Selasa, 05 Juni 2012

Bendera Putih itu Mulai Terlihat

Di saat saya mulai memainkan jemari di atas keyboard laptop hitam ini, waktu menunjukan tepat pukul 00.11 WIB, setidaknya itu adalah waktu yang tertera jelas di atas layar hape nokia yang saya miliki. Sehingga menurut peraturan kalender masehi, maka di saat saya menulis ini, saya berada di waktu peralihan, di tengah malam atau bahkan di pagi hari di hari Selasa, tanggal 5, bulan Juni, tahun 2012.

Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat bagi saya untuk tidur sangat larut, tidak tepat karena sebenarnya saya di hari ini harus menjalani Ujian Akhir Pelatihan, yang seharusnya saya tidur cukup untuk nantinya mampu memliki energi yang juga cukup untuk berpikir tenang menjawab segala pertanyaan yang ada bukan justru nanti saya sibuk menahan kantuk dan tidak memiliki sedikit pun waktu memikirkan jawaban yang tepat dari segala soal yang diujikan.
Tapi apa daya, walau lelah mata ini ingin terpejam tapi otak seperti meonolak. Otak masih saja terus memikirkan segala masalah yang ada dan datang menerpa kehidupan, sebuah masalah yang sebenarnya tidak datang tapi justru saya cari dan undang sendiri untuk menghampiri kehidupan ini dan tanpa saya sangka justru saya tak mampu untuk mengatasinya serta lebih dari apa yang saya bayangkan, masalah ini justru membuat saya terhanyut pada sebuah arus yang tak tentu kemana akan mengarah.

Tak tau harus kepada siapa mengadu, maka saya putuskan untuk berkeluh kesah dalam sebuah status. Ya, status dalam sebuah situs jejaring sosial terbesar di dunia yaitu Facebook. Kenapa? karena saya sendiri, tak ada yang mampu untuk mengerti secara utuh apa yang saya pikirkan dan lagian siapa kuga yang mau untuk dibangunkan di tengah malam seperti ini? bilapun ada yang mau, belum tentu pula dia mampu untuk bepikir sama seperti apa yang saya rasa, besar kemungkinan orang itu hanya sekedar meg-iya-kan, cukup mendenagar, tidak memahami tidak juga untuk menyayangi. ah, betapa malangnya nasib ini!
Sehingga saya putuskan untuk mencurahkan segala apa yang saya pikirkan dalam kata-kata yang terangkai menjadi sebuah status, karena toh sama-sama tak akan mendapatkan feedback yang berarti, sama-sama akan diacuhkan orang, jad tidak juga menjadi keuntungan ataupun kerugian bagi saya, justru hal itu lebih baik daripada saya sekedar melamun, atau bahkan melakukan aktifitas yang bersifat destruktif, bukankah dengan menuliskannya dalam kata-kata justru akan semakin meningkatkan kemampuan saya dalam menulis?

jadi saya awali keluh kesah saya itu dengan sebuah status seperti ini :
"dan sekarang jiwaku menjerit-jerit mencari seorang untuk tempat mengadu, lelaki atau wanita tak masalah bagiku. asal mereka mau mengerti dan mendengar tidak sekedar mengangguk setuju, mencoba menghibur hati yang sendu. tapi sudah menjadi sifat alamiku, sifat natural seorang lelaki di saat pilu untuk menoleh kepada seorang wanita guna mencari ketenangan itu. Karena bukankah wanita itu berhati lembut juga penuh kasih sayang penuh kehangatan sangat syahdu?"


kemudian setelah itu mulai-lah saya mengeluarkan segala masalah itu :
"ah, saya tidak pernah ingin menjadi seperti ini, tidak, tidak seperti ini ... tidak pernah ingin saya dikenal sebagai seorang yang "memberontak", seseorang yang tidak mempunyai loyalitas, tidak, saya tidak seperti itu, dan tidak ingin seperti itu. saya hanya memperjuangkan apa yang memang sepantasnya saya untuk perjuangkan, tapi kenapa selalu nampak salah? dan bahkan selalu salah? kenapa?"


"selalu mengatasnamakan "mereka", tapi sebenarnya saya hanya berjuang untuk sendiri, keyakinan sendiri, prinsip sendiri, ke-idealisme-an sendiri, emosi sendiri bahkan kepentingan sendiri yang justru celakanya memberikan efek negatif utk "mereka" yang tidak tau apa-apa, tidak sedikit pun mempunyai kepentingan tapi harus rela namanya saya catut utk membenarkan apa yang menjadi prinsip saya itu. ayo lah adima, kau ini berjuang utk apa?utk siapa? hidupmu disini sudah lebih dari cukup, tak cukupkah bagimu utk diam dan tak banyak berkomentar, sok-sok menjadi seorang yang kritis tapi berakibat bodoh? coba kau lihat, kini apa yang kau dapat? nama mu tercemar, kau jadi seorang pesakitan, kau di labeli seorang tak punya loyalitas, sok menunjukan intelektualitas, kau hancur hanya utk memperjuangkan apa yang kau anggap benar!"


"cukup lah dima, cukup kau jadi peserta didik yang baik, yang tak banyak cakap, tak banyak juga mengerutkan dahi mencoba mengkritisi segala yang ada, cukup dan cukup lah seperti itu. hentikan segera ocehan mu, hentikan secepat mungkin. cukup jalani seperti apa yang dituliskan aturan dan diperintahkan oleh atasan. cukup, mudah kan? kau akan hidup tenang dan beban dalam pikiran mu akan menghilang. kau pun akan dicintai dan dikenal sebagai seorang yang "penurut", iya kan dima?"


ada apa? yang jelas ada sebuah permasalahan, cukup besar untuk ukuran seorang saya, berpengaruh jelas pada kehidupan sekarang juga nanti di masa depan, kalina yang mungkin masih belum mengerti, bisa untuk mencoba mengerti dengan membaca tulisan saya sebelum ini, yaitu Berteriak Lantang!.
Kalian yang tidak berada di lingkungan yang sama dengan saya mungkin tidak akan bisa untuk menangkap sepenuhnya apa yang menjadi pokok masalahnya, itu wajar. Tapi bagi mereka yang ada dalam lingkaran yang sama dengan saya mungkin sedikit banyaknya bisa untuk memahami. Tapi, sudah-lah, intinya saya mencoba untuk berpikir secara sangat tenang, saya ini bukan pejuang yang hidup di zaman penjajahan, bukan juga orator handal yang bisa mengguncangkan jiwa para pendengarnya, saya hanya seorang Adima Insan Akbar Noors, yang terlahir, tidak, tidak, tapi saya dikutuk untuk selalu bermulut besar tak bisa untuk diam. Dan ini-lah yang harus saya dapatkan.

Saya sebenarnya tidak bermaksud untuk melawan atasan, saya hanya mempertanyakan sebuah alasan. Meminta sebongkah keterangan, tidak untuk berbuat hal yang tidak sopan, apalagi sok menantang pimpinan. Tidak lebih dan tidak kurang saya hanya meminta penjelasan. Tapi kenapa harus selalu ditanggapi lain?ditanggapi dengan sudut pandang yang beraneka ragam sehingga jadi salah-lah yang saya lakukan.

Bila dipikir secara baik dan apabila boleh mengutip kata-kata Pak Karno, saya memang seseorang yang lemah lembut tapi juga rewel;terkadang keras bagai baja tapi di lain waktu juga bisa menjadi puitis penuh perasaan. Saya perpaduan antara pikiran dan emosi. Dan seperti yang sahabat saya katakan, saya terkadang tidak bisa membedakan mana itu buah pikiran dan suasana hati. Orang lain juga mengatakan saya ini meledak-ledak, terlalu reaktif. Dan semua itu benar dan ini-lah faktanya.

0 komentar:

Posting Komentar