Jumat, 02 Agustus 2013

Euforia Demokrasi

http://1.bp.blogspot.com/-i9yQLFcWR6E/UXWpA6HcGII/AAAAAAAAABM/KY_7cjo_La0/s400/budaya-demokrasi.jpg  

Kamis, 1 Agustus 2013
14.16 WIB

Saya setuju dengan sebuah pernyataan bahwa tak ada yang salah dengan sistem karena sistem disesuaikan dengan zamannya masing-masing. Tidak secara penuh dan utuh menyetujuinya tapi dalam artian positif dan mungkin sempit. Sekali lagi saya setuju dengan pernyataan itu.

Apa yang ingin saya coba sampaikan adalah berkenaan dengan kini banyak orang terlampau terjerumus pada kehidupan yang mereka anggap sangat demokratis. 

Pada tataran ini, izinkan saya untuk membatasi demokrasi itu sendiri. Banyak literatur serta pendapat para ahli mengenai paham demokrasi itu. Tapi saya mencoba menyimpulkan bahwa secara sangat sederhananya demokrasi merupakan paham dalam menjalankan kehidupan berpolitik atau bernegara dengan menekankan pada kekuasaan yang berada di tangan rakyat. 

Bahasa lainnya, kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat.

Kemudian makna rakyat mulai diartikan sebagai suara terbanyak atau mayoritas atau suara Tuhan. Disini mulai menafikan benar atau salah. Sepanjang mayoritas maka itu yang harus dijalankan.

Implikasi lanjutan dari demokrasi ini kemudian, karena memang awal munculnya untuk menentang kedigdayaan kerajaan, maka sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan segala bentuk daerah privasi lainnya beserta ksempatan untuk bersaing secara terbuka tanpa batasan.

Ini merupakan turunan dari konsekuensi prinsip dari, oleh, dan untuk rakyat sehingga menuntut keterbukaan. Akibat keterbukaan itu maka semua orang merasa mempunyai hak. Lalu memperjuangkan dan mempertahankannya.

Itu-lah kenapa dalam  era demokrasi sangat gencar orang-orang mengkampanyekan HAM dan kebebasan.

Hal lain yang juga muncul dari doktrinasi kehidupan demokrasi adalah perwujudan dari banyaknya klaim terhadap daerah-daerah yang dianggap privasi sehingga manusia cenderung untuk hidup mandiri. 

Bukan kehidupan mandiri dalam artian positif akan tetapi mandiri yang mengarah pada kehidupan individual. Situasi semakin diperparah dengan pemikiran bahwa setiap manusia berhak untuk bersaing secara terbuka. Maka semakin sempurna kehidupan individualis dan apatis khas demokrasi kekinian.

Tapi itu doktrin demokrasi barat atau setidaknya doktrin barat yang mampu saya simpulkan.

Ketika kemudian kita tarik itu semua pada kehidupan masyarakat Indonesia maka tidak semuanya relevan. Kenapa tidak relevan? Karena baik secara kultur maupun ideologi hal itu sangat bertentangan.

Suka ataupun tidak, sampai dengan saat ini negara kita masih menggunakan idelogi Pancasila dan faktanya mayoritas penduduk Indonesia merupakan penganut agama Islam. Secara aturan dari dua kenyataan itu maka jelas paham demokrasi yang digunakan di Indonesia harus diterapkan dengan beberapa penyesuaian di sana-sini.

Adapun ketika diantara kita, tidak menyetujui dan menentang Pancasila serta ajaran Islam, maka silahkan ketidaksetujuan dan penentangan itu dilakukan secara bijaksana menurut hukum yang ada dan bahkan etika demokrasi yang diakui dunia. Tapi sepanjang dan selama aturan positif yang berlaku di negara ini masih mengatakan bahwa Indonesia itu negara Pancasila dan penududuknya mayoritas bergama Islam, maka tolong terima itu.

Saya sendiri telah secara panjang lebar membahas demokrasi Pancasila walaupun dalam sudut pandang negara hukum (baca: Pancasilais atau Sekularis ?). 

Dan di dalam tulisan ini saya hanya akan kembali mempertegas bahwa konsekuensi dari Pancasila kita jadikan sebagai ideologi bangsa ini maka tidak ada tempat untuk liberalisme dan kapitalisme. Kita harus hidup dengan meyakini Tuhan, bermasyarakat, bermufakat untuk mewujudkan keadilan sosial.

Sehingga gotong royong itu adalah wajib dan apatisme itu adalah haram. 

Ini bukan perkara kita mencampuri urusan orang lain atau mengintervensi hak orang lain untuk hidup. Tapi sebagai manusia yang hidup dalam idelogi Pancasila kita harus peduli pada sesama, senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan. 

Hal ini apabila kemudian dikaitkan pada kehidupan beragama maka akan semakin jelas, terang, dan kuat, bahwa semua manusia mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri tapi di sisi lain setiap manusia itu di beri kewajiban untuk saling memberikan nasihat.

Jadi, mari segera kita lepas dari euphoria demokrasi yang salah kaprah dan segera menyadari bahwa kita ini hidup dalam idelogi Pancasila dan lingkungan dengan mayoritas beragama Islam. 

Mari kita sesuaikan paham demokrasi itu dengan struktur, kultur, dan prosedur yang ada. Yakin-lah bahwa ketika paham itu bukan digali dan diambil dari kultur masyarakat sendiri maka paham itu akan sulit untuk diterapkan tetapi ketika paham itu kita sesuaikan dan ambil dari kultur masyarakat sendiri maka tidak akan ada penolakan.

Tidak ada hal baik yang mampu kita ambil dari sikap individualis apalagi apatis.

#PMA all day guys!

4 komentar:

  1. Negara kita adalah negara demokrasi, oleh karena itu kita diberi kebebasan berdemokrasi asal tidak melanggar aturan dan tidak melanggar hukum. salam..

    BalasHapus
  2. Bagi saya, tidak ada yang salah dengan sistem--sebagai bentuk besar dari rangkaian unit di negara kita. yang menjadi solusi adalah pengkerucutan makna demokrasi itu sendiri dan pengkondisian sikap serta pola fikir. Apatis adalah konsekuensi dari pemaknaan demokrasi yang salah, bagi saya. dan dalam scoop yang lebih besar, globalisasi merupakan triger eksternal yang bahaya. saya rasa bung Dima setuju bahwa bangsa yang konsumtif bukanlah bangsa yang kaya, namun bangsa yang tidak mampu berkarya.

    Ps : saya rasa saya tau dari mana ide tulisan ini bermula *lipslocked*

    BalasHapus
  3. @Boku no Blog : betul pak, tapi satu g pasti NKRI itu berazaskan Pancasila, bukan berazaskan demokrasi. Demokrasi itu hanya sistem politiknya sehingga harus juga tunduk pada Pancasila.

    @Chella : hehehe sepertinya semakin sering dima ngobrol sama chella, makin penuh aja isi blog ini :D

    BalasHapus
  4. Gema Takbir Menyapa Semesta,
    Membesarkan dan Mengagungkan Yang Maha Esa nan Maha Suci,
    Bersihkan Hati Kembali Fitri di Hari Kemenangan,
    Terkadang Mata Salah Melihat dan Mulut Salah Berucap,
    Hati kadang salah menduga serta Sikap Khilaf dalam Berprilaku,
    Bila Ada Salah Kata, Khilaf Perbuatan dan Sikap,
    Bila Ada Salah Baca dan Salah Komentar,
    Mohon Dimaafkan Lahir dan Batin,
    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H

    BalasHapus