Jumat, 17 Agustus 2012

WEIRDO





Mengawali tulisan ini izinkan saya untuk terlebih dahulu mengucapkan dengan penuh rasa bangga juga syukur, Selamat Hari Kemerdekaan Negara Indonesia yang ke-67! Ya, Dirgahayu Republik Indonesia!

Acara seremonial untuk memperingati hari bersejarah ini bukan-lah hal utama yang harus kita lakukan juga bukan substansi pokok yang mesti kita kerjakan, hal-hal seperti itu hanya merupakan sebuah protokoler kenegaraan tapi jauh dari itu semua kita harus mampu memaknai hari kemerdekaan ini dengan sebuah semangat kenegaraan yang benar, mampu untuk terus berubah dan berbenah menjadi lebih baik lagi, tidak berhenti hanya pada segala macam seremoni belaka. 

Berbagai macam cara mampu untuk kita lakukan agar kita mampu memaknai kemerdekaan ini dengan cara yang sangat benar sehingga perubahan menuju kearah yang jauh lebih baik itu mampu untuk terwujud. 
Bagaimana caranya? Cara termudah adalah mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan menjadi pribadi manusia yang lebih bertaqwa serta beriman kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa serta bertindak, bersikap serta berbuat semaksimal mungkin, se-positif mungkin sesuai dengan status, peran dan jabatan yang sekarang ini sedang kita emban. 

Saya sebagai seorang pelajar/mahasiswa/praja, maka dengan status, peran serta jabatan saya yang seperti itu, saya harus memaknai kemerdekaan ini dengan belajar dengan sungguh-sungguh, sesederhana dan semudah itu. Lalu bila anda yang telah bekerja, apapun pekerjaan anda maka bekerja-lah semaksimal dan seoptimal mungkin. 
Kesalahan utama kita semua adalah kita selalu ingin berlari tanpa terlebih dahulu mencoba untuk berjalan dengan baik dan benar, kita selalu berpikir besar tanpa mau untuk berpikir hal-hal kecil untuk mencapai hal yang besar itu. Kita terlalu sibuk untuk menyesali dan ber-iri hati terhadap hal-hal yang tak bisa untuk kita kerjakan sehingga lalai dan lupa terhadap apa yang harus kita kerjakan atau setidak-tidaknya kita menjadi tidak maksimal dalam melaksanakan hal yang semestinya kita lakukan padahal sungguh apa yang kita lakukan itu juga mampu untuk memaknai kemerdekaan ini. 
Kita terbelenggu oleh pikiran kita sendiri, kita tertahan tak mampu untuk berkembang dan maju ke depan hanya oleh pikiran-pikiran kita yang ada dalam otak. 

Hal seperti itu saya pikir merupakan sebuah masalah, mungkin kecil tapi mempunyai dampak yang cukup besar. Salah satu dampak yang ditimbulkan oleh pikiran-pikiran seperti itu adalah lambat laun akal sehat atau pola pikir rasional akan mati dan hilang. Hal ini menjadi sangat berbahaya karena apabila akal sehat, logika berpikir rasional sudah tidak lagi ada, maka rasa optimis itu akan hilang terganti pasti oleh rasa-rasa pesimis. 
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan hal ini tapi kemudian menjadi perhatian saya setelah saya membaca tulisan dari Pak Dahlan Iskan juga semangat yang beliau terus hembuskan. Beliau menyatakan bahwa impian terbesarnya adalah beliau ingin untuk mengembalikan akal sehat karena beliau melihat dewasa ini telah banyak pembunuhan terhadap akal sehat, contoh yang pernah beliau kemukakan adalah sebagai berikut : “Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya: baik mana, Anda punya utang Rp 8 juta tapi kekayaan Anda Rp 10 juta atau Anda punya utang Rp 20 juta tapi kekayaan Anda Rp 100 juta. Benar bahwa utang itu meningkat, tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja disembunyikan. Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat, tapi tidak punya utang! Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serbaenak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk sorga! Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya, mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa. Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedangkan membangun hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan. Masyarakat yang ada dalam “kuldesak” yang terlalu lama hanya akan membuat virus anti kemajuan merajalela.” ( Tekad Baru: Hidup yang Polos-Polos Saja

Atau anda semua masih ingat dengan tindakan radikal di Pintu Keluar Jalan Tol yang dilakukan oleh Pak Dahlan? 
Ya, hal itu Pak Dahlan lakukan semata-mata karena beliau tidak ingin akal sehat masyarakat itu menjadi mati karena seharusnya menurut akal sehat jalan tol itu adalah bebas hambatan namun ketika justru kemacetan itu terjadi di Jalan Tol maka jelas-lah hal itu merupakan pembunuhan terhadap akal sehat! Dan hal itu harus segera kita benahi. 

Maka dalam tulisan ini saya akan menuliskan beberapa contoh nyata dari beberapa sifat kita, kebiasaan kita yang sungguh sangat ironis, sangat bertentangan dengan akal sehat juga logika, sangat tidak rasional. Saya tidak bermaksud untuk mengeksploitasi kebiasaan buruk, tapi saya hanya ingin menyuguhkan fakta dan berharap kita akan sama-sama merenungkannya dan akhirnya mampu untuk merubah hal-hal negatif itu. 

Inilah beberapa contoh nyata dari sifat atau kebiasaan kita yang sangat jauh dari akal sehat. Sungguh aneh! 

Pertama : Bad News Is A Good News 
Bagaimana orang lebih tertarik terhadap pemberitaan sebuah pesawat yang gagal untuk landing secara mulus daripada berita ribuan pesawat yang mampu untuk landing secara baik dan sangat mulus. Itu hanya sebuah ilustrasi, cenderung hiperbolis terhadap kenyataan masyarakat kita yang haus akan berita tapi sayang mereka hanya haus dan lapar terhadap berita-berita negatif, sensasional, kontroversi serta segala sensasi buruk lainnya. Sebenarnya dalam hal ini masyarakat tidak bisa untuk kita salahkan sepenuhnya karena memang media masa itu sendiri yang menyuguhkan pemberitaan seperti itu akan tetapi media pun tidak akan serta merta melakukan pemberitaan yang penuh dengan kata-kata provokatif apabila masyarakat pun tidak menyukainya. Kenyataannya adalah masyarakat sering kali mengeluhkan terhadap cara dan muatan berita yang mereka terima akan tetapi di sisi lain mereka pun menikmati segala pemberitaan tersebut. 
They don’t agree but they don’t refuse it, bukan-kah hal itu merupakan sebuah ironi? Sangat tidak masuk logika, iya kan? 

Kita sering kali tidak hidup seimbang, kita jarang melakukan apresiasi terhadap prestasi dan menganggap hal yang baik itu adalah sebuah hal yang biasa dan memang wajar terjadi tapi seketika berubah 180 derajat ketika hal-hal yang buruk terjadi, maka kita akan mem-blow up hal itu, menjadi sebuah headline yang bernilai jual tinggi. Lambat laun tanpa kita sadari, kita ini, dewasa ini, menjadi sangat nyaman dengan membuka aib yang kita miliki. Aneh! Iya kan? 
Tidak berhenti hanya di situ, ketika hal buruk itu terjadi, padahal hanya merupakan sebuah kasus dari beberapa oknum tapi dengan sangat angkuhnya dengan kekuatan argumentasi dalam opini serta wacana maka hal buruk itu seolah-olah menjadi sebuah hal yang menyeluruh. Kita mengeneralisir hal buruk itu sehingga seperti semua nya bernilai buruk! 
Ya, saya pun akan menghabisi segala hal yang buruk tapi saya pun tidak akan pernah segan untuk mengapresiasi setinggi langit segala prestasi. Ayo-lah mari kita bertindak seimbang, mari kita berbuat sesuai dengan porsi. Yang baik kita nilai baik dan yang buruk mari kita nilai buruk. 

Kedua : Think Instantly 
Jangan kemudian anda salah mengartikan berpikir instan dengan berpikir cepat. Berpikir instan berarti berpikir untuk kemudian bertindak melewati sebuah proses sedangkan berpikir cepat berarti tetap melewati serangkaian proses akan tetapi mampu untuk melewati proses tersebut dengan cepat. Sehingga yang saya maksud di sini adalah segala pikiran, tindakan, serta kebiasaan kita yang selalu ingin mudah, ingin berlari tanpa terlebih dahulu berjalan, ini yang salah, ini yang aneh dan ini adalah hal yang sangat tidak rasional. 

Adapun ketika kita mampu untuk mendapatkan hasil yang baik tanpa melewati proses yang benar maka yakin-lah ketika saatnya nanti kita jatuh maka kita akan jatuh secara keras tanpa mampu untuk kita redam berbeda halnya ketika kita mampu untuk mendapatkan hasil yang baik dari serangkain proses yang juga benar maka ketika nanti kita harus jatuh maka kita tidak akan jatuh terlalu jauh dan kita masih mampu untuk mengendalikan diri ketika jatuh. 

Contoh lainnya adalah ketika saya berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, kasir yang ketika itu bertugas mengeluh dengan sangat bahwa kenapa harus banyak orang yang belanja di tempat tersebut. Sungguh aneh, sangat tidak masuk di akal, dia bekerja sebagai seorang kasir maka sudah tugasnya untuk seperti itu dan kenapa dia harus mengeluhkan dengan banyaknya orang yang datang, bukankah ketika tidak ada orang yang datang berbelanja di toko itu maka toko itu kemudian akan bangkrut dan apabila toko itu bangkrut bukankah dia akan kehilangan pekerjaannya? dan bila dia tidak bekerja, dari mana dia mampu untuk mendapatkan uang untuk meneruskan hidup? Aneh! 
Maka hal ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengeluh dengan ketatnya peraturan ketika dia bersekolah di sebuah sekolah kedinasan, aneh! Pun dengan orang yang ingin kaya tapi justru bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri, sangat aneh! 

Dua contoh yang saya sebutkan di atas sungguh hanya merupakan contoh kecil dari banyak sifat serta kebiasaan kita yang sangat jauh dari akal sehat dan sangat dekat dengan pesimisme. Tapi garis besar yang perlu kita cermati di sini adalah hal–hal itu mampu untuk ada dan terjadi karena diri kita yang tak mampu untuk bersyukur. Kita selalu lupa dengan nasihat bahwa ketika kita beribadah maka kita harus berpikir seakan-akan kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan hari esok akan tetapi ketika bekerja atau berusaha untuk urusan dunia maka kita harus merasa bahwa kita akan hidup untuk selamanya. Sehingga sebenarnya apabila kita mampu untuk berbuat seperti itu kita akan tenang dalam menjalani hidup senantiasa melihat ke bawah, sehingga kita terus mampu bersyukur. 

Ya, bersyukur itu adalah kunci dari semuanya karena Allah Swt. berjanji dan ketika Allah Swt. berjanji maka jangan sekali-kali kita meragukannya, apabila kita mampu untuk bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh-Nya maka Dia akan melipatgandakan itu semua. 

Mari kita biasakan yang tidak biasa, untuk diri yang lebih baik lagi untuk Negara Indonesia yang juga jauh lebih baik lagi!

2 komentar:

  1. salam MERDEEKAA..!!!

    sudah berbuat apakah kita sebagai pemuda..?

    BalasHapus
  2. @a.i.r : mungkin hal yang signifikan belum mampu saya berikan, tapi insya Allah 10 tahun ke depan kinerja saya untuk bangsa ini akan terlihat. amin!

    BalasHapus