgunakan ilmunya. Karena senantiasa merasa diawasi Allah, sehingga akan berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan. 

Itulah esensi ihsan. Yaitu “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa sungguh Dia melihatmu” (Bukhari dan Muslim).

Bahaya lain dari sekulerisasi ilmu adalah munculnya para pakar ilmu yang justru memperdahsyat kerusakan di bumi. Mereka paham agama tetapi tidak mengamalkannya. Mereka inilah yang oleh Allah digambarkan seperti keledai membawa kitab.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian tidak mengamalkan isinya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (Al-Jumuah: 5).


*Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya

Senin, 03 Juni 2013

Perbedaan Smartphone, Tablet, dan Laptop

http://2.bp.blogspot.com/-YB_dVhTEWxE/UKiW-tcm0lI/AAAAAAAAAJo/jboOzybxYDs/s1600/teknologi-sistem-informasi-1.png

Senin, 3 Juni 2013
16.00 WIB

*Catatan : Saya memang bukan seorang maniak gadget. Saya pun tidak mengerti secara detail seluk beluk istilah atau teknis dari sebuah teknologi. Tapi ya, saya mengikuti setiap perkembangan yang ada melalui setiap berita. 

Saya tertarik terhadap setiap perkembangan yang dihadirkan. Tapi keterbatasan waktu, ruang, dan biaya, menyebabkan saya tidak bisa ikut serta untuk menikmati setiap perkembangan itu.

Sejauh yang saya tau dan liat, setiap perkembangan yang ada dalam diri tekbologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi masih berjalan dalam koridor yang positif. Walaupun persaingan antar produsen semakin menajam juga meruncing. Dibuktikan dalam setiap iklan yang kini secara terang menyindiri langsung frontal kepada merk pesaing yang mereka tuju. 

Tapi hal itu justru membuat kita, para pelanggan atau penikmat, berada dalam posisi yang diuntungkan.

Kenapa kita yang justru diuntungkan? Karena pada hakikatnya, apabila pemenuhan kebutuhan atau penyedia barang dan jasa dalam bentuk apapun dalam pelaksanaan tugasnya tidak memiliki pesaing atau hanya berjalan sendiri (monopoli). Tidak ada persaingan. Maka pemenuhan kebutuhan dalam bentuk barang dan jasa tersebut cenderung untuk tidak berkembang.

Tidak bisa dipungkiri, kompetisi itu memang akan mampu menghadirkan kemampuan untuk senantiasa melahirkan inovasi-inovasi baru untuk setiap barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen. Karena bila tidak begitu, maka bersiap-lah untuk keluar dari dunia usaha!

Kaitannya dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi saat ini adalah menurut hemat saya, dari sejauh yang saya tau dan liat, tak ada lagi jurang pemisah yang cukup jauh dari setiap produsen alat-alat teknologi komunikasi dan informasi yang ada di dunia ini. Kalaupun ada, yakin-lah hal itu hanya pada hal-hal kecil yang tak lain merupakan ciri khas masing-masing produsen atau memang telah menjadi karakteristik sebuah perusahaan tersebut. Sehingga memang tidak mungkin untuk diikuti.

Bahkan ketika kita memilih untuk berdebat mengenai masalah ini pun saya akan beri jaminan bahwa perdebatan itu tidak akan habis terselesaikan dalam satu hari satu malam! Belum lagi bila perdebatan itu kemudian menjalar kepada sistem operasi yang ada saat ini.

Jadi, saya berani berpendapat bahwa kini, pada akhirnya, semua kembali kepada masalah selera, kebutuhan, dan keinginan serta gengsi pribadi masing-masing konsumen. 

Apabila kita tetap berada pada tatanan kelebihan dan kekurangan, saya pikir tak lagi relevan pada situasi sekarang ini. Semua ada dengan ciri khasnya masing-masing.

Tapi sialnya bagi saya, dengan keterbatasan dana yang saya miliki, saya harus puas untuk sekedar bermimpi terlebih dahulu. 
\
Pada saat ini cukup rasanya, laptop Toshiba, hape nokia X1 serta BlackBerry Gemini 3G (dengan kondisi kamera yang telah dicabut), menjadi teman gadget saya.

Bila bicara masalah keinginan, jelas 3 (tiga) benda itu jauh dari keinginan saya. Tapi apabila bicara kebutuhan, rasa-rasanya kebutuhan saya sebagai seorang Mahasiswa (praja) telah cukup terpenuhi. Baik untuk sarana edukatif maupun rekreatif. 

So, think and act wisely, dude.
be #PMA all day! ;)


Teknologi telah bergerak maju dengan cepat, sehingga begitu banyak perangkat mobile dengan konektivitas internet melintasi batas dan melakukan fungsi yang tumpang tindih.

Hal ini terutama berlaku dalam kasus smartphone, tablet dan laptop. Ketiga gadget tersebut portabel dan memiliki konektivitas internet. Tetapi masing-masing memiliki fitur yang berbeda dan tidak terdapat dari dua lainnya. 

Pada artikel ini, kita akan menganalisa perbedaan antara smartphone, laptop dan tablet, dengan melihat fitur ketiga-tiganya sehingga setiap konsumen dapat membeli gadget yang paling cocok.

SMARTPHONE
Smartphone
 
Meskipun smartphone pada dasarnya adalah sebuah gadget yang dibuat untuk melakukan panggilan dan menerima panggilan, smartphone memiliki fitur multimedia tambahan dan kemampuan komputasi yang mendekati kemampuan laptop

Smartphone dapat dianggap sebagai komputer mini genggam daripada sebagai ponsel, karena menggunakan sistem operasi independen untuk meng-instal dan menjalankan aplikasi canggih dan kompleks. Dalam aspek ini, smartphone jauh melebihi ponsel dan dapat bekerja sebagai asisten pribadi digital. 

Beberapa smartphone memiliki keypad QWERTY fisik menyerupai seperti keyboard laptop. Ada juga smartphone yang memiliki keyboard virtual dengan layar sentuh yang sangat kapasitif.

Lebih dari 50 juta orang di AS sendiri menggunakan smartphone yang menunjukkan popularitas yang luar biasa. Smartphone memiliki prosesor cepat dan memori internal yang besar, tampilan layar besar (sekitar 2” - 3,5 ") dan OS (Operating System/Sistem Operasi) yang sangat user friendly memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan untuk para pengguna smartphone ini. 

2 (dua) OS yang telah mendominasi pasar smartphone adalah Apple IOS dan Google Android. IOS digunakan oleh smartphone buatan Apple saja, sedangkan Android adalah sebuah OS open source yang digunakan oleh hampir semua produsen smartphone.

TABLET
Tablet
Tablet adalah sebuah inovasi yang terlihat seperti sebuah smartphone yang besar, tetapi memiliki kemampuan tambahan lebih dari smartphone dan memliki kemampuan komputasi mendekati laptop.

Satu-satunya perbedaan adalah bahwa tidak seperti laptop, ia datang dalam bentuk slate (batu tulis), bukan briefcase (tas kerja) seperti desain laptop di mana keyboard terpisah dari layar. 

Tablet, memiliki kemampuan pada perangkat yang diperkaya multimedia yang memungkinkan pengguna untuk pengalaman audio dan file video pada layar yang lebih besar (biasanya sekitar 7-10 inci), hanya sedikit lebih kecil dari laptop

Karena Tablet menggunakan virtual keyboard, lebih cocok digunakan untuk pekerjaan mengetik singkat seperti mengirim email. Sedangkan untuk pekerjaan yang banyak, laptop jelas lebih baik dan nyaman.
Semua tablet memiliki Wi-Fi, yang berarti dapat digunakan untuk menjelajahi web dan dapat digunakan untuk bermain game juga. Sekarang, tablet juga dilengkapi dengan dual kamera, yang bisa digunakan untuk merekam video HD, untuk video chatting dan video call

Namun, karena keterbatasan hardware, fungsi-fungsi seperti operasi multimedia, operasi multitasking yang kompleks dan sejenisnya sulit untuk tampil di tablet. Tablet lebih pas jika digunakan sebagai pembaca e-book, atau pun pekerjaan-pekerjaan ringan seperti baca tulis email, agenda, dll.

LAPTOP
Laptop

Dari tiga perangkat mobile, laptop adalah yang paling kuat untuk urusan kemampuan komputasi dan juga untuk browsing internet. 

Satu-satunya kelemahan adalah kurangnya konektivitas 3G yang ada di smartphone dan tablet. Namun, bagi mereka bepergian dan juga perlu melaksanakan tugas-tugas kompleks pada perangkat mereka, laptop adalah pilihan yang ideal. 

Laptop memiliki prosesor tercepat dan juga kapasitas penyimpanan terbesar. Sebuah laptop pa da dasarnya adalah sebuah PC bisa dibawa di segala tempat yang mengintegrasikan semua kemampuan dari sebuah komputer. 

Selain dengan mouse, user bisa menggunakan touchpad dan dilengkapi dengan speaker built-in membuat Laptop menjadi paket lengkap. Selain itu, laptop bisa dioperasikan dengan baterai, dan dapat berjalan selama 3-5 jam. Dengan layar 14" atau lebih, secara teoritis, laptop mampu melakukan semua tugas komputer.

Ringkasan 
  1. Baik smartphone, tablet maupun laptop merupakan perangkat portabel dan dapat terkoneksi internet dengan berbagai kelengkapan fitur. 
  2. Seiring berjalanya waktu, garis tipis yang membedakan ketiganya semakin tipis. 
  3. Dengan semakin powerfull-nya smartphone dan tablet dari sebelumnya, maka semakin mendekati laptop
  4. Smartphone dan tablet memiliki konektivitas 3G, laptop tidak memilikinya. 
  5. Laptop paling unggul ketika datang ke komputasi kompleks. 
  6. Laptop dapat di-upgrade hardware-nya, sedangkan smartphone dan tablet tidak memungkinkan.