Jumat, 10 Februari 2012

Maafkan Aku, Sobat!



Apa benar bahwa tak akan pernah ada dalam hidup ini teman sejati ? karena hanya kepentingan-lah yang abadi ?

Ya, ketika sebuah pertemanan, persahabatan yang telah indah terbangun, dengan segala candaan bodoh dan lelucon konyol menyertai dan menghiasi hubungan itu, yang walaupun chemistry telah terjalin tercipta dan bersinergi dengan hebatnya, tapi seketika harus hancur lebur luluh lantah terhantam oleh kepentingan yang ada membelenggu erat masing-masing hati, membentuk sebuah ego khas lelaki, maka semua chemistry, semua tawa, canda yang pernah ada menjadi tak berarti, hilang lenyap sekejap termakan api dan habis menjadi abu dan berasimilasi dengan udara menyatu merusak atmosfer bumi, karena tak akan mungkin untuk seorang lelaki menghancurkan harga diri serta kehormatannya dalam sebentuk ego dan prinsip untuk akhirnya mengalah dan membiarkan segala kepentingannya itu kalah.

Tidak, itu tidak untuk mewakili semua persahabatan yang ada. Ini hanya kisah yang saya alami baru-baru ini, persahabatan saya dan dia, yang sebenarnya telah indah ada, tapi harus secara cepat menjadi renggang belum untuk menjadi hancur, hanya karena perbedaan kepentingan, perbedaan sudut pandang dalam memahami suatu permasalahan. Ya, ego saya terlalu tinggi padahal mudah saja bagi saya untuk mengalah karena toh ini bukan suatu hal yang besar dan prinsip, tapi itu-lah ego, tak semudah itu untuk bisa dimengerti.

Saya sebenarnya merasakan sesuatu hal yang kurang, ketika diri ini hilang seorang teman yang biasa untuk bersama-sama membuat segala tawa dari segala hal yang penting hingga tak penting sekalipun, seseorang yang selalu bisa untuk kita ajak bercerita serius ataupun tolol, seseorang yang selalu bisa membuat saya senang tersenyum lepas menertawakan dunia, manusia, dan tentunya diri ini. Sejenak melupakan segala persoalan, mengisi waktu dengan percuma dan sia-sia, tapi sungguh bahagia. seseorang yang selalu bisa melepaskan sisi liar, konyol dalam diri ini, seseorang yang selalu mengerti dengan setiap canda yang saya keluarkan.

Ya, kita ini, saya dan dia, merupakan sepasang sahabat gila, sahabat yang saling melengkapi hingga akhirnya tiba malam itu, ketika ego saya merasa tertindas olehnya, ketika kepentingan saya rasa terlalu jauh dia tampar, sehingga terlalu berat rasanya diri ini untuk sekedar menanggalakan ego dan kepentingan itu untuk akhirnya dapat kembali biasa seperti biasa dengan dirinya.

Sungguh sebenarnya ini hanya-lah sebuah hal kecil, tapi saya-lah yang terlalu menjadi anak kecil dan tidak dewasa. Dalam setiap tahapan, dalam setiap tingkatan, yang terbatasi oleh dunia pendidikan, saya selalu bisa menemukan teman sejati yang selalu bisa mengalah untuk kepentingan abadi yang saya miliki, mereka entah dengan terpaksa atau tidak entah karena cinta atau justru karena benci, selalu mau untuuk mengalah dan membiarkan ego ini menang sehingga perteman kami, persahabatan kami bisa terus terjaga dan terjalin mesra hingga saat ini.

Dan pada tingkatan ini, sepertinya persahabatan saya dengan dia tidak bisa lagi seperti saya dengan semua sahabat-sahabat saya yang lain.
saya dan dia sepertinya terlalu kuat urat malu untuk menjaga kepentingan yang ada, sehingga persahabatan indah harus dipertaruhkan, suatu hal yang tak pernah ingin saya lakukan terlebih dengan fakta bahwa saya dan dia telah mampu untuk membangun sebuah rasa persahabatan yang saya pikir cukup kuat seperti halnya rasa persahabatan saya dengan sahabat-sahabat saya lainnya.

apa mungkin harus saya yang mengalah?
dan memulai lagi semuanya dari awal?atau setidaknya dari ketika masalah ini muncul?
let's wait and see...

Barangkali di antara ungkapan yang paling baik mengenai "adab persaudaraan" itu adalah apa yang dikatakan oleh pengarang kitab QUUTUL QULUUB berikut ini :

"Sahabatmu itu haruslah orang yang apabila engkau melayaninya ia akan melindungimu; dan apabila engkau tidak mampu mencari makan, ia akan memberi kepadamu; dan apabila engkau membentangkan kedua belah tanganmu dengan kebaikan, ia akan membantumu; dan apabila ia melihat kebaikan daripadamu ia akan menghargainya; dan apabila ia melihat keburukan daripadamu, ia akan menutupinya; dan apabila engkau meminta kepadanya, ia akan memberimu; dan apabila engkau diam, ia akan mulai berbicara denganmu; dan apabila engkau ditimpa musibah, maka ia akan menghiburmu; dan apabila engkau berkata-kata, ia akan membenarkan perkataanmu; dan apabila kamu berdua berselisih, ia akan mendahulukanmu."

Sesungguhnya teman sejatimu itu ialah orang yang menutupi kebutuhanmu, merahasiakan kesalahan-kesalahanmu, dan menerima alasan-alasanmu.

Dan hak seorang sahabat atasmu adalah supaya engkau memaafkannya dalam tiga perkara : dari kemarahanyya, kekeliruannya dan kelancangannya!

-Dr. Muhammad al-Ghazaly-

0 komentar:

Posting Komentar