Selasa, 27 Juni 2017

Menuju Pernikahan (2)

Selasa, 3 Syawal 1438 H // 27 Juni 2017
08.56 WIB

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmushalihaat, pernikahan yang dulu baru sebatas wacana, kini telah berada di depan mata dan akan segara menjadi nyata! Allahuakbar! 
Demi Allah, ini bukan perkara kecil. Tapi sebisa mungkin saya tak menunjukan wajah takut atau segala bentuk raut muka perasaan negatif. Saya memilih banyak diam. Fokus untuk meluruskan niat dan belajar serta memahami beberapa sunnah nabi shallallallahu alaihi wa sallam selepas pernikahan.

Banyak orang, terutama mayoritas keluarga saya, bertanya tentang bagaimana proses yang saya lakukan. 2 (dua) hal yang menjadi inti pertanyaan mereka adalah sudah berapa lama saya mengenal dia dan kenapa harus terburu-buru dalam menentukan tanggal pernikahan. 
Kedua hal itu saling berkaitan satu sama lainnya karena mereka heran dengan keputusan yang saya ambil. Mereka beranggapan bahwa saya terlampau cepat (tergesa-gesa) dalam mengambil keputusan. Mereka berada di atas kekhawatiran bahwa saya tidak atau belum berpikir matang dalam memilih pasangan hidup.

Kekhawatiran mayoritas saudara saya sungguh dapat saya pahami. Karena saya memang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Saya bukan lulusan pesantren. Saya pun tidak aktif di organisasi Islam manapun. Begitu juga dengan keadaan mayoritas saudara saya, keadaan agama kami tidak jauh berbeda. Jadi, ketika kini saya mulai berusaha untuk hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam, menerapkannya di seluruh segi kehidupan. Termasuk dalam hal ini menjadikan tolak ukur dalam memutuskan urusan pernikahan dengan nasihat-nasihat para ulama, hal itu jelas menjadi sangat asing di telinga mereka. Karena mayoritas saudara saya belum berusaha menerapkan sunnah di luar ritual ibadah.

Maka sangat wajar mereka terkejut ketika saya jelaskan bahwa saya belum pernah “jalan-jalan” atau menghabiskan waktu berdua dengan dia. 
Sangat wajar mereka terkejut ketika saya katakan bahwa saya mengenal dia kurang lebih hanya 3 (tiga) bulan dan hanya pernah bertemu langsung dengan dia 2 (dua) kali. 
Sangat wajar mereka terkejut ketika saya memutuskan menikah tidak lama berselang setalah hari raya idul fitri. 
Dan sangat wajar mereka terkejut ketika mengetahui bahwa konsep resepsi yang akan mereka hadiri akan dipisah antara tamu lelaki dan wanita.

Alhamdulillah, saya telah terbiasa dengan reaksi-reaksi seperti itu karena ini bukan pertama kali mayoritas saudara saya menunjukan keanehan atau keterkejutan terhadap keputusan yang saya ambil sebagai konsekuensi saya untuk senantiasa berusaha hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam
Saya hanya berusaha meyakinkan mereka bahwa apa yang saya yakini dan berusaha saya lakukan saat ini bukan sesuatu hal yang “sesat” tapi merupakan sesuatu hal yang memiliki landasan ilmu yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Semua sumber rujukan beragama yang saya jadikan hujjah bisa untuk mereka baca dan kritisi secara gamblang, tidak ada yang ditutupi dan sangat terbuka ruang untuk saling berdiskusi, saling memberikan masukan.

Insyaallah ta’ala saya telah yakin memilih dia sebagai pasangan hidup. Ya, saya belum mengetahui detail kehidupannya. Saya belum mengetahui bagaimana watak/karakternya secara rinci. Tapi itu bukan yang utama. 
Ketika saya telah memilih untuk berusaha hidup dengan sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam maka hal-hal itu bukan menjadi prioritas bagi saya. Apa yang menjadi prioritas bagi saya adalah tentang visi dan misi kehidupannya. Alhamdulillah, saya dan dia memiliki visi dan misi yang sama dalam memandang kehidupan, terutama kehidupan berumah tangga kedepannya. 
Kami berdua siap taat dan patuh pada firman Allah azza wa jalla dan sabda nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Maka itu yang utama.

Akan tetapi saya pun tak bisa memungkiri ada perasaan takut dan kekhawatiran yang masih tersisa dalam hati. Proses ta’aruf antara dia dan saya tak berjalan mulus begitu saja. 
Ada perbedaan yang sangat mencolok. Dan itu berkenaan dengan prinsip. Sehingga sempat berdiskusi alot. Pada akhirnya dia mau untuk mengalah, melepaskan apa yang telah dia perjuangkan selama lebih kurang 5 (lima) tahun. Fakta bahwa dia telah lama berjuang di dalamnya, membuat saya takut dan khawatir bahwa dia tidak sepenuhnya benar-benar melepaskan semua itu. Saya takut dan khawatir ini akan menjadi polemik ketika nanti telah berumah tangga. 
Tapi saya pun harus adil, saya harus ber-khusnudzan terhadap apa yang telah dia putuskan. Jadi, bissmillah, biidznillah.

Akhirnya, semoga Allah ta’ala memudahkan segala niat baik hamba-hamba-Nya dan semoga Allah ta’ala memberikan keberkahan pada pernikahan yang insyaalllah akan segera saya laksanakan. Aamiin.

Peace and Cheers!

Sabtu, 03 Juni 2017

Menuju pernikahan.

Sabtu, 8 Ramadhan 1438 H / 3 Juni 2017
13.30 WIB

Disadari atau tidak, kita telah menjadi manusia dengan paham sekuler. Sekulerisme dalam artian memisahkan antara urusan agama dan urusan dunia. Karena faktanya kita bisa konsisten untuk menjalankan setiap perintah agama, yakni perintah ritual ibadah. Tapi gagal mentransformasinya ke dalam kehidupan nyata. Seolah-olah, Islam hanya agama ritual.

Jadi di luar shalat, zakat, puasa, dan haji, maka itu bukan ibadah. Dan Islam tidak mengaturnya. Konsekuensi dari pemikiran sempit semacam itu adalah di luar ritual ibadah, yakni dalam kehidupan sehari-hari, semisal bergaul dengan sesama, bekerja, berdiskusi, bermasyarakat, berpakaian, dan sebagainya, kita gunakan "gaya" di luar Islam. Kita terapkan "-isme" selain Islam. Kita punya "standar" dan "idola" yang jauh dari Islam. Naudzubillah.

***

Ada seseorang yang berkata kepada Salman radhiyallahu ‘anhu: “Apakah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan segala sesuatu sampai masalah buang air?” Ia menjawab : “Ya, Beliau melarang kami buang air besar atau buang air kecil menghadap kiblat, beristinja’ dengan tangan kanan, beristinja’ dengan batu yang kurang dari tiga buah dan beristinja’ dengan kotoran binatang [Termasuk semua yang najis] atau tulang.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Read more https://yufidia.com/3575-tata-cara-buang-air-dalam-islam.html

Hadits tersebut di atas menurut banyak ulama adalah salah satu bukti bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Untuk perkara kecil seperti buang air, Islam telah mengaturnya, maka sangat tidak mungkin bila untuk hal yang lebih besar dari itu, Islam tidak memberikan aturan atau kaidah untuk kita menjalaninya.

Maka orang yang masih bersikeras untuk mengatakan bahwa ibadah dalam Islam hanya terbatas pada ritual, dia telah salah. Dan Muslim yang masih mencari "gaya hidup" atau "-isme" di luar Islam, maka dia telah tersesat. Wallahu'allam.

***

Dua hal di atas hanya mukadimah, saya tak akan berbicara lebih jauh tentang orang-orang yang mengaku Islam, atau setidak-tidaknya ber-KTP Islam tapi enggan untuk mempelajari Islam.

Saya hanya ingin berbicara tentang hal yang jauh lebih sederhana dari mukadimah di atas. Ini perihal usaha saya untuk terus istiqomah di atas sunnah.

Salah satu usaha yang saat ini sedang saya usahakan adalah berusaha untuk menyegerakan pernikahan. Kenapa? Karena tanpa pernikahan agama seseorang (lelaki khususnya) belum-lah sempurna. Terlebih untuk seseorang seperti saya, yang memang dari awal terlanjur akrab dengan dosa. Telah banyak tersentuh oleh hal-hal yang telah jelas dilarang oleh agama. Maka urusan syahwat menjadi titik rawan yang harus saya benahi.

Manusia harus terlebih dahulu mengenali apa yang menjadi kekurangan dalam dirinya untuk bisa kemudian melakukan perubahan positif. Kita harus terlebih dahulu mengakui "penyakit" yang ada dalam diri, untuk kemudian melakukan langkah-langkah penyembuhannya.

Dan yang menjadi "penyakit" yang harus saya sembuhkan adalah perihal syahwat. Bukan pada harta ataupun tahta, tapi pada wanita!

Di dalam Islam, satu-satunya cara yang diridhoi Allah ta'ala dalam menyalurkan kebutuhan biologis manusia, yang dalam hal ini syahwat kepada lawan jenis, adalah melalui hubungan badan dalam ikatan pernikahan yang sah. Tidak ada cara lain!

Sehingga menjadi sangat jelas, tanpa adanya pernikahan maka saya belum beragama secara sempurna. Karena salah satu kebutuhan tubuh belum bisa saya penuhi. Saya, dalam bahasa lainnya, masih berlaku dzalim pada diri sendiri. Karena Islam telah mengatur semuanya, termasuk tentunya pengaturan dalam pemenuhan kebutuhan.

Alhamdulillah, kebutuhan lain telah saya usahakan untuk saya penuhi sesuai dengan tuntunan sunnah. Tapi untuk kebutuhan biologis, maka tuntutan syariat hanya ada satu, yakni pernikahan.

Maka saya tak punya lagi alasan untuk menunda-nunda sebuah pernikahan.

Qodarullah, saya hidup di akhir zaman, dan hidayah sunnah tak saya dapatkan sedari kecil. Sehingga pernikahan yang sebenarnya adalah sebuah ibadah dalam sudut pandang Islam, telah memiliki makna lain di mata masyarakat, yang sebenarnya mayoritas Islam. Ironi.

Pernikahan dipandang sebagai sesuatu hal yang "mewah", penjewantahan dari sebuah kemapanan. Di sisi lain, ada juga yang melihatnya sebagai sebuah pengekangan kebebasan, sehingga hanya boleh dilakukan ketika semua ekspresi diri sebagai makhluk tanpa ikatan telah habis dicurahkan.

Daripada melangsungkan pernikahan, mereka lebih memilih untuk saling mengenal dalam balutan pacaran (saya pernah termasuk di dalamnya bahkan menulis pembelaan tentangnya dan kini saya bertaubat darinya).

Subhanallah, dengan alasan belum adanya kesiapan, terutama dari segi materi. Lalu alasan belum mapannya karir. Mereka menepikan kebutuhan biologis. Alhamdulillah bagi mereka yang mampu mengontrol kebutuhan itu sehingga bisa untuk tersibukan dengan hal positif.

Melawan lingkungan adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Mencari pasangan yang satu visi memandang kehidupan juga kesulitan lain yang harus terpecahkan.

Tapi, Allah ta'ala adalah sebaik-baik perencana. Dia memang maha membolak-balikan hati manusia. Dan alhamdulillah, kini pernikahan itu telah ada di depan mata.

Di sini ujian lain mulai saya rasakan. Di saat-saat seperti ini, keimanan saya pada syariat Islam, pada semua janji Allah ta'ala mendapatkan goncangan. Bagaimana tidak, saya akan menjalani sebuah pernikahan dengan wanita yang belum pernah saya habiskan waktu berdua dengannya. Semua komunikasi kami lakukan secara tegas tanpa ada basa-basi di dalamnya. Allahuakbar, bagi saya yang meng-klaim baru berhijrah, maka ini adalah hal yang sangat baru! Saya akan menikah dengan wanita "asing"!! Bissmillah..

Ujian lainnya adalah berkenaan dengan nafkah yang harus saya berikan. Seperti yang telah saya katakan di awal tulisan. Muslim harus bisa mentranformasikan nilai-nilai Islam kepada kehidupan sehari-hari. Ujian penerapan syariat Islam bukan pada ritual ibadahnya tapi pada penerapannya dalam kehidupan bermuamalah.

Saya yang sedang berusaha sepenuhnya menjalani kehidupan sesuai sunnah, maka dalam hal mendapatkan pemasukan (gaji), koridor syariat pun harus saya penuhi.

Berkenaan dengan hal itu, instansi tempat saya bekerja menerapkan peraturan baru tentang mekanisme pemberian tunjangan kinerja. Aturan mulai diterapkan di awal tahun 2017. Secara garis besar tunjangan kinerja tidak lagi diberikan berdasarkan jumlah kehadiran. Tapi kini tunjangan kinerja diberikan sesuai dengan absensi kehadiran dan input pekerjaan yang dilakukan. 50% tunjangan ditentukan oleh kehadiran dan 50% lainnya ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang dilakukan.

Di awal-awal diberlakukannya aturan itu, saya pun dengan santai melakukan beberapa "kebohongan" hanya untuk mendapatkan tunjangan secara penuh. Banyak pembenaran yang saya kemukakan dalam hati.

Tapi saya pun bertanya, lalu apa makna hijrah yang saya klaim sedang saya lakukan saat ini? Bila untuk mendapatkan gaji saja saya masih berbohong? Allahuakbar. Sebuah keputusan yang sangat sulit. Karena "kebohongan" itu telah sangat lumrah. Karena hal itu berkaitan dengan berkurangnya penghasilan. Terlebih lagi saya pun masih mempunyai tanggungan hutang riba yang harus saya bereskan!

Alhamdulillah, ketika saya putuskan untuk berusaha mengurangi "kebohongan", walaupun dengan konsekuensi tunjangan setiap bulan harus saya terima dengan jumlah yang berkurang, Allah ta'ala cukupkan kehidupan saya.

Maka dengan keterbatasan penghasilan, tak ada tabungan, dan beban hutang riba setiap bulannya, saya dengan berani menambah daftar pengeluaran yakni menafkahi seorang istri!

Hitungan matematis, hal di atas tak mungkin bisa saya lakukan. Tapi, ini-lah ujian keimanan. Beriman pada setiap janji Allah ta'ala. Hidup sesuai dengan sunnah kekasih-Nya, walaupun dunia sangat jelas tertinggalkan.

Bissmillah, semoga Allah ta'ala terus menjaga niat dalam hati kami. Sehingga pernikahan yang akan kami laksanakan murni kami niatkan untuk beribadah kepada-Nya. Meyakini bahwa sepenuhnya Dia yang akan memberi rezeki. Aamiin.