Kamis, 19 Mei 2011

Realistis, bukan Pesimistis

"Don't you think yourself great 'cause someday at the some point you will find that yourself is nohing but a s***. Don't you ever dream big 'cause in the end you will get a big fall, big regret, big ashamed, and big f***** s***!"


Kalimat yang terkesan pesimis mencoba anarki untuk menciptakan sebuah sensasi dan mungkin sedikit apresiasi. Tapi tidak sama sekali, kata-kata itu keluar jujur apa adanya, bukan untuk menjadi pesimis apalagi menghancurkan jiwa-jiwa para pemimpi. Itu adalah sebuah ungkapan hati untuk tetap berpijak di bumi dan berpikir realistis. Ya, realistis, bukan pesimistis!

Saya berkata demikian bukan karena sebuah fantasi atau berdasarkan cerita fiksi penuh friksi hasil dari sebuah narasi diri bercampur ilusi. Itu murni dari curahan hati penuh emosi, mencoba untuk menumpahkan semua ke dalam sebuah ilustrasi. Saya tegaskan di sini, saya memang orang yang selalu mencoba untuk menikmati hidup, melihat segala sesuatunya dari kacamata atau sudut pandang yang positif karena percaya bahwa hidup telah di atur sedemikian rupa sehingga kita bagaimana pun juga telah mempunyai jatahnya masing-masing dan pasti akan selalu mendapatkan segala yang terbaik, menurut Allah tentunya. (baca : Who Is Noorz ?) Tapi semua pengalaman hidup yang telah saya alami, setidaknya untuk 19 tahun ini, saya tau dan mengerti bahwa diri ini tidak akan bisa untuk selalu optimis karena definisi yang dapat saya pahami dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang saya punyai, optimis adalah suatu sikap percaya diri bahwa kita akan selalu bisa mendapatkan, mewujudkan segala apa yang kita impikan dan cita-citakan. Definisi ini bermakna sangat luas dengan mimpi-mimpi yang sangat dan mungkin terlampau luas juga. Hal ini memungkinkan kita untuk menjadi seorang pemimpi liar tak mempunyai batas, seorang yang hanya bisa berangan-angan. Dan saya pernah seperti itu, menjadi orang yang terlampau optimis. Sehingga sangat yakin, cenderung menjadi sombong. Dan akhirnya yang saya dapat adalah sebuah tamparan keras di muka dan tak mendapatkan suatu apapun. Terkadang akan ada hari dimana seorang Adima akan mejadi seorang yang sangat beruntung, tapi di lain hari di lain kesempatan maka tiba-tiba saja saya menjadi seorang yang sial, seorang dengan apa yang disentuhnya tak pernah bisa jadi sebuah kehidupan. ( baca : 2 SISI KEHIDUPAN ) Hal ini semakin jelas dan semakin terasa nyata, ketika diri ini medapatkan sebuah sms dari seorang teman di Jatinangor sana, mengabarkan bahwa nilai semaster satu bidang pengajaran telah keluar, suatu bidang yang saya sangat yakin dan merasa bahwa di situ lah dunia saya. Tapi jauh api dari panggang, hasil yang saya dapatkan masih jauh, walaupun tidak terlalu mengecewakan. Tapi masih jauh dari rasa optimis yang saya yakini. Dan tiba-tiba saja hari itu menjadi hari yang sial bagi saya, serangkaian peristiwa tak mengenakan nan memalukan silih datang berganti. Peristiwa-peristiwa yang jauh dari rasa optimis yang saya yakini. Sehingga wajar jika kini saya semakin yakin dan mantap untuk menjadi seorang yang realistis.

"Hidup itu harus realistis tapi bukan berarti pesimis. Karena mengejar sesuatu hal yang pasti tak berarti kita tak boleh bermimpi."

Realistis bagi saya, mempunyai makna sebagai suatu rasa optimis yang didasari oleh sebuah pemikiran rasional penuh nalar dan perhitungan. Kita tetap bebas untuk bermimpi karena mimpi adalah awal dari segala-galanya, awal dari sebuah kehidupan yang kita jalani. Tanpa memiliki sebuah mimpi, kita sama saja dengan orang yang telah mati. Karena mimpi membuat kita bersemangat untuk menjalani hari karena dengan mimpi kita akan memiliki sebuah tujuan untuk kita capai dan kita raih. Tanpa adanya sebuah mimpi, kita hanya akan menjadi seorang yang datar tanpa cerita tiada gairah. Kita menjadi seorang yang hidup segan tapi mati pun tak mau. Jadi apapun itu dalam kondisi seperti apa pun, kita tetap harus bermimpi dalam artian sebuah harapan, cita-cita dan impian bukan sebuah lamunan di waktu kosong. Dan dengan pemikiran realistis, maka kita akan mampu untuk mengontrol setiap mimpi yang kita punya, kita akan mampu untuk mempertimbangkan dan memperhitungkan segala sesuatunya sehingga kita bisa bermimpi secara bertahap dan secara lebih terstruktur. Kita akan mampu mawas ke dalam dan mawas ke luar, kita akan mampu untuk melihat segala potensi diri yang ada, sehingga secara bijak kita akan mampu untuk memilih mimpi-mimpi mana saja yang bisa kita wujudkan dan mimpi-mimpi mana saja yang sekiranya tidak bisa kita capai. ( baca : Piala Dunia 2022 dan Mimpi Indonesia )

Terkadang sikap realistis yang kita atau yang saya tunjukan tak beda jauh dengan sebuah rasa pesimis. Ya, karena perbedaan antara realistis dan pesimis sangatlah tipis dan hanya dibedakan oleh satu sikap kecil saja. Orang yang realistis akan tetap bermimpi dan bersemangat untuk mewujudkannya karena telah berpikir bijak nan matang segala sesuatunya. Tapi bagi mereka yang pesimis, jangan kan untuk bertindak, untuk sekedar bermimpi pun mereka tak punya keberanian untuk memikirkannya. Mereka terlalu berpikir negatif tentang kehidupan yang telah, sedang dan akan mereka jalani.

Tapi, permasalahan lain yang muncul adalah saya masih belum bisa secara tepat dan mantap menemukan apa sebenarnya yang menjadi potensi dalam diri ini. Saya masih mencari dan mencoba segala sesuatunya. ( baca : Tanda Tanya ) Hal itu semakin diperburuk dengan kedaan mental saya yang memang labil cenderung lemah. Saya terlalu sering kalah secara mental dan psikologis ketika dihadapkan dalam suatu masalah hidup, sehingga menghambat diri ini untuk menggali dan menemukan potensi itu. Inilah hasil buruk dari sikap manja. ( baca : 19th )

Last but not least, itu lah segala isi otak yang saya miliki dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang saya punyai, itulah pendapat dari jalan hidup yang saya yakini, setidaknya untuk sekarang dengan segala ilmu dan pengalaman yang saya jalani dan miliki hingga detik ini. Masih sangat mungkin untuk berubah dan itu wajar adanya. Karena hidup akan selalu berputar dan segala sesuatunya akan selalu berubah, bertambah atau bahkan berkurang. Anda boleh tidak setuju dengan segala apa yang saya telah kemukakan karena itu semua hanyalah sebuah opini persepsi diri. Ketidaksukaan adalah sesuatu yang wajar. Silahkan ungkapkan segala apa yang anda rasakan dalam sebentuk cacian, kritikan atau mungkin pujian. Karena kita adalah sekumpulan manusia yang berbeda, dengan isi otak yang berbeda pula. Perbedaan merupakan sesuatu yang wajar, asalkan bukan perbedaan mengenai sesuatu hal yang sangat PRINSIP dan perbedaan itu tidak menimbulkan atau menyebabkan suatu kerugian pada diri sendiri ataupun orang lain dan perbedaan itu tidak menyebabkan sesuatu hal yang mudharat, maka perbedaan dalam konteks itu adalah sesuatu yang teramat WAJAR.

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."

4 komentar: