Rabu, 10 April 2013

Menegakan Akal Sehat

Cover Buku Menegakan Akal Sehat
Setelah kurang lebih 3 (tiga) bulan atau bahkan lebih lama dari itu, saya “terbelenggu” oleh biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, akhirnya saya bisa move on ke bacaan yang lain. Bacaan yang telah lama ingin saya baca tapi harus terhalang oleh keterbatasan kemampuan saya dalam membaca sehingga perlu waktu lebih (atau mungkin kurang ya?) 3 (tiga) bulan untuk melahap buku setebal 728 halaman itu. 

Ini mungkin akan menjadi sebuah lelucon di kalangan mereka yang mengaku menjadikan membaca merupakan hobi dalam kehidupannya, terlebih untuk saya yang juga menuliskan kata “membaca’ dalam kolom hobi biodata diri. 

Tapi mau gimana lagi? 
itu memang kenyataannya dan kenyataan lain bahwa ada sebuah pengakuan dari seorang teman (yang walaupun baru sebatas teman BBM-an serta Twitter-an) meng-klaim bahwa dia hanya membutuhkan waktu sekitar 2 (dua) jam saja untuk membaca buku biografi Steve Jobs itu. 
Damn!  

Tapi saya pribadi yang berprinsip bahwa semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya, sepanjang saya tau diri, tau batas, dan mau belajar memperbaiki segala kekurangan serta terus mengembangkan kelebihan, maka saya bukan orang yang mutlak buruk. Maka dalam hal ini, setelah saya mengetahui kemampuan membaca saya masih sangat di bawah rata-rata air, saya pun harus sesegera mungkin untuk memperbaikinya. Sehingga kelak (saya harap secepatnya) saya mampu untuk membaca buku, setebal apapun buku itu, dalam waktu yang relatif singkat tapi tetap mampu menyerap segala hal baik yang terkandung di dalamnya. 

Hal itu kalau saya pikir-pikir menjadi sesuatu hal yang mendesak bagi saya karena hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan saya selanjutnya yaitu saya cenderung tidak bisa untuk membaca buku lain apabila saya belum mampu untuk membaca habis satu buku. Itu karena saya termasuk orang yang susah apabila harus berfokus pada dua hal yang berbeda dalam satu waktu yang bersamaan. 
Saya pernah mencoba membaca 2 (dua) buah buku yang berbeda (jenis tentunya) secara bergantian dan alhasil saya tidak mendapat apapun selain kebingungan dan 2 (dua) buku itu tak mampu untuk saya baca habis. 
Karena bukankah ketika kita mengejar  2 (dua) kelinci secara bersamaan kita justru akan kehilangan keduanya? 

Dan ya, akibatnya selama 3 (tiga) bulan itu (baik, saya genapkan saja selama 3 (tiga) bulan aja deh ya!), saya tak lagi membaca buku apapun selain biografi setebal 728 halaman itu. 
Betapa tidak efisien ‘kan? 

Maka setelah lepas “belenggu” itu, saya pun sesegera mungkin untuk memesan buku-buku yang telah lama saya ingin segera lahap dan cerna secara nikmat. Tak tanggung-tanggung 4 (empat) buku sekaligus langsung saya pesan. Buku-buku yang saya beli itu merupakan buku-buku hasil tulisan dari Pak Dahlan Iskan, sehingga Alhamdulillah semua buku hasil tulisan beliau telah mampu saya dapatkan. Hip hip hooray! 

Kenapa saya begitu suka dengan tulisan Pak Dahlan Iskan? 
Entah-lah, ini murni masalah selera, saya suka gaya penulisan beliau dan banyak hal yang juga saya setujui dari jalan pikiran, pendapat, serta akal sehat yang beliau coba untuk tegakan. 

Dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama maka 1 (satu) buku dari 4 (empat) buku yang saya beli itu telah mampu saya baca dalam waktu kurang dari 1 (satu) hari, mungkin hanya sekitar 1 (satu) jam apabila dikalkulasikan secara penuh. Buku itu berjudul “Menegakan Akal Sehat”

Buku “Menegakan Akal Sehat” merupakan buku yang dicetak pada sekitar medio tahun 2008. Buku itu berisikan kumpulan artikel beliau yang beliau tulis dalam sebuah rubrik yang juga beliau prakarsai sendiri untuk diterbitkan dalam Media “Jawa Post”, yaitu Rubrik Menegakan Akal Sehat. Rubrik “Menegakan Akal Sehat” itu dilatarbelakangi oleh banyaknya peristiwa sehari-hari yang sama sekali tidak masuk akal dalam pandangan akal sehat Pak Dahlan. Tapi hal-hal seperti itu terus saja masyarakat kita menjalaninya. Tidak ada pula usaha untuk mengubahnya. Pak Dahlan menilai adanya sebuah filsafat “pokonya harus…” yang terlalu dominan di masyarakat kita sehingga akhirnya membunuh secara besar-besaran akal sehat di tengah-tengah masayarakat kita. 

Apa sih memangnya akal sehat itu? 
Secara sederhananya akal sehat itu ya logika berpikir kita yang menggunakan akal yang sesuai dengan teori-teori, kaidah keilmuan, aturan dan segala pondasi positif lainnya. Akal sehat itu bertolak belakang dengan emosi yang lebih mengedepankan perasaan dan nilai-nilai subjektifitas lainnya. 
Akan tetapi tak jarang juga ada perbedaan dalam menerapkan sebuah akal sehat. Karena diakui atau tidak akal sehat satu orang dengan akal sehat orang lainnya sangat dipengaruhi oleh ilmu, pengalaman, lingkungan, situasi, dan berbagai macam faktor internal serta eksternal lainnya. Jadi memang tidak bisa mutlak selamanya sama. 

Akan tetapi akal sehat yang coba ditegakan oleh Pak Dahlan di sini adalah akal sehat yang memang benar-benar berakal dan juga benar-benar sehat dalam artian sesuai dengan nalar, sesuai dengan aturan dan sesuai dengan teori ilmu yang ada. 

Contoh nyata yang beliau kemukakan adalah setiap tahun, perkara kasasi yang masuk ke MA jumlahnya 1.000 perkara. Kemampuan para Hakim Agung untuk menyelesaikannya hanya kurang dari separonya. Begitu terus terjadi dari tahun ke tahun. Akibatnya terjadi penumpukan perkara yang kian tahun kian tinggi saja. Pernah suatu ketika jumlah tumpukan perkara di MA sampai 25.000 perkara! 
Nah, bagaimana cara menyelesaikan semua perkara itu? 
Itu ‘kan tidak masuk akal sehat, iya ‘kan? 

Dalam buku itu ada 31 artikel berkenaan dengan permasalahan penegakan akal sehat yang coba untuk didengungkan oleh Pak Dahlan. Semuanya sungguh menarik, dan saya sungguh setuju dengan setiap akal sehat yang dikemukakan oleh Pak Dahlan walaupun ada beberapa akal sehat beliau yang tidak juga masuk dalam akal sehat saya. 

Contohnya dalam artikel “PKS & Keimanan Wanita di Era Demokrasi Murni”. Akal sehat Pak Dahlan menyebutkan bahwa Imam di bidang politik dewasa ini adalah rakyat serta Presiden, gubernur, wali kota, dan bupati tidak bisa lagi disebut Imam dalam pengertian yang utuh karena mereka hanya mengambil sebagian saja dari fungsi Imam. Hal ini beliau utarakan berkaitan dengan tidak masuk akalnya (akal sehat Pak Dahlan tentunya) pernyataan dari salah satu Partai yang bernafaskan Islam yang menyatakan bahwa Partai tersebut belum bisa menerima seorang wanita sebagai imam. 
Hal itu jelas bertentangan dengan akal sehat saya karena akal sehat saya yang di dasari oleh keimanan saya terhadap agama Islam, menyatakan bahwa pria itu adalah pemimpin untuk wanita. Jadi sepanjang masih ada pria dalam sebuah kelompok maka wanita tak bisa untuk memimpin kelompok tersebut. Itu pendapat saya berdasarkan referensi yang saya dapatkan setidaknya hingga saat saya menuliskan tulisan ini. Maka sepanjang saya belum mendapatkan sebuah argumen baru atau penafsiran yang argumentatif berkaitan dengan masalah itu, maka sepanjang itu pula akal sehat saya akan mengatakan bahwa imam itu memang harus seorang pria selama masih ada pria. 

Dalam hal perbedaan akal sehat seperti ini saya pikir bukan sebuah hal yang harus dibesar-besarkan tapi justru harus segera dibuka sebuah pintu diskusi tapi tentunya dengan tetap mengedepankan akal sehat bukan sebuah diskusi yang hanya sehat akal-akalannya. Karena saya yakin apabila kita berdiskusi bahkan berdebat tentang suatu masalah, suatu perbedaan dengan sama-sama menggunakan akal sehat dan mengesampingkan emosi maka tak akan pernah ada gontok-gontok-kan, tak akan ada lagi debat kusir. Semua masalah pasti akan cepat untuk terselesaikan. 

Di sisi yang lainnya saya ingin juga mengemukakan bahwa akal sehat kita, sebagai seorang yang beragama, Muslim khususnya harus tetap tunduk pada keimanan kita terhadap-Nya. Karena banyak hal yang berkenaan dengan agama tidak akan pernah bisa masuk dalam akal sehat seorang manusia biasa. Ada beberapa urusan yang memang harus kita imani semata, tak usah lantas kita selidiki dengan segala metode penegakan akal sehat. Hal itu justru akan membuat kita bimbang lalu akhirnya jadi atheis, mau? 

Kalau jadi atheis kita berarti gak boleh dapet THR lho! karena THR ‘kan Tunjangan Hari Raya, nah atheis kan gak percaya Tuhan mana ada hari raya? 
hahaha

Untuk mereka yang Muslim, peristiwa Isra Mi’raj merupakan contoh paling nyata bahwa ada beberapa hal berkenaan dengan agama hanya cukup perlu kita imani saja. 

Hal lain yang membuat saya menyukai setiap tulisan Pak Dahlan adalah beliau mampu untuk mengambil sebuah moment dalam setiap tema yang akan beliau tuliskan. Beliau mampu dengan sangat cerdas memanfaatkan media tulisan dengan jaringan media massa yang beliau miliki untuk membentuk sebuah opini publik yang mendukung kelancaran aktifitas yang sedang beliau jalankan. 
Misalnya saja rubrik "Menegakan Akal Sehat”. Rubrik ini beliau buat ketika masih berada di luar pemerintahan, beliau gunakan rubrik ini untuk mengemukakan segala ide-ide yang memang menarik untuk disimak sehingga nama seorang Pak Dahlan mulai diperhitungkan. 

Hasilnya apa? 
Hasilnya beliau diangkat menjadi Dirut PLN, kemudian beliau membuat CEO’s Notes yang awalnya hanya untuk lingkup internal pimpinan PLN tapi kemudian juga meluas dan khalayak luas mampu untuk juga membaca setiap tulisan dalam CEO’s Notes. Dan kini setelah beliau menjabat sebagai seorang Menteri BUMN, beliau hadir kembali dengan rubrik “Manufactoring Hope” sebuah rubrik yang berisikan segala kegiatan yang beliau lakukan dalam kapasitasnya sebagai seorang Menteri, yang tujuan utama dari rubrik ini sendiri adalah untuk melawan pesimisme yang terlanjur hidup nyaman di tengah-tengah masyarakat dengan virus optimisme yang ingin beliau tumbuhkan. 

Semua apa yang beliau lakukan itu sungguh sangat baik dan dengan perhitungan yang matang. Pak Dahlan benar-benar seorang jurnalistik handal yang tau bagaimana cara yang paling tepat dalam menggunakan media tulisan sebagai sarana untuk berkomunikasi dan membentuk sebuah opini pubilk serta pencitraan positif akan dirinya. 

Ahh, saya pun sungguh ingin seperti itu. Makanya saya tak malu untuk terus belajar dalam menulis. Karena saya pikir hanya dengan menulis-lah kita bisa untuk mengemukakan pendapat kita secara sistematis dan lebih mampu untuk meninggalkan jejak. 

Jadi, tunggu apa lagi untuk mulai membaca kemudian menulis! 
Tunggu apalagi untuk sesegera mungkin kita tegakan akal sehat! 
Dan tunggu apalagi untuk kita untuk hidup dalam cara yang positif! 

#PMA always!:)

11 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. dahlan iskan memang salah satu tokoh fenomenal yang ada di negri ini...salut untuk beliau :-)

    BalasHapus
  3. @lili : kok di hapus koment nya neng?

    @BlogS of Hariyanto : betul pak, saya setuju! :)

    BalasHapus
  4. wah tika jadi pengen baca buku ini juga dim hehe btw udah baca biografi Einstein? Walter Issacson juga yg nulis, penerbitnya Bentang Pustaka, gak kalah seru sama biografi Steve Jobs yang juga Issacson tulis :D

    BalasHapus
  5. @ukhtikatika : hhe dima sih nyaranin banget utk baca buku2 pak Dahlan, gaya nulisnya enak. tapi itu kata dima sih hhe

    belum tika, pgen sih, tapi latihan baca dulu deh, soalnya masih "trauma" baca buku tebel nih hhe

    BalasHapus
  6. ringan ya dim bahasanya? ntar coba baca yg dima review ini deh hehe

    BalasHapus
  7. @ukhtikatika : bahasannya sih berat, tapi bahasa nya itu yang ringan. :D

    BalasHapus
  8. "bahasannya sih berat, tapi bahasa nya itu yang ringan." u,u maksudnya apa dim?

    BalasHapus
  9. @ukhtikatika : maksudnyan tuh materinya berat tapi ditulis dengan kata2 yang sederhana . :)

    BalasHapus
  10. oh iya baru ngeh, tadi2 bacanya salah hehe

    BalasHapus