Langsung ke konten utama

Maafkan Aku, Sobat!



Apa benar bahwa tak akan pernah ada dalam hidup ini teman sejati ? karena hanya kepentingan-lah yang abadi ?

Ya, ketika sebuah pertemanan, persahabatan yang telah indah terbangun, dengan segala candaan bodoh dan lelucon konyol menyertai dan menghiasi hubungan itu, yang walaupun chemistry telah terjalin tercipta dan bersinergi dengan hebatnya, tapi seketika harus hancur lebur luluh lantah terhantam oleh kepentingan yang ada membelenggu erat masing-masing hati, membentuk sebuah ego khas lelaki, maka semua chemistry, semua tawa, canda yang pernah ada menjadi tak berarti, hilang lenyap sekejap termakan api dan habis menjadi abu dan berasimilasi dengan udara menyatu merusak atmosfer bumi, karena tak akan mungkin untuk seorang lelaki menghancurkan harga diri serta kehormatannya dalam sebentuk ego dan prinsip untuk akhirnya mengalah dan membiarkan segala kepentingannya itu kalah.

Tidak, itu tidak untuk mewakili semua persahabatan yang ada. Ini hanya kisah yang saya alami baru-baru ini, persahabatan saya dan dia, yang sebenarnya telah indah ada, tapi harus secara cepat menjadi renggang belum untuk menjadi hancur, hanya karena perbedaan kepentingan, perbedaan sudut pandang dalam memahami suatu permasalahan. Ya, ego saya terlalu tinggi padahal mudah saja bagi saya untuk mengalah karena toh ini bukan suatu hal yang besar dan prinsip, tapi itu-lah ego, tak semudah itu untuk bisa dimengerti.

Saya sebenarnya merasakan sesuatu hal yang kurang, ketika diri ini hilang seorang teman yang biasa untuk bersama-sama membuat segala tawa dari segala hal yang penting hingga tak penting sekalipun, seseorang yang selalu bisa untuk kita ajak bercerita serius ataupun tolol, seseorang yang selalu bisa membuat saya senang tersenyum lepas menertawakan dunia, manusia, dan tentunya diri ini. Sejenak melupakan segala persoalan, mengisi waktu dengan percuma dan sia-sia, tapi sungguh bahagia. seseorang yang selalu bisa melepaskan sisi liar, konyol dalam diri ini, seseorang yang selalu mengerti dengan setiap canda yang saya keluarkan.

Ya, kita ini, saya dan dia, merupakan sepasang sahabat gila, sahabat yang saling melengkapi hingga akhirnya tiba malam itu, ketika ego saya merasa tertindas olehnya, ketika kepentingan saya rasa terlalu jauh dia tampar, sehingga terlalu berat rasanya diri ini untuk sekedar menanggalakan ego dan kepentingan itu untuk akhirnya dapat kembali biasa seperti biasa dengan dirinya.

Sungguh sebenarnya ini hanya-lah sebuah hal kecil, tapi saya-lah yang terlalu menjadi anak kecil dan tidak dewasa. Dalam setiap tahapan, dalam setiap tingkatan, yang terbatasi oleh dunia pendidikan, saya selalu bisa menemukan teman sejati yang selalu bisa mengalah untuk kepentingan abadi yang saya miliki, mereka entah dengan terpaksa atau tidak entah karena cinta atau justru karena benci, selalu mau untuuk mengalah dan membiarkan ego ini menang sehingga perteman kami, persahabatan kami bisa terus terjaga dan terjalin mesra hingga saat ini.

Dan pada tingkatan ini, sepertinya persahabatan saya dengan dia tidak bisa lagi seperti saya dengan semua sahabat-sahabat saya yang lain.
saya dan dia sepertinya terlalu kuat urat malu untuk menjaga kepentingan yang ada, sehingga persahabatan indah harus dipertaruhkan, suatu hal yang tak pernah ingin saya lakukan terlebih dengan fakta bahwa saya dan dia telah mampu untuk membangun sebuah rasa persahabatan yang saya pikir cukup kuat seperti halnya rasa persahabatan saya dengan sahabat-sahabat saya lainnya.

apa mungkin harus saya yang mengalah?
dan memulai lagi semuanya dari awal?atau setidaknya dari ketika masalah ini muncul?
let's wait and see...

Barangkali di antara ungkapan yang paling baik mengenai "adab persaudaraan" itu adalah apa yang dikatakan oleh pengarang kitab QUUTUL QULUUB berikut ini :

"Sahabatmu itu haruslah orang yang apabila engkau melayaninya ia akan melindungimu; dan apabila engkau tidak mampu mencari makan, ia akan memberi kepadamu; dan apabila engkau membentangkan kedua belah tanganmu dengan kebaikan, ia akan membantumu; dan apabila ia melihat kebaikan daripadamu ia akan menghargainya; dan apabila ia melihat keburukan daripadamu, ia akan menutupinya; dan apabila engkau meminta kepadanya, ia akan memberimu; dan apabila engkau diam, ia akan mulai berbicara denganmu; dan apabila engkau ditimpa musibah, maka ia akan menghiburmu; dan apabila engkau berkata-kata, ia akan membenarkan perkataanmu; dan apabila kamu berdua berselisih, ia akan mendahulukanmu."

Sesungguhnya teman sejatimu itu ialah orang yang menutupi kebutuhanmu, merahasiakan kesalahan-kesalahanmu, dan menerima alasan-alasanmu.

Dan hak seorang sahabat atasmu adalah supaya engkau memaafkannya dalam tiga perkara : dari kemarahanyya, kekeliruannya dan kelancangannya!

-Dr. Muhammad al-Ghazaly-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh)

AHAD, 10 MUHARAM 1447 H // 6 JULI 2025 12.41 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Pertama)  1. Membagi tugas. 2. Menjadi mentor. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kedua)  3. Pengambilan Keputusan (Decision-making). Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketiga)  4. Tidak Terlalu Membutuhkan pada Bawahan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keempat)  5. Jujur. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kelima)  6. Menciptakan dan/atau membangun sebuah iklim birokrasi/proses kerja sesuai dengan yang dia inginkan/ucapkan/janjikan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keenam)  7. Teladan Pimpinan dan Konsistensi Penerapan Aturan Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh) 8. Regenerasi Di dalam sebuah organisasi yang baik harus memiliki pembagian tugas yang jelas sehingga masing-masing orang yang ada di dalam organisasi tersebut bisa melakukan identifikasi serta bertindak sesuai dengan tugas yang telah mereka miliki. ...

D-IV atau S1 ?

Suatu malam pada hari Sabtu , tanggal 14, bulan Januari , tahun 2012, berlatar tempatkan teras masjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalimantan Barat, terjadi satu percakapan ringan sangat sederhana tapi kemudian mampu untuk membuat otak ini menjadi rumit karena terus memikirkan substansi dari apa yang diperbincangkan itu, terlalu rumit sehingga saya pikir perlu untuk dituangkan dalam sebuah narasi penuh kata, tidak berpetuah dan tidak juga indah. Tapi cukup-lah untuk sekedar berbagi ide dan informasi yang pastinya tidak sesat. Dan ini-lah percakapan singkat itu : HP ( inisial teman saya ) : “Dim, kamu lebih milih mana, S.IP atau S.STP ?” Saya : “mmm….pengennya sih S.IP” HP : “Kenapa, Dim? Kata orang kan kalo S.STP tuh lebih baik buat karir dan kata orang juga S.IP tuh lebih condong buat jadi dosen.” Saya : “Wah gak tau sih kalo masalah yang kayak gitunya, tapi saya ingin S.IP karena yang saya tau S.IP itu lebih mudah untuk nantinya kita mau nerusin ke S2, nah kalo S.STP itu gak semua unive...

Sekilas tentang PP 11/2017

Rabu, 22 Rajab 1438 H / 19 April 2017 19.00 WIB Pasal 134 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) menyebutkan bahwa Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini (UU ASN) harus ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. Berdasarkan ketentuan diatas, peraturan pemerintah sebagai bentuk dari peraturan pelaksana berkenaan dengan UU ASN harus ada selambat-lambatnya tanggal 15 bulan Januari tahun 2016. Karena UU ASN disahkan serta diundangkan pada tanggal 15 Januari 2014. Akan tetapi kenyataan yang ada adalah peraturan pelaksana itu baru muncul ke permukaan di tahun 2017, tepatnya pada tanggal 7 bulan April tahun 2017. Kurang lebih 1 (satu) tahun 3 (tiga) bulan lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan. Ya, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP 11/2017) telah resmi disahkan pada tanggal 30 Maret 2017 dan kemudian diundangkan pada tanggal 7 April 2017. Dengan...