Sabtu, 08 Juni 2013

Bahaya Sekulerisme Ilmu

Sabtu, 8 Juni 2013
"Saya menjadi sangat ingin membahas hal ini (baca : Pancasilais atau Sekularis?) karena saya meihat sekulerisme telah sedikit demi sedikit masuk kedalam pemikiran dari banyak rakyat Indonesia."

*catatan : ini sebenarnya artikel lama, tapi baru sekarang saya menemukan moment yang tepat juga relevan untuk saya kemudian mem-posting-kan di blog ini.

Bukan, masalah ini sepertinya bukan masalah aktual, hangat, atau sedang menjadi headline berbagai media. Tapi saya percaya dan yakin bahwa masalah ini selayaknya kerikil kecil. Sering dianggap remeh, tak mendapat perhatian berarti. Kemudian tiba-tiba saja kita terjatuh karenanya.

Hal ini bagai api dalam sekam, musuh dalam selimut. Terlihat juga terasa, tapi pura-pura atau dianggap tak ada. Ini bahkan merupakan konspirasi besar dunia. Suatu kelompok besar tapi jauh dari pemberitaan. Ada tapi tertelan dunia. Eksistensinya tertutup rapat tapi hasil kerjanya sungguh berpengaruh.

Dan kita, bangsa yang memiliki banyak potensi. Mulai juga dijejali oleh paham itu. Paham apa? untuk pembahasan dalam artikel ini hanya terbatas pada permasalahan sekulerisme!

Tidak, jangan dulu kemudian anda melabeli saya pemberontak atau ekstremis. Saya masih tetap Pancasilais dan oleh karenanya saya menolak sekularisme. Lebih jauh lagi, saya yang seorang muslim jelas sangat tidak menyukai paham sekularisme!

Kenapa makhluk itu terus berkembang biak? maka salah satu penyebabnya akan coba dijelaskan melalui artikel di bawah ini. Tidak secara utuh, tapi cukup untuk memberikan gambaran secara umum. Lebih lengkapnya kita semua memang harus menggalinya lebih dalam.

Tapi, sekali lagi saya mengajak, mari kita kembali pahami segala hakikat yang ada di dunia ini.

enjoy and #PMA all day, guys! :)

Bahaya Sekulerisasi Ilmu
10 Maret 2013 08:01
Oleh M Husnaini

“Besok besar saya ingin menjadi ahli ilmu agama”. Itulah jawaban seorang murid ketika ditanya tentang cita-citanya kelak. Jawaban demikian boleh jadi lumrah belaka. Tetapi jika dicermati, segera terasa pandangan terhadap ilmu yang perlu dikaji kembali.

Munculnya istilah ilmu agama menandaskan seolah ada ilmu non-agama. Anggapan selanjutnya biasanya bahwa belajar ilmu agama itu berpahala, sementara belajar ilmu non-agama tidak akan berpahala. Ada cara pandang dikotomik antara ilmu agama dan ilmu umum.

Semestinya tidak ada istilah ilmu agama. Agama bukan ilmu, melainkan ilmu adalah bagian dari agama. Agama yang melahirkan ilmu. Dan setiap ilmu harus ditegakkan di atas pondasi agama. Surah Al-Mujadilah ayat 11 tegas menyatakan bahwa ilmu harus diawali dengan iman. “…Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.”

Tetapi sebagian orang menganggap bahwa ilmu agama sebatas pelajaran fiqih, tauhid, akidah, tasawuf, tarikh, akhlak, bahasa Arab, dan lainnya. Ilmu geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, dan serupanya dipandang sebagai bukan ilmu agama, atau bahkan tidak ada kaitannya dengan agama.

Itulah awal dari sekulerisasi ilmu. Islam memandang ilmu secara utuh dan menyatu. Umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang berilmu tanpa dibedakan jenis ilmunya. Yang penting ilmu tersebut harus tegak di atas keimanan.

Cermati konsep manusia ideal (ulul albab) menurut Alquran. Manusia ideal adalah orang-orang yang selalu berzikir kepada Allah, memikirkan penciptaan langit dan bumi. “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Ya Tuhan kami, tidak Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imron: 191).

Jadi, di antara ciri manusia ideal adalah selalu berzikir, memikirkan penciptaan langit dan bumi. Tetapi mungkinkah manusia akan mampu memikirkan penciptaan langit dan bumi tanpa berbekal perangkat keilmuan seperti biologi, fisika, matematika, kimia, dan lainnya? Menafsirkan ayat-ayat kauniyah pun meniscayakan mufasir untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut.

Itulah kenapa wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca (Al-Alaq: 1-5). Membaca tentu meliputi apa saja, termasuk geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, dan seterusnya.

Sekulerisasi ilmu melahirkan anggapan bahwa yang disebut ulama hanya terbatas mereka yang menguasai ilmu syariah (fiqih). Sementara profesor geografi, ekonomi, psikologi, sosiologi, filsafat, sastra, seni, biologi, fisika, matematika, kimia, cukup disebut sebagai ilmuwan, bukan ulama. Padahal Al-Quran tidak pernah membatasi siapa penyandang gelar ulama. “Sungguh yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanya ulama. Sungguh Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Fathir: 28).

Ulama dalam ayat ini adalah mereka yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan kata lain, pakar di bidang apa saja, sepanjang kepakaran itu membuatnya semakin takut kepada Allah, merekalah ulama. Ulama bukan hanya para pakar fiqih, tauhid, akidah, tasawuf, tarikh, akhlak, bahasa Arab, melainkan siapa saja yang mendayagunakan pikiran dan nuraninya untuk menguak kebesaran Allah dengan landasan keimanan dan ketakwaan.

Sekulerisasi ilmu juga melahirkan kesalahan yang sangat fatal. Misalnya, yang dituntut mampu membaca dan memahami Alquran hanya mereka yang belajar di pesantren atau kampus Islam. Mereka yang belajar di luar kedua lembaga pendidikan itu, tidak ada urusan dengan bisa atau tidak membaca dan memahami Alquran. Bahkan sama sekali awam soal agama dan ibadah juga tidak menjadi soal. Karena agama dan ibadah itu bukan bidang kajian mereka.

Jelaslah, ilmu hendak dilepaskan sama sekali dari agama. Mempelajari ilmu hanya untuk ilmu itu sendiri. Padahal tidak ada satu urusan di dunia ini yang boleh dilepaskan dari agama. Jika agama tidak menjadi pondasi tegaknya segala sendi kehidupan, akibatnya ketinggian ilmu seolah terus berpacu dengan maraknya berbagai kasus seperti kita lihat di negeri ini: KKN, tawuran, narkoba, kekerasan, perselingkuhan, plagiarisme, dan kebejatan moral lain.

Sekulerisasi ilmu jelas merupakan muasal kosongnya ilmu dari muatan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Akan berbeda jika pemegang ilmu selalu tegak di atas pondasi agama. Mustahil ia akan menyalahgunakan ilmunya. Karena senantiasa merasa diawasi Allah, sehingga akan berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan. 

Itulah esensi ihsan. Yaitu “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa sungguh Dia melihatmu” (Bukhari dan Muslim).

Bahaya lain dari sekulerisasi ilmu adalah munculnya para pakar ilmu yang justru memperdahsyat kerusakan di bumi. Mereka paham agama tetapi tidak mengamalkannya. Mereka inilah yang oleh Allah digambarkan seperti keledai membawa kitab.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian tidak mengamalkan isinya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (Al-Jumuah: 5).


*Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya

5 komentar:

  1. Jelas berbeda lur, singkatnya agama dimulai dengan rasa percaya, dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu bisa meningkat atau menurun. Pengetahuan lain, seperti ilmu umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dari rasa tdk percaya, dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula... :)

    BalasHapus
  2. ooh begitu ya argumen nya, kalo saya sih argumen nya bahwa segala sesuatu itu ya muaranya satu dari agama, fondasi utamanya tetap agama. Jadi tidak bebas nilai.

    sederhanya, seperti juga urusan negara dan agama tidak dipisahkan, begitu juga urusan ilmu dan agama, tidak bisa juga untuk dipisahkan. itu maksud utama dari bahaya sekulerisme ilmu yang saya ingin sampaikan lur. :)

    BalasHapus
  3. ijin nyimak ya gan :)
    salam kenal dari kami outbond di malang :)
    jangan lupa kunjungi kami di website kami : http://www.nolimitadventure.com/

    BalasHapus
  4. sip dulur, tentu pada fungsi pengamalan ilmu, wajib agama dijadikan fondasi, agar segala implementasinya sejalan dgn Al-Quran & Sunnah...,

    mksd saya berbeda dari sisi 'pengkajiannya' karena ranah pengetahuan agama itu di luar pengalaman manusia yg msh 'hidup', sederhananya, mengenai akhirat, kehidupan pasca kiamat, kehidupan di alam kubur, tdk mungkin kita menanyakan hal tsb kpd org yg sdh mati, tpi modal awalnya yakin & percaya bhwa itu akan ada dan terjadi sesuai yg dijelaskan di Kitabullah..

    Stay #PMA lur ! hehe.. :)

    BalasHapus
  5. silahkan pak @saifudin abu izzudin :) salam kenal juga ya pak. insya allah nanti saya akn berkunjung ke website bapak.

    BalasHapus