Sabtu, 26 April 2014

Tulisan ringan : Kritikan dan Motivasi

RABU, 23 APRIL 2014
17.27 WIB


“Kebiasaan-kebiasaan Inspiratif KH. Ahmad Dahlan & KH. Hasyim Asy’ari”, memang bukan merupakan buku yang bisa saya kategorikan sebagai sebuah buku yang “sangat baik”.

Buku yang mencoba untuk memaparkan segala kebiasaan-kebiasaan dari 2 (dua) tokoh Muslim yang sangat berpengaruh hingga saat ini. Karena kedua tokoh itu mendirikan masing-masing sebuah organisasi, yang sampai dengan saat ini menjadi organisasi Islam terbesar yang ada di Indonesia.

Lebih dari sekedar organisasi, Muhammadiyah dan NU, sangat mewarnai kehidupan beragama bahkan telah menjadi “label” untuk setiap ritual agama Islam yang ada di Indonesia.

Fakta itu lebih dari cukup untuk kemudian mengangkat segala kebiasaan dari keduanya untuk dituangkan dalam sebuah buku dengan harapan mampu untuk memberikan inspirasi dan tauladan bagi kita yang kini sekarang hidup beberapa tahun setelah kepergian mereka.

Akan tetapi bagi saya pribadi, buku itu tidak cukup dalam untuk mengupas segala kebiasaan dua tokoh tersebut. Terlalu memaksakan atau mungkin ambisius bagi M. Sanusi (penulis buku tersebut), merangkum semua kebiasaan 2 (dua) tokoh itu dalam satu buku.

Hingga yang terjadi adalah pembahasan yang ditampilkannya sangat dangkal, referensi yang M. Sanusi acu pun terlampau minim untuk sebuah buku yang saya kategorikan mencoba untuk “menjadi biografi”.

Buku itu seperti sebuah rangkuman atau ringkasan dari beberapa sumber bacaan, baik buku lain ataupun sumber internet. Bahasa yang dituliskan pun tak cukup mampu untuk membuat pembaca, khususnya saya, berhasrat untuk terus membaca. Bosan, mungkin adalah kata yang tepat ketika membacanya.

Jujur saya akui, bila bukan rasa penasaran dan keinginan untuk menjadikan tauladan kebiasaan 2 (dua) tokoh Islam tersebut, saya mungkin tidak akan pernah menyelesaikan membaca buku itu.

Tapi satu hal yang sangat, sangat, sangat harus diapresiasi adalah ide atau mungkin (sekali lagi saya katakan) ambisi dari M. Sanusi untuk memberikan sebuah buku yang kembali mengangkat hal-hal positif yang patut untuk kita teladani dari tokoh Indonesia sendiri.

Terlepas dari itu semua, dan dari banyaknya kebiasaan inspiratif yang dimiliki oleh kedua tokoh tersebut. Satu hal yang harus digarisbawahi adalah ada sebuah pembeda, yang menurut kacamata saya, merupakan sebuah perbedaan besar dan mendasar antara KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yakni kebiasaan menulis.

Disebutkan dalam buku karangan M. Sanusi itu, bahwa antara KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, tercatat bahwa KH. Hasyim Asy’ari yang memiliki kebiasaan menulis secara rutin. Bahkan KH. Hasyim Asy’ari memiliki waktu khusus untuk beliau gunakan membaca dan menulis berbagai kitab atau sekedar tulisan opini.

Sedangkan di sisi lain, sulit untuk menemukan, buku atau kitab atau sekedar tulisan opini yang dihasilkan oleh KH. Ahmad Dahlan.

Di dalam buku itu memang tidak disebutkan secara jelas, alasan kenapa seorang KH. Ahmad Dahlan tidak memiliki kebiasaan menulis yang intens.

Mengetahui hal itu, saya jelas menaruh hormat sangat tinggi kepada KH. Hasyim Asy’ari, walaupun jujur, secara ritual keagamaan yang banyak diajarkan oleh organisasi Islam NU, saya tidak mengikutinya. Tapi, hal itu tidak lantas membuat saya tidak menyukai sosok KH. Hasyim Asy’ari.

Apalagi setelah kini saya mengetahui, bahwa beliau memiliki kebiasaan membaca dan menulis yang konsisten dia lakukan.

Disebutkan bahwa waktu baginya untuk membaca dan menulis adalah sekitar pukul 10 pagi hingga menjelang waktu sholat Dzuhur tiba. Disebutkan juga dalam buku tersebut bahwa pada masanya, koleksi buku KH. Hasyim Asy’ari adalah yang terbanyak.

Beliau rela untuk menjual kuda yang dimilikinya hanya untuk terus membeli buku-buku atau kitab-kitab lainnya yang belum dia miliki. Tak hanya cukup memiliki, beliau pun sangat menjaga setiap buku dan kitab yang ada.

Sebulan sekali, beliau selalu menjemur setiap buku dan kitab yang dimilikinya agar terbebas dari segala macam rayap yang mungkin akan merusak buku dan kitabnya.

Well, hal itu jelas membuat saya kagum dan sangat menginspirasi saya untuk kedepannya. Karena warisan yang akan kita turunkan, sebuah tanda nyata segala rekam jejak kehidupan kita nantinya adalah segala macam bentuk catatan yang kita buat.

Tulisan mampu merekan dengan baik, dengan sangat sistematis segala bentuk ide dan pikiran yang kita miliki. Sehingga bilapun pada saatnya nanti kita telah tiada, segala pikiran dan ide yang kita miliki akan tetap mampu untuk terus bertahan dan bahkan terus berkembang dari setiap generasi.

Ya, tulisan akan mampu membuat kita tetap hidup. 

Bila memang dengan membaca mampu untuk membawa kita menembus cakrawala dunia, maka dengan tulisan-lah kita akan mampu untuk dikenal di dunia!

Stay #PMA!

Sekedar menambah masukan, kawan!

SABTU, 26 APRIL 2014
17.33 WIB


Ada perbincangan menarik antara sahabat saya Budi (http://teriakanjiwabudiana.blogspot.com/2014/04/indonesia-sistem-banci.html) , dan Zulfikri Armada (http://catatanpamong.blogspot.com/2014/04/indonesia-demokrasi-konstitusional-atau.html).

Perdebatan yang saya pikir sehat karena dilakukan melalui cara yang sehat dan saya pikir cukup akademis.

Sebelum saya pun ikut serta dalam perbincangan atau sebut saja itu sebagai sebuah perdebatan atau sebuah masukan pemikiran dari mahasiswa yang ada di Indonesia, saya akan terlebih dahulu menyodorkan beberapa tulisan yang telah saya buat, yang sedikit banyaknya juga bersinggungan dengan pembahasan dalam tulisan kedua manusia kritis di atas, yakni Pancasilaias atau Sekularis ? dan Isra Mi’raj dan Tegaknya Khilafah.

Apa sebenarnya yang mereka perdebatkan?

Sungguh yang mereka perdebatkan adalah sebuah tema yang tidak bisa dikatakan remeh temeh, apalagi bila hal itu dikaitkan dengan posisi kami yang dididik secara khusus untuk menjadi aparatur sipil negara, pelaksana segala kebijakan negara Indonesia. 
 
Loyalitas adalah harga mati yang diharapkan tumbuh dalam sikap kami sehingga sebenarnya perdebatan ini cukup sensitif untuk dibicarakan.

Tapi kami pun sekumpulan akademisi, orang-orang yang juga memiliki kebebasan akademik untuk mengkritisi segala sesuatu yang terjadi. 
 
Jadi, dalam konteks mahasiswa, peserta didik, saya pikir wajar dan bahkan sebuah keharusan kami membicarakan hal-hal seperti itu.

Ya, yang kami bicarakan di sini adalah mengenai sistem politik yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebelumnya izinkan terlebih dahulu saya mengomentari gaya penulisan yang ditampilkan oleh sahabat saya Budi dan rekan saya Zulfikri.

Jujur saya akui, tulisan yang di tampilkan oleh Zulfikri merupakan tulisan yang sangat berisi. Zul (bila boleh saya memanggilnya demikian) benar-benar menunjukan sebuah artikel yang memang pantas untuk di baca dan memenuhi kaidah penulisan ilmiah.

Kenapa demikian?

Karena setiap argumen yang diberikan oleh Zul, disertai juga dengan fakta yang relevan, baik dari teori atau pendapat para ahli (dilengkapi dengan sumber referensi yang jelas) ataupun kenyataan yang ada di kehidupan sehari-hari.

Sehingga secara sederhananya, tulisan Zul, walaupun dia dengan rendah hati menyebutkan bahwa “hanya sebuah artikel pendek” tapi sungguh sangat mendalam.

Di sisi lain, tulisan yang dibuat oleh sahabat saya Budi, sangat kental dengan nuansa menggebu-gebu Bung Karno. Itu tidak aneh, karena Budi dengan bangganya menyebutkan bahwa dia merupakan anak idelogis dari Bung Karno.

Bila anda sempat berbicara panjang lebar dengannya, maka anda akan cepat mengetahui bahwa pikiran Budi merupakan pikiran dari seorang Bung Karno. 
 
Tapi Budi juga bukan merupakan seorang follower bodoh. Dia pun tidak serta merta mengikuti pemikiran Bung Karno tanpa sebab.
 
Budi telah mengetahui segala sesuatunya tentang Bung Karno sehingga dia tau persis apa yang dia ikuti dan apa yang coba dia sebarkan.

Permasalahannya, tulisan Budi masih terkesan meloncat-loncat, kurang sistematis, dan penuh emosi. Hal itu dalam artian, tulisan Budi masih kurang dilengkapi dengan teori yang relevan. Walaupun contoh atau permisalan yang dia tampilkan sungguh terasa nyata.

Tulisan Budi, masih khas tulisan anak muda, tulisan penuh pendapat pribadi sehingga rentan untuk “diserang”.

Dan bila boleh bila kemudian saya akui juga, saya pun belum mampu untuk menulis sebuah artikel yang baik dan memenuhi kaidah ilmiah seperti yang ditampilkan oleh Zul.

Tulisan saya sedikit banyaknya masih setali tiga uang dengan jenis tulisan yang dihasilkan oleh Budi.

Sebuah tulisan murni opini, minim ditunjang oleh kajian teori yang relevan sehingga sulit untuk dipertahankan atau bahkan mungkin dipertanggungjawabkan.

Satu-satunya hal yang membuat saya tetap berani untuk menulis, bahkan untuk ikut berpartisipasi dalam perdebatan ini adalah keyakinan saya bahwa setiap orang di negeri ini, khususnya mahasiswa, memiliki hak untuk mengemukakan pendapatnya. Sebodoh apapun itu!

Jadi, ini-lah pendapat saya : mengenai sistem politik apa yang sebenarnya pantas dan paling baik untuk diterapkan di Indonesia, sampai dengan detik ini, saya memiliki pendapat yang kurang lebih sama dengan Budi tapi dengan bahasa yang lebih jelas yakni sistem pemerintahan Islam. Khilafah dengan Khalifah.

Argumen saya seperti ini (ini didasari dengan penyampaian yang disampaikan oleh Ustadz Felix Siaux) bahwa baiknya suatu negara setidak-tidaknya harus didasari oleh 3 (tiga) hal, yakni individu, masyarakat, dan kemudian negara.

Hal ini sangat masuk akal, karena semua hal yang besar dimulai dengan terlebih dahulu dari hal kecil. Kita tidak mungkin bisa berlari tanpa terlebih dahulu belajar berjalan.

Sehingga memang segala sesuatunya harus dimulai dari setiap individu manusianya.

Individu di sini tentu adalah manusia. Dan manusia adalah Makhluk ciptaan Allah Swt.

Kita semua setuju bahwa tidak ada yang paling tau dan mengerti segala sesuatunya selain dari Sang Penciptanya. 
 
Maka tidak ada yang paling tau dan mengerti serta paham apa yang paling baik untuk manusia selain dari Allah itu sendiri.

Allah pun telah memberikan itu semua dalam kitab-Nya, yakni Al-Qur’an, tak cukup hanya itu, Allah pun mengutus Rasul-nya, yakni Muhamad untuk menjabarkan lebih lanjut segala ajarannya melalui Hadits.

Maka wajar, bila Rasul kita pernah bersabda bahwa tidak akan pernah tersesat apabila kita (manusia) berpegang pada Qur’an dan Hadits.

Sampai di sini tentu kita (terutama Muslim) pasti setuju.

Selanjutnya adalah Islam, di dalam Al-Qur’an dan Hadits juga telah menyebutkan serta mengajarkan tentang cara menjalankan sebuah negara, yang biasa dikenal dengan sistem pemerintahan Islam atau Khilafah.

Nah, kemudian di sini yang menjadi permasalahannya!

Contoh nyata adalah saya sendiri, seperti yang dikemukakan di atas, saya pun belum menjadi seorang ahli. Belum ahli dalam urusan sistem politik demokrasi, liberal, komunis, pancasila, dan segala macam bentuk sistem politik lainnya dan saya pun belum juga paham mengenai sistem pemerintahan Islam.

Saya hanya sekedar tau berdasarkan referensi “katanya”.

Logikanya adalah seperti ini. Mayoritas penduduk di Indonesia adalah Muslim. Dan bila begitu seharusnya penerapan sistem pemerintahan Islam bukan menjadi sebuah masalah. Karena setiap Muslim tentu sama Qur’an dan Haditsnya, iya kan?

Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, Al-Qur’an dan Hadits disampaikan dalam bahasa arab, sehingga tidak setiap Muslim di Indonesia bisa menfasirkannya dengan baik dan benar. Sehingga banyak diantara kita, termasuk saya membutuhkan bantuan orang yang ahli di dalamnya, yang biasa kita sebut dengan “Ustadz”.

Dan masalah selanjutnya adalah tidak semua Ustadz menyampaikan hal yang sama tentang sistem pemerintahan Islam. Sehingga ini-lah yang menyebabkan Muslim di Indonesia tidak satu paham mengenai sistem ini. 
 
Sementara di sisi lain, kita bisa dengan mudah memahami sistem politik buatan manusia lainnya, seperti demokrasi, liberal, komunis, dan masih banyak lainnya, karena memang disampaikan dengan bahasa yang jauh lebih mudah untuk kita pahami.

Hal itu menjadi sebuah kewajaran bila sekarang ini sistem pemerintahan Islam menjadi sesuatu hal yang asing terlebih dewasa ini di identikan dengan gerakan separatisme, karena muncul di tengah-tengah sistem pemerintahan yang telah berjalan.

Maka saya pribadi, di setiap ceramah Islam, oleh kelompok apapun itu, selalu menyempatkan diri untuk bertanya kepada setiap penceramah, bahwa apakah ada upaya untuk terlebih dahulu menyamakan persepsi di kalangan cendikiawan Islam di Indonesia mengenai sistem pemerintaha Islam ini, sehingga tidak membingungkan masyarakat awam seperti saya?

Saya pun meyakini bahwa sistem pemerintaha Islam itu paling baik karena keyakinan saya pada Allah Swt., bahwa Allah yang paling tau apa yang terbaik untuk ciptaannya, dan sistem pemerintahan Islam termasuk di dalamnya, karena disebutkan di dalam kitab-Nya dan ajaran Rasul-Nya.

Ya, bahwa yang paling penting adalah orang di balik sistem itu bukan sistem apa yang dianutnya, tapi terlepas dari itu, Allah menyebutkan bahwa tugas utama manusia adalah beribadah kepada-Nya. Dan ibadah itu secara luas adalah menjalankan segala perintah-Nya, dan bukankah menerapkan sistem peemrintahan Islam adalah perintah-Nya juga?

Tapi saya pun tidak bodoh, dengan menyetuji segala bentuk tindakan anarki. Tapi saya sangat menyetujui segala bentuk gerakan ilmiah nan akademisi, yakni melalui gerakan perang pemikiran. Saling memberikan pemahaman menggunakan argument yang kuat dan meyakinkan.

Dan itu-lah yang sedang saya lakukan, juga oleh Budi, dan juga oleh Zul.

Demikian, pendapat saya kawan.
Stay #PMA!