Minggu, 25 Agustus 2013

Renungan di Apel Pagi

JUMAT, 23 AGUSTUS 2013
13.58 WIB


Satu minggu lebih satu hari, adalah waktu yang telah saya lewati di kampus ini. Bukan sebuah tempat baru tapi terasa sangat baru bahkan asing setelah hampir 2,5 tahun meninggalkannya, untuk menjalankan program studi di kampus daerah.

Tak ada yang harus dikomentari atau dikritisi, karena ini merupakan sebuah kebijakan sistem pendidikan di perguruan tinggi kepamongprajaan. Yang tentunya harus saya jalankan sebagai konsekuensi karena saya telah memilih lembaga ini sebagai tempat untuk saya menimba ilmu, mempersiapkan masa depan.

Kaitannya dengan hal itu, waktu seminggu yang telah terlewati menjadi sebuah waktu adaptasi bagi saya. Setelah tidak lagi terbiasa dengan segala kultur di kampus pusat, karena telah begitu nyaman terbuai kultur di kampus daerah. Maka perasaan “kaget” terhadap segala perbedaan yang ada sedikit banyaknya membuat raga tak nyaman, mungkin sedikit tertekan secara psikologis. Tapi apa mau dikata? Tiga tahun saya disini, saya sudah harus mengerti bahwa esensi dari seorang manusia itu harus-lah bisa cepat berdaptasi, bila kemudian tidak ingin tergerus oleh kondisi.

Saya pun tidak lagi terlalu bodoh untuk juga mengiringi masa adaptasi ini dengan segala keluhan ataupun cacian yang justru hanya membuat hati tak kerasan. Tinggal saya nikmati saja, sesegera mungkin mengikuti irama kehidupan yang ada disini. Baik secara struktur, prosedur, maupun kultur. Sesaat setelah itu, maka saya yakin kenyamanan akan datang dengan sendirinya. Dan apabila saya telah mampu mendapatkan kenyamanan, segala kenangan indah kehidupan di Kampus Daerah akan segera tergantikan, tidak terlupakan. Tapi terus hidup sebagai sebuah pengalaman. Tidak juga sekedar untuk dikenang, tapi untuk dijadikan bahan pembelajaran.

Dan di pagi hari ini, untuk kedua kalinya, seseorang yang saya kagumi, seseorang yang sampai dengan saat ini masih mengemban amanah sebagai seorang Kepala Sub Bagian Bimbingan dan Pengawasan, memberikan beberapa wejangan kepada saya, kepada kami semua, yang kini tersemat pangkat wasana atau tingkatan terakhir di lembaga pendidikan ini.

Ahh, beliau tidak berubah, justru bertambah indah!
Beliau tetap dengan segala gayanya, dengan segala doktrin penuh petuah sangat bermanfaat tersampaikan dengan rangkaian kata sistematis tidak bertele-tele tapi sungguh juga tidak murni berdenotasi. Mudah untuk dipahami dan merasuk cepat dalam sanubari. Saya selalu suka ketika beliau berbicara.

Beberapa hal yang beliau sampaikan terasa sangat menjadi penting. Wejangan utama dan pertama kepada kami yang baru saja menjadi satuan Wasana Praja atau tingkatan akhir di dunia pendidikan ini.

Beliau di luar tupoksi yang diembannya, memang juga merupakan kakak bagi kami, karena beliau telah terlebih dahulu mengenyam pendidikan kepamongprajaan ini sehingga mungkin karena itu-lah apa yang beliau sampaikan sangat meresap di hati kami.

Beliau berpesan bahwa akan sangat banyak godaan di akhir pendidikan kami disini. Itu fakta yang ada. Banyak orang terbuai dengan tingginya status yang telah mereka emban. Hingga akhirnya mereka sentuh segala hal, dan terjatuh karena nasib sial datang memeluk. Tak peduli betapa baik atau buruk seseorang itu, nasib sial atau ketidakberuntungan akan sangat kejam datang menghampiri.

Jangankan mereka yang senantiasa berbuat buruk, mereka yang selalu konsisten untuk berbuat kebaikan pun sering kali tersandung sayap kejam sang pembawa sial.

Maka beliau berpesan, berhati-hatilah. Berhati-hati-lah satuan wasana praja. Hanya tinggal satu tahapan lagi, hanya tinggal satu tanjakan lagi, hanya tinggal satu tahun lagi, maka semua mimpi dan cita itu akan tergapai. Bukan saatnya lagi untuk melakukan segala hal “bodoh” yang akan berdampak besar, hingga segala satu tahapan itu, harus terbuang menjadi beberapa tahapan atau bahkan menghilang jauh dari angan.

Saya menghayati benar hal itu, lama juga saya terdiam. Terlepas dengan segala hasrat godaan duniawi yang memang saya rasakan sungguh semakin besar terasa di masa-masa terakhir ini. Saya pun tak mengerti, dulu rasa-rasanya saya bisa untuk berjalan lurus ke depan tanpa ada embel-embel apapun.

Tapi semakin tinggi tingkatan yang saya miliki, saya rasa kok godaan itu terus bertambah, dan celakanya saya terus melonggarakan toleransi saya terhadap segala godaan itu. Saya mulai sedikit, dan sedikit melakukan dan melepaskan diri terhadap godaan duniawi. Sedikit dan sedikit saya mulai menjilati ludah sendiri!

Ada yang nyata melanggar ketentuan, ada yang sekedar tak lumrah untuk dilaksanakan. Tapi muaranya sama, bisa untuk mendekatkan saya pada dekapan sang dewi pembawa sial!

Segala argumentasi terus juga saya berikan seiring saya melonggarkan toleransi saya terhadap kesalahan-kesalahan itu. Ahh, sungguh manusia!

Jadi sekarang harus bagaimana?
Saya pun sungguh masih bimbang, dan bimbang sangat disukai oleh setan, iya kan?
Persetan!

Saya seperti kembali pada masa awal pencarian jati diri. Segala ingin mencoba, terombang-ambing massa. Saya tidak menyalahkan keadaan, karena itu sungguh tidak bertanggung jawab! Bukan kondisi yang harus mempengaruhi kita, tapi bukankah seharusnya kita yang mempengaruhi kondisi yang ada? Karena siapa yang menjadi subjek? Bukankah itu manusia?

Tapi satu hal yang pasti, yang mungkin tidak akan kemudian berubah adalah keyakinan dalam diri bahwa semua harus tetap bermuara pada keyakinan saya pada Allah, Tuhan. Ketika hal itu tidak melanggar terlalu jauh dari apa yang ditetapkan-Nya, maka insya Allah saya masih tetap seorang saya.

Saya hanya harus meyakinkan hati menjadi lebih bertanggung jawab, bahwa apa yang saya lakukan akan menimbulkan kosekuensi entah itu baik atau buruk. Dan sama ketika saya berani untuk melakukannya, maka saya pun harus siap menangung akibatnya. Bila saya tak sanggup, maka jangan lakukan itu!

Well, ternyata hidup ini sulit bukan karena apa yang terjadi, tapi lebih karena apa yang kita rasakan dan jadikan pertimbangan untuk menjalankannya. Terlalu banyak rasa ingin mencoba, terlalu banyak keinginan untuk sekedar mencoba jalan yang berbelok arah.

Just don’t make a scene, noors!
#PMA all day, guys!

Rabu, 07 Agustus 2013

Renungan 1 Syawal 1434 H

http://www.pa-bengkulukota.go.id/main/foto_info/IDUL%20FITRI%201434%20H.jpg

Rabu, 7 Agustus 2013
13.48 WIB

Sangat terinspirasi oleh sebuah "kicauan" kawan di situs jejaring sosial mini bernama twitter. Dengan nama akun @sandhaoctavia, dia berceloteh : "sebenarnya sih bukan hari kemenangan soalnya gw masih kalah sama hawa nafsu, jadi ya Allah pertemukan lagi dg ramadhan musim dpan"

Sebenarnya masih banyak lagi kicauan bernada serupa. Menyesali ramadhan yang akan berlalu. Berharap bertemu dengan ramadhan tahun depan. Atau sedih karena akan meninggalkan ramadhan. Bahagia karena bertemu syawal.

Nyatanya di detik-detik akhir seperti ini, dan dengan semakin maraknya jejaring sosial, dan semakin candunya anak manusia pada gadget. Maka semua orang pun semakin berlomba untuk merangkai kata, melukiskan maaf, saling berlomba mendapatkan banyak perhatian.

Tak jadi masalah, sepanjang mampu untuk mendekatkan yang jauh. Menjadi masalah ketika justru menjauhkan yang dekat.

Intinya, saya pun ikut terlibat dalam perasaan seperti itu. Rasa sesal yang sebenarnya tidak akan bernilai apapun. Rasa sesal yang sebenarnya bisa untuk dihindari. Tapi entah kenapa terus menjadi pilihan.

Ramadhan tahun ini lagi, lagi, lagi, dan lagi tak mampu untuk menjadi jauh lebih baik dari ramadhan yang telah lalu. Tidak juga stagnan, tapi tidak juga bertambah baik.

Indikatornya, ya seperti kicauan tadi, saya masih terlampau sering menyerahkan pada hawa nafsu. Segala apapun bentuk hawa nafsu! Tak ada batasan.

Saya semakin tersudut ketika menyadari bahwa apa yang kita lakukan di bulan ramadhan adalah bentuk cerminan sejati diri kita. Ya, di bulan ini, pada hakikatnya, semua setan dibelenggu oleh Allah. Dan tatkala, kita tetap menjalankan perbuatan dosa, maka itu adalah murni diri kita yang menjalankannya. Jangan lagi salahkan setan!

Maka ketika di bulan yang suci ini, diri ini masih dengan santainya mampu untuk mengerjakan dosa, maaf bukannya pesimis atau skeptis, tapi apa jadinya kita di bulan-bulan yang lain? ketika setan dengan bebasnya berlalu lalang?

Tapi Allah pernah menjanjikan bahwa Dia seperti apa yang kita pikirkan atau dalam bahasa sederhananya ketika kita terus berpikir buruk maka buruk-lah jadinya dan begitu sebaliknya.

Islam sangat tidak menyukai suudzon (berpikiran buruk) bahkan kepada orang jahat sekalipun, Islam sangat menganjurkan khusnudzan (berpikiran baik) karena segalanya bermuara pada pikiran.

Karena bukankah pikiran itu menentukan apa yang kita ucapkan. Apa yang kita ucapkan akan menjadi apa yang kita lakukan. Apa yang kita lakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan kita. Lalu kebiasaan kita akan membentuk karakter kita dan karakter kita-lah yang akan menentukan nasib akhir kita.

dan semua bermula pada pikiran 'kan?

Jadi, okay, ramadhan ini lagi, lagi, lagi, dan lagi kita, ahh bukan! mungkin hanya saya, yang kalah oleh hawa nafsu. Dan bla bla bla, keluhan lainnya.

Mari sudahi segala penyesalahan dan keluhan itu, kita palingkan dan sesegera mungkin fokus pada saat ini untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Langkah awal itu dengan syukuri apa yang ada saat ini, yang terbesar jelas nyawa di kandung badan. Dengan segala dosa yang ada, Allah masih berkenan memberikan nyawa, maka Allah mempunyai rencana yang indah untuk kita (ini khusnudzan namanya!), maka segera ambil moment itu!

Jadi-lah apa sesuai dengan potensi baik yang kita miliki!

Well, in the end, menjadi sangat percuma apabila menyambut hari yang fitri ini, masih terdapat kerikil diantara kita semua. Tidak hanya karena Allah membenci orang yang memutuskan silaturahmi, tapi lebih dari itu, silaturahmi adalah inti dari segala kehidupan kita di dunia.

Kenapa? karena bisa apa kita apabila sendiri?

Jadi, taqabbalahu minna wa minkum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 Hijriah.
Mohon maafkan saya baik lahir maupun batin.

#PMA all day, guys! 

dan oh iya, bagi anda yang melaksanakan shaum ramadhan mengikuti perhitungan Pemerintah (melalui sidang itsbat, menggunakan metode rukyat) maka 1 Syawal 1434 H, masih belum dipastikan dilaksanakan pada esok hari, Kamis 8 Agustus 2013. Akan tetapi apabila anda (seperti juga saya) melaksanakan shaum ramadhan berdasarkan perhitungan hisab sebagaimana yang dilakukan oleh Ormas Muhammadiyah, maka 1 Syawal 1434 H sudah ditetapkan jatuh pada esok hari, yakni Kamis 8 Agustus 2013.

Jadi, mohon konsisten dengan apa yang telah kita yakini. Jangan hanya mengambil apa yang enak menurut nafsu kita, tapi kita harus bisa menjalani segala konsekuensi dari apa yang telah kita pilih. Dan diatas itu semua, kalaupun ada perbedaan, mari tetap mengutamakan ukhuwah islamiyah.  


Jumat, 02 Agustus 2013

Euforia Demokrasi

http://1.bp.blogspot.com/-i9yQLFcWR6E/UXWpA6HcGII/AAAAAAAAABM/KY_7cjo_La0/s400/budaya-demokrasi.jpg  

Kamis, 1 Agustus 2013
14.16 WIB

Saya setuju dengan sebuah pernyataan bahwa tak ada yang salah dengan sistem karena sistem disesuaikan dengan zamannya masing-masing. Tidak secara penuh dan utuh menyetujuinya tapi dalam artian positif dan mungkin sempit. Sekali lagi saya setuju dengan pernyataan itu.

Apa yang ingin saya coba sampaikan adalah berkenaan dengan kini banyak orang terlampau terjerumus pada kehidupan yang mereka anggap sangat demokratis. 

Pada tataran ini, izinkan saya untuk membatasi demokrasi itu sendiri. Banyak literatur serta pendapat para ahli mengenai paham demokrasi itu. Tapi saya mencoba menyimpulkan bahwa secara sangat sederhananya demokrasi merupakan paham dalam menjalankan kehidupan berpolitik atau bernegara dengan menekankan pada kekuasaan yang berada di tangan rakyat. 

Bahasa lainnya, kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat.

Kemudian makna rakyat mulai diartikan sebagai suara terbanyak atau mayoritas atau suara Tuhan. Disini mulai menafikan benar atau salah. Sepanjang mayoritas maka itu yang harus dijalankan.

Implikasi lanjutan dari demokrasi ini kemudian, karena memang awal munculnya untuk menentang kedigdayaan kerajaan, maka sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan segala bentuk daerah privasi lainnya beserta ksempatan untuk bersaing secara terbuka tanpa batasan.

Ini merupakan turunan dari konsekuensi prinsip dari, oleh, dan untuk rakyat sehingga menuntut keterbukaan. Akibat keterbukaan itu maka semua orang merasa mempunyai hak. Lalu memperjuangkan dan mempertahankannya.

Itu-lah kenapa dalam  era demokrasi sangat gencar orang-orang mengkampanyekan HAM dan kebebasan.

Hal lain yang juga muncul dari doktrinasi kehidupan demokrasi adalah perwujudan dari banyaknya klaim terhadap daerah-daerah yang dianggap privasi sehingga manusia cenderung untuk hidup mandiri. 

Bukan kehidupan mandiri dalam artian positif akan tetapi mandiri yang mengarah pada kehidupan individual. Situasi semakin diperparah dengan pemikiran bahwa setiap manusia berhak untuk bersaing secara terbuka. Maka semakin sempurna kehidupan individualis dan apatis khas demokrasi kekinian.

Tapi itu doktrin demokrasi barat atau setidaknya doktrin barat yang mampu saya simpulkan.

Ketika kemudian kita tarik itu semua pada kehidupan masyarakat Indonesia maka tidak semuanya relevan. Kenapa tidak relevan? Karena baik secara kultur maupun ideologi hal itu sangat bertentangan.

Suka ataupun tidak, sampai dengan saat ini negara kita masih menggunakan idelogi Pancasila dan faktanya mayoritas penduduk Indonesia merupakan penganut agama Islam. Secara aturan dari dua kenyataan itu maka jelas paham demokrasi yang digunakan di Indonesia harus diterapkan dengan beberapa penyesuaian di sana-sini.

Adapun ketika diantara kita, tidak menyetujui dan menentang Pancasila serta ajaran Islam, maka silahkan ketidaksetujuan dan penentangan itu dilakukan secara bijaksana menurut hukum yang ada dan bahkan etika demokrasi yang diakui dunia. Tapi sepanjang dan selama aturan positif yang berlaku di negara ini masih mengatakan bahwa Indonesia itu negara Pancasila dan penududuknya mayoritas bergama Islam, maka tolong terima itu.

Saya sendiri telah secara panjang lebar membahas demokrasi Pancasila walaupun dalam sudut pandang negara hukum (baca: Pancasilais atau Sekularis ?). 

Dan di dalam tulisan ini saya hanya akan kembali mempertegas bahwa konsekuensi dari Pancasila kita jadikan sebagai ideologi bangsa ini maka tidak ada tempat untuk liberalisme dan kapitalisme. Kita harus hidup dengan meyakini Tuhan, bermasyarakat, bermufakat untuk mewujudkan keadilan sosial.

Sehingga gotong royong itu adalah wajib dan apatisme itu adalah haram. 

Ini bukan perkara kita mencampuri urusan orang lain atau mengintervensi hak orang lain untuk hidup. Tapi sebagai manusia yang hidup dalam idelogi Pancasila kita harus peduli pada sesama, senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan. 

Hal ini apabila kemudian dikaitkan pada kehidupan beragama maka akan semakin jelas, terang, dan kuat, bahwa semua manusia mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri tapi di sisi lain setiap manusia itu di beri kewajiban untuk saling memberikan nasihat.

Jadi, mari segera kita lepas dari euphoria demokrasi yang salah kaprah dan segera menyadari bahwa kita ini hidup dalam idelogi Pancasila dan lingkungan dengan mayoritas beragama Islam. 

Mari kita sesuaikan paham demokrasi itu dengan struktur, kultur, dan prosedur yang ada. Yakin-lah bahwa ketika paham itu bukan digali dan diambil dari kultur masyarakat sendiri maka paham itu akan sulit untuk diterapkan tetapi ketika paham itu kita sesuaikan dan ambil dari kultur masyarakat sendiri maka tidak akan ada penolakan.

Tidak ada hal baik yang mampu kita ambil dari sikap individualis apalagi apatis.

#PMA all day guys!