Kamis, 29 September 2011

Seharusnya Kita

Dan musik beserta dengan liriknya memang selalu mampu untuk menjelma lebih dari sekedar hanya sebuah hiburan di kala duka maupun suka. Musik selalu mampu bertransformasi menjadi lebih dari sekedar musik itu sendiri dan semakin bertambah hidup bila si pencipta mampu menggabungkan keindahan perpaduan nada dan melodi dengan serangkaian kata-kata indah penuh makna, penuh arti.

Saya tak lebih dan tak kurang hanyalah sesosok manusia biasa yang hanya mampu untuk menikmati musik itu tanpa bisa mampu untuk membuat keindahan itu. Tidak, tidak sama sekali. I'm just a Music Lover!

Musik dan untuk selanjutnya saya akan memakai istilah lagu, menjadi bertambah membekas di hati bila ternyata lagu dengan jenis genre yang kita sukai mampu untuk menjelaskan siapa kita dan situasi yang sedang kita alami. Ya, sering saya alami, ketika saya dengan nyaman mendengarkan sebuah lagu sembari dengan khusyu memahani makna yang terkandung dalam lagu tersebut, seketika hati saya teriak berkata, "Damn, it's so fuckin me!! This shit describes me a lot!" dan semua kata-kata yang tak serupa tapi berarti sama seperti itu.

Tapi, memang, perasaan yang sedang kita alami atau rasakan selalu menjadi atau membuat kita kadang berselingkuh dari jenis musik yang sebenarnya tidak terlalu kita sukai, karena kadang kita selalu ingin untuk semakin memperdalam luka yang telah ada dan semakin membuat tragis suasana yang telah tercipta dengan musik sebagai penggiringnya. Begitu juga sebaliknya.

Dan inilah saya, situasi galau tak menentu yang sedang saya alami, membuat saya menjadi serasa begtu dekat dengan beberapa lagu, terlebih dengan liriknya yang memang serasa tepat.
Ya, saya akan mencoba berbagi beberapa lagu itu bersama anda semua, berharap anda pun akan merasakan rasa galau yang sedang saya alami sekrang ini :

1. Alone at Last - Mainstrem of Love
2. Alone at Last - Kisah Jejak Terhina
3. Alone at Last - Dear Love
4. All-American Reject - Back To me
5. The Script - Breakeven
6. Agnes Monica - Rindu
7. BCL - Aku Tak Mau Sendiri
8. Tipe-X - Karena Patah Hati
9. Bruno Mars - Talking To The Moon
10. D'masiv - Jangan Pergi
11. Ebith Beat*A - Cahaya Hidupku

dan dari beberapa lagu tersebut, satu yang sangat menyayat hati, satu yang terasa sangat mewakili segala rasa yang ada, penyebab segala gundah yang saya rasa :

NAFF - SEHARUSNYA KITA

Saat relung hatiku kini mulai terasa
Sepi tanpa ada cintamu dalam hidupku
Semua terasa hampa
Kala hatimu tak dapat ku sentuh

Semakin jauh asaku kini untuk ku gapai
Dalam luka batinku perih teteskan lara
Ketika dirimu jauh
Isi hatimu tlah menjadi miliknya

Seharusnya dunia ini begitu indah
Seharusnya hidupku ini penuh bermakna
Takkan gundah jiwaku bila kau bersamaku
Takkan perih batinku kini bila kaupun milikku
Saharusnya dunia ini punya kita berdua.

Seandainya kau tahu
Perih didalam hatiku
Apakah kau merasakan apa yang ku rasa

damn!!

Minggu, 25 September 2011

First Impression

Pilih yang mana ( baca : Memilih Pilihan ) :
Bersama orang yang kita sayangi tapi dia tidak menyayangi kita atau bersama orang yang menyayangi kita tapi kita tidak menyayanginya.

Sebuah pertanyaan sederhana tapi terlalu dalam maknanya, sulit untuk kita selami jawabannya. Ya, pertanyaan yang datang dari seorang sahabat memecah belah keheningan dan ketidakaturan pikiran yang bersemrawut berterbangan berkeliaran liar dalam otak ini. Rasa kantuk, rasa lelah secara perlahan tapi pasti mulai terganti dengan pikiran gundah cenderung galau teringat kembali segala rasa yang memang masih ada dan satu hati yang telah kusakiti dan tersakiti. ( baca : karma )

Pada hari Minggu, tanggal 25, bulan September, tahun 2011 dan seperti biasanya, kami praja mendapatkan hak kami yaitu hak untuk pesiar. Untuk anda yang mungkin belum tau, akan coba saya jelaskan secara singkat mengenai bagaimana kehidupan kami sebagai seorang praja. Untuk agak lengkapnya silahkan anda baca di Selayang Pandang IPDN. Kami Praja IPDN mengenyam pendidikan kepamongprajaan dengan diwajibkan untuk tinggal di dalam kampus di asrama dengan berbagai aturan yang menyertainya, dan hak pesiar adalah hak kami untuk sejenak keluar dari kampus, untuk sekedar berpelesir dengan tentunya dibatasi oleh waktu. Dan pada hari minggu ini, kami mendapatkan hak kami untuk pesiar dari pukul 10.00 sampai dengan 20.30 WIB. Sebenarnya semenjak saya mendapatkan tugas untuk berpendidikan di IPDN Kampus Daerah Kalimantan Barat ini ( baca : Takkan Terhenti Disini ), pesiar menjadi sesuatu hal yang tidak terlalu saya perhatikan. Saya jarang atau bahkan tidak sama sekali untuk melaksanakan pesiar. Saya lebih suka untuk menghabiskan waktu di wisma, mengerjakan segala sesuatu hal yang tidak berguna dan tidak penting hanya untuk sekedar membunuh waktu luang.
Tapi pada hari minggu ini saya memilih untuk melaksanakan pesiar karena memang harus mentransfer uang dan membeli beberapa barang, juga ikut mengantar teman saya pergi ke rumah induk semangnya ( baca : PL 1 / PPL ). Dan sesampainya di rumah induk semang teman saya itu, disambut dengan canda tawa anak kecil, rasa lelah memang wajar terasa karena sebelumnya kami telah terlebih dahulu berbelanja membeli keperluan yang kami butuhkan. Dan di saat itu lah sebuah pertanyaan sederhana nan dalam itu datang meluncur. Sebegitu dalam hingga diri ini tenggelam. Itu adalah pertanyaan dari temannya teman saya nan jauh di daerah nya sana, bermaksud untuk meminta sebuah pendapat sebagai suatu masukan berarti untuk memilih pilihan hidupnya.

Tak perlu banyak berkata-kata, saya dengan tegas menjawab bahwa lebih baik bagi kita kaum pria untuk bersama dia ( kaum wanita ) yang menyayangi kita, walaupun kita tidak atau belum menyayangi dia. Daripada harus dengan dia yang kita sayangi, tapi ternyata dia tidak sama sekali menyayangi kita.

Walaupun dari sudut pandang manapun kedua pilihan tadi tidak ada suatu pilihan yang benar-benar akan berdampak positif atau berhasil baik, keduanya mempunyai resiko yang sama besarnya dan potensi yang terburuk juga sama besarnya.
Tapi disini saya menjawab dengan berdasarkan pendapat serta sudut pandang yang saya yakini, saya merupakan satu orang dari mungkin sedikit orang yang percaya bahwa cinta itu hakikinya datang di saat pertemuan serta pandangan pertama yang terjadi antara satu sosok pria dan wanita. Bila boleh saya mengutip kalimat dari sastrawan yang sangat saya kagumi juga cintai yaitu Kahlil Gibran yang berbunyi : "Alangkah bodohnya orang-orang yang mengira bahwa cinta datang dari persahabatan yang lama dan rayuan yang tak henti-hentinya. Cinta Hakiki adalah buah pemahaman rasa spiritual, yang jika tak bisa tercipta dalam sekilas pandang, ia tidak bisa di ciptakan dalam bilangan tahun atau bahkan satu generasi sekalipun." ( Kahlil Gibran )
( baca : Wisdom, Justice, and Love part.III )

Kalimat itu saya benar-benar setuju tapi tidak juga saya memandang sebelah mata rasa cinta dan kasih sayang dari hasil pertemuan yang intens atau hasil dari pertemanan yang terlampau akrab, saya juga percaya itu. Tapi prinsip saya lebih meyakini bahwa, sekali lagi, cinta itu hakikatnya terlahir pada saat perjumpaan pertama dan setelah kita merasakan ketertarikan itu maka dengan sendirinya kita akan memulai untuk bergerak lebih jauh, mengenal dan seterusnya berusaha untuk saling memiliki.
That’s my damn opinion!

Oleh karena pemikiran tersebut, saya lebih memilih untuk kita bersama dengan dia yang menyayangi kita walaupun kita belum menyayangi dia. Kenapa? Karena sungguh beruntung bagi kita, kaum adam, bila mampu memiliki wanita yang dengan tulus serta ikhlas menyayangi kita serta mencintai kita tidak sekedar mengagumi kita, karena kagum berarti dia hanya menyukai dan melihat kelebihan kita, berbeda halnya bila dia mencintai kita maka dengan sendirinya berarti dia telah mampu menyukai kelebihan serta kekurangan yang kita miliki. Bila wanita telah mencintai kita, maka segala perhatian dan pengertian yang dia miliki akan benar-benar tercurah untuk kita. Dan walaupun kita belum mencintai dia tapi saya yakinkan secara pasti untuk anda semua lelaki di luar sana, cepat atau lambat anda akan bertekuk lutut dan jatuh cinta kepadanya.
Karena apabila anda ( pria ) memaksakan untuk terus bersama dengan dia ( wanita ) yang memang benar anda sayangi serta cintai, anda akan lelah dibuatnya, yang ada hanya pada akhirnya wanita itu justru akan mencintai anda karena lebih kepada faktor iba atau kasihan, tidak menyayangi anda setulus dan semurni hati yang sebenarnya dia miliki. Dan pada akhirnya dia akan meninggalkan anda karena memang dasar cinta yang dia miliki tidaklah sekokoh akar pohon yang ada di hutan sana.

Sekali lagi kawan, ini hanyalah berdasarkan ilmu, sudut pandang serta pengalaman yang saya miliki akan tetapi dengan tulisan ini saya juga tidak menyarankan kaum wanita untuk menjadi agresif dan pria menjadi pihak yang pasif. Tidak sama sekali!
Apa yang coba saya tekankan disini adalah, kita ( pria ) memang harus tetap berusaha mengejar dia ( wanita ) yang kita sayangi tapi jangan juga menjadi bodoh dengan terus mengejarnya walaupun sebenarnya dia tidak mencintai kita. Bila telah secara pasti dan jelas dia tidak mencintai kita, maka sesegera mungkin hentikan pengejaran tersebut dan bergerak menuju arah cinta yang lain. Dan apabila dalam perjalanan mencari arah cinta itu kita menemui satu cinta, satu wanita yang secara terang mampu untuk menyayangi kita, maka berhenti dan menepi lah sejenak, luangkan waktu kita untuk juga “mengejar” dia walaupun awalnya getaran cinta itu tidak kita miliki. Karena sekali lagi cinta yang muncul dengan sendirinya jauh lebih sejati daripada cinta yang datang sari proses yang lama dan cenderung dipaksakan.
Once again my friends, it is my opinion, how ‘bout you ?!

Jumat, 23 September 2011

Dan Semuanya Menghilang ...

Suatu perubahan datang dan kita pun sedikit banyaknya menjadi agak terkejut dibuatnya. Pergantian pucuk pimpinan dari satu orang ke orang lainnya memang tak bisa dipungkiri akan selalu diikuti dengan pergantian kebijakan, tidak selalu buruk memang tapi juga tidak selalu berdampak positif. Ini adalah situasi yang ada sekarang di kampus tempat saya mengenyam pendidikan, pergantian kepala Bagian Administrasi Keprajaan dari Bapak Suyanto ke tangan Bapak Maris Gunawan Rukmana, kini mulai terasa perbedaan dan dampak nyatanya. Pak Maris yang lama menjadi seorang Lurah di Kota Bandung dan bahkan pernah menjadi Lurah terbaik Se-Jawa Barat, mulai menunjukan kapasitasnya dalam memimpin suatu organisasi, terlebih pengalamannya yang memang lebih banyak di lapangan, lebih banyak langsung berinteraksi dengan masyarakat dan permasalahan nyata yang ada dan dihadapi langsung di lapangan. Sehingga beliau tidak terlalu sulit untuk beradaptasi ketika harus menjadi seorang Kabag Administrasi Keprajaan, yang secara umumnya bertugas langsung mendidik, mengayomi serta mengasuh Praja dengan segala seluk beluk siklus kehidupan praja yang dilaluinya. ( baca : Selayang Pandang IPDN )

Dan gebrakan itu mulai terasa semenjak praja mulai kembali berdatangan dari cuti panjang yang mereka dapatkan, berbagai aturan serta kebijakan baru mulai beliau sosialisasikan dan terapkan. Sebenarnya dan bahkan memang kenyataannya, semua perubahan yang beliau lakukan adalah sebuah perubahan yang memang perubahan menuju suatu bentuk siklus kehidupan praja yang ideal sesuai dengan normatif Peraturan Tata Kehidupan Praja yang telah ada dan memang menjadi dasar hukum dari segala kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang praja, akan tetapi memang ada beberapa yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi serta fasilitas yang ada di kampus daerah ini. Karena bagaimanapun juga IPDN Kampus Daerah Kalimantan Barat ini adalah kampus daerah yang tidak akan pernah bisa 100% sama dengan kampus pusat di Jatinagor sana. Tapi saya yakinkan di sini, setiap penyesuaian itu bukanlah merubah kepada setiap hal yang prinsip, hanya penyesuaian kepada hal-hal operasionalnya saja.

Beliau mulai menunjukan bahwa gelar atau predikat Lurah terbaik Se-Jawa barat yang pernah beliau dapatkan bukanlah sebuah gelar semata, tapi benar-benar merupakan suatu gelar hasil dari jerih payah serta kinerja beliau yang memang sangat baik dan pantas untuk diapresiasi. Menurut pendapat saya, penilaian terbesar sehingga beliau mampu menjadi Lurah terbaik adalah karena beliau sangat taat terhadap tertib administrasi yang telah di atur dalam suatu peraturan perundang-undangan. Dan saya pikir hal itu benar adanya, karena sekarang, di Bagian Administrasi Keprajaan yang beliau kepalai, secara kasat mata, saya dapat melihat segala sesuatunya mampu beliau tata secata rapi. Kantor Pengasuhan yang dulu terlihat sangat kosong lengang, kini menjadi seperti sebuah kantor sungguhan, seperti selayaknya sebuah perpustakaan mini dengan pengaturan berkas yang sangat rapi dan tersusun sesuai dengan bagian-bagiannya, semua disimpan rapi dalam map yang telah ditentukan. Dinding-dinding pun rapih ditempeli setiap jadwal kegiatan atau apapun itu. Sekali lagi secara kasat mata, tertib administrasi Bagian Administrasi Keprajaan IPDN Kampus Daerah Kalimantan Barat saya pikir pantas untuk mendapatkan suatu apresiasi.

Perubahan signifikan lainnya adalah kini setiap kegiatan praja benar-benar harus dilakukan pengecekan dengan masing-masing praja mengisi daftar hadir yang dibuat sesuai dengan kegiatan yang telah ditentukan. Dan semua pengecekan itu dilakukan dengan menggunakan sistem daftar hadir kelas. Ya, sekarang kelas sudah menyentuh siklus kehidupan praja, tidak lagi hanya mengurusi cukup permasalahan pengajaran dan pelatihan. Dan ini lah yang saya sebutkan merupakan penyesuaian terhadap tata cara. Karena dulu siklus kehidupan praja, di luar pengajaran dan pelatihan, menggunakan pengecekan berdasarkan wisma atau blok yang praja tempati. Dan sekarang hal itu berganti menjadi menggunakan pengecekan per kelas.

Hal yang sangat baik, tapi tidak saya pungkiri sedikit banyaknya membuat saya agak sedih dan mungkin kecewa. Karena jabatan yang saya pegang sekarang, yaitu Ketua Blok A menjadi tidak jelas tugas dan fungsinya. Secara umum bila melihat segala perubahan itu, maka praktis tugas saya sbagai Ketua Blok hanya menyusun jadwal Jaga Posko dan Jaga Blok setiap harinya, tidak lebih dan tidak kurang. Karena kini semua pengecekan dilakukan dengan daftar hadir per kelas sehingga sudah barang tentu menjadi tugas dan kewajiban ketua kelas.
Tidak, saya tidak gila jabatan atau segala macam yang sejenisnya, saya menjadi sedih karena saya adalah orang biasa, orang yang sangat biasa, tidak mempunyai kemampuan atau bakat lebih dalam segala halnya, sehingga masuk dalam suatu organisasi adalah satu-satunya harapan bagi saya untuk bisa mendapatkan nilai lebih untuk bidang pengasuhan. Dan apabila hal ini yang terjadi, bagaimana caranya saya bisa mendapatkan nilai lebih itu? Apa yang akan saya lakukan?

Ya, inilah resiko menjadi orang yang sangat biasa, ketika segala sesuatunya hanya bermodal bisa, tak ada yang mahir tak ada yang menjadi bakat. ( baca : Tanda Tanya, Benar-benar pintar atau Benar-benar Kaya ) Akhirnya lambat laun, saya pun tersisih dalam persaingan. Ketika yang lain mungkin bisa mengejar nilai pengasuhan itu dengan mengikuti ekskul, saya malah tidak tau harus masuk apa, karena kemampuan biasa yang hanya saya punyai. Dan ketika organisasi menjadi satu-satunya harapan, saya pun mulai tersisih.

Dan semua ini terasa semakin tragis, terasa karma itu benar adanya, karena setelah sekian lama secara angkuh saya menghilangkan dan meninggalkan cinta, tapi kini saya yang harus ditinggalkan oleh satu cinta dan bahkan sekarang pada akhirnya seakan melengkapi penderitaan serta luka yang terbuka, saya harus ditinggalkan oleh satu “pekerjaan”, ditinggal pergi oleh suatu tanggung jawab. ( baca : Tanggung Jawab, Status, Jabatan, dan Peran )
Ya, dan akhirnya semua menghilang!
Damn!!

Karma

Bila yang hanya seminggu pun sebigini rasa sakit yang ku rasa, lantas bagaimana rasanya setiap wanita yang telah dengan ikhlas mencintaiku selama 3, 4, 11, dan bahkan 12 bulan lalu aku sakiti ?

dan bila yang tanpa beribu janji indah, tanpa segala hal-hal yang tak pasti yang belum terjadi, segala pujian serta harapan tinggi pun bisa sebegitu membekasnya lantas bagaimana rasanya dengan setiap wanita yang mengasihi ku tulus yang telah ku jejali dengan setiap janji manis dari hati lalu aku khianati ?

bila memang ini karma, akibat dari apa yang ku perbuat, mengingkari setiap janji, menyakiti setiap wanita yang mengasihi, maka ku tak bisa berbuat banyak selain meratapi nasib penuh dengki lengkap dengan segala caci maki.

Rabu, 21 September 2011

Jangan Pernah Berubah

"hal yang paling menakutkan dari suatu kekerasan bukanlah kekerasan itu sendiri. melainkan apabila kaum wanita telah dengan jelas ataupun secara samar menyetujui dan melihat serta menilai kekerasan itu sebagai sesuatu yang lumrah atau wajar. Dan yang paling menakutkan adalah ketika kaum wanita sendiran itu."
( Wisdom, Justice, and Love part. III )

"Jangan pernah kau coba untuk berubah, tak relakan yang indah hilang lah sudah "
( ST 12 - Jangan Pernah Berubah )


Wanita dan Kekerasan

Okay, sebelum saya berbicara lebih jauh lagi, saya akan terlebih dahulu meminta anda semua yang membaca kalimat pembuka tadi, terkhusus bagi kaum pria, agar membaca kalimat tersebut penuh dengan pikiran bersih terhindar serta bebas dari pikiran-pikiran kotor khas pemikiran pria, sehingga penafsiran yang akan kita hasilkan akan menjadi sama tidak ada suatu beda apapun dari tema serta maksud yang sedianya memang hendak saya utarakan sekarang.

Hhe...sudahlah kawan, tidak usah terlalu menghiraukan semua kalimat pembuka diatas, kalimat-kalimat yang membentuk suatu paragaraf pertama dalam tulisan ini memang sengaja dibuat penuh dengan ketidakjelasan hanya untuk membuat tulisan ini terlihat panjang dan sekali lagi itu hanyalah sebagai sebuah prolog tidak jelas, sebuah pembuka dari sebuah tema yang akan saya jabarkan. ;)

Tapi, atas pemikiran yang telah saya tuliskan dalam paragaraf pertama tadi, di awal tulisan ini, akan coba saya jelaskan atau saya kemukakan terlebih dahulu pengertian dari kata “kekerasan”, sehingga menjadi sama dasar penafsiran yang akan kita gunakan. ( baca : Ko-teks Vs. Konteks )




Definisi Kekerasan




1. perihal (yg bersifat, berciri) keras;

2. perbuatan seseorang atau kelompok orang yg menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain;

3. paksaan;

http://www.artikata.com/arti-368182-kekerasan.html






Wanita, menurut persepsi saya, pendapat serta opini saya, merupakan makhluk yang lembut, cenderung merupakan makhluk halus, tempat segala sifat baik serta lembut bersemayam. Pembawa banyak masalah tapi juga pembawa cinta dan berjuta keindahan yang membuat hati si lawan bicara menjadi tentram serasa damai.
Perasaan mereka agungkan melebihi dan mengenyampingkan segala logika yang ada. Sehingga jelas wanita adalah makhluk yang sangat harus lelaki jaga.

Dengan segala kelembutan, keindahan, kecantikan, kebaikan serta beribu kata-kata postif lainnya, menjadi sangat tidak pas bila wanita harus disandingkan dengan kata “kekerasan”. Kata yang berarti destruktif, anarkis, urakan. Sangat pas bila halnya disandingkan dengan pria, yang lebih mengutamakan logika serta otot dalam setiap segi kehidupan dan cara penyelesaian konflik serta masalah yang mereka hadapi.

Dan kenapa saya berani mempersandingkan lembutnya wanita dengan kerasnya kata kekerasan? Itu karena ada satu hal yang sedikit banyaknya mengusik nurani serta ketentraman diri ini. Saya mungkin termasuk kaum konservatif, kaum kolot dalam melihat seorang wanita tapi saya yakini itu benar adanya. Menurut saya wanita dan pria jelas dua makhluk yang berbeda, tidak mungkin bisa untuk menjadi sama apalagi harus disamakan.
Emansipasi, tidak berarti pria dan wanita menjadi sejajar atau sama, tapi bagi saya, emansipasi berarti pria dan wanita mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan apa yang telah menjadi hak serta melaksanakan apa yang telah menjadi kewajiban mereka. Dan hak serta kewajiban itu jelas berbeda adanya, tidak bisa dan tidak akan pernah bisa untuk menjadi sama. Karena pria dan wanita adalah memang berbeda dan saling berlawan tapi juga saling melengkapi. Mereka diciptakan sangat berbeda untuk mampu bersatu dalam segala perbedaan itu, sehingga bisa saling melengkapi. Seperti halnya langit dan bumi, siang dan malam, hitam dan putih, dsb. Jadi pria harus lah bertindak selayaknya seorang pria, menjadi kuat, menjadi seorang imam, dll. Serta wanita harus juga bertindak seperti selayaknya seorang wanita, menjadi lemah lembut, penyayang, feminim, dll. Tidak ada pria yang harus setengah menjadi wanita, menjadi kemayu misalnya dan tidak ada pula wanita yang menjadi setengah pria menjadi tomboy. Semuanya harus menjadi seperti apa yang telah mereka dapatkan dan diciptakan dari awal. Pria ya pria, wanita ya wanita!

Prinsip serta persepsi itu masih saya yakini tidak sedikit pun berubah apalagi pergi menghilang, setidaknya sampai sekarang ini. ( baca : Aku Ingin, Sindiran untuk disindir, Aurat. ) Sedari dulu hingga detik ini, saya masih tidak menaruh respect terhadap wanita yang senang dengan segala kegiatan serta aktifitas kaum pria dan kemudian secara sadar ataupun tidak mereka sadari tingkah laku serta kepribadian mereka pun berubah menjadi seorang “pria”. Saya masih bisa untuk menghormati dan bahkan secara jantan kagum kepada setiap wanita yang menyukai segala kegiatan pria, akan tetapi di luar itu, di luar kehidupan itu, tingkah laku serta kepribadian mereka tetap lah seorang wanita seutuhnya, wanita feminim bertutur baik berparas cantik dan berakhlak mulia.

Dan situasi itu telah berkembang, atas segala dasar pemikiran di atas, membuat saya mempunyai sebuah konsep bahwa hidup seorang wanita harus hidup dalam sebuah kehidupan yang nyaman, tenang, jauh dari segala kegiatan fisik, cukup hanya pada tekanan emosional, menguras emosi serta intelektual mereka saja. Tapi tentu bodoh bila kita hanya terpaku terhadap konsep sederhana tersebut. Dewasa ini bermacam-macam model pendidikan telah tercipta, sebagai suatu jawaban serta penyesuaian terhadap tantangan dunia kini yang sudah semakin keras. Hidup sudah tidak lagi sesederhana goresan pena, semua telah berubah, semua segi kehidupan penuh dengan segala macam bentuk tekanan. Tak bisa lagi sepenuhnya wanita berpangku tangan, wanita pun harus kuat, wanita pun harus mampu berdiri sendiri. Sehingga dunia pendidikan pun menyesuaikan dengan kondisi tersebut, dan wanita sendiri pun telah menyadari segala hal tersebut. Mereka mulai terbuka untuk menjadi wanita yang lebih kuat.

Dan atas tuntutan zaman pula, banyak wanita dengan penuh kesadaran memilih suatu profesi yang benar-benar memerlukan kekuatan fisik, dengan menempuh pendidikan yang juga penuh dengan didikan fisik. Sekali lagi itu merupakan keniscayaan, sebuah kenyataan.

Hal yang membuat saya takut adalah ketika semua didikan fisik yang mereka lalui itu justru mampu untuk merubah kepribadian mereka menjadi suatu pribadi seorang “pria”, mereka menjadi merasa sangat biasa dengan segala bentuk tindakan fisik cenderung keras dan bahkan suatu kekerasan dan bahkan menjadi pelaku nyata kekerasa tersebut.
Hei, Ini lah yang saya takutkan!

Wanita menurut saya, harus tetap berada di garda terdepan menolak segala bentuk kekerasan, tetap harus menangis ketika melihat orang-orang yang bertengkar, tetap harus ketakutan ketika terjadi suatu pertingkaian. Sekali lagi, segala hal pendidikan fisik yang wanita dapatkan hanyalah boleh menjadi pembentuk sikap mandiri dan mental kuat mereka untuk menjalani kehidupan. Tidak untuk merubah total semua kepribadian mereka, wanita tetap harus menjadi seorang wanita, tetap harus menjadi feminim. Walaupun apapun yang mereka hadapi dan alami!

It is my damn opinion, it is the way i describe a woman. ‘cause i love a woman as a woman.
So, be a strong woman dear and please don’t change. Just be fine and be a real beautiful woman.
I do care ‘bout you.

Minggu, 18 September 2011

Penyesuaian



ORANG BAIK BELUM TENTU BERNASIB BAIK

Suatu doktrin telah menusuk jelas dan terimplementasikan terlalu nyata dalam realita.
Suatu budaya telah melembaga, telah membentuk suatu sikap.
Perlahan tapi sangat pasti semua itu mulai terasa, mulai merubah segala apa yang dulu telah saya yakini. Karena perubahan itu pasti dan segala sesuatu pasti berubah kecuali perubahan itu sendiri, sehingga menjadi sangat wajar bila pada akhirnya seiring perjalanan waktu saya pun secara saya sadari ataupun tidak saya sadari, ikut terbawa ke dalam arus perubahan itu. Perubahan positif walaupun tidak sedikit pula terjerumus ke dalam suatu arus perubahan negatif, semuanya saya jalani dengan penuh rasa tanggung jawab, terus saya pelajari dan lakukan evaluasi, sehingga bisa membentuk seorang Adima yang hakiki, jauh dari hal-hal yang tak pasti juga negatif, karena bukankah saya pernah berkata : "Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."
( baca : Wisdom, Justice, and Love part I, II, III, dan Who Is Noorz ? )

Dan memang masa-masa ini lah, masa-masa peralihan dari seorang remaja menjadi seorang yang dewasa, merupakan suatu fase pokok yang akan menentukan sikap kita nantinya dalam menjalani sisa kehidupan kita ini. Akan menentukan seperti apa kita akan menjadi orang di masa depan nanti. Membentuk segala pola hidup serta sudut pandang dalam menjalani kehidupan ini. Di fase ini saya rasakan semua perubahan itu memang nyata adanya. Dan kini, saat ini, saya pun telah benar-benar menyadari, saya tidak akan bohong bahwa faktor lingkungan menjadi dorongan utama dari setiap perubahan yang saya alami walalupun hasrat serta motivasi diri tetap menjadi yang utama.

Ya, saya tidak akan lagi menjadi orang yang terlalu banyak berharap, orang yang terlalu sok mempertahankan segala idealismenya ( baca : Jujur dan Berprestasi, Tanggung Jawab, Balada Shaf Depan, etc ) , saya akan mencoba benar-benar memahami suatu nasihat bijak dari Prof. Dr. Sadu Wasistiono, MS, suatu saat beliau pernah berkata bahwa kita harus teguh dalam idealisme luwes dalam implementasi.
Ya, saya akan coba pahami itu secara nyata dan juga secara nyata mengerjakan nasihat itu.
Terlepas dari segala doktrin yang masuk ke dalam telinga ini serta bersemayam nyaman dalam otak ini, realita kehidupan nyata terasa begitu lebih mengejutkan dan lebih bisa menyadarkan. Ternyata segala doktrin yang ada, yang awalnya saya pikir tidak mungkin, ternyata memang ada terjadi. Dan sepertinya saya juga berterima kasih terhadap setiap doktrin yang ada tersebut, karena setidaknya dengan adanya segala doktrin itu saya tidak terlalu kaget dalam menghadapi atau melihat segala kenyataan yang ada. Berkali-kali telah saya tuliskan segala peristiwa itu lengkap dengan sikap yang saya ambil atas terjadinya segala peristiwa yang ada ( baca : Dengarkan Curhatku , Ironi, Proses yang benar atau Hasil yang baik ?, Catatan ringan, etc )

Dan berkali-kali saya coba hibur diri ini coba untuk tetap bertahan dalam sikap realistis yang saya punyai, tetap percaya pada proses yang selalu saya agungkan semenjak dulu. ( baca : Realistis, bukan pesimistis, Proses atau hasil ? )
Dan kini sepertinya saya lelah, hehehe... atau lebih tepatnya lagi sudah tidak mempunyai asa, saya telah memutuskan untuk tetap mempunyai ambisi tapi ambisi itu akan saya simpan secara baik dan saya tutup rapat-rapat hingga tak terlihat sehingga cukup saya saja yang mengetahui, saya tak kan lagi bermimpi muluk-muluk, cukup menjalani sesuatunya secara apa adanya, karena toh segalanya telah diatur sedemikian rupa secara sangat baik dan sempurna oleh Allah Swt., jadi kita hanya tinggal menjalani semuanya dengan sangat tenang dan hanya tinggal memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Karena seseungguhnya rasa realistis yang sering saya dengungkan hanyalah suatu bentuk kamuflase dari rasa pesimistis yang saya miliki dan merupakan suatu bentuk ketakutan serta keengganan saya untuk bersikap optimistis. Saya terlalu takut untuk jatuh sehingga saya memilih utnuk tidak terbang tinggi. Ya, karena saya hanya orang biasa, tidak benar-benar kaya atau benar-benar pintar, terlalu sangat biasa!
damn!

karena "Menjadi seorang pemenang, tidak berarti kita harus selalu menang. Karena kalah, bukan berarti menyerah."

Selasa, 13 September 2011

Penutup.

Sebenarnya rasa kantuk belum terlalu terasa tapi tidur agak cepat harus saya lakukan karena nanti pada pukul 01.30 pagi waktu indonesia bagian barat, saya harus terbangun segar untuk menonton pertandingan perdana A.c. Milan di Liga Champion melawan sang juara bertahan Barcelona. It will be a great match and I hope Milan will win that match, but draw will fair enough for me. Dan semoga tayangan sepak bola itu bisa saya saksikan di Indovison, tidak dilacak seperti Liga Italia. Ya, suatu hal yang sangat mengecewakan, karena setidaknya saya sudah sangat bahagia membayangkan untuk setidaknya bisa menonton tiga pertandinga A.c. Milan sebelum nantinya saya kembali ke kampus ( dua pertandingan di Liga Italia dan satu di Liga Champion ). Tapi harapan itu harus sirna, karena pertandingan pertama Liga Italia harus diundur akibat adanya pemogokan yang dilakukan oleh asosiasi pemain Italia, buntut dari kasus kontrak kesepakatan kolektif yang tak kunjung menemui titik temu, sehingga akhirnya kick-off Serie-A baru dapat terlaksana pada hari Jum'at, tanggal 9, bulan September, tahun 2011, yang seharusnya pertandingan itu menjadi giornata kedua. Dan pertandingan A.c. Milan Vs. Lazio menjadi pembuka Serie A liga Italia 2011-2012, dan walaupun kecewa karena seharusnya pertandingan itu menjadi pertandingan kedua yang bisa saya saksikan secara langsung di layar televisi, tapi kekecewaan itu segera hilang karena saya masih sangat begitu bersemangat untuk bisa menyaksiskan A.c. Milan. Tapi hal itu buyar karena secara mengecewakan tayangan Serie-A tidak bisa ditonton melalui Indovison. DAMN!
Dan akhirnya harapan terkahir saya adalah di pertandingan ini, yang seharusnya menjadi pertandingan ketiga yang bisa saya saksikan secara langsung, kini harus menjadi satu-satu nya pertandingan yang saya tonton sebelum saya masuk ke kampus. Itu pun dengan catatan Indovison tidak melacak tayangan itu. Let's wait and see!

Tapi tidur cepat itu pun harus saya pending sejenak karena sebuah perasaan yang terlampau mengganjal dalam hati dan saya pikir akan lebih terasa berkurang apabila saya curahkan itu semua pada sebuah tulisan dan sepak bola bukan lah tema utama dari tulisan yang hendak saya tulis saat ini, alasan yang cukup kuat sehingga saya rela menunda beberapa saat tidur saya untuk sekedar menulis adalah karena saya benar-benar ingin mengungkapkan segala apa yang saya rasakan saat ini, segala rasa yang ada, lagi-lagi tentang masalah pribadi, masalah hati.

Begini situasinya, ketika saya sudah secara jujur mengungkapkan rasa sayang saya kepada orang lain, saya ungkapkan itu apa adanya, tanpa ada sesuatu hal yang saya lebihkan atau saya kurangi, dan dia pun sudah menerima itu tapi secara tegas menyatakan sikapnya kalau dia belum bisa menerima, belum siap untuk menjadi sepasang kekasih. Dan karena tujuan awalnya hanyalah untuk berkata jujur, tidak untuk langsung meminta dia untuk mau menjadi seorang kekasih. Maka hal itu menjadi sangat diterima, walau sakit tetap terasa.
Dan untuk memastikan, untuk mendapatkan suatu kejelasan, maka saya pun akhirnya bertanya tentang perasaan dia kepada saya, apakah dia juga mempunyai rasa. Seketika dia jawab iya, dia juga memiliki rasa.
Setelah itu, saya susul dengan pertanyaan selanjutnya apakah ada kemungkinan di kedepannya kita akan menjadi sepasang kekasih atau tetap indah dalam persahabatan, dan seketika pula dia jawab kemungkinan untuk menjadi sepasang kekesaih terlihat lebih nyata daripada tetap menjadi sepasang sahabat. Sampai disini semuanya masih terlihat indah.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya menjadi tidak begitu indah, dan ketika saya bertanya, lagi-lagi untuk memastikan, agar tidak terjadi suatu kesalahpahaman, apakah dia bisa sanggup unuk tidak tergoda dengan yang lain karena jarak dan tempat akan mejadi suatu permasalahan. Maka dengan singkat dia menjawab, "you the one and only i love". Tentu kita semua tau arti dari kalimat itu, saya cukup yakin, dan cukup percaya diri, berarti apa yang harus saya lakukan hanya tinggal menunggu waktu sembari terus menjaganya agar tidak terbang jauh melewati sanggar.

Tapi lagi-lagi yang terjadi selanjutnya tidak begitu indah, tidak seperti yang saya bayangkan, apa yang terjadi di realita tidak seperti yang ada dalam bayangan saya, tidak menunjukan dia yang mempunyai rasa kepada saya. Ketika saya begitu perhatian , begitu memperhatikan terhadap apa yang dia lakukan, dia terlihat santai acuh tak acuh dengan apa yang terjadi pada saya atau apa yang saya lakukan. Ketika terus saya meneleponnya, terus menghubungi melalui pesan pendek, dia tak pernah sekalipun berinisiatif untuk menghubungi saya terlebih dahulu. Ketika saya menunggu penuh harap untuk dia membalas sms, ternyata dia begitu santai tidak membalas sms saya. Bahkan ketika bertemu, dia malah terlihat begitu akrab berbicara duduk bersama dengan seorang teman pria, ketika dalam kendaraan, ketika kita bersama, ketika banyak kesempatan untuk melakukan suatu percakapan, kita justru terpaku dalam diam menimati keheningan. Dan beberapa saat kemudian justru asyik menelepon seseorang, sibuk bermain BB ( I HATE BB ), sibuk dengan segala kehidupan di dunia maya dan saya di kehidupan nyata terasa maya baginya.

Inti dari segala yang ada adalah dia memberi saya harapan, dia yang berkata bahwa dia juga memiliki rasa, dia yang berkata ya dia tak akan tergoda yang lain sampai saatnya nanti dia siap untuk menjalin suatu hubungan. Tapi tak ada satu pun realita yang cocok serta sesuai dengan segala apa yang dia katakan. Dia terlihat sangat santai ketika justru perasaan saya tak menentu. Dia terlihat tidak seperti orang yang memilki suatu perasaan terhadap orang lain, dia seperti pura-pura bodoh dengan segala rasa yang saya miliki.

karena bagaimana bisa dia katakan cinta tapi tak pernah menanyakan kabar?
bagaimana bisa katakan cinta tapi justru nyaman bersama yang lain?
bagaimana bisa katakan cinta tapi justru tak mau bersama?
dan yang paling buruk dia bahkan tidak pernah bertanya kenapa, ada apa.

mungkin ini karma, ketika terlalu banyak wanita yang mengasihi saya sakiti, maka saya adalah lelaki yang di benci.
oh, please forgive me!!

saya pun akan tertidur dan dia tetap belum membalas pesan yang telah lama saya kirimkan untuk dia. what a life...

Me Vs. BlackBerry !

Saya akui saya mempunyai pemikiran seperti ini karena didasari oleh satu hal yang amat kuat walapun bukanlah sebagai sebuah alasan utamanya, yaitu karena saya tidak mempunyai cukup uang untuk membeli benda itu. Harga yang ditawarkan atau harga yang ada terlampau jauh dari apa yang saya punyai dan terlebih lagi saya pun entah kenapa tidak begitu tertarik untuk bisa memilikinya dan kini hal itu semakin bertambah kuat, alasan untuk saya tidak menyukai benda itu semakin terus bertambah kuat.

Saya pikir bila saya memiliki dan mempunyai benda itu, saya hanya akan banyak merasakan efek negatif daripada mampu untuk menikmati sisi positifnya. Memang suatu hal yang bodoh menyalahkan sesuatu benda mati terhadap suatu hal negatif yang kita lakukan, karena bagaimanapun juga suatu benda mati akan selalu mempunyai sisi positif dan negatif dan sisi mana yang akan kita nikmati atau jelajahi terus hingga kita jadikan itu sifat dan kebiasaan diri, itu sangat tergantung dengan makhluk hidup yang memakainya, sebagai suatu subjek aktif. Sehingga segala apapun negatif yang ada ataupun postif yang ada secara hakikatnya kita manusia sebagai makhluk hidup, sebagai subjek aktif yang menggunakannya yang harus dipersalahkan, bukan justru mencaci maki benda mati yang tidak tau apa-apa, yang hanya akan berguna apabila kita gunakan.

Seperti halnya apabila terjadi suatu pembunuhan, korban dibunuh oleh si pelaku dengan menggunakan sebilah pisau, tentu kita tidak akan menjadi tolol dengan menyalahkan pisau itu, iya kan ? atau ketika kita tersandung oleh sebongkah batu di jalan, maka suatu hal yang bodoh pula bila kita memaki habis-habisan si batu tersebut. Itu sebuah logika yang harus sama-sama kita resapi dalam hati dan implementasikan dalam sikap.

Dan atas alasan itu pula, saya rasa saya belum bisa untuk mengontrol diri ini dalam menghadapi atau menghalau segala hal yang negatif yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Dan pengalaman yang ada, melihat realita kehidupan yang ada, melihat segala yang terjadi di alam sekitar, perasaan tidak tertarik itu berganti secara perlahan tapi sangat pasti menjadi suatu persaan benci dan rasa tak suka yang begitu sangat. Tapi, saya pun mencoba untuk tetap menjaga perasaan benci itu dalam batas normal, dalam takaran yang sewajarnya, sehingga rasa benci itu tidak akan menutup mata dan pikiran saya terhadap segala positif yang ada pada benda itu, terhadap segala manfaat yang ada dalam benda tersebut, dan saya pun tak ingin dengan persaan benci yang berlebihan justru akan membuat saya tiba-tiba menjadi jatuh cinta pada benda tersebut. Jadi, apa yang coba saya lakukan dan pertahankan adalah suatu rasa benci yang teramat wajar, dalam batas yang sangat teramat normal, sehingga tidak menjadi benci yang membabi buta, menutup mata dari segala apapun yang ada, tapi cukup lah suatu rasa benci yang hadir karena murni selera dan masalah prinsip serta ego diri pribadi.

Saya menjadi benci benda itu karena benda itu sangat mahal, sehingga saya tidak bisa membelinya.

Saya menjadi benci benda itu karena benda itu memiliki fungsi kamera sehingga tidak boleh saya miliki secara normatif aturan dan kalaupun ada jenis yang tidak dilengkapi dengan fitur kamera, saya sangat tidak tertarik untuk memilikinya.

Saya menjadi benci benda itu karena dengan benda itu kita terus terhubung dengan dunia maya, terus mendapat notifikasi, sehingga terus membuat kita apatis dan autis, membuat kita sibuk sendiri, mengacuhkan semua yang nyata di kehidupan nyata, tidak mengindahkan setiap kata dari lawan bicara di dunia nyata, mengganggu setiap kegiatan kita di dunia nyata, karena kita terus disibukan dengan segala yang terjadi di dunia maya, terus sibuk menggerakan jari jemari kita membalas segala kata dari lawan bicara di dunia maya, terus melakukan kegiatan semu di dunia maya.

Saya membenci benda itu karena benda itu menjauhkan kita dari segala yang dekat di dunia nyata dan justru mendekatkan kita dari segala yang jauh di dunia maya.

Saya membenci benda itu karena hal yang pribadi menjadi cepat berubah jadi konsumsi publik, serta konsumsi publik sudah menjadi berubah untuk selalu ingin tahu apa yang terjadi pada hal pribadi disetiap pribadi.

Saya membenci benda itu karena dengan benda itu sudah tidak ada lagi istilah rahasia pribadi semuanya berubah menjadi rahasia umum.

Saya membenci benda itu karena kini orang-orang lebih suka mencurahkan segala isi dalam hati mereka pada dunia maya terhadap orang-orang dengan sejuta kata yang maya.

Saya membenci benda itu karena orang-orang lebih terbuka pada benda tersebut daripada orang-oarang nyata sebagai sahabat atau keluarga.

Saya membenci benda itu karena kini semua orang sangat menyukai suatu perhatian, suatu kepopuleran, dengan bebagai cara, dengan berbagai kata membuat suatu sensasi. ( baca : GET REAL, PLEASE ! )

Oh, my God, I hate that thing so f****** bad!!

Wisdom, Justice and Love part. III

Baca juga : Wisdom, Justice, and Love part I dan part II

"hal yang paling menakutkan dari suatu kekerasan bukanlah kekerasan itu sendiri. melainkan apabila kaum wanita telah dengan jelas ataupun secara samar menyetujui dan melihat serta menilai kekerasan itu sebagai sesuatu yang lumrah atau wajar. Dan yang paling menakutkan adalah ketika kaum wanita sendiri yang menjadi pelaku kekerasan itu."

"dan aku lebih menyukai penyiksaan, penghinaan dan kematian daripada mengingkari panggilan suci." ( Kahlil Gibran )

"bila anda menghormati satu orang maka hormati lah semua orang. tapi bila anda menyayangi satu orang jangan anda sayangi semua orang. karena anda tak akan pernah bisa membahagiakan semua orang sama besar dan persis sama."

"Saya kecewa, anda mengecewakan atau justru saya mengecewakan dan anda kecewa atau bahkan saya dan anda mengecewakan sehingga saya dan anda kecewa ?"

"Ketika diri ini ingin memiliki segalanya, memiliki semuanya yang sebenarnya tidak bisa kita miliki apalagi dalam waktu yang bersamaan. Hasil dari ketidakmampuan untuk memilih, ketidakberanian untuk mengambil resiko, ketidaksanggupan untuk jujur, serta akumulasi dari rasa egois. Yang akhirnya hanya akan tersadar ketika semuanya lepas melayang, dan tidak mendapatkan apa-apa!"

"Ketika diri dengan sombongnya masih berharap pada sesuatu hal yang secara akal, nalar, logika ataupun dengan segala pendekatan lainnya, sesuatu hal itu sudah tidak mungkin lagi bisa terjadi. Maka itu BODOH, OPTIMIS BODOH namanya!!"

"Apakah beban itu karena tekanan atau tekanan karena beban? Dan apakah tekanan itu ada karena terasa ataukah terasa karena ada?"

"Maafkn utk smw sms yg tdk sy bls dan smw ucpn yg tdk sy tnggapi. Sy msh brpgng pd bhwa sgl bntk ibdh tntg nifsu syahban haditsny dhaif. Tp,sy jg hnya brtndk sbg pendngr,bkn seorg ahli. Jd,tdk brni utk brdbt ato skdr brpndpt. Akn ttp,prl qt sdri,sgl ibdh itu hram kcli yg d halalkn dan ibdh bkn tntg kuantitas tp kualitas. Peace!"

"Jangan pernah meremehkan hal-hal yg kecil karena hal kecil itu bisa menjadi besar tapi juga jangan terlalu membesar-besarkan hal yg kecil karena tidak semua yg kecil akan berubah jadi besar."

"Salah satu cara untuk bsa menilai dan mengetahui sifat asli seseorg, maka lihat lah dia di saat akhir dalam satu periode di suatu masa dan ketika dia dalam keadaan terdesak."

"Ketika yang salah merasa benar dan melakukan pembenaran. Lalu yang benar mereka cerca serta hina. Lantas mau jadi apa kita ?!"

"Banyak diantara kita yang pintar dan mungkin terlampau pintar. Tapi, mendadak menjadi orang bodoh, karena menunjukan kepintarannya dengan bicara banyak tanpa inti dan tidak sesuai dengan tempat, situasi, dan kondisi yang ada."

"etika tak bisa dipaksakan, tapi harus dipahami. akan tetapi, terkadang perlu terlebih dulu kita paksakan untuk bisa kita pahami etika tersebut."

"Disiplin apa? Bila ternyata banyak deviasi. Respect apa? Bila ternyata mendewakan gengri. Dan loyal apa? Bila ternyata terus melakukan resistensi. Jadi, apa lagi yg mau dibanggakan ?"

"Menjadi seorang pemenang, tidak berarti kita harus selalu menang. Karena kalah, bukan bearti menyerah."

"Manusia itu akan terlihat hebat, bila berdiri sendiri. Dan akan seketika menjadi rendah bila dilakukan suatu pembandingan. Karena hebat, pintar, dan segala yg sejenis itu sangat lah bersifat RELATIF!!"

"suatu pernyataan sering kali akan mengundang datangnya banyak pertanyaan."

"Bagaimana mungkin seseorang bekerja dgn maksimal dan memberikan pelayanan yg optimal, bila seseorg tsb bekerja d suatu tempat dgn ilmu yg tidak dia kenal ?"

"Mayoritas tidak selamanya benar dan minoritas tidak selamanya salah. Tapi, benar atau salah mayoritas akan tetap mampu menekan minoritas dan salah ataupun benar nya minoritas, akan tetap tertindas mayoritas. Dont like it? lets stand up and change with the real action, not just an empty words." 

"inikah hidup? tanpa aturan yang mengekang selayaknya tali yang mengikat kencang? apakah benar hidup itu harus bebas lepas tak ada batas?"

"kecerobohan, kebodohan, ketololan, dan segala hal negatif lainnya akan relatif terjadi di saat kita terlampau gembira, bahagia atau apapun istilahnya, ketika mendapatkan sesuatu hal yang kita impikan dan harapkan."

"Kesalahan adalah bukti nyata dari ketidaksempurnaannya seorang manusia. Tapi, jangan menambah ketidaksempurnaan itu dengan lari dari tanggung jawab akibat kesalahan itu."

"menjadi seorang yang baik tak akan pernah cukup ketika tidak diikuti oleh suatu nasib yang baik dan suatu proses yang benar tak kan pernah berarti apa-apa tanpa diiringi oleh sebuah hasil yang bagus. Welcome to the Jungle!!"

"hentikan segala penyesalan dalam sebentuk kata seandainya. Karena sungguh sehebat apapun kata-kata itu tak akan mampu merubah segala yang telah terjadi. Pelajari dan jangan kita ulangi!"

"apakah wajar seperti ini? hidup tak menentu, ketika ketidakjelasan adalah sebuah kejelasan, ketika tidak memilih adalah sebuah pilihan dan begitu seterusnya. Ketika omongan tidak bersinergi dengan realita dan fakta terlampau jauh dari aturan."

"Kelemahan mengundang Pelecehan, Kekuatan mendatangkan Ketakutan."

"A+ ttp akn lbh baik dri A, A akn ttp lbh baik dri B+, B+ akn ttp lbh bk dri B, dan bgtu seterusnya. Kita tdk bsa melawan. Hasil dan nilai sbg ukurannya adalah segala-galanya dlm dunia pendidikan, dan mnkn sgla segi khdpn kita, menafikan PROSES!"

"Banyak orang baik, tapi sedikit yang bernasib baik. Akan tetapi saya yakin apabila kita konsisten berbuat hal-hal yang baik tulus ikhlas tanpa ada paksaan tanpa mengharapkan suatu penghargaan ataupun sebuah imbalan. Maka nasib baik akan datang mengikuti."

"Alangkah bodohnya orang-orang yang mengira bahwa cinta datang dari persahabatan yang lama dan rayuan yang tak henti-hentinya. Cinta Hakiki adalah buah pemahaman rasa spiritual, yang jika tak bisa tercipta dalam sekilas pandang, ia tidak bisa di ciptakan dalam bilangan tahun atau bahkan satu generasi sekalipun." ( Kahlil Gibran )

"jadi, apakah bila kau sendiri kau merasa kesepian? atau karena kesepian itu kamu jadi merasa sendiri? Atau mungkin sendiri dan kesepian itu kau rasakan secara bersamaan? Atau sendiri dan kesepian itu kau rasa tak ada sama sekali korelasinya?"

"Dia yang dinanti datang ternyata tak kunjung datang. Dia yang diharapkan datang menemani ternyata tak kunjung peduli. Dia yang ditunggu-tunggu ternyata juga tak menunggu. Dia .."

Kamis, 08 September 2011

Still Tragic ..

damn...
berawal dari sebuah tweet, dari jejaring sosial mikroblogging ternama, twitter, ada suatu permasalahan yang mengganjal. Ada sebuah kata sederhana mengusik hati dan mengundang emosi. Kata yang saya pikir tidak pada tempatnya dan tidak seharusnya. Kata yang berarti sangat lebih dari arti sesungguhnya karena cenderung akan diartikan lebih dari konteks yang dimaksud sesungguhnya. Dan sangat berpotensi juga mengusik hati orang lain yang sebenarnya tidak ada sangkut paut sama sekali.

Dengan segala pemikiran yang saya pikir sudah sangat cukup, dengan berbekal emosi yang memadai dan mental yang saya pikir juga tidak surut, sudah cukup untuk menghujat si pelaku bahkan untuk lebih dari itu sekalipun. Saya pun sesegera mungkin mencari informasi, mencari dia punya nomor pribadi, sehingga bisa kami berbincang lebih dalam, bertanya sebab musabab dengan segala argumentasi yang dia punyai.

Tapi, apa yang telah saya buat, segala niat jahat untuk menunjukan siapa yang paling hebat harus rusak dengan segala argumen yang dia kemukakan dengan nada bicara lebih dari meyakinkan dengan segala "demi" yang ia keluarkan, sehingga semakin membuat hati dan telinga ini memerah menahan malu, cukup besar untuk menahan segala kata, sehingga diam menjadi pilihan dan kalaupun ada kalimat yang mampu saya rangkai dari kata-kata yang sempat saya ucap, maka kalimat itu jauh dari kata sempurna dan perlu dari lebih keberuntungan untuk mampu dia pahami.

Dia terus berkata, terus mengeluarkan kata, terus semakin menyudutkan dan terus semakin mendorong ke lubang juram. Saya tak bisa melawan apalagi berbalik menyerang marah, karena itu benar adanya, karena apa yang dia bilang, tak bisa saya sanggah dengan berbagai macam bentuk kalimat apapun juga. Sekali lagi dia benar.

Dia berkata dengan satu sudut pandang, tapi saya tidak bisa menyerang itu karena dengan sudut pandang itu lah dia hidup dan melihat kehidupan. Dia berkata dengan satu emosi dan juga mengundang saya punya emosi, tapi emosi dia berlandaskan pada satu emosi dari satu hati yang sangat tersakiti. sedangkan emosi yang saya miliki hanya sebuah emosi kecil karena merasa harga diri terinjak mati, padahal hanya sebuah ungkapan egois diri.

dan secara keselurahan apa yang telah dia ungkapkan telah cukup adil ia kemukakan.
karena bukankah adil itu bukan sama rata sama rasa? tapi mampu menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya?

mmm...
Saya salah untuk segala egois yang saya punya.
saya salah untuk segala harapan yang telah saya beri.
saya salah untuk segala cinta yang telah saya janji.
saya salah untuk segala sayang yang telah saya buang.
saya salah telah mengangkat tinggi ke awan.
saya salah telah menjatuhkan keras ke tanah.
saya salah dengan sejuta kesalahan saya lainnya.

Sedangkan dia hanya salah dengan satu kata saja, satu kata hasil dari akumulasi kekecewaan berjuta-juta kesalahan yang telah saya perbuat.

Jadi manakah yang benar? emosi dari satu kesalahan atau emosi dari berjuta-juta kesalahan?

Rabu, 07 September 2011

INDONESIA !!



Sepak bola,
permainan kaki mengolah bola,
atau dengan anggota tubuh lainnya,
asal tangan tidak terkena,
kecuali kiper tentunya.

Olahraga paling populer di dunia,
disukai oleh kaum adam juga kaum hawa.
Tersihir oleh indahnya gocekan pemain bola,
atau betapa indahnya muka mereka.

Indonesia,
Negara di kawasan asia,
asia tenggara tepatnya.
Ku cinta ini negara,
karena disinilah aku lahir dan tumbuh besar hingga dewasa.
Betapun hina,
betapun orang di sana mencerca,
ku kan tetap berdiri lantang,
dengan angkuh berkata, ‘Aku Orang Indonesia’
Aku bangga menjadi Indonesia,
Dengan segala yang buruk serta indah yang ada menyertainya.

Piala dunia,
Sebuah event akbar sepak bola,
mempertemukan 32 negara,
yang dijaring dari hasil kualifikasi setiap benua,
sehingga benar dihasilkan yang terkuat,
untuk bertarung menjadi sang juara,
mendapat mahkota raja sepak bola dunia.

Dalam sepak bola,
Indonesia pernah begitu perkasa,
tapi itu dulu kala,
ketika aku pun belum ada,
ketika kakekku saja masih remaja.
Kini sudah berubah semua,
di saat yang lain melangkah cepat berbenah,
kita justru menukik ke bawah menuju tanah.

Indonesia hanya menjadi tim nyaris juara,
dan berjuta-juta nyaris lainnya.
Entah ada apa,
entah dosa siapa.
Tapi ini memang masalah kita semua,
masalah kompetisi lokal,
masalah sarana,
masalah dana,
masalah sumber daya manusianya,
dan juga salah pengelolaannya.
Semua solusi masih dalam tahap pencarian,
mencari bentuk tepat sebuah formula,
untuk menjadi solusi itu masalah,
hingga akhirnya prestasi bisa kita dapat,
kita peluk dengan sangat erat.

Dan kita Indonesia,
belum sempat mencicipi nikmatnya piala dunia,
tapi dulu sekali saat kita masih dijajah,
dengan nama hindia-belanda,
kita sempat masuk piala dunia,
1938 tahunnya,
dan sejak itu kita belum pernah lagi bersua
atau langsung berpartisipasi nyata.
Kita hanya menjadi penonton setia.
Karena selalu gagal di kualifikasi zona asia.

Tapi harapan itu kembali ada,
terasa begitu nyata.
Ketika kita bermain indah menang empat tiga,
melawan turkmenistan dalam kualifikasi kedua,
sehingga otomatis kita pun masuk kualifikasi ketiga,
masuk grup lima,
bersama iran, bahrain, serta qatar si negara sangat kaya.

Tapi asa itu hancur seketika,
ketika melawan iran di pertandingan tandang pertama,
kita kalah kosong tiga,
lalu main di kandang pun menjadi percuma,
dengan beribu pasang mata yang ada di istora,
dengan beragam tingkah pola anak manusia,
khas penonton fanatik sepak bola,
dengan semangat yang lebih dari empat lima.
Tapi ternyata itu tak cukup juga,
karena kita tetap kalah kosong dua
dari bahrain negara timur tengah di jajaran saudi arabia.

Seakan ada pembenaran,
penonton kita pun berulah,
menyalakan banyak petasan melanggar aturan jelas.
Sehingga pertandingan sempat ditunda,
di menit ke tujuh lima.

Ya..
Saya kecewa,
Semua warga indonesia pasti kecewa,
Terlebih para penonton yang telah datang di istora.
Tapi harapan itu masih ada,
di depan masih ada enam laga tersisa,
pembenahan masih bisa dikejar, masih bisa kita perbuat

Jadi mari terus kita berdoa
dan terus lah berjuang wahai pejuang sepak bola,
anda masih dan akan selalu bisa membuat bangga Indonesia.


Minggu, 04 September 2011

announcement

So this is the situation my friends.
I will not be able in all my social networks for a while and I don't even know for how long.
Because of some reasons that I'm not proud of to tell you all.
If u wanna to contact me just call me or send me a message to my handphone ( 085222449191 )
Thank you for all your attention and have a very nice life, my friends. :)

Kamis, 01 September 2011

Awal yang Buruk di Bulan yang Baik.




Sebelum saya memulai menulis izinkan saya untuk menarik nafas sedalam mungkin sambil berharap hal itu akan membantu untuk menenangkan jiwa ini. Tidak, ini tidak untuk bertransformasi menjadi seorang yang alay atau berubah wujud menjadi makhluk yang lebay, tapi hal ini sungguh nyata saya lakukan karena memang saya butuh diri ini untuk tenang agar bisa berpikir jernih tidak untuk bersumpah serapah mengeluarkan segala macama kata-kata sampah.

Hmmm...for the record and maybe for your information, saya baru putus dengan pacar saya, tepatnya pada hari ini, Kamis (01/09/11), sekitar pukul 18.00 WIB setelah hampir 11 bulan kami bersama terhitung sejak 07/09/10. Tidak tau saya harus memulai dari mana, karena jujur saya sendiri bingung bagaimana caranya menyusun segala macam kata yang sebenarnya ada dalam otak, berterbangan dengan liar di dalam kepala atau bahkan berjuta rasa di dalam hati yang menunggu untuk diinterpretasikan dalam sebentuk kata-kata.

Saya akui ini bukan lah pertama kali saya putus dengan seorang wanita, saya sudah sembilan kali berpacaran dan berarti saya pun sudah sembilan kali merasakan putus, walaupun sebenarnya lebih. Karena sembilan kali itu saya hitung dari jumlah wanita yang saya pacari sedangkan pada realitanya, ada satu ketika saya mengalami sesuatu hal yang orang biasa sebut putus-nyambung. Tapi sudahlah, itu bukan merupakan tema utama yang hendak saya bahas. Dan walaupun ini bukan kali pertama saya putus, perasaan itu masih saja sama, masih sama membekasnya, masih sama membuat diri ini melamun, bersedih dan segala macam rasa duka lainnya. ( baca : It's All Over Now, The Songs of My Tragic Love ) Ini jujur tanpa ada sedikit pun rekayasa karena saya tidak akan pernah mau mengotori segala hasil tulisan saya dengan sebongkah kebohongan, saya selalu berusaha jujur dalam setiap apa yang saya tuliskan.

Dan rasa yang paling besar, paling sangat saya tidak sukai adalah kenyataan bahwa dengan memutuskan seorang wanita SAYA TELAH BERDOSA, SAYA TELAH BERDOSA BESAR.

Saya masih cukup sadar, thank God! Sekali lagi, saya masih cukup sadar dan waras untuk menyadari bahwa dengan memutuskan seorang wanita, atas dasar apapun, atas alasan apapun, pada hakikatnya saya telah berdosa, dosa besar bila boleh saya katakan. Saya telah berdosa karena dengan memutuskan suatu hubungan berarti saya telah mengkhianati segala janji yang telah saya katakan dan yang telah saya janjikan dengan penuh rasa meyakinkan. Itu berarti saya telah menjadi seorang pembohong dan lebih jauh lagi saya telah menjadi seorang yang munafik !
Dan saya pun berdosa karena telah menyakiti hati seorang wanita. Bagaimanapun wanita adalah makhluk yang sangat lembut, se-tomboy-tomboy-nya mereka, deep down in their hearts, mereka tetap lah seorang makhkluk yang lembut. Tak heran dan memang punya alasan khusus kenapa wanita selalu mendekati segala sesuatunya dengan pendekatan perasaan dan cenderung mengeyampingkan logika mereka. Ya, kedua alasan itu sudah cukup jelas untuk membuktikan bahwa saya telah berdosa. Dan itu lah kenapa saya selalu merasakan rasa duka yang sama ketika saya harus memutuskan seorang wanita.

Mungkin tanda tanya besar seketika datang menyeruak, bila sebegitu warasnya saya lalu kenapa saya masih terus bisa dan memilih untuk memutuskan seorang wanita bahkan untuk kesembilan kalinya? Bukankah dengan begitu berarti saya telah melakukan kesalahan yang sama? Bila begitu saya lebih bodoh dari seekor keledai sekalipun?
Izinkan saya untuk menjelaskan itu semua dan melakukan suatu pembelaan, tapi bukan merupakan suatu penyerangan ini hanya suatu bentuk pertahanan mencari suatu pembenaran.
Semua wanita pasti akan selalu mengutarakan dan berkata bahwa apa yang hendak saya tuliskan ini merupakan suatu alasan yang klasik, terlalu klise. Tapi, sekali lagi saya katakan dan yakinkan, INI SEMUA JUJUR dan bila perlu dan bila bisa, saya rela dan siap untuk melakukan suatu tes kejujuran untuk membuktikan ini semua. Saya memilih untuk memutuskan wanita ini, wanita yang telah dengan sangat baik hati menerima dan memaklumi segala kedaan yang ada dari konsekuensi berpacaran jarak jauh, karena saya merasa tidak sanggup untuk membuatnya bahagia. Ya, bahagia, suatun ukuran yang abstrak. Tapi, saya memutuskan untuk menyerah seperti ini, karena saya mencoba untuk realistis terhadap situasi yang ada saat ini dan di saat yang akan datang. ( baca : Realistis, bukan pesimistis ) Saya belum bisa untuk berubah. Di saat hubungan kita sudah hampir menginjak satu tahun pertemuan diantara kami berdua masih sangat bisa kami hitung, komunikasi kami masih sangat bergantung pada sms, dan entah kenapa saya masih belum bisa membagi waktu secara baik serta secara dewasa, sehingga dia masih terlalu banyak saya korbankan, saya menjadi sangat cuek terhadapnya, bahkan ketika dia membutuhkan saya untuk sedikit berkeluh kesah tentang kondisi badannya yang dia rasa sedang kurang baik. Secara materi maupun immateri, saya belum bisa memberikan dia apa-apa. Sedangkan saya yakin dia sangat membutuhkan apa-apa itu.

Saya kenal dia sedari SMA, kami sempat satu kelas ketika kelas X, lalu berbeda kelas ketika kelas XI dan XII tapi kelas kami selalu bersebelahan ketika itu, saya tau dia cukup baik, saya tau cara dia bersosialisasi, saya tau cara dia berteman, dan saya tau cara bagaimana dia berpacaran. Walaupun tidak secara mendetail tapi saya tau gambaran secara umumnya. Dengan situasi seperti ini, dengan intensitas pertemuan kami yang sangat jarang, jelas ini bukan merupakan tipe ideal untuk suatu hubungan bagi seorang dia. Tapi, memang saya menjadi salah, karena saya memutuskan untuk menyerah ketika dia telah mampu untuk mengerti kedaan ini, ya..saya salah karena hal itu. Tapi, saya pikir ini akan menjadi lebih baik untuk kedepannya nanti.

Hubungan jarak jauh merupakan pengalaman pertama bagi saya dan begitu juga dia. Tapi, untuk saya pribadi hubungan kali ini merupakan hubungan yang paling berat, di samping karena jarak itu tapi juga karena dalam hubungan ini, jujur, saya mencoba untuk merubah segala sifat jelek saya dalam menjalani suatu hubungan. ( baca : (mencoba) Berjiwa Besar ) Saya katakan jelek, karena saya pikir sifat itu terlalu berlebihan untuk dilakukan dalam suatu hubungan bernama “pacaran”. Sifat itu adalah keinginan saya untuk bisa mengatur sepenuhnya kehidupann, memegang penuh kendali dari kehidupannya. Ya, cenderung merupakan suatu sifat yang posesif dan oleh sebab itu saya coba untuk hilangkan. Tapi ternyata hal itu membuat saya menjadi menjalani hubungan dengan seperti tidak menjadi diri saya sesungguhnya, saya merasa menjadi seseorang yang lain dan hasilnya saya menjadi seseorang yang cuek. Penjelasan logis dengan sifat “posesif” saya itu adalah karena dalam menyangi seorang wanita saya tidak pernah bermain-main dengan itu, saya mencintai dan menyayanginya secara penuh dan sepenuh hati, sehingga sedikit pun saya tidak ingin kehilangan dirinya. Intinya sifat itu saya miliki karena memang berbanding lurus dengan besarnya rasa cinta yang saya miliki. Tapi, saya ingin untuk merubahnya karena ternyata tidak terlalu berhasil pada hubungan saya sebelumnya dan juga saya pikir tidak relevan dengan situasi pacaran jarak jauh yang pada saat itu saya alami. Tapi, sekali lagi, hal itu justru membuat saya bingung sendiri dan seperti hilang arah dalam menentukan hubungan ini.

Sifat saya tersebut mungkin sedkit banyak dipengaruhi oleh sifat manja yang saya miliki. ( baca : 19th ) karena sifat tersebut saya terdidik untuk mampu mendapatkan semuanya dan memegang kendali penuh terhadap semuanya. Dan mungkin karena “didikan” itu pula saya menjadi sangat ingin mendapatkan wanita yang lebih dewasa dari saya, mampu untuk lebih “cerewet” dan “bawel” dari saya, lebih banyak mengatur saya, dan segala macam bentuk kedewasaan lainnya.
Yeah, i need a woman not a girl !

Tapi sudahlah, yang jelas hal ini sedikit banyaknya juga semakin membuat diri ini bertambah bingung. Bagaimana dengan kisah cinta saya kedepannya? Apakah saya akan tetap bertahan dengan sikap “posesif”? atau berubah dalam kebingungan?
Tak tau lah, yang jelas, saya akan berusaha fokus untuk mencari seorang wanita dewasa, dan saya ingin bila nanti saya berpacaran lagi itu untuk yang terakhir kalinya. Sudah cukup rasanya saya berdosa karena memutuskan seorang wanita dan atas janji yang telah saya katakan.
I wish i could and I’m sure I can!! ( baca : AKU INGIN )

Yang jelas, satu hal yang ingin saya pertegas, saya tidak pernah berniat menjadi seorang pembohong, seorang yang munafik. Apa yang saya katakan adalah jujur dan benar adanya. Bila pada suatu ketika saya berkata bahwa saya sangat mencintai seseorang berarti itu benar adanya. It is what it is. Bila pun pada akhirnya saya tidak bisa terus melakukan semua kata-kata itu, itu semata-mata karena ketidaksempurnaan saya sebagai seorang manusia dan pikiran saya bahwa saya yakin, kekecewaan serta kesedihan yang saya buat ketika saya memutuskan seorang wanita itu akan terganti dengan kebahagiaan yang sangat lebih di masa yang akan datang dengan pria lain dan kebahagiaan itu akan jauh lebih besar daripada kebahagiaan apabila wanita tersebut terus bersama saya. Ya, saya yakini itu.

Pada akhirnya, ungkapan klasik lagi mungkin, tapi saya meminta maaf yang sebesar- besar nya pada Intan Maharani. Maaf untuk segala-galanya. Tapi, bila pun kamu marah, benci kepada saya, itu sangat wajar adanya. Tapi saya mohon dengan sangat, tolong hina saya, benci saya dan marahi saya juga dengan sewajarnya. Karena kita memulai hubungan ini dengan baik jadi mari kita akhiri juga dengan baik. Kita jaga segala sesuatunya yang sudah baik. Ini hanya perubahan status, dari berpacaran menjadi suatu persahabatan yang kata orang lebih kekal adanya. Kenang saya, ingat saya dengan sesuatu yang baik ( walaupun entah apa hal baik yang telah saya berikan ) segala sesuatu yang buruk termasuk perpisahan ini cukup jadikan sebagai sesuatu angin lalu.

Hmmm..selamat mencari yang baru, just open ur waiting list’s notes. Saya tahu dan yakin banyak lelaki lain yang lebih, sangat lebih dari saya, dari seorang Adima, yang mampu membahagiakan Intan dalam artian yang sebenar-benarnya. Tidak pengecut, tidak payah dan tidak bertanggung jawab seperti seorang ADIMA INSAN AKBAR NOORS.
Cause, I’m just another bastard, a man with a very big f****** mouth!
Once again, sorry ...

Goodbye, Intan.
Let’s be a very good friend.