Minggu, 17 Juni 2012

Isra Mi'raj dan Tegaknya Khilafah

http://4.bp.blogspot.com/-km1KqToOX0M/T8bxIcasf_I/AAAAAAAAEGI/VwrtnOoHRbc/s1600/Isra-Miraj-Nabi-Besar-Muhammad-SAW.jpg

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi agamamu."
(QS. AL-MAIDAH, 5:3) 

“Orang-orang yang tidak berhukum menurut apa yang ditentukan Al-Qur’an, mereka adalah orang-orang kafir” 
(Q.S. Al-Maidah, 5:44) 

”Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegangan pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunahku (Hadits).” 
(H.R. Baihaqi) 

Baca juga : 

Pada hari ini, Sabtu, tanggal 16, bulan Juni, tahun 2012, dan di hari ini, di tanggal masehi tahun ini diperingati sebuah hari besar bagi umat Islam, sebuah moment besar pada zamannya dan bahkan masih yang terbesar yang pernah ada dan terjadi di dunia ini, menggetarkan jiwa serta menggoyahkan Iman setiap Muslim yang ada, kejadian yang benar-benar mampu untuk menyeleksi siapa saja orang-orang yang mempunyai keimanan yang kuat serta kokoh dan siapa saja yang hanya beriman untuk sesuatu hal yang bisa memuaskan otak serta nalar mereka semata, peristiwa itu adalah Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.  

Saya tidak akan memberikan komentar atau ikut terjun ke dalam pembahasan apakah memperingati Isra dan Mi’raj Rasulullah Saw. itu boleh atau tidak, apakah itu sesuai dengan hadits atau justru bid’ah? Oh, tidak sama sekali, walau jujur ingin sekali saya terlibat dalam pembahasan seperti itu tapi apa daya kemampuan serta pemahaman diri ini masih jauh dari cukup untuk bisa membahas itu semua dan saya sama sekali tidak ingin sedikitpun berbicara untuk sesuatu hal yang tidak saya pahami secara utuh! Tidak dalam sebuah tulisan atau pidato secara khusus. 

IPDN Kampus Kalimantan Barat melalui Kerohanian Islam ( Rohis ), sebuah Unit Kegiatan Praja/Ekskul, di bawah naungan Kantor Agama dan Kerohanian Kabupaten WWP IPDN Kalbar, tempat atau wadah bagi para praja muslim untuk berorganisasi sekaligus ikut serta berdakwah menyiarkan agama Allah dalam lingkup kampus khususnya dan umumnya kepada masyarakat secara luas, tidak mau untuk kehilangan momentum ini sehingga Rohis dalam hal ini Panitia Penyelenggara Peringatan Isra Mi’raj, menyelenggarakan acara peringatan peristiwa tersebut. 

Acara peringatan tersebut dibuka secara resmi pada hari Jumat, tanggal 15, bulan Juni, tahun 2012 dengan diadakannya beberapa perlombaan untuk adik-adik kami satuan Muda Praja, seperti lomba adzan, tilawatil Qur’an dan Pidato. Kemudian pada hari ini rangkaian kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sebuah Talkshow dengan tema “Islam sebagai Jalan Hakiki untuk Bangkit”. Puncak dari kegiatan ini adalah akan dilaksanakan pada malam hari, bada’ Isya, sekitar pukul 19.30 WIB, yang akan diselenggarakan sebuah acara seremonial peringatan Isra dan Mi’raj Rasulullah Saw. dengan acara utamanya adalah tausyiah dari salah satu Ustadz yang berasal dari Kota Pontianak, tausyiah itu sendiri nantinya akan membahas secara gamblang tema utama yang disusun oleh Panitia untuk menyelenggarakan peringatan Isra dan Mi’raj pada tahun ini, yaitu “Dengan Momentum Isra Mi’raj Kita Jadikan Sholat sebagai Sebuah Kebutuhan Bukan Sebuah Beban.” 

*** 

Itu semua merupakan sebuah prolog, sebuah prolog yang panjang untuk sebuah ide tulisan yang akan saya kemukakan pada tulisan ini bahkan mungkin prolog itu akan lebih panjang daripada penjabaran ide utama nantinya. Entahlah tapi sungguh bukan sebuah masalah, iya kan? :) 
Karena saya bukan termasuk ke dalam Panitia Penyelenggara Peringatan tersebut, saya pun bukan merupakan aktivis Rohis, dan saya pun bukan merupakan anggota dari Kantor Agama dan Kerohanian. Jadi sebenarnya saya tidak memilki kepentingan apapun dalam acara tersebut sehingga saya harus sampai hati meluangkan waktu menuliskan atau membuat sebuah berita tentang jalannya acara tersebut. Dua hal yang membuat saya terikat dengan acara tersebut adalah karena saya muslim dan karena saya adalah Sekretaris Daerah Kabupaten WWP IPDN Kalbar . Dua hal yang mendorong saya, atau bahasa lainnya bisa juga kita ganti dengan memaksa saya untuk terlibat dalam acara tersebut, tidak penuh secara fisik jasmaniah tapi lebih kepada terlibat secara moril dan psikis batiniah. 

Hal yang akan saya kemukakan di sini, dengan sebuah prolog yang panjang seperti itu adalah berkenaan dengan acara Talkshow yang telah dilaksanakan pada pagi hari tadi. Panitia telah jauh-jauh hari memberitahu saya bahwa awalnya acara yang akan diselenggarakan pada Sabtu pagi itu bukan-lah sebuah acara talkshow seperti tadi tapi sebuah acara bedah buku mengenai Sistem Pemerintahan Islam tapi belakangan beberapa hari sebelum hari-H panitia mengkonfirmasi kepada saya atau lebih tepatnya saya yang bertanya terlebih dahulu kepada mereka dan ternyata terjadi beberapa perubahan acara karena ada satu dan lain hal yang tidak bisa untuk Panitia abaikan dan salah satu perubahan itu adalah acara bedah buku yang sedianya akan diselenggarakan pada Sabtu pagi diganti dengan sebuah acara diskusi dalam sebuah format Talkshow dengan menghadirkan tiga narasumber yang dipandu oleh satu pembawa acara. 

Acara Talkshow itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, dengan narasumber yang berasal dari mantan pejuang/veteran dalam perang Seroja, Ustadz dari salah satu ormas Islam yang ada di Indonesia yaitu HTI ( Hizbut Tahrir Indonesia ) serta Koordinator/Ketua Rohis IPDN Kalimantan Barat sebagai perwakilan atau representasi dari pihak mahasiswa atau peserta didik. Pada acara tersebut dihadiri pula oleh Pejabat IPDN Kampus Kalimantan Barat yang dalam hal ini diwakili oleh Pembantu Direktur III, Bapak Frans Dieon serta Kepala Bagian Administrasi Keprajaan, Bapak Maris Gunawan Rukmana. 

Secara keseluruhan acara tersebut berlangsung menarik walau sedikit agak menjemukan ( pendapat saya pribadi ). Tapi bukan itu yang akan saya bahas disini akan tetapi apa yang ingin saya bahas, komentari atau mungkin kritisi adalah berkenaan dengan tema yang dibahas dalam acara Talkshow tersebut. Saya datang ke dalam acara tersebut dengan sebuah bayangan bahwa apa yang akan di bahas nantinya adalah berkenaan dengan diskusi tentang keimanan seorang Muslim kaitannya dengan peristiwa Isra dan Mi’raj atau hal-hal lain berkenaan dengan Isra dan Mi’raj, semisal seperti Sholat, dsb. Akan tetapi ternyata tema itu menjadi berkembang sangat dan bahkan terlalu luas menurut saya serta sepertinya menjadi agak melenceng dari peringatan yang sedang diperingati pada hari itu, ya, saya dan seluruh orang yang hadir dalam acara tersebut disuguhi sebuah tema yang “berat” dan menjadi agak “sensitif” untuk ukuran kami yang menyandang status sebagai seorang praja dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan karena apa yang kemudian dibahas dalam talkshow tersebut adalah berkenaan dengan kebangkitan sebuah bangsa serta Islam sebagai jalan untuk mampu bangkit dalam pengertian secara hakiki. 

Sebuah tema yang “berat”, yang sangat mengkritik habis pemerintahan, sangat memojokan pemerintahan Indonesia dan menyalahkan sistem yang kini digunakan serta mengajak untuk menggunakan sistem Pemerintahan Islam untuk diterapkan di Negara ini. Intinya adalah menyalahkan sistem yang ada dengan mengungkapkan sejuta kebrobrokan yang terjadi dan menjelaskan sebuah sistem yang mampu untuk membenahi itu semua atau dalam bahasa lainnya adalah mengajak kita dalam hal ini kami, Praja IPDN, kader-kader birokrat dengan sumpah dan janji setia pada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945, peserta didik yang nantinya akan terjun dalam sebuah sistem birokrasi, sistem yang sangat mengutamakan loyalitas, untuk “memberontak” ( maaf apabila saya salah dalam menggunakan istilah/kata ) sistem yang ada sekarang dan merubahnya dengan sistem pemerintahan Islam! Wow…  

Tidak ada yang salah dengan itu semua, saya muslim tapi saya akui saya belum menjadi muslim sepenuhnya tapi saya selalu berusaha untuk menjadi muslim yang kafah! Saya juga yakin dan sangat percaya bahwa tidak ada yang lebih mengetahui dan memahami manusia selain dari dzat yang menciptakannya, yaitu Allah Swt. Sehingga apa yang kita gunakan di dunia ini, aturan yang harus kita taati adalah segala aturan yang telah dibuat dan disusun oleh Allah Swt. serta Rasulullah Saw. Semua sistem yang ada di dunia, yang berasal dan hanya berlandaskan pada akal pikiran manusia semata pada hakikatnya merupakan sebuah sistem yang gagal, sistem kafir, tidak akan mampu membawa manusia pada sebuah “kebangkitan” hakiki, kalaupun kelak dan ada bangsa atau Negara yang mampu untuk sukses oleh sebuah sistem yang murni merupakan pemikiran otak manusia maka kesuksesan itu sungguh hanya bersifat fana dan tidak akan pernah mampu untuk bernilai ibadah. Saya yakin dan percaya itu! 

Jauh sebelum acara talkshow itu dimulai, jauh sebelum saya mengenal HTI, saya pun telah mempunyai pemikiran seperti itu, pemikiran bahwa hanya hukum serta sistem dari Allah yang harus kita laksanakan serta taati. Ya, saya beruntung dibesarkan dalam sebuah keluarga besar yang mempunyai pemikirang Islam yang terbuka serta “benar” juga “lurus”. 

Akan tetapi yang menjadi persoalannya sekarang adalah Negara Indonesia, Negara kita ini bukan-lah Negara Islam, bukan Negara yang berlandaskan pada hukum Islam walaupun 80% penduduknya merupakan muslim. Apa yang menjadi agenda utama HTI merupakan sesuatu hal yang sangat mulia, sungguh mulia karena akan menjadi sebuah dosa bagi umat Islam yang tidak berusaha untuk menegakan hukum Allah di dunia ini, bukankah manusia hanya diwajibkan untuk berusaha dan berdoa dalam kebaikan? Menegakan Khilafah dan kemudian dipimpin oleh seorang Khalifah merupakan sesuatu hal yang wajib untuk diusahakan dan nantinya dijalani oleh setiap muslim dan yang menjadi permasalahannya sekarang adalah dengan cara seperti apa kita harus berjuang menegakan itu semua? 

Saya sangat mengapresiasi apa yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh HTI dalam usahanya menegakan Khilafah, dari beberapa bacaan yang saya baca mengenai cara-cara yang yang ditempuh oleh HTI sungguh telah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah tapi pertanyaan besar bagi saya pribadi dan juga sangat mengganjal di hati adalah kenapa HTI harus “meloncat” dan memaksakan pemahaman tentang pembentukan suatu Khilafah beserta segala syariat Islamnya kepada masyarakat tanpa terlebih dahulu membenahi segala urusan agama, urusan umat yang lebih kecil tapi sungguh sangat berdampak besar. Saya mengatakan bahwa HTI seperti orang yang berusaha untuk berlari tanpa terlebih dahulu belajar untuk berjalan dengan baik dan benar, saya tidak mengatakan apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan itu salah tapi apa yang ingin saya sampaikan adalah apa yang telah, sedang dan akan mereka lakukan itu kurang tepat sasaran. 
Karena bukankah segala yang besar itu berawal dari segala hal yang kecil? Pohon mungkin kuat menghadang hujan badai tapi akan rubuh dengan gigitan rayap kecil secara terus menerus. 

Bila kita pikir secara logika sangat sederhana kenapa dengan jumlah muslim yang mencapai 80% jumlah penduduk Indonesia, Negara Indonesia tidak mampu untuk menerapkan syariat Islam? Jawaban yang paling mudah untuk ini semua adalah karena 80% umat Islam di Indonesia belum memliki sebuah pemikiran yang sama tentang apa itu Islam, mereka, kita masih terkotak-kotak, terpecah menjadi banyak kelompok dan perpecahan ke dalam beberapa kelompok itu menumbuh suburkan ego setiap kelompok yang ada, sehingga bukan kepentingan umat yang dipikirkan tapi menjadi hanya sempit untuk kepentingan kelompok mereka semata. Ayo-lah, liat kesekitar kita, kita ini masih terlalu sering beradu mulut karena ada satu orang yang menerapkan kunut dan ada yang tidak, kita masih terlalu sering untuk hampir beradu jotos karena di satu kampung ada yang mengadakan tahililan dan di kampung yang lainnya tidak. Kita ini masih sering berkata dengan sinisnya bahwa dia itu NU, si anu itu Muhamdiyah, dan bla bla bla lainnya. Bagaimana mungkin kita bisa untuk menegakan khilafah lantas memilih seorang khalifah apabila untuk urusan yang semacam itu kita pun masih belum bisa untuk mempunyai satu pemikiran. Apabila perbedaan itu sama-sama berlandaskan pada dasar hukum yang jelas serta shahih maka wajar-lah itu semua tapi apabila perbedaan itu sudah masuk dalam ranah shahih dan dhaif, masih kah kita harus mentolerir itu semua? 

Jadi apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah alangkah sangat baiknya apabila sebelum umat diberikan sebuah pemahaman tentang apa itu khilafah dan khalifah, para pemuka agama, alim ulama, ustadz, kiai, atau apapun namanya itu, yang merasa dirinya cendekiawan muslim serta memimpin sebuah kelompok Islam terlebih dahulu bersatu, berkumpul dalam satu tempat, berembuk, berdiskusi, menyatukan pandangan, visi serta misi tentang Islam, sehingga nantinya hanya akan ada satu kelompok Islam, satu suara, satu dakwah yang berjalan secara seiring, seirama, terencana, sistematis, berjenjang, bertingkat dan berkelanjutan sehingga umat mampu untuk juga menjadi satu, tidak lagi dibingungkan dengan perbedaan materi dakwah yang disampaikan, karena tergantung dari kelompok mana yang memberikan dakwah tersebut. Apabila hal itu sudah mampu untuk tercapai, umat telah mempunyai satu pemahaman yang sama juga benar maka dengan sendirinya umat, 80% penduduk Indonesia yang muslim ini, akan menuntut dan memperjuangkan tegaknya Negara Islam dengan syariat Islam didalamnya. 

Ya, hal itu adalah suatu kepastian! Walau perlu waktu serta kesabaran untuk itu semua. Karena bukankah apabila kita tidak bisa untuk melakukan semuanya maka jangan-lah bagi kita untuk meninggalkan semuanya?
Dan apabila setelah membaca ini anda menilai saya sebagai seorang muslim yang moderat maka sungguh saya tidak terlalu memperdulikannya karena memang saya tidak terlalu paham juga apa yang dimaksud dengan Islam Moderat. Yang saya tahu dan saya yakin adalah saya ini seorang Muslim TITIK!

2 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus
  2. @insidewinme : setuju, sama sekali tidak ada sanggahan tapi hanya sedikit pertanyaan bagaimana cara-cara itu??

    BalasHapus