Sabtu, 23 April 2011

Takkan Terhenti Disini

“kan kuyakini jalan yang ku tentukan
tak kan sesali semua yang tlah hilang
serukan smangat hidupku
temukan arah mimpiku
saat terkikis ragu dan terluka”


Itulah potongan lirik lagu dari band indie asal Bandung, Alone At Last* (AAL). Lagu yang berjudul “Takkan Terhenti Disini” tersebut, secara umum bercerita tentang sebuah motivasi diri untuk tetap bergerak dan tidak menyesali apa yang telah terjadi dan tidak menjadikan itu semua sebagai sebuah alasan untuk kita berhenti dan menyerah.

Lagu itu seketika menjadi lagu wajib saya, menjadi sebuah penyemangat. Karena buat saya pribadi, sebuah lagu, sebuah musik, bisa berarti lebih dari sekedar hiburan atau teman di saat sepi. Lagu dengan lirik yang menyertainya mempunyai pesan dan makna yang dalam untuk setiap pendengarnya. Ya, saya memang bukan seorang ahli musik yang pandai membaca nada ataupun sekedar bermain alat musik. Saya hanya seorang yang murni penikmat sebuah lagu. Saya selalu memaknai lebih untuk sebuah lagu yang saya dengarkan dan mencoba mengerti setiap maksud dalam setiap katanya serta menerapkan segala pesan positif yang mungkin ada di dalamnya.

Satu bulan lebih satu minggu (18/03/2011 – 18/04/2011), itulah waktu yang telah saya lewati di IPDN Kampus Regional Kab. Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah kurun waktu yang belum terlalu lama, tapi tidak juga sebentar untuk sesorang yang baru pertama kali hidup jauh dari kampung halaman dan bahkan hidup berbeda pulau dari sanak keluarga. Sebenarnya, tak akan ada sebuah perbedaan yang signifikan bila kita melihat dari sudut pandang silus kehidupan yang akan saya jalani. Sebagai seorang Praja, yang hidup dalam kehidupan yang serba diatur dalam bimbingan kurikulum Pengasuhan dan hidup di dalam kehidupan asrama. Maka, dimanapun saya berada, kehidupan yang akan saya terima akan sama, yaitu sebuah Siklus Kehidupan Praja. Tak ada perbedaan, dan tak akan pernah ada.

Tapi, secara psikologis dan suasana, jelas perbedaan tempat akan terasa sebuah perbedaan yang signifikan. Secara psikologis, saya yang belum pernah hidup jauh dari keluarga, belum pernah merasakan hidup di luar pulau jawa, itu semua jelas merupakan beban sekaligus tantangan tersendiri bagi saya. Bila biasanya, ketika saya mendapatkan hak pesiar, maka sudah dipastikan saya akan langsung pulang ke rumah. Seketika saja hal itu menjadi sesuatu yang mustahil utnuk dilakukan disini. Lalu secara suasana, ketika di daerah Sumedang, Jatinagor khususnya saya sudah sangat terbiasa dengan cuaca dingin nan segar, maka di sini, di bawah garis kahtulistiwa, cuaca panas cukup mengejutkan tubuh saya.

Ya, seperti yang telah saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN, Kampus Kab. Kubu Raya (Kalbar) merupakan kampus baru dan bahkan belum dilakukan sedikit pun pembangunan. Tanah nya masih berbentuk hutan lebat. Jadi, dimana saya tinggal, belajar dan menjalani kehidupan sebagai seorang praja? Saya, dan 99 orang lainnya yang terdampar di Pulau Kalimantan ini, harus puas untuk menempati kampus sementara, yang terletak di Jl. Trans Kalimantan KM. 11,5, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Bangunan yang kami tempati merupakan bangunan eks-Panti Rehabilatasi Dinas Sosial. Yang sedikit direnovasi untuk disesuaikan dengan kegunaan sekarang sebagai sebuah kampus. Dan , hasilnya memang tidak begitu mengecewakan, cukup memadai walaupun penuh dengan segala keterbatasan.

Tapi, hidup telah memilih dan ini lah pilihan hidup yang harus saya jalani. Tak harus banyak mengeluh dan berkeluh, itu hanya akan membebani kita secara psikologi. Jalani saja dan lihat segala sesuatunya dari sudut pandang dan kacamata yang luas. Berusaha untuk seminimal mungkin melihat segala sesuatunya dari sisi yang negatif, karena sering saya mendapat sebuah nasihat klasik nan menarik, bahwa untuk urusan dunia sudah sebaiknya dan sepantasnya kita melihat ke bawah. Itu bertujuan agar kita bisa selalu bersyukur dengan segala yang kita terima, dapatkan dan jalani. Apalagi ini semua kita masukan dalam konteks dunia pendidikan, terlebih sebuah lembaga pendidikan kedinasan yang kata orang pencetak calon-calon aparatur pemerintahan. Kita harus selalu siap untuk ditempatkan dimana pun dan kapan pun, dan inilah moment yang paling pas untuk melatih itu semua. Karena sekali lagi, lembaga pendidikan adalah tempat untuk kita mendidik diri ini menjadi yang lebih baik lagi. Bila nanti tak ada perubahan positif yang kita dapatkan, untuk apa kita masuk lembaga pendidikan?? Saya anggap ini semua sebagai pendidikan dan pelatihan mental saya, hidup jauh dari keluarga menuju suasana yang serba baru. Hidup dengan segala keterbatasan yang ada. Ini semua pengalaman hidup, yang tak ada jaminan saya bisa mendapatkannya lagi.

Saya yakinkan diri untuk tidak berhenti di sini, untuk terus melangkah mantap menyongsong masa depan, menjalani apa pun itu yang terjadi pada diri ini sebagai seorang praja, karena saya yakin apa pun yang kita kerjakan, kita dapatkan di dunia pendidikan ini, maka semua itu kelak akan berguna bagi kita, insya Allah akan bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar