Minggu, 14 Agustus 2016

Muslim tanpa tendensi

SABTU, 13 AGUSTUS 2016
10.30 WIB

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”
(6:159)

Sebagai seseorang yang awam dan “terlambat” untuk tertarik dalam mempelajari ilmu agama, saya sangat dibingungkan dengan fenomena yang ada dan berkembang di mayoritas masyarakat Indonesia, bahkan dunia terhadap Islam. 

Islam dewasa ini menjadi terkotak-kotak atau terbagi ke dalam banyak kelompok. Tidak hanya terbagi ke dalam kelompok, tapi bertambah buruk karena diantara kelompok tersebut tidak terjalin suatu sinergitas. 

Mereka justru saling berbantah, menunjukan egonya, dan saling meng-klaim bahwa dirinya yang paling benar. Mereka berusaha untuk semakin menguatkan kelompoknya masing-masing dan terus berkompetisi untuk mendapatkan banyak anggota, untuk semakin mengukuhkan bahwa mereka adalah kelompok yang paling utama.

Hal itu sangat membingungkan. Terlebih dengan propaganda media yang membabi buta, maka bila tak pintar memilih informasi atau tak bijak dalam mengelola emosi, nilai-nilai Islam tak akan pernah mampu terpahami secara utuh. Pada akhirnya, saya dan anda akan terjebak pada perdebatan kelompok yang tak berujung.

Saya mungkin awam dalam ilmu agama dan juga tak paham dengan kaidah/tata bahasa arab sebagai bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an dan penyampaian sunnah Rasullah Saw. Tapi saya pun bukan orang bodoh. Saya mempunyai akal untuk berpikir. Sehingga tak semua ceramah atau bacaan yang saya dapatkan saya amalkan tanpa saya pikirkan terlebih dahulu. 

Cara yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan melakukan kroscek informasi. Tidak taklid pada satu orang dan/atau satu buku.

Sejauh yang saya tau, di dalam Al-Qur’an dan Hadits Shahih, tak ada penyebutan selain Muslim bagi mereka yang mentaati Allah dan Rasul Saw., tak ada istilah A, B, atau C. Tak ada juga sebutan kelompok A, B, atau C. Hanya Muslim!

Jadi kenapa kini orang-orang justru disibukkan dengan sebuah istilah lain selain Muslim? Okay, permasalahan yang sering saya dengar adalah karena perbedaan penafsiran. Terutama dalam hadits, lebih spesifik lagi dalam urusan fiqih/ibadah. Tapi menurut hemat saya, ketika perbedaan penafsiran hadits itu tetap berpegang atau berdasar pada hadits shahih atau jelas asal-usulnya dan terjamin keasliannya, kenapa harus dipersoalkan dan kenapa harus terpecah ke dalam kelompok? Lalu seakan-akan memisahkan diri. Apakah harus seperti itu?

Bukankah di dalam Sirah Nabawiyah kita bisa mengambil sebuah hikmah yakni ketika Perang Bani Quraizhah, Rasullah Saw. memerintahkan muadzin menyerukan kepada khalayak “Barangsiapa mendengar dan taat, janganlah sekali-kali melakukan shalat ashar, kecuali di tempat Bani Quraizhah.”

Para sahabat pun segera melaksanakan seruan tersebut. Singkat cerita, Di perjalanan menuju tempat Bani Quraizhah, tibalah waktu ashar. Sebagian dari mereka terus melakukan perjalanan dan baru melaksanakan shalat ashar setelah waktu isya sesampainya mereka di tempat Bani Quraizhah. Dan sebagian yang lain menghentikan perjalanan dan mengerjakan shalat Ashar terlebih dahulu.

Sahabat-sahabat yang pertama menafsirkan seruan Rasul Saw. dengan pemahaman bahwa tidak boleh mengerjakan shalat kecuali di tempat Bani Quraizhah sedangkan sahabat-sahabat yang kedua memahami seruan Nabi yang disampaikan oleh muadzin sebagai arahan untuk sesegera mungkin berangkat menuju tempat Bani Quraizhah. 

Karena perbedaan penafsiran tersebut muncul dari sebuah perintah yang jelas keasliaannya maka tak ada masalah yang terjadi diantara sahabat. Apakah lantas karena perbedaan itu para sahabat membentuk kelompok? Tidak, tidak sama sekali. Mereka tetap bersatu padu sebagai Muslim.

Berangkat dari kisah di atas, seharunya hal yang sama kita lakukan di zaman ini. Ketika perbedaan muncul tapi berdasar hukum yang jelas, tak harus disikapi dengan emosi dan lantas membentuk kelompok. 

Walaupun sebenarnya permasalahan itu tak berhenti pada pembentukan kelompok. Tapi paradigma yang kemudian terbentuk akibat dari munculnya kelompok yang merupakan masalah utamanya. 

Kelompok bila dalam artian komunitas, yakni bersikap terbuka dan positif jelas dibutuhkan. Tapi ketika kelompok itu bersifat tertutup dan tak menerima masukan dari luar, itu yang kemudian menjadi masalah. 

Seakan memperumit situasi, sikap kita sebagai individu pun secara tidak langsung membenarkan perihal pengelompokan dalam Islam. Kita sering kali dengan bangga mengatakan bahwa kita adalah seorang Muslim A, B, atau C. Seakan-akan istilah Muslim kurang cukup tegas untuk merepresentasikan siapa kita.

Saya tak anti atau skeptis dengan segala macam kelompok yang ada, bila memang kelompok tersebut bersifat terbuka. Seperti misalnya kelompok dalam majlis ilmu di tiap-tiap mesjid atau sekolah. Tapi di atas itu semua, Muslim tetap yang utama karena istilah MUSLIM lebih dari cukup untuk kita gunakan. 

Pada akhirnya saya hanya ingin belajar untuk benar-benar kembali pada tuntunan Al-Qur’an dan Hadits Shahih. Saya hanya ingin menjadi Muslim. Tanpa ada agenda atau kepentingan apapun, selain mendapatkan Ridho-Nya. 

Jadi tolong untuk anda para cendekiawan Muslim, mari bersatu padu dan saling bersinergi untuk menjadi Muslim yang satu, untuk kembali pada ajaran yang utama. Menghilangkan segala macam label yang kadung tersemat selama ini. Mengeyampingkan ego kelompok/organisasi/golongan, demi terwujudnya umat seperti apa yang Allah dan Rasullah Saw. contohkan.

#PMA