Senin, 29 Agustus 2011

Selamat Lebaran 1 Syawal 1432 H



*catatan : dalam pembuatan artikel ini, konsentrasi dan fokus saya agak terpecah karena sembari menulis saya juga sekaligus mendengarkan dan melihat sidang Itsbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama untuk menentukan penetapan 1 Syawal 1432 H. Dan yang seperti kita ketahui Pemerintah melalui Kemenag menetapkan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 sedangkan PP Muhamdiyah tetap pada keputusan awal mereka bahwa 1 Syawal jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Dan artikel ini sama sekali tidak dibuat untuk membahas perbedaan itu karena saya bukanlah orang yang berkompeten dalam bidang itu. Saya hanya "pengguna", hanya umat muslim biasa, yang masih sekedar mengikuti keputusan-keputusan para ulama di sana. Akan tetapi, satu saran saya dalam menyikapi segala perbedaan itu adalah kita harus bersikap sangat dewasa, bersikap sangat bijak, dan dalam menentukan setiap pilihannya harus dengan hati yang mantap, jangan menjadi seperti bunglon, jangan menjadi seseorang yang memncari "aman". Tapi, yakini lah apapun yang kau yakini, dan mantapkan lah segala pilihan itu serta konsisten lah dengan segala apa yang telah kau pilih itu. Enjoy, friends ! :)

Tak terasa, kata yang sering terdengar seiring berakhirnya suatu masa atau suatu acara. Kata tersebut akan meluncur manis keluar indah dari mulut kita secara spontan tanpa ada sedikit pun rasa terpaksa apabila kita telah melalui atau menjalani suatu masa, suatu acara atau apapun namanya itu, dengan sangat baik, atau hal tersebut merupakan sesuatu hal yang sangat berkesan serta membekas dalam hati setiap manusianya. Dan hal itu pun yang kita ucapkan, semua umat muslim khususnya, seiring habisnya atau telah terlewatinya bulan suci Ramadhan. Ya, bulan Ramadhan menjadi sangat indah, menjadi sangat dinanti kedatangannya ( bagi setiap manusia yang beriman ) karena di bulan ini lah Al-Qur’an diturunkan, di bulan ini lah Allah melipatgandakan segala amal ibadah kita, di bulan ini lah segala hal yang kita lakukan Allah beri penilaian lebih dan di bulan ini lah pintu taubat Allah bukakan selebar-lebarnya serta seluas-luasnya. Dan di bulan ini juga Allah mewajibkan bagi setiap umatnya untuk melaksanakan Shaum wajib selama sebulan penuh ( baca : Shaum, bukan puasa ). Tak heran, bila bulan ini disebut dengan bulan suci, bulan penuh barokah, bulan penuh rahmat, serta sejuta sebutan baik lainnya. Ungkapkan itu kita sematkan kepada bulan ramadhan tidak lain dan tidak bukan sebagai wujud suka cita kita, kebahagian kita dalam menyambut kedatangan bulan ini.

Hal lain yang semakin membuat umat muslim antusias menyambut bulan suci Ramadhan adalah karena setelah berakhirnya bulan ramadhan maka akan serta merta langsung diikuti oleh datangnya bulan Syawal, bulan kemenangan. Karena setelah “berperang” melawan nafsu sekaligus membersihkan diri dari segala dosa serta menambah pundi-pundi amal ibadah kita di bulan Ramadhan, di bulan Syawal lah kita merayakan kemenangan itu. Menandakan bahwa kita telah siap untuk melewati sebelas bulan yang akan datang dengan mantap, dengan iman yang kuat, karena telah dididik dengan penuh tawakal di bulan ramadhan ini.

Di bulan syawal ini, tepatnya pada tanggal 1 Syawal, setiap umat muslim akan merayakan Iedul Fitri atau Lebaran, ditandai dengan Sholat Sunah Ied. Ritual lain yang biasanya kita lakukan adalah saling bersilaturahmi satu sama lainnya untuk saling bermaaf-maafan, bertujuan untuk membersihkan diri ini dari segala dosa hasil hubungan sosial dengan sesama dan sebagai wujud nyata dari ketidaksempurnaan manusia yang mau tidak mau harus kita terima bahwa memang dalam diri manusia lah tempatnya segala kesalahan dan kekhilafan. Dan momen Iedul Fitri ini, menjadi momen yang sangat tepat untuk saling bermaafan.

Sehingga dalam kesempatan yang baik ini pula, saya pun tidak ketinggalan tapi tidak juga bermaksud untuk ikut-ikutan, melainkan sekali lagi hal ini saya rasa perlu lakukan karena memang diri ini penuh dengan berbagai kesalahan baik yang disengaja apalagi yang tidak saya sengaja. Dan terlepas dari perbedaan penetapan 1 Syawal 1432 Hijriah, yang saya pikir tidak harus kita jadikan sebuah bahan untuk kita terpecah belah, menjadi suatu pembenaran bagi kita untuk bermusuh-musuhan apalagi pembenaran untuk terjadinya suatu konflik. Saya pikir kita sudah cukup dewasa, sudah berwawasan yang cukup pula untuk melihat perbedaan ini dengan cara yang sebijak-bijaknya. Perbedaan itu muncul karena perbedaan dalam menggunakan cara untuk menetapkan 1 Syawal, ada yang menggunakan metode hisab dan ada yang menggunakan metode rukyah, kedua metode itu merupakan atas dasar ilmu dan memang dicontohkan oleh Rasul kita, walaupun saya pribadi tidak terlalu mengerti. Tapi saya yakin, insya Allah apa pun yang kita pilih apa pun yang kita yakini, insya Allah mampu untuk dipertanggung jawabkan. Akan tetapi, saya tidak akan pernah putus berharap ( seperti yang telah saya kemukakan dalam tulisan saya sebelumnya Berawal Dari Permasalahan Nisfu Syaban ) bagaimanapun juga banyaknya perbedaan memang merupakan sebuah awal dari datangnya suatu permasalahan atau perpecahan, sehingga sedemikian rupa kita harus mampu mengkondisikan setiap perbedaan itu agar menjadi bersatu, meminimalisir segala perbedaan yang ada atau membuat segala perbedaan itu bukan berbeda secara prinsip akan tetapi hanya berbeda dalam koridor yang sama-sama benar, sama-sama bernilai positif.

Tapi, sudahlah, biarkan itu menjadi bumbu dalam hidup, jangan kita besarkan, cukup kita pelajari dan ambil segala hikmah yang mungkin ada dan terkandung di dalamnya. Sembari tetap berihktiar agar menemukan cara paling bijak, cara paling cerdas agar mempersatukan segala perbedaan itu, agar umat Islam kita menjadi bersatu, terjalin suatu ukhwuwah islamiyah yang benar-benar kuat. Jangan sampai segala perbedaan itu justru menghilangkan esesensi hakiki dari Iedul Fitri itu sendiri.

Jadi, akhir kata, menutup segala ocehan dan omongan manis ini, izinkan saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan :
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah.
Taqabalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Maafkan segala kesalahan saya.
Dan do’a saya di akhir Ramadhan ini adalah semoga saya tetap diberi kesempatan serta kepercayaan untuk dapat kembali bersua dengan bulan Ramadhan di tahun depan serta tahun-tahun selanjutnya dengan keadaan yang baik, bahkan lebi baik lagi dari ramadhan tahun ini. Tapi, apabila toh saya tidak lagi dipertemukan dengan ramadhan tahun depan atau dengan kata lain ini menjadi ramadhan terakhir bagi diri ini, maka saya harap segala ibadah, segala amalan yang telah saya lakukan di bulan ini dapat diterima sepenuhnya oleh Allah Swt., serta kalaupun sekali lagi ini menjadi bulan ramadhan terakhir bagi saya, saya harap itu atas ridho dan rahmat dari-Nya.

SELAMAT BERLEBARAN, KAWAN !!
Oh iya, saya berlebaran pada esok hari ya ( Selasa, 30 Agustus 2011 ) :)

Minggu, 28 Agustus 2011

Teringat Kembali

Kembali lagi disini,
di satu titik,
dimana jiwa dan hati sejenak menepi,
untuk sebentar berkeluh pasti.
Segala yang ada disesali,
suatu perbuatan yang tak ada manfaatnya kini dan nanti.
Tapi secara jantan kuakui, aku masih melakukannya sering.

Sepulang cuti,
seminggu ini.
Ku sibuk dengan segala acara,
dengan tema berbuka bersama.
Jujur ku menikmati sebenarnya,
karena dengan segala itu semua,
ku bisa berkumpul bercanda,
dengan semua teman, semua saudara,
yang terpisah waktu serta jarak.
Tapi diri ini tak bisa mengelak,
bahwa ku juga manusia.
Lelah tak bisa ku tahan,
ketika cuti ini istirahat seharusnya.

Begitu juga hari ini.
Ku tetap berbuka di luar,
dan sekarang bersama saudara.

Dan disini tanpa disengaja,
ku melihat satu wajah,
sedikit mirip dengan sesosok manusia,
manusia berarti dalam hidup dalam hati,
yang bangga ku sebut “Aki”.

Ya..setahun berlalu tanpa dia.
Dan sakit itu sudah menghilang sebenarnya.
Ku tak lagi menangis seperti orang gila,
di saat ku mengenangnya,
atau di saat ku terdiam.
Atau bagaimana ku sangat membenci diri ini,
bila mengingat lagi segala apa yang terjadi.
Di setiap detik di saat terakhir dia hidup.

Akh, sudah.
Hal ini hanya semakin membuat susah,
membangkitkan lagi segala kesah,
Rasa sakit, rasa sedih yang telah ku kubur susah-susah.

Damn, why i’m so f***ed up in the very last time ?!
Shit, i will regret it in the rest of my life !

Kamis, 18 Agustus 2011

Selayang Pandang IPDN

Di dalam tulisan/artikel ini saya akan mencoba membahas kembali mengenai perguruan tinggi kedinasan IPDN ( Institut Pemerintahan Dalam Negeri ). Walaupun beberapa tulisan telah saya buat mengenai hal itu, ( baca : IPDN 2010/2011, Keluhan dan Harapan, Kampus Daerah dan Semangat Perubahan, Penerimaan Capra IPDN 2011-2012, Kunker Sekjen Kemendagri, PL I/PPL ), akan tetapi saya rasa itu masih kurang dan masih belum mencakup keseluruhan mengenai perguruan tinggi kedinasan ini. Oleh karena itu, untuk kesekian kalinya IPDN akan menjadi tema tulisan saya dan semoga kali ini bisa benar-benar bisa mencakup segalanya mengnai IPDN. Enjoy!

Saya sejujurnya masih sangat bingung bila ada orang diluar sana bertanya mengenai IPDN dan akan semakin bertambah bingung bila orang-orang itu bertanya mengenai sistem pendidikan di sekolah ini. Ya, sistem yang dianut oleh IPDN sebagai sebuah Institut sangat berbeda dengan sistem pendidikan perguruan tinggi pada umumnya, cukup rumit memang. Tapi secara sederhanaya, IPDN menganut sebuah kurikulum bernama JarLatSuh ( Pengajaran Pelatihan Pengasuhan ).

Pengajaran.
Sistem ini merupakan sebuah perkuliahan tatap muka seperti pada umumnya. Yang menjadi pembeda dengan yang lainnya adalah SKS yang digunakan di IPDN adalah SKS paket. Dengan SKS paket, Praja ( sebutan Mahasiswa di IPDN ), hanya tinggal mengikuti setiap jadwal mata kuliah yang ada saja karena mata kuliah serta jamnya telah ditentukan oleh fakultas masing-masing dengan porsi yang sama. Di IPDN juga mengenal sebuah hierarki tingkatan serta pangkat. Semester I dan II atau tingkat pertama mempunyai pangkat Muda Praja, semester III dan IV atau tingkat kedua mempunyai pangkat Madya Praja, semester V dan VI atau tingkat tiga mempunyai pangkat Nindya Praja, serta tingkatan terakhir tingkat empat pada semester VII dan VIII berpangkat Wasana Praja. Yudicium atau kenaikan tingkat dan pangkat dilaksanakan setiap tahunnya di setiap akhir semester genap, tentunya apabila praja telah tuntas dan dinyatakan bisa untuk naik tingkat serta pangkat.
Pada semester I dan II setiap praja masih mendapatkan mata kuliah umum, akan tetapi dalam pelaksanaannya setiap praja diasuh oleh atau dititipkan pada salah satu dari dua jurusan yang ada di IPDN, yaitu Manajemen Pemerintahan dan Politik Pemerintahan. Baru pada semester III s.d. VI praja berkuliah sesuai dengan jurusan serta program studinya masing-masing. Dan pada semseter VII dan VIII praja bisa beralih dari D4 menjadi S1, apabila memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan sehingga pada nantinya lulusan IPDN sekarang akan terdapat dua gelar, yaitu S.STP ( bagi mereka yang tetap pada program D4 ) dan S.Ip ( bagi mereka yang masuk ke program S1 )

Pelatihan.
Pelatihan merupakan unggulan dari IPDN karena dengan kurikulum ini IPDN menjadi berbeda dengan PTN atau mungkin PTS lainnya yang sama-sama menyelenggarakan program studi Ilmu Pemerintahan. Karena dengan Pelatihan, yang setau saya baru ada di IPDN, lulusan-lulusan IPDN tidak sekedar menjadi lulusan yang ahli dalam pemerintahan secara teoritis, lebih dari itu mereka juga telah fasih dengan praktek ilmu kepemerintahan. Sehingga IPDN menjadi pencetak kader-kader aparatur pemerintahan yang siap pakai.

Pengasuhan.
Dengan kurikulum ini setiap Praja diwajibkan untuk hidup di dalam kampus dalam sistem asrama. Karena melalui kurikulum ini, IPDN bermaksud untuk membentuk mental, sikap, serta watak dari setiap peserta didiknya sehingga mempunyai sefat-sifat yang baik, sifat-sifat yang dibutuhkan oleh seorang aparatur pemerintahan.

Selanjutnya saya akan mencoba membahas segala sesuatunya secara lebih panjang lebar dan saya harap juga bisa terperinci. Sehingga maksud dan tujuan awal, yaitu agar pembahasan mengenai IPDN ini bisa mencakup semuanya, bisa sepenuhnya tercapai.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

sumber : www.ipdn.ac.id




VISI MISI IPDN




Tujuan Pendidikan IPDN
Pendidikan IPDN bertujuan membentuk kader pamong praja, yang memiliki triple-competence sebagai berikut:
1. Kemampuan untuk mengelola kebhinekaan bangsa dan nusantara menjadi kekuatan nasional (tunggal ika), memproses persatuan dan melestarikan kesatuan bangsa (Bhineka Tunggal Ika).
2. Kemampuan untuk berfungsi sebagai conductor (dirigent), yaitu kemampuan untuk mengelola berbagai fungsi dan tugas yang berbeda-beda, mengidentifikasi konflik atau nada sumbang sekecil apapun dan mengoreksinya sehingga tercipta harmoni antar pihak dan pada gilirannya menghasilkan kinerja maksimal untuk kesejahteraan masyarakat.
3. Kemampuan untuk berkoordinasi dengan pihak lain yang fungsinya berbeda dan berfungsi sebagai koordinator antar berbagai satuan kerja yang berlainan yang beroperasi dalam suatu wilayah/daerah.

Visi
Visi yang ditetapkan Institut Pemerintahan Dalam Negeri dalam mewujudkan cita-cita tersebut dalam waktu sepuluh tahun ke depan adalah ”Menjadi Lembaga Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang terpercaya dalam mengemban tugas pengembangan ilmu, pembentukan perilaku kepamongan dan penyedia kader pemerintahan yang terampil.

Misi
Untuk mencapai visi tersebut, maka misi Institut Pemerintahan Dalam Negeri ditetapkan sebagai berikut:
1. Mensinergikan kekuatan sivitas akademika Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
2. Mengembangkan kurikulum berbasis pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan (Jar-Lat-Suh).
3. Membangun jaringan kerjasama dengan berbagai kalangan yang mampu mendukung pengembangan kurikulum dan implementasinya.
4. Melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat).
5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
6. Memberdayakan praja sebagai subyek pendidikan dan aset nasional.









MAKNA LAMBANG IPDN




Makna Lambang Institut Pemerintahan Dalam Negeri :



1. Bintang warna kuning melambangkan Pancasila
2. Kapas warna putih melambangkan keadilan
3. Daun kapas warna hijau melambangkan kesejukan dan ketentraman
4. Padi warna kuning melambangkan kemakmuran.
5. Kombinasi bunga kapas dan daunnya berjumlah 17 melambangkan tanggal Proklamasi 17 Agustus 1945 berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
6. Padi berjumlah 45 bermakna tahun kemerdekaan Republik Indonesia 1945.
7. Roda kemudi melambangkan pemerintahan.
8. Delapan jari roda kemudi melambangkan bulan lahirnya Proklamasi, dan melambangkan 8 penjuru angin yang dimaknai sebagai ke wilayahan, pemerintahan daerah dan Bhinneka Tunggal Ika.
9. Lambang yang berbentuk kelopak bunga lotus (teratai), bermakna kearifan.
10. Buku melambangkan sumber pengetahuan.
11. Warna biru laut yang mendasari lambang dimaknai sebagai tanggungjawab, ketangguhan, ketenangan dan inovasi yang tinggi.
12. Angka 2004 melambangkan tahun berdirinya IPDN.
13. Among, melaksanakan fungsi pamong yang berarti mengasuh dan mengemong menurut sistem among : Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tutwuri Handayani.
14. Praja artinya Peserta Didik (termasuk mahasiswa) IPDN.
15. Dharma artinya melaksanakan kewajiban, peraturan, kebenaran.
16. Kata-kata : Among Praja Dharma Nagari secara keseluruhan berarti IPDN mengemong Praja supaya setia pada kewajiban untuk mengabdi kepada Bangsa dan Negara.









PROFIL PIMPINAN




1. REKTOR : Prof. Dr. I Nyoman Sumaryadi




2. WAKIL REKTOR : Prof. Dr. Sadu Wasistiono, MS




3. PEMBANTU REKTOR BIDANG AKADEMIK ( membawahi : Bagian Perencanaan, Bagian Akademik, Bagian Pelatihan, Bagian Kerja Sama ) : Prof. Dr. Wirman Syafri, M.Si



4. PEMBANTU REKTOR BIDANG KERJASAMA ( membawahi : Bagian Kepegawaian ) : Drs. Lailil Kadar, MA



5. PEMBANTU REKTOR BIDANG KEMAHASISWAAN ( membawahi : Bagian Pengasuhan, Bagian Keprajaan dan Alumni ) : Bernhard Rondonuwu, S.Sos, M.Si



6. DEKAN FAKULTAS POLITIK PEMERINTAHAN : Ir. Dedy Riandono



7. DEKAN FAKULTAS MANAJEMEN PEMERINTAHAN : Drs. Sampara Lukman, MA



8. DIREKTUR PASCASARJANA MAPD : Prof. Dr. Khasan Effendi, M.Pd



9. Ka. BIRO ADM. AKADEMIK, PERENCANAAN DAN KERJASAMA : Drs. Arief M. Eddie



10. Ka. BIRO ADM. UMUM DAN KEUANGAN : Bayi Priyono, SH



11. Ka. BIRO KEPRAJAAN DAN KEMAHASISWAAN : Drs. Sudjito



12. KEPALA LEMBAGA PENELITIAN : Prof. Dr. H. Tjahya Supriatna, SU



13. KEPALA LEMBAGA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT : Dr. Farida Sinaga, MM











KAMPUS DAERAH




Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 60 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No 39 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja IPDN

IPDN KAMPUS DI DAERAH TERDIRI DARI :
1. IPDN Kampus di Kota Bukittinggi
2. IPDN Kampus di Kabupaten Rokan Hilir
3. IPDN Kampus di Kabupaten Gowa
4. IPDN Kampus di Kabupaten Minahasa
5. IPDN Kampus di Kabupaten Lombok Tengah
6. IPDN Kampus di Kalimantan Barat
7. IPDN Kampus di Kota Jayapura

STRUKTUR ORGANISASI IPDN KAMPUS DAERAH :











SEJARAH SINGKAT IPDN




Penyelenggaraan pendidikan kader pemerintahan di lingkungan Departemen Dalam Negeri yang terbentuk melalui proses perjalanan sejarah yang panjang. Perintisiannya dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1920, dengan terbentuknya sekolah pendidikan Pamong Praja yang bernama Opleiding School Voor Inlandshe Ambtenaren ( OSVIA ) dan Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren ( MOSVIA ). Para lulusannya sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan untuk memperkuat penyelenggaraan pemerintahan Hindia Belanda. Dimasa kedudukan pemerintah Hindia Belanda, penyelenggaraan pemerintahan Hindia Belanda dibedakan atas pemerintahan yang langsung dipimpin oleh kaum atau golongan pribumi yaitu Binnenlands Bestuur Corps ( BBC ) dan pemerintahan yang tidak langsung dipimpin oleh kaum atau golongan dari keturunan Inlands Bestuur Corps ( IBC ).

Pada masa awal kemerdekaan RI, sejalan dengan penataan sistem pemerintahan yang diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945, kebutuhan akan tenaga kader pamong praja untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan baik pada pemerintah pusat maupun daerah semakin meningkat sejalan dengan tuntutan perkembangan penyelenggaraan pemerintahannya. Untuk memenuhi kebutuhan akan kekurangan tenaga kader pamong praja, maka pada tahun 1948 dibentuklah lembaga pendidikan dalam lingkungan Kementrian Dalam Negeri yaitu Sekolah Menengah Tinggi ( SMT ) Pangreh Praja yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Menengah Pegawai Pemerintahan Administrasi Atas ( SMPAA ) di Jakarta dan Makassar.

Pada Tahun 1952, Kementrian Dalam Negeri menyelenggarakan Kursus Dinas C (KDC) di Kota Malang, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan pegawai golongan DD yang siap pakai dalam melaksanakan tugasnya. Seiring dengan itu, pada tahun 1954 KDC juga diselenggarakan di Aceh, Bandung, Bukittinggi, Pontianak, Makasar, Palangkaraya dan Mataram. Sejalan dengan perkembangan penyelenggaraan pemerintahan yang semakin kompleks, luas dan dinamis, maka pendidikan aparatur di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan tingkatan kursus dinilai sudah tidak memadai. Berangkat dari kenyataan tersebut, mendorong pemerintah mendirikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada tanggal 17 Maret 1956 di Malang, Jawa Timur. APDN di Malang bersifat APDN Nasional berdasarkan SK Mendagri No. Pend.1/20/56 tanggal 24 September 1956 yang diresmikan oleh Presiden Soekarno di Malang, dengan Direktur pertama Mr. Raspio Woerjodiningrat. Mahasiswa APDN Nasional Pertama ini adalah lulusan KDC yang direkrut secara selektif dengan tetap mempertimbangkan keterwakilan asal provinsi selaku kader pemerintahan pamong praja yang lulusannya dengan gelar Sarjana Muda ( BA ).

Pada perkembangan selanjutnya, lulusan APDN dinilai masih perlu ditingkatkan dalam rangka upaya lebih menjamin terbentuknya kader-kader pemerintahan yang ” qualified leadership and manager administrative ”, terutama dalam menyelenggarakan tugas-tugas urusan pemerintahan umum. Kebutuhan ini mendorong pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan aparatur di lingkungan Departemen Dalam Negeri setingkat Sarjana, maka dibentuklah Institut Ilmu Pemerintahan ( IIP ) yang berkedudukan di Kota Malang Jawa Timur berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 8 Tahun 1967, selanjutnya dikukuhkan dengan Keputusan Presiden Nomor 119 Tahun 1967. Peresmian berdirinya IIP di Malang ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soekarno pada tanggal 25 Mei 1967.

Pada tahun 1972 Institut Ilmu Pemerintahan ( IIP) yang berkedudukan di Malang Jawa Timur dipindahkan ke Jakarta melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 94 Tahun 1972. Pada tanggal 9 Maret 1972, kampus IIP yang terletak di Jakarta di resmikan oleh Presiden Soeharto yang dinyatakan : ” Dengan peresmian kampus Institut Ilmu Pemerintahan, mudah-mudahan akan merupakan kawah candradimukanya Departemen Dalam Negeri untuk menggembleng kader-kader pemerintahan yang tangguh bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ”

Seiring dengan pembentukan IIP yang merupakan peningkatan dari APDN Nasional di Malang, maka untuk penyelenggaraan pendidikan kader pada tingkat akademi, Kementrian Dalam Negeri secara bertahap sampai dengan dekade tahun 1970-an membentuk APDN di 20 Provinsi selain yang berkedudukan di Malang, juga di Banda Aceh, Medan, Bukittinggi, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Lampung, Bandung, Semarang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Mataram, Kupang, Makassar, Menado, Ambon dan Jayapura.
Pada tahun 1988, dengan pertimbangan untuk menjamin terbentuknya wawasan nasional dan pengendalian kualitas pendidikan Menteri Dalam Negeri Rudini melalui Keputusan No. 38 Tahun 1988 Tentang Pembentukan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Nasional. APDN Nasional kedua dengan program D III berkedudukan di Jatinangor, Sumedang Jawa Barat yang peresmiannya dilakukan oleh Mendagri tanggal 18 Agustus 1990. APDN Nasional ditingkatkan statusnya berdasarkan Kepres No. 42 Tahun 1992 tentang Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, maka status APDN menjadi STPDN dengan program studi D III yang diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 18 Agustus 1992. Sejak tahun 1995, bertititk tolak dari keinginan dan kebutuhan untuk lebih mendorong perkembangan karier sejalan dengan peningkatan eselonering jabatan dalam sistem kepegawaian Republik Indonesia, maka program studi ditingkatkan menjadi program D IV. Keberadaan STPDN dengan pendidikan profesi ( program D IV ) dan IIP yang menyelenggarakan pendidikan akademik program sarjana ( Strata I ), menjadikan Departemen Dalam Negeri memiliki dua Pendidikan Tinggi Kedinasan dengan lulusan yang sama dengan golongan III/a.

Kebijakan Nasional mengenai pendidikan tinggi sejak tahun 1999 antara lain yang mengatur bahwa suatu Departemen tidak boleh memiliki dua atau lebih perguruan tinggi dalam menyelenggarakan keilmuan yang sama, maka mendorong Departemen Dalam Negeri untuk mengintegrasikan STPDN ke dalam IIP . Usaha pengintegrasiaan STPDN kedalam IIP secara intensif dan terprogram sejak tahun 2003 sejalan dengan dikeluarkannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pengintegrasian terwujud dengan ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 tentang Penggabungan STPDN ke dalam IIP dan sekaligus merubah nama IIP menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri ( IPDN ). Tujuan penggabungan STPDN ke dalam IIP tersebut, selain untuk memenuhi kebijakan pendidikan nasional juga untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pendidikan kader pamong praja di lingkungan Departemen Dalam Negeri. Kemudian Kepres No. 87 Tahun 2004 ditindak lanjuti dengan Keputusan Mendagri No. 892.22-421 tahun 2005 tentang Pelaksanaan Penggabungan dan Operasional Institut Pemerintahan Dalam Negeri, disertai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 29 Tahun 2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja IPDN dan Peraturan Menteri Dalam Negeri 43 Tahun 2005 Tentang Statuta IPDN serta peraturan pelaksanaan lainnya.

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 tentang Penggabungan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri ke dalam Institut Ilmu Pemerintahan menjadi IPDN, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 Tahun 2009 tentang Statuta Institut Pemerintahan Dalam Negeri dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Bahwa IPDN merupakan salah satu komponen di lingkungan Kementerian Dalam Negeri yang melaksanakan tugas menyelenggarakan pendidikan tinggi kepamongprajaan. Sejalan dengan tugas dan fungsi melaksanakan pendidikan tinggi kepamongprajaan serta dengan mempertimbangkan tantangan, peluang dan pilihan-pilihan strategik yang akan dihadapi dalam lima tahun kedepan, Renstra IPDN 2010-2014 disusun dengan memperhatikan pencapaian program dan kegiatan yang dilakukan agenda pembangunan pada lima tahun terakhir (2005¬-2009), serta kondisi internal dan dinamika ekternal lingkup IPDN.

Presiden Republik Indonesia pada tanggal 9 April 2007 mengeluarkan kebijakan dengan menetapkan 6 (enam) langkah pembenahan yang segera dilakukan untuk membangun budaya organisasi yang baru bagi IPDN. Kebijakan Presiden memperoleh dukungan dari DPR-RI.

Untuk melaksanakan kebijakan pembenahan, Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan serangkaian kebijakan yaku:
1. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pembenahan IPDN;
2. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 890.05-506 Tahun 2007 tentang Pembentukan Tim Implementasi Pendidikan Kader Pemerintahan;

Pada tahap selanjutnya, ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 tentang Penggabungan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri Ke Dalam Institut Ilmu Pemerintahan menjadi IPDN mengamanatkan penataan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan meliputi jenis pendidikan, pola pendidikan, kurikulum, organisasi penyelenggara pendidikan, tenaga kependidikan dan peserta didik serta pembiayaan. Pendidikan tinggi kepamongprajaan selain diselenggarakan di Kampus IPDN Pusat Jatinangor, serta Kampus IPDN di Cilandak Jakarta, jugs diselenggarakan di Kampus IPDN Daerah yang menyelenggarakan program studi tertentu sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Untuk memenuhi persyaratan menjadi Institut, di IPDN telah dibentuk 2 (dua) Fakultas yaitu Fakultas Politik Pemerintahan yang terdiri dari 2 (dua) jurusan yaitu jurusan Kebijakan Pemerintahan dan Jurusan Pemberdayaan Masyarakat; Fakultas Manajemen Pemerintahan yang terdiri dari 4 (empat) jurusan yaitu Jurusan Manajemen Sumber Daya Aparatur, Jurusan Pembangunan Daerah, Jurusan Keuangan Daerah, dan Jurusan Kependudukan dan Catatan Sipil.

Kampus IPDN di daerah tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja IPDN ditetapkan: Kampus IPDN Manado, Kampus IPDN Kampus Makassar, Kampus IPDN Pekanbaru, dan Kampus IPDN Bukittinggi, yang selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 892.1-829 Tahun 2009 ditetapkan lokasi pembangunan kampus IPDN di daerah yaitu: di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan, di Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, dan di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat, serta pada saat ini sedang dipersiapkan pengembangan Kampus IPDN di Pontianak di Provinsi Kalimantan Barat, Kampus IPDN di Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kampus IPDN di Jayapura Provinsi Papua.

Kampus IPDN di daerah sejak tahun 2009 telah melaksanakan operasional pendidikan dengan kapasitas Praja 100 Praja setiap kampus dengan penetapan Jurusan/Program Studi yaitu: pertama, Kampus IPDN di Kab. Agam menyelenggarakan Program Studi Keuangan Daerah, Kampus IPDN di Kab. Rokan Hilir menyelenggarakan program studi pembangunan daerah, Kampus IPDN di Kab. Gowa menyelenggarakan Program Studi Pemberdayaan Masyarakat, sedangkan kampus IPDN di Minahasa direncanakan menyelenggarakan Program Studi Kependudukan dan Catatan Sipil.

Mulai tahun 2010 kebijakan Pendidikan Kepamongprajaan dikonsentrasikan pada Program Diploma IV (D-IV) pada se¬mester I, II, III, IV, V dan VI setelah masuk semester VII dan VIII dilaksanakan penjurusan dan pengalihan ke Program Strata Satu (S-1). Pada Kampus IPDN di Cilandak Jakarta diselenggarakan Program Pascasarjana Strata Dua (S-2) dan Strata Tiga (S-3), program profesi kepamongprajaan serta kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.









PENGAJARAN/AKADEMIK




Institut Pemerintahan Dalam Negeri menyelenggarakan pendidikan kedinasan dengan 2 (dua) jenis pendidikan, yaitu pendidikan akademik dengan Program Sarjana dan jenis pendididkan vokasi dengan Program Diploma IV.

Penyelenggaraan pendidikan Program Diploma IV dan Program Sarjana diselenggarakan dengan menggunakan sistem kredit semester yang dipadukan dengan sistem paket persemester. Beberapa pengertian dasar yang digunakan dalam sistem kredit semester akan diungkapkan di bawah ini.

SEMESTER
Semester merupakan satuan waktu terkecil yang digunakan untuk menyatakan lamanya suatu program dalam jenjang pendidikan. Penyelenggaraan program pendidikan suatu jenjang lengkap dari awal sampai akhir akan dibagi ke dalam kegiatan semesteran, sehingga tiap awal semester praja harus merencanakan tentang kegiatan belajar apa yang akan ditempuhnya pada semester itu.

Pada Program Diploma IV dan Prgram Sarjana, satu semester setara dengan kegiatan belajar sekitar 16 sampai 19 minggu kerja/kuliah atau kegiatan terjadwal lainnya, berikut tugas-tugas lainnya, termasuk 2 (dua) sampai 3 (tiga) minggu kegiatan penilaian, dengan diikuti oleh evaluasi pada akhir semester.

Satu tahun akademik terdiri dari dua semester reguler yaitu semester ganjil dan semester genap. Sesudah selesai kegiatan semester genap, apabila diperlukan dapat diselenggarakan kegiatan semester non-reguler (semester pendek).

SISTEM KREDIT SEMESTER
Sistem Kredit Semester adalah suatu sistem penyelenggaraan pendidikan dengan menggunakan satuan kredit semester (SKS) untuk menyatakan :
a. Beban studi praja
b. Beban kerja dosen
c. Pengalaman belajar praja, dan
d. Beban penyelenggaraan suatu program studi.

SATUAN KREDIT SEMESTER
Satuan Kredit Semester disingkat SKS merupakan takaran penghargaan terhadap pengalaman belajar yang diperoleh selama satu semester melalui kegiatan terjadwal perminggu, termasuk kegiatan lainnya berupa kegiatan/tugas terstruktur dan kegiatan/tugas mandiri.

BEBAN STUDI DAN MASA STUDI KUMULATIF
• Beban studi semesteran adalah jumlah SKS yang ditempuh Praja pada suatu semester tertentu. Beban studi kumulatif adalah jumlah SKS minimal yang harus ditempuh Praja agar dapat dinyatakan telah selesai menyelesaikan suatu program studi tertentu.Beban studi Praja pada Program Sarjana dan Program Diploma IV sekurang-kurangnya 144 SKS dan sebanyak-banyaknya 160 SKS, perbedaan kedua program tersebut adalah pada :
(1) Program Sarjana penyelengaraannya terdiri atas 60 % teori dan 40 % praktek/terapan
(2) Program Diploma IV terdiri atas 40 % teori dan 60 % praktek/terapan.

• Masa studi bagi Praja dijadwalkan untuk 8 (delapan) semester dan paling lama 10 (sepuluh) semester.
• Cuti Akademik
Praja dapat melakukan cuti akademik, dengan ketentuan sebagai berikut :
(1) Cuti akademik hanya diperbolehkan apabila Praja sakit berkepanjangan
(2) Cuti akademik tidak diperkenankan lebih dari 2 (dua) semester, baik secara berturut-turut maupun secara terpisah.
(3) Cuti akademik dengan ijin Rektor, dengan cara :
• Praja mengajukan permohonan kepada Dekan/Direktur Program, yang diketahui oleh Dosen Wali yang bersangkutan (dengan membubuhkan tanda tangan), selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum kegiatan akademik berjalan.
• Dengan mempertimbangkan aspek akademik (IP dan SKS yang sudah diperoleh) Dekan/Direktur Program meneruskan permohonan kepada Rektor
• Selama cuti akademik, Praja dibebaskan dari pendaftaran
• Waktu yang dipergunakan cuti akademik diperhitungkan dalam batas waktu maksimal masa studi.

Sampai saat ini, dalam penyelenggaraan pendidikan di IPDN, masih menganut sistem Tritunggal Terpusat yaitu Pengajaran, Pelatihan, dan Pengasuhan (JARLATSUH). Bagian/bidang yang melaksanakan Fungsi Pengajaran bertugas memberikan bekal pengetahuan (knowledge) kepada siswa didik. Bagian/bidang yang melaksanakan fungsi Pelatihan memberikan kemampuan motorik berupa ketrampilan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas kepamongan. Dan Bagian/bidang Pengasuhan memberikan dan menginternalisasi nilai-nilai kepamongprajaan kepada siswa didik yang merupakan calon pamong praja. Penyelenggaraan ketiga fungsi diorganisasikan dalam beberapa Fakultas, yaitu: ( Berdasarkan Permendagri No 51 Tahun 2009 tentang Kurikulum Program Diploma IV )

YUDISIUM
Praja dapat dinyatakan naik tingkat jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Telah lulus seluruh mata kuliah selama 2 (dua) semester dengan IP sekurang-kurangnya 2,00, serta tidak memiliki nilai kosong dan atau E
2. Nilai D yang diperoleh sebanyak-banyaknya 3 (tiga)
3. Telah lulus seluruh kegiatan ekstrakulikuler/Praktek (non SKS) wajib selama 2 (dua) semester dan telah memiliki sertifikat kelulusan
4. Telah memperoleh nilai kepribadian/pengasuhan sekurang-kurangnya dengan IP 2,00
5. Tidak sedang dalam proses hukuman disiplin dan menjalankan hukuman disiplin berat
6. Telah dinyatakan naik tingkat pada tingkat sebelumnya dan telah diyudicium oleh Rektor atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh Rektor









PELATIHAN




Tugas pokok yang melekat pada Bagian Pelatihan adalah menyelenggarakan kegiatan pelatihan yang berorientasi pada aspek keterampilan atau skill peserta didik dalam menghadapi dunia kerja yang nyata di lapangan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2009 tentang Kurikulum Diploma IV Institut Pemerintahan Dalam Negeri, terkait dengan kurikulum pelatihan paradigma yang dikembangkan adalah penguatan keterampilan atau skill praja secara berjenjang. Berjenjang dalam pengertian pengembangan keterampilan praja disesuaikan dengan tingkat atau semester yang sedang ditempuh di IPDN.
1. Tingkat I (Muda Praja) semester I dan II diberikan pelatihan tentang organisasi, tata kerja, manajemen, ketatakelolaan serta dinamika pemerintahan di level Desa dan Kelurahan.
2. Tingkat II (Madya Praja) semester III dan IV diberikan pelatihan tentang organisasi, tata kerja, manajemen, ketatakelolaan serta dinamika pemerintahan di level Kecamatan.
3. Tingkat III (Nindya Praja) semester V dan VI diberikan pelatihan tentang organisasi, tata kerja, manajemen, ketatakelolaan serta dinamika pemerintahan di level Kabupaten dan Kota.
4. Tingkat IV (Wasana Praja) semester VII dan VIII diberikan pelatihan tentang organisasi, tata kerja, manajemen, ketatakelolaan serta dinamika pemerintahan di level Propinsi dan Nasional.









PENGASUHAN




1. Sistem Pengasuhan
Melibatkan tiga komponen yaitu:
• Civitas akademika,
• Pemerintah Daerah,
• Keluarga dan Masyarakat.

2. Metode pengasuhan
• Metode “among asuh” (saling asah, saling asih dan saling asuh).
• Penerapan asas-asas ing ngarso sungtulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani;
• Metode observasi prilaku setiap hari, edukatif dengan pemberian materi pengembangan kepribadian , kegiatan simulasi dan Role Playing (KIAT)

3. Teknik pengasuhan
• Persuasif, edukatif, humanis dan religius serta keteladanan
• Pemberian konseling, bimbingan dan penyuluhan.
• Pengkondisian dengan memberikan seperangkat suasana yang terstruktur, yang harus dilakukan secara berulang kali dan terus-menerus untuk bersikap dan berperilaku seperti budaya dan tata nilai yang sudah disepakati dan menjadi ketentuan yang berlaku bagi seluruh Praja
• Pemberian dukungan dan arahan sehingga Praja mampu bersikap partisipatif, kritis, kreatif dan inovatif.
• Intruksi, yaitu dengan pemberian perintah kepada Praja untuk mengetahui, meresapi dan melakukan serta tidak melakukan sesuatu dalam rangka meningkatkan ketrampilan, ketangkasan, kemahiran kepribadian yang seimbang untuk mencapai kebulatan tujuan pendidikan.
• Pemberian Kepercayaan dan tanggung jawab kepada Praja pada suatu hal tertentu.
• Pemberian ganjaran kepada Praja baik berupa penghargaan dan sanksi.

4. Kurikulum Pengasuhan
a. Pembinaan dan pengembangan kepribadian
Pembinaan dan pengembangan kepribadian dilaksanakan melalui kegiatan edukatif, pengarahan dan pengamatan terhadap materi pengembangan kepribadian. Kegiatan pengarahan dan observasi dilaksanakan pada setiap hari oleh Pamong Keprajaan (Wali Wisma) sedangkan kegiatan edukatif pemberian materi dilaksanakan pada hari pengasuhan (Hari Sabtu) secara bergiliran setiap angkatan. Adapun Materi pembinaan dan Pengembangan Kepribadian terdiri dari:
1). Takwa (Fath)
a) Ketaatan beribadah
b) Sikap Toleransi
c) Kejujuran

2). Kepedulian (Care)
a) Kepekaan Sosial
b) Adaptasi
c) Tanggungjawab

3). Etika (ethics)
a) Etika Pribadi
b) Etika Sosial
c) Kesopanan

4). Performance
a) Sikap Penampilan
b) Kebersihan Pribadi
c) Kebersihan Lingkungan
d) Kemampuan Komunikasi

5). Kepemimpinan (Leadership)
a) Kemampuan memotivasi
b) Keteladanan
c) Pengambilan Keputusan
d) Keaktifan Beroganisasi

6). Disiplin (Discplin)
a) Aktualisasi diri
b) Ketaatan pada aturan
c) Mawas Diri
d) Kemandirian

b. Pembinaan Mental Kepamongprajaan
Pembinaan Mental Kepamongprajaan dilaksanakan melalui kegiatan Role Playing atau KIAT yang terdiri dari Outbond, Hunting Fox, Lintas Alam, Pembersihan Lingkungan Masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bergiliran setiap angkatan pada setiap hari pengasuhan (Hari Sabtu).

c. Pembinaan Kesemaptaan Jasmani
Pembinaan Kesemaptaan Jasmani dilaksanakan melalui kegiatan olahraga kesemaptaan secara terprogram. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bergiliran setiap angkatan pada hari pengasuhan (Hari Sabtu).

d. Sistem evaluasi pengasuhan









FILOSOFI/MAKNA PANGKAT




1. MUDA PRAJA, adalah praja tingkat awal atau yang baru memasuki jenjang pendidikan di IPDN. Muda artinya awal, pada tahap Muda Praja ini, sistem pendidikan yang diterapkan adalah penanaman, artinya pada tahap ini adalah tahap penanaman mindset. Muda Praja sendiri memiliki evolet pangkat dengan Lambang Balok Polos. Polos menandakan tidak ada angkatan dibawahnya.

2. MADYA PRAJA, adalah praja tingkat dua di IPDN. Madya = Menengah, artinya pada tahap Madya ini sudah bukan lagi sistem penanaman seperti Muda Praja namun sudah mendapat peningkatan yakni lebih kepada pembelajaran. Madya Praja memiliki Evolet Pangkat dengan Lambang Balok polos dengan satu buah bintang diatasnya, yang mengartikan bahwa Madya Praja memiliki tanggung jawab untuk mengayomi 1 angkatan di bawahnya, yakni Muda Praja.

3. NINDYA PRAJA, adalah praja tingkat tiga di IPDN, Nindya = Tanpa Cela, artinya pada tahap nindya ini praja diharapkan sudah saatnya bisa menerapkan apa yang sudah didapat ketika menjadi Muda dan Madya dalam kehidupan sehari-hari didalam kampus IPDN. Madya Praja memiliki Evolet Pangkat dengan lambang balok dengan 2 buah bintang diatasnya, yang mengartikan Nindya Praja memiliki tanggung jawab untuk mengayomi 2 angkatan dibawahnya yakni Muda dan Madya Praja.

4. WASANA PRAJA, adalah Praja tingkat akhir di IPDN, Wasana = Dewasa, artinya pada tahap wasana ini praja diharapkan bisa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang dewasa yang bisa menerapkan apa yang sudah didapat ketika menjadi Muda Praja, Madya Praja dan Nindya Praja. Bukan hanya menerapkan di kehidupan kampus tetapi juga di kehidupan nyata diluar kampus. Wasana Praja memiliki Evolet Pangkat dengan lambang balok dengan 3 buah bintang diatasnya, mengartikan Wasana Praja memiliki tanggung jawab untuk mengayomi 3 angkatan dibawahnya, yakni Muda Praja, Madya Praja dan Nindya Praja.

5. PURNA PRAJA, inilah tahap paling akhir dari seorang praja, Purna Praja atau sebutan bagi alumni Praja IPDN. Dalam tahap ini, diharapkan seorang purna praja mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Purna Praja dilambangkan dengan sesosok Manusia yang sempurna, yang bisa menjaga nama baik sendiri maupun almamater. Purna Praja juga memiliki identitas seperti halnya Praja, namun bukan berupa Evolet Pangkat seperti ketika mengenyam pendidikan di IPDN melainkan satu buah lencana Purna Praja dan satu Buah Cincin Purna Praja.





Selasa, 16 Agustus 2011

PL I/PPL

Seperti yang telah saya singgung di dalam tulisan saya sebelumnya ( baca : Dengarkan Curhatku ), masa-masa yang sedang saya lewati ini atau tepatnya setelah saya melewati UAS Pengajaran, Ujian Akhir Pelatihan, Tes Kesamaptaan dan yang paling terakhir adalah Praktek Lapangan I ( PL I ) atau Praktek Pengenalan Lapangan ( PPL ), merupakan masa-masa terakhir saya sebagai seorang Muda Praja IPDN angkatan XXI atau pangkat termuda di tingkatan pertama ( tingkat satu ) di dalam dunia pendidikan tinggi kedinasan, pendidikan tinggi kepamongprajaan, Institut Pemerintahan Dalam Negeri ( IPDN ). Karena pada tanggal 19 Agustus 2011 ( kabar terakhir menyebutkan akan dipercepat menjadi tanggal 18 Agustus 2011 ), saya dan 99 rekan lainnya di kampus IPDN Daerah Kalimantan Barat khususnya dan umumnya seluruh rekan satu angkatan saya di seluruh kampus daerah ataupun yang ada di kampus pusat Jatinangor, berjumlah 1500 orang, berasal dari 33 provinsi di seluruh Indonesia dan lebih dari 500 kabupaten/kota, akan melakukan Yudicium ( kenaikan tingkat sekaligus pangkat ) menjadi seorang Madya Praja, tingkat dua di IPDN. Dan tak lama setelah itu, kami semua akan mendapatkan rehat “sejenak” dari segala rutinitas kami sebagai seorang Praja dalam sebuah siklus kehidupan praja, menjadi seorang manusia biasa, dalam sebentuk “hadiah” bernama “Cuti Hari Raya Idul Fitri”, terhitung dari tanggal 19 Agustus 2011 s.d. 17 September 2011.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menceritakan kisah-kisah saya selama Muda Praja, tidak..tidak sama sekali. Saya tidak akan menjadi se-lebay itu, karena bagi saya pribadi, perjalanan saya masih terlampau jauh dan akan semakin terasa jauh, semakin terasa panjangnya perjalanan ini bila harus dilakukan sebuah perenungan, mengenang masa-masa yang “hanya” terlewati selama satu tahun. Biar saja, saya menganggap itu semua menjadi suatu hal yang biasa, saya biarkan itu berjalan selayaknya dan sewajarnya, saya memilih untuk menjadi biasa dan akan membuat semua hal ini luar biasa bila saya telah melewati setiap tahapan di pendidikan ini.

Di tulisan ini, saya akan bercerita panjang lebar atau mungkin singkat padat mengenai pengalaman pertama saya melewati PL I / PPL.

PL I / PPL
Saya pribadi tidak tau secara pasti istilah mana yang paling tepat untuk menyebutkan kegiatan ini, apakah PL I atau PPL ? Tapi, untuk menghindari sebuah kerancuan maka saya akan menggunakan kedua istilah itu sekaligus. Karena menurut saya kedua istilah sama-sama benar, Praktek Lapangan I dilakukan oleh Muda Praja, karena masih merupakan tingkatan yang paling bawah, maka Praktek Lapanagan ini hanya bertujuan sebagai suatu wahana pengenalan saja sehingga disebut sebagai Praktek Pengenalan Lapangan lalu karena Praktek Lapangan ini dilakukan secara berkelanjutan di setiap tingkatannnya, dan karean ini merupakan Praktek Lapangan yang pertama maka disebut lah Praktek Lapangan I. So, I prefer to call it : PL I / PPL. :)

PL I / PPL secara sederhanaya merupakan sebuah Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) atau Praktek Kuliah Lapangan ( PKL ) bila kita coba analogikan dengan apa yang ada di Perguruan tinggi lainnya dan karena memang secara umum gambaran kegiatan yang dilakukannya memang tidak jauh berbeda. Satu hal yang berbeda, bila KKN di perguruan tinggi lainnya dilakukan di saat semseter akhir, maka di IPDN Praktek Lapangan dilakukan setiap akhir semester genap di setiap tingkatannya. Hal ini dilakuakn karena sesuai dengan tujuan IPDN itu sendiri untuk mampu menyiapkan orang-orang Ahli Pemerintahan yang siap pakai.

Berikut saya akan jelaskan secara rinci berdasarkan Buku Petunjuk Teknis Praktek Lapangan I Muda Praja Angkatan XXI IPDN Kampus Kalimantan Barat




LATAR BELAKANG PL




Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebagai lembaga pendidikan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri merupakan penggabungan STPDN dan IIP berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2004 tentang Penggabungan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dengan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) menjadi Intitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Sesuai dengan visi IPDN, yakni “Menjadi Lembaga Pendidikan Tinggi kepamongprajaan yang terpercaya dalam mengemban tugas pengembangan ilmu, pembentukan perilaku kepamongan dan penyedia kader pemerintahan yang terampil”, maka dalam aplikasinya visi tersebut ditempuh melalui tiga jalur pendidikan yaitu pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan atau disingkat Jarlatsuh.

Praktik Lapangan (PL), sebagai upaya mengimplementasi isi pelatihan-pelatihan yang diperoleh di kampus merupakan ciri khas kegiatan IPDN yang diselenggarakan di lingkungan pemerintahan desa/kelurahan dan masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan pemerintahan desa/kelurahan tersebut. Pelaksanaan PL dilaksanakan IPDN setiap akhir semester genap dan berjenjang mulai tingkat Muda, Madya, Nindya hingga Wasana Praja. Melalui PL para Praja akan mendapatkan pengalaman belajar dari lapangan atau di luar kampus. Kedudukan praktik lapangan sebagai implementasi kegiatan pelatihan adalah wajib, artinya Praja diharuskan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan PL tanpa terkecuali. Praja yang berhasil mengikuti PL adalah mereka yang dinyatakan LULUS oleh Pamong Pengasuh dan Pembimbing Teknis. Untuk dinyatakan berhasil atau LULUS para Praja hendaknya menunjukkan; (1) keaktifan, (2) kecakapan, (3) kemampuan bekerja sama, (4) disiplin, (5) hasil praktik, dan (6) menyelesaikan laporan kegiatan.
Praktek lapangan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya merupakan pengamalan praktis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi secara melembaga melalui metode ilmiah langsung kepada masyarakat yang membutuhkannya dalam upaya ikut serta menyukseskan penyelenggaraan program pemerintah dan pemerintah daerah melalui transfer of knowledge, transfer of ability, dan transfer of value. Di samping itu, pengabdian kepada masyarakat juga berfungsi memberikan pengalaman belajar kepada Praja untuk hidup di tengah masyarakat dengan membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya melalui keterpaduan dharma pendidikan/pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara interdisipliner dan antar sektor.

Secara umum, beberapa pemikiran yang melatarbelakangi perlunya penyelenggaraan praktek lapangan oleh IPDN ini antara lain:
1. Keterbatasan Praja dalam menggali pengetahuan dan ketrampilan teknis maupun praktis di kampus, sehingga perlu melengkapinya dengan terjun kelapangan;
2. Perlunya keserasian antara perkembangan ilmu (teori) di kelas dengan kondisi emperik di lapangan (transfer of knowledge);
3. Perlunya proses pendewasaan Praja melalui belajar mengenal dan berhadapan langsung (interaksi) dengan segenap unsur pemerintah daerah (user) terutama pada level terbawah termasuk masyarakat (end user).

Berdasarkan pertimbangan tersebut, fungsi praktek lapangan bagi Praja utamanya adalah sebagai wahana untuk memperkaya atau melengkapi khasanah pengetahuan kepemerintahan dengan cara:
1. Memberikan pemahaman kepada Praja secara langsung mengenai berbagai aktifitas penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan;
2. Meningkatkan kemampuan Praja untuk melakukan analisis potensi dan masalah, berikut konsep pemecahannya;
3. Mmeningkatkan kemampuan Praja untuk melakukan/memperagakan/ mengikuti aktivitas manajerial kepemerintahan di lapangan;
4. Meningkatkan kemampuan Praja untuk melakukan pengadian intelektual kepada masyarakat;
5. Memberi peluang kepada para dosen, pelatih, dan pengasuh untuk sebagai pendorong dalam meningkatkan profesinya melalui kegiatan proses pembimbingan kepada Praja di lapangan;
6. Memberi motivasi bagi aparat pemerintahan desa dalam upaya menyukseskan pelaksanaan program-program pemerintah dan pemerintah daerah.

Pelatihan lapangan sebagai bentuk metode belajar sambil bekerja, sehingga dapat memberikan peluang kepada peserta untuk menguji ide dan teknik tertentu yang dipelajarinya dari kehidupan nyata sehari-hari. Adapun pendekatan yang dipergunakan dalam praktek lapangan ini meliputi;
1. Emperical Rasional Strategy
Pendekatan ini beranjak pada pengalaman/kondisi obyektif secara rasional agar dapat diterima oleh semua pihak.
2. Normatifve Reeducative Strategy
Dalam pelaksanaan praktek lapangan perlu memperhatikan norma-norma, baik norma agama, norma hukum maupun norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.
3. Partisipatif
Untuk memahami pengalaman orang lain atau memperoleh masukan, perlu yang bersangkutan melibatkan diri dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang/masyarakat lain tersebut.
4. Institusionalistis
Pendekatan yang memperhitungkan keterkaitan kegiatan dengan lembaga- lembaga/organisasi.

Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan praktek lapangan antara lain:
1. Dokumentasi dan Survei
Dilakukan dalam upaya untuk memahami gejala secara mendalam, dengan cara pengumpulan data secara sistematis dan intensif.
2. Bhakti Sosial (Baksos)
Praja ikut terjun langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dengan maksud untuk memotivasi masyarakat agar berpartisasi dalam kegiatan pembangunan.
3. Diskusi
Digunakan oleh Praja dalam kegiatan bersama-sama masyarakat maupun antar Praja dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan yang muncul di lapangan.
4. Promosi
Dilakukan dalam rangka menyebarluaskan informasi tentang IPDN kepada perangkat desa dan masyarakat, sehingga masyarakat dapat lebih dekat mengenal dan memahami keberadaan/eksistensi lembaga pendidikan IPDN.










MAKSUD DAN TUJUAN PL




1. Maksud
Praktek Lapangan I merupakan wujud implementasi tridharma perguruan tinggi, khususnya dharma pengabdian pada masyarakat.

2. Tujuan
Secara khusus, tujuan yang hendak dicapai dalam penyelenggaraan Praktek Lapangan I antara lain:
a. Agar Muda Praja mengetahui, mengenal, dan membantu berbagai aktivitas kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan pada lokasi praktik sesuai program dan kegiatan pemerintah daerah dan lembaga;
b. Agar Muda Praja memiliki penguasaan, kemampuan, dan keterampilan teknis dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di desa lokasi praktik;
c. Agar setiap Muda Praja mengetahui kondisi obyektif penyelenggaraan pemerintahan di desa sebagai input sekaligus memperkaya pendalaman materi yang telah diperoleh dalam perkuliahan;
d. Agar setiap Muda Praja memperoleh bekal memadai sekaligus pembanding dalam penyelenggaraan praktik lapangan selanjutnya.










PENYELENGGARAAN PL




Sebagai sebuah tradisi akademik, sesuai dengan kurikulum dan kalender akademik IPDN dikenal adanya 5 (lima) jenis penyelenggaraan praktek lapangan, yaitu:
1. Praktek Lapangan I untuk Muda Praja (tingkat I) dilaksanakan pada semester II;
2. Praktek Lapangan II untuk Madya Praja (tingkat II), dilaksanakan pada semester IV;
3. Praktek Lapangan III untuk Nindya Praja (tingkat III), dilaksanakan pada semester VI;
4. Bhakti Karya Praja (BKP)/Latsitarda Nusantara untuk Wasana Praja (tingkat IV), dilaksanakan pada semester VII; dan
5. Magang untuk Wasana Praja dilaksanakan pada semester VIII.

Tahapan penyelenggaraan praktek lapangan disesuaikan dengan kompleksitas masalah dan tingkat kemampuan Praja, diamsusikan tingkat permasalahan yang dihadapi di lokasi praktek lapangan masih bersifat mendasar dan relatif tidak kompleks/rumit dan kemampuan pemahamanya masih terbatas, sehingga tujuan peyelenggaraaan praktek lapangan masih sebatas mengenal, mempelajari dan mengetahui aktivitas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan pada tingkat desa. Semakin tinggi tingkatan Praja berkorelasi terhadap kompleksitas masalah yang memadai sesuai dengan materi perkuliahan dan pelatihan yang sudah diproses di kelas.

Namun demikian, terkadang perencanaan yang telah disusun oleh Bagian Pelatihan tidak sesuai dengan kenyataan atau kondisi di lapangan, terutama dari pihak pemerintah desa dan masyarakat yang seolah-olah tidak mau tau atau tidak peduli dengan keterbatasan Praja selaku peserta praktek. Praja (khususnya Muda Praja) umumnya dianggap sudah mampu dan menguasai berbagai permasalahan yang dihadapi oleh keduanya. Bahkan terkadang pula masyarakat mengharapkan adanya bantuan setiap kali desa menjadi sasaran lokasi praktek. Pemahaman tersebut dilatarbelakangi karena pada umumnya peserta praktek lapangan (kuliah kerja nyata) adalah para mahasiswa yang sudah senior atau akan menyelesaikan perkuliahan, sehingga wajar pihak pemerintah desa dan masyarakat menuntut lebih karena para mahasiswa sudah diekali pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, koordinasi timbal balik secara intensif sangat diperlukan antara berbagai pihak, terutama antara Bagian Pelatihan selaku leading sector penyelenggaraan praktek lapangan dengan pihak pemerintah daerah, sehingga pemerintah daerah dapat mengkomunikasiakan secara langsung dan memberikan pemahaman menyeluruh kepada pihak pemerintah kecamatan, desa dan masyarakat mengenai keterbatasan Praja.
Pada dasarnya, sasaran lokasi praktek lapangan pada semua tingkatan Praja adalah desa maupun kelurahan. Namun demikian, mereka diberikan beban untuk mampu menguasai dan melakukan pendampingan sesuai dengan tingkatanya sebagaimana matriks berikut :
Muda Praja
Pemahaman pada Tingkat Desa/Kelurahan
Madya Praja
Pemahaman pada Tingkat Kecamatan
Nindya Praja
Pemahaman pada Tingkat Kabupaten/Kota
Wasana Praja
Pemahaman pada Tingkat Provinsi

Makna Pendampingan pada setiap penyelenggaraan praktek lapangan adalah Praja hanya mendampingi/membantu saja, sedangkan aktor utama tetap dari pihak pemda (kabupaten, camat dan kades/lurah beserta perangkatnya, untuk tingkat kecamatan dan desa/kelurahan).
Bentuk pendampingan dapat berupa keterlibatan langsung atau interaksi yang dilakukan oleh Praja dalam mendampingi aparat dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan maupun dalam bentuk pembekalan kepada aparat oleh sebuah tim fasilitator yang terdiri dari pihak emda, bingnis dan Praja.
Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai penyelenggaraan praktek lapangan, berikut disajikan perbedaan tiap-tiap jenjangnya :

JENIS KEGIATAN SASARAN TUJUAN
Praktek Lapangan I Muda Praja Mengenal, mempelajari, dan mengetahui kegiatan administrasi pemerintahan desa/kelurahan
Praktek Lapangan II Madya Praja Mengenal, mempelajari, dan membantu kegiatan penyelenggaraan organisasi pemerintahan desa/kelurahan
Praktek Lapangan III Nindya Praja Menelaah/menganalisis secara menyeluruh permasalahan di desa/ kelurahan berikut solusinya
BKP/Latsida Wasana Praja Berlatih memberikan layanan dan pengabdian kepada masyarakat










DASAR PENYELENGGARAAN PL I/PPL MUDA PRAJA ANG. XXI IPDN KAMPUS KALBAR DI KOTA PONTIANAK




Dasar hukum yang melatarbelakangi penyelenggaraan Praktek Lapangan I Tahun Akademik 2010/2011 di Kota Pontianak antara lain:
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2. Keputusan Presiden RI Nomor 87 Tahun 2004 tentang Penggabungan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dengan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) menjadi Intitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN);
3. Keputusan Presiden RI Nomor 83/M Tahun 2009 tentang Pengangkatan Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sumaryadi, M.Si. sebagai Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri;
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 51 Tahun 2009 tentang Kurikulum Program Diploma IV Institut Pemerintahan Dalam Negeri;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Institut Pemerintahan Dalam Negeri;
6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 425.12-22 Tahun 2009 tentang Lokasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Daerah;
7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 420/397/IPDN/2011 tentang IPDN Kampus Kalbar.
8. Keputusan Rektor tentang kalender akademik 2011 Nomor 423-232 tahun 2011
9. Surat jawaban Walikota Pontianak Nomor 423.4/584/BKD/2011 tentang Pelaksanaan Kegiatan Praktek Lapangan I Muda Praja IPDN Tahun Akademik 2010/2011;
10. Keputusan Direktur IPDN Kampuas Kalimantan Barat Nomor 423.4-162- Tahun 2011 tanggal 18 Juni tentang Penugasan Pendampingan Praja di Lapangan Dalam Rangka Praktek Lapangan I Muda Praja Tahun Akademik 2010/2011 di Kota Pontianak;
11. Surat Direktur IPDN Nomor 424/155/2011 kepada Walikota Pontianak tanggal 4 Juli 2011 Rencana Ekspos dan Survei Teknis Praktek Lapangan I Bagi Muda Praja IPDN Tahun Akademik 2010/2011;
12. Surat Penyampaian Jadwal Nomor 423.4/159/2011 tentang Pembekalan Umum dan Khusus Bagi Peserta Praktek Lapangan I;







PL I/PPL di IPDN Kampus Kalbar dilaksanakan di 10 kelurahan di 3 kecamatan di Kota Pontianak. 100 Praja, terdiri dari 73 Praja Putra dan 27 Praja Putri yang ada di kampus ini,, dibagi kedalam 10 kelompok yang terdiri dari sepuluh Orang. Sehingga satu kelurahan ditempati oleh satu kelompok saja. Setiap kelompok dibimbing oleh satu Pembimbing Teknis, setiap kecamatan dipimpin atau dikoordinir oleh satu Kasatlatcam ( Kepala Satuan Latihan Kecamatan ) dengan satu orang Petugas TU, lalu dipimpin langsung oleh satu orang Kasatlatkot ( Kepala Satuan Latihan Kota ). Setiap kelompok yang telah ditempatkan di setiap kelurahan, akan tinggal di rumah salah satu rumah warga di kelurahan tersebut atau biasa disebut dengan istilah Induk Semang ( Orang Tua Asuh ), pemilihan dan penempatan diatur sepenuhnya oleh setiap kelurahan. Hal ini bertujuan agar setiap praja mampu untuk bersosialisasasi dan belajar hidup bermasyarakat serta mendapatkan pengalaman langsung hidup di tengah-tengah masyarakat, karena dalam setiap penyelenggaraan PL terdiri dari dua program, yaitu Program Umum dan Program Khusus yang wajib serta harus dilaksanakan dengan baik oleh setiap prajanya. Program umum terdiri dari bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sedangkan program khusus adalah tugas yang diberikan oleh Bidang Pelatihan IPDN atau merupakan program kerja dari Pemerintah Daerah setempat.

Dalam PL I/PPL bagi muda praja bidang pemerintahan dan pembanguanan serta kemasyarakatannya di fokuskan pada tingakat kelurahan/desa, sehingga mereka setiap harinya akan mengenal, membantu, dan memahami tata kerja di lingkup kelurahan/desa dengan ikut bekerja/magang di kelurahan/desa setempat.

Saya sendiri masuk ke dalam kelompok IV, yang mendapatkan tugas di Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak dengan Pembimbing Teknis Pak Dang Dadan M., S.S.os. Saya ditempatkan di kelurahan tersebut bersama 9 rekan lainnya tediri dari 6 putra : Arif Setio Aji ( Jateng ), Ardian Anggawa P. P. ( NTB ), Riza Muntasir ( Aceh ), Calvin Bilasi ( Papua ), M. Angga S. ( Sumut ), dan Rudi Gunawan ( Jambi ) serta 3 orang Putri : Savitri ( Kalbar ), Febrian P. ( Banten ) dan Renny R. ( Kalteng ).

Beban terasa lebih berat saya rasakan dan terasa membebani pundak ini karena saya dipilih menjadi ketua kelompok IV kelurahan Sungai Beliung. Jujur saya akui, hal itu benar-benar terasa menjadi beban bagi saya, karena saya tidak terlalu mengerti tentang apa yang nantinya hendak kami perbuat di sana, apa yang harus kami lakukan. Saya masih blank dan takut. Karena ini adalah tentang hidup langsung di masyarakat dan kerja langsung di dunia kelurahan, sehingga setiap kesalahan sudah tidak bisa lagi kita lakukan, karena kesalahan pada hakikatnya hanya boleh kita lakukan di dunia pendidikan yang memang merupakan suatu dunia pembelajaran, sehingga suatu kesalahan menjadi wajar adanya. Tapi, di dunia nyata di lingkungan nyata, kesalahan sudah tidak lagi bisa dibenarkan bila kita lihat secara akademis dari sudut pandang idealis. Walaupun memang tidak begitu adanya, itu hanya bentuk pembenaran dari kekhawatiran yang saya miliki pada waktu itu.

Pembekalan yang diberikan lembaga yang bertujuan agar kita mempunyai suatu gambaran mengenai tugas kita nanti di lapangan benar-benar tidak terlalu membantu, setidaknya itu menurut saya pribadi. Karena dalam setiap pembekalan tidak ada yang menyebutkan secara pasti apa dan seperti apa, semua pemateri hanya menyebutkan gambaran secara umum, padahal secara jelas dan nyata kami ini masih tingkat pertama dan baru pertama menjalani praktek lapangan. Bahkan dari apa yang saya tangkap, pemateri menyebutkan tugas-tugas secara umum, yang saya pikir tidak sesuai dengan judul awal nya, yaitu Praktek Pengenalan Lapangan. Ya..tegang benar-benar saya rasakan!
Saya membayangkan dua minggu ( 27 Juli 2011 – 9 Agustus 2011 ) akan menjadi dua minggu terlama dan terberat yang akan saya jalani.
damn...

PELAKSANAAN PL I/PPL
Dan ternyata semua yang saya pikirkan dan rasakan memang terlalu berlebihan, dua minggu yang saya jalani menjadi dua minggu yang penuh dengan pengalaman berharga. Dua minggu itu memang berat adanaya, tapi tidak terlalu berat untuk dilewati, dua minggu itu memang lama adanya, tapi tidak terlalu lama untuk dilalui.

Di kelurahan Sungai Beliung ini, kami ( Kelompok IV ) ditempatkan di 3 Induk Semang ( untuk selanjutnya saya akan menyebutnya Orang Tua asuh ), yaitu :




ORANG TUA ASUH KELOMPOK IV




Bapak Franciscus X. Ijuk
Gg. Gandapura IA No. 26 RT/RW : 02/04
Praja yang tinggal :
1. Adima Insan Akbar Noors – 21.0431
2. Calvin Bilasi - 21.1398
3. Riza Muntasir – 21.0044

Bapak Yosef
Gg. Gandapura IA No. 18 RT/RW : 01/04
Praja yang tinggal :
1. Arif Setyo Aji - 21.0554
2. Ardian Anggawa - 21.0902
3. Rudi Gunawan - 21.0295
4. M. Angga S. - 21.0102

Bapak Haji Mahmud
Jl. Komyos Sudarso Gg. Lamtoro Jalur 3 No. 20
RT/RW : 05/05
Praja yang tinggal :
1. Febrian P. - 21.0542
2. Renny R. – 21.0796
3. Savitri – 21.0765







Di dalam penempatan Orang Tua Asuh ini saya sudah benar-benar bisa belajar bagaimana caranya hidup bermasyarakat dengan baik, karena dua orang tua asuh kami bergama nasrani. Tapi dengan sangat terbuka mau menerima kami dan bahkan rela menyiapkan makanan sahur untuk kami. Ini toleransi namanya!!

Dalam PL I/PPL ini pun saya bisa belajar banyak bagaimana gaya dan cara kepemimpinan saya masih harus banayak saya perbaiki, dengan jumlah yang hanya 10 orang saya belum mampu untuk berkonsolidasi dan memimpin rekan-rekan saya secara baik dan benar, ketika seharusnya sebuah kelompok itu disibukan oleh permasalahan tentang program kerja, tapi kelompok kami masih berkutat dengan permasalahan displin serta kebersamaan, sehingga saya akui secara fair kelompok kami sangat minimalis dalam setiap program kerja dalam setiap bidang yang ditugaskan.

Saya mersakan bagaimana susahnya mengatur 9 orang dengan watak yang berbeda berasal dari 9 provinsi yang berbeda. Sehingga saya menjadi tidak heran apabila melihat suatu pemimpin yang gagal dan juga sebaliknya saya akan memuji setinggi langit apabila ada pemimpin yang mampu memimpin dengan baik! I swear to God, it’s a hard job to do!!

Walaupun begitu, secara keselurahan kami ( Kelompok IV ) mampu melaksanakan tugas dengan baik, mampu mendapatkan apa yang menjadi tujuan dan maksud PL I/PPL ini. Setidaknya, setiap program kerja yang kami buat sendiri mampu kami kerjakan dengan baik.

Akhirnya PL I/PPL ini memang merupakan suatu pembelajaran serta pengalaman hidup yang benar-benar berharga bagi hidup dan kehidupan saya hari ini dan kedepannya nanti.
TERIMA KASIH KELOMPOK IV, TERIMA KASIH SUNGAI BELIUNG!
Don’t Forget Us!!




FOTO






















Sabtu, 13 Agustus 2011

Dengarkan Curhatku



Sebagaimanapun kuatnya saya mengutamakan sebuah proses daripada sebuah hasil ( baca : Proses atau Hasil ? ), sebagaimanapun hebatnya argumen yang saya utarakan untuk tetap memperjuangkan dan menghasut orang-orang agar berproses yang benar dan tidak mendewakan hasil semata ( baca : Proses yang Benar atau Hasil yang Baik ? ), dan sebagaimanapun teguhnya saya menentang itu semua, menentang orang-orang yang menafikan sebuah proses, saya tetap terjebak, saya tetap merupakan bagian dari sebuah dunia akademisi yang segala sesuatunya dinilai dari sebuah hasil akhir, sebuah angka dikonversi menjadi sebuah huruf. Itu lah acuan, itu lah standar yang akan selalu dilihat dijadikan sebuah ukuran untuk menentukan kualitas seorang manusia dan terkadang menentukan nasib akhir seorang manusia itu, menaikan prestis, menjaga harga diri, sebuah kebanggaan, sebuah prestasi sehingga kita dikenal, dipandang lebih, lebih dihormati dan dihargai lebih. Sebuah aktualisasi yang benar-benar sangat ampuh untuk menaikan diri ini ke tingkatan yang sangat mapan.

Jujur saya akui, saya tidak akan pernah lagi membahas ini semua, mengungkit lagi tentang hal ini, bilamana hasil yang saya peroleh, hasil yang saya dapatkan sesuai dengan harapan serta impian saya. Akan tetapi, lagi-lagi, saya terjatuh, terbentur lagi ke dasar bumi, merasakan lagi pahitnya sebuah idealisme, hasil yang saya dapatkan jauh dari apa yang saya cita-citakan. Hal ini bertambah sakit, bertambah perih, menyesakan nafas di dada, membuat saya berkali-kali menelan ludah sendiri, dan mengumpat tajam di dalam hati, adalah fakta yang benar-benar menampar tajam di muka, saya harus kembali kalah oleh mereka-mereka yang saya anggap tidak berproses dengan baik, cenderung kotor dan menyalahi aturan. Mereka mampu tersenyum bangga, tertawa lepas dan berbesar hati karena mampu mendapatkan hasil yang teramat maksimal, hasil yang terlampau bagus. Tidak, saya tidak bermaksud menjadi seseorang yang sok benar ataupun sok suci, tapi apakah mungkin mereka bisa berbangga, bisa mendapatkan hasil yang sangat bagus, tapi dalam prosesnya mereka lalui dengan penuh kecurangan, setiap pembelajaran mereka lalui dengan penuh rasa kantuk, setiap tugas mereka kerjakan dengan sangat tergesa-gesa, mereka kerjakan di saat akhir, penuh dengan copy-paste, dan ujian pun meraka kerjakan dengan penuh siasat, penuh tipu muslihat. Dan tidak, saya tidak menghakimi semua orang, saya hanya menilai beberapa orang, hanya oknum, sebagian kecil ( mungkin ). Karena justru dengan hanya sebagian orang-orang itu lah hal ini menjadi sangat menyakiti saya. Saya tak akan pernah sekecewa ini, saya akan dengan senang hati menerima ini semua, bila ternyata saya dikalahkan oleh orang-orang yang berproses dengan benar dan juga mendapatkan hasil yang baik. Dan itu juga yang saya perlihatkan, saya tidak segan dan tidak malu untuk berkata, bahwa saya kagum dan salut terhadap seorang sahabat saya disini, seorang teman, seoran panutan di kampus IPDN Kalbar ini, A.O.W. ( suatu saat saya akan menulis sebuah tulisan khusus yang membahas kekaguman saya terhadap sosok manusia satu ini ), dia merupakan contoh nyata dari seseorang yang pintar, cerdas, seorang manusia yang generalis, mampu untuk berproses secara benar dan kemudian mendapatkan hasil yang sepadan.
I SALUTE YOU!!
Dia contoh serta bukti nyata, bahwa kita pasti bisa untuk Jujur dan Berprestasi.

Ya, saya akan sangat rela bila harus kalah dengan cara seperti itu, tapi yang terjadi tidaklah demikian. Tapi, cukup, untuk bertindak menjadi seseorang pengeluh, mencari-cari pembenaran dengan mencari-cari kesalahan orang lain, sekaan-akan diri ini paling benar tak ada satu kesalahan pun. ( baca : Bodoh, sebodohnya Manusia )

Oleh itu, saya mencoba untuk mengoreksi ke dalam, mawas diri, melakukan sebuah evaluasi. Saya mencoba menarik nafas sedalam mungkin, tersenyum lepas, mengucapkan dengan penuh getir sebuah kata indah penanda rasa syukur dalam sebentuk kalimat hamdalah. Saya syukuri itu, saya anggap ini adalah sebuah hasil yang sangat maksimal, tidak berdasarkan pendapat saya, tapi saya yakini, ini adalah yang sangat maksimal menurut Allah Swt. Karena mungkin menurut penilaian-Nya, segala usaha yang saya lakukan, segala daya yang telah saya upayakan, inilah hasil termaksimalnya. Mungkin ini lah memang kualitas saya, jadi saya coba terima ini dengan berbesar hati dan menjadikan ini sebuah pembelajaran, sebuah motivasi agar terus berusaha lebih maksimal lagi.

Terkadang saya pun berpikir mungkin ini juga sebuah bagian dari karma hidup, saya akui dulu, saya pun sangat mendewakan sebuah hasil akhir, saya lakukan segala macam usaha tanpa melihat apakah itu benar atau layak, hanya untuk mendapatkan sebuah hasil yang baik. Dan sekarang, di saat rasa sadar itu telah muncul, ketika saya mencoba membangun sebuah idealisme dalam diri, saya harus terbentur dan terhadang oleh situasi yang berbalik menyerang. Situasi yang di dalamnya justru orang lain lah yang berbuat demikian. Sehingga terkadang saya pun tersenyum kecil melihat serta menyadari realita ini. Hal lain, yang mungkin juga berpengaruh adalah karena masih banyaknya dosa atau maksiat yang secara rutin masih saya lakukan, dosa-dosa kecil yang tak terasa atau tak disengaja sampai ke perbuatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, sehingga hal itu lah yang menghambat segala doa dan ikhtiar yang telah saya lakukan. Hingga akhirnya Allah belum ihklas sepenuhnya untuk memberi diri ini hasil yang memuaskan atau yang sesuai dengan segala impian dan cita-cita saya.

Ya, segala evaluasi itu, coba saya telaah coba saya pelajari dan coba saya untuk perbaiki, dalam diam. Diam memang emas, tapi tidak selamanya menjadi emas memang. Tapi, diam selalu menjadi pilihan yang saya sukai, karena dengan diam saya mampu untuk menahan segala emosi yang berlebih yang sedang saya rasakan. Saya mampu untuk mengendalikan rasa senang dan bahagia serta mampu untuk memendam segala rasa duka secara rapat.

***

Let’s forget it! Coz, one thing for sure, soon i’ll be home.
Yupz, sesaat lagi saya akan menginjakan kaki ini di pulau Jawa tercinta, di rumah saya di sana. Setelah menempuh pendidikan selama satu semester di tanah kalimantan ini, akhirnya saya dan 99 rekan lainnya mendapatkan hak untuk rehat sejenak dan pulang ke kampung kami masing-masing dalam sebuah cuti hari raya Idul Fitri mulai tanggal 19 Agustus s.d. 17 September 2011, sebelum nanti akhirnya kembali lagi ke sini untuk memulai tahun ajaran pendidikan 2011-2012, di tingkat Madya Praja, semester 3 dan semester 4. Ya, saya akan memanfaatkan masa cuti itu sebaik mungkin, sebagai ajang untuk me-refresh diri ini, melupakan segala yang telah lalu dan meyiapkan segala sesuatunya untuk yang akan datang. Tapi, dengan sangat disayangkan, saya tidak bisa pulang dengan membawa suatu kebanggaan, saya pulang sebagai seorang yang kalah. Tapi, saya telah berjanji untuk menjadi pemenang di masa yang akan datang, di cuti-cuti yang selanjutnya.

Mom, dad, sisters, friends and Hunny, I’m coming home!! :)