Senin, 01 April 2013

Hari Kartini tanpa Persamaan Gender!

*catatan : anda harus benar-benar membaca serta memhamai setiap kata yang terangkai menjadi kalimat pada setiap tulisan yang saya tampilkan dalam postingan ini sehingga anda bisa benar-benar mempunyai referensi baru mengenai apa itu Hari Kartini beserta Emansipasi yang ada satu paket di dalamnya. 
Tulisan yang saya tampilkan di sini membahas emansipasi melalui sudut pandang yang berbeda yang saya yakini akan semakin memperluas khazanah keilmuan anda semua. 
Lalu bagaimana dengan tulisan saya di bawahnya? 
ahh...anggap saja itu sebagai sebuah hidangan penutup setelah anda mengunyah makanan enak nan bergizi. :)
enjoy and #PMA always!

Emansipasi bukan persamaan gender
Emansipasi Bukan Persamaan Gender 

HAKIKAT seorang wanita adalah seperti yang digambarkan dalam syair berikut, 

Bukan dari tulang ubun ia dicipta 
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja 
Tak juga dari tulang kaki 
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak 
Tetapi dari rusuk kiri 
Dekat ke hati untuk dicintai 
Dekat ke tangan untuk dilindungi. 

Kelahiran Kartini pada 21 April 1879, dianggap sebagai awal lahirnya sebuah emansipasi, emansipasi wanita. Saat itu, emansipasi masih dianggap sebagai bentuk usaha menghargai dan memberikan kebebasan kepada para wanita untuk melakukan apa pun yang menjadi haknya, termasuk mendapat pendidikan. Revolusi pun terjadi. Wanita-wanita mulai menunjukan eksistensinya sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan bukan sekadar “pelayan” yang mengurusi urusan rumah dan buta tanpa sentuhan pendidikan. 

Seiring berjalannya waktu, persepsi bahwa emansipasi wanita adalah bentuk kebebasan yang beraturan (sesuai kodrat sebagai seorang wanita), perlahan berekspansi membentuk sebuah pengertian publik yang menganggap emansipasi adalah bentuk persamaan hak wanita yang sejajar dengan kaum pria. Pernyataan inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya istilah "Persamaan Gender". Pembahasan gender akan terkait langsung dengan seks dan kodrat. Pengertian dari tiga konsep ini sering disalahartikan dalam masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seks diartikan sebagai jenis kelamin, yang secara biologis adalah alat kelamin pria (penis) dan alat kelamin wanita (vagina). Salah satu pengertian kodrat menurut KBBI adalah kekuasaan Tuhan; manusia tidak akan mampu menentang (atas dirinya) sebagai makhluk Tuhan. Sedangkan gender berasal dari kata “gender” (bahasa Inggris) yang diartikan sebagai jenis kelamin secara sosial budaya dan psikologis. 

Menurut Bemmelen (2002), ada beberapa ciri gender yang dilekatkan oleh masyarakat pada pria dan wanita, yaitu wanita memiliki ciri-ciri lemah, halus atau lembut, emosional dan lain-lain. Sedangkan pria memiliki ciri-ciri kuat, kasar, rasional dan lain-lain. Dalam aplikasinya, peran seorang wanita sesuai gender salah satunya adalah ibu rumah tangga yang berfungsi sebagai tenaga kerja domestik yang mengurusi urusan rumah tangga. Pria secara otomatis akan berperan sebagai kepala rumah tangga yang menjadi tenaga kerja publik sebagai pencari nafkah. Persamaan gender sebagai kesetaran hak yang dianggap solusi untuk sebuah emansipasi jelas salah karena sejatinya wanita dan pria memiliki posisi dan perannya masing-masing. 

Makna emansipasi wanita sebenarnya bukanlah persamaan hak dengan kaum pria melainkan perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih, mendapatkan keadilan, dan menentukan nasib sendiri. Kita patut bersyukur, saat ini kiprah wanita tidak lagi dipasung seperti dulu. Kaum hawa telah diizinkan menempuh pendidikan, mengeluarkan pendapat, ide, dan gagasannnya dalam ranah politik, ekonomi, dan bidang-bidang yang lain. Prestasinya pun cukup menggiurkan dalam sektor-sektor publik. Bahkan telah tercatat, bangsa ini pun pernah dipimpin oleh seorang wanita. 

Satu hal yang harus direnungkan lagi adalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan di bumi ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pun halnya seorang wanita. Emansipasi adalah perjuangan memperoleh keadilan bukan penuntutan persamaan gender. Karena sampai kapan pun, kodrat wanita tidak akan bisa jadi pria. Wanita tercipta dari tulang rusuk kiri yang dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi. 

Rahmi Wahyuni 
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 
Peserta UI Student Development Programme

Memahami Sesungguhnya Arti Emansipasi Wanita dalam Islam
Memahami Sesungguhnya Arti Emansipasi Wanita dalam Islam 

Wanita merupakan bagian terbesar dari komunitas masyarakat secara umum. Apabila mereka baik, niscaya masyarakat pun akan menjadi baik. Sebaliknya, apabila mereka rusak, masyarakat pun akan rusak. Sungguh, apabila mereka benar-benar memahami agama, hukum dan syari’at Alloh, niscaya mereka akan mampu melahirkan generasi-generasi baru yang tangguh dan berguna bagi umat seluruhnya. 

Di tengah perhelatan dunia Islam sekarang ini, kita merasakan alangkah banyaknya kekuatan yang hendak menarik, sekaligus mengeluarkan wanita dari agama dan syari’at NabiNya ke jalan yang amat jauh dari jalan yang diridhai Alloh, diantaranya adalah derasnya suara seruan kebebasan wanita yang mendapatkan sambutan memuaskan dari kalangan orang-orang yang memang berfikiran tak karuan. Para penyeru kebebasan wanita belakangan ini, bertambah gencar dan lancar, dengan berusaha sekuat tenaga menodai kehormatan dan kedudukan para wanita, berbagai ucapan dan slogan-sloganpun dengan entengnya keluar dari mulut mereka. 

Semua itu pada intinya adalah untuk menyeret wanita agar supaya mempunyai kedudukan setara dengan kaum laki-laki, agar wanita meninggalkan serta menanggalkan busana (jilbab) muslimahnya, agar wanita bekerja di sektor-sektor pekerjaan kaum laki-laki, agar wanita berhias secantik mungkin agar bertambah ayu, supel, feminim, menawan bagi kaum laki-laki ketika keluar dari tempat tinggalnya. Dan berbagaia seruan-seruan lainnya yang pada lahirnya terlihat manis dan menggiurkan, namun pada hakekatnya pahit dan menghancurkan. 
Langkah-langkah penjerumusan dan penyesatan seperti di atas bertambah deras lajunya dengan terbentangnya berbagai sarana informasi yang tidak lagi mengenal batasan. 

Akhirnya, melalui sarana informasi itulah, kaum wanita sangat mudah diekspose bahkan dikomersialkan. Lihatlah hampir tidak ada satu iklanpun dimedia elektronik maupun media cetak yang tidak menampilkan wanita, bahkan sesuatu yang dulunya sangat tabu dibicarakan, kini menjadi tontonan dan sarapan harian. Jelas, semua ini merupakan bentuk pelecehan bagi wanita. 
Tapi anehnya, kenapa amat langka sekali wanita yang membencinya, bahkan banyak sekali dukungan dan persetujuan dari mereka?! 

Benarlah sabda Nabi Muhammad : Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada fitnah kaum wanita. (1) 

Sebenarnya hal semacam ini tidak akan pernah terjadi bilamana para wanita berpegang teguh dengan jalan yang digariskan Allah sejak ribuan tahun yang lalu yaitu sebuah solusi yang mencakup seluruh segi kehidupan wanita yang akan membawa kaum wanita ke tempat terhormat dan terhindar dari berbagai jurang kehinaan. 

1. Makna Emansipasi Wanita Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. 
Di zaman Romawi dulu, membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua, sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya. Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke-14 M. dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak kaum laki-laki. Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita disejajarkan dengan kaum pria disegala bidang kehidupan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, perekonomian maupun dalam pemerintahan. 

2. Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pendidikan 
Mereka menyerukan agar para wanita menuntut ilmu di bangku-bangku sekolah hingga perguruan tinggi sejajar dengan pria, sekalipun harus mengorbankan nilai-nilai agamanya. Seperti ikhtilath (campur baur dengan laki-laki), bepergian tanpa mahram, pergaulan bebas tanpa batas, bersikap toleran terhadap kemungkaran yang ada di depan mata, yang penting bisa mendapat ijazah yang diidamkan atau berbagai gelar yang dicita-citakan. 

3. Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pekerjaan 
Setelah kaum wanita lulus dalam pendidikan formal, maka tibalah gilirannya tuntutan untuk bekerja, tidak mau kalah dengan kaum laki-laki, maka merekapun memasuki sektor-sektor pekerjan kaum laki-laki, bercampur baur dengan mereka yang sudah pasti hal ini akan menimbulkan berbagai dampak negatif. antara lain : 
1. Timbulnya pengangguran bagi kaum pria, sebab lapangan pekerjaan telah dibanjiri oleh kebanyakan kaum wanita. 
2. Pecahnya keharmonisan rumah tangga, sebab sang ibu lalai dengan tugas-tugas utamanya dalam rumah, seperti, memasak, mencuci, membersihkan rumah, melayani suami dan anggota keluarga. Akibatnya, rumah tanggapun berantakan tak terurus. 
3. Keadaan perkembangan anak menjadi kurang terkontrol, lantaran ayah dan ibu sibuk bekerja di luar rumah. Dari celah inilah, akhirnya muncul dengan subur kenakalan anak-anak dan remaja-remaji. 
4. Terjadinya percekcokkan dan perseteruan antara suami-istri. dikarenakan ketika suami menuntut pelayanan dari sang istri dengan sebaik-baiknya, si istri merasa capek dan lelah, lantaran seharian bekerja di luar rumah. 
5. Terjadinya perselingkuhan. Karena ditempat kerja tersebut, tidak ada lagi larangan bercampur antar lain jenis, dandanan yang menggoda lawan jenisnya dan selainnya dari malapetaka yang hanya Allohlah Maha mengetahuinya. 
Semoga Alloh memberi petunjuk kepada kita semua. 

Semestinya, kaum wanita hendaknya menjadikan rumahnya seperti istananya, karena memang itulah (rumah) medan kerja mereka. Allah berfirman : “Hendaklah kaum wanita (wanita muslimah), tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang –orang jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33) 

Rasulullah bersabda : Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya ia akan di minta pertanggung jawabannya atas tugasnya. 

Pada hakekatnya, Alloh tidaklah membebani kaum wanita untuk bekerja mencari nafkah keluarga, karena itu merupakan kewajiban kaum laki-laki. Alloh berfirman : "Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf (baik)". (QS. Al-Baqarah: 233) 

Jadi, seorang istri merupakan tanggungan suami, begitu juga seorang putri, tanggungan orang tua. Karenanya, apabila seorang wanita muslimah memaksakan dirinya untuk bekerja menjadi wanita karir -misalnya-, maka pada hakekatnya dia telah merusak citra dirinya sendiri, karena bagaimanapun juga, wanita tidak bakalan sanggup menandingi kaum pria dalam segala pekerjaan lantaran beberapa kelemahan yang ada pada diri wanita, seperti, kekuatan fisik yang lemah, mengalami haidh, hamil, melahirkan, nifas, menyusui, mengasuh anak, sehingga mereka tidak punya waktu penuh dan tenaga ekstra kuat yang mampu mengimbangi kaum laki-laki. 

4. Emansipasi Kaum Wanita Di Bidang Perekonomian 
Telah dijelaskan di atas, bahwa mayoritas wanita zaman sekarang ini, begitu mudah tergiur dan terbujuk dengan slogan emansipasi ini, sehingga mereka beramai-ramai berusaha mencari tambahan pemasukan guna meningkatkan taraf hidup mereka, sekalipun harus melanggar syari’at, seperti bekerja membungakan uang pinjaman, padahal ini termasuk riba. Alloh berfirman : “Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”(QS. Al Baqarah: 275) 
Firman-Nya pula : "Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah". (QS. Al-Baqarah:176) 
Atau bekerja menawarkan produk-produk tertentu dengan menampilkan dan memamerkan kecantikannya walau harus membuka auratnya. Padahal Rosulullah Muhammad bersabda : “Wanita itu adalah aurat.” 
Adapun yang di maksud aurat wanita muslimah dalam hadits ini adalah semua anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan (menurut sebagian ulama’). 

5. Emansipasi Wanita Dalam Bidang Pemerintahan 
Hal ini terjadi dengan antusiasnya kaum hawa untuk terjun dalam arena kancah politik. Padahal anggotanya (yang di pimpinnya) mayoritas terdiri dari kaum laki-laki. Seperti ini banyak kita saksikan di sekolah-sekolah, kantor-kantor, lembaga-lembaga, istansi, maupun di berbagai sektor pekerjaan. Hal ini sangat bertentangan dengan firman Alloh : "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)" . (QS. An Nisa’: 34) 
Firman-Nya pula : "Dan orang laki -laki tidaklah sama seperti orang perempuan". (QS. Al imron: 36) 

Inilah beberapa dalil Al Qur’an dan Sunnah yang menjadi hujjah dan bantahan atas para penyeru slogan emansipasi kaum wanita, semoga Allah menjaga kaum muslimin semuanya dari tipudaya musuh-musuh-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Wallahu'alam Bisshowwab.

Emansipasi Wanita
Emansipasi Wanita 

Assalamualaikum Wr Wb 
Kita semua tahu RA Kartini adalah pengerak emansipasi wanita di Indonesia ini, dan kita juga tahu bahwa emansipasi wanita adalah salah satu program kaum pagan (Freemasonry, Brotherhood of Snake, dll) untuk menciptakan The New World Order". 
yang ingin saya tanyakan apakah RA Kartini dengan emansipasi wanitanya memiliki kaitannya dengan Konspirasi kaum pagan ini ? 
mohon dijawab ya Pak.
Terima Kasih 
Wassalamualaikum Wr Wb. 

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, 
Saudaraku Rian yang semoga selalu mendapat hidayah dan rahmat Allah Swt, sejarah resmi seringkali tidak jujur ditulis dan disampaikan. Salah satunya tentang sosok Raden Ajeng Kartini. 

Diakui atau tidak, sejarah nasional Indonesia sangat Jawa-Sentris dan dengan sendirinya menganggap remeh fakta-fakta sejarah yang ada di luar Jawa. Gajah Mada dianggap sebagai pahlawan pemersatu Nusantara, padahal bagi orang-orang Swarnadwipa, Borneo, Celebes, Bali, dan lainnya, Gajah Mada tidak lebih sebagai seorang agresor dan penjajah. Dan sudah tepatkan RA Kartini dianggap sebagai tokoh pelopor kemajuan perempuan di Indonesia? 

Mari kita lihat fakta sejarah yang ada. 

Faktanya adalah : delapan abad sebelum Kartini lahir, di Kerajaan Aceh Darussalam sudah ada tiga perempuan yang menjadi Sultan (Sultanah) dari 31 Sultan yang ada. 
Mereka adalah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (memerintah tahun 1050-1086 H), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (1086-1088 H), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H), dan Sri Ratu Kamalat Syah (1098-1109 H). Jika seorang Raden Ajeng Kartini baru bisa berdiskusi, bermimpi ingin ini dan itu, surat menyurat, dan mengajar di kediamannya, maka para perempuan Aceh sudah berjihad di belantara hutan memerangi kaum kafirin bersama-sama para Mujahidin prianya. Mereka adalah Laksamana Malahayati yang gagah berani dalam memimpin armada laut Kerajaan Aceh Darussalam melawan Portugis; Cut Nyak Din yang memimpin perang melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Umar, syahid; Teungku Fakinah, seorang ustadzah yang memimpin resimen laskar perempuan dalam perang melawan Belanda, usai perang Fakinah mendirikan pusat pendidikan Islam bernama Dayah Lam Diran; Lalu kita kenal ada Cut Meutia, yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya dalam belukar hutan Pase yang akhirnya menemui syahid karena Meutia bersumpah tidak akan menyerah hidup-hidup kepada kape Belanda; Pocut Baren, seorang pemimpin gerilya yang sangat berani dalam perang melawan Belanda di tahun 1898-1906; Pocut Meurah Intan, yang juga sering disebut dengan nama Pocut Biheu, bersama anak-anaknya—Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin—berperang melawan Belanda di hutan belukar hingga tertawan setelah terluka parah di tahun 1904; Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri ulama besar Teungku Chik Mata Ie yang bersama suaminya bernama Teungku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia syahid, hingga dalam pertempuran tanggal 22 Februari 1912, Cutpo Fatimah dan suaminya syahid bertindih badan diterjang peluru Belanda. Salah seorang pemimpin gerilya Aceh Darussalam, Pocut Baren, namanya diabadikan menjadi nama sebuah resimen laskar perempuan Aceh “Resimen Pocut Baren” yang merupakan bagian dari Divisi Pinong di Aceh semasa revolusi fisik melawan Belanda. 
Resimen perempuan Aceh ini sangat ditakuti Belanda karena terkenal tidak pernah mundur atau pun melarikan diri dalam setiap pertempuran. Mereka bahkan pantang menyerah hidup-hidup kepada penjajah. 

Amat mungkin, disebabkan ruang gerak perempuan-perempuan Aceh yang sangat luas, tidak berbeda dengan kaum lelakinya, maka hal ini turut mempengaruhi cara berpakaian mereka. 
Prof. Dr. HAMKA menulis, “Di seluruh tanah air kita ini, hanya di Aceh pakaian asli perempuan memakai celana. Sebab mereka pun turut aktif dalam perang. Mereka menyediakan perbekalan makanan, membantu di garis belakang dan pergi ke medan perang mengobati yang luka.” 

Mereka ini semua sudah sederajat dengan kaum prianya, di saat Kartini baru bermimpi. Dan satu lagi, adalah SALAH BESAR jika menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti dalam paradigma barat. Kartini bahkan menyerang peradaban barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902 : "Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" 
Sebagai seorang Muslimah yang ingin mendalami Islam secara kaffah, Kartini juga menyerang upaya Kristenisasi terhadap umat Islam yang dilakukan kafir Belanda. 

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" 
(Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903). 

Kartini adalah seorang priyayi Jawa yang ingin memberontak terhadap kultur keraton Jawa yang menganggap perempuan hanya pantas untu di tiga tempat : Dapur, Sumur, dan Kasur. 
Jiwanya menyala-nyala ingin mendalami Islam dan menjadi salah satu pejuangnya. Kecintaannya kepada Islam membuatnya rela menjadi isteri kedua. Jika Kartini sekarang masih hidup, dia pasti akan menyerang pengertian emansipasi yang ada seperti sekarang ini. 
Kartini akan menyerang kontes ratu-ratuan yang mengumbar aurat, Kartini akan menyerang keinginan perempuan untuk menjadi seperti pria yang sebenarnya berangkat dari perasaan rendah diri dan pengakuan jika pria lebih unggul, sebab menurut Kartini, perempuan dan laki-laki itu memiliki keunggulan dan juga kelemahannya masing-masing yang unik, sebab itu mereja memerlukan satu dengan yang lainnya, saling melengkapi. 

Walau demikian, jika negara ini mau jujur, sesungguhnya predikat pelopor kebangkitan perempuan Indonesia bukanlah RA Kartini, namun para Srikandi Aceh Darussalam. HAMKA sendiri menulis : “Pikirkanlah dengan dalam! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang. Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin bersama menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau Feminisme zaman modern sekarang ini.” 
Namun itulah tadi, para penguasa bangsa ini sejak dulu selalu menganggap negara ini seolah-olah hanyalah Pulau Jawa, sehingga ketinggian peradaban di luar Jawa sama sekali tidak dihitung sehingga sejarah resmi negeri kita ini sampai sekarang masih sangat Jawa-Sentris. 

Ini jelas tidak adil dan tidak benar. Sama seperti bila kita menyebut Boedhi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan nasional, ini pun salah besar karena Boedhi Oetomo adalah organisasi yang berada di ketiak Ratu Belanda dan banyak tokohnya bergabung dengan Freemasonry, sebuah kelompok Luciferian yang melayani Dajjal. Beda dengan Sarikat Islam yang sudah berdiri dan mencita-citakan kemerdekaan Indonesia tiga tahun sebelum Boedhi Oetomo lahir. 
Ini pun harus diubah. 

Emansipasi dalam Islam itu tidak ada. Karena Islam sama-sama menganggap perempuan dan laki-laki itu sederajat, dengan hak dan kewajibannya masing-masing. Yang membedakannya hanyalah tingkat ketakwaan terhadap Allah Swt. Itu saja. 

Emansipasi yang salah kaprah seperti sekarang memang merupakan racun yang disusupkan ke dalam otak kita semua. Dan kalau mau jujur, sebenarnya Barat sendiri juga tidak melaksanakan emansipasi seperti yang digembar-gemborkannya selama ini. Salah satu contoh mudah, negara Amerika Serikat yang sudah berusia 233 tahun presidennya selalu saja kaum pria. Belum ada perempuan Amerika yang dianggap pantas untuk menjadi presiden. Ini bukti yang tidak terbantahkan. 

Dan jika perempuan Indonesia ingin meneladani Kartini, maka jadilah seorang Muslimah sejati. Yang menutup aurat, mencintai Islam, dan berani mengatakan al-haq walau kepada penguasa sekali pun. Itu saja. 
Wallahu ‘alam bishawab. 
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.


emansipasi eman.si.pa.si 
[n] (1) pembebasan dr perbudakan; (2) persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan masyarakat (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria) : Kartini adalah tokoh -- wanita Indonesia http://kamusbahasaindonesia.org/emansipasi 

Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu. 

Selamat datang, April! 
Be nice, please! 

Apa yang akan menjadi perbincangan hangat di bulan ini adalah WANITA dengan EMANSIPASI yang akan selalu menjadi senjata utama mereka. Ya, saya berani bertaruh bahwa di bulan ini, mendadak semua bentuk media massa, baik media cetak, maupun elektronik, akan seketika menjadi penuh dengan pemberitaan WANITA. 

Mendadak akan banyak wanita yang diangkat ceritanya, entah itu cerita bahagia ataupun sedih penuh tangis sendu. 

Mendadak semua produk memasang atau menggunakan slogan sangat WANITA dan sangat EMANSIPASI untuk mendongkrak penjualannya. Dan segala kegiatan mendadak lainnya yang tak akan jauh dari tema WANITA dan EMANSIPASI. 

Hal itu menjadi sangat lumrah untuk terjadi setiap tahunnya karena setiap bulan April, kita, Bangsa Indonesia, selalu memperingati Hari Kelahiran R.A. Kartini pada tanggal 21 April atau biasa kita menyebutnya dengan Hari Kartini. 

Kartini menjadi begitu sangat inspirasional sehingga diangkat menjadi Pahlawan Nasional bahkan hari kelahirannya dijadikan sebuah peringatan karena Negara menilai beliau sangat berjasa dalam memperjuangkan kaumnya, yaitu kaum wanita dari belenggu perbudakan yang pada zamannya begitu sangat mengekang wanita. 

Dahulu, dimulai semenjak zaman kerajaan hingga zaman penjajahan, wanita tak mempunyai harga tawar apapun. Wanita hidup dengan penuh tekanan di bawah bayang-bayang kaum pria. Wanita tidak diperkenankan untuk mendapatkan pendidikan atau kesempatan bekerja seperti lelaki. Wanita harus tunduk patuh terhadap setiap apa yang menjadi perintah orang tua pada waktu itu. Wanita tak punya hak, atau mereka memiliki hak tapi sungguh tak lebih dari hanya hak untuk hidup. 
Derajat mereka kala itu sungguh rendah, tak berarti apa-apa, dan mereka pun tak berdaya untuk melawan segala kondisi yang ada karena mereka lemah lalu kemudian sengaja dilemahkan. 

Budaya yang kemudian sangat terkenal pada waktu itu, budaya yang diperlakukan khusus kepada setiap wanita, yaitu budaya pingit. Budaya pingit secara umumnya berarti wanita tak boleh dan tak bisa untuk leluasa bergerak keluar rumah dan melakukan segala jenis atau bentuk sosialisasi dengan dunia luar. Mereka hanya berdiam di rumah untuk kemudian menunggu saatnya dinikahkan dengan pria yang sama sekali tidak mereka kenal. 
Semua itu, segala bentuk perlakuan itu yang kemudian dilawan dan coba untuk dirubah oleh seorang R.A. Kartini. Perjuangan yang beliau lakukan kini lebih dikenal dengan perjuangan Emansipasi Wanita. Walaupun telah lama berlalu, tapi sungguh semangat emansipasi seorang R.A. Kartini masih sangat terasa dan bahkan masih relevan untuk tetap diperjuangkan di masa kekinian ini. Tapi apa yang menjadi salah pada dewasa ini adalah terdapat kesalahpahaman dari beberapa wanita yang ada di Indonesia saat ini, mereka salah memahami apa itu emansipasi dan mengaburkan segala makna, semangat serta tujuan awal dari emansipasi dengan makna serta semangat persamaan gender yang sekarang sangat nyaring terdengar dan sangat lantang untuk dikumandangkan oleh sebagain kelompok wanita. 
Ini-lah kemudian yang menjadi kurang tepat. 

Jauh-jauh hari saya telah juga memberikan beberapa argumen saya mengenai apa itu kesetaraan gender dan alasan kenapa kita harus mengkritisi hal itu pada tulisan RUU KG

Bila pada waktu itu saya berbicara panjang lebar kesetaraan gender dalam kaitannya dengan RUU KG maka kali ini saya akan kembali mengkritisi pemikiran kesetaraan gender itu sehubungan dengan akan diperingatinya Hari Kartini pada tanggal 21 April ini. 

Apa yang harus terlebih dahulu kita pahami bersama adalah tentunya tentang definisi mengenai pokok masalah yang akan kita bahas. Kita semua sering kali masih tidak terlalu memahami makna dari kata Emansipasi. 
Emansipasi itu secara sederhananya adalah pembebasan dari perbudakan. Pada definisi seperti ini maka jelas emansipasi itu perlu dan layak diperjuangkan karena wanita tak berarti harus terlahir menjadi seorang budak, wanita juga mempunyai hak untuk mendapatkan akses terhadap segala sumber kehidupan dan penghidupan. Perdebatan itu kemudian menjadi muncul karena definisi emansipasi mulai untuk kemudian dikaburkan atau didekatkan dengan juga semangat untuk persamaan serta kesetaraan gender. 
Dan disini-lah letak permasalahan itu. 

Gender berasal dari kata “gender” (bahasa Inggris) yang diartikan sebagai jenis kelamin secara sosial budaya dan psikologis. Berdasarkan pengertian kata gender seperti itu, maka apakah mungkin, layak, serta bisa seorang wanita disamakan serta disetarakan “gender”-nya dengan seorang lelaki? 

Bila anda seorang atheis sekalipun, maka silahkan anda uji dengan segala cara kerja ilmiah, baik secara psikologis, ciri fisik, sosial serta budaya, apakah ada kemungkinan seorang wanita itu sama dengan seorang lelaki? Saya rasa hampir tak mungkin. 
Apalagi untuk setiap orang yang secara jelas memiliki, mengakui, dan meyakini adanya Tuhan, normalnya, pada hakikatnya mereka tak akan pernah menemui pembenaran bahwa wanita dan lelaki itu sama. Dan karena perbedaan gender itu-lah kemudian mau tidak mau, suka tidak suka, pria dan wanita akan selalu mempunyai tugas dan perannya masing-masing. 
Ini-lah keseimbangan! 

Bagi saya, emansipasi itu relevan ketika wanita memperjuangkan atau melawan segala bentuk perbudakan terhadap kaum wanita serta bentuk ketidakadilan seperti budaya pingit pada zaman dahulu. Tapi kemudian ketika emansipasi itu dewasa ini diartikan untuk mendapatkan persamaan gender saya rasa itu sudah berjalan tidak pada hakikatnya. 

Saya berpendapat bahwa keadilan itu bukan sama rasa, sama rata, tapi harus mampu menempatkan segala sesuatunya pada porsi dan tempat yang telah ditentukan. Maka tak adil ketika wanita harus mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gendernya. 

Saya berpendapat bahwa diskriminasi itu adalah ketika wanita tidak mendapatkan kesempatan yang sama terhadap suatu sumber daya atau akses mereka terhadap sumber daya itu sengaja dihalangi, tapi sepanjang wanita dan pria itu mempunyai kesempatan yang sama maka jelas tak ada diskriminasi. 

Bagaimana bentuk penghalangan itu? 
Bentuk penghalangan itu bila pada zaman dahulu jelas dengan budaya pingit, tapi bukankah sekarang budaya itu hampir tak ada lagi kita temukan? 

Bahkan dalam konstitusi, UUD 1945, telah sangat jelas tertuang dalam BAB XA bahwa Negara mengakui dan menjamin HAM bagi setiap WARGA NEGARA INDONESIA. Konstitusi tak hanya menyebutkan pria atau wanita, tapi dengan sangat jelas konstitusi menyebutkan WARGA NEGARA INDONESIA, yang tentunya terdiri dari Pria dan WANITA. 

Saya pikir masalahnya adalah wanita itu sendiri yang selalu ingin untuk diperlakukan istimewa dalam artian dalam segala halnya mereka selalu ingin untuk mendapatkan suatu “aturan” khusus bagi wanita. 

Terkadang wanita itu sendiri yang membuat mereka “lemah” dan menempatkan pada posisi yang seolah-olah mereka itu “teraniaya”. 
Seperti misalnya pada keanggotaan suatu partai politik, mereka menuntut untuk dimasukan dalam UU yang mengatur tentang Partai Politik ataupun PEMILU untuk memasukan batas minimal jumlah keanggotaan wanita. Sebenarnya ini aneh bila kita telaah lebih jauh, karena pada dasarnya tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa anggota partai politik itu harus pria atau mayoritas anggotanya harus-lah pria bahkan di setiap aturan lainnya, tak ada yang mengatur tentang hal itu. Tapi memang telah menjadi kodratnya, bahwa pria akan selalu terdepan untuk mendapatkan atau menjalankan pekerjaan yang memang secara kodrat lebih pantas untuk dikerjakan oleh seorang pria. Padahal jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Begitu juga sebaliknya, ketika memang pekerjaan itu lebih pantas untuk dikerjakan oleh wanita maka dengan sendirinya wanita-lah yang kemudian akan mendominasi dalam pekerjaan itu padahal tak ada penghalang atau akses terhadap pekerjaan itu sama-sama terbuka untuk wanita maupun pria. 

Jadi, apa yang saya maksud dalam pernyataan di atas adalah, ketika memang sebuah pekerjaan itu secara kodratnya lebih pantas untuk dikerjakan oleh pria, maka pria-lah yang kemudian akan mendominasinya, walaupun akses terhadapnya sama antara pria dan wanita itu. Begitu juga sebaliknya. Karena kodrat itu adalah kekuasaan Tuhan dan manusia tidak akan mampu menentang (atas dirinya) sebagai makhluk Tuhan. 

Wanita ya wanita, pria ya pria. 
Semua ada berpasang-pasangan untuk saling melengkapi dan saling mengisi. 
Jadi, kenapa lantas dua gender yang nyata berbeda ingin untuk menjadi sama dan setara? Akan jadi apa dunia? 

Stay #PMA :)

5 komentar:

  1. Hidup ! ibu, mamah, teteh, neng, mba, tante, bibi dkk, Hidup wanita ! ^___^

    BalasHapus
  2. aku cuman tahu harri muliawan :D

    BalasHapus
  3. haha mentang-mentang nya namanya harri ya? :D

    BalasHapus