Jumat, 08 Maret 2013

Broadcast lalu kontroversi

Berawal dari sebuah broadcast message pada hari Jumat, tanggal 8, bulan Maret, tahun 2013, pukul 15.09 WIB, dari seorang teman, yang isinya : 

Meneruskan amanat rekan kita,
Membakar Aset Negara ( Polres OKU diserang 90-100 anggota TNI, kantor polisi dibakar ) 

Salut buat TNI yang gagah berani berjuang membakar asset Negara. Padahal digaji dengan uang Negara. Bukannya menjaga kehormatan, kewibawaan Negara dan mempertahankan teritorial NKRI tapi malah aset Negara dirusak dan dibakar. 
Beda sekali dengan pasukan Kesultanan Sulu yang langsung bereaksi terhadap Malaysia, tapi belum pernah terdengar Jenderal kirim kami ke Malaysia untuk mengutuk hinaan ini!. Kecuali langkah diplomasi. Sementara dengan POLISI republik ini ( yang katanya saudara bungsumu) engkau tidak lakukan diplomasi (mediasi damai) ketika ada masalah, tapi langsung kau serang seolah-olah POLISI ini adalah musuhmu yang telah mengancam Negara ini. 
Saya tidak kecewa dengan tindakan brutalmu, jika kau imbangi dengan usahamu menegakan kehormatan, kewibawaan serta mempertahankan NKRI. Tapi sayangnya kamu hanya berani kepada saudara dan negaramu sendiri. Sementara terhadap bangsa asing, Kami belum melihat keberanianmu.. 
Yang setuju lanjutkan… 

*Suara Hati Kami Yang Masih Menyayangi POLRI”  

Cukup provokatif, bukan? 
Dan seketika itu juga, tanpa terlebih dahulu mendalami apa pokok masalahnya, saya dengan begitu saja kemudian meneruskan broadcast itu keseluruh kontak yang saya miliki. Sungguh sesuatu hal yang sebenarnya di luar prinsip yang saya yakini, melanggar hal yang telah saya tulis sendiri di banyak tulisan di blog ini. 

Saya sering mengatakan bahwa kita harus bersikap setelah terlebih dahulu kita benar-benar memahami pokok masalahnya, setelah terlebih dahulu melihat segala sesuatunya secara menyeluruh dari berbagai macam sudut pandang sehingga ketika nantinya kita kemudian memberikan suatu komentar atau bahkan penghakiman maka komentar dan penghakiman itu bisa untuk dipertanggungjawabkan, bukan justru menyulut permasalahan baru. 
But in the end, I’m just an ordinary man well it is my best excuse. I can’t undo my mistake, sorry dude! 

Maka tak perlu waktu lama setelah saya meneruskan broadcast itu ke seluruh kontak di ponsel saya, maka mulai-lah berdatangan beberapa pesan menunjukan respon dan reaksi mereka terhadap pesan yang telah saya kirimkan itu. 

Well, walaupun itu bukan pesan yang saya buat, tapi saya dengan sangat sadar telah ikut menyebarkan pesan itu maka saya juga ikut termasuk ke dalam orang yang menyulut kontroversi baru atau bahkan suatu api permasalahan baru yang justru akan memperkeruh suasana. 

Setidaknya ada tujuh pesan yang masuk ke ponsel saya ( hingga saya menuliskan tulisan ini ), tujuh pesan dari tujuh orang yang berbeda itu dua diantaranya benar-benar menunjukan reaksi yang keras nan kritis. Sempat terjadi suatu perdebatan karena walaupun jauh di lubuk hati dan otak paling rasional yang saya miliki saya telah menyadari bahwa saya ini salah, saya tidak begitu saja menyerah dalam perdebatan itu, saya pun tetap ngotot dengan segala pembenaran yang saya kemukakan. 
Tidak, saya tidak dengan emosi melakukan debat kata-kata melalui pesan dengan mereka, saya lakukan itu dengan santai tapi tetap dengan ego yang tinggi hingga akhirnya saya pun mengaku “kalah” tapi tetap dengan kata-kata yang berlagak “diplomatis” bukan suatu kata lugas apa adanya. 
Well, sorry again, my friend! 

Saya tidak mendukung POLISI atau juga fans dari TNI, saya pun sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan permasalahan yang terjadi di Sumatera Selatan itu. Saya hanya tidak pernah setuju dan suka dengan segala bentuk kekerasan, main hakim sendiri, pengrusakan, dan segala macam bentuk tindakan destruktif lainnya, yang secara jelas dan nyata telah melanggar segala hukum positif yang ada, terlebih oleh oknum pegawai bersegaram yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat.  

Saya mungkin konservatif, tapi aturan itu ada untuk kita taati, untuk memberikan dan menciptakan ketertiban dalam hidup kita sehari-hari. Kita tidak lagi cukup bodoh untuk hidup di dunia dengan menggunakan hukum rimba, kita semua punya agama dan hidup di suatu Negara, semua tentu ada aturan mainnya. Tapi saya pun tidak cukup gila untuk selalu berusaha menegakan aturan atau kebijakan tanpa adanya suatu kebijaksanaan, bukankah kita juga mengenal istilah Tampung Tantra dalam sistem pemerintahan? 
Pada akhirnya, hukum memang tidak boleh lebih tinggi dari manusia itu sendiri. Tapi sepanjang aturan itu untuk menciptakan ketentraman, ketertiban serta keteraturan, lantas mengapa harus kita langgar? 
Segala sesuatu itu menjadi indah, dan berguna apabila terbatas dan dibatasi oleh aturan. 
Bukankah segala sesuatu itu ada saatnya? Ada porsinya? Semua indah pada waktunya. Dan adil itu menempatkan segala halnya sesuai dengan porsinya 'kan? 

Cobalah kita renungkan, misalnya aturan agama, hukum alam atau sunatullah yang membatasi pendengaran kita, bayangkan bila pendengaran kita tidak memiliki batasan suara dalam mendengar segala sesuatu yang ada di dunia ini? Apakah kemudian kita mampu untuk tertidur pulas di malam hari? 
Kaitannya dengan hukum dunia, ketika lampu merah kita harus berhenti lantas kita tidak mengindahkannya, apa jadinya lalu lintas yang ada? 
Kemudian dengan masalah TNI dan POLISI ini, yang katanya TNI menuntut keadilan dan kejelasan mengenai kelangsungan proses hukum terhadap oknum POLISI yang menembak mati rekan mereka, maka bukankah Indonesia itu punya aturan tentang itu semua? 
Saya pikir TNI apalagi POLISI lebih mengerti tentang hal itu. Lantas apabila mereka ( TNI ) merasa kurang puas dengan proses hukum yanga ada, apakah memang harus dengan cara destruktif seperti itu? 
Apakah itu tidak justru menambah permasalahan baru? Niat yang baik tak akan menjadi baik tanpa dilakukan dengan cara yang baik dan juga benar. 
Apabila seperti itu, untuk apa kemudian hukum itu dibuat? Bila seperti itu maka biarkan saja mereka yang kuat berkuasa. Kita tak mau seperti itu, iya 'kan? 

Maka satu-satunya alasan kenapa saya kemudian meneruskan broadcast itu keseluruh kontak yang saya miliki hanya berlandaskan satu alasan bahwa saya pikir segala bentuk perbuatan destruktif apalagi yang menggangu ketentraman dan ketertiban dalam suatu kehidupan masyarakat, apapun alasan yang melatarbelakanginya, tak bisa untuk kemudian kita benarkan apalagi budayakan. 
Ayolah, apa keuntungan dari segala perbuatan itu, kawan? 
Tapi saya kemudian menjadi salah karena meneruskan broadcast itu, yang memang setelah saya cermati lebih lanjut, dengan segala masukan, kritikan dari beberapa teman yang saya miliki, memang lebih akan menyebabkan fitnah, provokasi, daripada pesan anti-tindakan destruktif yang ingin saya sampaikan. Dan ini adalah contoh lain dari niat yang sebenarnya baik tapi tidak terimplementasikan melalui cara yang baik apalagi benar. 

Memang hanya tujuh teman yang memberikan respon langsung kepada saya, tapi mungkin lebih dari itu banyak lagi teman-teman saya yang akan memberikan respon dan tafsir yang berbeda terhadap pesan yang telah saya sampaikan itu. 

Setidaknya beberapa kesalahan informasi yang ada di broadcast itu, kesalahan mendasar yaitu bahwa bukan hak atau wewenang TNI untuk melakukan “serangan” terhadap pihak luar atau Negara lain, karena sesuai dengan UUD 1945, Pasal 10, Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL, dan AU lalu kemudian pada Pasal 11 disebutkan bahwa Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. Maka jelas secara konstitusi, bukan salah TNI ketika TNI tidak bergerak ketika banyak Negara lain yang menganggu kehormatan atau keutuhan Negara kita, karena TNI hanya alat, mereka hanya menunggu untuk digerakan oleh Presiden RI. Sehingga argumen yang ada dalam broadcast itu jelas salah, dan sangat beresiko untuk menimbulkan fitnah. 
Well, as I said earlier, I can’t undo my mistake. 

Saya salah, saya akui, saya lakukan klarifikasi, tapi saya tak akan lari dari konsekuensi. 
Ini jelas pelajaran berharga untuk saya di kemudian hari untuk benar-benar melaksanakan apa yang telah menjadi prinsip saya, apalagi telah saya tuliskan di beberapa tulisan saya terdahulu, yaitu hanya bertindak ketika memang telah melihat secara menyeluruh dan memahami benar apa yang yang menjadi pokok permasalahan, secara substansi maupun redaksi, apabila tidak maka diam itu akan menjadi emas. 

Maaf untuk segala pihak yang merasa tersakiti, I mean it! 

Peace, Cheers, Enjoy, and #PMA! ;)

4 komentar:

  1. tidak semua POLISI dan TENTARA bersikap arogansi seperti yang ada selama ini, ada juga yang baik, namun semua kebaikan itu seakan hilang lenyap tertelan oleh berita arogansi antara TNI dan POLISI, dan benar atau salah...masyrakat awamlah yang langsung merasakan efeknya...salam :-)

    BalasHapus
  2. sya percaya, ini bukan perihal tni atau polri, bukan bahasan konstitusi tapi personal. pd dasarnya emosi sya tidak pernah bisa berdamai dengan konstitusi militer, apapun bentuknya. ada sedikit skeptis karena dekat dngn bukti2 klo banyak dri mereka yg justru bertindak diluar norma seharusnya, berlindung dibalik pangkat dan seragam. (jgn dicontoh). tp sklipun bgitu, sya tidak bisa menutup mata kalau masih ada diantara mereka yg benar2 baik dan idealis. smoga koleksi negara ini lebih banyak yg jenis baik bin idealis.

    BalasHapus
  3. sepakat dengan pendapat asriani amir :-)

    BalasHapus
  4. @BlogS of Hariyanto : betul pak, pada akhirnya ini memang oknum, tapi sayangnya oknum itu memiliki instansi dan tidak bergerak sendiri.

    @Asriani Amir : ketika masalah personal dilakukan oleh personal yang berseragam bergaji uang negara terlebih menyerang tempat yang juga milik negara, sayam pikir tetap menjadi masalah konstitusi, iya gak kak? :)

    BalasHapus