Minggu, 19 Februari 2012

Tuan Raja

Gaya selayaknya seorang bos, seorang pemimpin tinggi kelas atas, duduk dengan emas menjadi alas, merasa bahwa dunia ia-lah yang punya dan ia jua-lah yang memberi batas.


Bertindak semaunya sendiri, membuat aturan mandiri, dan melanggar aturan yang telah gagah berdiri, sehingga menjadi lemah itu aturan ia pecundangi, karena saking hebatnya ego yang ia miliki atau mungkin karena memang dia itu anak hebat pemilik ini bumi.

Ia selalu ingin dilayani, ingin terus disuapi, disuguhi setiap hari, padahal bukan-lah anak mami, bukan juga anak yang terlahir tunggal sendiri, dan bahkan dengan penuh percaya diri dia mengklaim sebagai anak yang mandiri, mampu untuk hidup sendiri tanpa ada bantuan dari orang tua dan sanak family, tapi sikapnya sungguh tidak sedikit pun bisa untuk menghargai tapi ironinya ingin selalu untuk dihormati dan menang sendiri, menyuruh bila sedang dilanda sesuatu hal yang dia ingin penuhi dengan mimik muka anak bayi, polos tanpa dosa sangat suci.

Ketika ditolak ataupun diberi tau dan dinasihati, justru melawan balik melakukan serangan dengan kata-kata khas anak manja yang ingin selalu dituruti segala apa yang ia ingini, melakukan berbagai macam pembelaan dengan argumentasi di atas nama persahabatan sejati dan tolong menolong antar sesama makhluk bumi.

Oh, Tuhan, sungguh aku sangat muak, ingin untuk teriak dengan sejuta kata-kata menolak, tapi tak bisa karena mereka teman-teman ku semua, ku coba untuk terus mengingatkan, tapi tetap saja mereka menjadi bebal, ukuran teman sejati yang berikan adalah untuk selalu menolong dalam segala keadaan.

Terkadang saya heran bertanya-tanya sendiri, bisa-bisanya mereka hidup tenang seperti itu melanggar setiap aturan bumi dan bahkan aturan yag ada dalam agama yang mereka yakini.

Ketika ku datang megoreksi sekedar untuk saling mengingati, mereka justru malah marah membenci dan berujar penuh caci bahwa aku ini sok suci ataupun hanya tersenyum pasi dan menggerutu dalam hati karena tak enak sebagai seorang teman yang katanya sejati. Mereka bilang toh tidak sedang diawasi, toh libur ini hari, dan mumpung masih muda berenergi, mencari pengalaman untuk cerita saat tua nanti.

Ya, hidup anda maka hak anda untuk mengaturnya mau seperti apa, tapi tolong hargai dan hormati juga orang-orang yang ada di sekitar anda, hormati dan hargai aturan yang mengikat anda, jangan selalu ingin dihargai dan dihormati sendiri saja.

Padahal kita ini sedang menempuh sebuah pendidikan untuk menjadikan seorang pegawai negeri, dibiayai penuh oleh negeri, kita hanya tinggal membayar uang tingkah laku kita sendiri.

Seorang pegawai itu berarti harus melayani, tidak untuk dilayani apalagi memperkaya diri sendiri, tapi mereka belum mengerti, menganggap sikap yang baik itu bisa tumbuh sendiri secara cepat tanpa perlu dibiasakan dan dilatih sehari-hari.

Sungguh sebuah pemahaman yang sangat keliru, karena sikap itu perlu untuk kita biasakan agara nantinya bisa untuk terlembaga dengan baik dan terjaga walau penuh goncangan datang menghampiri.



0 komentar:

Posting Komentar