Minggu, 03 Juni 2012

Berteriak Lantang!


Hal tersulit dari membuat atau mengerjakan sesuatu hal di dunia ini adalah memulai itu semua, mengambil langkah awal untuk memulai mengerjakan sesuatu hal itu. Ya, itu merupakan bagian atau tahapan yang sangat menentukan dan terkadang juga menjemukan. Kenapa menentukan? karena apabila kita mampu untuk memulai hal itu dengan suatu permulaan yang baik dengan sikap nyata yang juga sangat baik maka apa yang kemudian akan terjadi akan sangat mengalir dengan mudahnya, mengikuti secara sangat alamiah, natural tak perlu kita rekayasa. Lalu kenapa menjemukan? karena walaupun hal itu adalah hal rutin, hal yang menjadi kebiasaan untuk kita lakukan, tapi kita selalu saja tertahan di awal, terhadang oleh sejuta perdebatan dan seribu pemikiran tanpa bisa untuk kita konversi menjadi sebuah aksi, kita tak tahu bagaimana untuk memulai itu semua sehingga kita pun tak bisa untuk mengimplementasikan apa yang telah kita pahami dalam otak dan resapi dalam hati.

Contoh nyata dan sering saya alami dalam kehidupan ini, berkaitan dengan masalah yang telah saya sebutkan di awal tulisan adalah ketika saya akan membuat sebuah tulisan, entah itu tulisan ilmiah sebagai sebuah tugas ataupun tulisan bebas tak terarah tempat saya berkeluh kesah menumpahkan segala resah dan juga amarah untuk kemudian saya bagikan kepada seluruh orang di dunia dalam sebuah dunia maya tapi berisi hal yang nyata kita beri nama blog. Ide itu sebenarnya telah ada dalam otak, hasrat itu juga telah memenuhi sesak dalam hati di dada, tapi sering kali semua itu tak mampu saya susun secara baik atau tuliskan secara rapi dalam sebuah tulisan karena harus terhadang dengan paragraf awal, kata pembuka yang ada di depan, untuk kemudian saya mampu menyusun kalimat-kalimat selanjutnya. Semua itu sungguh sangat ditentukan dengan apa yang ada di muka, yang berada di depan, sehebat apapun ide yang saya punya, tak akan pernah mampu untuk saya kemukakan apabila saya tak mampu untuk menyusun paragraf awal dengan baik. Terkadang ide awal yang ada dalam otak harus rela saya rubah atau harus rela saya kikis sedikit karena berkenaan dengan paragaraf awal yang saya buat. Logikanya bagaimana caranya bagi kita untuk bisa masuk ke dalam sebuah rumah indah nan megah apabila kita tidak bisa untuk membuka terlebih dahulu pintu rumah tersebut?


Dan masalah ini pun yang sekarang saya alami, ide itu telah ada, unek-unek itu telah sangat menganggu! perlu untuk segera saya muntahkan!
sembari saya memikirkan dan menysusun secara sistematis tentang apa yang akan saya tuliskan, berkenaan dengan permasalahan yang sedang saya hadapi, maka anda akan jauh lebih baik apabila membaca terlebih dahulu tulisan saya yang dulu, yaitu : Merubah Paradigma dan juga salah satu tulisan yang ada di blog salah satu sahabat saya, Ridho Winar Lagan ( @ridholagan ), materialist, moralist, normalist!

                                ***

Setelah saya merasa cukup untuk berkaca, melihat diri secara sangat utuh, melalui sudut pandang yang memang masih tetap satu, yaitu saya pribadi, saya rasa-rasa dan saya pikir-pikir saya ini adalah seseorang yang termasuk ke dalam kelompok orang yang moralist. Tidak, saya tidak bermaksud untuk menjadi egois atau bahkan menjadi seseorang yang berlebihan rasa percaya dirinya, tapi setidaknya dan sejauh yang saya yakini saya adalah orang yang moralist, hingga detik ini, hingga saat saya menuliskan kata-kata ini.
Saya selalu merasa tidak nyaman berada di lingkungan yang tidak rapi, tidak bersih dan segala sesuatunya tidak tersusun secara baik, saya termasuk orang yang percaya bahwa segala sesuatu itu perlu untuk kita atur dan memang cenderung untuk selalu berada dalam sebuah pengaturan. Saya tidak pernah mempertanyakan sebuah aturan, sedikit sekali saya mengeluh terhadap sebuah perintah yang ada, apabila memang harus berbuat A maka ya, saya akan melakukan A. Tak ada resistensi apabila memang dalam aturan menghendaki demikian. Saya hanya akan bertanya, mengerutkan dahi dan berteriak lantang apabila ada realita tidak berjalan sebagaimana yang telah ditetapkan aturan, sebuah praktek tidak seindah atau sesuai dengan teori yang diajarkan, ketika seorang pemimpin memberikan arahan A tapi kemudian semenit yang akan datang berubah menjadi B, ketika hal-hal yang kotor, keji juga berbau busuk didiamkan dengan penuh acuh dan dianggap sebagai sebuah kewajaran dalam dinamika kehidupan maka di saat itu-lah saya akan berontak, mencoba bergerak walaupun hanya sedikit dan lemah, tapi sungguh saya selalu dan tidak akan pernah nyaman dengan segala kedaan negatif seperti itu, dengan segala kedaaan yang penuh dengan kebathilan, penuh dengan efek mudharat yang jelas atau bahkan samar terjadi. Dan hal itu sungguh tidak pernah saya rekayasa untuk saya rasakan, tapi itu semua ada dengan sendirinya, secara reflek keluar dengan sendirinya, keluar sebagai sebuah respon diri ini terhadap lingkungan yang saya hidupi. Dan selama saya masih merasakan hal itu saya pikir saya adalah seseorang yang moralist. Saya tidak menganggap moralist itu adalah sebuah pemikiran yang paling sempurna, saya hanya menyebutkan bahwa moralist adalah salah satu prinsip hidup yang saya yakini.

Kehidupan saya sebagai seorang praja, sebagai seorang peserta didik dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan kepamongprajaan, sekolah yang memang saya idamkan karena dengan saya bersekolah di sini saya akan mampu untuk mewujudkan mimpi saya menjadi seorang birokrat, seorang Pegawai Negeri Sipil, sebuah pekerjaan dan jalan hidup yang saya cita-citakan, terpengaruh jelas oleh orang tua, terutama Bapak, terlecut oleh segala "ketidakdilan" yang telah beliau dapatkan sebagai sebuah balasan dari sebuah pengabdian beliau debagai seorang PNS, dan di sisi lain diri ini pun sangat juga terpecut oleh suksesnya seorang Paman dalam dunia yang sama. Bapak dan Paman, dua orang yang menjadi "tersangka" utama kenapa saya akhirnya memutuskan dan memantapkan tekad untuk menjadi seorang PNS, bila boleh saya mengemukakan sebuah pernyataan idealis maka saya katakan saya sangat sadar bahwa pekerjaan ini tidak akan mampu untuk memberikan saya kekayaan secata materi tapi saya memang hanya ingin mencari sebuah nama baik, dipuja dan dipuji banyak orang hingga nantinya mampu untuk dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin, ya, saya haus dan gila akan sebuah nama baik ( red : kehormatan )!
dan di dunia ini, di lingkungan pendidikan ini, ada tiga hal yang semakin mengukuhkan diri ini untuk terus mengembangkan sebagai seorang yang moralist atau mungkin lebih tepatnya adalah menemukan diri ini sebagai seseorang yang moralist, yaitu agama, aturan dunia dan sesosok pengasuh bernama Pak Samsu. Ketiga hal itu datang di saat tepat sehingga saya mampu untu menemukan jati diri secara tepat pula. Agama benar-benar saya yakini, aturan menjaga saya dan pengasuh mampu untuk membimbing serta menuntun saya, lalu kenapa saya menyebutkan satu nama itu? karena hanya beliau, hanya Pak Samsu, sosok pengasuh yang benar-benar mampu membuat saya mengerti hakikat saya sebagi seorang praja dan nantinya sebagai seorang PNS, segala filosofi kenapa saya harus diikat oleh berbagai macam aturan yang secara nalar otak kiri sangat tidak masuk akal. Beliau mampu untuk mendemonstrasikan secar sangat baik antar penanaman nilai ( doktrin ), pengawasan dan kemudiaan pemberian sanksi juga prestasi. Tidak ada diskriminsi, semua dijalankan benar dan tepat sesuai dengan kadar dan porsi yang telah ditetapkan, hingga saya pun mampu untuk paham secara utuh segala sesuatunya.
( oh iya, dalam tuisan saya Merubah Paradigma, ada satu hal yang belum saya tuliskan yang sebenarnya memegang peranan penting setelah kita mampu untuk menanamkan nilai-nilai dasar kepada seseorang yaitu tahapan pengawasan dan pemberian reward serta punishment secara adil dan proporsional )

                                 ***

Dan saat ini, saya sedang menjalani sebuah hukuman. Saya, seorang yang moralist, juga diberi sebuah kepercayaan untuk menempati sebuah jabatan dalam organisasi keprajaan, sebuah posisi strategis, yang mau tidak mau menutut saya untuk selalu bersikap sempurna tanpa cela, terlebih dengan kondisi sekarang dengan adanya adik-adik kami, junior kami yang berada satu tingkat di bawah kami. Saya, seseorang yang selalu dengan sombongnya berkata dan memasukan nilai-nilai kehidupan yang baik serta sempurna, justru sekarang menjadi seorang pesakitan.
Hal terberat dalam menjalani masa hukuman ini adalah beban psikologis yang harus saya pegang, dengan adanya social control secara langsung maupun tidak, dari satuan muda praja, adik-adik saya, junior saya, maka hukuman ini sungguh sangat terasa berat, terasa sangat begitu lama. Mungkin sebenarnya hanya sedikit saja orang, rekan-rekan saya, adik-adik saya yang mempermasalahkan atau bahkan sekedar memikirkan masalah ini atau mungkin mereka memikirkannya tapi kemudian menganggap biasa masalah ini, tapi bagi saya bukan itu substansi masalahnya, yang saya permasalahkan adalah mengenai apakah pantas seseorang yang mempunyai suatu jabatan, seseorang yang moralist harus kemudian melabrak sebuah aturan dan secara nyata tertangkap melakukan tindakan pelanggaran tersebut dan kemudian harus mendapatkan sebuah hukuman? apakah layak? apakah pantas? Ah, saya sangat tertekan, sungguh sangat berat beban ini.
Saya menolak untuk disebut sebagai seorag yang pengecut atau cengeng dalam konteks permasalahan ini walaupun saya secara jujur tidak juga terlalu peduli dengan itu semua. Karena dalam hal ini apa yang terjadi, apa yang saya alami adalah saya telah terbukti secara sah dan meyakinkan berbuat sesuatu hal yang melanggar aturan sehingga saya mendapatkan sebuah hukuman. Dan saya bukan-lah orang yang acuh, cuek, tapi saya selalu berusaha untuk berpikir, merenungi dan mengambil segala pelajaran juga hikmah dibalik setiap kejadian yang telah saya alami, termasuk kesalahan ini. Dan itu-lah kenapa saya memikirkan ini semua, dan menjadi sangat tidak etis apabila kemudian saya yang telah sangat jelas berbuat salah masih mampu untuk "tertawa" mampu untuk tidak mempunyai beban. Hukuman itu ada agar mereka yang menyalahi aturan menjadi jera dan malu, dan begitu pun saya, sebagai seorang yang salah, saya ingin diri ini juga menjadi jera dan malu untuk kedepannya saya tidak akan mampu untuk mengulangi kesalahan ini. Berbeda halnya dengan para pejuang yang mendapatkan hukuman karena membela apa yang benar dan menajadi hak-nya, sehingga memang menjadi sebuah kewajiban bagi mereka untuk terus semakin bersemangat ketika mendapatkan sebuah hukuman. Apabila ketika saya dalam berproses menjalankan sesuau hal kegiatan yang postif dan kemudian mendapatkan sebuah teguran lalu saya menangis dan memutuskan untuk berhenti maka ya, saya adalah seorang pengecut tapi apabila saya secara jelas berbuat salah, menyalahi aturan kemudian saya memutuskan untuk berhenti karena malu maka sungguh saya pikir itu bukan sebuah hal yang pantas untuk diberi label pengecut!


                               ***


Berpindahnya saya dari kampus pusat ke kampus daerah membuat saya memang harus beradaptasi dengan berbagai macam perubahan, entah itu yang sifatnya teknis bahkan prinsip sekalipun. Tidak jadi masalah, tak jadi soal bagi seorang saya, yang memang hidup secara sangat tenang mengikuti aturan dan megikuti segala perintah yang ada. Akan tetapi ada satu hal yang sangat saya rasa sebagai sebuah bentuk kehilangan yang sangat besar dalam hidup saya sebagai seorang praja, yaitu sosok pengasuh yang benar-benar membimbing dan menuntun saya dalam sebuah koridor aturan yang jelas dan pasti juga tegas. Di sini, di kampus ini, orang-orang yang berwenang hanya mampu untuk berucap, mampu untuk berkata-kata membentuk sebuah konsepsi atau teori tanpa sedikit pun mereka mampu implementasikan ( baca : IDEALISME ). Mereka berbuat sewenang-wenang, berkata sebuah aturan tapi sungguh yang mereka lakukan itu melanggar aturan yang ada atau bahkan aturan yang mereka katakan sangat mengada-ngada, mereka pikir kita ini, saya ini adalah orang bodoh, atau mereka pikir mereka masih hidup di zaman dulu, tak berpikir bahwa zaman juga berubah seperti halnya manusia yang bertambah tua. Ego mereka masih sangat kental terasa, bertindak tidak sesuai dengan hierarki yang ada, tapi hanya berdasarkan senioritas dan hukum rimba, organisasi praja tak memiliki posisi tawar yang berarti, program kerja yang telah tersusun rapi menguap dengan percuma, strukur organisasi sungguh hanya formalitas di atas kertas dan hanya untuk sekedar pemenuh admistrasi. Terus menekan dengan ancaman, terus memasukan nilai dengan ancaman, bukan dengan motivasi, terus memaksakan banyak nilai tapi tak pernah ada pengawasan yang berjalan secara konsisten dan lama, alasan pun sangat klasik mereka keluarkan yaitu permasalahan tenaga dan jumlah pendidik yang ada, hanya menekankan pada hasil tidak pada proses padahal sungguh sikap itu hanya bisa dilihat juga dinilai dalam prosesnya bukan dari hasilnya, terus mengatakan dan bertamengkan kedewasaan padahal itu bukan hakikat utamanya, ini bukan masalah dewasa atau tidak, tapi ini adalah sebuah sistem pengasuhan, diberikan atau tidaknya sebuah kedewasaan akan tetapi pengawasan itu harus tetap ada sehingga mereka yang baik dan berprestasi mampu untuk mendapatkan reward dan mereka yang buruk dan juga pelaku deviasi mendapatkan punishment. Akan tetapi dalam pemberian reward serta punishment pun masih sangat tidak tegas, tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan, masih sangat jelas aroma subjektifitasnya, berat kecilya sebuah hukuman masih bisa berubah dengan sendirinya atau sesuai dengan emosi dan mood yang ada. Penuh dengan ketidakjelasan, penuh dengan permainan emosi, semenit marah dengan begitu sangat berapi-api tapi semenit kemudian menjadi pelawak dengan banyolan konyolnya! bagaimana mungkin kita bisa untuk paham dengan segala koreksi yang ada?bagaimana mungkin kita bisa untuk menjadi jera? ketika suasana serius ataupun santai tak mampu untuk tersaji dengan jelas, absurd! Mereka lupa atau pura-pura lupa denga apa yang namanya PENGAWASAN DAN KONSISTENSI!! Beri-lah yang berprestasi itu motivasi dan pelaku deviasi itu sanksi, secara tegas juga pasti, tak ada diskriminasi, tidak ada subjektifitas, cukup objektifitas! Tegakan aturan itu secara utuh adapun kebijaksanaan di luar kebijkan yang ada sepatutnnya dibuat dengan tetap berdasar pada ketentuan tertulis yang lebih tinggi dan kemudian dituliskan sehingga bisa untuk tetap dipertanggungjawabkan.
Sistem-sistem tak jelas seperti itu sungguh tekah memuakan, saya, kami pun membencinya tapi kebanyakn dari kam juga masih belum mampu untuk bersikap konsisten, masih bersikap munafik, masih memikirkan untuk keppentingan pragmatis diri sendiri, sikap kebersamaan hanya berlaku untuuk sesautu hal yang merekan anggap nyaman, tidak untuk sesuatu hal yang akan "merugikan" walaupun untuk membela sessuatu hal yang benar atau kawan sekalipun. Karena ketika kami membenci, kammi memang mencaci tapi ketika mereka berbuat "baik", kami pun seperti melupakan segala kejelakan itu sehingga sistem seperti ini terus berputar. Saya merasa telah cukup dengan kedaan seperti ini, kondisi yang sangat tidak ideal, tidak sesuai dengan aturan yang ada, hidup di bawah tekanan yang tidak jelas, sungguh tidak nyaman, tak ada kepastian, sehingga saya memutuskan mengambil sikap, berhenti bersikap pragmatis, mencoba untuk melawan dalam porsi saya sebagai seorang praja, sebagai seorang peserta didik, sebagai seorang bawahan. Mereka memang berwenang penuh dalam penentuan nilai yang akan saya terima, tapi sungguh nilai bukan sesuatu hal yang saya cari walau memang berperan sangat penting dalam dunia pendidikan ini, tapi sekali lagi saya sungguh tidak mencari sebuah nilai ( baca : Proses yang Benar atau Hasil yang Baik?, Realistis bukan Pesimistis ) sehingga saya lebih memilih untuk menegakan apa yang menjadi prinsip saya, saya akan mencoba "keluar" dari sistem mereka, melawan mereka! 
saya tahu resikonya, dan insya Allah saya telah siap! insya Allah ... insya Allah Siap!
mmm....

0 komentar:

Posting Komentar