Senin, 27 Februari 2012

Tidak Lagi Di Bawah Radar



Munafik dan sangat bohong, apabila saya berkata bahwa saya ini tidak menginginkan sebuah eksistensi yang terbungkus rapih dalam balutan popularitas ataupun sekedar mampu untuk dikenal luas. Pada dasarnya dan pada hakikatnya, saya percaya dan saya juga yakin, bahwa setiap manusia normal dan yang memilki kadar ego yang juga dalam batas wajar, pasti haus akan sebuah popularitas, ingin untuk selalu dipuja dan dipuji luas, dielu-elukan namanya tanpa batas, disponsori oleh merk kelas atas sekelas adidas, dan lain sebagainya. Ingat, hanya untuk manusia normal dengan kadar ego yang juga wajar, jadi bagi mereka manusia yang tidak normal ataupun tidak memilki kadar ego yang wajar ( introvert, dan yang sejenisnya ) tentu tidak haus ataupun lapar dengan sebuah popularitas. Saya mohon anda jangan berusaha untuk mengelak ataupun memberikan sebuah argumentasi menolak, terima saja kenyataan itu, karena apabila benar kita semua ini tidak membutuhkan yang namanya popularitas tentu Facebook, Twitter, Myspace, dan bla…bla…bla…yang ada dalam dunia maya penuh tanda tanya, akan collapse, bangkrut entah kemana. ( baca : GET REAL, PLEASE! )

Dan sialnya, saya ini adalah seorang manusia yang normal dan juga memilki kadar ego yang juga wajar sehingga ya…saya menginginkan sebuah popularitas. Tapi beruntungnya saya, saya masih diberikan kemampuan untuk berpikir rasional dan juga masih mampu untuk sadar akan kemampuan serta situasi kondisi yang saya hadapi. Keinginan saya untuk mendapatkan sebuah popularitas itu, masih mampu saya kendalikan sehingga tidak untuk menjadi melewati batas dan bahkan menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan sebuah popularitas itu. Saya masih dianugerahi rasa malu, rasa malu sehingga saya hanya mau untuk menjadi populer karena hal-hal postif nan konstruktif hasil buatan dan karya sendiri, tidak menjadi populer karena segala hal yang anarki, destruktif nan negatif, hasil dari sebuah tindakan kontroversi atau sensasi yang mengundang perdebatan tiada henti. Tidak, tidak sama sekali!

Karena saya sekali-kali tidak akan pernah menggadaikan prinsip serta privasi hanya untuk mengejar sebuah popularitas belaka!


Sehingga untuk mampu mencapai itu, mendapatkan sebuah popularitas karena sesuatu hal yang positif, saya pun mulai untuk mencoba menulis dan mem-posting setiap tulisan yang saya buat dalam sebuah blog sederhana cenderung ketinggalan zaman, yaitu noorzandhislife.blogspot.com. Kenapa saya memilih untuk menulis?? Karena saya percaya, setidaknya hingga saat ini, saya hanya mempunyai potensi dalam merangkai kata, di saat orang lain membunuh waktu jenuh mereka dengan bermain games, maka saya lebih suka untuk memainkan jemari ini di atas keyboard laptop ataupun keypad hape, mengkritisi dan mengkomentari segala hal yang mengganggu otak dan hati ( baca : Selamat Datang, Kawan! )

Ide awal saya menulis hanya untuk menyalurkan sebuah hoby, tapi kemudian terus berkembang dan hmmm…agaknya dan akan jauh lebih baik lagi, saya tidak harus kembali mengungkapkan alasan saya menulis dan membuat blog, karena seingat saya, saya telah dan pernah menulis tentang hal itu. Jadi, sebelum kemudian anda meneruskan membaca tulisan saya yang satu ini, saya sarankan anda untuk terlebih dahulu membaca tulisan saya yang terdahulu berkenaan dengan alasan saya menulis dan membuat blog. ( baca : Milestone )

Lalu kenapa di awal tulisan ini saya menyebutkan, bahwa saya ini munafik apabila tidak tertarik pada yang namanya popularitas? Karena selain saya ini adalah seorang manusia yang normal dengan kadar ego yang juga wajar, saya pun tidak hanya selesai dalam menulis dan mem-posting-nya dalam blog ini, tapi kemudian setelah saya selesai mem-posting sebuah tulisan dalam blog, saya sesegera mungkin mempromosikan tulisan itu melalui akun Facebook dan Twitter saya, yaa..terkesan agak narsis, tapi itu-lah sebuah usaha, setidaknya saya berusaha dalam batas-batas postif, sehingga bukan merupakan sebuah hal yang harus saya rahasiakan atau bahkan membuat saya malu. Sebenarnya, tujuan utama saya sampai bersusah payah, menuliskan link alamat blog saya dalam sebuah status FB ataupun tweet di Twitter, hanya agar orang-orang bisa tau dan akhirnya meluangkan sedikit waktu untuk membaca tulisan itu, sehingga pesan dalam tulisan yang telah saya buat itu mampu untuk tersebar luas, mampu untuk merasuki orang banyak, mampu untuk menjadi referensi lebih bagi mereka, kemudian saya pun mampu untuk mendapatkan feedback, entah itu pujian, cacian, kritikan atau masukan, yang dari semua feedback itu saya selalu yakin akan mampu untuk semakin menambah dan memperluas ilmu yang saya miliki. Adapun popularitas, walaupun memang saya inginikan itu, tapi itu bukan-lah sebuah tujuan utama dari semua hal ini, saya selalu berusaha menanamkan dalam diri, bahwa popularitas itu merupakan sebuah bonus, akan mengikuti kita dari belakang apabila kita terus konsisten menekuni dan mengerjakan segala hal yang baik, tetap berpegang teguh pada prinsip yang kita yakini.

Karena ya, seorang Adima Insan Akbar Noors a.k.a. noorz58mmilanello, memang ingin mendapatkan sebuah popularitas tapi saya tidak pernah menjadikan popularitas itu segalanya dan menjadikannya sebagai sebuah tujuan utama dalam bertindak, terutama menulis. Saya menulis, karena ini memang hobi dan mungkin potensi yang saya miliki. Saya menulis karena saya ingin meninggalkan jejak postif dalam hidup ini, sebuah bukti bahwa Adima itu memang pernah dan nyata ada dan saya menulis karena saya memang ingin untuk menulis, bila saya tidak ingin menulis maka saya tidak akan pernah membuat tulisan ini dan tulisan-tulisan yang lainnya. It’s so simple, right?

Popularitas itu hanyah sebuah bonus, hanyalah sebuah keinginan dan kebutuhan wajar karena konsekuensi logis saya terlahir sebagai manusia yang normal dan memilki ego yang wajar. Pada akhirnya daripada mendapatkan sebuah popularitas, saya lebih suka untuk mendapatkan sebuah apresiasi. Karena apresiasi itu ada dalam berbagai bentuk dan apabila kita mendapatkan banyak apresiasi maka sebuah popularitas hanya akan tinggal menunggu waktu sedangkan apabila kita mendapatkan sebuah popularitas belum tentu akan banyak orang yang mengapresiasi karya kita, well…setidaknya itu-lah pendapat saya.

Popularitas bagi saya berarti mendapatkan ketenaran, sedangkan apresiasi bagi saya berarti orang-orang itu mengharagi karya yang kita buat, bentuk menghargai itu ada dalam berbagai bentuk. Buat saya, mengharagi tidak semata dibatasi dengan sebuah pujian semata, tapi dengan adanya orang yang sekedar membaca tulisan saya pun itu sudah merupakan bentuk apresiasi bagi saya, terlebih apabila kemudian orang itu memberikan feedback bagi saya, apapun jenis feedback tersebut, itu sudah merupakan sebuah apresiasi yang tinggi buat saya, untuk seorang Adima.

Dan setelah hampir 2 tahun menulis dan mem-posting berbagai tulisan dalam blog ini, setelah hamper 140-an tulisan yang saya buat/posting, akhirnya datang juga sebuah apresiasi tinggi, yang saya pikir hanya akan terjadi di alam mimpi, tapi benar nyata ada dalam reality. Ya, tulisan saya akhirnya bisa masuk atau dimuat ke dalam sebuah koran dan masuknya tulisan saya itu menjadi sangat spesial karena direkomendasikan oleh seorang Guru Besar, seorang Professor ternama di seantero Kalimantan Barat.

Benar-benar sebuah apresiasi yang lebih dari yang saya harapkan, tidak disangka tulisan saya yang berisi komentar saya terhadap beliau, terhadap seorang Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc,. bisa mengantarkan nama saya tertulis manis di atas koran, walaupun hanya sebuah koran lokal, tapi tetap merupakan sebuah kebanggaan buat saya pribadi. Karena penghargaan paling tinggi buat saya adalah dengan adanya orang yang mau untuk mengapresiasi tulisan saya, terlebih dari seorang Guru Besar.

Tulisan saya yang berjudul, Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc., dimuat di harian Borneo Tribune, edisi Sabtu, 25 Februari 2012. Tulisan, yang kemudian menjadi berjudul, IPDN Kampus Kalbar dan Sang Professsor, merupakan tulisan saya berkenaan dengan pandangan serta penilaian saya terhadap sosok Guru Besar tersebut, cenderung berisi sebuah kritikan dan ternyata beliau mampu untuk menerima kritikan itu dengan sangat bijak sangat terbuka dan bahkan ( sekali lagi ) mengapresiasi dengan sangat postif cenderung berlebihan, karena secara jujur harus saya akui, sebenarnya tulisan yang saya buat masih sangat jauh untuk bisa ditampilkan dalam sebuah koran masih banyak kesalahan di sana-sini, sehingga saya pun sangat berterima kasih kepada beliau untuk mau terlebih dahulu mengkoreksi tulisan saya itu, merubah dan menambahkan beberapa kata tapi sungguh tidak merubah isi dari tulisan tersebut, sehingga tulisan tersebut menjadi layak untuk terpampang dalam sebuah koran lokal. Tapi satu hal yang sangat mengganjal adalah lagi-lagi nama saya harus salah tertulis. Dalam koran tersebut, nama yang seharusnya Adima Insan Akbar Noors, tapi kemudian menjadi tertulis Adimas Insan Akbar Noors, ya…hampir sama dengan kejadian ketika Kunker Ibu Sekjen Kemendagri tahun lalu di IPDN Kampus Kalbar.

Tapi, tidak apa, itu hanya-lah sebuah kesalahan kecil bila dibandingkan dengan apresiaisi besar yang saya terima. Saya sungguh sangat berterima ksih kepada Prof. Syarif yang sudah mau untuk mengapresiasi tulian yang saya buat, bahkan mengapresiasi terlampau tinggi, yang saya pikir tidak sebanding dengan kualitas tulisan yang saya buat itu.

Akan tetapi segala sesuatu memang ada harganya, dan begitu pula hal ini, saya harus membayar mahal harga dari sebuah apresiasi tinggi ini, karena konsekuensi logis saya sebagai seorang peserta didik dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan maka saya pun diatur atau diikat oleh sebuah aturan yang tegas. Walaupun memang tulisan itu, tulisan yang dimuat di Koran tersebut, merupakan sebuah tulisan kritikan saya terhadap Prof. Syarif, akan tetapi sesuai dengan kebiasaan saya, entah itu buruk atau baik, tapi dalam kasus ini jelas ini merupakan sebuah kebiasaan yang buruk yaitu pasti saya akan sedikit melenceng dan akhirnya juga membahas sebuah topik lain padahal sebenarnya tulisan itu tidak sedang membahas topik tersebut, ya …kebiasaan itu selalu muncul ketika saya menulis paragrap awal atau di pertengahan paragrap sebuah tulisan. Dan akhirnya pada tulian itu pun, terdapat beberapa kalimat atau kata, yang danggap merusak nama baik atau setidaknya berpotensi merusak nama baik lembaga pendidikan kedinasan yang saya ada di dalamnya.

Saya tidak melakukan pembelaan, karena bagaimanapun juga saya ini bukan seorang mahasiswa biasa, saya terikat oleh aturan yang sangat ketat, dan itu secara nyata saya sadari, sehingga saya pun sadar saya ini tidak mempunyai ruang berkelakar seluas selayaknya mahasiswa di luar sana. Terlebih dengan kondisi lembaga ini yang belum terlalu mapan, setiap sedikit saja salah kata atau salah dalam penyampaian, maka berpotensi akan menjadi sebuah boomerang yang menghancurkan dan meluluhlantahkan eksistensi dari lembaga pendidikan kedinasan ini.

Sekali lagi, saya secara sangat sadar sangat mengetahui hal itu, dalam blog ini, seperti apa yang telah saya singgung dalam Selamat Datang, Kawan ataupun Milestone, berisi murni tentang segala yang terjadi dalam kehidupan saya dan semua kehidupan yang ada di sekitar saya, semua saya ungkapkan apa adanya dengan pendapat serta opini saya sendiri, tanpa ada muatan politis apapun. Tapi dalam waktu yang bersamaan, saya tetap mengetahui batas-batas serta aturan yang harus selalu saya junjung dan taati, saya masih dan akan selalu tau mana sekiranya hal yang pantas untuk diceritakan dan ditulis dalam sebuah blog, walaupun ini merupakan sebuah blog pribadi, tapi ini sudah terletak dalam dunia maya, yang semua orang bisa saja mengaksesnya, berbeda halnya bila saya menulisnya dalam sebuah buku harian pribadi yang saya simpan rapi dalam laci.

Saya tau saya mempunyyai hak uuntuk berkespresi tapi saya juga lebih mengetahui bahwa hak saya untuk berkespresi itu juga memilki batasan dan aturan yang mengikatnya. Saya hanya belum mengetahui secara pasti batasan itu, saya pikir apa yang saya yang tulis dan kritisi beserta segala solusi yang saya tulis berkenaan dengan lembaga pendidikan kedinasan ini masih dalam tahap sebuah kewajaran, masih belum bertentangan dengan aturan yang ada, saya pikir saya masih menulis secara proporsional dan sesuai dengan kapasitas saya serta situsi dan kondisi saya sebagai seorang peserta didik. Karena sejauh yang saya tau, saya hanya menulis segala hal itu secara keselurahan, apabila baik saya katakana baik dan apabila buruk saya katakan buruk dan pendekatan yang saya berikan pun pendekattan normatif aturan jarang saya menggunakan pendekatan objektif perasaaan, kalaupun iya saya menggunakan pendekatan atau penilaian objektif maka saya pun secara jantan mengakui dan menyebutkannya.

Ya, saya pikir semua hal yang saya tulis itu masih dalam tahap “wajar”, hingga akhirnya sekarang saya tau bahwa ternyata apa yang saya tulis itu sudah melewati batas “wajar” tersebut. Dan ya, sebagai seorang peserta didik dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan, saya tidak akan pernah melakuakan sebuah perlawanan. Tapi satu hal yang membuat saya kecewa adalah penlaian itu hanya dilakukan oleh satu tulisan saja, oleh tulisan yang bahkan sebenarnya isi dari tulisan itu tidak saya maksudkan untuk mengkritisi lembaga ini. Tapi kemudian saya dinilai sebagai seorang pengkhianat yang berusaha untuk menghancurkan lembaga ini, padahal saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Saya memang sering mengkritisi, tapi sesering itu pula saya memuji, logika sederhanaya, saya hanya mencoba untuk menjadi orang yang jujur dan bersikap apa adanya, bila saya mengkritisi berarti memang ada sesuatu hal yang salah di sana, tapi bila ada sesuatu hal yang benar maka saya pun akan memuji, dan bila saya menulis tentang sebiah kritikan, maka saya pun menulis suatu tulisan tentang pujian. Saya tidak ingin menjadi generasi ompong, saya selalu berusaha untuk bersikap adil dan proporsional dan mencerna serta menjelaskan segala sesuatunya secara rasional komprehnesif. Jadi, kenapa harus kemudian men-judge saya hanya oleh sebuah tulisan? Yang itu pun sebenarnya tidak saya tujukan untuk mengkritisi lembaga ini? Kenapa tidak terlebih dahulu membaca semua tulian saya dan baru-lah nilai siapa saya.

Kekecewaan saya yang kedua adalah, tulisan itu adalah tulisan saya, sehingga saya-lah yang bertanggung jawab penuh terhadap segala apa yang diakibatan oleh tulisan itu dan seluruh tulisan yang saya buat. Tidak harus kemudian juga membuat orang lain seakan-akan ikut menanggung kesalahan tersebut dan bahkan ikut menggiring semua orang beropini sama dan memaksa orang untuk ikut mengartikan tulisan itu sama seperti anda mengartikannnya. Cukup arahkan moncong senjata itu tepat di depan muka saya, dan biarkan-lah orang lain itu hanya sebagai sekumpulan penonton yang apabila mereka tidak ikut serta maka jangan pernah libatkan mereka dan apabila mereka memang mendukung saya atau membenci saya, maka jangan buat mereka jadi berpikiran sebaliknya. Biarkan mereka menginterpretasikan tulisan saya dengan akal dan logika mereka sendiri dan biarkan saya menjelakan isi dalam tulisan itu karena itu tulisan saya maka saya-lah yang paling mengerti isi dari setiiap tulisan yang saya buat.

Tapi apapun itu, sekali lagi, bila memang lembaga telah mengatakan dan mengetuk palu bahwa apa yang telah saya tuliskan berkenaan dengan lembaga ini adalah telah melewati batas “wajar” dan menyalahi aturan karena tidak terlebih dahulu meminta izin, maka saya siap menanggung segala sanksi yang mungkin lembaga akan berikan kepada saya, saya siap untuk mentaati setiap arahan yang lembaga berikan kepada saya, saya mengaku salah dan saya tidak mempunyai sedikit pun pembelaan untuk hal ini. Dengan segala kerendahan hati, saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada lembaga dan semua orang yang dirugikan oleh setiap kata dalam setiap tulisan yang saya buat dan saya posting dalam blog ini. Karena sesuai dengan status saya sebagi seorang peserta didik, maka saya sungguh masih merupakan seseorang yang butuh untuk diajar sehingga tidak kurang ajar. Saya mohon maaf.

Ini-lah harga yang harus saya bayar, bahwa sekarang saya ini tidak lagi di bawah radar, harga dari sebuah apresiasi, sebuah popularitas diri. Ya, kini aku diperhati, kanan-kiri diawasi ( Bunkface – Panik ), Tanda-tanda itu sebenarnya sudah tercium, sudah saya rasakan akan terjadi sesuatu hal yang tidak saya inginkan, saya sudah mulai merasa bahwa diri ini sudah tidak lagi “tidak kelihatan” tapi sudah mulai terdeteksi, sehingga terlihat jelas dalam layar sebuah radar, sebuah bulatan putih berkedip cepat, ketika pimpinan membahasakan tentang sebuah blog yang “ramai” dibicarakan dosen-dosen dan beliau mengatakan dengan penuh bijak bahwa menulis itu memang bagus, tapi tetap harus hati-hati dan puncaknya adalah ketika beliau kembali mengungkit masalah itu dan kemudian berpesan “kalau laju jangan mendahului, kalau pintar jangan menggurui, kalau tajam jangan melukai” dan ternyata tanpa disangka dan dinyana ternyata yang beliau maksud sedari dulu adalah tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini.

Well, I’m sorry…and truly I’m shocked, and yes I’m afraid…so I’ll be off for a while, till my head feels better and everything under control..

1 komentar:

  1. @nur juliansya : terima kasih banyak, sungguh terima kasih!
    salam kenal juga ya..

    @sehat : hhe...mksh bnyk ya, maksh bnyk utk dukungannya! it means a lot! :)

    BalasHapus