Selasa, 17 September 2013

Pegawai atau Pebisnis? pt. II

SELASA, 17 SEPTEMBER 2013
09.53 WIB


Di dalam tulisan yang “tempo hari”, hasil diskusi semalam suntuk dengan beberapa sahabat. Ternyata harus berbuntut panjang. Setidaknya dalam koridor yang positif.

Adu argumen yang tidak mengedepankan emosi. Saling menguatkan satu sama lainnya. Ketika ada yang lebih kuat, salah satu diantara kami akan mengalah, tidak lantas terus berdebat, terus berputar, terus, dan terus tak berpangkal.

Maka jauh lebih baik apabila anda terlebih dahulu membaca tulisan “balasan” dari sahabat saya ini, selamat menikmati dan terprovokasi  

"Tulisan ini di tujukan untuk menjawab atas pertanyaan Bung Adima yang di tertuang dalam tulisan beliau tempo hari.
 
Dan kemudian Bung bertanya ini sekolah bisniskah? Atau sekolah  pemerintahankah? 

Saya jawab ini adalah sekolah pemerintahan. Sudah jelas tertera dalam  nomeklatur sekolah ini. Namun saya tegaskan pemerintahan disni adalah pemerintahan dalam arti luas bukan hanya arti pemerintahan dalam kardus susu bubuk saja. Sekolah ini membentuk kader pemimpin di masa depan pemimpin yang berkarakter kuat. Di sekolah ini lah di mana di bebankan kepada setiap benaknya peserta didik cita-cita proklamasi 17 agustus 45 dan amanat UUD45.
 
Oleh karena itu segala kebutuhan dan keperluan peserta didik di sekolah ini di penuhi oleh negara dan selanjutnya sering di sebut anak negara. Ya, anak negara. Sudah pantaslah jikalau seorang anak membalas budi jasa ibunya walaupun tak akan pernah terbalas. Mungkin sama dengan hati saya di hati bung Adima pun ada rasa hutang yang membuncah ruas biasa atas jasa negara yang memenuhi kebutuhan kita selama empat tahun.
 
Lantas timbul lah sebuah pertanyaan apa yang bisa kita balas kepada ibu pertiwi? Apa yang bisa kita beri kepada ibupertiwi? Apa yang ibu pertiwi butuhkan? Apakah hanya dengan kita menjadi manusia yang hanya memakai baju kuning apel jam tujuh pagi dan pulang jam empat sore? Apakah dengan hanya kita menjadi manusia yang hanya duduk di belakang meja dan membuat konsep kebijakan? Apakah kita hanya menjadi manusia yang berseragam dan hanya mengatakan muhun pak muhun kepada atasan nya? Sungguh TIDAK masa sekali!!
 
Yang di butuhkan ibu pertiwi saat ini adalah seorang yang mencintai tanah airnya spenuh hati rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemaslahatan umat, kemaslahatan Bangsa Indonesia. Dengan tetap setia kepada cita-cita proklamasi 17 agustus 45 dengan mewjuudkan statewalfare yang utuh di bumi pertiwi ini. Dengan menjadikan negara ini bahagia dan membahagiakan negara lain. Dengan menjadikan negara ini tertolong dan menolong negara lain.
 
Untuk itu dengan posisi kita sebagai birokrat -insya Allah- kita sudah semestinya mewujudkan apa yang di butuhkan ibu pertiwi. Janganlah kita menutup mata sudah banyak sekali musuh dalam selimut di negeri ini. Sudah banyak sekali anak bangsa yang mencoreng muka ibu pertiwi, sudah banyak sekali anak bangsa negeri ini yang menjatuhkan kehormatan ibu pertiwi, dan bahkan sudah banyak anak bangsa yang memperkosa ibu pertiwi nau’dubillah. Apakah dengan berperang dengan manusia keji seperti itu kita hanya berjuang dengan tangan kosong? Itu adalah hal yang sangat konyol sama sekali. Gusti Allah sudah menurunkan figur dan pemimpin di setiap zaman pada masa manusia mengagungkan dan memuja sihir Allah SWT menurukan Musa sebagai jawaban, di kala manusia menganggap pengobatan adalah segalanya Allah menurukan Isa sebagai jawaban. Dan kemudian bagai mana dengan akhir zaman? Di saat di mana uang adalah segalnya? Di masa ketika manusia melupakan segalanya untuk uang? Ya sungguh Allah lah Dzat maha Agung Ia menurukan manusia mulya manusia pujaan jagat raya Muhammad SAW. Apa yang di percontohkan oleh Muhammad untuk menjawab tantangan zaman? Berdagang ! kuasai bidang ekonomi, kita harus menjadi kaya. Itu senjata kita untuk berperang di masa ini Rasulullah pun berdagang dulu baru berjuang,ya berdagang dulu baru berjuang, kaya dulu baru jaya.
 
Sekarang mungkin Bung Adima bisa melihat sendiri berapa banyak bayi yang menangis karena butuh susu di tanah yang kaya ini. Berapa banyak anak yang kurang gizi di negeri yang kaya akan lautan ini. Berapa banyak ibu yang menjadi pelacur untuk mencari nasi di tanah yang subur ini? Sudah banyak sekeli.
 
Kemudian apa kah hanya dengan kebijakan lalu bayi yang meronta bisa tidur nyenyak karena perut sudah terisi susu? Apakah hanya dengan Perda mulut yang menganga dengan perut busung kelaparan bisa sehat? Apakah hanya dengan peraturan pemerintah wanita penghibur bisa berhenti melacur karena beras di dapurnya sudah cukup? Sama sekali tidak!
 
Sekarang coba bayangkan Bung Adima menjadi orang kaya dan menyedekahkan harta kepada sepuluh orang miskin, kemudian saya bersedekah kepada sepuluh orang miskin, kemudian seribu lima ratus praja angkatan dua satu bersedekah kepada sepuluh orang miskin, kemudian ratusan ribu camat dan lurah bersedekah kepada sepuluh orang msikin, kemudian juta-juta PNS bersedekah kepada sepuluh orang miskin saja. Apakah masih ada orang yang kelaparan? Itu yang saya maksud Pamongprenuer. Sudah stop-lah menjadi pegawai yang miskin, sudah stop-lah menjadi pegawai yang pendapatannya hanya bisa memenuhi setengah bulan saja dan setengah bulan kemudian mengutang.
 
Bagaimana kita bisa bekerja maksimal sedangkan kita lapar?  Bagaiman kita bisa berjuang kalau anak dan istri merana di rumah karena hutanga? Bangaimana kita bisa memberi sedangkan kita pun hanya berharap di beri gaji dari negara.
 
Jadilah Pamongprenuer seorang pelayan masyarakat yang kaya dan dermawan. Seorang abdi yang mengabdikan dirinya secara total dan tidak berharap pamrih dari negara. Stop sudah meminta kepada negara, stop sudah numpang makan kepada masyarakat. Sudah saatnya kita kaya sudah saatnya kita memberi.
 
Tulisan ini hampir habis terlepas Bung setju atau tidak saya tidak pentingkan itu yang saya pedulikan adalah kita bersama-sama berpegangan tangan berjuang untuk menghapus air mata di pipi ibu pertiwi.
   
saya harap bung bisa membaca dan rela jikalau saya menumpang untuk ikut posting tulisan ini di blog saudara.karena saya belumpunya dan belum mengerti tentang hal demikian. Dan saya tunggu jawaban Bung yang selanjutnya. Merdeka !!! Ingat REVOLUSI belum berakhir!!"

Bagaimana?
Saya sungguh tertegun ketika membacanya, argumen kuat dengan bumbu fakta yang sangat relevan. Masalah dihidangkan dengan begitu nikmat, disajikan panas dengan solusi yang membakar.

Lalu bagaiaman komentar saya? Sungguh saya tidak bisa berkata-kata, bukti nyata saya kalah dalam ini perdebatan.

Apa yang saya ingin jelaskan kembali dalam tulisan komentar ini adalah bahwa prinsip serta tujuan hidup sahabat saya itu sungguh sangat fenomenal tapi sedikit banyaknya salah tempat.

Ya, sahabat saya memang pernah menjelaskan bahwa dia pun tidak berharap muluk berada di sekolah ini setelah dia memahami benar bahwa cara menguasai dunia adalah dengan menguasai ekonominya. Maka dia pun hanya ingin sekedar memahami pemerintahan sehingga kelak ketika telah berhasil dalam dunia ekonomi, dia mudah ketika akan terjun ke dalam dunia pemerintahan.

Maka apabila dicermati dengan seksama pada tulisan saya “tempo hari” pun, saya hanya mempermasalahkan bahwa seharusnya ketika memang mempunyai keinginan atau hasrat dalam dunia bisnis, maka sekolah bisnis jauh akan lebih mampu untuk mengeksplorasinya.

Menjadi penuh sebagai seorang wirausahawan murni akan jauh lebih terbuka banyak kesempatan untuk mendapatkan kejayaan di dunia ekonomi. Daripada harus membagi waktu dengan terlebih dahulu menjadi seorang PNS yang masuk jam 7 pagi dan pulang jam 4 sore.

Bukankah hal itu justru akan membuat salah satu hal akan terbengakalai? Apakah justru nantinya kita hanya akan menjadi pegawai formalitas yang sebenarnya hati, pikiran, jiwa raga kita telah tercurah dalam dunia usaha. Kenapa tidak langsung sepenuhnya menyeburkan diri dalam lautan dunia usaha?

Kenapa harus juga tetap menjadi seorang PNS? Kalo alasan sahabat saya itu hanya ingin sekedar mengetahui bagaimana pemerintahan, dengan hobi membaca, hal itu sudah sangat bisa di dapatkan. Dengan memiliki banyak teman dari banyak kalangan, sudah bisa mengambil banyak pengalaman.

Saya hanya merasa kasian dengan anak-anak ibu pertiwi lainnya, yang lebih ingin “penuh” menjadi seorang pegawai. Yang kini posisinya harus digantikan oleh sahabat saya yang sebenarnya fokus utama hidupnya telah terpatri dalam dunia usaha.

Hanya itu sebenarnya yang sedikit banyaknya mengusik saya.

Bila kemudian sahabat saya itu akan membalas lagi tulisan ini dengan tulisan yang lainnya maka saya sungguh sangat terbuka. Karena perang melalui tulisan jauh lebih akan berguna karena meninggalkan jejak yang pasti yang bisa terus diteliti.

Sekali lagi bukan dunia usaha atau menjadi pebisnis yang saya kritisi tapi sifat setengah-setengah yang saya ingin komentari.

Bila pegawai ya pegawai, bila pebisnis ya pebisnis. Apalagi telah diketahui bahwa menjadi pegawai hanya akan mendapatkan gaji yang terbatas, hanya cukup setengah bulan dan setengah bulan lagi berhutang.

Lantas kenapa tetap menjadi PNS?

Bila telah tau berdagang mampu medatangkan harta lebih banyak dan jauh lebih halal, kenapa tidak sepenuhnya menjadi pebisnis? Bila dengan tidak penuh menjadi seorang pebisnis pun sahabat saya itu mampu mendapatkan keuntungan yang banyak, bukiankah apabila dia menjadi pebisnis sepenuh waktu keuntungan yang akan dia dapatkan bisa jauh lebih banyak.

Lalu bila dengan alasan untuk bisa masuk dalam struktur pemerintahan, bukankah dengan jadi pebisnis yang kaya raya, sahabat saya itu bisa dengan mudahnya untuk mencalonkan menjadi seorang Kepala Daerah.

Bahkan apabila penuh menjadi seorang pebisnis, yang sahabat saya "klaim" akan dermawan. Bukankah dengan begitu dia akan mendapatkan banyak simpati rakyat, dan bukankah modal dan simpati rakyat merupakan hal utama untuk terpilih menjadi seorang Kepala Daerah bahkan Pimpinan Negara?

Ya, hanya itu, hanya itu. Kenapa masih harus mendua dengan pilihan?

0 komentar:

Posting Komentar