Selasa, 03 September 2013

KSK, Gengsi, dan S1/D4

Selasa, 3 September 2013
09.41 WIB


Seharusnya dan semestinya, sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh pimpinan, Tahun Akademik (T.A.) 2013/2014 di kampus ini, dimulai pada hari Senin, tanggal 2, bulan September, tahun 2013.

Akan tetapi tidak semua satuan pada kenyataannya yang bisa langung memulai tahun akademik baru pada bidang pengajaran dan pelatihan, hanya satuan Madya dan Nindya yang (katanya) telah resmi memulai tahun akademik 2013/2014.

Sedangkan untuk kami, satuan Wasana, pengajaran dan pelatihan di tahun akademik 2013/2014, sesuai dengan arahan terbaru, akan mulai berjalan pada minggu kedua bulan September.

Pimpinan beralasan bahwa minggu pertama di bulan September yang (katanya) ceria ini, akan terlebih dahulu dimulai dengan integrasi. Kenapa integrasi? Karena kami, satuan Wasana, kurang lebih 2 tahun terpisah, dan sekarang di tahun terakhir kembali berkumpul. Sehingga perlu untuk kembali disamakan persepsi mengenai struktur, kultur, dan prosedur proses pelaksanaan siklus kehidupan praja.

Lalu bagaimana dengan Muda? Satuan terendah di kampus ini? Ahh, mereka masih dalam tahap penerimaan. Penerimaan tahun ini sungguh sangat berbeda, sangat lama, dan berada di akhir tahun. Sehingga setiap anak manusia yang ingin mencoba peruntungan untuk mengenyam pendidikan di kampus ini harus mereka yang benar-benar yakin, bila tidak, maka bersiap untuk tidak mengenyam pendidikan selama satu tahun ke depan. Karena praktis perguruan tinggi lainnya (negeri tentunya) telah menutup penerimaan mahasiswa baru.

Dan sebagai salah satu program kegiatan integrasi tersebut, pada pagi tadi, selepas pelaksanaan apel pagi. Seluruh satuan Wasana kampus pusat, kecuali mereka yang masuk program kelas bilingual, mendapat pengarahan dari Wakil Rektor, Prof. Sadu Wasistiono.

Acara yang saya pikir dilangsukan cukup mendadak, karena hal itu pun diakui langsung oleh Prof. Sadu. Karena pada jam yang tidak terlampau lama, seharusnya Prof. Sadu pun mengajar di kelas bilingual.

Tapi, disitu-lah letak perbedaan kualitas dan pengalaman seorang professor daripada orang-orang “biasa” lainnya. Sesempit apapun waktu yang ada, mereka akan selalu siap untuk menerima tugas sebagai pembicara.

Maka walaupun beliau meng-klaim tidak memiliki waktu banyak untuk mempersiapkan apa yang akan beliau sampaikan. Sungguh beliau tetap mampu menyampaikan beberapa arahan sekaligus pembekalan bagi kami, dalam kaitannya sebagai satuan Wasana di kampus pusat.

Hal pertama yang beliau sampaikan adalah mengenai kebijakan Kumpul-Sebar-Kumpul yang kini digunakan oleh lembaga. Beliau mengatakan bahwa ini merupakan usaha mempersipakan kami, para peserta didik, agar terbiasa untuk siap ditempatkan dimanapun tempat kerja nantinya.

Hal ini sejalan dengan manajemen modern, yang selalu menghendaki para karyawannya agar mampu bersikap dinamis dan bisa cepat untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Oleh karena itu, lembaga ini berani untuk mengambil kebijakan pembentukan Kampus Daerah, dan menerapkan sistem Kumpul-Sebar-Kumpul.

Beliau juga mengomentari salah satu kalimat dalam arahan Pak Presiden dalam pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan 20 yang dilaksanakan beberapa hari lalu di IPDN Kampus Pusat.

Pak Presiden saat itu mengatakan bahwa IPDN merupakan salah satu perguruan tinggi bergengsi yang ada di negeri ini. Lantas bergengsi dalam bidang apa? Hal itu yang ingin dipertanyakan oleh Prof. Sadu sekaligus mengajak kami bersama untuk memikirkan dan merenungkannya.

Beliau yang memang berlatar belakang akademisi, maka beliau dengan sangat bijak mengatakan bahwa, karena IPDN merupakan sebuah perguruan tinggi, maka ya IPDN harus bergengsi dalam bidang pendidikan.

IPDN telah mampu menghadirkan sebuah kurikulum yang hanya dimiliki dan dikembangkan disini, kurikulum tritunggal terpusat, Pengajarn-Pelatihan-Pengasuhan, dengan titik berat pada keahliaan teoritis, legalistis, dan empiris.

Hal ini yang kemudian beliau sangat tegaskan. Lalu beliau memberikan standar sederhana untuk melihat apakah IPDN telah mampu untuk memiliki kualitas pendidikan yang baik sehingga pantas untuk memiliki gengsi seperti yang disebutkan oleh Pak Presiden.

Standar atau ukuran sederhana itu adalah dilihat dari perpustakaan yang ada di kampus ini, dan di setiap kampus daerah yang dimiliki IPDN.
Dan hasilnya bagaimana? Well, I just can’t say!

Beberapa hal lain yang juga beliau sampaikan adalah mengenai kebijakan program S1 dan D4 yang digunakan di sini. Secara singkat beliau mengatakan bahwa hal itu untuk menjawab tantangan para kritikus tentang fakta sampai dengan saat ini belum ada lulusan IPDN yang berkiprah secara lingkup nasional.

Alasan yang beliau kemukakan kenapa hal itu belum mampu tercapai adalah karena memang IPDN fokus untuk mencetak kader-kader pemerintahan yang siap pakai di daerah.

Dan apabila memang IPDN juga diminta untuk meluluskan kader-kader pemerintahan yang mampu berkiprah secara nasional, maka IPDN kini mempunyai program S1 yang diharapkan akan menjadi thing tank, dibandingkan dengan D4 yang benar-benar disiapkan untuk menjadi pegawai yang terampil dan siap bekerja di daerah.

Dari beberapa hal yang beliau sampaikan pada kesempatan itu, satu hal yang pasti, yang mampu saya tangkap, beliau sangat akademisi. Beliau merupakan salah satu contoh pimpinan yang ada di lembaga ini, yang menginginkan lembaga ini untuk lebih menekankan kepada segi akademis.

Karena bukankah hakikat dari pendidikan itu adalah untuk mendidik peserta didik untuk siap menempuh masa depan. Dan beliau yakin di masa depan tidak lagi relevan segala bentuk tindakan represif. Di masa depan, masyrakat akan semakin kompleks dan kemampuan persusuaif menjadi sangat diperlukan.

Maka hal itu semakin mempertegas bahwa di lembaga ini, sebenaranya tidak kekurangan orang-orang pintar, lembaga ini hanya butuh lebih banyak penyatuan persepsi, integrasi di kalangan pimpinan, lalu koordinasi dan kontrol yang baik terhadap setiap bagian yang ada di bawahnya. Kenapa seperti itu?

Karena semuanya seperti berjalan tidak beringingan, berjalan sendiri dengan visi yang tidak saling berkaitan. Satu pimpinan sangat tegas dalam hal unit kegiatan praja, dan satu yang lain sangat ketat dalam perkuliahan. Memang kurikulum di sini, tritunggal terpusat, dan semuanya harus berjalan seimbang. Tapi saya tetap meyakini, harus tetap ditetapkan fokus utamanya apa, dan mana yang sebagai pendukung.

Perumpaannnya adalah jelas dalam bentuk sebuah kepemimpinan, sangat sulit sebuah organisasi berjalan tanpa adanya satu komando. Maka hal itu pula yang terjadi disini, semua diharapkan menjadi yang utama dan tanpa disadari satu dengan yang lainnya saling mengerogoti karena ingin menjadi yang paling utama.

Jadi, saya pikir, tak cukup dan tak hanya, kami yang memiliki waktu satu minggu untuk integrasi penyamaan persepsi, saya pikir para pimpinan di lembaga ini pun sangat membutuhkan waktu untuk saling berintegrasi, bagaimana, pak?

#PMA all day, guys!

3 komentar:

  1. selamat kembali di kampus utama... (macm iye2) hee... btw, untuk hal penyatuan persepsi itu susah-susah gampang loch.. tapi bukan tidak mungkin... semangat !!

    BalasHapus
  2. haha, mantap..

    seperti yg dikemukakan Greetz, pemimpin itu examply center, suri tauladan, jika ia konsisten mengedepankan etika, maka akan diterima sebagai rahmat bagi organisasi yg dikelola, begitupun sebaliknya.

    semoga lembaga kita tidak kekurangan pemimpin yg baik dan konsisten dalam kebaikan..

    BNEB !

    BalasHapus
  3. terima kasih bang @harri muliawan

    amin amkin saudara @zulfikri

    BalasHapus