Minggu, 06 Juli 2014

Welcome to a real life!

MINGGU, 6 JULI 2014
13.59 WIB

 
Alhamdulillah…
 
Saya telah mampu untuk menyelesaikan pendidikan di lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dengan tepat waktu, selama kurang lebih 4 (empat) tahun. Semua berjalan sesuai dengan harapan dan do’a yang setiap hari saya dan semua orang-orang terkasih panjatkan, walaupun dalam realisasinya tentu ada banyak hal yang terjadi, suka maupun duka, tapi apapun itu, saya kini telah mampu untuk melahkan kaki keluar menuju ke kehidupan yang sesungguhnya.

Pada tanggal 14 Juli 2014 saya diwisuda sebagai seorang wisudawan dengan gelar Sarjana Sains Terapan Pemerintahan (S.STP) dan pada tanggal 16 Juni 2014 saya dikukuhkan sebagai Pamong Praja Muda oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.


Tapi sungguh kesenangan dan kebahagiaan itu harus cepat berubah menjadi sebuah kekhawatiran baru. Saya harus meninggalkan zona nyaman yang selama 4 (empat) tahun telah saya jalani menuju ke kehidupan yang sesungguhnya.

Saya mulai merasakan bahwa beberapa saat lagi, sesaat setalah saya memulai pekerjaan saya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) maka saat itu juga saya yang menentukan segalanya bagi saya sendiri.

Tak akan ada lagi yang mengoreksi dan tak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri, selayaknya dalam dunia pendidikan kampus.

Di dunia pekerjaan, (katanya) kita akan selalu untuk dituntut mengerjakan segala sesuatunya dengan sangat baik dan ketika kita tak mampu untuk itu atau melakukan sebuah kesalahan, maka hal itu akan terus menjadi penilaian yang melekat pada diri kita.

Semua bersaing untuk kepentingannya masing-masing, karena semua orang memperjuangkan kehidupannya masing-masing.

Saya yang sekarang mendapat status sebagai seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dengan Pangkat Penata Muda Golongan III Ruang a, memang harus menunggu sampai dengan Juni 2015 untuk akhirnya bisa sepenuhnya menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau nantinya disebut dengan profesi ASN.

Akan tetapi saya telah terikat dengan segala peraturan mengenai PNS, dan juga telah mendapatkan hak saya sebagai seorang PNS.

Walaupun sampai dengan saat ini, belum ada pengumuman resmi dari Kementerian Dalam Negeri terkait teknis waktu kami, lulusan tahun 2014, memulai kerja, akan tetapi saya telah berpikir banyak mengenai apa yang akan terjadi nantinya.

Satu hal yang jelas menjadi pemikiran saya adalah mengenai kehidupan yang nanti saya akan jalani.

Kehidupan yang saya maksudkan disini tentu sebuah kehidupan yang mandiri. Mandiri berarti tak lagi hidup dengan sokongan uang dari orang tua, benar-benar dari penghasilan yang saya dapatkan dari hasil kerja saya sebagai seorang ASN, untuk membiayai segala hal yang menjadi kebutuhan serta keinginan saya.

Kehidupan yang juga saya maksudkan adalah tentunya tentang membentuk sebuah keluarga. Hal ini terkadang menjadi sebuah pembicaraan yang menarik untuk dibicarakan. Tapi untuk saya pribadi mempunyai pendapat bahwa menikah adalah sebuah keharusan dan tujuan dari kehidupan ini. Terlebih untuk saya sebagai seorang laki-laki yang telah memiliki pekerjaan.

Kedua hal itu benar-benar membuat saya sekarang berpikir banyak tentang apa yang akan terjadi dengan saya di masa depan.
 
Kedua hal itu jelas berhubungan dengan tingkat kesejahteraan yang saya miliki. Dan tingkat kesejahteraan itu sangat ditentukan dengan penghasilan yang saya dapatkan.

Sebenarnya, sedari dulu, saya telah mengetahui dengan sangat sadar bahwa menjadi seorang PNS atau ASN nantinya, maka jangan pernah berharap untuk mendapatkan sebuah kehidupan mewah atau mapan. 
 
Mawah serta mapan disini kita definisikan sebagai sebuah kehidupan yang serba berlebih atau segala kebutuhan dasar sebagai manusia telah mampu untuk terpenuhi dengan sangat baik dan beberapa keinginan juga mampu untuk terpenuhi.

Kehidupan sebagai seorang PNS atau ASN, hanya akan menghasilkan sebuah kehidupan yang cukup. Hal itu dengan catatan, seorang PNS atau ASN tersebut tidak memiliki penghasilan lain di luar gajinya sebagai seorang PNS atau ASN.

Saya katakan demikian karena struktur gaju seorang PNS atau ASN, sampai dengan saat ini memang belum mampu untuk menunjang sebuah kehidupan yang mapan. 
 
Saya yang kini mempunyai Pangkat Penata Muda Golongan III Ruang a, sesuai dengan PP Nomor 34 Tahun 2014 tentang Perubahan Keenam Belas atas PP Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS, memiliki gaji pokok sebesar Rp. 2.317.600,00 setiap bulannya.

Gaji sebesar itu digunakan untuk menghidupi selama kurang lebih 30 hari. Maka apabila dilakukan sebuah hitungan kasar, setiap harinya jatah uang yang maksimal bisa dikeluarkan adalah sebesar Rp. 78.000,00. Masih di bawah 100 ribu. Maka silahkan anda pikirkan sendiri serta mungkin coba bayangkan kehidupan dengan uang setiap harinya 78 ribu rupiah.

Saya telah membayangkan, bahwa pada awalnya nanti, setelah cukup lama terbiasa dengan sokongan dana dari uang tua, maka saya akan mengalami sebuah masa adaptasi yang cukup sulit dan mungkin juga “mengejutkan”.

Saya harus mampu untuk menjadi pribadi yang bisa untuk menjalani sebuah kehidupan sederhana serta mampu untuk menyisihkan uang tabungan. Saya dengan penghasilan yang telah saya dapatkan, tak bisa lagi egois hanya memikirkan diri sendiri dan kehidupan hari ini. Saya harus mulai memikirkan bagaimana nantinya kehidupan keluarga yang akan saya bina nanti. Tapi saya juga tetap harus mampu untuk melakukan amal kebaikan walaupun dengan segala keterbatasan saya miliki.

Banyak hal yang harus mulai saya rubah, dan saya harus segera melaksanakan perubahan itu.

Jujur saya akui, saya tidak lagi memiliki kemampuan apapun, di luar bidang saya sebagai seorang pekerja administrasi. Banyak teman-teman saya yang kini sudah mulai merencanakan kehidupan mereka sebagai seorang Pengusaha. Sepanjang usaha itu tidak memiliki badan hukum, maka tak menjadi masalah apabila PNS atau ASN memiliki usaha.

Tapi saya sekali lagi harus puas dengan penghasilan sebagai seorang PNS atau ASN semata. Perencanaan saya hanya bisa dibangun dengan gaji berdasarkan peraturan yang telah dituliskan.

Ya, benar adanya, manusia pada hakikatnya akan selalu takut dengan kegelapan. Terutama gelapnya akan masa depan.

Well, wish me luck, folks! And stay #PMA!

0 komentar:

Posting Komentar