Kamis, 09 Agustus 2012

Ini bukan bentuk perlawanan, hanya masukan

Satu hal yang pasti di Perguruan Tinggi Kedinasan ( PTK ) tempat saya menuntut ilmu saat ini adalah ketidakpastian. Ini bukan sebuah lelucon dan saya pun sungguh tidak sedang dalam mood untuk membuat sebuah lawakan, itu sebuah keniscayaan juga kritikan. Selama ketidakpastian itu adalah sebuah kepastian maka selama itu pula tak akan pernah tercapai sebuah kehidupan yang nyaman apalagi menenangkan. Ketika dalam hitungan detik segala sesuatu itu masih bisa dirubah atau berubah tanpa ada sebuah tanda, ketika rumor/isu itu dibiarkan bebas berkeliaran liar dan seakan memang sengaja untuk dibiarkan sehingga seperti sebuah kebenaran, maka apakah bisa sebuah jiwa seorang manusia yang ada di dalamnya bisa merasa tenang, merasa nyaman? 
Perlu lebih dari kesabaran, kebesaran hati, kelapangan dada untuk mampu menjalani itu semua, menikmatinya, mensyukurinya, melihat dari sudut pandang yang positif sehingga akhirnya mampu untuk merasa tenang serta nyaman dalam kondisi seperti itu. 
Berat, susah, tapi bukan suatu hal yang tak mungkin untuk dilakukan karena bukankah tak ada yang tak mungkin di dunia ini?  

Telah beberapa kali tangan pimpinan itu dalam tanda hitam di atas putih sebuah keputusan merubah segala sesuatunya secara sangat cepat, tapi tidak selalu tepat tanpa ada pratanda ataupun kebijaksanaan yang utuh menyeluruh. Adil itu tidak sama rata tapi menempatkan segala sesuatunya tepat dan benar pada tempatnya. Tidak mudah, karena itu berarti harus berpikir secara komprehensif dan detail juga berani, tapi bukankah itu resiko menjadi seorang pimpinan? 

Perencanaan adalah inti dari segalanya, terlebih untuk sebuah perguruan tinggi, tempat peserta didik menuntut ilmu, terlebih di dalam sebuah PTK yang telah secara jelas dan pasti nantinya akan bekerja untuk menjalankan sebuah roda pemerintahan, mengurusi hajat hidup orang banyak. Perencanaan adalah harga mati, tanpa sebuah perencanaan yang baik juga benar, omong kosong pemerintahan itu dapat berjalan dengan baik dan juga benar. 
Dengan sebuah perencanaan maka kita belajar untuk berpikir jauh kedepan, berpikir luas. 
Dengan sebuah perencanaan maka segala hal mampu untuk kita selenggarakan lebih baik, sistematis, jelas dan tepat tujuannya. 
Dengan perencanaan pula kita mampu untuk bergerak lebih stabil dan pasti, segala rintangan, hambatan mampu kita antisipasi sedini mungkin sehingga kita mampu untuk bersiap menghadapinya sebaik mungkin. Sehingga ada kah yang berani memberikan argumen bahwa perencanaan itu tak penting serta tak perlu untuk kita lakukan? Anyone

Lalu bukankah justru sebuah ironi ketika dalam masa pendidikan, kami, peserta didik telah dihadapkan dengan sebuah perencanaan yang sangat tidak matang, jauh dari kata baik apalagi benar? Betul kita ini selain disiapkan untuk menjadi seorang akademisi, jauh lebih utamanya disiapkan untuk menjadi seorang praktisi, maka ya kami lebih diutamakan untuk langsung dihadapkan pada sebuah praktek nyata menjalankan sebuah roda pemerintahan tapi bukan artinya kami harus dihadapkan dengaan kondisi nyata pemerintahan yang tidak seharusnya juga sebaiknya, karena apabila kami tidak dididik untuk sebuah roda pemerintahan yang ideal, lantas kapan Negara ini akan berubah menjadi lebih baik? 
Atau kah kondisi pemerintahan sekarang ini sudah dianggap baik sehingga tak harus lagi ada sang pembaharu? 
Atau mungkin kah kaum tua itu telah terlalu nyaman dengan kondisi pemerintahan yang sekarang ini sehingga mereka pun mendesain lembaga pendidikannya sedemikian rupa untuk mendukung dan mempertahankan keadaan pemerintahan seperti sekarang ini? Yang menurut saya, sungguh jauh dari kondisi ideal dan jauh dari teori idealnya sebuah pemerintahan. 
Tidak ada teori yang tidak mampu untuk diterapkan terutama apabila itu berkenaan dengan sebuah teori yang baik serta benar! 

Seakan semakin menegaskan ketidakpastian itu, seakan semakin menegaskan ketidakmatangan perencanaan itu, lembaga pendidikan ini kembali membuat sebuah gebrakan, sebuah kontroversi dalam sebentuk cuti akademik dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1433 H/2012 M, kenapa kontroversi? 
Saya pribadi lebih melihat hal ini sebuah kontroversi tidak dalam kuantitas cuti yang akhirnya lembaga berikan akan tetapi lebih kepada latar belakang dari pemberian cuti itu sendiri dan setidaknya, menurut saya pribadi, ada dua alasan kenapa akhirnya saya berani menyebutkan bahwa pemberian cuti akademik kali ini sarat dengan kontroversi. 

Pertama : di perguruan tinggi manapun, jalannya sebuah tahun ajaran akademik ( T.A. ) pasti berdasarkan sebuah kalender akademik, yang di dalamnya pasti telah memuat segala macam tanggal serta waktu pelaksanaan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan peserta didik di perguruan tinggi tersebut. Kalender akademik pasti dan harus diterbitkan serta diedarkan luas sebelum sebuah T.A. berjalan karena kalender akademik membantu para peserta didik untuk menyusun perencanaan mereka dalam menjalani masa pendidikan untuk satu tahun kedepannya. Kapan mereka akan menjalani ujian serta cuti tentunya. Kepastian cuti tentu menjadi sebuah hal yang penting, terlebih untuk Perguruan Tinggi Kedinasan ini karena berkaitan dengan pemesanan tiket transportasi menuju daerah asal masing-masing yang telah secara jelas berasal dari seluruh Provinsi yang ada di Indonesia. Tidak semuanya berasal dari keluarga yang berada, sehingga semakin cepat memesan tiket maka semakin murah harga yang bisa didapat dan apakah ada kepastian ketika memesan mendadak tiket itu masih ada? 
Sebenarnya PTK ini juga telah jauh-jauh hari menerbitkan dan mengedarkan Kalender Akademik T.A. 2011-2012, lengkap serta telah jelas di dalamnya mencakup semua jadwal yang harus dilakukan oleh peserta didik selama T.A. 2011-2012 termasuk kapan para peserta didik itu akan mendapatkan cuti. 
Tapi kenapa lantas harus juga berubah? 
Tidak, bagi saya bukan perubahan itu yang menjadi sebuah permasalahannya, tapi apa pantas perubahan itu dilakukan dalam jangka waktu beberapa hari saja sebelum pelaksanaan cuti akademik seperti yang telah terdapat dalam kalender akademik yang terlanjur tersebar luas di kalangan peserta didik, lalu bagaimana dengan perencanaan yang telah kami buat berdasarkan kalender akademik itu?? 

Kedua : perubahan cuti akademik itu tidak diikuti dengan perubahan kalender akademik T.A. 2011-2012 secara keseluruhan. Di dalam kalender akademik T.A. 2011-2012 sebelum perubahan, cuti itu dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus s.d. 31 Agustus 2012, kemudian kenaikan tingkat dilakukan pada tanggal 7 september 2012 sehingga T.A. 2012-2013 efektif akan berjalan pada tanggal 10 september 2012. Dan setelah adanya sebuah perubahan, cuti akademik itu diberikan tanggal 11 Agustus s.d. 26 Agustus 2012 akan tetapi tidak ada sedikitpun perubahan untuk kenaikan tingkat maupun awal dimulainya T.A. 2012-2013 sehingga pertanyaan besarnya, apa yang akan kami lakukan pada rentang tanggal 27 Agustus s.d. 6 September 2012? 
Karena itu sungguh masa-masa kosong, karena kami telah selesai menjalani T.A. 2011-2012, sehingga apa yang akan kami kerjakan? 
Sungguh dalam masa penantian cuti ini pun, salah satu tingkat dari empat tingkat yag ada di PTK tersebut sudah merasakan bagaimana tidak enaknya berdiam diri dalam masa-masa kosong, karena secara de facto-nya T.A 2011-2012 bagi salah satu tingkatan tersebut telah berakhir pada tanggal 17 Juli 2012. 

Tapi apa boleh buat dan apa mau di kata, keputusan itu telah resmi dengan tanda tangan di atas kertas itu. PTK ini kata mereka, tidak murni sebuah perguan tinggi tapi tidak juga seluruhnya penuh birokrasi. PTK ini merupakan gabungan nyata sebuah lembaga pendidikan dan lembaga birokrasi pemerintahan. Apapun alasanya, kami memang harus tunduk dan taat karena itu-lah hakikatnya kami sebagai sekumpulan peserta didik. Respect, loyalitas dan disiplin merupakan tiga sikap utama yang katanya merupakan kelebihan kami bersekolah di PTK ini. Dan tiga sikap itu hanya akan mampu teruji dalam keadaan seperti ini, keadaan yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan dari peserta didik. 


Lembaga pendidikan itu tempat kita belajar dan karena nantinya hampir dipastikan kami akan menjadi bagian dari pemerintahan, yang jelas harus tunduk, taat dan patuh pada pimpinan serta aturan maka dari semenjak sekarang pun kami harus belajar seperti itu. Tak akan menjadi manfaat juga bagi kami berkeluh kesah dan menumpahkan segala emosi negatif terhadap keputusan yang telah ditetapkan oleh pimpinan. Manis pahitnya harus kami telan, harus kami cerna. Jalani saja. 

Ini semua tidak lebih dan tidak kurang hanya sebuah tulisan kritikan jug masukan untuk masa depan yang lebih pasti, bukan merupakan sebuah perlawanan kepada pimpinan. karena saya sungguh tidak sedikit pun akan melakukan resistensi, saya terima itu, mencoba mensyukuri apa yang ada dan menimmati untuk kemudian menjalaninya. 
Tidak, tidak untuk mencari muka atau sok idealis dalam bahasa kami, tapi ini semua saya lakukan sebagai bentuk perwujudan usaha saya untuk menjadi seorang muslim yang baik, mengimplementasikan segala ibadah yang telah saya lakukan, aturan itu, keputusan pimpinan itu sama sekali tidak bertentangan dengan aturan agama jadi tak ada alasan bagi saya untuk tidak menaatinya. Iya kan? 

Dan untuk semua teman, rekan, yang masih mau untuk melawan keputusan itu dengan kembali ke kampus tidak tepat pada waktu yang telah ditetapkan, maka saya hanya bisa berkata, sungguh itu hak anda, silahkan anda lakukan apa yang menurut anda benar dan anda yakini benar adanya. Tapi saya hanya mampu berkata bahwa sebagai seorang sahabat juga rekan, akan jauh lebih baik apabila kita mampu untuk terlebih dahulu berusaha untuk kembali ke kampus pada tanggal yang telah ditetapkan, jadikan ini semua pembelajaran sikap loyal kita, kita syukuri setiap apa yang kita terima, melihat ke bawah tidak melihat jauh ke atas. Tapi apabila setelah kita berusaha ternyata kita tetap tak bisa untuk kembali tepat pada waktunya, misalnya kita telah kehabisan tiket ataupun orang tua kita tak mampu untuk membeli tiket seharga pada tanggal yang ada sesuai dengan jadwal maka itu sungguh di luar kuasa kita, kita laporkan itu semua disertai dengan fakta-fakta yang ada dan nyata, bukan dengan cara berbohong ke sana kemari atau sedari awal telah secara jelas berusaha untuk tidak kembali tepat pada waktunya. 

Adapun bila memang anda tetap bersikeras untuk kembali tidak tepat pada waktunya, maka tolong-lah bersikap jantan, jangan menjadi seorang pengecut dengan mencari-cari cara, mencari-cari kebohongan untuk membenarkan keterlambatan anda itu. 
Ayo-lah hadapi resiko itu secara gagah berani! 
Jangan membiasakan diri anda untuk berlari atau bersembunyi dari segala resiko yang seharusnya anda terima karena anda memang secara jelas serta terbukti berbuat suatu kesalahan.

bukankah hidup itu pilihan?

10 komentar:

  1. saya suka dengan kata2 agan yang ini

    "Dengan sebuah perencanaan maka segala hal mampu untuk kita selenggarakan lebih baik, sistematis, jelas dan tepat tujuannya."

    BalasHapus
  2. menyimak dulu nih agak panjang soalnya

    BalasHapus
  3. sistem di negara ini tampaknya sudah parah hingga keakar2nya

    BalasHapus
  4. @Hzndi : mksh bnyk gan, mksh ya! ;)

    @Full version software : silahkan gan, hhe... :)

    @Freeware : alhmdllh, terima kasih kawan! :D

    @Manchester United : sepertinya, tapi apapun itu bukan pembenaran bagi kita untuk tidak berusaha melakukan perbaikan. tetap optimis! ;)

    BalasHapus
  5. sebuah perencanaan yang berubah-rubah berarti perencanaan tersebut tidak matang saat disusun, jangan sampai malah menjadi busuk sebelum dipanen...salam Ramadhan :)

    BalasHapus
  6. @BlogS of Hariyanto : betul pak, aneh. tapi semoga kedepannya bisa jauh lebih baik lagi. :)

    BalasHapus
  7. wah belum update post yah gan ?

    BalasHapus
  8. @Hzndi : hehehe...belum nih gan, masih asyik menikmati cuti. :)

    BalasHapus