Jumat, 11 Mei 2012

Antara Cinta dan Keyakinan ...

Bagaimana rasa itu bisa untuk menghilang bila kita secara nyata tapi perlahan dalam diam saling mencuri pandang.
Mata kita silih berganti melihat terkadang saling menatap juga meratap seolah kita sedang bicara melalui perantara hampanya dunia diantara kita..
walau sejuta kata lain beredar luas, keras mencoba mengusik keheningan romantika.
Tapi kita tetap teguh bertahan, diam…tetap saling mencuri pandang, diselipi juga senyuman.

Sering kita malu, saling memalingkan muka ketika dengan tidak kita sengaja waktu dengan sangat cerdiknya mempertemukan kedua mata kita dalam satu arah pandang yang lurus tegak tajam saling memandang.
Atau ketika orang di sekitar kita menangkap jelas aktifitas raga mata kita, di tempat itu, dalam tiga waktu itu, kita selalu begitu atau setidaknya aku yang selalu melakukan itu.

Akh, kenapa?
Bukankah kita ( aku ) telah sepakat, tidak untuk meneruskan ini semua karena hanya akan menumbuhkan rasa, yang apabila terus besar hanya akan terus memaksa, mendorong kita ( aku ) untuk ( memaksa ) bersama, padahal sungguh kita tidak akan bisa karena kita sangat berbeda, sulit untuk menjadi sama, dalam sebuah ikatan cinta, dalam sebuah hubungan dua manusia, yang sejati juga selamanya karena ini beda tentang prinsip kita, prinsip yang kita percaya, untuk berjalan di atas dunia, sebagai seorang makhluk Tuhan yang setia.

Tapi sungguh apa daya yang bisa ku perbuat, karena bukankah cinta itu juga merupakan anugerah-Nya?
Lalu kenapa Dia juga harus memberikan itu anugerah tapi juga sekaligus suatu masalah?
Karena bukankah cinta itu harus indah bersama tapi kenapa justru membuat sulit dan merusak ketenangan batin juga raga?

Aku tau semua apa yang terjadi tidak terjadi begitu saja tanpa ada makna yang menyertai.
Semua pasti ada hikmah serta makna, semua pasti ada maksud serta tujuannya.
Memberi masalah sebagai anugerah, memberi anugerah tapi dalam sebentuk masalah.

Dia hanya ingin terus memastikan setiap manusia ciptaan-Nya, agar terus kuat menjalani hidup di dunia, tidak menjadi sesosok yang lemah, sehingga Dia tidak akan pernah bosan terus memberi kita ( aku ) ujian serta tekanan.
Sekarang tinggal bagaimana aku menghadapi ini semua, memberikan respon serta tanggapan terhadap apa yang Dia berikan, entah anugerah atau musibah,

apakah berpikiran baik atu buruk, apakah melihat dengan baik atau buruk dan apakah aku tetap beriman atau justru menjadi kabur, lari dari-Nya?

karena bagi ku cinta dan wanita bukan-lah sumber utama dari munculnya suatu kebahagiaan tapi hidup tanpa cinta juga wanita merupakan awal dari sebuah penderitaan dan kesepian..

2 komentar:

  1. jadi ceritanya, dari mata (lirik-lirikan) trus turun ke hati....hahah....co cwetttt

    BalasHapus