Minggu, 13 Mei 2012

RUU KG

"Kebenaran akan terasa layaknya sebuah kebohongan bagi para pendosa."

 "Suatu kekeliruan bila mempunyai anggapan harus memiliki kekuasaan untuk menegakan kebenaran. Tapi juga suatu kesalahan bila menegakan kebenaran tanpa adanya suatu kekuasaan."

 “Aturan itu dibuat bukan untuk dipertanyakan tapi untuk kita laksanakan. Boleh kita perdebatkan, hanya dan hanya jika aturan tersebut bertentangan dengan norma dan nilai-nilai agama yang dianut oleh orang kebanyakan.”

 “Bila kita tidak bisa untuk mengerjakan semuanya, jangan kemudian kita meninggalkan semuanya.”


Dalam otak saya ada sebuah permasalahan yang benar-benar mengganggu dan secara nyata mengusik hati dalam dada. Sebuah permasalahan yang sebenarnya saya pun tidak terlalu memperhatikan, entah karena memang masalah ini luput dari hangatnya pembicaraan media atau entah karena saya pribadi yang sudah sangat tertinggal oleh arus informasi atau bahkan terlalu memfokuskan diri kepada informasi yang kurang penting sehingga permasalahan ini baru bisa saya ketahui ketika saya membaca sebuah majalah bernama Al-Wa’Ie No. 141 Tahun XII, 1-31 Mei 2012/1433 H, sebuah majalah terbitan dari sebuah kelompok Islam yang ada di Indonesia yaitu Hizbut Tahrir .

 Tema utama dalam majalah itu, dalam edisi yang saya baca itu sebenarnya berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional yang akan jatuh pada tanggal 20 Mei. Majalah itu mencoba untuk mengupas makna serta hakikat dari kebangkitan nasional tentunya melalui sudut pandang Islam akan tetapi saya pribadi menjadi jauh lebih tertarik terhadap permasalahan lain yang juga diberitakan dalam majalah itu, permasalahan yang benar-benar mengganggu dan mengusik ketenangan hati, yaitu permasalahan mengenai Rancangan Undang-undang ( RUU ) tentang Kesetaraan Gender ( KG ) yang sedang digodok dan dirumuskan oleh Pemerintah dan DPR, bahkan RUU tersebut telah melalui tahapan hearing ( dengar pendapat ) yang dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2012, antara Komisi VIII DPR dan beberapa ormas Islam, seperti Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia ( MHTI ), Aisyiah, Muslimat Nahdhatul Ulama, MUI dan BMOIWI.
Semangat utama yang melatabelakangi lahirnya atau munculnya RUU KG ini adalah karena masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan masih mengalami diskriminasi dalam keluarga, masyarakat dan Negara. Dan dengan adanya RUU KG maka akan adanya kemitraan seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam segala bidang tanpa terkecuali, dengan adanya RUU KG ini perihal membedakan hak dan kebebasan seseorang karena jenis kelamin adalah ketidakadilan, tidak boleh lagi membedakan perempuan karena pandangan tertentu, termasuk pandangan agama.

Sebelum saya semakin dalam, tenggelam, mencoba untuk mengemukakan segala pendapat saya berkenaan dengan permasalahan ini, maka akan jauh lebih baik apabila anda semua terlebih dahulu membaca tulisan saya yang terdahulu mengenai pandangan saya, konsep saya tentang wanita dan lelaki sehingga kemudian tidak akan terjadi salah persepsi, salah pemahaman.
Saya sama sekali tidak memilki tendensi terhadap wanita, memilki sentimen khusus terhadap wanita apalagi sampai dengan pemikiran bahwa saya takut wanita akan menjadi jauh lebih hebat melebihi kaum pria, tidak..tidak sama sekali.
Jadi ini-lah tulisan-tulisan saya itu :
2. Aurat

Setidaknya ada dua pandangan yang akan saya kemukakan untuk menanggapi permasalahan RUU KG ini, dua pandangan yang sebenarnya saling melengkapi dan tidak bisa berdiri sendiri. Pertama pandangan saya sebagai seorang muslim dan kedua pandangan saya sebagai seorang muslim yang hidup berbangsa dan bernegara di sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Here we go and this is my first point of view, my point of view as a moslem :

“Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. ( Sebab ) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, bagi para wanita ( pun ) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
( QS. An-Nisa (4):32 )

 “Kaum lelaki itu adalah pemimpin atas kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki-laki ) atas sebagian yang lain ( wanita ) dan karena mereka ( laki-laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, wanita yang salih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara ( mereka ). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlahh mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”
( QS. An Nisa (4);34 )

Satu hal yang benar-benar saya pahami secara utuh, terlepas dari fakta bahwa saya terlahir sebagai seorang lelaki, adalah bahwa secara fitrah, lelaki memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam rumah tangga ( qawwam ) dan wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga ( ummu wa rabbah al-bayt ). Allah Swt., Sang Pencipta, tidak pernah membedakan kedudukkan antara perempuan dan laki-laki, pada hakikatnya kedudukan perempuan dan laki-laki adalah setara secara syariah dan pelaksanaan hak serta kewajiban berlaku seimbang di antara keduanya akan tetapi secara fitrah penciptaan, Allah telah membedakan keduanya dalam rangka mengemban misi kehidupan, tidak untuk menciptakan suatu diskriminasi antara keduanya tapi justru dengan segala perbedaan dan pembeda itu akan terjadi suatu harmonisasi dalam menjalankan perannya masing-masing.

 Karena segala apa yang terjadi dan segala apa yang ada di dunia ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi merupakan sebuah kesatuan sistem. Mereka saling mempengaruhi, saling melengkapi sehingga segala apa yang ada dan harus terjadi di dunia ini bisa berjalan seimbang, bisa berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang saling tumpang tindih peran maupun tupoksi.

Bila argumentasi ini bila mampu untuk meyakinkan anda semua maka saya akan mencoba untuk mengemukakan argumentasi kedua saya berdasarkan kedudukan saya sebagai seorang muslim yang hidup di Negara Kesatuan Republlik Indonesia.

 “Hanya orang gila yang mau menyamaratakan perempuan dengan laki-laki. Laki-laki bukan perempuan. Oleh karena itu, pasti beda laki-laki dengan perempuan. Menyamakan sesuatu yang tidak sama tidak dapat dipertanggungjawabkan secara logika.”
Anwar Abbas ( Pimpinan Pusat Muhammadiyah )

Mari kita sama-sama gunakan logika berpikir kita dengan sangat rasional, bebas, terlepas dari segala pemikiran dan perasaan subjektif. Mari renungkan, secara bentuk fisik tampilan secara nyata dari luar, apakah laki-laki dan perempuan itu sama? Kemudian kita beralih kepada hal-hal psikis serta ciri-ciri biologis, apakah laki-laki dan perempuan itu sama?
Coba kita renunggkan dengan seksama dua pertanyaan itu dan teliti bersama jawaban dari kedua pertanyaan itu karena bukankah ketika kita akan menyamakan sesuatu hal maka sesuatu hal itu harus mempunyai persamaan dan persamaan antara sesuatu hal itu harus-lah suatu persamaan yang pinsip sehingga kita bisa menyamakan sesuatu hal itu secara utuh dan kuat. Akan tetapi secara prinsip, dari segi apapun, perempuan dan laki-laki itu sangat-lah berbeda sehingga menjadi sangat wajar antara laki-laki dan perempuan itu kemudian memilki tugas, tanggung jawab serta peran yang berbeda.

Karena kita hidup sebagai manusia, tidak hanya hidup sebagai manusia semata, tapi sebagai makhluk Tuhan, sebagai manusia yang utuh , kita semua mengemban suatu misi khusus dan untuk menjalankan misi itu kita, manusia, laki-laki dan perempuan mempunyai tugas, peran, serta tanggung jawab masing-masing, untuk saling melengkapi dan saling mengisi.

Sebagai contoh adalah sistem pencernaan kita, mereka mempunyai misi untuk mencerna segala makanan yang masuk ke dalam tubuh kita dan mengolahnya menjadi suatu energi, sistem pencernaan terdiri dari beberapa organ dan setiap organ memilki ciri serta bentuknya masing-masing, yang dengan bentuk dan cirinya yang khas itu mereka mempunyai peran, tanggung jawab serta tugas yang berbeda satu sama lainnya akan tetapi perbedaan itu bukan untuk menjadi suatu bentuk diskriminasi tapi merupakan hukum alam agar proses pencernaan itu bisa berjalan dengan sempurna, bayangkan bagaimana jadinya apabila setiap organ dalam pencernaan kemudian mengamuk dan meminta untuk mempunyai tugas, peran serta tanggung jawab yang sama satu sama lainnya? Bukankah sistem pencernaan itu akan menjadi hancur, tidak berfungsi? Dan kita manusia akan mati dibuatnya?

Itu-lah mindset yang harus kita pikirkan sama-sama dan kita coba renungkan. Pahami dalam otak, resapi dalam hati dan lakukan dalam sikap sehari-hari. Tidak ada sama sekali niat untuk menahan segala potensi dalam diri wanita akan tetapi wanita tetap harus mawas diri dan mampu untuk mengendalikan diri, bahwa semua memiliki porsinya masing-masing dan bukan-kah kita semua selalu berteriak meminta suatu keadilan? Dan bukan-kah keadilan itu berarti menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya masing-masing?

Apakah tanah pernah mengeluh karena selalu kita injak setiap harinya?
Apakah matahari pernah bosan menyinari dunia?
Semua ada hukumnya dan semua berfungsi sebagaimana mestinya.

 “Hikmah pembeda hukum yang berkaitan dengan perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian perempuan, sesuatu yang tidak disadari dan dipahami kaum feminis, ( kaum yang giat meneriakan kesetaraan gender ).”
Pratma Julia Sunjandari ( Lajnah Siyaiyah MHTI )

0 komentar:

Posting Komentar