Rabu, 09 Mei 2012

Merubah Paradigma

PARADIGMA
Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai realita – dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu ( Pengertian paradigma ).

Jika anda mengikuti pendapat Kuhn, bahwa ilmu pengetahuan itu terikat oleh ruang dan waktu, maka sudah jelas bahwa suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentu saja. Sehingga apabila dihadapkan pada permasalahan berbeda dan pada kondisi yang berlainan, maka perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang baru yang lebih sesuai adalah suatu keharusan. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial yang berparadigma ganda, Pengertian Paradigma usaha-usaha dalam menemukan paradigma yang lebih mampu menjawab permasalahan yang ada sesuai perkembangan zaman terus dilakukan. Seperti berikut :
Denzin & Lincoln (1994:105) mendefinisikan paradigma sebagai: “Basic belief system or worldview that guides the investigator, not only in choices of method but in ontologically and epistomologically fundamental ways”. Pengertian tersebut mengandung makna paradigma adalah sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metode tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistomologis.
Denzin & Lincoln (1994:107) Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar berdasarkan asumsi ontologis, epistomologis, dan metodologi.
Lincoln (1994:107) Suatu paradigma dapat dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar (atau yang berada di balik fisik yaitu metafisik) yang bersifat pokok atau prinsip utama. suatu paradigma dapat diciri - ciri kan oleh respon terhadap tiga pertanyaan mendasar yaitu pertanyaan ontologi, epistomologi, dan metodologi.

SUMBER


DOKTRIN

Doktrin adalah teori-teori yang disampaikan oleh para sarjana hukum yang ternama yang mempunyai kekuasaan dan dijadikan acuan bagi hakim untuk mengambil keputusan.
Dalam penetapan apa yang akan menjadi keputusan hakim, ia sering menyebut ( mengutip ) pendapat seseorang sarjana hukum mengenai kasus yang harus diselesaikannya; apalagi jika sarjana hukum itu menentukan bagaimana seharusnya. Pendapat itu menjadi dasar keputusan hakim tersebut.

SUMBER

Dilihat dari sifatnya, doktrin merupakan pedoman tata laku yang bersifat mendasar dan umum untuk menghadap sesuatu masalah, sehingga di dalam penerapannya tergatung dari situasi yang berlaku pada saat itu.
Dilihat dari segi proses terjadinya, doktrin berkembang melalui proses penalaran, oleh karena itu penerapannya pun harus melalui proses penalaran.
Doktrin merupakan pengetahuan normatif (norma moral) dari pada suatu pengetahuan positif.
Oleh karena doktrin dapat dirumuskan sebagai berikut: "Pemikiran atau cara terbaik yang ada, mengenai suatu masalah dan menyatakan serta membimbing para penganutnya, untuk menghadapi masalah itu; yang mana diyakini kebenarannya oleh para penganutnya, diajarkan serta disebar luaskan namun pelaksanaannya harus didasarkan pada penalaran yang memadai kondisi yang berlaku pada saat itu".

SUMBER


Ada banyak cara untuk mendidik seseorang ataupun sekumpulan orang, biasa kita sebut dengan peserta didik. Orang-orang yang berwenang dalam dunia pendidikan itu kemudian merumuskan metode seperti apa yang paling pantas, paling efektif serta paling bisa untuk mendidik peserta didik secara baik, berproses dalam dunia pendidikan dengan sangat benar sehingga mampu untuk mendapatkan output yang juga baik seperti apa yang telah diharapkan.

IPDN ( baca : Selayang Pandang IPDN ) sebagai lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang mempunyai tugas untuk membentuk peserta didiknya ( praja ) menjadi orang-orang yang nantinya akan menjadi atau disiapkan sebagai tenaga dalam dunia pemerintahan, bekerja sebagai abdi Negara juga abdi masyarakat, sebagai seorang birokrat atau bahasa yang jauh lebih sederhananya adalah menyiapkan calon-calon Pegawai Negeri Sipil yang mumpuni dan siap pakai, menggunakan sebuah kurikulum yang agak berbeda dengan perguruan tinggi pada umumnya karena menggunakan kurikulum tritunggal terpusat, dengan menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu Pengajaran ( kognitif ), Pelatihan ( Psikomotorik ) dan Pengasuhan ( apektif ).

Pengajaran diberikan kepada praja menggunakan sistem perkuliahan seperti pada umumnya perguruan tinggi di dunia bertujuan untuk mengajarkan berbagai macam teori beserta pemahaman lainnya berkenaan dengan ilmu pemerintahan, pelatihan diberikan dengan praktek-praktek berkenaan dengan tugas nyata yang nantinya akan dilakukan sebagai seorang PNS bertujuan untuk mengasah skill praja dalam melaksanakan tugas pemerintahan sehari-hari dan pengasuhan sebagai suatu unsur untuk membentuk sikap , mental serta perilaku praja sebagai seorang PNS seutuhnya.

Saya akan mencoba untuk menitikberatkan pembahasan saya pada unsur Pengasuhan. Nilai-nilai utama yang ditanamkan di IPDN kepada prajanya untuk menjadi seorang PNS yang handal dan mumpuni adalah nilai-nilai etika berperilaku sehari-hari, disiplin, respect dan loyalitas.
Nilai-nilai itu ditanamkan kepada praja dengan berbagai macam kegiatan serta program bagian Pengasuhan. Untuk mendukung setiap program dan kegiatan itu, juga untuk membentuk sikap serta mental praja secara utuh dan benar maka setiap praja diikat dengan berbagai aturan yang memang bila dilihat secara kasar, aturan tersebut benar-benar mengekang kehidupan praja, segala detail kecil kehidupan praja diatur sedemikian rupa, tidak ada celah kehidupan praja yang tidak diatur dalam aturan yang ada di kehidupan praja, sehari-harinya praja hanya tinggal mengikuti rutinitas dalam sebuah siklus kehidupan praja. Jelas aturan itu dibuat seperti itu untuk membiasakan praja hidup secara teratur sehingga ketika nantinya bekerja mampu untuk menjadi seorang pamong praja yang pantas untuk diteladani.
Pembentukan sikap itu dilakukan juga dengan cara memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan dalam sebuah pengarahan, dalam sebentuk doktrin yang biasa dilakukan ketika apel entah pagi, siang, dan malam.

Ya, doktrin merupakan kunci utama dari berjalannya siklus kehidupan praja secara baik dan benar, doktrin mempunyai peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai kepada praja untuk menjalani kehidupannya di IPDN dan nantinya sebagai seorang PNS. Doktrin, dewasa ini, khususnya di IPDN merupakan hal yang sangat penting atau bahkan yang paling utama dalam membentuk sikap seorang praja. Karena dunia sekarang ini, bukan lagi dunia di zaman dulu, ketika kekerasan masih mampu untuk diterima, ketika kepatuhan, kewibawaan mampu untuk tercipta dengan sikap yang otoriter lengkap dengan muka serta gestur tubuh menakutkan penuh emosi.
Dengan segala rasa hormat, apabila masih diantara anda yang berpikiran seperti itu atau mencoba untuk tetap bertahan dengan cara seperti itu, maaf, berarti anda hidup di zaman yang salah. Sekarang orang sudah sangat terbuka, sangat rajin untuk berteriak, sangat kritis dalam bertindak. Mata, telinga dan mulut mereka tidak lagi terkekang tidak lagi mereka biarkan tertutup, dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, dengan segala perubahan lainnya, otak manusia sudah sangat peka, jauh lebih berkembang, semua orang menutut persamaan derajat serta hak, sehingga tak ada lagi ruang untuk penindasan serta kekerasan. Hal seperti sungguh sangat saya setujui dan IPDN pun sebagai suatu lembaga pendidikan menyadari benar tentang hal itu sehingga mereka pun melakukan beberapa penyesuaian ( baca : KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN ).
Karena perubahan adalah sesuatu hal yang pasti, tak bisa untuk dihindari, semua pasti berubah, begitu halnya dengan zaman, selayaknya seorang manusia yang setiap tahunnya bertambah umur hingga tua, maka zaman pun tidak jauh berbeda dengan kita semua manusia, terus bertambah umurnya dan pasti mau tidak mau akan juga berubah wujudnya. Dan untuk tetap selamat mampu untuk bertahan maka kita harus mampu untuk berdaptasi, menyesuaikan diri secepat mungkin dengan segala perubahan yang ada. Akan tetapi satu hal yang harus juga kita pahami, ada beberap prinsip yang harus tetap kita pertahankan, kita harus juga mampu untuk bersikap bijak dan dewasa membedakan mana prinsip yang bisa dinamis kita sesuaikan dengan segala perubahan yang ada dan mana prinsip yang tetap harus kita pegang teguh dalam setiap keadaan apapun, dalam hal ini, di dunia pendidikan di IPDN khususnya, prinsip yang tak boleh berubah itu adalah ketegasan dalam menjalankan aturan, tegas dalam loyalitas dan rasa respect.
Tapi prinsip yang kemudian harus dirubah karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman adalah cara dalam menciptakan dan menanamkan ketegasan itu, menumbuhkan etika, displin, loyal serta respect dalam diri setiap praja, tidak lagi dengan menggunakan kekerasan, tidak lagi displin, respect dan loyal karena rasa takut, tapi semua itu harus ditumbuhkan karena rasa segan, kesadaran diri sendiri karena mampu untuk terpahami dalam otak, diresapi dalam hati hingga akhirnya mampu untuk terlaksana dalam sikap. Dan semua itu hanya akan mampu terwujud dengan menggunakan atau pemberian doktrin secara utuh, baik dan benar. Agar sebuah doktrin itu mampu untuk terpahami dalam otak, diresapi dalam hati dan dilakukan dalam sikap sehari-hari maka diperlukan seseorang yang mampu untuk menyampaikan segala doktrin itu dengan kemasan dan kata-kata yang menggugah, sederhana tapi penuh makna disertai dengan contoh nyata, ketika seseorang itu memberikan doktrin A maka dia pun harus mampu untuk melaksanakan doktrin A itu secara baik.
Gaya seseorang dalam menyampaikan doktrin tidak bisa untuk kita sama ratakan, karena itu berkenaan dengan gaya masing-masing orangnya, semua orang memilki gayanya masing-masing tapi yang terpenting adalah pengolahan kata-kata dan penyampaian doktrin itu sendiri. Kata-kata itu mampu untuk disampaikan secara lugas, mampu untuk memotivasi. Sekali lagi hal ini akan menjadi sangat penting karena berkenaan dengan apa yang akan terjadi di masa depan, bila doktrin itu tidak mampu untuk disampaikan secara baik, maka orang yang kita beri doktrin itu tidak mampu untuk mencerna dengan baik pula apa yang disampaikan kepadanya sehingga tidak mampu untuk dia pahami apalagi resapi dan dalam bertindak pun segala tindakanya itu hanya akan menjadi semu, terpaksa, tidak karena kesadaran diri sendiri.
Pada akhirnya segala hal yang baik itu tidak mampu untuk terlembaga dalam dirinya.

Saya pribadi sangat merasakan benar manfaat dari doktrin yang berangkat dari sebuah motivasi, sebuah doktrin yang disampaikan secara baik. Saya pribadi mempunyai pandangan dan juga meyakini bahwa saya bisa seperti sekarang ini, menjadi seorang praja yang mampu untuk selalu berusaha menaati aturan dan menjalani siklus kehidupan praja sebaik mungkin, tanpa ada sedikit pun resistensi, dengan ataupun tanpa pengawasan karena hasil dari didikan atau kasarnya, jejalan doktrin dari para Pembina atau pengasuh, yang dalam hal ini, saya harus sangat berterima kasih kepada Pak Samsu, dulu Kasubbag Bimwas dan kini menjabat sebagai Plt. Kabag Pengasuhan IPDN Kampus Pusat di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat ( baca : Tanggung Jawab, Status, Jabatan dan Peran ).

Beliau merupakan salah satu pahlawan di kehidupan saya, saya tidak bermaksud untuk bersikap hiprbola, tapi emang itu-lah yang saya rasakan, ketika dulu, masa-masa awal kehidupan saya sebagai seorang praja, penuh dengan tekanan dan ketidakpastian, tapi beliau mampu untuk menjadi sosok yang setiap doktrinnya mampu saya pahami secara sangat baik dan teresapi sangat dalam di hati hingga akhirnya saya pun mampu untuk melaksankan semua doktrin dengan sangat baik. Beliau memberikan doktrin dengan berjuta kata-kata penuh motivasi dibalut dengan sebuah cerita kehidupan atau bahkan sering dengan kata-kata yang puitis indah. Yang paling penting dari semua itu, beliau selalu menyampaikan setiap doktrin yang ada dengan lantang, lugas dan tegas. Beliau pun menjalankan setiap apa yang telah dia katakan dengan sangat konsekuen, sangat bahkan terlalu konsisten, tak ada alasan atau ruang untuk maaf ketika setiap doktrin yang telah dikemukakan tidak mampu untuk dilaksanakan, siapa yang berani melanggar maka harus bersiap menerima sanksi yang ada. Tapi setiap sanksi itu hanya akan diberikan setelah doktrin itu disampaikan secara utuh.
Beliau merupakan role model bagi saya dalam menjalani kehidupan sebagai seorang praja, tidak ada kekeliruan atau pun perbedaan dari apa yang beliau sampaikan dan katakan. Saya pun segan kepada beliau, sekali lagi saya segan, benar-benar menghormati. Berbeda ketika saya mendapatkan pengarahan ataupun doktrin dari para pengasuh atau Pembina lainnya yang hanya menekankan doktrin yang berangkat dari koreksi, tak ada motivasi, di satu apel mereka menyampaikan A tapi di apel lain hal itu kemudian berubah menjadi B dan hal itu pun setali tiga uang dengan sikap mereka sehari-hari, sangat tidak mencerminkan dengan segala doktrin dan arahan yang telah mereka berikan, sehingga (maaf) saya pun tidak terlalu menghormati para pembina/pengasuh seperti itu.

Itu-lah sekelumit pendapat yang saya miiki berkenaan dengan penanaman sikap dalam tubuh seseorang. Terkadang ada orang yang tidak terlalu memikirkan dengan cara apa doktrin itu disampaikan, tapi yang mereka lihat hanya-lah yang paling penting adalah praja itu mampu untuk bersikap baik dan tertib. Sungguh pemikiran yang sangat dangkal!
Apabila doktrin itu disampaikan dengan cara yang kurang benar maka rasa disiplin itu, rasa loyal itu, rasa respect itu tak akan pernah bisa untuk terlembaga, hanya semu hanya akan mamu terwujud ketika dalam pengawasan atau biasa kami menyebutnya disini bermental KULI…

0 komentar:

Posting Komentar