Kamis, 05 Mei 2011

Emosi yang WAJAR

RABU, 4 MEI 2011
Besok, tanggal 5, bulan Mei, tahun 2011, kampus baru kami, kampus IPDN Regional Kab. Kubu Raya, yang masih menempati kampus sementara dengan segala keterbatasan dan sedikit kelebihannya, mendapat sebuah kehormatan dalam sebentuk sebuah kunjungan dari ibu Sekjen Kementerian Dalam Negeri yang datang untuk melihat secara langsung kondisi nyata kampus baru ini.

Seperti biasa dan akan terus terbiasa dan mungkin akan menjadi sebuah budaya, segala persiapan dadakan pun dilakukan secara marathon dan bahkan cenderung berlari sprint. Pembenahan di sana-sini dilakukan secepat mungkin dengan harapan hasil yang didapat akan semaksimal mungkin. Inilah memang potret kehidupan nyata kita, kita mampu untuk bekerja keras dan memaksakan segala potensi diri ke batas yang paling maksimal di saat yang paling akhir dan dalam suatu moment tertentu saja. Sehingga akhirnya kita menjadi sekelompok orang yang terlampau santai dan tiba-tiba menjadi terlampau sibuk seketika ketika ada sebuah acara atau yang semacamnya. Suatu hal yang tidak jelek, tapi tidak bagus. Budaya seperti itu, seakan menegaskan kita sebagai orang-orang yang cinta terhadap sesuatu hal yang instant, melakukan sesuatu karena pamrih, memungkinkan banyaknya kesalahan dan hal-hal penting yang terlupakan serta kita menafikan indahnya suatu proses. Karena tanpa kita sadari hidup ini bukan tentang sebuah hasil, tapi tentang sebuah proses. Karena di dalam proses tersebut terdapat banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa kita ambil. ( Proses atau Hasil ? )

Dalam hal kecil, dalam hal kebersihan. Bukankah jauh lebih baik kita bekerja setiap harinya, setiap waktunya menjaga agar lingkungan tetap bersih. sehingga kapan pun kita akan hidup nyaman, menghemat waktu dan tenaga serta kalaupun ada suatu acara ataupun kunjungan, kita telah siap dan hanya tinggal melakukan pembenahan kecil-kecilan dalam waktu yang relatif singkat.

Singkat cerita, untuk menyiapkan itu semua sore harinya, selepas selesai Pelatihan kami semua wajib untuk melakukan kurvei (pembersihan) di wisma (tempat tinggal praja, dulu disebut barak) dan sekitar lingkungan wisma. Kebetulan pada hari itu, kelas saya, kelas A3, jadwal pelatihannya adalah pada pukul 16.00-17.00, sehingga kami menjadi kelas terakhir yang kembali ke wisma. Keadaan diri, sudah cukup letih dan mata terasa berat, tapi tentu saja saya harus menyesuaikan dengan teman-teman yang lain yang telah lebih dulu melakukan kurvei. Saya menempati Wisma Nusantara 1 bersama sembilan orang lainnya. Wisma di Kampus Kubu Raya terdapat lima kamar, stiap kamarnya diisi oleh dua orang praja. Dari sepuluh orang di wira (Wisma Nusantara) 1, jujur, hanya beberapa orang saja yang memiliki kesadaran lebih untuk bekerja, apapun itu. Yang lainnya terkadang malas dan bekerja bila sudah di paksa-paksa.

Kurvei kami lakukan hingga waktu makan malam, kemudian sepulang makan malam di Menza (Ruang Makan), dilakukan latihan untuk penyambutan ibu Sekjen esok harinya. Berlatih hingga sekitar pukul 20.30, kami semua kembali ke wisma dan tepat pada pukul 21.00 kami harus sudah berkumpul di depan Posko Pusat Pelayanan Nusantara (Pos piket pengasuh dan Praja) untuk melakukan apel malam. Akhirnya, seiring berakhirnya apel malam, selesai sudah kegiatan wajib kami sebagai seorang praja pada hari itu. Istirahat nyaman sudah terbayang indah dalam pikiran. Tapi, ternyata air kran tak kunjung mengalir padahal bak mandi kami kosong karena sore tadi kami telah menguras bak tersebut. Inilah permasalahan utama di kampus Kubu Raya, dan Kalbar khususnya, sulitnya air bersih untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Perintah pun datang, agar setiap anggota wisma mengambil air ke salah satu rumah pegawai yang air krannya mengalir lancar.

Disinilah emosi saya mulai memuncak dan pecah seiring rasa lelah yang sangat teramat. Lagi-lagi hanya beberapa orang saja yang sadar dan tersadar. Masih saja ada diantara kami yang tak tau malu dan tak terketuk hati nuraninya untuk ikut membantu mengambil air, bergotong royong mengisi bak mandi. Karena toh ini untuk kepentingan kita bersama.

Ada apa? apa yang salah? teman-teman yang lain terlihat tidak begitu peduli, tapi saya pribadi sangat risih dan muak. tapi sebiasa mungkin saya menahan diri karena apapun itu, kami tetap saudara satu keluarga. Saya mencoba untuk mawas diri dan berintrospeksi pada diri sendiri, bukan untuk menyalahkan diri ini tapi lebih ke mengambil tanggung jawab dan tak ingin dengan mudahnya melempar tanggung jawab dan menuduh mereka yang salah dan saya yang benar. Tidak, bukan itu yang saya inginkan, saya mencoba untuk melihat kedalam, mencoba mencari apa ada yang salah dengan saya hingga akhirnya mereka enggan untuk ikut membantu walaupun saya sudah berbusa mengajak mereka. Apa mungkin saya salah dalam cara mengajak mereka?? atau kenapa??
Itu semua coba saya pecahkan dan harus saya perbaiki, dan sembari menjalani proses perbaikan itu. Saya harap teman-teman saya dan semua orang di seluruh dunia bisa dengan konsekuen dan memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjalankan status serta peran mereka. Jangan karena terpaksa, tapi dengan kesadaran hati dan naluri.

Karena itulah hidup, kita harus menyesuaikan diri bukan justru memaksa kehidupan ini untuk beradaptasi dengan ego kita. Jangan menjadi seorang yang hidup segan mati pun tak mau.

0 komentar:

Posting Komentar