Sabtu, 20 April 2013

Perdebatan akal sehat dan rasa (3)

Saya merasa malu karena baru menyadari bahwa saya memiliki sebuah kesalahan dalam membuat konsep menjalani kehidupan ini, ahh tidak! Bukan konsep kehidupan secara menyuluruh tapi hanya sebuah konsep untuk menjalin sebuah hubungan cinta antara saya dan wanita yang saya sayangi, atau setidaknya yang saya kasihi atau cintai atau inginkan.  

Konsep saya yang mengutamakan “cinta pada pandangan pertama”, “komitmen bukan cinta”, serta “pendekatan dalam pacaran”, dengan memberikan sebuah garis pemisah antara akal sehat dan rasa. 

Dan ternyata semua itu kurang tepat saya jalani! 

Buktinya apa? Buktinya sampai dengan saat ini saya belum berhasil menemukan pasangan yang tepat, belum menemukan sebuah “chemistry” sehingga mampu untuk menemukan kenyamanan mengusir kebosanan dalam hubungan. Setidaknya 12 kali saya harus mengalami fase buruk rusaknya sebuah hubungan. Beragam alasan, hanya sekitar 2 (dua) diantaranya saya menjadi korban. Selebihnya saya menjadi tokoh antagonis dengan secara “kejam” mengambil sebuah keputusan yang saya pikir sangat memenuhi akal sehat untuk saya memutuskan hubungan. 

Akal sehat apa? Akal sehat yang menyatakan bahwa saya tak lagi merasa cocok dengannya. Cocok dalam artian apa? Cocok yang yang saya rasakan dalam hati, dalam sebentuk ketidaknyamanan. Lalu ditafsirkan oleh logika bahwa ini tak lagi masuk akal sehat ketika telah tak cocok harus terus bersama. Intinya itu. Tapi pada praktek yang sudah-sudah, tentu dengan berbagai penjabaran yang berbeda. Dan dengan kadar sakit hati yang juga berbeda. 

Lalu apa kesalahan dalam konsep saya? Kesalahan mendasar itu adalah karena saya terlalu memisahkan antara rasa dan akal sehat, saya lupa dengan sebuah kata kunci yaitu ( Perasaan sekaligus Akal Sehat ) : “Perasaan itu ada, agar cinta dapat dirasakan. Logika itu hadir, agar cinta tidak merugikan.” 

Saya yang menganut doktrin Kahlil Gibran dalam dunia percintaan. Saya yang percaya bahkan menjalani cinta pada pandangan pertama jelas berarti sangat mengandalkan rasa, karena sangat tidak masuk akal sehat ketika harus suka atau cinta atau sayang hanya pada pandangan pertama. Siapa dirinya pun kita belum tau, kok bisa ngomong cinta? Dimana akal sehatnya? Tapi itu-lah, tak selamanya akal sehat saya tegakkan terlebih untuk masalah ini. 

Kemudian sesaat setelah mampu untuk satu dalam ikatan cinta. Saya lantas memindahkan segala rasa pada akal sehat. Karena tidak masuk akal sehat ketika hanya mengandalkan cinta dalam sebuah hubungan. Cinta itu ‘kan abstrak, bagaimana cara menetapkan standarnya? Maka saya pun lantas menyodorkan sebuah komitmen. Komitmen itu apa? Komitmen itu janji. Lalu janji seperti apa? Janji atau kesepakatan yang saya sendiri lebih mengartikan bahwa kita menjalin hubungan murni untuk mencari kecocokan, kenyamanan, dan segala lainnya untuk menjadi bekal nanti melanjutkan ke jenjang yang lebih sempurna. 

Nah dalam memahami komitmen ini, yang saya pikir sangat berbeda. Saya yang telah mengalihkan segala rasa itu pada akal sehat memahami komitmen ini dengan apabila di perjalanan tiba-tiba menumukan ketidakcocokan sekecil apapun, maka putus adalah jalan keluar atau sebuah pilihan terbaik. Sedangkan di pihak wanita, komitmennya tak sesederhana itu. Dan disini letak ketidakseimbangan konsep saya. 

Saya terlalu egois. Saya lupa bahwa hubungan itu terdiri dari dua orang : pria dan wanita, saya dan dia. Saya lupa bahwa saya sebagai pria akan selalu mengedepankan akal sehat tapi wanita pasti akan selalu mengutamakan rasa. Saya lupa bahwa ketika saya “menyerang” dia ( semua wanita ) dengan argumen akal sehat maka mereka pasti akan “bertahan” dengan segala rasa-nya. Hal ini bukan pasangan yang pas! Bila begini, sampai kapanpun saya pasti tak akan mampu mempunyai hubungan yang lama nan kuat. Bila begitu, jangan berharap bisa untuk segera menuju ke jenjang yang sempurna! 

Saya terlalu mudah untuk memindahkan rasa pada akal sehat atau akal sehat pada rasa atau rasa menjabarkan akal sehat atau akal sehat yang menjabarkan rasa. Saya lupa bahwa rasa ya rasa dalam hati, akal sehat ya akal sehat dalam otak! Keduanya bukan untuk saling “menekan” tapi harus saling melengkapi, saling mengisi, dan saling menyeimbangkan. Tak selalu rasa memonopoli akal sehat dan tidak selamnya juga akal sehat menang atas rasa.  Semua harus ada porsinya!

Dan saya belum bisa seperti itu! 

Stay #PMA ?

9 komentar:

  1. @bang Harri : terima kasih banyak bang! :)

    BalasHapus
  2. dima:bagus dim tulisannya,memang kemungkinan besar gagalnya suatu hubungan itu karena ego.eh ngomong2,para praja itu biasanya punya WIL betul ga dim?hhehe.peace;p

    BalasHapus
  3. Cewe : "Tapi ini beda kang, pacar aku serius, kok."

    Akang : "Pacaran? Sejak kapan pacaran masuk kategori hubungan serius?, Kalau mau serius menikah kalee. Itu mungkin jenis gombal level satu gang depan rumah"

    *dipahami. direnungkan.

    piss lur, hanya mencoba mengingatkan, tdk ada secuil pun mksd untuk menggurui :)

    BalasHapus
  4. @zona umamy : terima kasih banyak ya calon bu dokter hhe. eh, WIL itu apa ya? maaf2! hhe

    @dulur iqbal : hhe digurui pun gak apa2 atuh lur, kan emang wajib saling menasihati dlm kebaikan. :) itu mah hanya masalah istilah aja. :) nhun lur!

    BalasHapus
  5. sama2 dimm, Wanita Idaman Lain dim,hehehe;p

    BalasHapus
  6. @zona umamy : astagfirullah, dima baru ngeh! hhe tapi gak semua praja kayak gitu kok, seperti biasa hal2 kayak gitu sih tergantung pribadi masing2. :)

    ternyata pernah sama praja ya? siapa nih? hhe *kepo mode on

    eh iya, kok blog nya gak bisa di koment ya?

    BalasHapus
  7. syukurlah dim kalo gitu hhehe;p wah...kasih tau ga ya~hhaha takut orgnya ngamuk. udah lama blognya ga di update jadi kayanya rada eror,terus tertarik sm tulisan dima kayanya kasusnya hampir sama,terlalu cepat mengambil keputusan utk sebuah hubungan akhirnya terlalu cepat juga berakhir.mantan cewenya dima jg ga mau diputusin,ya sama jg sama dia tapi ai ttp maksa .liciknya ya dia mah ngelarang ai punya pacar duluan sebelum dia punya pacar.btw,suka bgt sama qoutes nya"perasaan itu ada agar cinta dapat dirasakan dan logika itu hadir agar tidak merugikan." bukannya perhitungan tapi buat apa juga mempertahankan hubungan yang merugikan hehe;p

    BalasHapus
  8. @zona umamy : hhe iya deh. betul betul, kita emang harus menselaraskan akal dan hati.

    BalasHapus