Senin, 16 November 2009

Piala Dunia 2022 dan Mimpi Indonesia


Bagi para penggila bola, Piala Dunia adalah turnamen yang sangat dinantikan, sebuah kompetisi terbesar dan terdahsyat di dunia (setidaknya itulah klaim dari FIFA) karena mempertemukan 32 negara dari masing-masing benua di belahan dunia ini.

Walaupun negara kita tercinta, Indonesia, belum pernah sekalipun tampil di ajang termegah ini, kita rakyat Indonesia para penggemar keindahan sepak bola selalu mempunyai tempat tersendiri untuk menikmati turnamen ini.

Dan tanpa disangka-sangka Indonesia, yang jelas-jelas belum mempunyai pengalaman ataupun sejarah khusus dalam kejuaraan ini, dengan berani mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022! Ini bukan berita baru dan bahkan telah terdengar tak asing lagi. Karena Indonesia sendiri telah melakukan pendaftaraan resmi kepada FIFA pada tanggal 16 Maret lalu. Dan kini perjuangan Indonesia, melalui PSSI telah memasuki babak baru dan akan masih melewati babak-babak lainnya.

Apakah Indonesia pantas untuk melakukan itu? Hmm...jawaban dari pertanyaan ini sangat tergantung dari sudut mana kita memandang permasalahan bidding piala dunia 2022 ini. Bila kita menanyakan itu pada Nurdin Halid, ketua umum PSSI, maka kita akan disuguhkan sebuah jawaban yang sangat menggebu-gebu nan optimis. Nurdin berkali-kali telah memberikan pernyataan bahwa Indonesia sangat layak untuk menyelenggarakan Piala Dunia dan tidak ada satu alasan pun bagi Indonesia untuk mersa rendah diri dari negara-negara lainnya. Dia tidak salah tapi bagi saya pernyataan itu juga tak sepenuhnya benar.

Menyelenggarakan sebuah event besar sebesar Piala Dunia merupakan impian setiap negara di dunia ini, termasuk negara Indonesia. Tak ada salahnya bagi kita untuk bermimpi dan mempunyai cita-cita, bahkan kita memang sudah seharusnya memiliki cita-cita dan keinginan setinggi mungkin. Karena sungguh, kita manusia tak akan pernah bisa hidup tanpa adanya sebuah mimpi sebagai sebuah penyemangat dalam diri kita. Tanpa adanya sebuah mimpi dan cita-cita, mungkin tak akan ada semangat bagi kita dalam menjalani segala rutinitas sehari-harinya, tapi dengan adanya sebuah mimpi, itu merupakan sebuah motivasi lebih bagi kita dalam menatap dan menata masa depan kita sebaik mungkin. Tapi, selayaknya seorang bayi yang pasti bermimpi untuk bisa berlari, bayi itu harus melewati serangkaian proses dan melalui beberapa "mimpi yang lebih kecil" agar bisa mendapatkan dan meraih mimpi yang lebih besar itu.

Begitu pun dengan kasus ini, apakah tak sebaik nya Indonesia yang dalam hal ini PSSI terlebih dahulu mereformasi dirinya sendiri, memperbaiki kompetisi dalam negeri, membenahi prestasi timnas Indonesia? yang sedianya merupakan mimpi yang tak kunjung selesai untuk direalisasikan oleh PSSI. Dan dengan fakta yang kurang mengenakan itu, kenapa justru PSSI dengan "berani" mencalonkan diri sebagai tuan rumah piala dunia 2022? Bahkan dari segi nonprestasi pun, yaitu dari segi infrastruktur Indonesia masih jauh dari sekadar kata cukup!

Sekali lagi hal ini bukanlah untuk membatasi kita untuk bermimpi, tapi lebih untuk agar kita bersikap optimis diimbangi rasa realistis. Memikirkan segala tahapan dan prosesnya.
Hanya untuk mengikuti bidding ini pun PSSI memerlukan sedikitnya uang sebesar 24 juta dollar AS atau sekitar Rp 240 miliar, apakah tidak sebaiknya uang sebesar itu digunakan untuk mewujudkan mimpi yang lebih kecil dulu yaitu memperbaiki segala sarana dan prasarana olahraga di Indonesia?
Lalu untuk melancarkan segala urusan dalam bidding itu, PSSI juga menyewa seorang jasa konsultan asing, Michel Bachini yang dibayar tak kurang dari 1 juta dollar AS, dan apakah uang sebesar itu tidak sebaiknya digunakan untuk memperkejakan pelatih berkaliber dunia untuk mengangkat prestasi timnas kita?

Sebuah ironi memang dan terkesan banyak bermuatan politis di dalamnya. Tapi PSSI telah menentukan sikap dan tak mungkin lagi untuk mundur, suka atau tidak semua telah berjalan dan marilah kita berharap segala yang akan terjadi adalah benar-benar yang terbaik bafi wajah persepakbolaan tanah air.

Benar kata orang, hampir tak ada batasan yang jelas antara berbuat berani dan berbuat bodoh. Karena terkadang kita akan disebut orang bodoh ketika melakukan sesuatu yang menurut kita berani dan justru orang menyebut kita berani ketika sebenarnya kita melakukan hal yang bodoh.

0 komentar:

Posting Komentar