Kamis, 20 Mei 2010

Api-Asap, Sebab-Akibat

Mendekati pertengahan tahun, biasanya para remaja, anak-anak dan orang tua disibukan dengan sebuah masalah, yaitu masalah pendidikan, untuk melanjutkan pendidikan mereka. Satu hal yang selalu menjadi pembicaraan hangat adalah tentang bagaimana lulusan SMA/MA/SMK dan yang sederajat untuk bisa masuk Perguruan Tinggi/PT yang sesuai dengan keinginan mereka atau mungkin keinginan orang tua mereka.

Ini selalu menjadi topik utama setiap tahunnya, terutama bagi mereka yang secara pribadi memang sedang atau akan mengalaminya. Seiring perkembangan zaman, meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dalam hal ini meneruskan pendidikan di PT, yang memang merupakan impian setiap orang, bukanlah suatu perkara mudah. Zaman berganti diiringi dengan jumlah populasi yang semakin membludak dan ketika jumlah populasi tinggi maka sebuah persaingan adalah sebuah kenyataan yang tak bisa kita tolak atau hindari. Bisa dipahami memang alasan kenapa orang begitu ngotot untuk bisa masuk PT, terlebih masuk PTN/Perguruan Tinggi Negeri favorit yang jelas-jelas telah mempunyai reputasi besar dan nama baik. Ada harapan dan cita-cita yang mereka pertaruhkan di sana, ada sebuah masa depan yang coba mereka rangkai dan persiapkan di sana, walaupun tak sedikit ada gengsi dan harga diri yang coba mereka pertahankan atau bahkan mereka tingkatkan di sana. Terlepas dari apapun alasan mereka, persaingan adalah sesuatu hal yang harus mereka hadapi.

600 RIBU UNTUK 2,4 JUTA
Secara statistik/data, aroma persaingan sudah sangat terasa ketika Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengeluarkan data bahwa sekitar 2,6 juta siswa SMA/MA/SMK dan yang sederajat yang ada di Indonesia telah dinyatakan lulus dan siap untuk meneruskan pendidikan mereka. Tapi di lain pihak, PTN dan PTS yang merupakan tujuan dari kebanyakan siswa tersebut hanya menyediakan tempat sebanyak 600 ribu. Okay, angka-angka tersebut memang bukan angka pasti, masih merupakan hitungan kotor yang belum memperhitungkan segala faktor lainnya. Tapi sekali lagi, data tersebut sudahlah cukup bagi kita untuk tau betapa persaingan itu sangatlah nyata dan kita harus bersiap untuk itu.

BERSAING ?
Ya, mau tidak mau, bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi memang harus menyiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi kerasnya persaingan. Tapi sebenarnya, bila kita mau jujur, persaingan yang ada sekarang adalah sebuah persaingan karena banyaknya peminat yang tidak terfasilitasi dengan banyaknya tempat yang disediakan. Terkadang antara kuota dan pendaftar sangatlah tidak rasional. Lalu munculah sebuah fakta atau sebuah akibat dari persaingan itu yang sebenarnya tidak terlalu mengenakan karena ternyata dan bahkan sudah menjadi rahasia umum, sebuah persaingan memasuki sebuah PT untuk meneruskan pendidikan, bisa dilalui dengan cara di luar pendidikan, yang ironinya justru memakai nama "Pendidikan", yaitu atas nama "Sumbangan Pendidikan". Mari kita coba ilustrasikan : Misalnya di sebuah PT hanya menyediakan 10 tempat saja, tapi pendaftar yang ingin memasukinya mencapai 100 orang. Itu berarti secara kasar, 1 tempat diperebutkan oleh sekitar 10 orang. Bagi mereka yang mempunyai kepintaran di atas rata-rata bukanlah hal yang sulit untuk bisa mendapatkan nilai sempurna, untuk dapat meraih peringkat tertinggi dan masuk PT tersebut dengan mudah. Tapi bagi mereka yang tak benar-benar pintar, kemungkinan mereka untuk mendapat nilai yang sama satu sama lainnya sangatlah besar dan ketika banyak orang yang memilki atau mendapatkan nilai yang sama, apa yang terjadi selanjutnya?bagaimana cara memutuskannya? Ada orang yang menyebutkan faktor "Lucky" bermain di sana, ada yang mencoba menerapkan kata "Kolusi", dan ada pula yang memakai besarnya "Sumbangan Pendidikan".

Yupz, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, karena tak akan ada asap bila tak ada api, tak akan ada akibat tanpa adanya sebab. Fakta ini menunjukan pendidikan kita hanya ramah untuk mereka yang Benar-benar Pintar atau Benar-benar Kaya.
PEACE and CHEERS!

0 komentar:

Posting Komentar