Jumat, 13 Januari 2017

Tulisan macam apa ini?!

KAMIS, 14 RABIUL AKHIR 1438 H / 12 JANUARI 2017
09:30:00

Karena menikah bukan sebuah balapan, tak harus cepat-cepatan.
Saling susul menyusul jadi yang terdepan.

Bukan juga perkara mudah, yang sekali ketemu langsung saja nikah.
Tanpa perkenalan, tak saling bertukar pikiran.

Menikah itu urusan besar karena menghalalkan sebuah aktivitas yang tadinya haram. Sebuah hubungan yang mulanya menghasilkan dosa dan tak berguna, sangat sia-sia, kemudian berubah menjadi pahala yang terus mengalir sepanjang waktu. Jadi sungguh keliru bila untuk sesuatu yang dapat merubah hukum Allah Ta'ala 180 derajat, dimaknai dengan sangat dangkal dan dilakukan tanpa persiapan. 

Menikah itu butuh ilmu karena prakteknya hingga nanti mati. Menikah itu tak bisa terlebih dahulu coba-coba dan bila merasa tak mampu lantas mundur! Menikah tak sebercanda itu. 

Banyak orang yang salah sangka terhadap Islam. Bahwa Islam melalui wahyu Allah Ta'ala dan sunnah Nabi-nya shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati setiap umatnya, terkhusus pemuda untuk menyegerakan pernikahan dan setiap pemudinya untuk mempermudah maharnya, bukan berarti Islam menyuruh umatnya menikah tanpa ilmu atau menikah tanpa ada rasa terlebih dahulu.

Saya pun dulu beranggapan seperti itu, tapi subhanallah, pemikiran tersebut sangat keliru. Islam melalui sunnah Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam juga sunnah para sahabat beliau, mengajarkan dan bahkan sangat menekankan untuk menikah dengan terlebih dahulu memiliki ilmu. Baik itu ilmu tentang siapa yang akan kita nikahi maupun ilmu berkenaan dengan hukum-hukum pernikahan itu sendiri.

Dan bila masih ada diantara kita yang berpikiran Islam itu agama yang penuh paksaan dalam urusan pernikahan, maka sepertinya orang tersebut belum banyak mendengarkan ceramah atau kajian Islam berkenaan dengan hubungan pria dan wanita yang akan menikah. 

Orang tersebut rasa-rasanya hanya menyimpulkan Islam dari fakta bahwa Islam melarang pacaran. Sehingga mereka langsung mem-vonis Islam adalah agama yang tak mengizinkan umatnya untuk saling berinteraksi. Allahuakbar, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang cepat mengambil kesimpulan tanpa terlebih dahulu memahami permasalahan secara utuh. 

Lalu apa maksud semua ini? Apa tujuan saya menulis beberapa untaian kalimat di atas? Entah-lah, saya hanya sedang berusaha merangkai setiap kata yang ada dalam otak. Lama tak merangkai kata rasa-rasanya menyumbat beberapa saluran darah dalam otak.

Jadi, ya ini-lah hasilnya. Apa ada manfaatnya? hmm 

2 komentar: