Selasa, 02 April 2013

BEPE BUKAN GENERASI YANG GAGAL!

foto pemberian Ridho Winar Lagan ( live from SUGBK)



karikatur BEPE

Saya menyukai tipe pesepakbola atau bahasa lainnya, pemain bola favorit saya adalah mereka-mereka (pesepakbola) yang bermain sesuai dengan karakteristik serta hakikat utama posisi tempat mereka bermain. Misalnya, apabila dia seorang kiper maka hakikat utamanya adalah dia mampu untuk menjaga gawangnya agar lawan tidak bisa untuk mencetak gol atau setidak-tidaknya membuat lawan tidak dengan mudahnya untuk mencetak gol ke gawangnya. 
Kalian tau Ceni? 
kiper asal Brasil yang terkenal hebat dalam mengeksekusi tendangan bebas? banyak orang mungkin kagum padanya, tapi tidak dengan saya karena bagi saya itu bukan tugas utama seorang kiper dan sejauh yang saya tau Ceni pun tidak memiliki rekam jejak yang bagus dalam hal menjaga gawangnya, sebagus reputasi dia dalam menendang tendangan bebas. Ini adalah contoh yang paling sederhana. 

Tapi ini sungguh masalah selera, setiap orang tentu mempunyai penilaiannya tersendiri jadi saya tidak akan meng-klaim bahwa pemikiran ini adalah mutlak kebenaran. Sekali lagi, saya hanya berpendapat bahwa segala sesuatunya (dalam sepakbola) harus berjalan sesuai dengan tugas utama yang dibebankan kepadanya. Maka tak heran apabila kemudian saya menyukai pemain bola seperti Filippo Inzaghi dan Bambang Pamungkas karena bagi saya kedua pemain bola tersebut merupakan contoh nyata berkenaan dengan pesepakbola yang bermain benar-benar sesuai dengan tugas utama yang mereka miliki. 

Pippo dan Bepe merupakan penyerang, tugas utama seorang penyerang jelas adalah untuk mencetak gol. Jadi tak perlu bagi seorang penyerang untuk kemudian pintar membawa bola dan membagi bola lengkap dengan segala skill individual tapi lantas mandul dalam urusan mencetak gol. 
Bagi saya, yang terpenting untuk seorang penyerang adalah mampu untuk membuka ruang, menempatkan diri dalam posisi yang strategis untuk kemudian tanpa ampun mampu untuk menyarangkan bola di jala lawan walaupun peluang itu amat kecil terlihat. Dan sungguh Pippo juga Bepe benar-benar mampu untuk merepresentasikan tipe penyerang sejati seperti itu. 

Pippo dan Bepe pada akhirnya juga hanya manusia biasa, yang setiap tahun umur mereka terus bertambah dan setiap detiknya dunia ini terus berubah dan berkembang tak terkecuali juga dalam sepak bola beserta seluruh sistem permainannya. Perkembangan yang ada menuntut seorang pemain sepak bola untuk benar-benar menjadi seorang pesepakbola yang paripurna, tak peduli di posisi apa dia bermain, tapi kini apapun dan dimanapun pesepakbola itu bermain, maka dia mau tidak mau harus bisa untuk mencari bola, mendapatkan bola, membagi bola dan akhirnya mencetak gol. Tak berhenti di situ, sepak bola dewasa ini pun harus benar-benar mampu untuk menghibur dan kemudian memberikan kemenangan di setiap akhir pertandingannya karena kini sepak bola tak bisa lepas dari sebuah industri sehingga kepuasan konsumen adalah yang utama. Filosofi sepak bola (keindaham proses, kerja sama, semangat sportivitas, dll. ) lambat laun mulai tak lagi untuk diperhatikan. 

Seiring dengan perubahan yang ada dalam tubuh sepakbola juga umur yang telah memasuki masa tua, telah menjauh dari umur produktif seorang pesepakbola, Pippo dan Bepe telah secara resmi mengundurkan diri dari belantika dunia sepak bola, terkhusus untuk Bepe, dia baru menyatakan pensiun dari Tim Nasional Indonesia, Bepe belum menyatakan juga pensiun dari Klub jadi masih ada kesempatan untuk saya menyaksikan aksi-aksi di masa senja seorang Bepe. 

Pensiun-nya seorang Pippo telah lama saya bahas dalam tulisan Filippo Inzaghi, Nomor 9 Terakhir, dan kini izinkan saya untuk sedikit mengupas mengenai berita pengunduran diri seorang Bepe dari dunia sepak bola walau hanya untuk lingkup Tim Nasional. 

Bila harus jujur, sepertinya lebih banyak mereka (para penikmat sepak bola) yang tidak menyukai tipe penyerang seperti Pippo ataupun Bepe yang terkesan pemalas. Bagi saya, Bepe adalah Pippo-nya Indonesia. Setiap saya menonton aksi Pippo dan Bepe di layar kaca bersama lebih dari dua orang rekan, maka ketika mereka melihat Pippo ataupun Bepe menggiring bola maka tak perlu untuk ada sebuah komando mereka akan mengeluarkan kata-kata penuh hinaan walau di balut dalam tawa canda penuh kekonyolan. Sekali lagi, ini masalah selera dan saya merupakan orang yang selalu berusaha untuk menghindari perdebatan mengenai sebuah selera. Jadi, ketika hal-hal seperti itu terjadi, saya lebih memilih untuk diam dan tersenyum kecil. 

Terkhusus untuk Bepe, di luar kenyataan bahwa dia merupakan tipe atau tipikal penyerang murni yang dimiliki oleh Indonesia, saya melihat bahwa Bepe juga memiliki karisma yang jarang dimiliki oleh pesepak bola yang ada di Indonesia. Bepe merupakan satu diantara sedikit pesepakbola yang saya pikir memilki juga kecerdasan serta kemampuan lebih untuk mampu mengontrol emosinya sehingga akan selalu tampak kewibawaan dan karisma seorang Bepe ketika dia bermain di lapangan. 

Saya pun semakin bertambah kagum serta menaruh hormat lebih kepada seorang Bepe ketika saya mengetahui bahwa di sela-sela kesibukan dia bermain sepak bola, dia masih mampu untuk menyempatkan diri menulis di laman/blog pribadinya ( bambangpamungkas20.com

Bukan sekedar tulisan biasa, bukan sekedar tulisan harian atau diari biasa, tapi lebih dari itu apa yang Bepe tuliskan merupakan murni penjabaran dari apa yang ada dalam benaknya, murni merupakan sebuah pemikiran tentang segala sesautu yang menurutnya harus dan patut untuk dikritisi serta diperbaiki melalui segenap bahasa serta kata yang menarik dan mudah untuk kita pahami, tak tebatas hanya dalam masalah sepak bola tapi juga mengena pada segala aspek kehidupan yang tentunya masih dalam lingkup kemampuan seorang Bepe. 

Semakin lama saya membaca seluruh tulisan Bepe, semakin saya memahami setiap tulisan yang dia goreskan, maka saya pun semakin mengerti bagaimana secara umum kepribadian seorang Bepe dan juga harus saya akui dalam beberapa prinsip yang Bepe anut sungguh sangat menginspirasi saya bahkan sesuai juga  dengan apa yang saya pikirkan atau impikan. Sehingga rasanya saya semakin untuk mengagumi sosok Bambang Pmaungkas, melebihi kapasitas Bepe sebagai seorang pesepakbola. 

Idealisme seorang Bepe sebagai seorang pesepakbola dan sebagai seorang pribadi yang tentunya memiliki nilai-nilai diri yang menjadi acuan dalam kehidupan sehari-hari, sangat teguh untuk dia perjuangkan. Dan semua itu semakin terlihat ketika kini justru di akhir masa kerjanya sebagai seorang pesepakbola. 
Mengaku mempunyai hasrat untuk menjadi seorang wartawan sepertinya membuat Bepe memiliki juga jiwa-jiwa seorang wartawan. Dia sangat kritis. Bahkan saat ini dia rela untuk tidak meempunyai pekerjaan hanya untuk memperjuangkan apa yang menurut dia benar dan berguna untuk setiap insan pesepakbola yang ada di negeri ini, di saat yang lain berpikir pragmatis maka dia dengan gagahnya tetap berdiri tegak memperjuangkan segala hal-hal prinsip! 

Ya, akhirnya entah memang ada kaitannya dengan pergolakan sepak bola Indonesia saat ini atau memang murni keputusan yang bersifat teknis, Bepe dengan "berat hati" memutuskan untuk gantung sepatu sebagai seorang Pemain Tim Nasional Indonesia, dan hal itu akhirnya menjawab pertanyaan publik kenapa Seorang Bepe tidak memenuhi panggilan Tim Nasional untuk melawan Arab Saudi. 
Walaupun begitu, sebenarnya sedari awal tahun, Bepe sudah seperti "pensiun" dari dunia sepak bola karena dia memutuskan untuk tidak memperkuat satu klub pun akibat dari haknya yang tidak dipenuhi oleh manajemen klub dan juga masalah-masalah lainnya yang berkenaan dengan Pemain dan Klub yang sampai dengan saat ini masih dia perjuangkan. Dan seperti juga yang telah menjadi ciri khasnya, Bepe mengumumkan keputusan pensiun ini melalui sebuah tulisan yang dia posting di laman/blog pribadinya, sebuah tulisan yang saya pikir cukup getir berjudul "SAYA ADALAH GENERASI YANG GAGAL"

Well, saya menghormati keputusan Bepe dan juga menerimanya selayaknya saya juga meghormati serta menerima keputusan seorang Pippo. 
Ini semakin membuktikan bahwa dunia itu senantiasa berputar dan waktu tak pernah diam. Perubahan itu tak bisa untuk kita hindari tapi justru harus kita hadapi. 

Saya hanya mengharapkan semoga Bepe tetap teguh terhadap segala Idealisme yang dia perjuangkan. 

I PROUD OF YOU! 
YOU'RE THE LIVING LEGEND, BEPE! 

#PMA always :)

0 komentar:

Posting Komentar