Rabu, 28 Desember 2011

Talk More, Do More

The conversation below was happening in the middle of nowhere. This conversation is between noorz58milanello and Adima Insan Akbar Noors. Enjoy!
Peace and Cheers, my friends!


noorz58milanello : “Okay, let’s be honest, adima insan akbar noors! The truth is you have a very big mouth. Sometimes and always you’re talking too much, too way fuckin’ much! You talk like you know everything, yeah you talk like you’re the smartest man all over the world. One simple word, but you always make it as a long and complicated word. You always choose the long way rather than the short one. Damn! That’s the fact, adima insan akbar noors!”


Adima Insan Akbar Noors : “Yeah! That’s right and I can’t ignore that fact, noorz58milanello. But at least I’m not telling a lie. I’m talking the truth, I talk in the right place and the right situation. I never talk if there’s not belong to my place, to my capability. I won’t talk about something that I don’t know. The last but not least, I talk much but I do much too. I mean the things won’t work out by itself, the other people won’t understand if we remains silent and the other people will hard to understand something if we choose to explain it with only the sign. We have to speak with our own voice to explain it so other people will understood. ( baca : Speak Up! ) So for me, we have to talk much and do much. That’s me, that’s my damn opinion, noorz58milanello. At least for now ‘cause nothing last forever but my believe in Allah!”


Catatan : Maafkan bila banyak terdapat kesalahan dalam penggunaan kata serta penempatan kalimat. Terlebih kesalahan dalam tata bahasanya. Sekali lagi saya mohon maaf dan dengan segala kerendahan hati yang saya miliki saya memohon koreksi, cacian, hinaan, kritikan serta masukan yang membangun dari anda semua sehingga saya bisa terus belajar menjadi orang yang terus berkembang menjadi terus lebih baik lagi. Karena saya sungguh masih merupakan seseorang yang belajar dalam bahasa dan bahkan dalam setiap segi kehidupan yang ada, ya..saya masih merupakan seseorang yang amatir.


Tapi mohon jangan pernah anda beranggapan bahwa saya adalah seseorang yang tidak nasionalis karena saya dengan sok-nya menggunakan bahasa asing dalam tulisan ini dan beberapa tulisan saya yang lainnya, yang walaupun bahasa asing itu masih sangat jauh dari kata sempurna dan justru dekat dengan kata kacau balau. Walaupun memang itu hak anda dalam berpendapat dan saya tidak mempunyai sedikit pun daya untuk menahan, membatasi ataupun merubah pendapat anda. Tapi izinkan-lah saya untuik memberikan suatu penjelasan, hanya sekedar untuk membela diri dan menunjukan bahwa prinsip ini benar atau anggap-lah ini hanya merupakan suatu wujud implementasi Hak Azasi Manusia, Hak untuk menyuarakan pendapat. Dan apabila setelah saya menjelaskan anda menjadi berubah pendapatnya, menganggukan kepala seraya setuju dengan argumentasi yang saya kemukakan, maka hal itu merupakan bonus bagi saya.


Jadi, alasan kenapa saya menggunakan bahasa asing, dalam hal ini bahasa inggris, itu semata karena tuntutan zaman karena dunia ini “memaksa” kita untuk seperti itu. Dan agar saya mampu bertahan hidup maka jelas saya harus beradaptasi. Karena sekali lagi , Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya. ( Wisdom, Justice and Love Part I, II, III )


Dan khusus untuk bahasa, saya sendiri membedakannya menjadi tiga macam, yaitu : bahasa ibu, bahasa pemersatu dan bahasa untuk kita maju.


Bahasa ibu bagi saya adalah bahasa Sunda karena itu-lah bahasa suku saya, bahasa tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Itu-lah bahasa ibu bagi saya.


Bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia karena konsekuensi logis bagi saya sebagai Warga Negara Indonesia, sebagai seseorang yang menyatakan dengan bangganya sebagai seorang Indonesia karena tidak mungkin kita bersatu tanpa ada hal yang mempersatukannya. Terlebih lagi dalam hal yang paling utama dan penting yaitu komunikasi. Kita harus mempunyai bahasa yang satu, dan bahasa itu adalah bahasa Indonesia.


Dan bahasa untuk kita maju adalah bahasa asing. Ya, karena itu-lah resiko kita sebagai Negara berkembang yang berada di bawah ketiak Negara-negara maju yang dalam hal ini adalah negara-negara barat. Negara-negara barat masih memegang kendali penuh dalam edukasi, hiburan, ekonomi dan segala segi kehidupan lainnya. Sehingga menjadi kewajiban bagi kita untuk mampu berbahasa dalam bahasa mereka sebagai syarat utama agar bisa diterima oleh mereka dan bergaul dalam kehidupan globalisasi dewasa ini.


Sebenarnya tak ada keraguan dalam hal itu dan tak sedikitpun pertentangan untuk hal itu. Tapi menjadi sangat ironi dan suatu permasalahan ketika justru bahasa ibu belum dikuasai betul, bahasa pemersatu pun belum sepenuhnya dipahami tapi kita justru terus mengejar bahasa asing dan akhirnya bahasa asing itu pun tidak bisa kita salami benar. Ya, situasi seperti itu sungguh tidak ideal, rawan akan kehilangan identitas diri dan terdapat banyak kemungkinan untuk kita terombang-ambing arus globalisasi tanpa arah, situasi seperti itu sungguh hanya akan membuat kita limbung. Dan ya, situasi seperti itu tergambar jelas dalam diri ini, damn!!


2 komentar:

  1. bahasa sunda bukan bahasa Ibu tapi " Basa Indung"...hehehe

    BalasHapus
  2. hehehe...ternyata bapak bisa juga bahasa indung saya ya?? :)
    hatur nuhun pak! hhe...

    BalasHapus