Kamis, 07 Juni 2012

Situasi

Di ruangan itu kami berkumpul bersama, mencoba untuk menyamakan persepsi, menyeragamkan gerak serta langkah kaki.

Apa yang coba kami samakan, apa yang coba kami seragamkan adalah mengenai sebuah masalah, untuk menuntut sebuah kehidupan yang lebih jelas. Kemudian kami himpun dalam sebuah nama aspirasi untuk disampaikan dalam sebuah audiensi, bersama mereka, para pemimpin yang sangat kami hormati.

Dan ya, karena pada dasarnya kami ini sama, di didik secara sama, hidup pun secara sangat bersama-sama, terkukung dan terjebak dalam lingkungan yang juga sama sehingga masalah yang kami rasa pun sama, prinsipnya sama, berbeda hanya pada teknisnya saja dan cara masing-masing orang membahasakannya.

Masalah itu telah mampu kami samakan, lalu kami pun telah mampu untuk merumuskan tuntutan berdasarkan masalah yang telah kami rasakan. Sungguh pertemuan itu berjalan dengan sangat mengalir, berjalan dengan tidak membuang waktu, diawali dengan saling berbagi keluh kesah, lalu segala keluhan itu kami rumuskan menjadi beberapa masalah dan kami analisis untuk kami temukan tuntutan sebagai sebuah solusi dari segala masalah yang kami rasakan.

Masalah telah ada, tuntutan pun telah kami temukan, sepertinya pertemuan itu akan berakhir dengan sangat indah dan sesuai dengan apa yang diharapkan sampai akhirnya ada yang mencoba memberikan suatu gambaran lain, menyuntikan sudut pandang lain, yang sebenarnya sangat baik karena membuat semua yang hadir menjadi lebih berpikir secara utuh.

Orang-orang itu mencoba memberi sebuah bayangan lain tentang efek yang akan ditimbulkan nantinya bahwa akibat yang akan ditimbulkan tidak akan selalu berhasil baik, tapi juga pasti akan selalu ada kemungkinan untuk terjadi akibat yang buruk bahkan sangat buruk dan pertanyaan besarnya, apakah kita siap menerima akibat buruk itu? Tak perlu-lah kita tanyakan tentang kesiapan kita menerima akibat baik yang nantinya akan ditimbulkan karena memang itu-lah yang kita harapkan dari pertemuan ini, dari penyampaian aspirasi nanti kepada pimpinan.

Tapi ya, terima kasih kepada mereka yang telah memberikan sebuah pemikiran lain, memberikan sebuah sudut pandang lain sehingga kita pun akhirnya bisa untuk berpikir kembali, merenungkan lagi segala konsekuensi yang ada nanti.

Terlepas dari itu, secara kasat mata, saya melihat ada ketakutan, ada keberanian, ada emosi, ada kelembutan, ada yang kontra, ada pula yang pro dan saya memilih diam, tak peduli seberapapun argumentasi yang ada berkali-kali menyerang prinsip ini dan walaupun hasrat ingin teriak memuntahkan kata mempropaganda, melakukan hasutan untuk menggalang kekuatan tapi saya tidak mau, saya tak mau memaksa. Biar-lah mereka merenungi sendiri dan mempunyai inisiatif pribadi untuk melakukan gerak secara natural, alami.
Saya tidak mau melibatkan mereka kedalam emosi saya pribadi, bila memang mereka tidak merasakan emosi itu secara sendiri. Saya tidak mau mengajak mereka bersama-sama mempunyai masalah apabila mereka memang sebenarnya tidak mempunyai masalah dan saya pun tidak mau memaksa mereka menerima segala konsekuensi yang ada apabila memang mereka tidak atau belum siap menerima konsekuensi itu. Saya tidak ingin mereka menjadi idealis apabila keinginan serta hasrat mereka untuk menjadi pragmatis masih kuat, saya tidak menyalahkan mereka untuk selalu bersikap dan bermain aman karena saya pun sering untuk bersikap seperti itu.

Jadi, untuk permasalahan ini, karena situasi dan kondisi yang ada di sini, saya tidak bisa untuk menghasut dan mengajak mereka bersama-sama merasakan apa yang saya rasa, situasi dan kondisinya sangat tidak sesuai. Biar saja saya sendiri atau bersama mereka yang memang mempunyai rasa yang sama tapi atas pemikiran sendiri, tidak terhasut dan tidak juga diajak, untuk melawan denga cara-cara yang saya pikir elegan.
SEKIAN.  

0 komentar:

Posting Komentar