Sabtu, 01 September 2012

Apresiasi dan Sanksi

Secara tidak langsung tulisan ini menyambung juga apa yang telah saya tuliskan dalam WEIRDO. Bila mungkin anda semua masih ingat, WEIRDO, saya buat sebagai salah satu upaya saya dalam memaknai hari kemerdekaan Indonesia juga sekaligus sebagai sebuah kritikan terhadap beberapa kebiasaan buruk yang ada dalam masyarakat kita. Sebuah kebiasaan yang semakin menjadi ironi apabila kita lihat dari sudut pandang semangat proklamsi yang ada pada tanggal 17 Agustus juga semangat kejujuran serta keikhlasan yang ada pada bulan Ramadhan. 
Pun dalam tulisan ini saya kembali akan mengangkat tema itu, tema yang berkaitan dengan kebiasaan buruk kita semua, yang telah membudaya, telah melembaga dalam jiwa raga. 

Sudah menjadi sebuah aturan tidak tertulis dalam kehidupan umat manusia apabila sesuatu hal itu telah menjadi sesuatu hal yang biasa, tidak ada yang melarang, tidak ada yang mengoreksi, maka hal itu akan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah dan akhirnya bahkan dianggap sebagai suatu hal yang benar. Ya, kita seringkali membenarkan apa yang telah menjadi kebiasaan bukan membiasakan apa yang benar. Aneh ‘kan? 
Kebiasaan yang saya maksud disini adalah kecenderungan kita untuk menganggap biasa apa yang benar dan membesar-besarkan segala hal yang salah, secara sangat umum sebenarnya hal ini telah juga saya bahas pada WEIRDO akan tetapi dalam tulisan ini saya akan mencoba untuk membahasnya secara lebih spesifik dengan kasus yang benar-benar nyata ada dan terjadi. 

Seperti yang telah saya tuliskan dalam INI BUKAN BENTUK PERLAWANAN, HANYA MASUKAN, kampus tempat saya menuntut ilmu ini baru saja memberikan kami, peserta didik, dinas cuti selama kurang lebih dua minggu terhitung mulai tanggal 11 Agustus s.d. 26 Agustus 2012, akan tetapi karena dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kontroversi dalam penetapan dinas cuti itu maka kemudian banyak diantara kami yang merasa kecewa dan mereka menunjukan perasaan kecewa itu dengan cara datang terlambat ke kampus atau dengan kata lainnya tidak menaati surat keputusan berkenaan dengan dinas cuti itu. 
Ada banyak alasan yang mereka kemukakan untuk kemudian membenarkan keterlambatannya, bahkan kebanyakan dari alasan yang mereka “gunakan” sangat masuk akal dan bila didengar sekilas bukan seperti sebuah alasan yang mengada-ngada. Tapi, sekali lagi, pada hakikatnya, secara normatif aturan apa yang meraka lakukan secara jelas telah melanggar aturan dan disini-lah letak permasalahan yang ada, yang cukup mengusik ketenangan diri saya pribadi. 

Total dari sekitar 195 peserta didik yang ada di kampus ini, hanya 101 orang yang mampu untuk datang tepat pada waktunya sedangkan selebihnya belum bisa untuk datang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Dengan fakta bahwa kegiatan di kampus belum efektif karena memang tahun ajaran baru belum bisa dimulai, baru akan dimulai pada tanggal 10 september 2012, maka kami yang telah mampu datang tepat pada waktunya tidak memilki kegiatan seperti yang biasanya, sesuai dengan siklus kehidupan yang seharusnya. 
Permasalahan tidak lantas berhenti hanya pada kekosongan kegiatan yang ada di kampus tapi menjadi juga bertambah pada permasalahan lain, yaitu permasalan psikologis peserta didik yang ada. Kami atau mereka yang telah mampu datang tepat waktu merasa tidak mendapatkan suatu apresiasi tapi di sisi lain sanksi bagi mereka yang datang terlambat pun belum jelas bentuk dan jenisnya. Secara jelas dapat kita lihat ada sebuah ketidakadilan di sini karena ketika prestasi tidak mampu untuk diapresiasi lalu deviasi tidak diberi sanksi, maka bagaimana tatanan ideal itu bisa terwujud? 
Atau seringkali deviasi itu mampu untuk diberi sanksi tapi kemudian prestasi terlupakan untuk diapresiasi, ini pun bukan suatu bentuk yang ideal karena mereka yang berprestasi lambat laun akan merasa bosan, tak ada motivasi, tidak ada dorongan untuk terus berprestasi sehingga prestasi mereka akan stagnan bahkan akhirnya mereka pun akan masuk pada kelompok yang melakukan deviasi. 

Apa yang ingin coba saya sampaikan adalah hal-hal kecil ini terlalu sering untuk kita biarkan dan tanpa disadari hal ini menjadi sebuah virus yang merusak psikologis orang-orang yang telah atau sedang berusaha berbuat baik. Ini bukan tentang permasalahan ikhlas atau tidak ikhlas, pamrih atau tidak pamrih, kewajiban atau hak dalam berbuat baik, tapi diapresiasi, dipuji, dipuja, disanjung ketika seseorang itu berbuat baik merupakan sebuah kebutuhan dalam diri seorang manusia karena manusia itu ingin untuk selalu bisa dianggap “ada”, diperhatikan eksistensinya, ini keniscayaan, ini hukum alam, ini sunatullah. 
Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan apa yang dikatakan oleh Maslow, yang membagi kebutuhan dasar manusia atas lima kelompok kebutuhan, yaitu : 1) kebutuhan akan makan, minum dan sex; 2) kebutuhan akan rasa aman baik moril maupun materil; 3) kebutuhan untuk bergaul; 4) kebutuhan untuk dipuji;dan 5) kebutuhan untuk berprestasi. Sehingga sistem reward dan punishment itu memang sangat penting untuk terapkan dalam segala segi kehidupan, diberikan secara berjenjang, bertingkat dan berkelanjutan secara sangat sistematis dengan dasar hukum yang juga jelas dan pasti. 

Ini penting, sekali lagi ini sangat penting, tidak hanya terkhusus untuk di dunia kerja tapi juga harus mulai diterapkan nyata di dalam dunia pendidikan karena ini untuk membiasakan kita semua bahwa setiap apa yang kita kerjakkan mempunyai konsekuensinya tersendiri, ada harga yang harus kita bayar untuk setiap tindakan yang kita lakukan, kita harus mampu dan mau mempertanggungjawabkan setiap apa yang telah kita kerjakan secara sangat sadar. Sistem itu juga berfungsi untuk semakin memotivasi setiap orang yang telah berbuat baik bahkan berprestasi dan memberikan efek jera bagi setiap mereka yang telah berbuat deviasi. 
Karena pada akhirnya, hakikat dari adanya sebuah aturan, sebuah pengaturan adalah agar terciptanya suatu ketertiban, ketentraman, serta keamanan bagi setiap manusia yang ada dan ketika aturan itu tidak mampu untuk ditegakan, atau tidak mampu untuk ditegakan secara tegak seutuhnya, bahkan menjadi sebuah aturan yang “tebang pilih” maka jelas hal itu akan merusak sistem yang ada, tatanan kehidupan ideal atau setidaknya sebuah kehidupan yang baik tak akan pernah mampu untuk terwujud. Walaupun memang aturan itu tidak lebih tinggi dari kemanusiaan akan tetapi tidak bijak rasanya bila atas nama sebuah “kemanusiaan”, atas nama rasa “iba” sebagai sesama manusia, aturan itu tidak mampu untuk ditegakan, tidak, bukan seperti itu seharusnya dunia ini berjalan. Iya ‘kan? 

Dampak dari itu semua, secara lambat tapi pasti, mulai terasa, orang-orang yang telah mampu berbuat baik, telah mampu datang tepat pada waktunya, mulai menunjukan kegelisahannya, mulai memperlihatkan ketidaknyamanannya, mulai sedikit semi sedikit mengeluh dengan situasi yang ada dan akhirnya mulai untuk berkata dan berencana untuk kelak di kemudian hari tidak akan lagi menjadi orang yang baik, orang yang taat dengan aturan karena toh tidak ada bedanya, tidak ada beda secara nyata dan siginifikan antara yang berbuat baik dan yang tidak berbuat baik. 
Hal seperti itu memang bukan sebuah sifat yang baik, tidak memperlihatkan sebuah sifat yang bertanggung jawab, apalagi sifat orang-orang calon pemimpin tapi apabila dilihat dari sudut pandang “keadilan”, apalagi “kemanusiaan”, maka jelas hal itu sangat wajar untuk terjadi, apalagi apabila kita lihat dari kecendeungan manusia yang selalu ingin untuk dipuji atau di apresiasi. Bahkan saya pun pernah merasakan hal seperti itu, pernah merasa menyesal ketika terus berbuat baik atau setidaknya berusaha untuk terus berbuat baik akan tetapi terus “terkalahkan” oleh mereka-mereka yang secara nyata tidak berbuat baik bahkan jelas tidak pernah berusaha untuk berbuat baik akan tetapi lambat laun saya mulai menyadari bahwa itu merupakan kesalahan. 

Saya kembali teringat untuk kemudian kembali termotivasi oleh janji Allah Swt. bahwa Dia hanya akan memberikan pahala untuk setiap kebaikan yang manusia Usahakan dan memberikan azab untuk setiap keburukan yang manusia kerjakan. Dari kalimat Allah Swt. itu secara jelas mampu untuk kita pahami bahwa Allah Swt. hanya mewajibkan kita untuk berusaha dan berdoa seoptimal mungkin, kita tidak sedikit pun berkuasa untuk menentukan sebuah hasil dari setiap apa yang kita usahakan. 

Jadi, ketika kita berbuat baik atau berusaha untuk berbuat baik dan belum bisa untuk mendapatkan apresiasi maka selalu yakin dalam hati bahwa hal itu telah dan akan selalu mampu untuk diapresiasi oleh Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa. Ketika menjadi orang yang baik pun kita belum tentu bernasib baik lantas bagaimana dengan orang yang tidak berbuat baik? 
Dan memang orang yang bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja tuntas masih akan kalah dengan orang yang beruntung akan tetapi kita tidak akan pernah mampu untuk menjadi orang yang beruntung tanpa pernah bekerja keras, cerda serta tuntas! 
Adapun bagi mereka yang memang belum mampu menaati aturan atau perintah pimpinan yang sebenarnya tidak menyalahi prinsip manpun apalagi agama, maka tolong-lah anda bersikap dewasa, tidak terlalu bangga dengan “ketidaktaatan” anda, jikalau memang anda terbebas dari sebuah sanksi maka jangan juga anda terlalu bersombong diri atau mungkin ketika anda mendapatkan sebuah sanksi jangan juga anda mencoba melakukan sebuah perlawanan, terima itu semua karena sekali lagi ada harga yang harus kita bayar untuk setiap tindakan yang kita lakukakan, tidak ada perbuatan salah dan benar yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. 
Benar apa yang dikatakan pimpinan kita, sebisa dan sedapat mungkin setiap aturan yang ada jangan selalu serta merta kita pahami dengan otak kiri tapi mari kita pahami dengan otak kanan karena aturan tidak selamanya bisa terlogikan, jadi mari kita nikmati setiap aturan yang ada. 

Berbuat baik itu tidak berarti kita menjadi seorang penjilat tapi niatkan itu semua untuk menunaikan kewajiban kita sebagai mahklkuk Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa, untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan di muka bumi ini. Apalagi untuk kita yang secara jelas di didik menjadi seorang calon birokrat, calon-calon pemimpin, jadi mari kita biasakan untuk selalu bersikap yang baik, mampu untuk menjadi tauladan. Bahkan bila kuantitas libur yang menjadi masalahnya, coba mari kita sama-sama bayangkan serta renungkan, kelak ketika nanti kita bekerja sebagai seorang egwai dalam lingkungan pemerintahan, kita tidak akan pernah mendapatkan libur yang panjang bahkan di hari raya sekalipun, maksimalnya kita hanya akan mendapatkan lima hari masa libur! 

Jadi, mari kita berpikir panjang, visioner jauh ke depan, sama-sama kita belajar menjadi orang yang bijak juga dewasa, karena kita di masa depan adalah akumulasi dari kita di masa sekarang.

4 komentar:

  1. memang kita cenderung lebih berpikir memberikan sanksi bagi yang kita anggap melanggar aturan...dan kita sering melupakan yang ikut aturan...apakah perlu dapat apresiasi berupa award atau penghargaan :)

    BalasHapus
  2. waduh, dipublikasiin ya yg terlambatnya.

    BalasHapus
  3. bagi sekolah kedinasan ato sekolah2 berbasis asrama, sistem poin mmg perlu. sanksi dan apresiasi harus jelas. percuma mengadopsi sistem jarlatsuh kalau kalau sistem poin tdk tegas. saran sya, mpp/dpp apa dewan perwakilan wisma (apapun namanya skg)suruh kumpul, unjuk siapa jdi perwakilan, sampaikan ke pengasuh. begitu lebih aman, diks.

    BalasHapus
  4. @BlogS of Hariyanto : betul pak, hal sederhana tapi sungguh sangat berdampak besar bagi psikologis.

    @winar lagan notes : hehehe izin mempublikasikan bang!

    @Accilong : siap kak. izin kami insya Allah akan mencoba mengusulkan hal itu melalui jalur yang telah ditentukan. terima kasih kak.

    BalasHapus